SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
SEMINAR ATAU NGOBROL PINTAR UNTUK MENGATASI DEGRADASI MORAL PELAJAR
RINGKASAN Pada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis penanganan degradasi moral di kalangan pelajar yang telah menghadapi era globalisasi. Solusi tersebut adalah seminar atau ngobrol pintar untuk mengatasi degradasi moral pelajar. Seminar ini merupakan sebuah forum yang menghadirkan narasumber dan peserta dalam pemberian ilmu pengetahuan di permasalahan saat ini, permasalahan di Negara menjadi tanggung jawab warga negaranya, pelajar sebagai penggerak pembangunan Indonesia sangat dibutuhkan yang mampu bersaing di kancah dunia, aspek Negara yang penting salah satunya dengan pendidikan dan kebudayaan, dengan ini seminar adalah salah satu alternatif pendidikan untuk kalangan pelajar. Kata Kunci: Seminar, degradasi, moral pelajar
IMPLEMENTASI PRAKARYA MEMBATIK UNTUK PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER (PPK) DI SMA NEGERI 1 TUREN KABUPATEN MALANG
RINGKASAN Abstrak: Pengutaan pendidikan karakter merupakan upaya untuk memperkuat karakter peserta didik yang dapat dilakukan di sekokah. Penguatan pendidikan karakter mengandung lima nilai karakter utama sebagai upaya meningkatkan mutu kualitas pendidikan dan memperkuat karakter peserta didik. Penguatan pendidikan karakter salah satunya dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran prakarya membatik. Prakarya membatik mengandung subnilai karakter yang sesuai dengan nilai-nilai penguatan pendidikan karakter. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) perencanaan pembelajaran prakarya membatik untuk penguatan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Turen, (2) pelaksanaan pembelajaran prakarya membatik untuk penguatan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Turen, (3) kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran prakarya membatik untuk penguatan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Turen, (4) upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran prakarya membatik untuk penguatan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Turen. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif, dengan teknik deskriptif. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran prakarya membatik dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, sedangkan sumber data sekunder menggunakan dokumentasi, RPP dan silabus mata pelajaran prakarya membatik. Teknik analisa data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh 4 (empat) temuan penelitian. Pertama, perencanaan pembelajaran prakarya membatik untuk penguatan pendidikan karakter diterapkan untuk kelas X dan materinya disesuaiakan dengan struktur kurikulum terbaru. Perencanaan pembelajaran prakarya membatik dilakukan oleh guru mata pelajaran dengan memperhatikan susunan rencana perangkat pembelajaran kurikulum 2013. Perencanaan pembelajaran prakarya membatik mengandung subnilai yang sesuai dengan lima nilai karakter utama sesuai dengan penguatan pendidikan karakter. Nilai karakter yang terkandung dalam perencanaan pembelajaran prakarya membatik antara lain nilai karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong dan integritas. Kedua, pelaksanaan pembelajaran prakarya membatik disesuaikan dengan rancangan perangkat pembelajaran yang telah disusun. Pelaksanaan pembelajaran prakarya membatik meliputi kegiatan di dalam kelas dan kegiatan praktek. Pelaksanaan pembelajaran prakarya membatik memiliki subnilai hubungan individu dengan Tuhan, apresiasi budaya bangsa dan mengahargai budaya bangsa, kreatif dan tanggung jawab. Nilai karakter yang terkandung dalam pelaksanaan pembelajaran prakarya membatik adalah nilai religius, nasionalis, mandiri dan integritas. Ketiga, kendala dalam pelaksanaan pembelajaran prakarya membatik terletak pada kendala teknis dan kendala yang berasal dari peserta didik. Kendala teknis berupa listrik tiba-tiba padam mengganggu jalannya proses pembelajaran prakarya membatik untuk penguatan pendidikan karakter. Kendala dari segi siswa yaitu kurangnya kesiapan dalam mengikuti pelajaran sehingga siswa kurang memperhatikan dan menunda-nunda pekerjaan yang diberikan guru. Keempat, upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran prakarya membatik adalah kreatifitas guru mengisi kegiatan lain ketika listrik tiba-tiba padam ditengah proses pembelajaran, juga diberikan pendampingan kepada siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Saran yang diberikan oleh penulis yaitu (1) Kepala Sekolah, sebaiknya prakarya membatik diterapkan untuk semua jenjang kelas yaitu kelas X,XI dan XII sebagai upaya penguatan pendidikan karakter yang menyeluruh (2) Bidang Sarana dan Prasarana, seyogyanya bisa memfasilitasi disediakannya genset sebagai cadangan pengganti apabila listrik tiba-tiba padam sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (3) Peserta didik, sebaiknya menyiapkan diri untuk dapat mengoptimalkan kegiatan pembelajaran prakarya membatik karena pelajaran tersebut memuat nilai karakter yang bagus untuk pembentukan karakter diri. Dibutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh dan mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (4) Pemerintah/Dinas Pendidikan, sebaiknya pemerintah merekomendasikan prakarya membatik sebagai penguatan pendidikan karakter di sekolah-sekolah lain karena mengandung nilai-nilai karakter yang sesuai dengan kepribadian bangsa.
