SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    PELESTARIAN KESENIAN BANTENGAN DI KOTA BATU

    No full text
    ABSTRAK Dinanti, Ratna Yuanita. 2016 Pelestarian Kesenian Bantengan di Kota Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Margono, M.Pd, M.Si, (2) Drs. H. Petir Pudjantoro , M. Si Kata Kunci: kesenian Bantengan, Kota Batu, pelestarian Pelestarian kesenian Bantengan merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pelaku kesenian Bantengan dan Pemerintah Kota Batu agar keberadaan dari kesenian Bantengan diakui oleh masyarakat Kota Batu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu yang meliputi (1) keberadaan kesenian Bantengan di Kota Batu; (2) nilai karakter yang ada dalam kesenian Bantengan di Kota Batu; (3) upaya pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu; (4) tanggapan tokoh-tokoh agama terhadap pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Dalam mencari data dari informan yang terdiri dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, sesepuh dan pendekar kesenian Bantengan, anggota grup kesenian Bantengan, dan tokoh agama yang ada di Kota Batu. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, analisis data, dan penyimpulan. Adapun hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, Keberadaan kesenian Bantengan di Kota Batu (1) asal-usul kesenian Bantengan di Kota Batu mulai zaman kerajaan Singhasari sampai saat ini yang mengalami pasang surut dan perubahan fungsi (2) hubungan antara kesenian Bantengan dengan seni bela diri Pencak Silat (3) pelaku kesenian Bantengan yang terdiri dari sesepuh, pendekar, dan anggota grup kesenian Bantengan baik seorang laki-laki maupun perempuan (4) pertunjukan kesenian Bantengan di Kota Batu yang diawali dengan sesi ritual dilakukan oleh sesepuh, sesi pembukaan dengan membunyikan cemeti oleh pendekar dilanjut kembangan Pencak Silat oleh pendekar maupun anggota, sesi inti menampilkan Bantengan dengan macanan dan kemudian ada trance/kalap, sesi penutup dengan menyembuhkan pemain yang kalap (5) perlengkapan dalam kesenian Bantengan terdiri dari kepala Banteng, kostum, alat musik, properti lainnya seperti cemeti/pecut dan udeng. Kedua, Nilai karakter yang ada dalam kesenian Bantengan di Kota Batu (1) nilai religius dengan adanya ritual yang dilakukan oleh sesepuh untuk memohon keselamatan saat pertunjukan (2) nilai kekeluargaan dengan adanya tradisi anjang sana, saling menolong antar pemain, dan arisan (3) nilai kerjasama yang terdiri dari kerjasama dalam grup, kerjasama antar grup, dan kerjasama dengan pemerintah Kota Batu (4) nilai solidaritas saat pertunjukan (5) nilai keberanian dengan adanya atraksi dari pendekar saat pertunjukan, dan kolaborasi antar banteng dan macan (6) nilai cinta budaya daerah dimana kesenian Bantengan merupakan budaya secara turun temurun. Ketiga, Upaya pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu (1) Upaya pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu oleh Pemerintah Daerah Kota Batu berupa festival, tour kebudayaan, dan mempermudah pendaftaran grup kesenian Bantengan (2) upaya pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu oleh pelaku kesenian Bantengan dengan mendirikan grup kesenian Bantengan, pertunjukan grup kesenian Bantengan yang diadakan oleh masyarakat, pertunjukan rutin pada hari tertentu, dan membawa kesenian Bantengan hingga ke Luar Negeri. Keempat, Tanggapan tokoh-tokoh agama terhadap pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu (1) tanggapan kelompok yang pro terhadap pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu karena merupakan sebuah kebudayaan yang harus dilestarikan sehingga mendukung untuk pelestarian kesenian Bantengan (2) tanggapan kelompok yang kontra terhadap pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu karena melanggar syariat dalam agama sehingga mereka kurang setuju dengan adanya pelestarian kesenian Bantengan (3) tanggapan kelompok yang netral terhadap pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu dengan tidak mempermasalahkan keberadaan kesenian Bantengan di Kota Batu. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain: (1) Pemerintah Kota Batu seharusnya dapat lebih menyatu dengan para penggiat kesenian Bantengan sehingga kerenggangan yang terjadi sebenarnya dapat diatasi. Pemerintah Kota Batu juga harus lebih transparan terhadap masyarakat mengenai pelestarian kesenian Bantengan. (2) Bagi pelaku kesenian Bantengan juga harus tetap melestarikan kesenian Bantengan, bukan hanya karena saat ini kesenian Bantengan digemari oleh banyak orang sehingga hanya ikut-ikut saja. (3) Adanya komunikasi yang baik antara tokoh agama dengan pelaku kesenian Bantengan terutama para kelompok tokoh agama yang kontra dengan adanya kesenian Bantengan di Kota Batu, sehingga pelestarian kesenian Bantengan di Kota Batu mendapat dukungan penuh dari seluruh masyarakatnya. (4) Seharusnya kesenian Bantengan dikembalikan seperti awalnya, dimana dahulu tidak ada unsur kalap, dan hanya berupa pertunjukan seni tari yang menampilkan pertarungan antara banteng dan macan, dan dimasuki unsur cerita

