SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    PENANAMAN NILAI KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI MATA PELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP PADA KELAS XII SMAN 1 MEJAYAN KABUPATEN MADIUN

    No full text
    ABSTRAK   Wulandari , Tya. 2018. Penanaman Nilai Karakter Peduli Lingkungan Melalui Mata Pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Kelas XII SMAN 1 Mejayan Kabupaten Madiun. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparman A.W, S.H., M.Hum, (II) Dr. Edi Suhartono, S.H, M.Pd. Kata Kunci: Nilai Karakter, Peduli Lingkungan, Pendidikan Lingkungan Hidup Karakter merupakan perilaku manusia baik dalam bentuk sikap maupun ucapan. Sedangkan,  nilai karakter peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Nilai karakter peduli lingkungan dapat ditanamkan melalui mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup, termasuk di SMAN 1 Mejayan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui nilai karakter peduli lingkungan yang terdapat dalam mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup kelas XII SMAN 1 Mejayan, (2) mengetahui cara penanaman nilai karakter peduli lingkungan melalui mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup pada kelas XII SMAN 1 Mejayan, (3) mengetahui hambatan pendidik dalam menanamkan nilai karakter peduli lingkungan kepada peserta didik, dan (4) solusi agar peserta didik mampu memahami nilai karakter peduli lingkungan yang terdapat pada mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah data terkumpul dilaksanakan pengecekan keabsahan data dengan tiga teknik, yaitu teknik ketekunan pengamatan, teknik triangulasi (triangulasi observasi, triangulasi sumber dan triangulasi dokumentasi) serta teknik pemeriksaan sejawat melalui diskusi. Sedangkan analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh empat hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, nilai karakter peduli lingkungan yang terdapat pada mata pelajran pendidikan lingkungan hidup adalah nilai menghargai keberagaman, menghargai karya orang lain, nasionalis, peduli, kebersihan, ketertiban dan keindahan. Kedua, penanaman nilai karakter peduli lingkungan dilakukan melalui kegiatan intra dan ekstra. Kegiatan intra dilakukan didalam kelas menggunakan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan silabus, sedangkan kegiatan ekstra dilakukan diluar kelas dengan melakukan penanaman nilai karakter peduli lingkungan melalui pembiasaan, keteladanan dan kerjasama. Ketiga, hambatan yang ditemui pendidik dalam menanamkan nilai karakter peduli lingkungan adalah kurangnya tempat untuk melaksanakan kegiatan praktik budidaya tanaman produktif maupun tanaman hias. Keempat, solusi agar peserta didik melaksanakan kegiatan praktik budidaya tanaman adalah dengan melaksanakan kegiatan tersebut dirumah masing- masing kelompok

    Pendidikan Karakter Anak Eks Lapas di Shelter Rumah Hati Desa Jelak Ombo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang

    No full text
    ABSTRAK   Maghfiroh, Alif. 2018. Pendidikan Karakter Anak Eks Lapas di Shelter Rumah Hati Desa Jelak Ombo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M.Si, (II) Dr. Nuruddin Hady, SH., MH.   Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Anak eks Lapas, Shelter Rumah Hati.   Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sangat memperihatinkan, sikap dan perilaku masyarakat Indonesia sekarang cenderung mengabaikan nilai-nilai karakter dasar yang telah lama dimiliki oleh bangsa ini, nilai tersebut antara lain: kejujuran, kebersamaan, kesantunan dan religus. Tindakan kriminal terjadi dimana-mana mirisnya lagi tindakan kriminal tersebut dilakukan oleh anak-anak yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa. Karena hal tersebut Shelter Rumah Hati ada.  Shelter Rumah Hati adalah lembaga sosial seperti halnya Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) yang bergerak dalam bidang pendidikan anak eks lapas ataupun anak yang berhadapan dengan hukum yang berlokasi di Jalan Empu Gadring Desa Jelak Ombo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang. Prof. Dr. Yusti Probowati penggagas sekaligus founder Shelter Rumah Hati merupakan Guru Besar psikologi Universitas Surabaya, tujuan didirikannya Shelter Rumah Hati adalah sebagai wadah untuk anak-anak eks lembaga pemasyarakatan (lapas) agar mendapat pembinaan dalam hal pendidikan yang layak dan keterampilan jika sudah terjun dalam masyarakat yang dilakukan dengan cara merubah pola hidup anak-anak, menumbuhkan jiwa kreatifitas anak-anak, dan memproduktifkan waktu luang anak-anak sehingga anak-anak tidak mengulangi pola hidup yang sama yang mereka lakukan sebelum dan sesudah keluar dari Lapas. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisis: (1) program pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati, (2) pelaksanaan program pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati, (3) hambatan dalam pelaksanaan program pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati, (4) upaya untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan program pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian  kualitatif dengan pendekatan deskriptif . Lokasi penelitian dipilih di Shelter Rumah Hati Desa Jelak Ombo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang.  Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini berdasarkan wawancara dan observasi partisipasi.           Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1) program pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati terdiri dari dua program, yakni: a) program rehabilitasi psikologi dan b) program rehabilitasi pendidikan; (2) pelaksanaan program pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati terbilang cukup baik, rehabilitasi psikologi dilakukan dengan cara: assasment, meditasi/terapi, konseling keluarga, sedangkan rehabilitasi pendidikan dilakukan dengan dua cara: pendidikan formal (sekolah paket) dan pendidikan nonformal (kursus), dalam pelaksanaan program pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati terdapat 10 karakter yang ditanamkan, yakni: religius, jujur, disiplin, kreatif, mandiri, demokratis, menghargai prestasi, bersahabat dan komunikatif, peduli sosial, tanggungjawab. (3) Hambatan dalam pelaksanaan program pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati yakni kurangnya dukungan internal atau keluarga, pergaulan atau eksternal, kurangnya SDM pendamping. (4) Upaya mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pendidikan karakter anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati antara lain: komunikasi intensif dengan keluarga dan melakukan homevisit, pendekatan personal kepada anak dengan cara menjaga komunikasi dengan anak secara intensif, bekerjasama dengan pihak lain

    PERAN PENGELOLA MUSEUM GUBUG WAYANG DALAM MELESTARIKAN NILAI-NILAI BUDAYA DI MOJOKERTO

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ragam budaya yang dikelola di Museum Gubug Wayang, nilai-nilai budaya yang terdapat di Museum Gubug Wayang, peran pengelola Museum Gubug Wayang dalam Melestarikan nilai-nilai budaya di Mojokerto, hambatan dan solusinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa ragam budaya yang dikelola di Museum Gubug Wayang, nilai-nilai budaya yang terdapat di Museum Gubug Wayang, peran pengelola Museum Gubug Wayang dalam Melestarikan nilai-nilai budaya di Mojokerto, hambatan dan solusinya

    IMPLEMENTASI NILAI – NILAI PANCASILA DALAM KEHIDUPAN MASA KINI

    No full text
    ABSTRAK   Pancasila yang berasal dari nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia digali para pejuang bangsa untuk dijadikan dasar negara Indonesia yang merdeka. Pancasila yang berarti lima asas atau prinsip dipaparkan oleh Ir. Soekarno pada saat sidang pertama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 29 Mei-1 Juni 1945. Tidak hanya kelima asas itu tadiyang disampaikan oleh Ir. Soekarno, pancasila juga bisa diperas menjadi tiga sila atau trisila dan apabila masih kurang setuju bisa diperas lagi menjadi eka sila. Setelah disepakati bersama bahwa yang diambil adalah kelima prinsip (sila) diatas, maka BPUPKI membentuk panitia kecil yang bertugas untuk mengumpulkan usulan–usulan pada saat sidang pertama BPUPKI dan akan dibahas pada sidang selanjutnya (10-17 Juli 1945). Pada akhir sidang panitia kecil atau panitia Sembilan, panitia ini menyelidiki usulan–usulan dari rumusan dasar Negara yang melahirkan rancangan pembukaan Undang–Undang Dasar Negara Republic Indonesia Yang diberi nama “Mukaddimah” yang disahkan pada tanggal 22 juni 1945 dalam piagam Jakarta atau “Jakarta charter”. Pancasila baru disahkan menjadi dasar negara Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945. Dari nilai-nilai yang terkandung dalam nilai-nilai pancasila haruslah dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hal itu sebagai upaya antisipasi dari dampak kemajuan zaman yaitu arus globalisasi

