SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    Persepsi Masyarakat Terhadap Kegiatan Jual Beli Menggunakan Teknologi Jejaring Sosial di Desa Sumbermanjing Kecamatan Sumbermanjingwetan Kabupaten Malang

    No full text
    ABSTRAK Mukti, Andimas . 2018. Persepsi Masyarakat Terhadap Kegiatan Jual Beli Menggunakan Teknologi Jejaring Sosial di Desa Sumbermanjing Kecamatan Sumbermanjingwetan Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr.Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si (II) Rusdianto Umar, SH, M.Hum   Kata Kunci :Persepsi Masyarakat, Kegiatan Jual Beli, Teknologi Jejaring Sosial   Persepsi masyarakat merupakan suatu cara pandang atau pendapat seseorang terhadap kegiatan yang di amati. Salah satunya adalah persepsi masyarakat terhadap kegiatan jual beli melalui teknologi jejaring sosial atau media online shop. Dengan adanya teknologi jejaring sosial, manusia bisa memanfaatkanya dengan mudah untuk mendapatkan suatu barang atau di manfaatkan sebagai pekerjaan online shop. Sehingga peneliti tertarik untuk meneliti tentang kegiatan jual  beli dengan menggunakan teknologi jejaring sosial . Adapun tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui, (1) Proses jual beli menggunakan jejaring sosial di desa Sumbermanjing(2) Persepsi masyarakat tentang jual beli menggunakan jejaring sosial di desa Sumbermanjing(3) Nilai- nilai yang terkandung dalam kegiatan jual beli menggunakan jejaring sosial (4) Permasalahan dalam kegiatan jual beli menggunakan jejaring sosial di Desa Sumbermanjing (5) Solusi untuk mengatasi permasalahan jual beli menggunakan jejaring sosial.             Peneliti menggunakan metodelogi penelitian kualitatif dengan metode deskripsi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data dan menyimpulkan. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, dan triagulasi.             Adapun hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertamaproses jual beli menggunakan jejaring sosial di desa Sumbermanjingproses sosial jual beli menggunakan jejaring sosial. Proses jual beli yaitu melihat akun olshop, apabila cocok lalu berinteraksi dengan owner, apabila barang sudah di sepakati antara penjual dan pembeli maka, pembeli melakukan pembayaran secara transfer atau langsung atau COD (Cash On Delivery). Setelah proses pembayaran barang akan segera dikirim melalui jasa pengiriman jika jarang masih bisa di jangkau bisa melalui COD. Keduapersepsi masyarakat tentang jual beli menggunakan jejaring sosial di desa Sumbermanjing, pendapat mengenai kegiatan jualbeli menurut masyarakat, bahwa jual beli melalui jejaring sosial sangat membantu dan mempermudah karena, melakukan jual beli di jejaring sosial dapat menghemat waktu dan jarak karena tidak harus berkunjung ke toko tersebut. Selain itu pemasaran melalui internet juga sangat mudah dan murah tanpa ada batasan ruang dan waktu sehingga bisa di jangkau oleh banyak orang. Ketiga nilai- nilai yang terkandung dalam kegiatan jual beli menggunakan jejaring sosianilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan jual beli menggunakan jejaring sosial diantaranya yaitu nilai sosial nilai yang dianut oleh masyarakat mengenai apa yang yang dianggap baik dan buruk oleh masyarakat kemudian nilai kejujuran bagi masyarakat yang menggunakan jejaring sosial untuk kegiatan jual beli harus bisa dipecaya kemudian nilai persatuan suatu proses interaksi menggunakan jejaring sosial antara penjual dan pembeli saling berkomunikasi untuk melakukan kegiatan jual beli dari kegiatan itu mereka saling dipertemukan kemudian nilai tanggung jawab yaitu pada pihak pembeli dan penjual harus mempunyai tanggung jawab atas segala yang telah dilakukan saat berinteraksi. Keempat permasalahan dalam kegiatan jual beli menggunakan jejaring sosial di Desa Sumbermanjingpermasalahan saat dalam kegiatan jual beli menggunakan jejaring sosial di antaranya ketika proses pengiriman barang biasanya terhambat seperti terjadi kesalahan seperti barang yang salah atau keterlambatan proses pengiriman. Selain itu masalah yang sering terjadi barang yang ada di foto saat penjualan itu lebih bagus daripada barang yang di terima oleh pembeli. Pembayaran melalui transfer terkadang juga banyak penipuan karena akun yang di gunakan oleh penjual biasanya adalah akun palsu sehingga membuat rugi si pembeli. Lalu biasanya pembeli menerima barang rusak atau cacat. Kelima solusi untuk mengatasi permasalahan jual beli menggunakan jejaring sosial. solusi saat berinteraksi menggunakan jejaring sosial saat jual beli, penjual atau pembeli bisa menggunakan wifi saat sinyal susah, melakukan pembelian terhadap akun yang sudah di percaya sehingga meminimalisir penipuan saat pemabayaran, melakukan layanan purna jual atau memberikan garansi kepada pihak pembeli saat terjadi kekeliruan atau kerusakan barang yang diterima. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain: untuk penjual sebaiknya barang yang jual harus sesuai dengan apa yang di tampilkan di jejaring sosial, penjual harus bersikap jujur dan tidak merugikan pembeli.sedangkan untuk pembeli harus lebih berhati-hati saat akan melakukan transaksi pembelian dan bisa mengkonfrmasi lebih dahulu.                

