SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    Nilai-nilai yang Terkandung dalam Upacara “Dilem” di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang

    No full text
    Andini Dwi, Maya. 2018. Nilai-nilai yang Terkandung dalam Upacara “Dilem” di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan , Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd., M.Si (2) Dr. Siti Awaliyah, S.Pd, M.Hum. Kata Kunci : Upacara, Nilai, Dilem Upacara selametan (selamatan) dan upacara tradisi merupakan upacara kecil dalam sistem religius Jawa. Orang Jawa yang melakukan upacara tradisional bukan hanya semata-mata melakukan upacara yang tidak mempunyai arti, tetapi mereka melakukan upacara dengan suatu tujuan tertentu yang sudah mereka yakini dari zaman nenek moyang, seperti diberi keselamatan, mendapatkan berkah dari Sang Pencipta, dikaruniai kekayaan dan sebagainya. Upacara bersih desa akan menghasilkan nilai-nilai yang baik bagi masyarakatnya, nilai-nilai yang terkandung dalam upacara bersih desa sangat luas. Selain nilai yang terkandung di dalam upacara bersih desa partisipasi masyarakat dalam tradisi bersih desa juga sangatlah penting. Partisipasi masyarakat tersebut dimulai dari merencanakan, melaksanakan sekaligus mengamati dari berlangsungnya acara tersebut. Penelitian yang berjudul Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Upacara “Dilem” di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang bertujuan mendeskripsikan, (1) prosesi Upacara “Dilem” di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, (2) partisipasi masyarakat dalam Upacara “Dilem” di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, (3) nilai-nilai yang terkandung dalam Upacara “Dilem” yang ada di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Sumber data ialah informan, peristiwa, dan dokumen. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahap analisis data dengan menggunakan pendapat yang dikemukakan oleh Moleong. Keabsahan data dengan perpanjangan pengamatan dapat diakhiri. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, dapat diperoleh empat hasil penelitian sebagai berikut. (1) Prosesi Upacara”Dilem” di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dilaksanakan selama 7 hari sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberikan hasil panen yang melimpah, selain itu juga untuk melestarikan budaya yang ada agar tidak punah. Acara yang ada dalam prosesi Upacara “Dilem” yaitu (a) Gondowangi Carnival, (b) Pagelaran Tari Nusantara, (c) Pagelaran Wayang Pancasila, (d) Pagelaran Wayang Krucil, (e) Pagelaran Tari Kalimantan, (f) Ritual Slametan, (g) Pagelaran Wayang Kulit. (2) Partisipasi masyarakat dalam Upacara “Dilem” di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang yaitu partisipasi yang diberikan masyarakat Gondowangi bagus dalam membantu jalannya Upacara “Dilem”. Dalam Upacara “Dilem” masyarakat berpartisipasi dalam bentuk tenaga dan dalam bentuk materi. Masyarakat Gondowangi adalah masyarakat yang mempunyai tingkat kepedulian yang bagus dan ketika ada Upacara “Dilem” tanpa digerakkan masyarakat Gondowangi sudah langsung ikut berpartisipasi membantu. Partisipasi yang diberikan oleh masyarakat Gondowangi dibagi menjadi dua yaitu (a) Partisipasi Aktif, (b) Partisipasi Pasif. (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam Upacara “Dilem” yang ada di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang tidak hanya satu nilai saja tetapi ada beberapa nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam Upacara “Dilem”  yaitu (a) Nilai Religius, (b) Nilai Ekonomi, (c) Nilai Toleransi, (d) Nilai Kerja Sama, (e) Nilai Kerukunan, (f) Nilai Gotong Royong, (g) Nilai Kekeluargaan. Saran yang diberikan oleh penulis yaitu (1) Upacara “Dilem” di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang hendaknya dilestarikan dan dijaga, agar Upacara “Dilem” tidak tergeser perkembangan zaman, (2) Bagi masyarakat yang partisipasinya masih pasif dan kurang aktif hendaknya perlu untuk diberikan sosialisasi agar lebih terlibat aktif dalam kegiatan desa, (3) Perlu dibuatkan buku tentang Upacara “Dilem” supaya masyarakat lebih mengetahui cerita dan nilai-nilai yang terkandung dalam Upacara “Dilem” sehingga dapat menjadi pedoman bagi masyarakat Gondowangi dan lebih menambah pengetahuan untuk masyarakatnya sendiri

    Persepsi Masyarakat terhadap Pementasan Reyog Obyog sebagai Wujud Pelestarian Kesenian Daerah Kabupaten Ponorogo