    Analisis Gaya Kepemimpinan Presiden Indonesia dari Soekarno Hingga Susilo Bambang Yudoyono

    No full text
    ABSTRAK Novantoro, Bagus. 2016. Analisis Gaya Kepemimpinan Presiden Indonesia Dari Soekarno Hingga Susilo Bambang Yudoyono. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparman Adi Winoto, S.H, M.Hum, (II) Dr, Sutoyo, S.H, M.Hum Kata Kunci: gaya kepemimpinan, presiden, Indonesia Gaya Kepemimpinan merupakan gabungan dua kata yang memiliki satu arti. Gaya merupakan gerak atau tingkah sesorang, sedangkan kepemimpinan sendiri berasal dari kata pimpin yang berarti secara luas adalah panutan. Indonesia merupakan negara yang sudah berganti era kepemimpinan sebanyak tujuh kali. Mulai dari presiden Soekarno sampai yang terakhir adalah presiden Jokowi yang masih menjabat sampai saat ini. Masing masing presiden memiliki ciri khas dan gaya kepemimpinan masing-masing. oleh kerena itulah penulis ingin memperdalam penelitian tentang gaya kepemimpinan masing-masing presiden indonesia. Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap berkembangnya suatu negara. Gaya memimpin seorang pemimpin akan menjadi panutan anggota yang dipimpinnya. Tidak terkecuali indonesia. Hasil penelitian ini adalah pertama bahwa setiap gaya kepemimpinan akan membawa dampak besar bagi masyarakat. Kepemimpinan yang keras juga akan menimbulkan masyarakat yang keras. Kepemimpinan yang lembut juga akan membuat masyarakat kurang berpartisipasi dalam menjalankan negara. Ada berbagai macam gaya kepemimpinan didunia ini, namun yang paling menonjol sebenarnya hanya ada tiga. Pertama, gaya kepemimpinan otoriter. Gaya kepemimpinan ini adalah gaya kepemimpinan yang menjadikan seorang pemimpin berkuasa penuh atas negara. Kepemimpinannya hanya berdasarkan pemikiran pemimpin. Anggota hanya dianggap boneka yang harus selalu nurut terhadap pemimpin. Kedua, kepemimpinan kendali bebas. Kepemimpinan ini kebalikan dari kepemimpinan otoriter. Dalam kepemimpinan kendali bebas tugas seorang pemimpin hanya sebatas simbol negara. Pemimpin tidak ikut campur dalam proses administrasi negara. Pemimpin cenderung menghindar dari tugas-tugas negara dan hal itu hal yang wajar. Kebebasan masyarakat juga dibuka sebebas-bebasnya sehingga ran sekali terjadi konflik. Yang ketiga kepemimpinan demokratis. Inilah kepemimpinan yang paling cocok diterapkan di Indonesia, karena pada dasarnya kepemimpinan ini dalah kepemimpinan yang harus mempunyai rasa toltransi yang tinggi. Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku, ras, dan budaya. Oleh karena itulah kepemimpinan ini sangat cocok di Indonesia. Dari berbagai gaya kepemimpinan yang ada Indonesia hanya pernah dipimpin oleh dua tipe kepemimpinan, yaitu demokratis dan otoriter, itupun tidak seratus persen demokratis atau seratus persen otoriter. Tidak bisa dipungkiri bahwa sedemokratisnya seorang pemimpin pasti dia memiliki ego yang mengendalikan tingkah lakunya. Kepemimpinan otoriter di Indonesia tidak sepenuhnya terlihat sebgagai kepemimpinan yang otoriter, jadi Intinya Indonesia memang negara Demokrasi, namun kepemimpinannya belum tentu demokratis

    Peran Masyarakat dalam Melestarikan Alat Musik Gamelan sebagai Upaya Penguatan Identitas Daerah dan Budaya Bangsa Indonesia di Desa Paju Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo

    No full text
    ABSTRAK Fitriani, Ellia. 2017. Peran Masyarakat dalam  Melestarikan Alat Musik Gamelan sebagai Upaya Penguatan Identitas Daerah dan Budaya Bangsa Indonesia di Desa Paju Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M. Pd., M. Si, (II) Dr. Yuniastuti, SH., M. Pd Kata Kunci: peran, melestarikan, gamelan, identitas daerah, budayaIndonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaannya. Kebudayaan yang telah dibentuk masyarakat dan menjadi identitas daerah, perlu dilestarikan agar tetap ada meskipun terjadi perubahan zaman. Sehingga dalam membentuk dan melestarikan kebudayaan dibutuhkan peran masyarakat. Salah satu kebudayaan yang eksistensinya terancam oleh perubahan zaman adalah seni musik tradisional. Gamelan merupakan salah satu alat musik tradisional yang biasa menjadi pengiring kesenian wayangan, ludruk, ketoprak, reog, karawitan dan lain-lain. Oleh karena itu dibutuhkan peran masyarakat untuk menjaga eksistensi gamelan di Indonesia di era perubahan zaman.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) peran masyarakat dalam melestarikan alat musik gamelan, (2) upaya masyarakat dalam  melestarikan alat musik gamelan, (3) kendala-kendala yang dihadapi oleh masyarakat dalam melestarikan alat musik gamelan, dan (4) upaya masyarakat untuk mengatasi kendala dalam melestarikan alat musik gamelan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif. Lokasi peneitian di Desa Paju Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia yaitu narasumber yang diwawancarai diantaranya pembuat, pemain, orang yang berlatih, pendengar dan pembeli; peristiwa dan dokumen. Prosedur pengumpulan data dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi.Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian diketahui bahwa. (1) Peran masyarakat Desa Paju Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo dalam melestarikan alat musik gamelan antara lain: memproduksi gamelan dengan tujuan melestarikan, meneruskan usaha keluarga dan pemenuhan kebutuhan ekonomi; bermain gamelan; mengadakan latihan bersama; menikmati atau mendengarkan musik gamelan; membeli dan menggunakan gamelan. (2) Upaya yang dilakukan masyarakat dalam melestarikan alat musik gamelan antara lain: memproduksi dan memasarkannya sampai ke luar daerah; bermain gamelan sampai keluar daerah; berlatih gamelan; mengajak masyarakat sekitar untuk mencintai gamelan; mengajarkan alat musik gamelan pada generasi muda. (3) Kendala yang dialami oleh masyarakat dalam melestarikan alat musik gamelan diantaranya: masalah pemasaran, belum adanya kerjasama antara Pemerintah dan masyarakat, persaingan dengan alat musik modern; kesalahan dalam memainkannya; kesulitan dalam berlatih; jarangnya pagelaran kesenian yang diiringi alat musik gamelan; kerusakan pada gamelan. (4) Upaya masyarakat untuk menghadapi kendala antara lain: tetap memproduksi dan memasarkan secara mandiri; tetap bermain gamelan secara profesional; latihan dan berusaha belajar dari lingkungan sekitar; berpartisipasi dalam pengadaan pagelaran wayangan, reog, ludruk, ketroprak dan lain-lain; tetap menjaga dan memperbaiki gamelan yang rusak agar dapat digunakan latihan kembali.Saran yang dapat peneliti berikan ditujukan yang pertama kepada pemerintah agar lebih memberikan perhatian, pembinaan, pelatihan, bantuan dan kerjasama dengan masyarakat pembuat gamelan untuk memperlancar proses produksi. Kedua ditujukan kepada masyarakat yang berperan untuk memberikan pelatihan pada generasi muda. Ketiga ditujukan kepada generasi muda untuk mulai mencintai dan mempelajari budaya bangsa terutama gamelan. Keempat ditujukan kepada sekolah-sekolah untuk menggunakan gamelan sebagai sarana pembelajaran wajib atau ektrakuliler agar siswa-siswi dapat belajar dan mengenal alat musik tradisional gamelan.ABSTRAK Fitriani, Ellia. 2017. Community's Role in Preserving Gamelan Music As An Effort to Strengthen the Local Identity and the Culture of Indonesia in Paju Village Ponorogo Subdistrict Ponorogo Regency. Thesis, Departement of Pancasila and Citizenship Education, Departement of Law and Citizenship, Social Science Faculty, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M. Pd., M. Si, (II) Dr. Yuniastuti, Sh., M. Pd Keywords: role, conserve, gamelan, regional identity, cultureIndonesia is a rich country in terms of culture. A culture that has been shaped by the community and becomes a regional identity needs to be preserved in order to remain exist in spite of the changing times, so that in forming and preserving the culture of society needs  the community’s role. One of the cultures which existence is threatened by the changing times is the art of traditional music. Gamelan is a traditional musical instrument which is used to be a companion art wayangan, ludruk, Ketoprak, reog, musicians and others. Therefore, it takes the role of the community to maintain the existence of gamelan in Indonesia.This study aims to describe (1) the role of the community in preserving the gamelan musical instruments, (2) community efforts to preserve the gamelan musical instruments, (3 problems in preserving the gamelan musical instruments, and (4) a community effort to overcome obstacles in preserving the gamelan musical instruments.This study implemented a descriptive qualitative design. The data was taken in the village of Paju, District Ponorogo, Ponorogo. Data sources of this study are human beings, events, and documents. The procedures of collecting data are by interview to maker, player, people who pratice, listener and buyer; observing and documenting. Analysis of the data used is data reduction, presenting the data, and drawing conclusions. Checking the validity of the data is done with perseverance observation and triangulation.Based on the data obtained, it is known that. (1) the role of villagers in Paju District of Ponorogo Ponorogo in preserving the gamelan musical instruments are: producing gamelan with the aim of preserving, continuing the family business and economic needs; playing gamelan; conducting a rehearsal; enjoy listening to music or gamelan; buying and using gamelan. (2) the efforts of the community to preserve the gamelan musical instruments include: producing and selling to other regions; rehearsing; inviting people around to love gamelan; teaching gamelan music to the youth. (3) the constraints they are facing in preserving the gamelan musical instruments are: marketing problems, lacking of cooperation between the Government and the public, competing with modern musical instruments; errors in playing gamelan; difficulties in practice; the scarcity of arts performances accompanied by gamelan music; the damage to the gamelan. (4) a community effort to address constraints such as:they  keep producing and marketing independently; they  keep playing gamelan professionally; exercise and try to learn from the surrounding environment; participate in puppet performances, reog, ludruk, Ketoprak and others; they maintain and repair the broken gamelan so that they can be used for exercises. Suggestions that the researcher can give is first directed to the government to pay more attention, give coaching, training, assistance and cooperate with the community instrument maker to expedite the process of production. The second is addressed to society whose role is to provide training to the young generation. The third is addressed to the young generation to begin to love and learn the culture of Indonesia’s foremost instruments that is gamelan. The fourth is addressed to schools to use gamelan as a means of learning or extracurricular activities that students can learn and get to know the traditional gamelan musical instruments.