    HUBUNGAN HUKUM DENGAN MOBILITAS SOSIAL

    No full text
    ABSTRAK Kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan manuisa dalam masyarakat bermacam-macam ragamnya. Dan di antara sekian macam kaidah yang merupakan salah satu kaidah terpenting adalah kaidah hukum di samping kaidah agama, kaidah kesusialaan dan kaidah kesopanan. Kaidah hukum tersebut ada yang berwujud tertulis,keputusan-keputusan pengadilan maupun keputusan lembaga- lembaga kemasyarakatan. Hukum sebagai suatu lembaga kemasyarakatan hidup berdampingan dengan  lembaga kemasyarakatan lainya dan saling mempengaruhi antar lembaga lainya. Ruang lingkup hukum sangatlah luas salah satunya berpengaruh pada hal-hal yang berkaitan dengan mobilitas sosial. Namun dalam mobilitas sosial tersebut setiap individu harus diberi aturan yang bersifat mengikat yaitu hukum, dengan tujuan agar mobiltas sosial tidak keluar dari aturan dan norma-norma hukum yang berlaku. Dengan begitu seiring berjalannya mobiltas sosial di masyarakat juga harus dilandasi dengan hukum yang selalu mengawal jalannya mobilitas sosial tersebut sehingga mobiltas sosial berjalan sesuai apa yang diharapkan oleh masyarakat dan tercapai perubahan yang bersifat transformatif, progress, dan terarah.Kata Kunci: pengertian hukum, pengertian mobilitas sosial, hubungan hukum dengan mobilitas sosial

    PROGRAM GREEN & CLEAN AND CHARACTER BUILDING SEBAGAI UPAYA PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SMK NEGERI 1 SINGOSARI

    No full text
    ABSTRAK  Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam tindakan nyata berupa tingkah laku seperti jujur, bertanggung jawab, kerja keras dan sebagainya dan di praktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini pendidikan karakter juga di tanamkan melalui program green & clean and character building pada peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui, (1) Program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari (2) Pelaksanaan program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMKN 1 Singosari (3) Hambatan  yang di hadapi pihak sekolah terkait program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMKN 1 Singosari (4) Dampak dari program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter peserta didik di SMKN 1 Singosari. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data dan menyimpulkan data. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, dan triagulasi. Adapun hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari. Program dilaksanakan pada hari Jumat dengan pembagian dua siklus kegiatan yaitu kegiatan green & clean dan character building. Kegiatan green & clean merupakan kegiatan bersih-bersih dengan tiga aksi nyata yaitu pencegahan kerusakan lingkungan, perawatan seluruh area sekolah dan penanggulangan terhadap bencana. Character building di masjid merupakan pembentukan karakter dengan kegiatan keagamaan dimulai dari sholawat nabi, sholat dhuha, istighosah, siraman rohani dan doa di masjid sedangkan character building di aula dengan kegiatan pembinaan karakter di aula berupa sosialisasi dan penyuluhan . Kedua, dalam pelaksanaan program tersebut walikelas juga berpartisipasi dalam mendampingi peserta didikselama kegiatan berlangsung. Masing- masing kelas mendapatkan jadwal kegiatan yang sudah di tentukan setiap tahunnya. Ketiga, hambatan yang dihadapi terkait program green & clean dan character building adalah terbatasnya sarana prasarana, ketidak hadiran walikelas, tidak ada buku panduan lengkap Adiwiyata, minimnya dana anggaran program. Keempat, output yang di hasilkan dari program green & clean dan character building  sebagai upaya penanaman pendidikan karakter tersebut, peserta didik dapat meningkatkan nilai-nilai spiritual, memiliki wawasan yang lebih luas dan siswa lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan  sekitar. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain: untuk sekolah sebaiknya tetap mempertahankan dan meningkatkan sarana prasarana program green & clean dan character building serta dapat mengatasi hambata-hambatan dalam pelaksanaan program tersebut. Untuk peserta didik SMK Negeri 1 Singosari sebaiknya tetap semangat mengikuti program tersebut karena program tersebut sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk pemerintah daerah agar mendukung dan memberikan fasilitas bagi sekolah di wilayahnya. Serta untuk kementerian lingkungan hidup agar membuat buku panduan adiwiyata yang lebih baik

