SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    Pemenuhan Hak-hak Narapidana Menurut Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Kota Malang

    No full text
    ABSTRAKRiza, Muhamad Agus. 2018. Pemenuhan Hak-Hak Narapidana menurut Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Rusdianto Umar, SH,. M.Hum., (II) Dr.Hj. Yuniastuti,SH,. M.PdKata kunci:    Hak, Narapidana, dan Lembaga PemasyarakatanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pemenuhan hak-hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang, kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang dalam pemenuhan hak-hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang, serta mengetahui upaya Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang untuk mengatasi kendala dalam pemenuhan hak-hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Dalam hal ini menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder untuk mengumpulkan data. pelaksanaan penelitian ini peneliti turun langsung ke lapangan sebagai pihak pertama pengumpul data.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemenuhan hak-hak bagi narapidanayang dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang adalah perawatan rohani dan jasmani, makanan yang layak, kesehatan, menyampaikan keluhan, beribadah menurut agamanya, remisi, pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, cuti mengunjungi keluarga, cuti menjelang bebas, pendidikan, dan mengikuti siaran media massa. Kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang meliputi: (a). petugas yang terbatas. (b). over kapasitas. (c) sarana dan prasarana yang kurang memadai. (d) koordinasi dengan pihak luar yang sulit. (e). berkas-berkas yang tidak terpenuhi. Untuk mengatasi kendala yang ada pihak Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang mengajukan permohonan penerimaan pegawai, melakukan pembinaan yang lebih terstruktur agar pembinaan bisa maksimal dan menyeluruh, memaksimalkan sarana dan prasarana yang sudah ada, memanfaatkan petugas dan juga narapidana yang sesuai dibidangnya, dan menghubungi pihak keluarga untuk bersedia mengirim berkas-berkasnya.Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalahpemenuhan hak-hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang sudah terpenuhi, namun perlu ditingkatkan lagi dalam hal sarana dan prasarana karena masih sangat kurang mengingat jumlah narapidana yang over kapasitas.Selanjutnya bagi narapidana harus selalu mengikuti kegiatan dan tata aturan yang telah tetapkan oleh Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang agar pelaksanaan pemberian hak-hak narapidana bisa terlaksana dengan baik

    Nilai-Nilai Moral dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Durenan Trenggalek