    HUBUNGAN INDUSTRIAL PANCASILA YANG BERASASKAN KEKELUARGAAN DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PEKERJA DI PERUSAHAAN AGROWISATA BATU-MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) pelaksanaan hubungan industrial Pancasila di perusahaan kusuma agrowisata (2) tingkat kesejahteraan pekerja di Kusuma agrowisata (3) peran hubungan industrial di Kusuma agrowisata. Data dikumpulkan dengan analisis dokumen, pengamatan, wawancara dan dianalisis dengan teknik deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian adalah: (1) hubungan kerja antar sesama pekerja baik itu hubungan kerja antar personalia dengan pekerja, hubungan antar manajer dengan pekerja maupun sesama pekerja berjalan dengan baik. Di Kusuma Agrowisata pekerja adalah aset perusahaan, yang harus dijaga oleh perusahaan. Setiap keputusan dalam rapat dilakukan secara bermusyawarah, tidak ada kesenjangan sosial antar manajer dan pekerja; (2) tingkat kesejahteraan pekerja di kusuma agrowisata secara undang-undang sudah memenuhi kriteria sejahtera hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator yang dapat dilihat dari fasilitas, perjanjian kerja, waktu kerja dan istirahat, pemberian dari perusahaan, upah kerja lembur, PHK, Penyelesaian perselisihan Hubungan Industrial; (3) Peran hubungan industrial yaitu sebagai wadah penyampaian aspirasi, Motivasi kerja, Pengelolaan sumber daya manusia, Evaluasi kerja

    Marketing Politik Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Blitar Terpilih Pada Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2015

    No full text
    ABSTRAK   Prayuni, Acik Mei. 2017. Marketing Politik Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Blitar Terpilih Pada Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2015. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si.(II) Drs. Petir Pudjantoro, M.Si.   Kata Kunci: Marketing Politik, Walikota dan Wakil Walikota, Pilkada Marketing politik merupakan era baru dalam proses kampanye. Sekarang setiap elit politik semakin mempercantik diri untuk mencuri perhatian publik agar dianggap layak untuk dipilih. Setiap partai politik dibuat semenarik mungkin bukan hanya dari sisi warna, nama, logo tetapi aspek atribut dan kemasan visi-misi menjadi penting untuk diperhatikan. Berkembangnya proses kampanye di masyarakat membuat persaingan partai politik yang jumlahnya sangat banyak memaksa setiap elit politik untuk membuat sesuatu yang baru dan menarik demi mencari perhatian publik. Yang memudahkan masyarakat dalam memilih kandidat ialah ciri khas yang dimiliki oleh kandidat tersebut. Maka dari itu marketing politik ini perlu digunakan guna sebagai jalan sukses memenangkan pilkada. Hal ini juga dilakukan oleh Samanhudi Anwar dan Santoso selalu Walikota dan Wakil Walikota Blitar terpilih pada Pilkada tahun 2015. Dalam menjalankan marketing politiknya banyak hal yang harus dilakukan mulai dari segmentasi pemilih, penguatan citra kandidat, merencanakan produk, dan pemilihan media promosi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) bentuk-bentuk marketing politik yang dilakukan oleh Samanhudi Anwar dan Santoso pada Pilkada tahun 2015; (2) Untuk mengetahui alasan Samanhudi Anwar dan Santoso menggunakan marketing politik; (3) Untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh pasangan Samanhudi Anwar dan Santoso dalam menjalankan marketing politik pada Pilkada tahun 2015. Penelitian ini ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Dengan metode ini peneliti berusaha untuk mengumpulkan informasi dan data sebanyak-banyaknya serta mendalam yang terkait dengan marketing politik pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Blitar pada Pilkada tahun 2015. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara terhadap informan dan dokumentasi dilapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan seperti pola yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pegecekan data dengan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik Adapun hasil penelitian adalah (1) bentuk-bentuk marketing politik yang dilakukan oleh Samanhudi Anwar dan Santoso pada Pilkada tahun 2015 adalah penerapan strategi push marketing, pull marketing dan pass marketing.  Ada beberapa strategi yang dilakukan oleh tim sukses ialah dengan cara segmentasi pemilih, penguatan citra kandidat, merencanakan produk, dan pemilihan media promosi. (2) Alasan Samanhudi Anwar dan Santoso menggunakan marketing politik adalah agar masyarakat merasa lebih dekat dengan calon pemimpin mereka sehingga menjatuhkan pilihanya saat pilkada; (3) kendala yang dihadapi oleh pasangan Samanhudi Anwar dan Santoso dalam menjalankan marketing politik pada Pilkada tahun 2015 adalah terjadi kerusuhan saat kampanye akbar, masyarakat yang kurang paham dengan sosialisasi yang dilakukan oleh tim sukses saat karena faktor usia. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian adalah (1) Untuk pasangan Calon Samanhudi Anwar dan Santoso harus amanah selama menjadi pemimpin di Kota Blitar, merealisasikan program-program yang sudah di janjikan kepada masyarakat; (2) kepada Tim Sukses Samanhudi Anwar dan Santoso lebih menjaga lingkungan ketika berkampanye. Jangan sampai banner, dan alat peraga kampanye lainya mengganggu ketertiban umum. Memanfaatkan potensi pemilih pemula sebagai pendongkrak suara. Dan kemenangan pada periode kedua ini disikapi dengan bijak selalu menjalankan amanah yang telah diberikan oleh masyarakat . selalu mendahulukan kepentingan rakyat dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan; (3) Masyarakat pemilih Kota Blitar harus lebih kritis dalam menyikapi segala bentuk perpolitikan di Kota Blitar agar pada saat para tim sukses maupun pasangan calon melakukan kecurangan masyarakat harus lebih seletif dan siap menolak segala bentuk kecurangan yang dilakukan oleh tim sukses dan kandidat;  (4) Untuk peneliti selanjutnya lebih kongkrit dan jelas dalam menjelaskan tentang marketing politik mulai dari segmentasi politik lebih baik digolongkan dari umur sampai dengan kelas sosial budaya masyarakat Kota Blitar.                                        