    PROGRAM KEGIATAN KOMUNITAS GARUDA (GERAKAN GUSDURIAN MUDA) MALANG DALAM MEMELIHARA KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK Astuti, Ratna. 2018. Program Kegiatan Komunitas Garuda (Gerakan Gusdurian Muda) Malang Dalam Memelihara Kerukunan Antar Umat Beragama Di Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd., M.Si (2) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M. Pd, MH. Kata Kunci : Komunitas, Gusdurian, Kerukunan Antar Umat Beragama Indonesia merupakan negara yang majemuk, perbedaan yang dimiliki menjadi keunikan tersendiri. Kemajemukan Indonesia tersebut meliputi suku bangsa, bahasa daerah, budaya, adat istiadat, hingga perbedaan agama. Ibarat dua sisi mata uang, kemajemukan yang dimiliki Indonesia memiliki sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif tersebut adalah Indonesia menjadi negara yang memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk menunjang pembangunan baik masyarakatnya maupun negaranya, namun sisi negatifnya ialah rentannya Indonesia terhadap konflik yang dipicu oleh adanya perbedaan-perbedaan tersebut. Konflik yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan) kerap terjadi di Indonesia karena kurangnya rasa toleransi untuk menerima perbedaan, tak terkecuali konflik antar umat beragama. NKRI yang telah berdiri selama lebih dari 72 tahun harus dijaga keutuhannya, dan tugas untuk menjaga keutuhan NKRI dan menghindarkannya dari segala bentuk upaya yang dapat menimbulkan perpecahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga menjadi tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk merawat keberagaman Indonesia adalah dengan menyebarkan kesadaran bertoleransi. Komunitas Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) merupakan sebuah komunitas yang turut memiliki andil dalam menyebarkan kesadaran toleransi beragama khususnya di Kota Malang. Penelitian yang berjudul “Program Kegiatan Komunitas Garuda (Gerakan Gusdurian Muda) Malang Dalam Memelihara Kerukunan Antar Umat Beragama Di Kota Malang” bertujuan untuk mendeskripsikan (1) latar belakang lahirnya komunitas Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Malang; (2) program kegiatan yang dilaksanakan oleh Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Malang dalam memelihara kerukunan antar umat beragam di Kota Malang; (3) faktor pendukung dan kendala pelaksanaan program kegiatan Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Malang dalam memelihara kerukunan antar umat beragama di Kota Malang; serta (4) solusi dalam mengatasi kendala tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dari penelitian ini yaitu peristiwa, orang, dan dokumentasi serta metode pengumpulan datanya dengan cara melakukan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data yang digunakan merujuk pada model Miles dan Huberman, dimana aktivitas dalam analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara triangulasi. Temuan penelitian ini antara lain (1) latar belakang lahirnya komunitas Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Malang ialah adanya keinginan dari pemuda-pemuda pengagum pemikiran Gus Dur untuk merawat toleransi terhadap kebhinnekaan Indonesia setelah wafatnya sosok Gus Dur; (2) program kegiatan komunitas GARUDA Malang dalam memelihara kerukunan antar umat beragama di Kota Malang yaitu Safari Ramadhan yang merupakan kegiatan kunjungan dan dialog yang dilaksanakan setiap bulan Ramadhan, serta Safari Damai Lintas Iman yang merupakan kegiatan berkunjung ke rumah-rumah ibadah umat lintas agama yang dilaksanakan setiap ada momen perayaan hari-hari besar keagamaan; (3) faktor pendukung pelaksanaan program kegiatan komunitas GARUDA Malang dalam memelihara kerukunan antar umat beragama adalah adanya gotong royong dan kerjasama internal anggota, adanya kerjasama dengan berbagai partner, srta adanya dukungan dari masyarakat, serta kendalanya adalah masalah keuangan untuk pendanaan kegiatan, adanya pihak-pihak yang kontra dengan komunitas GARUDA Malang, serta keanggotaan komunitas yang belum dijangkau oleh semua unsur agama, khususnya Hindu; serta (4) cara yang dilakukan oleh komunitas Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Malang dalam mengatasi kendala yang dihadapi adalah dengan melakukan fundraising, berwirausaha, dan melakukan pendekatan untuk open recruitmen anggota baru dari agama Hindu. Saran yang diberikan oleh penulis yaitu (1) bagi Pemerintah hendaknya menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu bahan kajian untuk meningkatkan upaya merawat kebhinnekaan Indonesia; (2) bagi komunitas GARUDA Malang hendaknya melakukan publikasi program kegiatan dalam memelihara kerukunan antar umat beragama secara lebih efektif dan gencar lagi agar semakin banyak masyarakat yang mengetahui, kemudian memperkuat branding image yang baik terhadap komunitas sehingga atensi dan minat masyarakat meningkat sehingga dapat memudahkan saat melakukan open recruitment calon penggerak komunitas GARUDA Malang; dan yang ketiga meningkatkan upaya-upaya mandiri seperti berwirausaha yang lebih beragam lagi untuk mencukupi kebutuhan terkait dana penyelenggaraan kegiatan; serta (3) bagi Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang hendaknya menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu literatur atau bahan kajian sosial mengenai upaya memelihara kerukunan antar umat beragama