IMPLEMENTASI GERAKAN LITERASI NASIONAL DI SMPN 15 MALANG
RINGKASAN ABSTRAK Andini, Yurika Putri 2018.Implementasi Gerakan Literasi Nasional di SMP Negeri 15 Malang.Skripsi.Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Siti Awaliyah, S.Pd., S.H., M.Hum (2) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum Kata Kunci: Implementasi, Gerakan Literasi Nasional, Gerakan Literasi Sekolah Pendidikan merupakan salah satu aspek pembangunan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bahsa melalui sumber daya manusianya.Membaca merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan, karena dengan membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat komunikasi serta memperluas pengetahuan tentang banyak hal mengenai kehidupan manusia. Akan tetapi saat ini, kurangnya minat baca masyarakat indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara, hal tersebut mencerminkan kurangnya minat baca yang ada di Indonesia. maka dari itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan pada Nomor 23 tahun 2017 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam kebijakan tersebut terdapat Gerakan Literasi Nasional yang bertujuan untuk mengkoordinasikan masyarakat untuk menanamkan budaya membaca sejak dini.SMP 15 Malang merupakan salah satu sekolah menengah pertama yang beberapa siswanya memiliki minat membaca yang kurang, kemudian mengimplementasikan Gerakan Literasi Nasional di sekolahnya. Penelitian yang berjudul “Implementasi Gerakan Literasi Nasional di SMP Negeri 15 Malang” bertujuan untuk (1) untuk mengetahui bentuk implementasi gerakan literasi nasional di SMPN 15 Malang, (2) untuk mengetahui implementasi gerakan literasi nasional di SMPN 15 Malang, (3) untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam implementasi gerakan literasi nasional, dan (4) untuk mengetahui upaya sekolah untuk mengatasi kendala implementasi gerakan literasi nasional di SMPN 15 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif.Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrument penelitian.Peneliti memilih lokasi penelitian di SMPN 15 Malang yang berlokasi di Jl. Bukit Tidar Blok T/8 Kota Malang.Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu sumber data sekunder dan sumber data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan sumber data sekunder yang diperoleh dari hasil observasi dan dokumentasi.Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan tiga teknik yaitu meliputi teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Analisis data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data, pengecekan keabsahan data yang digunakan oleh peneliti, yaitu perpanjangan keikutsertaan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini antara lain (1) bentuk kegiatan implementasi gerakan literasi nasional di SMPN 15 Malang yaitu literasi baca dan tulis: (tulisan dinding di area sekolah, gerakan literasi sekolah, lomba bulan bahasa), literasi numerasi (mata pelajaran matematika), literasi sains (mata pelajaran ilmu pengetahuan alam) dan literasi budaya dan kewargaan (mata pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan, mata pelajaran seni budaya, dan memperingati hari sumpah pemuda). (2) pelaksanaan gerakan literasi nasional di SMPN 15 Malang terdiri dari beberapa kegiatan yang pertama yaitu literasi baca tulis meliputi gerakan literasi yang dilakukan setiap jumat pagi mulai pukul 06.45 hingga pukul 07.45 dengan durasi satu jam sebelum pelajaran dimulai dengan memberikan waktu beberapa menit untuk siswa membaca, kemudian menuliskan didalam buku jurnal dan siswa akan dipilih acak untuk maju dan menceritakan apa yang telah dikerjakan. Literasi numerasi merupakan literasi yang berfokuskan dengan angka, grafik, dan tabel, adapun bentuk pelaksanaannya yaitu melalui kegiatan pelajaran matematika didalam kelas.literasi sains adalah literasi yang berfokuskan dengan ilmu pengetahuan alam dan di laksanakan melalui kegiatan mata pelajaran Ilmu pengetahuan alam di dalam kelas. Dan yang terakhir yaitu literasi budaya dan kewargaan merupakan literasi yang berfokuskan pada budaya dan nasionalis dalam diri, literasi tersebut ditanamkan melalui kegiatan mata pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan di dalam kelas, mata pelajaran seni budaya, dan kegiatan memperingati Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 oktober setiap tahunnya, dalam kegiatan tersebut berisikan upacara bendera, dan seluruh siswa maupun guru diwajibkan untuk mengenakan pakaian adat. (3) kendala yang dialami dalam implementasi gerakan literasi yaitu kurangnya minat sumber daya manusia masih kurang lebih 80% , kurangnya sarana dan prasarana, kurang fokusnya siswa pada saat literasi, kurang ketelitian dalam pensortiran buku bacaan. (4) upaya untuk mengatasi kendala yang dialami dalam implementasi gerakan literasi nasional yaitu yang pertama menggunakan program bertahap, dengan membiasakan membaca, sumber daya manusia lama-lama akan meningkat, yang kedua kurangnya sarana dan prasarana yaitu dengan menggunakan program bertahap, dengan mendaur ulang fasilitas sekolah yang sudah tidak digunakan lagi dengan memodivikasi agar dapat digunakan, yang ketiga kurang fokusnya siswa dalam literasi dengan menggumpulkan seluruh walikelas, dan memberikan himbauan saat literasi supaya dalam berliterasi siswa dapat diarahkan. Saran yang diberikan oleh penulis (1) sekolah hendaknya terus berupaya untuk menanamkan budaya literasi melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan sehingga siswa tidak bosan, (2) sekolah lebih mengoptimalkan fasilitas sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan literasi di lingkungan sekolah, (3) jika memungkinkan sekolah hendaknya menerapkan kegiatan gerakan literasi satu minggu lebih dari satu kali, sehingga hasilnya lebih optmal, (4) tim literasi hendaknya lebih teliti pada saat pensortiran buku, sehingga tidak terjadi keteledoran lagi
ABSTRAK Sa’idi, Rony Khollan. 2017. Analisis Komparatif Fertilitas Pendudukantara Masyarakat Petani Dengan Masyarakat Pedagang Di Desa Mimbaan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo
RINGKASAN Sa’idi, Rony Khollan. 2017. Analisis Komparatif Fertilitas Pendudukantara Masyarakat Petani Dengan Masyarakat Pedagang Di Desa Mimbaan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Dr. Singgih Susilo, M.s, M.si Kata Kunci: fertilitas, PUS, variabel antara, komparatif Fertilitas adalah hasil reproduksi yang nyata (bayi lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Akan tetapi dalam perkembangannya fertilitas lebih diartikan sebagai hasil reprodusi nyata (bayi lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Desa Mimbaa merupakan Desa dengan letak strategis sehingga menjadi sentra penggerak dalam bidang perekonomian,pendidikan, dan perdagangan, sehingga terdapat banyak kelompok masyarakat yang melakukan migrasi dengan alasan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Desa Mimbaan memilikijumlah penduduk wanita pernah kawin PUS usia produktif (14-49 tahun) yaitu sebanyak 20.945 jiwa. Jumlah penduduk dalam mata pencaharian sangat mendominasi pada petani sebnyak 1.609 jiwa yang terdiri dari buruh tani 1.267 jiwa dan tani 342 jiwa, sedangkan jumlah penduduk yang terbanyak kedua bermata pencaharian pedagang yaitu sebanyak 639 jiwa. Jumlah kelahiran yaitu sebanyak 365 yang terdiri dari laki-laki 179 jiwa dan perempuan 186 jiwa, angka kelahiran ini merupakan angka kelahiran tertinggi. Desa Mimbaaan menyumbang angka kelahiran tertinggi yaitu sebanyak 50 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebnyak 26 jiwa dan perempuan sebanyak 24 jiwa, sehingga TFR kecamatan panji pada tahun 2016 mencapai angka 1,3. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan pengkajian mengenai. analisis komparatif fertilitas pendudukantara masyarakat petani dengan masyarakat pedagang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang komaratif fertilitas di Desa Mimbaan, mendeskrispsikan perbedaan anatara petani dan pedagang dari faktor usia kawin pertama, lama periode reproduksi, lama penggunaan kontrasepsi, mortalitas bayi, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan terhadap fertilitas secara simultan maupun parsial. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui faktor apakah yang paling dominan mempengaruhi fertilitas di Di Desa Mimbaan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo. Penelitian ini merupakan penelitian kantitaif metode survei. Penarikan sampel dilakukan secara proporsional random sampling dengan responden wanita pernah kawin berjumlah 92 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan juga menggunakan uji pebedaan independen sampel t test dan regresi linear berganda. Hasil uji t test menunjukkan tidak terdapat perbedaan fertilitas antara masayarakat petani dan masayarakat pedagang di Desa Mimbaan, adapun faktor yang memiliki perbedaan dalam fertilitas yaitu pendapatan keluarga, faktor yang memliki sumbanagan tertinggi adalah mortalitas bayi untuk masyarakat petani dan lama periode reproduksi untuk masyarakat pedagang
. Peran Masyarakat alun-Alun dan Pemerintah Kota Malang dalam Menangani Pengemis di sekitar Masjid Agung Jami’ Kota Malang
RINGKASAN Pada era modernisasi ini mengemis dianggap sebagai profesi pekerjaan bagi beberapa masyarakat Indonesia karena dengan mengemis para pengemis ini dengan mudah mendapatkan uang tanpa harus mengeluarkan modal ataupun jasa yang bisa ditawarkan. Tentu hal ini menjadi suatu penyimpangan sosial karena masyarakat yang berprofesi sebagai pengemis menganggap mendapatkan penghasilan dengan cepat tanpa bekerja merupakan hal yang wajar atau baik. Para pengemis tersebut memiliki berbagai strategi dalam mendapatkan penghasilan dengan mudah seperti ibu-ibu yang membawa anaknya yang masih dibawah umur dan berdiri di pinggir jalan atau didekat lampu lalu lintas menunggu pengemudi kendaraan yang merasa iba dan memberikan uang kepada mereka.Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1980 Tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis disebutkan bahwa pengemis tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peraturan tersebut memunculkan upaya penanggulangan pengemis di Indonesia dengan memberikan program rehabilitasi agar mereka mampu mencapai taraf hidup yang layak tanpa melanggar norma. Meskipun beberapa program Pemerintah sudah dilakukan tapi masih belum dapat membuat jera para pengemis. Program yang dilaksanakan pemerintah dirasa masih kurang efektif dalam pelaksanaan nya untuk itu perlu ada solusi lain seperti melibatkan masyarakat umum dalam menangani pengemis yang berkeliaran khususnya di kota besar. Pengemis sering berkeliaran di kota-kota besar seperti di Kota Malang. Di Kota Malang pengemis dapat di jumpai dibeberapa titik keramaian seperti didepan Masjid Sabililah Kota Malang, Balai Kota Malang dan di kawasan Masjid Agung Jami’ Kota Malang. Penelitian ini berisi tentang peran masyarakat Alun-Alun dan Pemerintah Kota Malang dalam menangani pengemis dilingkungan Masjid Agung Jami’ Kota Malang Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) untuk mengetahui peran masyarakat Alun-Alun Kota Malang dalam menangani pengemis di Masjid Agung Jami’ Kota Malang, (2) untuk mengetahuiperan Pemerintah Kota Malang dalam menangani pengemis di Masjid Agung Jami’ Kota Malang, (3) untuk mengetahuibentuk pelaksanaan penanganan pengemis yang dilakukan Pemerintah Kota Malang Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mencoba mengungkapkan kebenaran yang terjadi di lapangan terhadap peran masyarakat dan pemerintah dalam menangani sebuah masalah sosial. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam langsung ke lapangan dan studi dokumentasi dilapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi.Untuk menjamin kebasahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara Pemeriksaan Sejawat Melalui Diskusi, Keajegan Pengamatan, Triangulasi, Tersedianya Referensi. Adapun hasil penelitian ini adalah (1) Peran masyarakat Alun-Alaun Kota Malang dalam menangani pengemis di sekitar Masjid Agung Jami’ Kota Malang dilakukan secara tidak langsung atau secara tidak sadar dilakukan oleh beberapa masyarakat. Diantaranya pemasangan tulisan oleh beberapa pemilik took di sekitar Masjid Agung Jami’ dan Alun-Alun untuk menentukan hari mereke bersedia menerima pengemis. Peran kedua sering nya para pengunjung Masjid Agung Jami’ dalam memberi sebuah makanan pada Hari Jum’at membuat pada hari lain pengemis tidak ada yang berkeliaran di depan Masjid Agung Jami’ sehingga mempermudah Satuan Pamong Praja dalam menangkapnya.