    peran pemuda dalam melestarikan nilai-nilai moral seni budaya jaranan jawa di desa sekoto kecamatan badas kabupaten kediri

    No full text
    ABSTRAK Saputro, Febby. 2018. Peran Pemuda dalam Melestarikan Nilai-nilai Moral Seni Budaya Jaranan Jawa di Desa Sekoto Kecamatan Badas Kabupaten Kediri. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M,Si (II) Dr. Yuniastuti, SH., M,PdKata Kunci: Pemuda, Nilai-nilai Moral, Jaranan.Pemuda merupakan generasi penerus bangsa yang seharusnya banyak berpikir dan bergerak untuk menghidupkan serta mengembangkan kebudayaan yang sudah ada untuk memajukan kebudayaan agar tidak termakan oleh masuknya budaya asing yang masuk karena dampak globalisasi. Dalam budaya tertentu selalu ada pesan nilai-nilai moral yang disampaikan. Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan kepada penerapan nilai-nilai moral pada budaya jaranan. Jaranan memiliki arti tersendiri yaitu “belajaro seng tenanan” (belajarlah yang sungguh-sungguh). Memang begitu banyak daerah dikabupaten Kediri yang melestarikan budaya ini misalnya di Desa Sekoto Kecamatan Badas Kabupaten Kediri ada beberapa klub seni tari jaranan yang ada yang melestarikan seni budaya  jaranan.Fokus penelitian yang diambil adalah (1) Sejarah seni budaya Jaranan Jawa di Desa Sekoto Kecamatan Bads kabupaten Kediri; (2) Nilai-nilai moral yang terkandung dalam seni budaya Jaranan Jawa; (3) Peran pemuda dalam melsetarikan seni budaya Jaranan Jawa di Desa Sekoto Kecamatan Badas Kabupaten Kediri; (4) Kedala dalam melestarikan seni budaya Jaranan Jawa di Desa Sekoto Kecamatan badas Kabuoeten Kediri; (5) Usaha mengatasi kendala dalam melestarikan seni budaya Jaranan Jawa di Desa Sekoto Kecamatan Badas Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif serta pengecekan keabsahan temuan menggunakan teknik triangulasi.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada paparan data dan temuan data, serta pembahasan, maka dapat dijelaskan bahwa (1) Sejarah seni budaya Jaranan Jawa di Desa Sekoto adalah pada tahun 1998 ketika ada gerakan peduli seni budaya Jaranan tetapi hanya sekilas kemudian bubar lagi dan resmi berdiri serta memliki nomor induk resmi pada tahun 2000; (2) Nilai-nilai moral yang terkandung dalam seni budaya Jaranan Jawa disetiap babak memiliki nilai moral yang terkandung didalamnya yaitu (a) babak pertama, ketika bapa melakukan sesuguh nilai moral yang dapat diambil adalah nilai