    No full text
    ABSTRAK   Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang mempunyai kesenian daerah, yaitu Reyog Ponorogo. Reyog Ponorogo sebagai kesenian rakyat yang ditampilkan dengan beberapa versi, yaitu versi Reyog Festival dan versi Reyog Obyog. Atas dasar pembagian versi Reyog Ponorogo tersebut, maka masing-masing individu mempunyai persepsi yang berbeda-beda dalam menanggapi versi Reyog Ponorogo tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap pementasan Reyog Obyog sebagai wujud pelestarian kesenian daerah Kabupaten Ponorogo.  Reyog Obyog merupakan hiburan masyarakat yang tidak memiliki aturan tertentu atau bersifat bebas dan spontan, sorotan utama pada pementasan Reyog Obyog adalah adanya Dhadhak Merak dan Jathil Obyog dengan pakaian khasnya. Edrekan adalah salah ciri khas pementasan Reyog Obyog, selain itu saweran juga biasa dilakukan untuk menambah kemeriahan. Pementasan yang cenderung bebas tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kebiasaan minum-minuman keras, selain itu adanya adegan edrekan dapat menimbulkan kesan yang kurang baik apabila dilihat oleh anak-anak. Namun, selain itu juga terdapat persepsi positif, yaitu dengan adanya Reyog Obyog dapat melestarikan warisan leluhur dan Reyog Obyog sampai saat ini masih menjadi suatu tontonan yang diminati. Kata kunci: Persepsi masyarakat, Reyog Obyog, kesenian daerah. ABSTRACT Ponorogo regency is one of the regencies in East Java Province that has a regional artistry, namely Reyog Ponorogo. Reyog Ponorogo as a folk art that is displayed with several versions, namely the version of Reyog Festival and the version Reyog Obyog. On the basis of the division of Reyog Ponorogo version, then each individual has a different perception in response to Reyog Ponorogo version. This study aims to describe the public perception of Reyog Obyog performances as a form of preservation of local arts district Ponorogo. Reyog Obyog is a community entertainment that has no specific rules or is free and spontaneous, the main highlight on the staging of Reyog Obyog is the existence of Dhadhak Merak and Jathil Obyog with their distinctive clothes. Edrekan is one of the typical staging of Reyog Obyog, besides saweran also commonly done to add festivity. Staging that tends to be free does not close the possibility to do drinking habits, in addition to the edrekan scene can cause a less good impression when seen by children. However, in addition there is also a positive perception, that is with the Reyog Obyog can preserve the ancestral heritage and Reyog Obyog until now still be a spectacle of interest.Keywords: Public perception, Reyog Obyog, local ar

    Sinau Sosial SMAN 9 Malang Sebagai Kegiatan Berbasis Pendidikan Karakter

    No full text
    ABSTRAK   Pendidikan karakter yang dilakukan oleh SMA Negeri 9 Malang antara lain adalah dengan pembiasan pada kegiatan sehari-hari seperti sholat berjamaah dhuhur dan ashar,kantin kejujuran yang menjual berbagai makanan ringan dan terdapat program pendidikan karakter yang disebut Sinau Sosial. Sinau Sosial adalah kegiatan yang melibatkan siswa-siswi untuk terjun secara langsung pada pengalaman bersosialisasi dengan masyarakat desa. Kegiatan Sinau Sosial dilaksanakan selama 3 hari di desa yang jauh dari kota dimana Siswa-siswi akan menginap di rumah-rumah warga. Siswa-siswi dituntut untuk berinteraksi dengan masyarakat dan mengikuti berbagai aktivitas yang dilakukan oleh keluarga yang ditempati siswa. Diadakan pula kegiatan lain seperti khotmil qur’an dimushola-mushola sekitar desa hingga kegiatan pentas seni yang dilakukan di lapangan. Latar belakang dilaksanakanya kegiatan Sinau Sosial adalah diperlukannya suatu kegiatan berbasis pendidikan karakter bagi siswa dengan melibatkan siswa untuk terjun secara langsung ke lingkungan yang masih terdapat kearifan-kearifan lokal. Dengan adanya kegiatan ini maka diharapkan untuk menjadi suatu proses penyadaran kembali kepada konsep-konsep tersebut