    No full text
    Nilai-Nilai Moral dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Durenan TrenggalekRisky Wulandari Universitas Negeri MalangEmail: [email protected] dasarnya nilai moral seharusnya disampaikan lebih jelas pada seluruh mata pelajaran dikelas, namun tidak terlaksana dengan baik. Dalam bidang studi lain bahkan diacuhkan karena lebih mengutamakan aspek pengetahuan sehingga kualitas nilai moral siswa pada realisasinya kurang mendapat perhatian. Lingkungan sekolah terdapat kegiatan ekstrakurikuler yang tidak kalah penting dengan pendidikan. Dalam kegiatan ekstrakurikuler juga mampu mengembangkan potensi siswa. Salah satu bentuk kegiatan ekstrakurikuler yaitu Palang Merah Remaja (PMR). Palang Merah Remaja (PMR) merupakan kegiatan kemanusiaan dalam bidang kesehatan. Palang Merah Remaja (PMR) saat ini telah masuk beberapa sekolah, salah satunya terdapat di SMAN 1 Durenan Trenggalek.Program kegiatan esktrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Durenan Trenggalek terdapat yaitu program mingguan terdapat kegiatan kumpul bersama, program bulanan terdapat kegiatan donor darah, bakti sosial, dan forum komunikasi kepalangmerahan. Pada program tahunan terdapat kegiatan latihan gabungan. Pelaksanaan program kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Durenan Trenggalek pada kegiatan mingguan dilaksanakan pada hari kamis. Pada program bulanan dilaksanakan bersama PMI dan anggota PMR Se-Kabupaten Trenggalek. Program program tahunan dilaksanakan satu tahun sekali bersama PMI dan PMR se-Kabupaten Trenggalek. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Durenan Trenggalek terdapat nilai kepedulian, kedisiplinan, kerjasama, persatuan, tanggung jawab, tolong menolong, relegius, kejujuran, toleransi, dan demokrasi. Nilai tersebut tumbuh dalam kegiatan ekstrakurikuler Palang Remah Remaja. Kata Kunci: Nilai, Moral, Nilai Moral, Kegiatan Ekstrakurikuler, Palang Merah Remaja (PMR)PENDAHULUAN Pada era ini kemerosotan moralitas bangsa dapat terlihat dalam lingkungan masyarakat dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab, solidaritas, dan rasa empati yang bisa berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Berdasarkan tujuan pendidikan tersebut maka lembaga pendidikan atau sekolah memiliki peran penting dalam membentuk siswa yang bermoral. Permasalahan yang dihadapi bukan hanya dalam akademik saja namun juga masalah moral. Keberadaan moral bagi kehidupan siswa sangat penting dalam kemajuan di masa depan. Namun pada saat ini nilai-nilai moral bukan menjadi perhatian penting bagi semua pihak. Maksudnya, nilai moral bukan menjadi tolak ukur dalam pencapaian tujuan pembelajaran dikelas. Pada dasarnya nilai moral seharusnya disampaikan secara inheren dalam seluruh mata pelajaran dikelas, namun tidak terlaksana dengan baik. Dalam bidang studi lain bahkan diacuhkan karena mementing aspek pengetahuan bidang studi itu sendiri. Akibatnya perhatian terhadap moral siswa hanya dilakukan dalam mata pelajaran yang tertentu dan hal itupun tidak berjalan efektif, sehingga kualitas nilai moral siswa pada realisasinya kurang mendapat perhatian.Dalam proses pendidikan tentu tidak lepas dari bagaimana cara guru mengetahui perkembangan siswa seperti intelektual, spiritual, sosial dan moral. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan pembelajaran, pengajaran, bimbingan, dan latihan dalam membantu siswa mengembangkan potensinya baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual dan sosial. Lingkungan sekolah terdapat kegiatan ekstrakurikuler yang tidak kalah penting dengan pendidikan. Dalam kegiatan ekstrakurikuler juga mampu mengembangkan intelektual, sosial, spiritual, dan moral siswa. Salah satu bentuk kegiatan ekstrakurikuler yaitu Palang Merah Remaja (PMR).Kegiatan ekstrakurikuler yaitu kegiatan di luar mata pelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk siswa mengembangkan potensi kemampuan, bakat, dan minat yang secara khusus diselenggarakan oleh sekolah. Dalam kegiatan ekstrakurikuler ini dapat menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan nilai-nilai kebaikan bagi siswa selain sebagai media pembinaan yang dapat menyokong perkembangan kemampuan, bakat, minat siswa dan mempunyai potensi untuk kemajuan siswa di masa depan. Palang Merah Remaja (PMR) merupakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang selalu siaga saat terjadi bencana. Palang Merah Remaja (PMR) saat ini telah masuk beberapa sekolah, salah satunya terdapat di SMAN 1 Durenan Trenggalek. METODE PENELITIANPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sugiyono (2014:205) menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti sebagai instrument kunci. Penelitian tentang “Nilai-Nilai Moral dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Durenan Trenggalek” ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini disusun menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Nazir (2005: 54) penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.Kehadiran peneliti dalam penelitian sangat penting karena peneliti sebagai alat pengumpul data pada proses penelitian. Sugiyono (2014:222) menyatakan bahwa “peneliti kualitatif sebagai human instrument berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya”.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Sugiyono (2014: 225) menyatakan bahwa “sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data dan sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data”. Prosedur pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumen. Nasution sebagaimana dikutip oleh Sugiyono (2014:266) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat berkerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Sugiyono (2014: 231) menyatakan bahwa “wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu”. Sogiyono (2014:240) “dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang”.Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model interaktif seperti yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman sebagaimana dikutip oleh Sugiyono (2017: 246) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehinga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/ verification. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN1. Program Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja di SMAN 1 Durenan TrenggalekKegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) terdapat program kegiatan yang diselenggarakan yaitu program mingguan, program bulanan dan program tahunan. a. Program MingguanPada program mingguan terdapat kegiatan yaitu kumpul bersama. Kegiatan yang dilakukan adalah pemberian materi, praktek, dan musyawarah mengenai kegiatan selanjutnya. Materi yang diberikan yaitu mengenal gerakan PMR, pertolongan pertama, kepemimpinan, donor darah, remaja sehat peduli sesama, kesehatan remaja PMR, dan kesiapsiagaan bencana. Serta melakukan praktek sesuai materi yang disampaikan sehingga pengetahuan yang didapat seimbang dengan kemampuan siswa. Kegiatan kumpul bersama ini merupakan kegiatan efektif, karena setiap kegiatan yang dilakukan dapat menambah wawasan siswa dan kekompakan antar anggota. b. Program BulananPada program bulanan terdapat tiga kegiatan yaitu donor darah, bakti sosial, dan forum komunikasi kepalangmerahan. 1) Donor Darah Kegiatan donor darah merupakan kegiatan kepedulian sosial dengan mendonorkan darahnya kepada orang yang membutuhkan darah. Kegiatan donor darah ini dinaungi oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Kegiatan donor darah merupakan kegiatan efektif karena saat donor darah dapat memberikan pengetahuan bagi siswa tentang proses pemeriksaan dan pengambilan darah. 2) Bakti Sosial Kegiatan bakti sosial merupakan kegiatan sosial seperti peduli dan berbagi kepada sesama. Kegiatan yang dilakukan seperti memberikan bantuan berupa dana atau sembako dan melakukan bersih-bersih suatu tempat seperti taman, tempat wisata, sungai, dan pasar. Kegiatan ini mengajarkan siswa untuk peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar. 3) Forum Komunikasi KepalangmerahanForum komunikasi kepalangmerahan merupakan wadah untuk berkumpul, bermusyawarah atau berdisksi tentang kegiatan-kegiatan berkaitan dengan kepalangmerahan. Forum ini gabungan dari PMR berbagai sekolah di Kabupaten Trenggalek. Selain kumpul bersama dilakukan pemberian materi oleh PMI Trenggalek. Melalui forum ini dapat mempererat silaturahmi dan kerjasama antar anggota. c. Program TahunanPada program tahunan terdapat kegiatan latihan gabungan yang terkumpul PMR se-Kabupaten Trenggalek dalam kegiatan tersebut dilakukan sosialisasi, beradaptasi, serta lomba-lomba. Lomba-lomba yang dilakukan dapat meningkatkan potensi siswa seperti praktek perawatan keluarga, donor darah, dan pertolongan pertama. Program-program yang diselenggarakan memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi siswa melalui kegiatannya seperti melatih kemampuan yang telah dipelajari pada lomba-lomba yang dilaksanakan.Program-program yang diselenggarakan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 Tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah pada pasal (2) yaitu “kegiatan ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didi secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian  tujuan pendidikan nasional. Pasal (5) yaitu pada satuan pendidikan wajib menyusun program kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan bagian dari rencana kerja sekolah”. 2. Pelaksanaan Program Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja di SMAN 1 Durenan Trenggaleka. Program MingguanPada program mingguan pelaksanaanya rutin terdapat kegiatan seperti menjadi keslap (kesehatan lapangan) saat upacara, memberikan pertolongan pada teman yang sakit, menjalankan tugas piket dan jaga UKS, kerja bakti, olahraga, pelatihan rutin, dan memberikan sosialisasi kesehatan. Pada program mingguan dalam penyampaian materi turut mengundang Palang Merah Indonesia (PMI) Trenggalek sebagai pemateri. Kegiatan ini dilakukan 1 kali pertemuan pada hari kamis sore setelah jam pelajaran berakhir. b. Program Bulanan Pada program bulanan terdapat donor darah, bakti sosial, dan forum komunikasi kepalangmerahan. 