religius dan sikap menghargai, pada tariannya yaitu babak pertama adalah Jaranan yang ditampilkan dengan menampilkan berbagai macam gerak yaitu ada gerak lenggang kangkung, gedrik belakang, gerak tunjang, gedhuk-gedhuk, engklek kebelakang, maju mundur, dan tari payung, nilai-nilai moralnya yaitu, berhati-hati dalam hidup, religius, sikap menghargai, bersyukur, memiliki sikap sosial, memiliki tata krama atau sopan santun, rendah diri, sadar diri, bertaqwa, (b) Babak kedua, yang ditampilkan adalah tarian Jaranan dan Celengan, nilai-nilai moralnya yaitu, kerja keras, tidak ceroboh dalam kehidupan dan memiliki sikap ulet, (c) Babak ketiga, yang ditampilkan adalah tarian Jaranan dan Pentulan, nilai-nilai moralnya yaitu, memiliki sifat menghargai, (d) babak keempat dan penutup biasa disebut dengan rampokan, nilai-nilai moralnya adalah harus mengalahkan sifat angkara murka, dan harus menerapkan kebaikan atau nahi munkar( mencegah angkara murka); (3) Peran pemuda dalam melestarikan seni budaya Jaranan Jawa di Desa Sekoto  sangat aktif dan antusias bahkan sangat viral karena sangat sedikit kalangan tua dan lebih banya kalangan pemuda yang aktif; (4) Kendala dalam melestarikan seni budaya Jaranan Jawa adalah masalah niat, keuangan dan kepemimpinan; dan (5) Usaha mengatasi kendala dalam melestarikan seni budaya Jaranan Jawa yaitu dengan cara memberikan masukan dan penguatan, serta dengan memusyawarahkan.Saran yang dapat diberikan adalah (1) Bagi pemuda Desa Sekoto kecamatan Badas Kabupaten Kediri, sebaiknya seni budaya Jaranan Jawa di Desa Sekoto tetap dijaga kelestariannya agar tetap menjadi icon Kabupaten Kediri dan terus meningkatkan kesadaran niat untuk berbudaya; (2) Bagi sesepuh/tokoh dan pemimpin Jaranan di Desa Sekoto, tidak perlu sungkan untuk membangkitkan semangat pemuda dalam melestarikan seni budaya Jaranan Jawa agar tidak punah, dan terus meyakinkan pemuda bahwa seni budaya Jaranan bukanlah tarian pengabdi setan; (3) bagi Masyarakat Desa Sekoto, tetap mendukung agar pemuda di Desa sekoto terus melestarikan seni budaya Jaranan, harus menghilangkan persepsi bahwa Jaranan adalah pengabdi setan; (4) Bagi perangkat Desa Sekoto, memberikan dukungan kepada paguyuban dan pemuda untuk melestarikan seni budaya Jaranan agar tidak dikenal di Kabupeten Kediri saja

    Penerapan Prinsip Profesionalisme Pada Kinerja Aparatur Pemerintah Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun

    No full text
    ABSTRAK Kafat, Darsanudin . 2018. Penerapan Prinsip Profesionalisme Pada Kinerja Aparatur Pemerintah Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si (II) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si.Kata Kunci: Prinsip, Profesionalisme, Kinerja, Aparatur pemerintah.Profesionalisme merupakan cerminan dari keterampilan dan keahlian aparatur yang dapat berjalan efektif apabila didukung dengan kesesuaian tingkat pengetahuan atas dasar latar belakang pendidikan dengan beban kerja yang menjadi tanggung jawabnya dan juga sebagai cerminan potensi diri yang dimiliki aparatur, baik dari aspek kemampuan maupun aspek tingkah laku yang mencakup loyalitas, inovasi, produktivitas dan kreatifitas. Menjalankan roda pemerintahan, pemerintah desa harus menerapkan prinsip profesionalisme kepada aparat yang telah diatur oleh peraturan yang berlaku. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan judul Penerapan Prinsip Profesionalisme Pada Kinerja Aparatur Pemerintah Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan prinsip profesionalisme pada kinerja aparatur pemerintah Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun, mendeskripsikan kendala yang dihadapi Pemerintah Desa Dagangan dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa, dan mendeskripsikan solusi yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Dagangan terhadap kendala yang dihadapi Pemerintah Desa Dagangan dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi Penelitian ini berada di Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Sumber data peneliti yaitu manusia, dokumen, dan peristiwa. Manusia yang menjadi informan yaitu Rudi Panca Widadi (kepala desa), Joko Suprianto (sekretaris desa), perangkat desa (Suyut, Nur Cholis, Nasarudin Latif), dan para warga(Kateno, Suratman, Nurpiyati, Hadi Siswanto dan Endang Handayani). Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan  wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, serta diakhiri dengan memberikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan menggunakan teknik trianggulasi.Temuan penelitian ini adalah: (1) Penerapan prinsip profesionalisme pada kinerja aparatur pemerintah desa Dagangan dapat dilihat dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan publik, perencanaan dan pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam pelayanan publik prinsip profesionalisme kurang diterapkan oleh aparat desa Dagangan hal ini dapat diukur dengan: memiliki semangat berkinerja yang tinggi dibuktikan dengan buka pelayanan dengan tepat waktu namun masih terdapat yang terambat, sikap responsif dari aparat terhadap warga yang datang untuk mengurus keperluan dikantor; patuh pada asas yang berlaku dibuktikan dengan dalam menjalankan tugas dan fungsinya para aparat berpedoman pada SOP yang berlaku, namun tidak bisa menunjukkan SOP tersebut. Dan masih terdapat aparat yang kurang disiplin; kreatif dan inovatif ini kurang diterapkan karena inovasinya berupa semua aparaat bisa memberikan pelayanan tanpa memandang tugas dari jabatan ini berbenturan dengan tupoksi dari seorang aparat, melakukan pelayanan jemput bola, melakukan sosialisasi terkait program kerja yang dilaksanakan; serta memiliki kualifikasi dibidangnya yang dibuktikan dengan perekrutan sesuai peraturan, meskipun demikian semua aparat bisa memberikan pelayanan meskipun bukan tugas dari jaban yang diembannya, hal ini juga berbenturan dengan tupoksi setiap aparat. Kemudian dalam perencanaan dan pembangunan para aparat sudah menerapkan profesionalnya dengan mengikuti standart operasional prosedur yang berlaku. Dan dalam sudah menerapkan keprofesionalannya dalam tugas memberdayakan masyarakat dengan melalui pelatihan, program posyandu, dan pengelolaan sampah (2) kendala yang dihadapi dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa Dagangan adalah masih terdapat aparat yang kurang disiplin terhadap peraturan yang berlaku yang dibuktikan dengan terdapat aparat yang datang terlambat maupun ada aparat yang keluar kantor pada saat jam kantor belum tutup. Kemudian permasalahan dalam pembangunan seperti cuaca yang kurang mendukung, keterlambatan material, dan kesadaran merawat dan memelihara. (3) Solusi yang dilakukan pemerintah desa Dagangan untuk mengatasi kendala kedisiplinan adalah langkah pembinaan di pemerintah desa yaitu pada setiap hari senin dilakukan apel kinerja, selain itu aparat desa Dagangan juga mengikuti pembinaan di kecamatan Dagangan yang diikuti oleh aparat desa diseluruh kecamatan Dagangan, kemudian solusi atas permasalahan pembangunan adalah memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin, memberitahukan kepada toko yang bermitra untuk segera mengirim material, serta melakukan sosialisasi dan pemasangan papan iklan untuk merawat sarana yang telah dibuat. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan: (1) Pemerintah Desa Dagangan perlu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dari perangkat desa dengan cara mengadakan pembinaan serta pelatihan-pelatihan bagi aparat untuk meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugas dan fungsinya. (2) Melakukan inovasi terhadap solusi yang dilakukan agar segala permasalahan yang dihadapi terselesaikan dengan baik. (3) Kepala Desa Dagangan diharapkan melakukan pendekatan yang lebih kepada aparat dibawahnya secara personal. (4) Para aparat desa Dagangan diharapkan lebih mengedepankan prinsip profesional dan etika dalam berprofesi, selain itu turut berperan dalam acara pembinaan ataupun pelatihan-pelatihan baik yang diselenggaraakan oleh pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten

    Pola Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.

    No full text
    ABSTRAK Kedudukan agama di Indonesia memiliki kedudukan yang sah yang tercantum dalam Bab XI UUD NRI 1945 tentang agama pasal 29 yang terdiri dari 2 ayat : (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu. Bangsa Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, agama, dan kebudayaan. Negara Indonesia mengakui keberadaan 6 agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia yakni : Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Setiap individu dapat dikatakan terlibat dalam pluralitas apabila individu tersebut dapat menjalankan hal positif dalam kemajemukan, tidak hanya pengakuan terhadap agama dan hak agama saja, namun juga berperan dalam memahami semua perbedaan untuk mencapai kerukunan. Penulis membahas tentang Pola Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.Tujuan Penelitian ini : (1) Mengetahui ragam kehidupan pemeluk agama di Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, (2) Mengetahui kondisi terkini tempat peribadatan pemeluk agama di Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, (3) Mengetahui bentuk kerukunan antar umat beragama di desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang,(4) Mengetahui kendala dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, (5) mengetahui solusi mengatasi hambatan dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari Kepala Desa Pandanrejo, Tokoh Agama Pandanrejo, Tokoh Masyarakat, Masyarakat Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan wawancara, studi dokumentasi, dan observasi. Analisis data yang dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi).Hasil penelitian adalah : (1) Ragam kehidupan Pemeluk Agama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang sebagian besar masyarakat Desa Pandanrejo melakukan kegiatan sehari-hari dengan cara bertani, dalam bidang keagamaan kelompok jamaah tahlil dan tadarus al-quran; (2) Kondisi terkini tempat peribadatan pemeluk agama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang Tempat ibadah umat Islam ialah masjid dan mushollah, masjid berjumlah 7 buah, dan mushollah berjumlah 21 buah. Tempat ibadah umat Hindu ialah Pura. Tempat ibadah umat Kristen di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang tidak tersedia; (3) Bentuk kerukunan antar umat beragama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang malam dirakatan di Punden, hajatan massal di Punden, istiqasah akbar,kegiatan wayang,kegiatan santunan Desa Pandanrejo, kegiatan karang taruna, pentas seni, perayaan ogok-ogok keliling, sarasehan umat Hindu; (4) Kendala dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang tidak tersedianya fasilitas Gereja bagi umat Kristen, pendanaan tempat ibadah yang masih kurang, kendala dana dalam kegiatan pagelaran wayang yang kurang, kendala kekurangan tenaga manusia dalam kegiatan perayaan ogok-ogok keliling, kendala tidak adanya tempat yang tersedia bagi karang taruna, kendala kurangnya dana dalam kegiatan sarasehan umat Hindu di Balai Desa Pandanrejo, jumlah fakir miskin dan donatur yang tidak seimbang kendala dalam kegiatan santunan desa, Orang yang mengikuti hanya orang-orang itu saja setiap tahun kendala dalam kegiatan, alat peraga yang harganyanya mahal dan belum ada wadah untuk menampung anak yang mempunyai kreasi kesenian; (5) Solusi mengatasi kendala dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang masyarakat yang tidak memiliki tempat ibadah ialah dengan cara melakukan ibadah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Kebon Agung, masyarakat muslim melakukan shadaqah ke tempat peribatan umat Islam (masjid) dan doa arwah satu orang bernilai seribu rupiah, setiap jumat membongkar kotak amal, sumber dana berasal dari iuran umat hindu sendiri yang disebut puniah, masyarakat membantu pihak desa dengan memberikan bantuan dari setiap  kartu keluarga berupa uang”, diatur yang biasanya ogok-ogok diangkat oleh 12 sampai 15 orang namun sekarang jumlahnya dikurangi dari jumlah biasanya, MI Thoriqul Huda Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang menfasilitasi tempat bagi karang taruna, tambahan dana untuk kegiatan berasal dari sumbangan umat Hindu, semua dana yang terkumpul dijadikan menjadi satu, diperlukan bantuan pihak aparat desa dan tokoh masyarakat, alat peraga yang digunakan sebaiknya alat peraga yang sederhana. Berdasarkan  penelitian  yang  telah dilaksanakan, peneliti menyampaikan beberapa saran yaitu : (1) Seluruh warga Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang untuk tetap menjaga dan mempertahankan kerukunan antar umat beragama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, (2) Pemerintah memberikan dukungan spiritual dan material agar kerukunan antar umat beragama di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dapat tetap terjaga, (3) Para mahasiswa diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kerukunan antar umat beragama dan termotivasi melakukan penelitian lanjutan sebagai penyempurna dari hasil penelitian tentang kerukunan antar umat beragama