    Pelaksanaan Pembelajaran dengan Media Game Edukasi pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMP Sriwedari Malang

    No full text
    Media adalah alat untuk menyampaikan informasi. Media dalam pembelajaran digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran pada siswa. Penelitian ini berdasar pada pertimbangan media pembelajaran yang ada selama masih kurang bervariasi. Media game edukasi dalam pelaksanaan pembelajaran bertujuan untuk membuat pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan membuat pengalaman belajar yang baik. Pada observasi awal didapat data yang menunjukkan bahwa siswa SMP Sriwedari merupakan siswa yang aktif, dan menginginkan pembelajaran berupa permainan, baik itu permainan/ game dalam bentuk teknologi ataupun permainan biasa dan berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa antusias siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan masih kurang. SMP Sriwedari merupakan sekolah inklusi, sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus, dalam pembelajaran di kelas, siswa berkebutuhan khusus berbaur dengan siswa umum. Sehingga guru dituntut untuk membuat pembelajaran yang efektif dan variatif supaya materi pelajaran dapat diterima dengan baik oleh seluruh siswa.Penelitian ini bertujuan untuk, (1) mengetahui perencanaan pembelajaran dengan media game edukasi di SMP Sriwedari Malang, (2) mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran dengan media game edukasi di SMP Sriwedari Malang, dan apa kendala yang dihadapi pada pelaksanaan pembelajaran dengan media game edukasi di SMP Sriwedari Malang.Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian partisipatoris dengan subjek penelitian siswa kelas VIII SMP Sriwedari Malang. Prosedur pengumpulan data dengan menggunakan observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, tes, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi teknik pengumpulan data.Tahap-tahap penelitian yang dilakukan yaitu dengan merencanakan pembelajaran, berupa menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyiapkan sarana-prasarana untuk pembelajaran di ruang belajar, dan menyiapkan materi bahan ajar, materi bahan ajar yang disusun adalah materi keluhuran nilai-nilai Pancasila sebagai Pandangan Hidup bangsa. Selanjutnya dilakukan pelaksanaan pembelajaran di kelas VIII SMP Sriwedari dengan metode ceramah bervariasi, tanya jawab, dan diskusi kelompok. Materi pembelajaran disisipkan dalam game edukasi berupa pertanyaan, dan gambaran penerapan/ perwujudan nilai Pancasila dalam kehidupan. Evaluasi pembelajaran dilakukan dengan tes lisan untuk mengetahui pengetahuan siswa dan penilaian pengamatan sikap siswa yang meliputi tanggung jawab, toleransi, kerja keras, percaya diri, dan kerja sama.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran berjalan dengan baik, pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai tujuan pembelajaran baik tujuan pengetahuan dan tujuan sikap. Kendala yang dihadapi adalah ruang komputer yang tidak dapat digunakan, karena seluruh komputer tidak bisa menyala sehingga pembelajaran dialihkan ke ruang belajar. Faktor perbedaan siswa dalam memahami cara penggunaan game edukasi. Perbedaan rasa antusias siswa pada pembelajaran. Distribusi sarana kurang merata. Seluruh kendala pada pelaksanaan pembelajaran dapat diatasi dengan baik.Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan materi keluhuran nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa keseluruhan dapat berjalan dengan baik. Siswa antusias mengikuti pembelajaran, kegiatan pembelajaran berjalan aktif. Dari hasil evaluasi pembelajaran siswa rata-rata memperoleh hasil skor tinggi baik dari evaluasi pengetahuan maupun pengamatan sikap. Saran untuk peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian sejenis melalui eksperimen dengan menambahkan variabel penelitian sehingga diperoleh temuan penelitian yang lebih meyakinkan