1) Donor DarahKegiatan donor darah rutin dilakukan 3 bulan sekali dinaungi oleh PMI Trenggalek dan PMR di SMAN 1 Durenan memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh PMI. Tempat pelaksanaan kegiatan dilakukan diruang UKS. Sasaran dalam kegiatan donor darah siswa-siswi, guru, serta karyawan SMAN 1 Durenan Trenggalek. 2) Bakti Sosial Pada kegiatan bakti sosial dalam pelaksanaannya rutin dan kegiatan ini dilaksanakan bersama PMR dari beberapa sekolah-sekolah di sekitar Kabupaten Trenggalek bersama dengan PMI Trenggalek. Tempat pelaksanan kegiatan bakti sosial bergilir dengan sekolah lain sehingga pelaksaanannya tidak hanya satu tempat. 3) Forum Komunikasi KepalangmerahanForum Komunikasi Kepalangmerahan rutin dilaksanakan karena kegiatan yang akan direncanakan seperti bakti sosial, latihan gabungan, dan lain-lain, hal itu perlu dikoordinasikan atau dimusyawarahkan bersama dengan PMI maupun dengan PMR dari berbagai sekolah di Kabupaten Trenggalek. Tempat pelaksanaanya bergilir dengan sekolah lain sehingga tidak hanya berada di satu tempat namun dapat bergantian tempat. c. Program TahunanPada program tahunan yaitu latihan gabungan terdiri dari 2 macam yaitu latihan gabungan se-Jawa Timur dan latihan gabungan se-Kabupaten Trenggalek. Latihan gabungan se-Jawa Timur merupakan pelatihan yang besar yang dinilai dari tim Jawa Timur, pelaksanaaannya rutin dua tahun sekali. Sedangkan latihan gabungan se-Kabupaten Trenggalek dilaksanakan rutin setahun sekali yang terkumpul dari PMR sekolah-sekolah di Kabupaten Trenggalek.Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan pendapat Susilo, dkk (2008:19) bahwa dalam melaksanakan kegiatan dan pelayanan “PMR berpegang pada prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yaitu: kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan”.3. Nilai-Nilai Moral yang Terdapat dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja di SMAN 1 Durenan Trenggalek a. Nilai Kepedulian SosialNilai kepedulian terdapat kegiatan donor darah semua siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut secara sukarela dengan medonorkan darahnya tanpa ada unsur paksaan dan pada kegiatan bakti sosial diajarkan untuk peduli dengan sesama dan lingkungan sekitar. Nilai kepedulian menurut Nodding sebagaimana dikutip oleh Copp (2017: 703) “bahwa kepedulian sebagai suatu sikap yang biasanya menyertai kegiatan. Hal penting dalam kepedulian adalah perhatian khusus kepada perasaan, kebutuhan, hasrat, dan pikiran dari orang yang kita pedulikan, dan kemampuan memahami suatu situasi dari sudut pandang orang itu”. b. Nilai KedisiplinanNilai disiplin terdapat pada kehadiran dalam kegiatan, pengurus harian, dan menyelesaikan tugas dalam bidang masing-masing, kelengkapan atribut PMR. Dengan demikian tersebut terdapat nilai serta kedisiplinan dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan. Nilai moral kedisiplinan sesuai menurut Lickona sebagaimana dikutip oleh Faiz (2015:38) “disiplin mengajarkan untuk tidak mempeturutkan kehendak hati yang cenderung melakukan perbuatan merendahkan diri atau kesenangan yang merusak diri, disiplin diri menuntun kita untuk mengerjar hal-hal baik bagi kita”. c. Nilai KerjasamaNilai kerjasama tumbuh dari tugas –tugas yang diberikan sesuai bidangnya masing-masing dan diselesaikan dengan target yang direncanakan. Dengan demikian dari kerjasama dapat mendapatkan kekompakan, kebersamaan, dan terjalin hubungan kekeluargaan. Maka terdapat nilai kerjasama dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan. Menurut Lickona sebagaimana dikutip oleh Faiz (2015:38) “kerjasama menunjukan bahwa kita mengakui bahwa tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri dan dalam dunia ini saling tergantung satu sama lain, kita harus sama untuk mencapai tujuan bersama”. d. Nilai PersatuanNilai persatuan terdapat pada PMR SMAN 1 Durenan Trenggalek dengan kerjasama dengan lembaga lain seperti PMI Trenggalek, PMR Se-Kabupaten Trenggalek. Dengan demikian terdapat nilai persatuan dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan. Hal ini sesuai dengan Tri Bakti PMR menurut Susilo, dkk (2008:10) “melibatkan anggota PMR dalam berbagai kegiatan kepalangmerahan merupakan karya dan bakti nyata setelah mengikuti pelatihan, pengakuan, terhadap kecerdasan dan kompetensi dalam meningkatkan kualitas anggota dan organisasi. Adapun isi dari Tri Bakti PMR yaitu meningkatkan keterampilan hidup sehat, berkarya dan berbakti di masyarakat, dan mempererat persahabatan nasional dan internasional”. e. Nilai Tanggung JawabDalam kegiatan yang diselenggarakan tanggung jawab merupakan yang utama. Setiap anggota diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas sesuai bidangnya masing-masing seperti melaksanakan piket, mengikuti lomba – lomba dan lain-lain. Terdapat nilai tanggung jawab dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan. Hal ini sesuai dengan pendapat Suseno (2002:145) “bertanggung jawab berarti suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita, kita merasa terikat untuk menyelesaikannya demi tugas itu sendiri, sikap itu memberikan ruang pamrih kita karena kita terlibat pada pelaksanaannya, perasaan-perasaan seperti malas, wegah, takut atau malu tidak mempunyai tempat berpijak”. f. Nilai Tolong MenolongKegiatan ekstrakurikuler PMR diajarkan tolong menolong dengan iklas dan jika ada teman yang membutuhkan bantuan harus menolong tanpa pamrih karena sesuai prinsip dari PMR itu harus saling menolong dan membantu kepada sesama. Dengan demikian terdapat nilai tolong menolong dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan. Menurut Lickona sebagaimana dikutip oleh Faiz (2015:38) bahwa “semangat suka menolong akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri disaat melakukan sebuah kebaikan”. g. Nilai ReligiusNilai relegius terdapat pada pembukaan kegiatan atau acara dengan mengucapkan salam lalu dijawab oleh semua anggota kemudian berdoa dan diakhiri dengan doa sesuai dengan keyakinan nya masing-masing dan diajarkan beribadah tepat waktu. Dengan demikian terdapat nilai relegius dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan. Hal ini sesuai dengan pendapat Bertens (2004: 35) “setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya”. h. Nilai Kejujuran Nilai kejujuran dalam kehadiran merupakan kunci utama bagi siswa yang bermoral. Kegiatan yang diselenggarakan terdapat daftar hadir yang berisikan tanda tangan setiap anggota, melaksanakan tugas, dan mengikuti perlombaan. Dengan demikian Pembina PMR dapat mengecek keaktifan siswa dalam kegiatan melalui daftar hadir tersebut, tugas-tugas yang dikerjakan, dan mengikuti perlombaan. Dengan demikian terdapat nilai jujur dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan. Hal ini sesuai pendapat Suseno (2002:142) “dasar setiap usaha untuk menjadi orang kuat secara moral adalah kejujuran. Tanpa kejujuran kita sebagai manusia tidak dapat maju selangkah pun karena kita belum berani menjadi diri kita sendiri”. i. Nilai ToleransiToleransi terdapat pada kegiatan yang keseharian dilakukan sudah diterapkan saat menjadi petugas kesehatan lapangan (Keslap) saat upacara jika ada teman yang sakit tidak melakukan diskriminasi atau membeda-bedakan ras, golongan, dan agama dalam menolong teman yang sakit. Maka terdapat nilai toleransi dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan. Menurut Lickona sebagaimana dikutip oleh Faiz (2015:38) “toleransi yaitu sikap yang adil dan obyektif terhadap semua orang yang memiliki perbedaan gagasan, ras, atau keyakinan dengan kita”. j. Nilai DemokrasiNilai demokrasi terdapat pada berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan dengan dilakukan bermusyawarah untuk mencapai, menghormati, menghargai pendapat, dan membantu satu sama lain tanpa membeda-bedakan dalam hal apapun. Maka terdapat nilai demokrasi dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Durenan Trenggalek. Menurut Al-Hakim (2016: 191) bahwa “demokrasi merupakan sekelompok manusia yang hidup bersama yang bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginan bersama dengan cara pemerintahan mereka sendiri dimana kekuasaan tertinggi berada ditangan mereka sendiri dan dijalankan oleh mereka sendiri”.  SIMPULAN Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan maka dilakukan kajian secara teoritis oleh peneliti dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.1. Program kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Durenan terdapat tiga macam program yaitu program mingguan, bulanan, dan tahunan. Pada program mingguan terdapat kegiatan kumpul bersama yaitu dilakukan pemberian materi dan praktek oleh Pembina serta melakukan koordinasi mengenai kegiatan yang akan diselenggarakan. Program bulanan terdapat kegiatan donor darah, bakti sosial, dan forum komunikasi kepalangmerahan. kegiatan donor darah merupakan kegiatan sukarela dengan mendonorkan darahnya kepada yang membutuhkan darah. Kegiatan bakti sosial merupakan kegiatan kepedulian sosial dengan membantu dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu serta melakukan kegiatan sosial yaitu bersih-bersih suatu tempat tertentu. Forum komunikasi kepalangmerahan merupakan suatu wadah untuk berkumpul bagi anggota PMR se-Kabupaten Trenggalek. Program Tahunan terdapat latihan gabungan yaitu kegiatan yang dilakukan bersosialisasi, beradaptasi, dan terdapat lomba-lomba yang berkaitan dengan kepalang merahan.2. Pelaksanaan program kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Durenan. Pada program mingguan pelaksanaannya rutin dilakukan satu pertemuan pada hari Kamis sore setelah jam pelajaran    berakhir. Pada program bulanan pada kegiatan donor darah, bakti sosial, dan forum komunikasi rutin dilaksanakan. Program bulanan dalam pelaksanaannya dinanungi oleh PMI Trenggalek dan diikuti oleh seluruh anggota PMR dari berbagai sekolah se-Kabupaten Trenggalek. Tempat pelaksanaannya bergiliran dengan sekolah-sekolah lain. Program tahunan terdapat latihan gabungan pada pelaksanaannya terdapat 2 macam yaitu latihan gabungan besar dan latihan gabungan kabupaten. Pada latihan gabungan besar dilaksanakan dua tahun sekali dan latihan gabungan kabupaten dilaku