    PENGERTIAN DAN MANFAAT PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

    No full text
    Tulisan ini memaparkan pengertian dan manfaat pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan pembelajaran yang memotivasi siswa melalui permasalahan yang otentik dengan maksud untuk mengembangkan pengetahuannya secara efisien, kontekstual dan terintegrasi. Adapun manfaat dari pembelajaran berbasis masalah diantaranya meningkatkan daya ingat dan pemahaman atas materi ajar, mendorong untuk berpikir, membangun kerja tim, kepemimpinan dan keterampilan sosial serta memotivasi peserta didik

    PELESTARIAN WARISAN BUDAYA MAJAPAHIT DI KECAMATAN TROWULAN KABUPATEN MOJOKERTO

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini  bertujuan untuk mendeskripsikan upaya pelestarian warisan budaya Majapahit di Trowulan yang meliputi (1) ragam warisan budaya Majapahit yang berada di Trowulan; (2) upaya yang dilakukan dalam pelestarian warisan budaya Majapahit di Trowulan; (3) kendala yang terjadi dalam upaya pelestarian warisan budaya Majapahit di Trowulan; (4) dampak yang terjadi dalam upaya pelestarian warisan budaya Majapahit di Trowulan.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode hermeneutika. Dalam mencari data dari informan yang terdiri dari budayawan lokal yang berada di Trowulan, masyarakat Trowulan, serta pihak Museum Trowulan. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, analisis data dan penyimpulan. Untuk menjamin kebasahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara sebagai berikut perpanjangan keikutsertaan, ketekunan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini dijabarkan sebagai berikut, pertama pemahaman masyarakat tentang warisan budaya Majapahit yang berada di Trowulan. Kedua upaya-upaya nyata yang dilakukan dalam pelestarian warisan budaya Majapahit (1) membentuk sebuah komunitas peduli warisan budaya Majapahit; (2) mengadakan kegiatan kirab budaya Majapahit; (3) menjaga dan merawata candi; (4) melestarikan kerajinan cor kuningan,terracotta dan pahat patung melalui kegiatan industri kecil menengah; (5) membangun rumah majapahitan. Ketiga kendala yang terdapat dalam upaya pelestarian warisan budaya Majapahit (1) kendala berupa dana; (2) kesadaran masyarakat; (3) kurangnya kerja sama antara pemerintah dan budayawan lokal . Keempat dampak yang terjadi dalam upaya pelestarian warisan budaya Majapahit yaitu (1) dampak ekonomi; (2) dampak sosial budaya. Saran yang diberikan peneliti bahwa masayarakat perlu diberikan sosialisasi mengenai apa saja warisan budaya Majapahit. Kedua dalam upaya melestarikan warisan budaya Majapahit pemerintah lebih banyak melibatkan masyarakat khususnya masyarakat Trowulan. Ketiga kerja sama antara budayawan lokal dan pemerintah harus lebih baik lagi dalam upaya pelestarian warisan budaya Majapahit.   Kata Kunci: warisan, pelestarian, budaya, Majapahit, Trowulan. The purpose of this research is to described preserving cultural heritage of majapahit in trowulan that covers (1) variety of majapahit cultural heritage that is in trowulan; (2) the efforts made in the preservation of cultural heritage of majapahit in trowulan, (3) the obstacles in preserving cultural heritage of majapahit in trowulan, (4) the impact of that occurs in preserving cultural heritage in trowulan majapahit. This study adopted