SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
Penanaman Nilai-Nilai Pancasila Dalam Ekstrakurikuler Pecinta Alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto
ABSTRAK Novianita, Pingky Sandra 2017. Penananman Nilai-Nilai Pancasila dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Pecinta Alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegraan, Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Margono, M.Pd, M.Si. (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH, MH. Kata Kunci: Penanaman, Nilai-nilai Pancasila, Pecinta Alam.Pecinta alam adalah sebuah kegiatan orang-orang yang mencintai alam beserta segala isinya dan yang mencintai petualangan alam bebas. Dalam pelaksanaanya pecinta alam memiliki tujuan yang sangat baik yaitu membantu dan ikut serta dalam usaha pelestarian alam, dimana Negara Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan potensi alamnya baik dari segi ekonomi maupun pariwisata dan menghasilkan sumber daya manusia yang menguasai kemampuan dalam bidang teoritis dan praktis, sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan pecinta alam di dunia pendidikan memberi banyak manfaat bagi para anggotanya salah satunya adalah menanamkan nilai-nilai Pancasila. Eksrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di luar jam sekolah dan merupakan kegiatan non-pelajaran formal.Penelitianbertujuan mendeskripsikan rancangan penanaman nilai-nilai Pancasila dalam program kegiatan ekstrakurikuler pecinta alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto, pelaksanaan penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan ekstrakurikuler pecinta alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto, hasil penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan ekstrakurikuler pecinta alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto, kendala yang dihadapi dalam penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan ekstrakurikuler pecinta alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto dan upaya yang dilakukan dalam menghadapi kendala penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan ekstrakurikuler pecinta alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota MojokertoPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan observer dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisa data menggunakan reduksi data, menyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: (1) Rancangan penanaman nilai-nilai Pancasila dalam program kegiatan ekstrakurikuler Pecinta Alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto terbagi dalam lima rancangan besar sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yakni rancangan penanaman nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, rancangan penanaman nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, rancangan penanaman nilai Persatuan Indonesia, rancangan penanaman nilai Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawarakatan Perwakilan dan rancangan penanaman nilai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia. (2) Pelaksanaan penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan ekstrakurikuler pecinta alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto terbagi dalam lima kegiatan dilaksanakan setiap Jum’at sore pukul 14.00-17.00 WIB diawali dengan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir (Penutup). (3) Hasil penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan ektrakurikuler pecinta alam Kresnapala cukup berdampak baik dalam kehidupan berkelanjutan dari setiap anggota pecinta alam Kresnapala. Hasil tersebut meliputi perilaku religius, perilaku kemanusiaan, perilaku kabangsaan, perilaku kerakyatan dan perilaku adil. (4) Kendala yang dihadapi dalam penanaman nilai-nilai Pancasila dalam ekstrakurikuler pecinta alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokerto terbagi dalam tiga faktor yakni dari dalam diri sendiri, perizinan maupun faktor cuaca dan kondisi lingkungan. (5) Upaya yang dilakukan dalam menghadapi kendala penanaman nilai-nilai Pancasila dalam ekstrakurikuler pecinta alam Kresnapala di SMA Negeri 1 Kota Mojokertoadalah jika anggota malas untuk mengikuti kegiatan Kresnapala pelatih dan penguruslah yang mempunyai peran paling besar dalam mengatasi hambatan tersebut dengan memberikan motivasi yang membangun, untuk perizinan bila ada anggota Kresnapala yang tidak diizinkan mengikuti kegiatan, pelatih dan pengurus akan melakukan pendekatan kepada orang tua bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anggota Kresnapala dan yang terakhir bilamana terkendala cuaca, pengurus akan segera mengambil keputusan jadwal pengganti dari kegiatan yang batal karena cuaca buruk dengan cepat dan tidak jauh dari hari sebelumnya. Saran untuk SMA Negeri 1 Kota Mojokerto seyogyanya melengkapi sarana dan prasarana khususnya untuk kegiatan ekstrakurikuler. Ini dilakukan untuk memberi kebebasan para siswa untuk dapat mengeksplor bakat dan minat masing-masing siswa