    Pemberantasan Korupsi Dengan Cara Pengawasan dan Pendidikan Anti Korupsi

    No full text
    Pada artikel non ilmiah ini disajikan mengenai informasi solusi praktis   penanganan masalah korupsi pada kalangan Pejabat. Solusi tersebut adalaah melalui pengawasan. Pengawasan tersebut terbagi menjadi dua, yaitu pengawasan Struktural dan pengawasan fungsional. Pengawasan struktural adalah pengawasan yang dilakukan oleh atasan atau pimpinan kepada bawahan atau anggota, sedangkan pengawasan fungsional adalah pengawasan yang dilalukan oleh badan yang berwenang. Selain itu, dapat diadakan pendidikan anti korupsi untuk menanggulangi korupsi itu sendiri terhadap pejabat, sehingga tercipta lingkungan yang aman,tentram,dan sejahtera

    Perilaku Memilih Buruh Pabrik di Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara dalam Pilkada Serentak Tahun 2017

    No full text
    Kata Kunci: Perilaku Memilih, Buruh Pabrik, Pilkada Abstrak: Jumlah buruh pabrik yang cukup besar di Indonesia dengan berbagai permasalahannya seperti upah minimum dan jam kerja, sering menjadi isu yang diangkat kandidat kepala daerah untuk merebut hati buruh pabrik. Namun, survei yang dilakukan oleh Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) dengan tajuk “Orientasi Politik Buruh dalam Pemilu Tahun 2009” menunjukkan bahwa mayoritas buruh tidak mengetahui visi misi partai dan program partai politik. Survei ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran, pengetahuan, dan partisipasi politik buruh masih terbilang rendah (Launa, 2011:11). Survei tersebut bertolak beakang dengan harapan serta usaha yang dilakukan oleh kandidat calon kepala daerah. Hal tersebut membuat perilaku buruh pabrik dalam menentukan pilihannya pada Pilkada menarik untuk diteliti lebih lanjut. Berdasarkan alasan tersebut tersebut peneliti melakukan penelitian judul Perilaku Memilih Buruh Pabrik di Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara dalam Pilkada Serentak Tahun 2017

    Perilaku Memilih Buruh Pabrik di Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara dalam Pilkada Serentak Tahun 2017