qualitative approaches descriptive of with the methods hermeneutika. In search of the data from an informant who consisting of cultural observers of foreign currency bank deposits that they are located in trowulan , the community trowulan , as well as the museum trowulan. The collection of data will be paid out starting with the methods pt pgn promised to supply: observation , the objective of the interview , and documentation of .Of the data analysis done by means of gather heads of local governments and to check the data obtained from the the field , the reduction of the data , data analysis and summary.In order to ensure the bridge data obtained the fire victims , researchers conducted of checking the data with as follows an extension of the participation of the , of steadfast patience and endurance , and triangulation of. The result of this research described as follows , first the understanding of the community about cultural heritage that is in trowulan majapahit. Second real efforts that are undertaken in the preservation of cultural heritage of majapahit (1) form a community care cultural heritage of majapahit; (2) conducting activities sugarcanes culture majapahit, (3) maintain and temple; (4) preserve the craft cast brass , terracotta and chisel the statue through the activities of small medium; (5) majapahitan building a house. Of the three constraints that was found in preserving cultural heritage of majapahit (1) obstacles in the form of funds; (2) public awareness, (3) the lack of cooperation between the government and local cultural .Fourth the impact of that occurs in preserving cultural heritage of majapahit which are (1) economic impact; (2) the impact of social and cultural. Advice provided group of researchers from that communities need to be given socialization regarding what comes to you of the heritage of culture of majapahit to. Second in an effort to preserve their own cultures of majapahit to the government involves the community especially among the trowulan. Third cooperation between cultural observers local and reason the government should also get better and better in an effort to the preservation of the heritage of culture of majapahit to.   Keywords: Preservation, Inheritance, Culture, Majapahit, Trowula

    SISTEM POLITIK DAN PEMERINTAHAN ERA KEPEMIMPINAN ABDURRAHMAN WACHID

    No full text
    RINGKASAN K.H Abdurrahman Wachid (Gus Dur) adalah ketua Nahdatul ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Abdurrahman Wachid terpilih menjadi presiden ke empat menggantikan B.J habibie.   Selama kepemimpinannya, K.H Abdurrahman Wachid berusaha mendorong pluralisme dan keterbukaan. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan adanya kebijakan yang memberikan kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Namun, banyak pro dan kontra perihal masa kepemimpinan presiden K.H Abdurrahman Wachid. Pasalnya Gus Dur juga mengeluarkan berbagai kebijakan yang dinilai Kontroversial dengan MPR dan DPR, yang dianggap berjalan sendiri, tanpa mau menaati aturan ketatanegaraan, melainkan diselesaikan sendiri berdasarkan pendapat kerabat dekatnya, bukan menurut aturan konstitusi negara. Kata Kunci: kepemimpinan , politik, pemerintaha

    Peningkatan Kualitas Pendidikan melalui Pembangunan Masyarakat Berbasis Program Kecakapan Hidup (Life Skill)