    NILAI-NILAI KARAKTER MASYARAKAT SUKU MADURA DALAM BERDAGANG DI PASAR BESAR KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Erupsi Gunung Api Kelud pada tahun 2014 menghasilkan material vulkanik sebesar > 200 m3 x 106. Andriani,Lia. 2017.Nilai-nilai Karakter Masyarakat Suku Madura Dalam Berdagang di Pasar Besar Kota Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparman AW, SH,M.Hum (II) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si   Kata Kunci : Nilai-nilai Karakter, Suku Madura, Berdagang Suku Madura di perantauan sangat terkenal dengan karakternya yang rajin, tekun, ulet, pantang menyerah, dan pekerja keras dalam menjalankan berbagai usahanya terutama dalam hal berdagang. karakter tersebut tak jarang membawa Suku Madura pada kesuksesan. Namun dibalik karakter yang di miliki tersebut,  Suku Madura cenderung berlogat kasar dan tegas sehingga tak jarang banyak orang yang tersinggung dengan perkataan mereka. Tujuan dari penelitian ini untuk: (1) Menjelaskan apa yang melatarbelakangi masyarakat Suku Madura memilih profesi sebagai pedagang di Pasar Besar Kota Malang (2) Menjelaskan strategi berdagang yang dilakukan oleh masyarakat Suku Madura dalam berdagang di Pasar Besar Kota Malang (3) Menjelaskan nilai-nilai karakter masyarakat Suku Madura dalam berdagang di Pasar Besar Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif yang bersifat deskriptif, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari pedagang Madura asli, pedagang tetangga dan pembeli. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Analisi data yang dilakukan dengan  reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil Penelitian adalah: (1) Menjelaskan apa yang melatarbelakangi masyarakat Suku Madura memilih profesi sebagai pedagang di Pasar Besar Kota Malang yakni turun-temurun dan kerabat atau tetangga yang terlebih dahulu bekerja sebagai pedagang di Malang (2) Menjelaskan strategi berdagang yang dilakukan oleh masyarakat Suku Madura dalam berdagang di Pasar Besar Kota Malang yakni pada saat pembukaan dan penataan toko, pada saat menarik pembeli, menentukan harga, tawar-menawar dan penutupan toko (3) Menjelaskan nilai-nilai Karakter masyarakat Suku Madura dalam berdagang di Pasar Besar Kota Malang yakni nilai karakter religius, nilai karakter jujur, nilai karakter solidaritas, nilai karakter pekerja keras, nilai karakter pantang menyerah, nilai keadilan, nilai keindahan karakter pemarah dan mudah tersinggung. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah untuk pedagang Suku Madura di harapkan agar lebih sabar dan ramah dalam melayani pembeli dan kepada para pembeli diharapkan tidak melakukan hal-hal yang membuat pedagang Madura tersinggung atau marah karena mengingat sifat Suku Madura yang mudah tersinggung dan mudah marah. Semua itu dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan yang bisa memecah persatuan dan kesatuan suku bangsa di Indonesia

    Pembentukan Karakter TGP (Tentara Genie Pelajar) Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka Di SMP Negeri 2 Sumberpucung Kabupaten Malang