    Penerapan Nilai Gotong Royong Dalam Tradisi Sinoman Dikalangan Pemuda Desa Wilangan Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo

    No full text
    ABSTRAK   Gotong royong merupakan budaya warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. Melalui gotong royong kegiatan apapun akan menjadi ringan. Gotong royong dalam masyarakat Indonesia dilakukan dalam berbagai kegiatan. Seiring perkembangan zaman budaya gotong royong mengalami pergeseran. Masyarakat Indonesia sedikit demi sedikit berubah menjadi masyarakat yang individualis yang mengesampingkan gotong royong. Oleh karena itu perlu adanya pelestarian nilai gotong royong. Pelestarian gotong royong dapat dilakukan dengan cara apapun. Seperti yang dilakukan oleh pemuda Desa Wilangan Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo yang melestarikan kegiatan gotong royong melalui Tradisi Sinoman.  Sinoman berasal dari kata Sinom yang artinya daun yang masih muda. Tradisi Sinoman menerapkan nilai gotong royong melalui kegiatan-kegiatan yang meliputi sileh-sileh, uleh-uleh, layon-layon, dan laden. Sileh-sileh merupakan penerapan nilai gotong royong untuk meminjam alat-alat atau perlengkapan yang akan digunakan dalam acara pernikahan. Uleh-uleh merupakan penerapan nilai gotong royong untuk mengembalikan perlengkapan yang digunakan dalam acara pernikahan. Layon-layon merupakan penerapan nilai gotong royong untuk membantu memberikan kabar duka kepada sanak saudara orang yang meninggal. Laden merupakan kegiatan untuk menjadi pramusaji dalam acara-acara yang diadakan oleh masyarakat. Tradisi Sinoman memiliki aturan ketat yang mengikat semua anggota Sinoman Desa Wilangan. Aturan dalam Tradisi Sinoman digunakan untuk mengatur generasi muda agar lebih peduli dan sekaligus mengatasi kendala yang dihadapi dalam penerapan nilai gotong royong

    Keterlibatan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam Pelaksanaan Pembangunan di Desa Kedungwaru Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung

    No full text
    ABSTRAK RINGKASANAzizah, Anshani. 2018. Keterlibatan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam Pelaksanaan Pembangunan di Desa Kedungwaru Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparman AW, SH, M.Hum (II) Rusdianto Umar, SH, M.HumKata Kunci : Keterlibatan, Pembangunan Desa, Lembaga Pemberdayaan      Masyarakat.Pembangunan dalam arti luas merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sadar dan melembaga dalam rangka membangun masyarakat. Dalam hal ini bermakna bahwa pembangunan merupakan sebuah usaha untuk memperbaiki kondisi sebelumnya menuju ke arah yang lebih baik lagi bagi suatu masyarakat serta tindakan yang dilakukan secara terus menerus oleh pihak yang membangun yaitu pemerintah, lembaga masyarakat, dan masyarakat, tentunya tujuannya untuk kesejahteraan bersama. Kesejahteraan suatu masyarakat dapat dilhat dari keberhasilan suatu pembangunan, jadi dapat disimpulakan bahwa pembangunan dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintah, pembangunan menggambarkan adanya perilaku pemerintah dengan segenap unit dan bagiannya, menjalankan tugas pemerintah, tugas pembangunan dan tugas pelayanan kepada masyarakat.Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data dan menyimpulkan. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, dan triagulasi.Adapun hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat sebagai mitra kerja dari pemerintah desa turut serta berperan dalam rapat musyawarah pembangunan desa. LPM turut hadir pada rapat yang diselenggarakan oleh pemerintahan desa yaitu rapat musrenbangdes, pada saat rapat musrenbangdes dipimpin langsung oleh ketua LPM untuk membahas daftar prioritas usulan kegiatan desa pada tahun berikutnya. Ketua, sekertaris, bendahara, beserta anggota LPM lainnya juga turut dalam rapat tersebut. Dalam musrenbangdes diatas pihak pemerintah desa meminta aspirasi dari seluruh kalangan masyarakat, yang turut serta mengundang ketua RT, Ketua RW dan Kepala Dusun. Setelah memperoleh data usulan masyarakat maka tahap selanjutnya kepala desa membentuk tim penyusun RKP Desa yang bertugas untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) yang akan menentukan prioritas program yang akan dijadikan program kerja pada tahun 2017. Tim yang dibentuk oleh kepala Desa Kedungwaru terdiri dari kepala desa, sekretaris desa, LPM, dan perangkat desa, beserta unsur perempuan. LPM berperan penting dalam pembagunan fisik desa, hingga pada pelaksanaannya di lapangan. Meskipun dalam hal pengawasan adalah tugas dari BPD. Berdasarkan hasil penelitian, LPM membantu pemerintah dalam mengendalikan pembangunan di desa yaitu mengikuti jalannya pembangunan di desa dan membahasnya dalam rapat anggota LPM serta ditulis dalam bentuk laporan tertulis. Selain terlibat dalam pembangunan fisik di Desa Kedungwaru, LPM juga berperan dalam pelaksanaan pembangunan non-fisik di desa Kedungwaru, LPM membantu pemerintahan desa dalam memberdayakan masyarakat, LPM juga membantu masyarakat dengan mendukung usulan masyarakat dalam pembinaan dan pemberdayaan masyarakat Berdasarkan hasil penelitian, Berikut ini saran yang diberikan oleh peneliti. (1) Lembaga Pemberdayaan Masyarakat seyogyanya lebih banyak melaksanakan kajian agar dapat memprioritaskan program pembangunan yang efisien dan tepat sasaran. (2) Pemerintah Desa Kedungwaru diharapkan lebih melakukan pendekatan kepada masyarakat secara personal agar tidak ada masyarakat peduli terhadap pembangunan desa dan nantinya seluruh masyarakat bisa berperan aktif dalam hal pengembangan desa. (3) Dengan adanya berbagai permasalahan dalam hal pembangunan pemerintah Desa Kedungwaru, hendaknya pemerintah sudah memiliki solusi yang tepat agar proses pembangunan desa bisa berlangsung dengan baik

    Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Siswa Melalui Full Day School di SMP Negeri 3 Malang