    No full text
    RINGKASAN Peningkatan pendidikan melalui pembangunan berbasiskan kepada program life skill memberikan pengalaman serta keterampilan kepada warga belajar terutama kepada masyarakat untuk memiliki keterampilan yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan perekonomiannya. Beberapa jenis kecakapan hidup yang salah satunya adalah kecakapan vokasional, yaitu suatu kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat atau lingkungan warga belajar. Melalui kegiatan vokasional atau keterampilan tertentu, akan menambahkan keterampilan kepada masyarakat dalam penguasaan bidang tertentu yang berguna untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kata kunci: pembangunan masyarakat, program kecakapan hidup (life skill

    Nilai-Nilai Karakter Nasionalis dalam Trilogi Novel Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi

    No full text
    RINGKASAN Abstrak: Karakter nasionalis merupakan salah satu karakter yang memerlukan penguatan, pasalanya karakter nasionalis mampu menjadi semangat, serta memberikan dorongan dan menjadi kekuatan untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita negara. Namun, yang menjadi problematika saat ini adalah mulai lunturnya karakter nasionalis dalam kehidupan masyarkat Indonesia, hal ini dapat kita amati dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan jalur pendidikan. Karena pendidikan merupakan suatu proses mengubah tabiat. Pembelajaran dalam dunia pendidikan karakter paling efektif dilakukan dengan metode keteladanan. Kajian ini dilakukan untuk memberikan referensi bagi dunia pendidikan dalam hal keteladanan. Kajian ini menganalisi mengenai nilai-nilai karakter nasionalis yang bisa dijadikan teladan atau contoh serta diambil manfaatnya dalam dunia pendidikan, serta dalam kehidupan masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka atau library research. Pendekatan yang digunakan dalam pendekatan ini adalah pendekatan pragmatik. Untuk teknik pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi, Sedangkan untuk analisis datanya menggunakan analisis isi atau content analisys. Hasil dari kajian ini bahwa nilai karakter nasionalis dalam triogi novel negeri 5 menara, adalah : (1) nilai karakter cinta tanah air, wujud karakternya: selalu membawa bendera merah putih, setia kepada Indonesia, memperbaiki Indonesia, dan memperingati hari pahlawan (2) nilai karakter rela berkorban, wujud karakternya berupa pengorbanan waktu, tenaga, dan pemikiran, (3) nilai karakter menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia, (4) nilai karakter menjaga keragaman budaya bangsa, wujud karakternya: menyanyikan lagu lokal Indonesia serta mengadakan pameran budaya dan makanan tradisional Indonesia. Kata kunci: Nilai, Karakter, Nasionali

    KINERJA APARATUR PEMERINTAH DESA DALAM PELAYANAN PUBLIK DI DESA SURENLOR KECAMATAN BENDUNGAN KABUPATEN TRENGGALEK

    No full text
    RINGKASAN Penelitian yang dilakukan di Desa Surenlor Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek bertujuan untuk menjelaskan jenis pelayanan yang diberikan aparatur pemerintah desa dalam pelayanan publik, kinerja aparatur pemerintah desa dalam pelayanan publik, hambatan yang dihadapi aparatur pemerintah desa dalam pelayanan publik, serta upaya yang dilakukan dalam mengatasi hambatan yang dihadapi aparatur pemerintah desa dalam pelayanan publik. Temuan penelitian ini antara lain Jenis pelayanan yang diberikan aparatur pemerintah desa Surenlor dalam pelayanan publik ditemukan enam jenis pelayanan. Kinerja aparatur pemerintah desa Surenlor  dalam pelayanan publik sudah baik, terlihat dari pelayanan dasar yang harus diterima oleh masyarakat sudah dijalankan oleh aparatur  pemerintah desa, namun kedisiplinan dari aparatur pemerintah desa masih kurang juga dibahas mengenai hambatan dan upaya yang dilakukan aparatur pemerintah desa dalam pelayanan publik di Desa Surenlor Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek. Kata kunci: Kinerja, Aparatur pemerintah desa, Pelayanan publi

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