SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
PERAN PANTI ASUHAN MUHAMMADIYAH PARE TERHADAP PENANAMAN NILAI BUDI PEKERTI PADA ANAK DALAM MENCEGAH PENGARUH DEGRADASI MORAL ANAK DIKABUPATEN KEDIRI
ABSTRAK Asmarawati, Putri Bella. 2016. Peran Panti Asuhan Muhammadiyah Pare Terhadap Penanaman Nilai Budi Pekerti Pada Anak Dalam Mencegah Pengaruh Degradasi Moral Anak Di Kabupaten Kediri.Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M. Si, (II) Drs. Margono, M. Pd., M. Si Kata Kunci: Panti Muhammadiyah Pare, Pembinaan Nilai Budi Pekerti, Degradasi Moral Masalah moral dan budi pekerti pada masa sekarang sangat hangat dibicarakan terutama dikaitkan dengan kualitas karakter moral manusia. Maraknya kasus kekerasan remaja, kekerasan pada anak usia dini , meningkatnya ketidakjujuran, seperti suka membolos, nyontek, pencurian, penganiayaan, disertai dengan pemerkosaan, tawuran antar pelajar, dan mahasiswa, berkurangnya rasa hormat menunjukkan persoalan moral yang harus ditangani perkembangan zaman ini sebagai akibat krisis moral. Maraknya kasus yang telah terjadi maka perlu pembinaan nilai budi pekerti anak agar memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Pembinaan moral dan nilai budi pekerti merupakan langkah strategis bagi pembinaan masyarakat.Pembinaan ini melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran agar selalu benar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) program pembinaan nilai budi pekerti pada anak untuk mencegah pengaruh degradasi moral anak usia dini di Panti asuhan Muhammadiyah Pare; (2) peran panti sebagai lembaga pengasuh anak dalam proses pembinaan nilai budi pekerti; (3) faktor pendukung dan faktor penghambat proses pembinaan nilai budi pekerti dalam mencegah pengaruh degradasi moral di panti asuhan Muhammadiyah Pare; (4) upaya dalam menangani faktor penghambat program pembinaan nilai budi pekerti di Panti asuhan Muhammadiyah Pare.Analisis data menggunakan triangulasi data. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif.Pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Dari data penelitian dan beberapa informan yaitu: (1) kepala panti asihan Muhammadiyah Pare; (2) sekretaris panti asuhan Muhammadiyah Pare; (3) para pengasuh panti Muhammadiyah Pare antara pengasuh putra dan putri. Kegiatan analisis data dengan menggunakan model John W. Creswell dimulai dari tahap pengumpulan data observasi, wawancara, dokumentasi kemudian data diolah dalam bentuk file dan hasil olahan data di olahdalam berbagai bentuk matriks, diagram pohon konsep ataupun reposis. Berdasarkan hasil penelitian data tersebut diperoleh empat kesimpulan sebagai berikut: (1)program pembinaan nilai budi pekerti pada anak untuk mencegah pengaruh degradasi moral anak meliputi program sholat berjamaah, program pelajaran diniyah, kegiatan mengasah ketrampilan, kegiatan bersih-bersih atau piket harian. Semua kegiatan yang dilakukan itu mengandung nilai-nilai budi pekerti diantaranya meyakini ajaran Tuhan Yang Maha Esa dan selalu menaatinya, menaati ajaran agaman, tumbuhnya disiplin diri, memiliki rasa kebersamaan dan gotong royong, saling menhormati, memiliki tata krama dan sopan santu, dan mengembangkan potensi diri; (2) peran panti terhadap pelaksanaan program pembinaan nilai budi pekerti yaitu sebagai media pendidikan dan lembaga dinas sosial; (3) faktor pendukung dan faktor penghambat proses pembinaan nilai budi pekerti dalam mencegah pengaruh degradasi moral. Faktor pendukung adanya kerjasama antara pihak pengasuh dengan pihak luar dalam pelaksanaan program pembinaan nilai budi pekerti, adanya kerjasama pengurus dengan pihak lain yang tekait dalam melaksanakan pembinaan nilai budi pekerti, adanya nilai keagamaan yang ada dalam program pelajaran diniyah, sedangkan faktor penghambat pembinaan nilai budi pekerti dalam mencegah pengaruh degradasi moral anak meliputi: kurangnya sumber daya manusia dalam pembinaan nilai budi pekerti, kurangnya kerjasama antar pengurus dengan pengasuh dalam pelaksanaan pembinaan nilai budi pekerti, anak kurang disiplin dalam pelaksanaan pembinaan nilai budi pekerti dan salahya pergaulan dilingkungan luar. Berdasarkan penelitian, diberikan saran kepada pengasuh anak untuk memperhatikan anak-anak yang berada dipanti, bagi para pengasuh seyogyanya memberikan manajemen yang terbaik dalam pengasuhan supaya anak lebih mandiri, terampil dan berakhlakul karimah.Kedekatan pengasuh dengan anak harus dijaga dengan baik agar memudahkan dalam pengasuh mengatasi masalah yang ada didalam panti asuhan. Dan Bagi lembaga dinas sosial seyogyanya lebih total dalam mencari atau membantu anak yang terlantar untuk di asuh dalam panti asuhan atau rumah dinas sosial lainnya, supaya mereka menjadi anak yang berguna.