    No full text
    Kata Kunci: Perilaku Memilih, Buruh Pabrik, Pilkada Jumlah buruh pabrik yang cukup besar di Indonesia dengan berbagai permasalahannya seperti upah minimum dan jam kerja, sering menjadi isu yang diangkat kandidat kepala daerah untuk merebut hati buruh pabrik. Namun, survei yang dilakukan oleh Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) dengan tajuk “Orientasi Politik Buruh dalam Pemilu Tahun 2009” menunjukkan bahwa mayoritas buruh tidak mengetahui visi misi partai dan program partai politik. Survei ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran, pengetahuan, dan partisipasi politik buruh masih terbilang rendah (Launa, 2011:11). Survei tersebut bertolak beakang dengan harapan serta usaha yang dilakukan oleh kandidat calon kepala daerah. Hal tersebut membuat perilaku buruh pabrik dalam menentukan pilihannya pada Pilkada menarik untuk diteliti lebih lanjut. Berdasarkan alasan tersebut tersebut peneliti melakukan penelitian judul Perilaku Memilih Buruh Pabrik di Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara dalam Pilkada Serentak Tahun 2017

    METODE COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENUMBUHKAN NILAI MORAL DAN KARAKTER PADA SISWA

    No full text
    Kata Kunci : cooperative learning, nilai moral, karakter Pada artikel ilmiah ini berlandasakan masalah menurunya nilai dan karakter yang dimiliki oleh siswa. Hal tersebut memerlukan alternatif solusi, salah satunya melalui proses pembelajaran di sekolah melalui model pembelajaran Cooperative Learning. Model tersebut  meningkatkan sikap tanggung jawab, saling menghargai dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Sehingga proses pembelajaran dapat menanamkan nilai moral dan karakter yang baik pada siswa