Peranan Sanggar Budaya Patria Loka Kota Blitar dalam Melestarikan Nilai Kearifan Lokal melalui Seni Pedalangan
ABSTRAK Styffany, Laorensia.2017.Peranan Sanggar Budaya Patria Loka Kota Blitar dalam Melestarikan Nilai Kearifan Lokal melalui Seni Pedalangan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd, M.Si. Pembimbing (II) Drs. Petir Pudjantoro, M.Si. Kata Kunci : Seni Pedalangan, Peranan Sanggar Budaya, Nilai Kearifan Lokal.Seni pedalangan mengandung nilai kearifan lokal, yaitu nilai yang digunakan sebagai pedoman untuk bertingkah laku. Dalang merupakan objek sentral dalam seni pedalangan, dalang berperan sangat penting pada pertunjukan pewayangan. Seni pedalangan merupakan kesenian yang perlu di pertahankan eksistensinya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) nilai-nilai kearifan lokal yang dilestarikan melalui seni pedalangan. (2) program kerja Sanggar Patria Loka dalam menjalankan peran pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui seni pedalangan; dan (3) peran Sanggar Budaya Patria Loka dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal melalui seni pedalangan;Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana peranan Sanggar Budaya Patria Loka Kota Blitar dalam melestarikan nilai kearifan lokal melalui seni pedalangan. Data yang sudah terkumpul berupa kata-kata, gambar, wawancara atau dokumentasi akan disusun secara terstruktur, seksama dan objektif. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan penjelasan secara terperinci dan sesuai dengan keadaan nyata tanpa direkayasa.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, nilai-nilai kearifan lokal yang dilestarikan melalui seni pedalangaan: (1) nilai-nilai kearifan lokal yang digali dari Sanggar Budaya Patria Loka yaitu:(a) nilai religius dari seni pedalangan Di Sanggar Budaya Patria Loka mengajarkan untuk dapat memahami apa itu artinya bersyukur sehingga akan mempermudah melakukan suatu kegiatan. (b) nilai sopan santun dari seni pedalangan di sanggar dalang harus nuwun sewu yang berati permisi, karena setiap tempat memilki aura gaib masing-masing yang setiap orang belum tentu tahu. Dalang juga harus memilikicara bicara atau tutur kata yang baik agar karakter atau lakon dari tokoh pewayangan dalam penyampaian pesan kepada penonton dapat diterima dengan baik, sehingga nilai yang disampaikan bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. (c) nilai sosial dari seni pedalangan di sanggar, nilai sosial yang terdapat dalam seni tersebut melekat dengan fungsi kesenian itu sendiri bagi masyarakatnya. Seni pedalangandapat dikatakan memiliki nilai sosial apabila kesenian itu sendiri masih memiliki fungsi dan makna bagi masyarakat pendukungnya. (2) nilai kearifan lokal yang digali dari lakon wayang Wahyu Makhutarama (3) nilai kearifan lokal digali dari cerita yang dikembangkan diambil dari lakon Wahyu Makutharama. Wahyu Makutharama adalah lakon yang berisi nilai-nilai yang patut dipakai sebagai pedoman, lakon ini bisa dikembangkan oleh dalang yang disebut lakon carangan dinapur (4) nilai kearifan lokal digali dari suluk pedalanganSuluk atau nyayian yang dibawa dalang untuk membawa suasana lebih hidup. nilai kearifan lokal pada sulukan terdapat pada isi syair sulukan, karena sulukan terdapat tembang macapat yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Syair tersebut bisa dikembangkan oleh dalang dengan menggunkan Bahasa yang dipahami anak jaman sekarang sehingga tidak kesulitan untuk memahaminya. (5) nilai kearifan lokal digali dari teknik pagelaran adalah dari cara pagelaran yang ditampilkan dahulu dan sekarang terdapat perbedaan yang sangat mencolok. dahulu pertunjukan digelar sesuai pakem yang sesungguhnya agar pertunjukan wayang dapat sampai pada penonton namun sekarang dengan kemajuan jaman semuannya itu dirubah karena berbagai pertimbangan.Kedua, program kerja Sanggar Patria Loka dalam menjalankan peran pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui seni pedalangan:(1) melaksanakan pertemuan memudahkan para pengurus atau para anggota ketika ada masalah atau hal yang ingin dibicarakan maka setiap masukan, saran, evaluasi dapat dirapatkan bersama dan dapat dicarikan solusi permasalahannya. (2) melaksanakan latihan rutinkegiatan latihan seni pedalangan ada tiga tahap yaitu Kegiatan observasi dimana pelatih melihat kemampuan atau keahlian siswa karena pada dasarnya kemampuan anggota satu dengan anggota yang lain berbeda-beda, Sesudah di observasi maka setelah itu dilatih berdasarkan kemampuan yang dimiliki, latihan berupa latihan dasar terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuan dan juga mempermudah meningkatkan kemampuan yang dimiliki, kegiatan pelatihan seni pedalangan mempelajari metode pedalangan yang dipakai pelatih, teknik pedalangan yang harus dikuasai peserta seni pedalangan serta materi seni pedalangan yang harus dipelajari peserta seni pedalangan, kemudian setelah itu masuk tahap evaluasi adalah tahap akhir dari pelatihan pedalangan, dimana pada tahap ini setiap anggota diberikan kesempatan untuk bertanya dan memberikan saran kepada anggota baik itu pelatih atau anggota yang lain.