    No full text
    ABSTRAK Habibah, Liesa  2018. Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Siswa Melalui full Day school di SMP Negeri 3 Malang. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Didik Sukriono, S.H, M.Hum (2) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum   Kata Kunci: Implementasi, penguatan pendidikan karakter, full day school Penyelenggaran sistem pendidikan semakin lama semakin maju. Dalam penyelenggaraan sistem pendidikan yang baik dan merata, setiap masyarakat yang berada dalam negara Republik Indonesia wajib memperoleh pendidikan yang merata. Dewasa ini semakin banyak bertumbuhnya sekolah dengan pendidikan yang lebih baik kualitas sumberdayanya, baik tenaga pendidik maupun sumberdaya peserta didiknya. Hal tersebut tentu didukung oleh berbagai fasilitas yang sesuai dengan kelayakan. Menciptakan pendidikan yang bermutu dan berkualitas diperlukan berbagai aspek, antara lain yaitu pendidikan karakter. Pendidikan karakter ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi atau kelompok yang unik baik sebagai warga negara. Pendidikan karakter merupakan aspek yang penting bagi generasi penerus. Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal intelektual belaka tetapi juga harus diberi hal dalam segi moral dan spiritualnya. Pendidikan karakter seharusnya diberikan seiring dengan perkembangan intelektualnya yang dalam hal ini harus dimulai sejak dini khususnya dilembaga pendidikan. Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi  dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan menghormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Pelaksanaan program penguatan pendidikan karakter ini dilaksanakan melalui sistem full day school. Penelitian yang berjudul “Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Siswa Melalui Full Day School di SMP Negeri 3 Malang” bertujuan untuk mendeskripsikan (1) program penguatan pendidikan karakter siswa melalui full day school yang dilaksanakan di SMP Negeri 3 Malang; (2) pelaksanaan program penguatan pendidikan karakter siswa melalui full day school di SMP Negeri 3 Malang; serta (3) kendala yang dialami pada pelaksanaan program penguatan pendidikan karakter siswa melalui full day school di SMP Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen penelitian. Peneliti memilih lokasi penelitian di SMP Negeri 3 Malang yang berlokasi di Kota Malang. Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu sumber data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan sumber data sekunder yang diperoleh dari hasil observasi dan dokumentasi. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan tiga teknik yang meliputi teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Pengecekan keabsahan data yang digunakan oleh peneliti, yaitu perpanjangan keikutsertaan, meningkatkan ketekunan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini antara lain (1) program penguatan pendidikan karakter siswa melalui full day school yang dilaksanakan di SMP Negeri 3 Malang yaitu kegiatan keagaman, budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun), literasi, kokurikuler, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu nasonal, serta kegiatan 5 Jumat; (2) pelaksanaan program penguatan pendidikan karakter siswa melalui full day school  yaitu pada kegiatan keagamaan terbagi menjadi 2 yaitu kegiatan harian dan kegiatan mingguan. Kegiatan Harian yang terdiri dari membaca Asmaul husna, membaca Al-Quran, membaca doa bersama, kultum dan sholat dhuhur berjamaah, sedangkan untuk kegiatan mingguan terdiri dari keputrian, sholat Jumat berjamaah, dan istighosah. Kemudian budaya 5S yang dilaksanakan setiap hari dan setiap waktu. Selanjutnya kegiatan literasi yang dilaksanakan setiap hari 15 menit setelah jam ke-4. Kegiatan selanjutnya yaitu kokurikuler yang dilakukakan setiap hari yang berupa mengerjakan tugas di sekolah. Kegiatan selanjutnya yaitu menyanyikan lagu Indonesia Raya pada saat awal pelajaran PPKn dan menyanyikan lagu-lagu nasional saat akhir pelajaran PPKn. Terakhir adalah kegiatan 5 Jumat yang terdiri dari Jumat bersih, Jumat pokja, jumat literasi, Jumat aksi dan kreasi, serta Jumat sehat yang dilaksanakan setiap hari Jumat secara bergantian; (3) kendala yang dialami pada pelaksanaan program penguatan pendidikan karakter siswa melalui full day school yaitu beberapa siswa kurang peduli dan kurang tanggap terhadap pembiasaan, rasa jenuh yang muncul akibat full day school sehingga membuat siswa menjadi acuh pada saat jam pelajaran berlangsung, dan proses penanaman karakter yang tidak dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. Saran yang diberikan oleh penulis yaitu (1) Sekolah hendaknya terus berupaya mendukung penanaman karakter siswa melalui pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan oleh sekolah sesuai dengan program yang sudah berjalan; (2) sekolah lebih mengoptimalkan fasilitas-fasilitas yang ada untuk menunjang jalannya program-program penguatan pendidikan karakter sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal; (3) jika memungkinkan, sekolah hendaknya menambah program penguatan pendidikan karakter agar cakupan pendidikan karakter siswa lebih luas lagi; (4) guru hendaknya tiada henti-hentinya memberi contoh yang baik agar siswa menjadikan guru sebagai panutan untuk berperilaku yang baik juga; (5) bagi orangtua hendaknya juga mengontrol kegiatan anak di rumah, terlebih lagi dalam pelaksanaan pembiasaan karakter yang telah dilakukan di sekolah. serta memotivasi anak agar tetap berkarakter yang lebih baik.

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