    PETE (PERAN TELEVISI ) LOKAL DALAM MEMPERTAHANKAN BUDAYA LOKAL DI ERA GLOBALISASI INFORMASI

    No full text
    PETE (PERAN TELEVISI ) LOKAL DALAM MEMPERTAHANKAN BUDAYA LOKAL DI ERA GLOBALISASI INFORMASIRiska Musfaiyah Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5Surel: [email protected] AbstrakPada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis penanganan dalam mempertahankan budaya lokal. Solusi tersebut adalah melalui peran televisi lokal. Tidak dapat dibantah, teknologi informasi memiliki peran besar dalam komunikasi internasional. Perkembangan teknologi informasi yang pesat membuat proses komunikasi tersebut tidak hanya melibatkan individu, tetapi juga komunikasi massa dengan komunitas yang lebih meluas. Dalam artikel ini dipaparkan peran televisi lokal dalam membentuk budaya serta identitas lokal di tengah arus globalisasi. Penggunaan televisi lokal pada budaya lokal merupakan suatu cara yang tepat untuk mempengaruhi identitas publik. Maka dari itu banyak bermunculan televisi lokal di era globalisasi saat ini. Kata Kunci : televisi lokal, globalisasi informasi, budayaPerkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang terjadi saat ini telah menjadikan jarak dan waktu bukan merupakan halangan. Kemajuan pada bidang ini pula yang semakin menumbuhkan kesadaran orang terhadap kebutuhan informasi. Informasi melalui media massa saat ini ikut memegang peranan dalam menentukan aspek-aspek kehidupan manusia.Penggunaan media massa dalam skala global merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Secara istilah komunikasi massa ini merupakan alat komunikasi yang dioperasikan secara skala besar, menjangkau dan mempengaruhi secara virtual setiap orang dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada beberapa media yang sekarang telah mendunia seperti surat kabar, radio, film, televisi dan beberapa lainnya (Kuswandi : 1996).Media massa saat ini telah ikut memegang peranan dalam menentukan aspek-aspek kehidupan masyarakat. Media yang banyak digunakan saat ini adalah televise (Kuswandi : 1996). Televisi merupakan media yang digunakan dalam proses komunikasi berupa media siaran dan komunikator dan pemirsa adalah komunikan. Sebagai salah satu media massa yang digunakan dalam proses komunikasi, televisi memiliki kelebihan karena sifatnya yang langsung tidak mengenal jarak dan memiliki daya tarik yang kuat.Isi pesan dalam televisi juga tersaji dalam bentuk audiovisual. Audiovisual merupakan paduan antara suara dan tayangan. Hal inilah yang membuat daya tarik televisi lebih diminati oleh khalayak umum. Selain itu juga televisi memiliki unsur visual berupa gambar, kata-kata, musik, sound effect yang menimbulkan kesan mendalam bagi penontonnya.Dunia pertelevisisan Indonesia sendiri telah mengalami banyak perkembangan. Pertamanya diawali dengan munculnya stasiun televisi milik pemerintah yaitu TVRI, dan berlanjut diakhiri dengan lahirnya stasiun swasta (Kuswandi : 1996). Beberapa contoh stasiun televise swasta di Indonesia antara lain : RCTI, SCTV, ANTV, dan INDOSIAR. Setelah stasiun-stasiun tersebut muncul semakin banyak stasiun televisi lainnya seperti : Metro TV, Trans TV, dan lain-lain yang semuanya menawarkan keragaman dan keunikannya masing-masing.Sebagai masyarakat yang telah memiliki identitas dan budaya sendiri dengan nilai-nilai tersendiri, tentunya stasiun televisi lokal perlu dicanangkan. Hal itu terjadi karena dengan semakin banyaknya nilai asing melalui globalisasi media, akan meminggirkan nilai-nilai budaya lokal bahkan hingga merubah identitas asli lokal.Menghadapi kenyataan diatas maka muncullah bentuk-bentuk siaran regional. Salah satu yang telah menggejala adalah munculnya stasiun TV lokal seperti JTV, Bali TV, dan lain-lain. Munculnya stasiun televisi lokal maka dapat dikatakan bahwa hal ini merupakan salah satu bentuk usaha untuk menghasilkan budaya tandingan dalam dunia informasi dan komunikasi media massa (Kuswandi : 1996). Artikel ini akan membahas bagaimana peran TV lokal pada upaya mempertahankan identitas lokal dalam menghadapi realitas globalisasi media. BAHASANPada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) konsep dasar, (2) peran televisi, serta (3) kelebihan dan kekurangan televisi lokal Konsep Dasar Televisi LokalIstilah televisi berasal dari bahasa Yunani tele yang bermakna jauh dan vision yang bermakna melihat. Jadi secara harfiah televisi bisa dimaknai dengan melihat jauh. Maksudnya adalah melihat sesuatu yang jaraknya sangat jauh dari penonton melalui sebuah alat atau dengan menggunkan media visual atau penglihatan. Secara umum, televisi adalah sebuah media telekomunikasi yang berfungsi untuk menerima siaran gambar bergerak dan suara. Televisi adalah siaran yang merupakan media dari jaringan komunikasi dengan cirri-ciri yang dimiliki komunikasi massa, yaitu berlangsung satu arah, komunikatornya melembaga, pesannya bersifat umum, sasarannya menimbulkan keserampakan dan komunikasinya bersifat heterogen (Effendy : 2000).Televisi lokal adalah suatu siaran yang merupakan media dari jaringan komunikasi namun memiliki cangkupan hanya terbatas di area regular atau lokal saja, tidak bisa menyeluruh sampai ke TV nasional (Effendy, 2002 : 122). Televisi lokal biasanya menayangkan mengenai budaya-budaya daerah lokalnya sendiri. Setiap daerah biasnya memiliki siaran televisi lokal sendiri. Seperti contohnya di Jawa Timur ada siaran televisi lokal yaitu JTV, kemudian jika di Bali ada TV Bali. Siaran televisi ini sangat berperan penting dalam melestarikan budaya Indonesia khususnya budaya daerah setempat.Televisi lokal memiliki beberapa cirri-ciri diantaranya adalah(1) lokal area jaringannya terbatas (hanya buat wilayah tertentu),(2) lokal konten materi acaranya cenderung lebih menonjol dengan muatan lokal,(3) siaran yang ditayangkan adalah mengenai budaya daerah setempat. Jika dilihat dari cirri-ciri diatas maka dapat dikategorikan bahwa televisi lokal merupakan suatu media yang memberikan kesan tersendiri bagi setiap daerah yang memilikinya.  Peran Televisi LokalAda banyak peran televisi lokal yang dapat memberikan dampak  terhadap pengembangan budaya dalam hal masyarakat seperti, media televisi lokal hadir sebagai sarana pencerdasan publik. Disini, penggunaan bahasa daerah sangatlah tepat. Sebagai contoh, siaran cara-cara penanganan kehamilan, melahirkan, dan peran bidan desa dalam bahasa Madura sangatlah penting dalam rangka mengurangi angka kematian ibu di kabupaten Jember. Contoh lain, media televisi lokal dapat dipakai untuk pembelajaran tentang pemilihan langsung, dengan menayangkan rekaman siaran yang disiapkan oleh KPUD Kota Batu.Media televisi dapat berfungsi kritik bagi kepentingan demokrasi. Dengan adanya kebebasan pers setelah era reformasi maka seharusnya kehadiran media untuk terus menerus mengkritik dan memberi masukan kepada kebijakan pemerintah. Media televisi dan mengundang opini, wacana dan diskusi publik untuk meberikan kritik bagi pemerintah. Kritik kepada pemerintah tidak harus dikemas dalam bentuk talkshow tetapi juga film-film dokumenter tentang kemiskinan untuk menyerukan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan secara adil, dengan demikian maka demokratisasi akan tetap terpelihara di negara yang kita cintai.Media televisi berperan sebagai agen perubahan bagi kebudayaan dan peradaban. Ada banyak nilai-nilai positif yang dapat diajarkan. Misalnya film Sang Penari. Film Sang Penari ini menceritakan tentang seorang gadis desa yang berprofesi sebagai penari ronggeng. Dia melestarikan tarian ronggeng. Selain film Sang Penari masih banyak juga film Indonesia yang mengangkat kebudayaan daerah. Kelebihan dan Kekurangan Televisi LokalAda beberapa keuntungan yang diperoleh dari tayangan yang ada pada televisi lokal antara lain :(1) terwujudnya kemandirian,(2) banyak variasi program,(3) terbangunnya kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak penyelenggara televisi lokal. Terwujudnya KemandirianKemandirian membuat televisi lokal akan dapat menayangkan program-progam baru yang lebih berwarna. Efek terpenting lainnya adalah penguatan fungsi lokalitas. Penguatan fungsi lokalitas tersebut adalah acara-acara yang disuguhkan dapat menjadi primadona lokal dalam persaingan televisi nasional. Hal itu merupakan langkah maju dan berpotensi menyukseskan program daerah.Program daerah yang dimaksud adalah dengan mempromosikan potensi-potensi daerah yang ada di masyarakat. Khususnya adalah potensi yang dimiliki para kalangan remaja lokal. Hal ini dimaksudkan untuk membangun jiwa remaja lokal agar cinta terhadap budaya lokal serta dapat melestarikan budaya lokal tersebut. Untuk itu diberi wadah dengan adanya televisi  lokal yang beredar dan ikut bersaing dengan stasiun-stasiun televisi nasional. Banyak Variasi ProgramDalam acara yang disiarkan pada televisi lokal selalu menyuguhkan berbagai program unggulan. Program tersebut biasanya merupakan program daerah yang diangkat dari isu daerah lingkungan. Kemasan program yang ditayangkan juga sangat bervariasi. Tidak hanya untuk kalangan orang tua tetapi juga cocok ditayangkan untuk kalangan remaja bahkan anak-anak.Progran yang disuguhkan biasanya bisa berupa tarian daerah, kesenian atau teater daerah baik, dan lain-lain. Program tersebut sangat baik untuk perkembangan anak, karena jika anak-anak diberikan tontotan daerah semacam itu akan mampu mengembangkan potensi anak untuk cinta daerah serta semata-mata untuk meningkatkan nilai budaya daerah itu sendiri. Terbangunnya Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan Pihak Penyelenggara Televisi LokalKerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak penyelenggara televisi lokal biasanya terjadi ketika membahas mengenai masalah-masalah yang bersifat lokal, praktis, dan jelas-jelas menyangkut hajat hidup masyarakat lokal. Sehingga meski televisi lokal memiliki pandangan tertentu, tetapi pandangan atau aliran itu tetap bisa eksis. Hal itu bertujuan agar relevan dengan isu keseharian rakyat.Biasanya TV lokal dimanfaatkan untuk momen-momen tertentu seperti penayangan kegiatan pilkada, selain itu biasanya juga menayangkan mengenai kegiatan studi banding atau pagelaran budaya di pendopo kabupaten. Hal tersebut dilakukan untuk mengangkat budaya lokal agar bisa bersanding di kalangan nasional. Selain memiliki beberapa keunggulan, televisi lokal juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain : (1) kurangnya SDM yang berkualitas, (2) jangkauan terbatas pada area lokal Kurangnya SDM yang BerkualitasTVRI merupakan suatu stasiun televisi milik pemerintah, maka pegawainya digolongkan sebagai PNS. Sehingga sulit buat dirotasi. Maksudnya sulit untuk membuat tayangan-tayangan yang lebih menarik, monoton hanya itu-itu saja. Padaakhirnya TVRI pun banyak siarannya yang membosankan dan kurang kreatif dikarenakan SDM yang kurang handal.Sebenarnya tayangan yang diangkat sudah menarik, namun terkadang para pegawainya dalam mengemas tayangan tersebut terlalu monoton dan membuat para penontonnya bosan. Pihak-pihak yang mengemas siarannya tidak bisa menempatkan dan mengelolanya dengan baik. Hasilnya tayangan yang sebenarnya sudah sangaat menarik untuk ditonton terkesan biasa saja dan monoton. Jangkauan Terbatas Pada Area Lokal Televisi lokal merupakan suatu siaran yang memang ditayangkan di wilayah lokal. Hal itu terjadi karena memang pada dasarnya hanya menyuguhkan mengenai acara-acara, budaya pada daerah lokal tersebut. Hal itu menyebabkan bahwa jangkauan acara yang disiarkan melalui televisi lokal hanya terbatas pada area lokal saja. Maka dari itu budaya yang ditayangkan oleh daerah satu dengan lainnya tidak dapat dilihat. Sehingga masyarakat luar daerah tidak bisa melihatnya. SIMPULAN  DAN SARANBerdasarkan uraian informasi pada bagian bahasan, berikut ini disajikan simpulan dan saran yang linier dengan informasi tersebut. Simpulan Televisi lokal merupakan media yang digunakan untuk melestarikan serta menayangkan budaya daerah setempat. Budaya tersebut merupakan suatu ciri khas dari daerah lokal. Televisi lokal diharapkan dapat menjadi jembatan untuk melestarikan budaya lokal setempat. Sehingga budaya lokal tidak akan hilang begitu saja.Televisi lokal juga mempunyai beberapa kelebihan antara lain :(1) terwujudnya kemandirian,(2) banyak variasi program,(3) terbangunnya kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak penyelenggara televisi lokal. Namun juga memiliki beberapa kekurangan antara lain(1) kurangnya SDM yang berkualitas,(2) jangkauan terbatas pada area lokal. Saran Televisi lokal sebagai media dalam penayangan suatu acara atau budaya dianggap efektif dalam melestarikan budaya lokal setempat. Melalui televisi lokal diharapkan dapat mengangkat serta mempromosikan budaya lokal setempat. Acara yang ditayangkanpun diharapkan bervariasi dan tidak monoton, sehingga banyak pihak yang akan tertarik melihat acara di televisi lokal. Selain itu banyak masyarakat yang akan merekomendasikan televisi lokal sebagai salah satu stasiun televisi favorit.Oleh karena itu pemerintah disarankan untuk melakukan pengawasan serta  peninjauan agar eksistensi televisi lokal tetap meningkat jika disandingkan dengan televisi nasional lainnya. Peningkatan SDM yang handal juga perlu digalakkan agar acara yang ditayangkan akan dikemas lebih bervariasi dan menarik untuk ditonton. DAFTAR RUJUKANEffendy, Onong Uchjana. 2000. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunikologis. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa Media Televisi : Sebuah Analisis Isi Pesan Media Televisi. Jakarta : Rineka Cipta

    HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEDISIPLINAN DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PPKN) SISWA DI SMK NEGERI 1 BATU

    No full text
    ABSTRAKAnanda, Fannie. 2019. Hubungan antara Tingkat Kedisiplinan dengan Prestasi Belajar PPKn siswa di SMK Negeri 1 Batu. Skripsi, Program Studi Pendidkan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. A. Rosyid Al-Atok, M.Pd., MH., (2) Drs. Suparman Adi Winoto, S.H, M.Hum. Kata Kunci: Disiplin, Prestasi Belajar, Pendidikan Pancasila dan KewraganegaraanDisiplin merupakan bentuk tingkah laku taat dan patuh individu dengan aturan-aturan yang berlaku dalam lingkungan dan waktu tertentu karena didorong oleh dua faktor yakni faktor dari dalam Individu (kesadaran diri) dan juga faktor dari luar individu (hukuman atau pujian) dan dapat dicapai melalui latihan-latihan dan percobaan-percobaan secara berulang-ulang disertai dengan kesungguhan hati pribadi individu itu sendiri. Disiplin mutlak adanya terutama pada diri siswa. Disiplin yang tinggi akan mempengaruhi kehidupan seorang siswa. Siswa yang mulai mendisiplinkan diri dari hal-hal kecil maka akan membawa dampak pada kehidupan kedepannya, dengan demikian siswa akan menjadi pribadi yang lebih baik. melalui kedisiplinan yang di tanamkan pada siswa, diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar, khususnya pada mata pelajaran PPKn yang syarat akan penanaman pendidikan karakter, salah satunya karakter disiplin.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:(1) Tingkat kedisiplinan siswa di SMK Negeri 1 Batu;(2) prestasi belajar PPKn siswa di SMK Negeri 1 Batu;(3) ada/tidaknya hubungan antara tingkat kedisiplinan siswa dengan prestasi belajar PPKn siswa di SMK Negeri 1 Batu.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis korelasi. Sampel diambil dari populasi siswa yang berjumlah 789 siswa, diambil 87 siswa sebagai sampel. Sumber data diperoleh dari angket dan studi dokumen. Penelitian ini menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson yang akan mengungkap ada tidaknya hubungan antara tingkat Keidiplinan dengan Prestasi belajar PPKn siswa. uji validasi dan reliabelitas, sudah dilakukan guna memperoleh kevalidan instrumen yang akan digunakan untuk penelitian.Hasil peneltitian menunjukkan kedisiplinan siswa di SMK Negeri 1 Batu sangat baik. Hal ini dapat ditentukan dengan perolehan skor angket yakni terdapat 59%(51 siswa) memiliki tingkat kedisiplinan  sangat tinggi sekali, 37%(32 siswa) memiliki tingkat kedisiplinan sangat tinggi, dan 4%(4 siswa) memiliki kedisiplinan tinggi. Siswa-siswa di SMK Negeri 1 Batu dapat dikatakan berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan diketahuinya 9%(8 siswa) memiliki nilai sangat tinggi sekali, 67%(58 siswa) memiliki nilai sangat tinggi, dan 24%(21 siswa) memiliki nilai tinggi. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa prestasi belajar PPKn siswa di SMK Negeri 1 Batu yakni Sangat Tinggi.Berdasarkan hasil perhitungan korelasi Product Moment Pearson hasil analisis dari perhitungan korelasi antara Variabel Kedisipinan (X) dengan Variabel Prestasi Belajar PPKn (Y) dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara kedisiplinan dengan prestasi belajar PPKn siswa di SMK Negeri 1 Batu. Koefisien korelasi tingkat kedisiplinan dengan perstasi belajar ini menunjukan hasil yang tidak signifikan yaitu  0,098 dan .Sehingga penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan antara dua variabel tersebut.Berdasarkan penelelitian ini, peneliti memberikan saran diantaranya:(1) Bagi sekolah, penilaian prestasi belajar khususnya pada mata pelajaran PPKn tidak hanya dilihat dari hasil ujian tulis siswa, melainkan juga haus dilihat dari perilaku sehari-hari siswa.;(2) Bagi Guru, guru PPKn dalam melakukan evaluasi siswa memberikan proporsi yang lebih besar pada penilaian afektif sebagai indikator penilaian prestasi belajar PPKn siswa; (3) Bagi peneliti selanjutnya, yaitu perlunya indikator yang jelas dalam penyusunan instrumen, sehingga dapat memudahkan ketika menganalisis data yang telah diperoleh, selain itu peneliti selanjutnya dapat membah data yang  diperoleh agar dapat dikaji dengan lebih baik