    Peran Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) dalam Menanamkan Nilai-nilai Pancasila Pada Anak Jalanan di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK Nirmalasari, Yeni. 2018. Peran Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) dalam Menanamkan Nilai-nilai Pancasila Pada Anak Jalanan di Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Margono, M.Pd, M.Si (2) Dr. Sri Untari. M.Si.Kata Kunci: Peran, Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT), Nilai-Nilai Pancasila, Anak Jalanan.Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur adalah salah satu lembaga yang bergerak khusus di bidang pembinaan terhadap anak jalanan di Kota Malang, pada saat ini banyak anak jalanan yang kurang perhatian, baik dari orang tua maupun dari pemerintah, sehingga kehidupan anak jalanan pada umumnya cendrung bebas. Maka dengan adanya Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur sangat berperan penting dalam membangun semangat anak jalanan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila yang diharapkan dapat merubah dan membangun rasa percara diri anak jalanan. Dimana penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Apa sajakah nilai-nilai Pancasila yang ditanamkan oleh Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur pada anak jalanan di koata Malang; (2) Bagaimana cara Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila pada anak jalanan di kota Malang; (3) Apa saja kendala yang di hadapi oleh Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila pada anak jalanan di kota Malang; dan (4) Bagaimana cara Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur mengatasi kendala dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila pada anak jalanan di kota Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskritif, yaitu pengumpulan data di lakukan dengan cara observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model Miles and Huberman yaitu dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh dari hasil penelitian, peneliti menggunakan: (1) Perpanjangan Keikutsertaan; (2) Ketekunan pengamatan; dan (3) triangulasi.Adapun hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: pertama Nilai-nilai Pancasila yang ditanamkan oleh Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur pada anak jalanan di kota Malang adalah: Nilai Ketuhanan, JKJT membiasakan anak jalanan untuk saling toleransi, menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing dan membiasakan untuk berdoa sebelum maupun sesudah memulai pembelajaran. Sedangkan nilai kemanusiaan, JKJT mengajarkan kepada anak jalanan untuk tidak membeda-bedakan tidak boleh ada diskriminasi bagi anak jalanan dan gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. Nilai persatuan, JKJT menanamkan nilai ini dengan cara mengikuti upacara bendera, rela berkorban untuk kepentingan bangsa yaitu dengan cara JKJT rela meluangkan waktu untuk membina anak jalanan. Nilai kerakyatan, JKJT menanamkan nilai ini dengan mengajarkan anak jalan selalu membiasakan untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan permasalahan. Dan nilai keadilan, JKJT mengajarkan pada anak jalanan untuk selalu adil dengan tidak membedakan antara relawan dan anak binaan.Kedua cara JKJT Menanamkan Nilai-nilai Pancasila pada anak jalanan yaitu melakukan pembisaan dalam kegiatan sehari-hari, melalui rumah belajar, melatih anak jalanan untuk mandiri seperti pelatihan fotografi, dan sering melakukan kegiatan kemanusiaan. Yang Ketiga kendala yang dihadapi oleh JKJT dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila pada anak jalan di kota Malang adalah keterbatasan pengetahuan JKJT akan latar belakang anak jalanan, kerasnya kehidupan anak jalanan di bawa hingga ke JKJT, kurangnya tenaga pendidik serta anak jalanan yang tidak tepat waktu. Sedangkan Keempat, cara JKJT mengatasi kendala dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila pada anak jalanan di  kota Malang adalah dengan selalu mengadakan koordinasi, melakukan pendekatan pada anak jalanan, memberi peringatan dan sanksi pada anak jalanan, dengan mencari tenaga pengajar lain yang berdomisili di kota Malang serta mengatur ulang jadwal dan memberi sanksi pada anak jalan yang sering terlambat datang ke rumah belajar.Saran yang diberikan oleh peneliti antara lain: Saran bagi Pemerintah Kota Malang supaya lebih mendukung kegiatan-kegiatan yang di adakan oleh Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur dalam membantu anak-anak jalanan di kota Malang seperti menyediakan fasilitas untuk anak jalanan ketika melakukan kegiatan. Saran bagi Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur, agar selalu memberikan pelayanan yang terbaik seperti selalu datang tepat waktu ke rumah belajar, memberi pembelajaran yang menarik sehingga anak jalanan semangat untuk belajar. Saran bagi masyarakat, sebaiknya bersikap lebih baik dan terbuka kepada anak jalanan, anak jalanan juga butuh berbaur dengan masyarakat bukan malah di jauhi maupun dimusuhi karena anak jalanan juga anak bangsa yang menjadi penerus bangsa Indonesia

    ANALISIS PENGGUNAAN INSTRUMEN UNTUK MENILAI KARAKTER SISWA (SIKAP SPIRITUAL DAN SIKAP SOSIAL) PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN KELAS X MADRASAH ALIYAH NEGERI 3 BANYUWANGI