    No full text
    Sajidah, Frinsania. 2016. Pembentukan Karakter TGP(Tentara Genie Pelajar) Pada Kegiatan Ekstrakulikuler Pramuka di SMP Negeri 2 Sumberpucung, Kabupaten Malang. Skirpsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Margono, M.Pd., M.Si., (2) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.SiKata Kunci: Pendidikan Karakter, Ekstrakulikuler Pramuka, Nilai KrakterSekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan lembaga pendidikan formal pada jenjang pendidikan menengah yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dalam diri sebagai disiplin ilmu. Sebagai suatu pendidikan formal yang menyelenggarakan pengajaran untuk peserta didiknya, maka segala sesuatu harus disusun dan diatur menurut pola dan sistematika tertentu agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung terarah pada pembentukan dan pengembangan karakter peserta didik.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mengetahui apa saja program pembentukan karakter TGP pada ekstrakulikuler Pramuka di SMP Negeri 2 Sumberpucung, (2) mengetahui bagaimana pelaksanaan program pembentukan karakter TGP pada kegiatan Pramuka di SMP Negeri 2 Sumberpucung, (3) mengetahui apa saja nilai-nilai karakter TGP yang diterapkan pada kegiatan Pramuka di SMP Negeri 2 Sumberpucung, (4) mengetahui faktor apa saja yang menghambat menerapkan karakter TGP pada peserta didik di SMP Negeri 2 Sumberpucung, (5) memberitahukanuntuk mengetahui solusi untuk mengatasi faktor penghambat penerapan karakter TGP pada kegiatan Pramuka di SMP Negeri 2 Sumberpucung.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian  kualitatif deskriptif. Pada penelitian deskriptif ini, peneliti beusaha untuk menjelaskan bagaimana penerapan karakter TGP pada kegiatan Pramuka di SMP Negeri 2 Sumberpucung Kabupaten Malang. Melalui jenis penelitian ini data yang telah terkumpul merupakan hasil dari wawancara tentang bagaimana menerapkan karakter TGP pada siswa-siswi SMP Negeri 2 Sumberpucung yang disusun secara sistematis, akurat dan factual. Hal tersebut untuk memberikan penjelasan secara terperinci dan sesuai denngan keadaan yang terjadi di SMP Negeri 2 Sumberpucung Kabupaten Malang tanpa ada rekayasa.Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa (1) program penerapan TGP di SMP Negeri 2 Sumberpucung dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan, (2) Pelaksanaan program pembentukan karakter TGP pada ekstrakulikuler dibagi menjadi 2 yaitu kegiatan rutin dan kegiatan tahunan, (3) nilai-nilai karakter yang diterapkan pada kegiatan ekstrakurikuler Pramuka antara lain didapat dari kegiatan baris-berbaris, ishoma, penyampaian materi, penempuhan syarat kecakapan umum (SKU) dan perkemahan, (4) terdapat beberapa kendala dalam menerapkan karakter TGP pada kegiatan ekstrakulikuler Pramuka antara lain kendala dari siswa, kendala dari pembina dan kendala anggaran dana, (5) solusi untuk mneyelesaikan beberapa kendala yang ada pada saat menerapkan karakter TGP pada kegiatan ekstrakulikuler Pramuka di SMP Negeri 2 Sumberpucung.Berdasarkan data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa program pembentukan karakter pada kegiatan Pramuka di SMP Negeri 2 Sumberpucung yang paling sering dilaksanakan adalah kegiatan rutin. Dalam menerapkan karakter TGP pada kegiatan Pramuka sangatlah dibutuhkan kerjasama antara pembina Pramuka, kakak pembina Pramuka, Panitia Gugus Depan dan Dewan Galang SMP Negeri 2 Sumberpucung untuk lebih seirius dalam menerapkan karakter TGP pada peserta didik. 

    INTERNALISASI NILAI – NILAI MORAL PADA ANAK DENGAN GEJALA OEDIPUS COMPLEX (STUDI KASUS PADA SISWA SMA NEGERI 2 MALANG)

    No full text
    ABSTRAK   Internalisasi nilai moral pada anak dengan gejala Oedipus complex adalah proses penanaman nilai moral yang dilakukan pada anak yang mengalami gangguan kepribadian Oedipus Complex. Oedipus complex merupakan suatu kompleks yang terjadi pada anak laki – laki berusia 3 – 6 tahun dimana dia pertama kali jatuh cinta kepada ibunya, dan menganggap sang ayah sebagai sainganya. Kompleks yang tidak terselesaikan menyebabkan gangguan kepribadian di masa remaja, terutama saat anak berada di bangku SMA. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan mengenai (1) penyebab gejala Oedipus complex yang muncul pada anak; (2) peran orang tua; (3) peran teman sebaya; (4) peran guru di SMA Negeri 2 Malang dalam proses internalisasi nilai moral pada anak dengan gejala Oedipus complex. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Dalam mencari data dari informan yang terdiri dari anak, orang tua, teman, dan juga guru di SMA Negeri 2 Malang Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, analisis data, dan penyimpulan. Adapun hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, Penyebab gejala Oedipus complex yang muncul pada anak (1) pertengkaran orang tua (2) perceraian orang tua yang terjadi di masa kecil (3) kedekatan dengan ibu (4) ayah tiri (5) kemunculan adik. Kedua, Peran orang tua dalam internalisasi nilai moral pada remaja dengan gejala Oedipus complex (1) peran utama ibu dalam fase oral dan anal (2) peran utama ayah dalam fase falik dimana keduanya berpengaruh penting pada kepribadian anak.  Ketiga, Peran teman sebaya dalam internalisasi nilai moral pada anak dengan gejala Oedipus complex (1) peran teman sebaya dalam lingkungan sekolah yang memberikan dampak positif (2) peran teman sebaya di luar lingkungan sekolah yang berdampak negatif. Keempat, Peran guru di SMA Negeri 2 Malang dalam internalisasi nilai moral pada anak dengan gejala Oedipus complex (1) Peran guru bimbingan dan konseling (2) peran guru PPKn  (3) peran guru agama, (4)  peran guru kesenian. Kata Kunci: Internalisasi, Nilai Moral, Oedipus Complex.