(3) mengikuti festival atau gelar budayauntuk melihat kemampuan dengan tujuan mengevaluasi siswa dan mengetahui kemampuan siswa sejauhmana pemahaman terhadap materi yang sudah di berikan oleh pelatih sanggar selama waktu satu tahun dan dengan adanya evaluasi pelatih juga lebih mengetahui perkembangan peserta didikdalam mengembangkan seni pedalangan.Ketiga, peran Sanggar Budaya Patria Loka dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal melalui seni pedalangan:(1) yaitu mewariskan seni pedalangan melalui upaya kegiatan pelatihan seni pedalangan maupun seni yang lain. (2) yaitu mengembangkan seni pedalangan melakukan upaya dengan cara mengadakan pementasan. Pementasan yang dilakukan Sanggar Budaya Patria Loka terbagi dalam 2 jenis yaitu: Pementasan di dalam sanggar dan Pementasan di luar sanggar. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka saran yang dapat diberikan peneliti lebih memaksimalkan perannya dalam melestarikan kesenian tradisonal serta lebih menanamkan lagi nilai kearifan lokal pada anggota Sanggar Budaya Patria Loka,agar meningkatkan latihan supaya dengan latihan yang rutin akan megoptimalkan kemampuan yang dimiliki sehingga menambah dan mengembangkan pengetahuan dan dapat bermanfaat untuk mewariskan ilmu yang dimiliki kepada generasi selanjutnya, serta bagi pemerintah dan masyarakat hendaknya mendukung dan ikut berpartisipasi dalam melestarikan kesenian yang merupakan aset bangsa yang sangat penting
Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh Gereja Kristen Jawi Wetan dan Upaya Pelestariannya di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang
ABSTRAK Andini, MargaretaSheshaOkta. 2017. Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh Gereja Kristen Jawi Wetan dan Upaya Pelestariannya di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Skripsi. Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Suko Wiyono, SH., MH (2) Dr. Didik Sukriono, SH., M.Hum Kata Kunci: Nilai, Kearifan Lokal, Tradisi, RiyayaUndhuh-UndhuhKata Undhuh-Undhuhberasal dari bahasa Jawa yang artinya memetik atau memanen. Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhmerupakan sebuah peringatan atau perayaan panen raya sekaligus ucapan syukur kepada Tuhan atas berkah berupa hasil panen yang diberikan kepada warga jemaat Mojowarno khususnya yang berprofesi sebagai petani.Penelitan ini dilaksanakan bertujuan (1) menjelaskan sejarah Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyang dilaksanakan jemaat GKJW Mojowarno (2) menjelaskan urutan pelaksanaan Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyang dilaksanakan jemaat GKJW Mojowarno (3) menjelaskan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh(4) menjelaskan upaya pelestarian Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh. Penelitian ini dilaksanakan di GKJW Mojowarno, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah dengan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sejarah Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhdiawali dari pemikiran Paulus Tosari dan J.EJellesma untuk membuat lumbung miskin (2) urutan pelaksanaan Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyakni kebetan, keleman, dan prosesi Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyang terdiri 4 tahapan yaitu tahap persiapan, arak-arakan, ibadah kemudian lelangan (3) nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyakni nilai religi, nilai sosial, nilai moral, nilai keindahan, nilai ekonomis, dan nilai hiburan (4) upaya melestarikan Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh yakni dengan dilaksanakannya tradisi tersebut pada setiap tahunnya, gencar melakukan promosi di media sosial, serta mengundang tokoh-tokoh penting untuk ikut serta dalam menghadiri tradisi tersebut. Merujuk pada hasil penelitian ini saran yang dapat diberikan antara lain: (1) sebaiknya masyarakat tetap mempertahankan tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhdengan memperkenalkan tradisi ini dalam lingkungan keluarga agar warisan budaya lokal yang dimiliki Desa Mojowarnotetap terpelihara (2) sebaiknya generasi muda Desa Mojowarno dapat melestarikan dan meneruskan tradisi yang telah dilaksanakan pada setiap tahunnya agar nilai-nilai budaya lokal yang ada dalam tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhtidak menghilang seiring dengan kemajuan zaman (3) sebaiknya masyarakat Desa Mojowarno tetap mempertahankan rasa toleransi dan solidaritas yang tinggi tanpa membeda-bedakan agama, suku, maupun ras sehingga dapat saling membantu dan bergotong-royong dalam tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh agar tercipta kerukunan dan kenyamanan di Desa Mojowarno (4) sebaiknya masyarakat tetap berpartisipasi dalam tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhdengan menyebarluaskan ke berbagai media sosial untuk memperkenalkan warisan budaya lokal ini kepada daerah lain (5) sebaiknya pemerintah tetap mendukung dan ikut menyemarakkan tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhuntuk mempertahankan warisan budaya daerah (6) sebaiknya pemerintah ikut andil dalam setiap kegiatan masyarakat dengan mengajak semua golongan agama sekaligus untuk membantu mewujudkan perdamaian antar golongan agama yang sedang panas di masyarakat