Strategi Diplomasi Adam Malik dalam Politik Luar Negeri Indonesia
Pelaksanaan politik luar negeri Indonesia didasari oleh perhitungan awal para pemimpin bahwa perjuangan bersenjata melawan Belanda tidak akan berhasil mencapai sasaran. Oleh sebab itu digunakan cara lain untuk perjuangan selain dengan cara bersenjata, perjuangan mencapai kemerdekaan juga dicapai dan dipertahankan melalui proses diplomasi yang melibatkan mediasi pihak ketiga. Dalam masa awal politik luar negeri Indonesia, salah satu cara pelaksanaan politik luar negeri adalah melalui diplomasi. Dalam sejarah pelaksanaan politik luar negeri Indonesiat tercatat seorang tokoh yang mempunyai peranan besar bahkan dianggap telah meletakkan dasar politik luar negeri OrdeBaru.Penelitian ini menggunakanan jenis penelitian Library Research. Adapun yang dimaksud Library Research adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Dengan demikian penulisan karya ilmiah ini dilakukan berdasarkan hasil studi terhadap buku-buku yang berkaitan dengan politik luar negeri, diplomasi, hubungan internasional, politik luar negeri dan Adam Malik.Hasil penelitian mengenaistrategi diplomasi Adam Malik dalam politik Indonesia ini menunjukkan bahwa Strategi dan perjuangan serta pengabdian Adam Malik senantia sasejalan dengan konsep pemikiranAdam Malik antara lain. Pertama, Adam Malik selalu mengedepankan perundingan dalam memecahkan masalah untuk menciptakan perdamaian. Dalam menghadapi pergaulan dunia Adam Malik selaluberusaha memelihara perdamaian dan meredakan pertentangan antara bangsa Indonesia bersama bangsa lain sesuai dengan tujuan bangsa Indonesia dalam PembukaanUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menentang terjadinya segala bentuk kekerasan yang berwujud ketidakadilan secara sosial. Kedua, dengan jargon “semua bisa diatur” Adam Malik berpandangan bahwa selalu ada solusi dari setiap masalah yang dihadapi. Sehingga dalam strategi diplomasinya Adam Malik selalu mampu menemukan dan menggunakancelah yang ada untuk menyukseskan tujuan dari perundingan yang dilakukannya.Dalam kontek sdiplomasi, Semuanya dilakukan secara terbuka. Kata semua menyangkut segala masalah yang ada dan menanti untukdiselesaikan, kata bisadiatur menyangkut kepastian bahwa pada nantinnya masalah tersebut akandikompromikan, didiplomasikan dan dibicarakan melalui perundingan diplomat agar dicapai sebuah kesepakatan
. Penerapan Penilaian Aspek Sikap Pada Pembelajaran PPKn Kurikulum 2013 Oleh Guru PPKn Di SMKNegeri 7 Malang
ABSTRAK Kusuma, Trissia Rumana. 2016. Penerapan Penilaian Aspek Sikap Pada Pembelajaran PPKn Kurikulum 2013 Oleh Guru PPKn Di SMKNegeri 7 Malang. Skripsi, Program StudiPendidikan Pancasila danKewarganegaraanJurusanHukumdanKewarganegaraan, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, MPd., M.Si (II) Dr. Nuruddin Hady, SH., MH. Kata Kunci :penilaian aspek sikap, pembelajaran PPKn, Kurikulum 2013, SMK Negeri 7 Malang. Padasistempenilaiankurikulum 2013, pendidikdituntutuntukmerancangdanmelaksanakanpembelajaran yang melibatkan salah satunya aspek sikap, sebab Kurikulum 2013 ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang memiliki ciri kuat dalam pembentukan karakter siswa. Penerapan penilaian aspek sikap pada kurikulum 2013 ini sangat sesuai diterapkan di Indonesia dengan melihat degadrasi moral yang melanda bangsa. Disamping arus globalisasi yang menjadi penyebab utama, faktor di dalam diri juga perlu diperhatikan. Berkaitan dengan hal tersebut, kurikulum 2013 mencoba menyelaraskan keduanya, agar siswa lebih berkarakter.Penilaianaspeksikapinimencakupsikap spiritual dan sikap sosial. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untukinstrumen penilaian aspek sikap pada pembelajaran PPKn di SMKN Negeri 7 Malang, proses pelaksanaan penilaian aspek sikap pada pembelajaran PPKn di SMK Negeri 7 Malang, pengolahan hasil penilaian aspek sikap pada pembelajaran PPKn di SMK Negeri 7 Malang, pelaporan hasil penilaian aspek sikap pada pembelajaran PPKn di SMK Negeri 7 Malang, kendala dan pendukung dalam pelaksanaan penilaian aspek sikap pada pembelajaran PPKn di SMK Negeri 7 Malang, upaya mengatasi kendala dalam pelaksanaan penilaian aspek sikap pada pembelajaran PPKn di SMK Negeri 7 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, Data penelitian yang berupa paparan pembahasaan dalam bentuk kata-kata dan tindakan, sumber tertulis, foto, dan fenomena/peristiwa yang diperoleh di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumen. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, penyajian data dampai kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan uji kredibilitas dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekukan dalam peneltian, dan tringulasi.Temuan penelitian dalam penelitian ini menghasilkan enam pembahasan. Hasil yang pertama yaitu instrumen yang digunakan oleh guru dalam pelaksanaan penilaian aspek sikap meliputi lembar observasi, penilaian diri, dan jurnal harian kelas yang dilakukan oleh guru. Hasil yang kedua yaitu proses penilaian aspek sikap yang dilakukan oleh guru meliputi (1) guru mengamati perilaku peserta didik pada saat kegiatan pembelajaran di dalam kelas, (2) guru mencatat perilaku peserta didik di lembar kegiatan observasi siswa dan jurnal catatan guru, (3) guru dapat menindaklanjuti dari hasil pengamatan tersebut. Hasil yang ketiga yaitu pengolahanpenilaian aspek sikap dilakukan denganmemperhatikan aspek sikap tersebut berdasarkan ketetapan KKM kelas, untuk kelas X KKM 75, kelas XI KKM 76, dan kelas XII KKM 77. Hasil yang keempat yaitu pada pelaporanhasilpenilaian aspek sikap oleh guru PPKn di SMK Negeri 7 Malang dilakukan untuk kegiatan menginformasikan hasil pencapaian kompetensi peserta didik. Hasil yang kelima yaitu kendala yang biasanya dihadapi oleh seorang guru ketika melakukan pelaksaanaan penilaian aspek sikap pada pembelajaran di dalam kelas meliputi, (1) ketika seorang siswa susah untuk diajak berinteraksi terhadap lingkungan sekitarnya, (2) menjadi diri yang tertutup, dan (3) kurang merespon pada materi yang diberikan oleh guru dan juga tugas. Hasil yang keenam yaitu upaya cara mengatasinya yang dilakukan oleh seorang guru PPKn di SMK Negeri 7 Malang, diantaranya(1) memotivasi siswa untuk melibatkan diri mereka kedalam KBM dan kegiatan lainnya,(2) memberikan kesempatan pada siswa tersebut untuk melibatkan diri secara aktif, (3) melakukan pendekatan terhadap siswa yang masih susah berinteraksi terhadap satu sama lainnya.Diharapkan para pendidik dapat melaksanakan penilaian dan menyusun laporan pencapaian kompetensi peserta didik khususnya pada aspek sikap demi meningkatkan efektivitas pembelajaran dan penilaian, sehingga upaya peningkatan mutu pendidikan yang berkeadilan akan dapat dicapai
The Implementation Of The Local Program Tentara Genie Pelajar (TGP) To Student In Smp Negeri 2 Sumberpucung Malang
ABSTRAK Seiring dengan diberlakukannya PERMENDIKBUD No.79 Tahun 2014 Tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013, maka setiap Sekolah memberikan pembelajaran muatan lokal dengan tujuan membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya, dan spiritual di daerahnya, melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.Oleh karena itu SMP Negeri 2 Sumberpucung memberikan pembelajaran muatan lokal yang sesuai dengan kearifan daerah yaitu pembelajaran muatan lokal Tentara Genie Pelajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) Menjelaskan gambaran umum SMP Negeri 2 Sumberpucung, (2) Menjelaskan latar belakang terbentuknya program pembelajaran muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP) di SMP Negeri 2 Sumberpucung, (3) Menjelaskan pelaksanaan program pembelajaran muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP) di SMP Negeri 2 Sumberpucung, (4) Menjelaskan faktor yang mendukung pelaksanaan program pembelajaran muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP) di SMP Negeri 2 Sumberpucung (5) Menjelaskan faktor yang menghambat pelaksanaan program muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP) di SMP Negeri 2 Sumberpucung, (6) Menjelaskan upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengatasi hambatan pelaksanaan program muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP) di SMP Negeri 2 Sumberpucung. Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pada penelitian deskriptif ini, peneliti berusaha untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan pembelajaran muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP). Informan dalam penelitian ini adalah anggota Ex TGP, guru muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP) dan beberapa sumber dan instansi terkait muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP). Teknik analisis data yang digunakan dalam peneliti ini adalah analisis data model Miles dan Huberman dengan menggunakan kata-kata yang disusun dalam teks yang diperluas atau dideskripsikan. Teknik analisis data terdiri dari tiga proses, yaitu reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan Dari hasil temuan penelitian dikemukakan: Pembelajaran muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP) ditetapkan sejak Tahun 2006 oleh Kepala Sekolah yang pada saat itu menjabat yaitu Bapak Suhari bersama anggota Ex TGP. Diadakannya program muatan lokal di SMP Negeri 2 Sumberpucung dilatar belakangi karena mulai lunturnya semangat dan nilai nasionalisme pada generasi muda saat ini, untuk itu perlunya mewujudkan semangat tersebut Ex TGP telah meninggalkan beberapa bangunan sekolah dimana mereka pernah melakukan perjuangan pada masa perang kemerdekaan. Pembelajaran muatan lokal Tentara Genie Pelajar bertujuan mewarisi nilai-nilai luhur serta semangat juang dan rela berkorban, tangguh, tanggap, terampil kepada remaja pelajar/mahasiswa khususnya dan generasi muda umumnya, sebagai bekal landasan dalam ikut serta meneruskan perjuangan bangsa. Implementasi pembelajaran muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP) di SMP Negeri 2 Sumberpucung Kabupaten Malang masih ada beberapa faktor penghambat yaitu kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga pengajar pembelajaran muatal lokal Tentara Genie Pelajar. Dikarenakan tidak ada lulusun khusus, prodi dan jurusan muatan lokal Tentara Genie Pelajar. Dengan adanya penghambat tersebut pihak SMP Negeri 2 Sumberpucung mengupayakan menambah jam mengajar untuk guru yang mempunyai jam kosong untuk membantu mengajar muatan lokal Tentara Genie Pelajar (TGP). Mengingat peraturan syarat sertifikasi guru diharuskan mengajar 24 jam setiap minggunya. Berdasarkan data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa diadakannya muatan lokal Tentara Genie pelajar di SMP Negeri 2 Sumberpucung bertujuan mewarisi nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme dari anggota Ex TGP yang telah menyumbangkan gedung SMP Negeri 2 Sumberpucung dan memberikan teladan bahwa tugas sebagai pelajar tidak hanya belajar saja namun dapat membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia
Kemitraan Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam Pengelolaan Wisata Air Terjun Tirto Galuh di Desa Bakung Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar
ABSTRAKYuliananda, Rizal.2017 Kemitraan Pemerintah Desa dengan Karang Taruna Dalam Pengelolaan Wisata Air Terjun Tirto Galuh di Desa Bakung Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Untari, M.Si, (2) Siti Awaliyah, S.Pd, M.Hum.Kemitraan Pemerintah Desa dengan Karang Taruna Dalam Pengelolaan Wisata Air Terjun Tirto Galuh di Desa Bakung Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar, Tujuan dari penelitian ini untuk mendiskripsikan: (1) pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh; (2) model kemitraan Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh; (3) kendala pelaksanaan kemitraan antara Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh; (4) mengatasi kendala pelaksanaan kemitraan antara Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh.Penelitiaan ini dilaksanakan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode penelitian studi kasus.Sumber data penelitian ini adalah : Kepala Desa Bakung, Ketua dan anggota Karang Taruna selaku pengelola wisata Air Terjun Tirto Galuh, warga yang tinggal disekitar lokasi wisata, dan pengunjung Air Terjun Tirto Galuh.Data/Informasi didapatkan oleh peneliti menggunakan cara diantaranya: observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, analisis data dan penyimpulan. Untuk pengecekan kebashaan data, peneliti melakukan dengan cara berikut: perpanjangan pengamatan, dan meningkatkan ketekunan.Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh dilaksanakan sepenuhnya oleh Karang Taruna Desa Bakung. Karang Taruna sebelum melaksanakan pengelolaan meminta izin terlebih dahulu kepada Pemerintah Desa karena tempat ini merupakan aset Desa Bakung. Meskipun kewenangan pengelolaan sepenuhnya dipegang oleh Karang Taruna, tetapi Pemerintah Desa tetap melakukan pengawasan agar pengelola mampu memanfaatkan aset desa tersebut. Pengelola menggunakan sistem tiketing untuk memasuki wisata Air Terjun Tirto Galuh. Dari hasil tiket pengunjung, selanjutnya dibagikan kepada pengelola sebagai upah dan sisanya dimasukkan ke Kas pembangunan Tirto Galuh. Semua dana yang didapatkan dikelola sendiri oleh Karang Taruna yang berperan sebagai pengelola wisata. Kedua melihat adanya hubungan antara Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh menandakan adanya kemitraan didalamnya. Model kemitraan yang berlangsung di Tirto Galuh adalah Mutualism Partnership karena pelaksanaan pengelolaan di wisata Air Terjun Tirto Galuh yang melibatkan Karang Taruna bersama Pemerintah Desa mampu menjalankan tugas masing-masing secara dasar. Meskipun kemitraan telah berlangsung tetapi kesepakatan/perjanijian secara tertulis antara Pemerintah Desa bersama Karang Taruna belum ada. Ketiga kendala yang dihadapi pada pelaksanaan kemitraan pengelolaan Air Terjun Tirto Galuh yaitu: (1) pengalokasian dana yang masih belum cukup untuk melaksanakan pembangunan fasilitas dilokasi wisata secara berkelanjutan karena terbatasnya dana yang didapatkan dan belum masuknya bantuan pendanaan dari Pemerintah Desa. (2) belum adanya kesepakatan/perjanjian tertulis dalam pelaksanaan kemitraan pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh. Tidak adanya kesepakatan tertulis mengakibatkan ketidak jelasan tanggung jawab yang dimiliki oleh tiap-tiap aktor dalam melaksanakan kemitraan. Keempat Untuk mengatasi kendala yang dihadapi Pemerintah Desa bersama Karang Taruna melaksanakan musyawarah dan memberikan penyelesaian yaitu: (1) kendala pengalokasiandanauntuk pembangunan fasilitas Air Terjun Tirto Galuh diselesaikan oleh Pemerintah Desa dengan memanfaatan dana Desa. Saat ini yang telah terlaksana pembangunan menggunakan dana Desa adalah akses jalan menuju lokasi Air Terjun dan semuanya dilakukan sendiri oleh Pemerintah Desa. Sehingga Karang Taruna sebagai pengelola terima bersih dalam pelaksanaan pembangunan. (2) untuk mengatasi kendala belum tertulisnya kesepakatan kemitraan, Karang Taruna sendiri melalui musayawarah meminta kepada Pemerintah Desa agar dibuatkan perjanjian tertulis. Adanya perjanjian tertulis memberikan kejelasan tanggung jawab serta tugas masing-masing dalam pengelolaan Air Terjun Tirto Galuh.Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melaksanakan penelitan ini adalah sebagai berikut: Terjalinnya kemitraan antara Pemerintah Desa bersama Karang Taruna perlu adanya kesepakatan/perjanian tertulis. Adanya perjanjian tertulis ini akan memberikan kejelasan tugas tiap-tiap aktor pelaksana kemitraan ataupun siapa saja yang akan bertanggung jawab apabila ada permasalahan di Tirto Galuh. Perlunya meningkatkan kepercayaan Pemerintah Desa terhadap Karang Taruna sebagai pengelola Air Terjun Tirto Galuh apabila berkaitan dengan pendanaan. Harus ada yang meningkatkan promosi pariwisata Air Terjun Tirto Galuh baik dari karang Taruna sendiri maupun Pemerintah Desa Bakung agar destinasi wisata ini semakin dikenal oleh masyarakat