(2) Peran Pemerintah Kota Malang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Malang dan Polisi Satuan Pamong Praja Kota Malang dengan tiga strategi penanganan yaitu usaha preventif, represif, dam rehabilitatif. (3) Bentuk pelaksanaan penanganan yang dilakukan Pemerintah Kota Malang terfokus pada tata urutan dan pelaksanaan tindakan preventif, represif, dan rehabilitatif. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian antara lain (1)Peran masyarakat yang minim hendaknya dilakukan secara maksimal dengan bantuan dari Pemerintah Kota Malang.(2) Perlu adanya penyuluhan dan penghalauan pengemis yang lebih sering dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang dengan melibatkan masyarakat
PELESTARIAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MELALUI KESENIAN REOG KENDANG DI SANGGAR TARI “DHODOG SADJIWO DJATI” KABUPATEN TULUNGAGUNG
ABSTRAK RifqiSuchaiya. 2017. Pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Program StudiPendidikanpancasiladanKewarganegaraanJurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H, (II) Dr. Sri Untari, M.Si. Kata Kunci: nilai-nilai kearifan lokal, kesenian, Reog Kendang Nilai kearifan lokal tersebut hampir dimiliki oleh seluruh daerah di Indonesia, hanya saja dalam realitasnya sangat jarang mendapati kearifan lokal yang diberdayakan dalam keseharian sebagai akibat langsung dari era globalisasi. Adanya kaitan yang begitu besar antara kebudayaan dan masyarakat menjadikan kebudayaan sebagai suatu hal yang sangat penting bagi manusia dimana masyarakat tidak dapat meninggalkan budaya yang sudah dimilikinya. Nilai kearifan lokal hampir dimiliki oleh seluruh daerah, hanya saja dalam realitasnya sangat jarang mendapati kearifan lokal yang diberdayakan dalam keseharian sebagai akibat langsung dari era globalisasi. Ragam kearifan LOKAL salah satunya adalah kesenian reog kendang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) perkembangan kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung, (2) pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung, (3) faktor pendukung pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung, (4) faktor penghambat pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung, (5) upaya mengatasi hambatan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti berusaha untuk mendeskripsikanpelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung. Data yang sudah terkumpul hasil penelitian baik berupa kata-kata, gambar, wawancara atau dokumentasi akan disusun secara terstruktur, seksama dan objektif. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan penjelasan secara terperinci dan sesuai dengan keadaan nyata tanpa direkayasa. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, Perkembangan kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung adalah sejarah berdirinya Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo pada tahun 2009. Budaya reog yang ada sejak nenek moyang yang dilestarikan secara turun temurun yang dalam pertunjukannya, reog Kendang ini ditampilkan secara berkelompok oleh 6 orang penari yang masing-masing dari mereka membawa kendang atau dhodhog. Visi Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo adalah: melestarikan budaya nenek moyang yang turun-temurun; melestarikan Reog Kendang. Kedua, Pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung adalah: (a) Cara menjaga nilai tradisi untuk menyelaraskan kehidupan manusia melalui kesenian Reog Kendang dilakukan dengan pengadaan pementasan kebudayaan seni Reog Kendang, sehingga generasi muda lebih semangat untuk memupuk keinginan untuk mendalami suatu kebudayaan yang harus dilestarikan dan mengajarkan nilai-nilai kebudayaan tidak hanya kepada generasi muda tetapi lebih menekankan penerapan kebudayaan asli yaitu seni Reog Kendang kepada anak-anak serta menanamkan rasa bangga atas budaya yang dimiliki. (b) Pendekatan yang dilakukan untuk pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang, dengan jalan: (1) Guru tari menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami dan menghayati kebudayaan yang perlu dilestarikan sehingga siswa terbiasa melakukan tiap struktur tiap gerakan tari dengan tanpa kesulitan, (2) para siswa diharuskan untuk