Penegakan Hukum terhadap kasus pemerkosaan Anak di bawah umur (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Maumere Provinsi Nusa Tenggara Timur))
ABSTRAK Tindakseksualterhadapanak di bawahumuradalahtindakan anti kesusilaan yang dapatmerusakkehidupan, tahaptumbuhkembang, dankebahagiananak-anak.Padahalperlindunganterhadaphakanaksangatdiperlukangunamenjamintumbuhkembanganaksecarawajardalamlingkungan yang sehatdanharmonis.Perlindunganterhadapanakinidapatdiwujudkandalamberbagaibentuk, salahsatunyaperlindungandaritindakkekerasandanpemerkosaan.PemberlakuanUndang-Undangperlindungananak, telahmemberikanpayunghokum bagipelaksanaansanksihukumterhadappelakutindakperkosaananakmenjadilebihkerasdanberatdarisebelumnya.Akan tetapi, karenatindakperkosaananakpadadasarnyadapatmerusakfisik, kecerdasanemosional, tahaptumbuhkembang yang wajar, dankehidupansosialnya.PenelitianinidilaksanakandengantujuanuntukmengetahuiapakahUndang-UndangperlindungananakditerapkanpadasidangpengadilanNegeriMaumeredalamkasuspemerkosaanterhadapanak.Proses penyelesaiankasuspemerkosaanterhadapanakadalahsedapatmungkin hakim dalamputusannyamemberikanhukuman yang maksimalsehinggamemberiefekjerakepadapelakutindakpidanadanmasyarakattakutmelakukanhal yang samakarenahukumannyaberat.TuntutanJaksadalamperkarainimenuntuthukumanmaksimal 10 tahunPidanapenjaraSedangkanUndang-Undangmengaturhukumanmaksimal 15 tahunPenelitianinimenggunakanpendekatanpenelitiankualitatifdenganmetodedeskriptifdenganjenispenelitianstudikasus.Dalammencari data dariinformandariKejaksaanNegeriSikkadanPengadilanNegeriMaumere.Pengumpulan data tersebutdilakukandenganmetodeyaitu: observasi, wawancara, dandokumentasi. Analisis data dilakukandengancaramengumpulkandanmengecek data yang diperolehdarilapangan, analisis data danpenyimpulan. Putusan Hakim dalamperkaraini.Hakimmemutuslebihrendahdarituntutanjaksayaitu 6 tahun 8 bulan.Pertimbangan Hakim sebagaiberikut: Terdakwamengakuiterusterang, belumpernahdihukum, berjanjitidakakanmengulangi, Terdakwamemilikitanggungananakdanistri.PadahalancamandalamUndang-UndangPerlindungananakmaksimal 15 tahunkurungan penjara
KESADARAN HUKUM BERLALU LINTAS REMAJA DESA KEMANTREN KECAMATAN JABUNG KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Rahayu, Silvia Putri. 2017. Kesadaran Hukum Berlalu Lintas Remaja Desa Kemantren Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Didik Sukriono S.H, M.Hum, (II) Drs. Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si. Kata Kunci: kesadaran hukum, lalu lintas, remajaSalah satu permasalahan hukum dewasa ini adalah masih rendahnya kesadaran hukum, akibatnya masih banyak terjadi pelanggaran hukum di masyarakat salah satunya tentang lalu lintas. kesadaran hukum mempunyai hubungan yang positif dengan ketaatan hukum, makin tinggi kesadaran hukum seseorang maka semakin tinggi pula ketaatan hukumnya. Sebaliknya jika kesadaran hukumnya rendah, maka akan terjadi banyak pelanggaran. Lalu lintas dan angkutan jalan pada pasal 1 ayat (1) UU No. 22 Tahun 2009 adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas Lalu Lintas, Angkutan Jalan, Jaringan Lalu Lintas dan angkutan Jalan, Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Kendaraan, Pengemudi, Pengguna Jalan serta pengelolaannya. kesadaran hukum berlalu lintas adalah kondisi dimana setiap individu mempunyai kesadaran penuh terhadap hukum berlalu lintas yang telah ditetapkan dengan harapan pengguna jalan dapat terkendalikan dalam keadaan berlalu lintas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui bentuk pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh remaja Desa Kemantren Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, (2) mendeskripsikan kesadaran hukum berlalu lintas remaja Desa Kemantren Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, (3) mengetahui faktor-faktor penyebab pelanggaran hukum berlalu lintas remaja Desa Kemantren Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, dan (4) mengetahui upayapihak kepolisian dalam meningkatkan kesadaran hukum berlalu lintas remaja Desa Kemantren Kecamatan Jabung Kabupaten Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data dari penelitian ini adalah Soni (15 tahun), Melisa (16 tahun), Arif (18 tahun) dan Bayu (13 tahun), Bapak Parna dari Polsek Jabung dan Bapak Rudi dari Polsek Tumpang Bapak Makhin Tohari selaku Kepala Desa Kemantren dan Bapak Ahmad Sayuti selaku Sekretaris Desa Kemantren. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa (1) bentuk pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh remaja Desa Kemantren Kecamatan Jabung Kabupaten Malang ada tiga yaitu berkendara sebelum mempunyai SIM, tidak menggunakan helm saat berkendara, dan mengendarai kendaraan yang tidak standar, (2) kesadaran hukum berlalu lintas remaja Desa Kemantren Kecamatan Jabung Kabupaten Malang masih kurang, hal ini terbukti dengan remaja Desa Kemantren tidak melaksanakan aturan lalu lintas yang ada, (3) Faktor-faktor penyebab terjadinya pelanggaran hukum berlalu lintas yang dilakukan oleh remaja Desa Kemantren adalah faktor manusia, yaitu dari diri manusia itu sendiri selaku pengguna jalan serta orang tua yang lalai dalam mengawasi keselamatan berlalu lintas dan faktor sarana dan prasarana, sarana dan prasarana dapat mendukung ketertiban berlalu lintas pengguna jalan, dan (4) Upaya pihak kepolisian dalam meningkatkan kesadaran hukum berlalu lintas remaja Desa Kemantren adalah dengan melakukan upaya preventif dan represif. Upaya preventif yang dilakukan berupa sosialisasi, pengaturan lalu lintas dan penjagaan lalu lintas. Sedangkan upaya represif yang dilakukan adalah teguran dan tilang. Merujuk pada hasil penelitian ini saran yang dapat diberikan antara lain: (1) Diharapkan agar setiap remaja Desa Kemantren dapat lebih memahami, menyadari dan mengimplementasikan cara berlalu lintas sesuai aturan, (2) Polres Jabung dan Tumpang dapat bekerja sama dengan pihak pemerintah desa dalam melakukan sosialisasi kepada remaja dan wali murid sebagai upaya meningkatkan kesadaran hukum tertib berlalu lintas, dan (3) pihak pemerintah desa seyogyanya aktif dalam mencukupi kebutuhan sarana dan prasarana lalu lintas di Desa Kemantren
Peran Anggota Karang Taruna dalam Mewujudkan Kerukunan Antar Warga di Wilayah Mergan Sekolahan Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang
ABSTRAK Agatha, M. Dion. 2017 Peran Anggota Karang Taruna dalam Mewujudkan Kerukunan Antar Warga di Wilayah Mergan Sekolahan Kecamatan Sukun Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Suko Wiyono, SH.,MH (2) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd., M.Si Kata kunci: Peran, Karang Taruna, Kerukunan antar warga di wilayah Mergan SekolahanMewujudkan kerukunan antar warga oleh anggota Karang Taruna di wilayah Mergan Sekolahan Kecamatan Sukun Kota Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan bagaimana keterlibatan anggota Karang Taruna Mergan Sekolahan dapat menjaga keharmonisan antar warga di wilayah Mergan Sekolahan Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif menggunakan metode diskriptif. Dalam mencari data dari informan yang terdiri dari pemerintahan wilayah Mergan Sekolahan, Ketua Rukun Tetangga, Ketua Karang Taruna, dan warga Mergan Sekolahan yang ikut serta dalam kegiatan-kegiatan warga yang dilaksanakan di wilayah Mergan Sekolahan Kecamatan Sukun Kota Malang. Pengumpulan data tersebut menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan mengeceknya ulang yang diperoleh dilapangan.Hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, anggota Karang Taruna Mergan Sekolahan dalam mewujudkan kerukunan antar warga dengan beragam kegiatan. Kedua, dalam melaksanakan kegiatan yang dilakukan oleh anggota Karang Taruna, mereka membutuhkan bantuan, dan kerjasama dari seluruh instansi masyarakat dalam mewujudkan kerukunan antar warga di wilayah Mergan Sekolahan Kecamatan Sukun Kota Malang. Ketiga, permasalahan dalam mewujudkan kerukunan antar warga di wilayah Mergan Sekolahan, yaitu: kurangnya keikutsertaan anggota Karang Taruna dalam setiap kegiatan yang dilakukan dalam mewujudkan kerukunan antar warga, Keempat, setiap permasalahan atau konflik antar warga yang muncul pasti diselesaikan dengan cara musyawarah yang dihadiri oleh ketua Rukun Tetangga dan warga yang berkonflik. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain Sebaiknya partisipasi semua anggota Karang Taruna Mergan Sekolahan lebih ditingkatkan kembali dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk menjaga nilai-nilai kerukunan antar warga di wilayah Mergan Sekolaha
Transparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa (Studi Kasus di Desa Pucangsari Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan)
ABSTRAK Prasetyo, Mochammad Erwin. 2017. Transparansi pengelolaan alokasi dana desa (ADD) (Studi Kasus di Desa Pucangsari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nuruddin Hady, S.H., M.H., (2) Dr. Mohammad Yudhi, S.H. M. Hum. Kata Kunci: Transparansi, Pengelolaan, Alokasi Dana Desa (ADD).Pemberian Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan wujud nyata pemenuhan Otonomi Desa, agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari desa itu sendiri berdasarkan keanekaragaman, partisipasi, demokratisasi, serta pemberdayaan masyarakat. Sedangkan maksud pemberian Alokasi Dana Desa (ADD) adalah sebagai bantuan stimulan atau dana perangsang untuk mendorong dalam membiayai program pemerintahan desa yang ditunjang dengan partisipasi swadaya gotong royong masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat. Alokasi Dana Desa (ADD) dilaksanakan dengan prinsip keterbukaan/transparan sebagai wujud pertanggungjawaban kepada publik.