Peranan Polisi Lalu Lintas Resort Kota (Polresta) Malang Dalam Meningkatkan Kesadaran Hukum Berlalu Lintas Bagi engemudi Sepeda Motor
ABSTRAK Dyansyah, Vicky Tri. 2017. Peranan Polisi Lalu Lintas Resort Kota (Polresta) Malang Dalam Meningkatkan Kesadaran Hukum Berlalu Lintas Bagi engemudi Sepeda Motor. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mohamad Yudhi, S.H., M.Hum. (II) Dr. Didik Sukriono, S.H., M.Hum Kata Kunci : Polisi, Lalu Lintas, Kesadaran Hukum, pengemudi Sepeda MotorSebagian besar masyarakat Kota Malang menggunakan sepeda motor dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti bekerja, belanja, sekolah, kuliah dan lain sebagainya. Namun keberadaan sepeda motor sering kali mengundang bahaya akibat tidak disiplinnya dari pengemudi sepeda motor itu sendiri. Sebagaimana sering ditemui banyak pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para pengemudi sepeda motor. Perilaku pengemudi sepeda motor sering kali tidak mematuhi peraturan lalu lintas seperti tidak memakai helm, melawan arus, main HP saat mengendarai sepeda motor, motor lewat trotoar, tidak menyalakan lampu utama disaat siang hari, melanggar lampu lalu lintas, melanggar rambu lalu lintas, dan lain sebagainya, hal ini dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara, di oberservasi, diminta memberikan data, pendapat, pemikiran, dan persepsinya. Penelitian kualitatif juga diarahkan lebih dari sekedar memahami fenomena tetapi juga mengambangkan teori, serta permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini dinamis sehingga tidak memungkinkan bagi peneliti untuk menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan instrumen-instrumen formal, standar, bersifat mengukur, dan mengambil jarak antara peneliti dengan objek yang diteliti. Metode kualitatif juga dapat menekankan sifat alamiah dari fenomena-fenomena yang terjadi dari penelitian yang dilakukan peneliti.Temuan penelitian dalam penelitian ini menghasilkan empat pembahasan. Hasil pertama yaitu persepsi Polisi Lalu Lintas terhadap pengemudi sepeda motor bahwa pengemudi sepeda motor sering melakukan pelanggaran berupa melintas di fly over, melintas di trotoar, melanggar marka jalan berupa zebra cross, tidak menggunakan helm dan melanggar Traffic light. Hasil yang kedua yaitu upaya yang dilakukan polisi lalu lintas berupa operasi simpatik dengan harapan masyarakat sadar akan keselamatan jiwa mereka dan juga orang lain. Hasil yang ketiga yaitu hambatan polisi lalu lintas dalam meningkatkan kesadaran hukum berlalu lintas berupa kebiasaan desa yang dibawa ke kota dan juga disebabkan oleh faktor pendidikan, faktor kepribadian, faktor usia, faktor lingkungan dan faktor hukuman. Hasil temuan keempat yaitu upaya yang dilakukan polisi lalu lintas untuk mengatasi hambatan ada tiga yaitu pre-emtif, preventif dan represif.. Sarannya yaitu Seharusnya pengemudi sepeda motor sadar akan keselamatan jiwa mereka, bukan takut kepada petugas kepolisian yang ada di lapangan dan juga bagi Satlantas Polres Malang Kota diharapkan memberikan penyuluhan kepada para mahasiswa baru melalui ospek kampus, ospek fakultas maupun ospek jurusan, sehingga para pendatang baru bisa memahami peraturan lalu lintas yang ada
PERILAKU BELAJAR PPKn DENGAN MENGGUNAKAN GADGET SISWA SMA NEGERI 6 MALANG
ABSTRAK Dwijayanti, Mayrina Ratu. 2017. Perilaku Belajar PPKn Dengan Menggunakan Gadget Siswa SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si. Pembimbing (II) Siti Awaliyah, S.Pd, SH, M.Hum. Kata Kunci : Perilaku belajar, PPKn, penggunaan gadget, gadget, hasil belajar.Perkembangan gadget yang semakin canggih ini, pengaruhnya dalam dunia pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar siswa dan dapat dimanfaatkan dengan adanya website e- learning. Dengan pekembangan yang terjadi, hampir semua Sekolah Menengah Atas memperbolehkan siswa-siswi mereka menggunakan gadget di lingkungan sekolah tidak terkecuali di kelas. Hal ini dapat bepengaruh terhadap perilaku belajar siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Selain itu dalam gadget juga berkaitan dengan adanya jejaring sosial. Dimana bisa dimanfaatkan oleh siswa untuk berkomunikasi dengan banyak orang. Siswa juga mendapatkan banyak informasi dalam menunjang proses belajar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perilaku belajar denganmenggunakan gadget oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran PPKn di SMA Negeri 6 Malang (2) dampak perilaku belajar siswa dengan menggunakan gadget dalam kegiatan pembelajaran terhadap hasil belajar PPKn di SMA Negeri 6 Malang.