    . Pengaruh Media Pembelajaran Video Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Di SMA Negeri 1 Karangbinangun Kabupaten Lamongan

    No full text
    Nurfadilah, Atika. 2019. Pengaruh Media Pembelajaran Video Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Di SMA Negeri 1 Karangbinangun Kabupaten Lamongan. Program Studi Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Univeristas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H A Rosyid Al Atok, M.Pd, M.Si (2) Dr. H Edi Suhartono, S.H, M.Pd. Kata Kunci: Media Pembelajaran Video, Minat Belajar, PPKnPendidikan merupan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Tercapainya tujuan pendidikan tergantung pada proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik selama kegiatan berlangsung. Salah satu komponen yang harus ada dalam proses pembelajaran adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat yang digunakan sebagai alat bantu pengajaran, akan tetapi pada umunya media pembelajaran belum terlaksana dengan baik, dan guru hanya menggunakan media yang sama sehingga siswa merasa bosan dan ngantuk ketikan pelajaran berlangsung. Video merupakan media audiovisual yang menampilkan gambar bergerak disertai audio dalam waktu tertentu, yang berguna untuk membawa penonton mengalami kejadian yang ada di dalam video tersebut. Namun pelaksanaan media video tersebut belum maksimal dalam pembelajaran. Dengan demikian peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang media pembelajaran video di SMA Negeri 1 Karangbinangun Kabupaten Lamongan.Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui1) untuk mengetahui minat belajar siswa pada mata pelajaran PPKn di kelas X SMA Negeri 1 Karangbinangun Kabupaten Lamongan yang tidak menggunakan media pembelajaran video,2) untuk mengetahui minat belajar siswa pada mata pelajaran PPKn dikelas X SMA Negeri 1 Karangbinangun Kabupaten Lamongan yang menggunakan media pembelajaran video, 3) untuk mengetahui Adakah pengaruh media pembelajaran video terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran PPKn di kelas X SMA Negeri 1 Karangbinangun Kabupaten Lamongan.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu Quasi Eksperiment Design dan desain yang digunakan adalah Pretest-Posttest Control Group Design. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data-data dilapangan yaitu di SMA Negeri 1 Karangbinangun Kabupaten Lamongan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumen, angket dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu menggunakan Uji-t dua sampel tidak berpasangan (Independent Sample t-Test) dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows dengan taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan minat belajar siswa kelas kontrol. Dari hasil menggunakan uji-t dua sampel tidak berpasangan (Independent Sample t-Test), dengan menggunakan perhitungan melalui SPSS 16.0 For Windows dengan taraf signifikasi 0,05. Diperoleh sig (2tailed) adalah 0,000, dengan kriteria lebih kecil dari 0,05 dan rata-rata skor minat belajar siswa kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol, maka HO  ditolak dan dengan kata lain H1 diterima. Dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan minat belajar siswa antarakelas kontrol dan kelas eksperimen yang lebih baik. Setelah mendapatkan perlakuan dengan menggunakan media pembelajaran video, kelas eksperimen menunjukkan peningkatan dan dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh media pembelajaran video terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran PPKn di SMA Negeri 1 Karangbinangun Kabupaten Lamongan

    PEMBENTUKAN KARAKTER CINTA TANAH AIR SISWA MELALUI KEGIATAN UPACAR BENDERA

    No full text
    AbstrakGlobalisasi membawa pengaruh positif dan negatif yang menjadi penyebab infiltrasi budaya tidak terbendung. Budaya-budaya sedemikian cepat dan mudah saling bertukar tempat dan saling memengaruhi satu sama lain, salah satunya budaya hidup kebarat-baratan yang liberal dan bebas. Perkembangan Budaya Asing yang sangat pesat tersebut, mengakibatkan lunturnya karakter cinta tanah air generasi bangsa. Pendidikan karakter merupakan pembentukan moralitas pada siswa, yang diberikan oleh pihak sekolah. Pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognitif. Pendidikan karakter penting sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Rasa cinta tanah air harus ditanamkan sejak dini. Seharusnya cinta tanah air tidak hanya diucapkan lewat mulut saja, tetapi harus direalisasikan dengan perbuatan yang mencerminkan sikap cinta tanah air, misalkan mengikuti kegiatan upacara bendera dengan sepenuh hati dan penghayatan, tidak hanya ikut-ikut saja.Kata kunci: karakter, cinta tanah air, upacara bender

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