    Kesadaran Hukum Pedagang Kaki Lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik dalam Mematuhi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 03 Tahun 2003 Tentang Ijin Penempatan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima

    No full text
    ABSTRAK Anggraini, Dia Ayu. 2017. Kesadaran Hukum Pedagang Kaki Lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik dalam Mematuhi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 03 Tahun 2003 Tentang Ijin Penempatan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Yuhdi Batubara, S.H, M.Hum. (II) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H. Kata Kunci: kesadaran hukum, pedagang kaki lima, Peraturan Daerah Kabupaten GresikKesadaran hukum merupakan suatu penilaian terhadap apa yang dianggap sebagai hukum yang baik dan/atau tidak baik. Penilaian terhadap hukum tersebut didasarkan pada tujuannya, yaitu apakah hukum tadi adil atau tidak, oleh karena keadilanlah yang diharapkan oleh warga masyarakat, jadi kesadaran hukum tersebut merupakan suatu proses psikhis yang terdapat dalam diri manusia, yang mungkin timbul dan mungkin akan timbul. Akan tetapi, tentang asas kesadaran hukum, itu terdapat pada setiap manusia, oleh karena setiap manusia mempunyai rasa keadilan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesadaran hukum pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik dalam mematuhi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 03 Tahun 2003 tentang ijin penempatan dan pembinaan pedagang kaki lima, meliputi: (1) profil pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik; (2) kesadaran hukum pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik dalam mematuhi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 03 Tahun 2003 tentang ijin penempatan dan pembinaan pedagang kaki lima; (3) tindakan yang dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik dalam menyikapi pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik dalam mematuhi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 03 Tahun 2003 tentang ijin penempatan dan pembinaan pedagang kaki lima.Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan observasi, wawancara, dan dokumen. Wawancara dilakukan kepada Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan, Ketua Paguyuban pedagang kaki lima Alun-Alun Gresik, dan lima orang pedagang kaki lima Alun-Alun Kabupaten Gresik. Tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini adalah tahap pralapangan dan tahap pekerjaan lapangan.Dari proses penelitian yang telah dilakukan dan dianalisis, peneliti memperoleh hasil penelitian sebagai berikut, kesadaran hukum pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik dalam mematuhi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 03 Tahun 2003 tentang ijin penempatan dan pembinaan pedagang kaki lima, meliputi: (1) profil pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik; (2) kesadaran hukum pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik dalam mematuhi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 03 Tahun 2003 tentang ijin penempatan dan pembinaan pedagang kaki lima; (3) tindakan yang dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik dalam menyikapi pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik dalam mematuhi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 03 Tahun 2003 tentang ijin penempatan dan pembinaan pedagang kaki lima adalah, tempat yang ditempati pedagang kaki lima berjualan merupakan tempat yang illegal, karena tempat tersebut berlokasi di Alun-Alun Kabupaten Gresik, dimana tempat tersebut merupakan jantung dari Kabupaten Gresik. Tetapi meskipun berada di tempat yang illegal pedagang kaki lima di Alun-Alun Kabupaten Gresik kesadaran hukumnya cukup tinggi, mulai dari pembayaran retribusi sampai dengan Pemerintah Daerah membutuhkan Alun-Alun Kabupaten Gresik. Pembayaran retribusi pedagang kaki lima dilakukan setiap hari agar tidak membebani pedagang kaki lima. Kegiatan perdagangan dilakukan mulai pukul 15.30  WIB sampai pukul 23.00 WIB. Berlokasi di jantung Kabupaten Gresik membuat pedagang kaki lima tidak bisa berjualan setiap hari, karena ada masanya Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik membutuhkan Alun-Alun Kabupaten Gresik untuk acara formal, salah satu contohnya adalah bazar makanan khas Gresik. Berhubungan dengan hal tersebut Pemerintah Daerah memberikan surat kepada pedagang kaki lima supaya selama kegiatan yang diadakan Pemerintah Daerah berlangsung pedagang kaki lima harus mengosongkan Alun-Alun Kabupaten Gresik sampai batas waktu yang ditentukan.Saran yang dapat peneliti berikan dalam penelitian ini adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik harus lebih banyak menyediakan tempat berdagang untuk pedagang kaki lima, agar pedagang kaki lima tidak berjualan ditempat yang illegal. Karena pedagang kaki lima mudah berkembang dan menyebar tanpa memerlukan persyaratan yang begitu banyak. Selain itu Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan juga harus lebih bisa memberdayakan pedagang kaki lima supaya menjadi pedagang kaki lima yang maju, mandiri, dan kreatif melalui pelatihan pedagang kaki lima dan pemberian modal kepada pedagang kaki lima. Kepada ketua paguyuban agar tidak memberikan ijin kepada pedagang kaki lima baru untuk berjualan di Alun-Alun Kabupaten Gresik. Dan kepada pedagang kaki lima agar tidak berjualan di Alun-Alun Kabupaten Gresik, setidaknya menunggu sampai Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik menyediakan tempat yang layak untuk pedagang kaki lima berjualan.ABSTRAK Anggraini, Dia Ayu. 2017 Legal Awareness of Street Vendors in theSquare of Gresik Regencyto Comply with Regional Regulation of Gresik Regency Number 03 Year 2003 Concerning the Placement and Coaching of Street Vendors. Thesis, Department of Law and Citizenship, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. M. Yuhdi Batubara, S.H, Hum. (II) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H.  Keywords: legal awareness, street vendors, Regional Regulation of Gresik Regenc

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