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yaitu: (1) mekanisme penentuan transparansi pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD), (2) transparansi penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD), (3) kendala yang dihadapi dalam penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD), (4) pengawasan penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD).Berdasarkan dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Mekanisme penentuan Alokasi Dana Desa melibatkan semua elemen masyarakat, dan tahapannya dimulai dari lingkup yang terkecil yaitu RT/RW, kemudian Musdus, Musdes, dan Musrenbangdes, (2) Program penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Pucangsari, Kecamatan Purowosari, Kabupaten Pasuruan terdiri dari 4 (empat) program, antara lain yaitu: (a) Program Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, (b) Program Pelaksanaan Pembangunan, (c) Program Pembinaan Kemasyarakatan, (d) Program Pemberdayaan Masyarakat. Pelaksanaan program penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) menemui beberapa kendala, diantaranya: Kurangnya partisipasi masyarakat, pendamping desa yang kurang kompeten, keterlambatan pencairan dana Alokasi Dana Desa (ADD), Tidak adanya staff di bidang pembangunan, sosisalisasi yang kurang dari pemerintah desa, kendala dalam pelaksanaan kegiatan operasional Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Dalam hal pengawasan, semua elemen masyarakat berperan dalam mengawasi jalannya penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD). Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan beberapa hal yaitu: (1) Hendaknya sosialisasi lebih diperluas dan mengenai anggaran agar diberikan papan pengumuman bukan hanya di Balai Desa, tapi di setiap dusunataupun jika perlu setiap RT/RW, (2) Perlu peningkatan dalam profesionalitas dan partisipasi seluruh aparatur desa dalam segala kegiatan pengalokasian Dana Desa, (3) Untuk masyarakat, agar meningkatkan kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan dan program-program Alokasi Dana Desa
Nilai-Nilai Pancasila dalam Kesenian Kuda Lumping Paguyuban Singo Barong Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi
ABSTRAK Pradana, Muhammad. Noval Eka. 2017. Nilai-Nilai Pancasila dalam Kesenian Kuda Lumping Paguyuban Singo Barong Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi, Skripsi, Jurusan Hukum danKewarganegaraan, Progam Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Drs. Suparman Adi Winoto, S.H, M.Hum, (II) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum Kata Kunci: Nilai-nilai Pancasila, Kesenian kuda lumping, Paguyuban Singo BarongKesenian kuda lumping merupakan salah satu warisan budaya peninggalan nenek moyang masyarakat Jawa, yang terdapat diberbagai wilayah di Indonesia dengan versi yang berbeda-beda. Kesenian ini merupakan perpaduan antara musik, nyanyian serta gerak tari dan biasanya diikuti dengan hal-hal aneh yaitu kesurupan (ndadi). Paguyuban Singo Barong merupakan salah satu dari sekian banyak kelompok kesenian kuda lumping yang ada, paguyuban ini terletak di Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi. Oleh karena itu akan menarik bila dikaji lebih dalam bagaimana berkembangnya kesenian kuda lumping ini serta nilai-nilai Pancasila yang terkandung didalam kesenian Kuda Lumping Paguyuban Singo Barong.Tujuan dari penelian ini adalah untuk mengetahui Untuk mengetahui (1) perkembangan kesenian kuda lumping paguyuban Singo Barong Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi, (2) tata cara pementasan dalam ritual/upacara kesenian kuda lumping paguyuban Singo Barong Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi, (3) makna dalam tata cara dan gerakan tarian yang terdapat dalam kesenian kuda lumping paguyuban Singo Barong Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi, (4) nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam tata cara dan gerakan tari kesenian kuda lumping paguyuban Singo Barong Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara, dan dokumentasi. Dipilihnya Paguyuban Singo Barong karena Paguyuban ini masih tetap eksis hingga saat ini, keberadaanya di daerah ini masih kental akan kebudayaan Jawa.Hasil temuan dari penelitian ini adalah yang pertama latar historis kesenian kuda lumping paguyuban Singo Barong Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi yang didirikan oleh Suripto untuk menyatukan serta menguatkan persaudaraan masyarakat kelurahan Singotrunan melalui kesenian kuda lumping serta ingin melestarikan kesenian kuda lumping. Kedua, Tata cara pementasan dalam ritual/upacara kesenian kuda lumping paguyuban Singo Barong Kelurahan singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi ada 6 tahap yaitu sesajen, sulukan, ndadi, perpisahan, dagelan. Ketiga, Makna dalam tata cara dan gerakan tarian yang terdapat dalam kesenian kuda lumping paguyuban Singo Barong kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi adalah sebagai berikut : Sesajen dimaksudkan untuk mengingat para leluhur yang telah tiada, sulukan dimaksudkan untuk