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Prosedurpengumpulan data yang dilakukan meliputi observasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan melihat secara langsung proses pembelajaran dengan menggunakan gadget, wawancara yang dilakukan terhadap Ibu Natalia Aristina Dewi, S.Pd selaku guru mata pelajaran PPKn, dan siswa-siswi SMA Negeri 6 Malang, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data menurut Miles dan Huberman yang meliputi data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), dan conclusion drawing/verification (kesimpulan/verivikasi data).Hasil penelitian menunjukkan perilaku belajar dengan menggunakan gadget oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran PPKn di SMA Negeri 6 Malang dapat diketahui dari 2 hal; 1) Perumusan RPP dan 2) Pelaksanaan pembelajaran. Dalam perencanaan pembelajaran atau RRP proses pembelajaran PPKn menggunakan gadget dan internet sebagai alat pembelajaran, dan pelaksanaan pembelajaran siswa menggunakan gadget untuk menunjang proses pembelajaran. Sedangkan dampak perilaku belajar siswa dengan menggunakan gadget dalam kegiatan pembelajaran terhadap hasil belajar PPKn di SMA Negeri 6 Malang, dapat diketahui dari 3 hal antara lain; 1) suasana kelas, 2) partisipasi belajar siswa, dan 3) hasil belajar siswa. Bentuk perilaku siswa belajar dengan menggunakan gadget yaitu saat pembelajaran PPKn berlangsung lebih banyak siswa yang mencari sumber referensi melalui gadget dibandingkan mencari di buku, menurut siswa belajar dengan menggunakan gadget menyenangkan dan tidak membosankan, namun ada beberapa siswa yang lebih memilih mencari materi pelajaran di buku kemudian ditambah dengan mencari melalui gadget. Selain itu suasana kelas saat pembelajaran PPKn dengan menggunakan gadget masih kondusif, hal ini dikarenakan guru memberikan batasan waktu kepada siswa untuk mencari sumber belajar atau materi melalui gadget siswa, sehingga dengan adanya batasan waktu siswa akan memanfaatkan waktu untuk mencari materi pelajaran. Partisipasi belajar siswa dengan menggunakan gadget di kelas cukup tinggi, jumlah siswa yang selalu menggunakan gadget untuk mencari materi lebih banyak dari yang jarang menggunakan gadget untuk mencari materi pelajaran, untuk hasil belajar siswa, hasil belajar siswa dengan menggunakan gadget cenderung baik dan dapat menunjang hasil belajar siswa. Saran yang diberikan adalah untuk siswa, hendaknya siswa lebih bisa memanfaat teknologi dengan baik, salah satunya gadget, hendaknya siswa bisa menggunakan gadget secara maksimal untuk proses pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa bisa meningkat. Bagi guru, hendaknya guru lebih bervariasi dalam memberikan pelajaran dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Bagi sekolah, hendaknya sekolah bisa memberikan kebijakan yang sesuai dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya bisa menambah pengetahuan sehingga penelitian yang akan datang menjadi lebih baik
UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK MELALUI CITIZEN’S CHARTER DI UPTD PUSKESMAS KEPANJENKIDUL KECAMATAN KEPANJENKIDUL KOTA BLITAR
ABSTRAK Fajrin, Nurin. 2017. Upaya Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik Melalui Citizen’s Charter di UPTD Puskesmas Kepanjenkidul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparman Adi W, SH., M.Hum, (II) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si Kata Kunci: pelayanan publik, Citizen’s Charter, UPTD Puskesmas KepanjenkidulCitizen’s Charter merupakan sebuah Kontrak Pelayanan antara pemerintah, pemberi layanan dan pegguna layanan untuk menjamin kualitas pelayanan publik. Konsep Citizen’s Charter dalam penyelenggaraan pelayanan publik adalah menempatkan kepentingan penerima layanan sebagai unsur yang paling penting. Citizen’s Charter mendorong penyelenggara atau pemberi layanan untuk bersama dengan penerima layanan dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyepakati beberapa hal seperti jenis, prosedur, waktu, biaya, serta alur pelayanan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penyusunan Citizen’s Charter, implementasi Citizen’s Charter, kendala pelaksanaan Citizen’s Charter, dan solusi untuk mengatasi kendala pelaksanaan Citizen’s Charter di UPTD Puskesmas Kepanjenkidul. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data di lakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen dan juga pengumpul data. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, dan triangulasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memperoleh empat kesimpulan sebagai berikut. Pertama, masalah penyusunan Citizen’s Charter di UPTD Puskesmas Kepanjenkidul. Penyusunan Citizen’s Charter dilakukan melalui empat tahap, yaitu tahap promosi, tahap formulasi, tahap implementasi, dan tahap monitoring dan evaluasi. penyusunan Citizen’s Charter dilakukan oleh Forum Citizen’s Charter, yang anggotanya merupakan perwakilan dari pihak pemerintah, pihak puskesmas, masyarakat, dan stakeholder lainnya. Kedua, masalah implementasi Citizen’s Charter. Implementasi Citizen’s Charter di UPTD Puskesmas Kepanjenkidul dilaksanakan sesuai dengan isi kontrak yang telah disepakati. Aspek penting dalam implementasi tersebut adalah sikap pelayanan, jadwal pelayanan, alur pelayanan, sanksi penerima dan pemberi layanan, dan alur pengaduan penerima layanan. Ketiga, kendala yang dialami dalam pelaksanaan Citizen’s Charter. Kendala yang terdapat di UPTD Puskesmas Kepanjenkidul adalah sulitnya mengedukasi penerima layanan untuk memahami hak dan kewajibannya, sering terjadinya perpindahan tenaga medis, banyak penerima layanan yang tidak membawa kartu identitas ketika berobat, dan kurangnya tenaga medis di poli gigi. Keempat, solusi untuk mengatasi kendala di UPTD Puskesmas Kepanjenkidul adalah memberikan pemahaman menggunakan bahasa yang mudah dimengerti penerima layanan terkait hak dan kewajibannya, mengikutsertakan tenaga medis baru dalam pelatihan etika pelayanan, puskesmas bekerja sama dengan Dinas pendudukan dan catatan sipil untuk mengetahui identitas penduduk kota, dan membatasi jumlah kunjungan terkait kurangnya jumlah tenaga medis di Poli Gigi
PERAN RADIO REPUBLIK INDONESIA STASIUN MALANG (RRI MALANG) SEBAGAI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK DALAM MELESTARIKAN KESENIAN JARAN KEPANG PADA MASYARAKAT MALANG
ABSTRAK Zannah, Eti Nurul. 2016. Peran Radio Republik Indonesia Stasiun Malang (RRI Malang) Sebagai Lembaga Penyiaran Publik Dalam Melestarikan Kesenian Jaran Kepang Pada Masyarakat Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si., (II) Dr. Nuruddin Hady, S.H., M.H. Kata Kunci: RRI Malang, Lembaga Penyiaran Publik, Jaran Kepang, Malang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi melahirkan informasi secara global disertai dengan munculnya berbagai macam media komunikasi yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Hal ini menyebabkan beberapa tantangan bagi bangsa Indonesia yaitu guncangan budaya (cultural shock) dan ketertinggalan budaya (cultural lag). Kesenian tradisional sebagai salah satu dari tujuh unsur kebudayaan saat ini mengalami permasalahan ancaman eksistensi budaya tersebut, termasuk kesenian Jaran Kepang Malang. RRI Malang sebagai lembaga penyiaran publik untuk wilayah Malang merupakan suatu media yang mempunyai tugas sebagai pelestari budaya bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) program acara RRI Malang dalam rangka melestarikan kesenian Jaran Kepang pada masyarakat Malang; (2) peran RRI Malang sebagai lembaga penyiaran publik dalam melestarikan kesenian Jaran Kepang pada masyarakat Malang; (3) faktor pendukung dan faktor penghambat RRI Malang dalam menjalankan peranannya sebagai lembaga penyiaran publik dalam melestarikan kesenian jaran kepang pada masyarakat Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Data penelitian yang berupa dokumentasi, observasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan yaitu: (1) Kasubsi Programma 1 Saluran Budaya RRI Malang; (2) Kasubsi Perencanaan dan Evaluasi Program; (3) Penyiar Saluran Budaya RRI Malang; (4) FKP RRI Malang; (5) Masyarakat pendengar setia RRI Malang. Kegiatan analisis data dengan menggunakan model Spradley dimulai dari tahap analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, analisis tema. Berdasarkan hasil penelitian data tersebut diperoleh tiga kesimpulan sebagai berikut: (1) program acara RRI Malang dalam rangka melestarikan kesenian Jaran Kepang melalui programma 1 Saluran Budaya meliputi program acara siaran sarapan pecel, sarasehan budaya, gelar budaya RRI Malang, dan publikasi kegiatan budaya pihak eksternal; (2) peran RRI Malang sebagai lembaga pernyiaran publik dalam melestarikan kesenian Jaran Kepang pada masyarakat Malang yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, perekat sosial dan promosi; (3) faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam melestarikan kesenian Jaran Kepang pada masyarakat Malang. Faktor pendukung meliputi antusias masyarakat yang tinggi dalam setiap acara RRI Malang, adanya peran serta dan kontribusi masyarakat dalam setiap acara Gelar Budaya RRI Malang, adanya rapat pembentukan pola siaran setiap tahun dengan Forum Komuniasi Pemerhati RRI Malang dalam rangka peningkatan kualitas program acara RRI Malang dengan memperhatikan masukan dari pendengar, serta adanya acara Jumpa Fans antar para pendengar setia RRI Malang dengan RRI Malang setiap tahun yang dikemas dengan acara kesenian. Sedangkan faktor penghambat meliputi tidak tersedianya anggaran dana yang cukup untuk penyelenggaraan acara gelar budaya RRI Malang, komunitas Jaran Kepang yang diajak kerjasama oleh RRI Malang masih kurang merata, serta penempatan penyiar dalam program acara kurang sesuai dengan karakternya. Berdasarkan penelitian, diberikan saran kepada: (1) masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan kesenian Jaran Kepang; (2) RRI Malang untuk terus menyelenggarakan pertunjukan kesenian Jaran Kepan; (3) pemerintah daerah untuk memberikan terhadap upaya RRI Malang dalam rangka melestarikan kesenian daerah Malang; (4) komunitas kesenian Jaran Kepang untuk terus mengembangkan kesenian Jaran Kepang dalam rangka mempertahankan kesenian daerah Malang.
Peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam Memberdayakan Pengrajin Sepatu di Desa Mlaten Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto
Nunggraini, Elisa. 2016. Peran Pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Malang Dalam Pendidikan Moral Anak Asuh Sesuai dengan Nilai-Nilai Pancasila. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs, Margono. M.Pd, M.Si, (II) Hj. Yuniastuti, SH, M.Pd. Kata Kunci: Moral, Panti Asuhan, Nilai-nilai Pancasila. Pendidikan moral ditujukan untuk memagari manusia dari melakukan perbuatan yang buruk yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada baik itu dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. pendidikan moral ialah proses perubahan tingkah laku secara sistematik yang bertujuan agar seseorang dapat berpikir, merasakan dan bertindak sesuai dengan kaidah kesusilaan atau kebiasaan serta nilai-nilai dasar yang berlaku pada suatu kelompok masyarakat tertentu, sehingga menjadi manusia yang bermoral. Pendidikan moral yang terdapat di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, adapun kegiatan pendidikan moral itu terbagi dalam dua jadwal yakni program terjadwal dan program pembiasaan. Adapun contoh dari program terjadwal yaitu (1) tapak suci, (2) hizbul wathan, (3) kegiatan kewirausahaan membuat serbuk jahe instan. Dan contoh dari program pembiasaan yaitu (1) peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) peningkatan sikap disiplin, (3) peningkatan sikap sopan santun, (4) penanaman sikap mandiri. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah peran pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Malang dalam pendidikan moral anak asuh sesuai dengan nilai-nilai Pancasila? (2) Bagaimanakah pelaksanaan program pendidikan moral sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang? (3) Faktor-faktor apa sajakah yang menghambat pelaksanaan pendidikan moral sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang? (4) Bagaimana upaya mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pendidikan moral sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang? Penelitian ini dilakukan di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang pada tanggal 10 Oktober-10 November 2016. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Tujuan dari jenis penelitan deskriptif ialah untuk membuat deskripsi, atau gambaran secara sistematis mengenai fakta-fakta yang diteliti. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah reduksi data, display data dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian yang peneliti peroleh dari penelitian di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang ialah peran pengasuh panti asuhan dalam pendidikan moral anak asuh sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, pengasuh panti asuhan berperan sebagai orang tua, fasilittaor dan evaluator bagi anak asuh dalam rangka pendidikan moral anak asuh sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Program pendidikan moral yang terdapat di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang dilaksanakan melalui dua program yakni (1) program terjadwal, (2) program pembiasaan. Adapun kegiatan yang dilaksanakan melalui program terjadwal meliputi (1) tapak suci, (2) hizbul wathan, (3) kegiatan kewirausahaan membuat jahe. Sedangkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui program pembiasaan meliputi (1) peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) peningkatan sikap disiplin, (3) peningkatan sikap sopan santun, (4) penanaman sikap mandiri. Faktor penghambat pelaksanaan pendidikan moral anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang diantaranya (1) perbedaan latar belakang pemikiran atau persepsi antara pengasuh dengan anak asuh, (2) kurangnya kesadaran anak asuh terhadap tata tertib yang berlaku, (3) heterogenitas anak asuh, (4) pengawasan yang tidak maksimal saat anak asuh berada di luar lingkungan Panti Asuhan Muhammadiyah Malang. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam pendidikan moral anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang antara lain (1) ketlatenan dan kesabaran pengasuh dalam menghadapi anak asuh, (2) sikap yang tegas dari pengasuh terhadap anak asuh yang melanggar peraturan yang berlaku, (3) kedekatan secara lahir dan batin yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuh, (4) menciptakan koordinasi dna hubungan baik antara pengasuh dengan pihak sekolah. Saran dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang ialah untuk mengoptimalkan program-program dalam pendidikan moral anak asuh, selain dengan memberikan kasih sayang lebih baiknya juga memberikan fasilitas yang dibutuhkan anak asuh yang semuanya terlokalisasi dalam satu area panti sehingga memudahkan pengasuh untuk memonitor kegiatan anak ash baik yang bersifat formal maupun non formal. Bangsa Indonesia mengalami berbagai masalah yang dihadapi selama ini yaitu krisis ekonomi, kemiskinan, dan pengangguran. Jumlah kemiskinan semakin meningkat dari setiap tahunnya pada masyarakat Indonesia. Ketidak berhasilan dalam menanggulangi kemiskinan dan pengangguran terjadi akibat kurangnya kesadaran pemerintah dalam memperhatikan kondisi rakyat Indonesia. Pengangguran dan kemiskinan terjadi akibat kurangnya lapangan pekerjaan. Dalam masalah ini apabila pemerintah tidak mengambil alih untuk menangani masalah yang dihadapi, maka akan terjadinya jumlah angka kemiskinan dan pengangguran pada masyarakat Indonesia dari setiap tahunnya akan meningkat. Sehingga kesejahteraan masyarakat Indonesia akan terancam akibat kurangnya kesadaran pemerintah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto dalam pemberdayaan pengrajin sepatu di desa Mlaten Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto?. (2) Bagaimana program pemberdayaan pengrajin sepatu di Desa Mlaten Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto?. (3) Apa saja yang menghambat pelaksanaan program Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto?. (4) Bagaimana upaya dalam mengatasi hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan program Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto dalam pemberdayaan pengrajin sepatu di Desa Mlaten Kecamatan Prui Kabupaten Mojokerto?. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Kehadiran peneliti bertindak sebagai pengumpul data. Lokasi penelitian di Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Desa Mlaten. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dengan pihak yang bersangkutan yaitu pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan, pemilik industri usaha sepatu, dan pengrajin sepatu dengan informan pendukung yaitu dokumentasi dan arsip Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan data letak geografis wilayah desa Mlaten. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan temuan digunakan tringaluasi. Kesimpulan penelitian ini adalah peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (1) membina IKM pengrajin sepatu, (2) mendorong kerjasama, (3) mengembangkan dan mengawasi pengrajin sepatu, (4) memfasilitasi pengrajin sepatu, dan (5) mengarahkan pengrajin sepatu. Program Dinas Perindustrian dan Perdagangan (1) pengembangan IKM pengrajin sepatu, (2) peningkatan kemampuan teknologi industri, dan (3) pengembangan sentra-sentra industri potensial. Hambatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (1) kurangnya Akurasi Data, (2) Keterbatasan permodalan, dan (3) lemahnya SDM. Upaya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (1) pendataan pengrajin sepatu, (2) bantuan alat untuk pengrajin sepatu, (3) memberikan akses informasi untuk pengrajin sepatu, dan (4) memberikan pelatihan. Saran dari penelitian dan pembahasan memiliki saran yang ditujukan beberapa pihak, yaitu (1) bagi pemerintah Kabupaten Mojokerto, (2) bagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto, dan bagi pengrajin sepatu