mengikuti pelatihan sesuai dengan yang dijadwalkan oleh sanggar Reog Kendang.Ketiga, Faktor pendukung pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung adalah: (a) Mengadakan kerjasama dengan sekolah di lingkungan sekitar untuk melatih tari sebagai faktor pendukung pelestarian nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian, adanya pelatihan di sekolah-sekolah banyak siswa-siswa yang bisa menari Reog Kendang dari jenjang pendidikan SD dan SMP. Reog kendang sekarang sudah membudaya di masyarakat dan sekolah-sekolah, guru melatih di sekolahan-sekolahan karena berdasarkan kebijakan sekolah yang menganjurkan untuk tiap kelas harus ada reognya jadi kesempatan bagi kami pecinta seni untuk melestarikannya dengan melatih para siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh, (b) Mendesain gerak pada kesenian Reog Dhodhog menggunakan gerak sederhana tetapi menarik, gerak tari dalam pertunjukan Reyog Tulungagung merupakan gambaran perjuangan prajurit Bugis untuk melamar Dewi Kilisuci. UtamanyapadausahamemenuhipermintaandariDewiKilisuci yang berupa 6 bebanasebagaiprasyaratandalamlamaran.BerawaldaribagaimanaetikaparaprajuritBugisdalammemasukiwilayahkraton Kediri sampaikembalikeBugismestikpuntidakberhasilmembawapulangDewiKilisuci.Gerakperilakuprajurit yang dijadikandasardalamReyogTulungagungyaitugerakbaris, ragamgeraksundangan, ragamgerakgejohbumi, ragamgerakmenthokan, ragam, gerakpethetan, ragamgeraklilingan, ragamgerakmidakkecik, ragamgerakandhulatauengklek, ragamgerakngungaksumur, ragamgerakkejang,(c) Peralatan yang lengkap, tata rias yang menarik dan tata busananya unik. DalampertunjukanReogKendangtersebutpenarimenaridenganenergiksambilmememainkankendangmerekaseiramadenganmusikpengiringdannyanyianlagujawa.Alat music yang digunakanolehpengiringtersebutdiantaranyaadalah kenong, gongdan terompet.Keempat, Faktor penghambat pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagung adalah: (a) cuaca yang tidak menentu terutama pada musim hujan. Hujan yang menjadi faktor penghambat dikala pas ada pertunjukan tari reog kendang, pasti pengunjung berkurang, sehingga berimbas pada penarinya yang jadi kurang semangat dalam mempertunjukkan seni tariannya pada masyarakat. (b) jumlahpenarikurangbanyak, jika pas banyakundangan yang bersamaanmasihkurangpersonil. Kurangnya penari yang bisa tampil jika ada acara undangan yang bersamaan, sehingga saya sebagai pengelola sanggar tari sangat kebingungan jika banyak undangan pagelaran seni.Kelima, Upaya mengatasi hambatan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian Reog Kendang di Sanggar Tari Dhodog Sadjiwo Djati Kabupaten Tulungagungadalah: (a)Memasrahkan ke dinas pariwisata dan kebudayaan mengenai permasalahan yang sulit pengelola sanggar pecahkan, (b) Mencarisendiritenagaahlitari yang semakintergilasolehperkembanganzaman
Nilai-Nilai Pancasila yang Terkandung dalam Kebudayaan Karapan Sapi di Dusun Pakong Desa Durbuk Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan.
ABSTRAK Mahfud, Ibnu Ali. 2017. Nilai-Nilai Pancasila yang Terkandung dalam Kebudayaan Karapan Sapi di Dusun Pakong Desa Durbuk Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Untari, M.Si (2) Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd., MH. Kata Kunci: Nilai Pancasila, Karapan Sapi Pancasila merupakan pandangan dalam hidup bangsa, menjadi Pedoman, dan dambaan bangsa Indonesia yang terealisasi dalam kehidupan. Nilai pancasila diharapkan terwujud dalam sikap, perilaku dan perbuatan bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam Kebudayaan Karapan Sapi agar nilai-nila tersebut berguna dalam kita menjalani kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan tujun untuk memberi penjelasan mengenai Nilai-nilai Pancasila yang Terkandung dalam Kebudayaan Karapan Sapi di Dusun Pakong Desa Durbuk Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan Madura yang meliputi (1) Sejarah Karapan Sapi (2) Pelaksanaan Karapan Sapi (3) Nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam kebudayaan Karapan Sapi. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatatif. Lokasi penelitian ini di Dusun Pakong Desa Durbuk Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan. Didalam mencari data dari informan yang terdiri dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kepala desa Durbuk, Budayawan, Pemilik sapi dan Panitia pelaksana. Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Disebut, (1) Karapan Sapi, bermula dari masa kerjaan mataram yang mengutus pangeran katandur yang merupakan salah satu tokoh di bidang pertanian dan juga merupakan seorang kyai yang meyebarkan ajaran agama Islam. Pada saat itu beliu di utus untuk menyebarkan ajaran agama islam melalui bidang pertanian. (2) Dalam perlombaan karapan sapi, lomba karapan sapi ini diikuti 24 pasang sapi, yang nantinya akan diambil 6 pasang sapi, 3 dari juara menang dan 3 dari juara kalah. Selanjutnya ke 6 sapi tersebut akan di lombakan lagi di tingkat kabupaten, dengan sapi-sapi yang menang dari 3 kecamatan lain, kemudian 6 pasang sapi yang menang akan bertanding lagi di tingkat Madura, yang diikuti 4 Kabupaten di Pulau Madura, yaitu, Kabupaten Bangkalan, Kabupatn Sampang, Kabupaten Pamekasan Dan Kabupaten Sumenep, yang biasa disebut karapan sapi Gubeng. (3) Nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam Kebudayaan Karapan Sapi, yaitu a) Sila pertama, adanya rasa syukur dan pantang menyerah/kerja keras, sportivitas dan nilai ketertiban. b) Sila ke dua adanya perlakuan khusu terhadap sapi karapan. c) Sila ke tiga berupa kerja sama/gotong royong dan silaturrahmi d) Sila ke empat berupa musyawarah dan nilai kesejahteraan kepada peternak sapi ras Madura. e) Sila ke lima berupa pemberian hadiah yang adil dan juga semua masyarakat bisa menyaksikan perlombaan karapan sapi. Berdasarkan hasil penelitian di atas saran yang dapat diberikan peneliti adalah: (1) bagi masyarakat Pamekasan Madura dengan adanya karapan sapi ini, diharapkan mampu menjaga dan mengembangkan kebudayaan karapan sapi ini. Serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan, (2) bagi Pemuda Pamekasan Madura, diharapkan lebih menampilkan karapan sapi yang jauh dari kekerasan sehingga mampu menarik minat wisatawan. (3) bagi para penikmat Karapan Sapi diharapkan juga mampu mempraktekkan nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam kebudayaa Karapan Sapi.
PENDEKATAN MODEL PEMBELAJARAN MASYARAKAT BELAJAR
Model pembelajaran Masyarakat Belajar merupakan proses pembelajaran antara individu satu dengan yang lainnya yang saling melakukan komunikasi dua arah . Model pembelajaran Masyarakat Belajar merupakan salah satu komponen CTL (Contextual Teaching Learning, karna dalam konsep CTL menyarankan agar pembelajaran dengan membentuk kelompok. Implementasi masyarakat belajar yaitu dengan membentuk kelompok yang terdiri dari 1 sampai 6 siswa kemudian diberikan sebuah topik bahasan.Kata kunci: pendekatan, model pembelajaran, masyarakat belaja
PERWUJUDAN NILAI KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
ABSTRAK.Nilai yang terkandung dalam sila kedua Pancasila adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Perwujudan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat dilakukan oleh berbagai aktor, baik bersifat individu maupun kelompok bahkan pemerintah. Disisi lain ada berbagai kasus bermunculan mengenai penyimpangan-penyimpangan nilai-nilai kemanusiaan seperti pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, penelantaran anak, dan kasus-kasus penyimpangan lainnya. Kata kunci: perwujudan, nilai, kemanusiaa
KEDAULATAN RAKYAT DALAM PERSPEKTIF DEMOKRASI PANCASILA
ABSTRAK Kata Kunci: Kedaulatan, Kedaulatan rakyat, Demokrasi, Demokrasi Pancasila. : Kedaulatan diartikan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi untuk menentukan hukum dalam suatu negara. kedaulatan rakyat diartikan bahwa pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu negara adalah rakyat. Kedaulatan rakyat merupakan konsep dari demokrasi, yang diartikan pemerintahan oleh, dari, dan untuk rakyat. Konsep demokrasi yang diwujudkan dengan negara berkedaulatan rakyat dalam tataran praktiknya akan berbeda disetiap negara karena bergantung pada sosio-budaya bangsa masing-masing negara. Ideologi Pancasila sebagai suatu sistem nilai yang diyakini atau merupakan ideologi negara Indonesia, maka Pancasila akan memberikan pengaruh pada praktik demokrasi di Indonesia