memuji Tuhan Yang Maha Kuasa, Kembangan menggambarkan karakter dari simbol kuda sebagai atribut yang dikenakan, yaitu simbol kuda yang dibuat dari anyaman bambu yang memiliki makna dalam kehidupan manusia kadang kalanya sedih, susah, senang. Prosesi ndadi memiliki makna yang ingin disampaikan kepada penonton, yaitu mengingatkan manusia bahwa didunia ini ada 2 macam alam kehidupan yaitu alam kehidupan nyata pada saat penari dalam kondisi sadar dan alam kehidupan ghaib pada saat penari ndadi. Selanjutnya adalah prosesi perpisahan yang memiliki makna dengan berakhirnya acara tersebut maka tidak ada makhluk halus yang mengikuti penari ataupun penonton yang ada disana, semua kembali ketempat asal masing-masing dengan pertongan Tuhan Yang Maha Kuasa. Terakhir yaitu dagelan merupakan alunan perpisahan yang dimaksudkan memberikan refleksi dan membuat sauasana rileks kepada para penonton. Keempat, Nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam tata cara dan gerakan tarian kesenian kuda lumping paguyuban Singo Barong Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi yaitu nilai-nilai religius, nilai sosial, nilai estetika, nilai vital, nilai hiburan.Saran yang dapat diberikan peneliti dalam penelitian ini yaitu bagi paguyuban. Bagi peguyuban agar lebih meningkatkan kualitas agar paguyuban ini terus berkembang, bagi dinas pendidikan dan kebudayaan agar lebih memperhatikan kebudayaan-kebudayaan lokal yang merupakan warisan nenek moyang agar tetap terjaga karena di era globalisasi ini kebudayaan lokal mulai tergeser dengan adanya kebudayan modern dan juga perlu diadakan pelatihan berkala terhadap paguyuban kesenian meningkatkan kualitas pertunjukannya agar tetap lestari, bagi peneliti lain yang akan meneliti mengenai nilai-nilai agar direncanakan secara matang sehiingga data yang diperoleh dan hasil penelitian bisa didapatkan secara lengkap
Peran Kelompok Tani Gelora Bunga dalam Peningkatan Kesejahteraan Petani Bunga (Studi kasus di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu)
ABSTRAK Keberadaan sebuah kelompok tani saat ini mulai terpinggirkan karena Kurangnya perhatian terutama pada upaya peningkatan kesejahteraan petani. mungkin saat ini, disebabkan belum terbangunnya paradigma pembangunan pertanian di perdesaan yang baik. Agar peningkatan kesejahteraan kelompok tani berdampak baik maka kelompok tani yang dalam konteks penelitian di Dusun Sukorembug memiliki peran dalam peningkatan kesejahteraan petani.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) peran Kelompok Tani Gelora Bunga dalam peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu 2) nilai-nilai kegiatan Kelompok Tani Gelora Bunga dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu 3) kendala Kelompok Tani Gelora Bunga dalam peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu 4) upaya Kelompok Tani Gelora Bunga dalam peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota BatuPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan yaitu: 1) Kepala Desa Sidomulyo 2) Ketua Kelompok Tani Gelora Bunga 3) Anggota Kelompok Tani Gelora Bunga .Analisis data dengan menggunakan model analisis data studi kasus menurut Robert K. Yin. Studi kasus yaitu analisis data penjodohan pola yang didasarkan atas empiri dengan pola yang diprediksikan (atau dengan beberapa prediksi alternatif). Jika kedua pola ini ada persamaan, hasilnya dapat menguatkan validitas internal studi kasus yang bersangkutan. dalam menggunakan penjodohan polaBerdasarkan hasil penelitian data tersebut diperoleh empat kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut (1) peran Kelompok Tani Gelora Bunga dalam peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu meliputi: meningkatkan kualitas bunga, mengembangkan kawasan wisata bunga, pembangunan fisik, memperluas pemasaran bunga, peningkatan kesejahteraan petani bunga meliputi: adanya peningkatan kualitas rumah, peningkatan sandang, pangan, peningkatan pendidikan dan pendidikan ibadah. (2) nilai-nilai kegiatan Kelompok Tani Gelora Bunga dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu meliputi: nilai gotong royong, nilai religius, nilai kreativitas dan nilai kemandirian (3) kendala Kelompok Tani Gelora Bunga dalam peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu meliputi: kurangnya pemberdayaan petani, belum meratanya perbaikan infrastruktur dan belum Meratanya Bantuan Peralatan Pertanian. (4) upaya Kelompok Tani Gelora Bunga dalam peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu meliputi partisipasi aktif anggota kelompok tani, perlindungan harga bunga, dan kegiatan simpan pinjam kelompok tani. Berdasarkan penelitian, diberikan saran kepada kepala Desa Sidomulyo untuk ikut berperan memfasilitasi segala kegiatan Kelompok Tani Gelora Bunga.Kepada ketua Kelompok Tani Gelora Bunga di Dusun Sukorembug untuk lebih berperan mengkoordinasi dalam rangka peningkatkan kesejahteraan petani bunga. Kepada Pemerintah Kota Batu untuk memberikan dukungan baik secara moral maupun material terhadap kelompok tani gelora bunga dalam peningkatan kesejahteraan petani bunga di Dusun Sukorembug Desa Sidomulyo Kota Batu. Kepada Kelompok Tani Gelora Bunga agar lebih berperan aktif dalam setiap kegiatan yang berdampak pada kesejahteraan petani bunga. Kepada petani bunga agar selalu meningkatkan produktivitas penanaman bunga
Marketing Politik Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Blitar Terpilih Pada Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2015
ABSTRAK Prayuni, Acik Mei. 2017. Marketing Politik Pasangan Calon Walikota dan WakilWalikota Blitar Terpilih Pada Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2015.Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pancasila danKewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan AlHakim, M.Si.(II) Drs. Petir Pudjantoro, M.Si. Kata Kunci: Marketing Politik, Walikota dan Wakil Walikota, PilkadaMarketing politik merupakan era baru dalam proses kampanye. Sekarang setiap elit politik semakin mempercantik diri untuk mencuri perhatian publik agar dianggap layak untuk dipilih. Setiap partai politik dibuat semenarik mungkin bukan hanya dari sisi warna, nama, logo tetapi aspek atribut dan kemasan visi-misi menjadi penting untuk diperhatikan.Berkembangnya proses kampanye di masyarakat membuat persaingan partai politik yang jumlahnya sangat banyak memaksa setiap elit politik untuk membuat sesuatu yang baru dan menarik demi mencari perhatian publik. Yang memudahkan masyarakat dalam memilih kandidat ialah ciri khas yang dimiliki oleh kandidat tersebut. Maka dari itu marketing politik ini perlu digunakan guna sebagai jalan sukses memenangkan pilkada. Hal ini juga dilakukan oleh Samanhudi Anwar dan Santoso selalu Walikota dan Wakil Walikota Blitar terpilih pada Pilkada tahun 2015. Dalam menjalankan marketing politiknya banyak hal yang harus dilakukan mulai dari segmentasi pemilih, penguatan citra kandidat, merencanakan produk, dan pemilihan media promosi.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) bentuk-bentuk marketing politik yang dilakukan oleh Samanhudi Anwar dan Santoso pada Pilkada tahun 2015; (2) Untuk mengetahui alasan Samanhudi Anwar dan Santoso menggunakan marketing politik; (3) Untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh pasangan Samanhudi Anwar dan Santoso dalam menjalankan marketing politik pada Pilkada tahun 2015.Penelitian ini ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Dengan metode ini peneliti berusaha untuk mengumpulkan informasi dan data sebanyak-banyaknya serta mendalam yang terkait dengan marketing politik pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Blitar pada Pilkada tahun 2015. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara terhadap informan dan dokumentasi dilapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan seperti pola yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pegecekan data dengan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknikAdapun hasil penelitian adalah (1) bentuk-bentuk marketing politik yang dilakukan oleh Samanhudi Anwar dan Santoso pada Pilkada tahun 2015 adalah penerapan strategi push marketing, pull marketing dan pass marketing. Ada beberapa strategi yang dilakukan oleh tim sukses ialah dengan cara segmentasi pemilih, penguatan citra kandidat, merencanakan produk, dan pemilihan media promosi. (2) Alasan Samanhudi Anwar dan Santoso menggunakan marketing politik adalah agar masyarakat merasa lebih dekat dengan calon pemimpin mereka sehingga menjatuhkan pilihanya saat pilkada; (3) kendala yang dihadapi oleh pasangan Samanhudi Anwar dan Santoso dalam menjalankan marketing politik pada Pilkada tahun 2015 adalah terjadi kerusuhan saat kampanye akbar, masyarakat yang kurang paham dengan sosialisasi yang dilakukan oleh tim sukses saat karena faktor usia.Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian adalah (1) Untuk pasangan Calon Samanhudi Anwar dan Santoso harus amanah selama menjadi pemimpin di Kota Blitar, merealisasikan program-program yang sudah di janjikan kepada masyarakat; (2) kepada Tim Sukses Samanhudi Anwar dan Santoso lebih menjaga lingkungan ketika berkampanye. Jangan sampai banner, dan alat peraga kampanye lainya mengganggu ketertiban umum. Memanfaatkan potensi pemilih pemula sebagai pendongkrak suara. Dan kemenangan pada periode kedua ini disikapi dengan bijak selalu menjalankan amanah yang telah diberikan oleh masyarakat . selalu mendahulukan kepentingan rakyat dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan; (3) Masyarakat pemilih Kota Blitar harus lebih kritis dalam menyikapi segala bentuk perpolitikan di Kota Blitar agar pada saat para tim sukses maupun pasangan calon melakukan kecurangan masyarakat harus lebih seletif dan siap menolak segala bentuk kecurangan yang dilakukan oleh tim sukses dan kandidat; (4) Untuk peneliti selanjutnya lebih kongkrit dan jelas dalam menjelaskan tentang marketing politik mulai dari segmentasi politik lebih baik digolongkan dari umur sampai dengan kelas sosial budaya masyarakat Kota Blitar