    No full text
    ABSTRAK Abstrak: Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, menyebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi sebagai mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dan serta bertanggungjawab. Penelitian ini berupaya menganalisis pelaksanaan instrumen penilaiaan karakter pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas X di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi sebagai salah satu alat ukur  ranah efektif.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data yang diperoleh dari; hasil wawancara maupun hasil observasi peneliti dilapangan dalam hal ini adalah waka kurikulum Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi, guru PPKN Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi, dan siswa-siswi kelas X MIPA 3 Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi; sumber tertulis; dan dokumentasi. Prosedur pengumpulan data menggunakan tekhnik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunankan analisis kualitatif dengan model analisis interaktif. Pengecekan keabsahan temuan data dilakukan dengan cara triangulasi sumber sumber, triangulasi tekhnik dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi.Nilai-nilai karakter yang diajarkan di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi terdapat 18 karekter yaitu nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras,kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau kominikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial, peduli lingkungan dan tanggung jawab. Dalam penyusunan instrumen peniliaan karakter dengan membuat silabus, kemudian ditentukan nama sekolah atau madrasah, tema atau subtema, kelas atau semester, alokasi waktu, pertemuan, kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator pencapaiaan kompetensi, materi pembelajran, kegiatan pembelajaran, peniliaan atau evaluasi, dan tekhnik penilaiaan. Jenis-jenis instrumen yang digunakan dalam penilaian karakter ada empat yaitu tekhnik observasi, penilaiaan diri, penialiaan teman sejawat, dan jurnal. Dalam pelaksanaan isntrumen sendiri guru menilai lansung karakter siswa pada saat pembelajaran atau diluar kelas. Kendala yang dialami guru terlalu banyak jam, serta siswa yang banyak diam di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung. Solusi dengan memberikan motivasi kepada siswa agar mampu terlibat aktif dalam pembelajran serta pengurangan jam mengajar guru agar lebih efektif dalam penilaiaan karakter siswa.nilai-nilai karkter mampu dijalankan dengan baik agar pembetukan karakter mampu terbentuk dan digunakan dalam kegiatan sehari-hari mereka. Kata Kunci: Instrumen, karakter, menila

    Program Green, Clean And Character Building Sebagai Upaya Penanaman Pendidikan Karakter Peserta Didik Di SMK Negeri 1 Singosari.

    No full text
    ABSTRAK Annisa, Nila. 2018 Program Green, Clean And Character Building Sebagai Upaya Penanaman Pendidikan Karakter Peserta Didik Di SMK Negeri 1 Singosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Untari, M.Si (II) Dr. Didik Sukriono, SH., M.HumKata Kunci : Pendidikan Karakter, Green & Clean, Character BuildingPendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam tindakan nyata berupa tingkah laku seperti jujur, bertanggung jawab, kerja keras dan sebagainya dan di praktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini pendidikan karakter juga di tanamkan melalui program green & clean and character building pada peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui, (1) Program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari (2) Pelaksanaan program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMKN 1 Singosari (3) Hambatan  yang di hadapi pihak sekolah terkait program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMKN 1 Singosari (4) Dampak dari program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter peserta didik di SMKN 1 Singosari.Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data dan menyimpulkan data. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, dan triagulasi.Adapun hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari. Program dilaksanakan pada hari Jumat dengan pembagian dua siklus kegiatan yaitu kegiatan green & clean dan character building. Kegiatan green & clean merupakan kegiatan bersih-bersih dengan tiga aksi nyata yaitu pencegahan kerusakan lingkungan, perawatan seluruh area sekolah dan penanggulangan terhadap bencana. Character building di masjid merupakan pembentukan karakter dengan kegiatan keagamaan dimulai dari sholawat nabi, sholat dhuha, istighosah, siraman rohani dan doa di masjid sedangkan character building di aula dengan kegiatan pembinaan karakter di aula berupa sosialisasi dan penyuluhan . Kedua, dalam pelaksanaan program tersebut walikelas juga berpartisipasi dalam mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung. Masing- masing kelas mendapatkan jadwal kegiatan yang sudah di tentukan setiap tahunnya. Ketiga, hambatan yang di hadapi terkait program green & clean dan character building adalah terbatasnya sarana prasarana, ketidak hadiran walikelas, tidak ada buku panduan lengkap Adiwiyata, minimnya dana anggaran program. Keempat, output yang di hasilkan dari program green & clean dan character building  sebagai upaya penanaman pendidikan karakter tersebut, peserta didik dapat meningkatkan nilai-nilai spiritual, memiliki wawasan yang lebih luas dan siswa lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan  sekitar.Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain: untuk sekolah sebaiknya tetap mempertahankan dan meningkatkan sarana prasarana program green & clean dan character building serta dapat mengatasi hambata-hambatan dalam pelaksanaan program tersebut. Untuk peserta didik SMK Negeri 1 Singosari sebaiknya tetap semangat mengikuti program tersebut karena program tersebut sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk pemerintah daerah agar mendukung dan memberikan fasilitas bagi sekolah di wilayahnya. Serta untuk kementerian lingkungan hidup agar membuat buku panduan adiwiyata yang lebih baik

    Moralitas Remaja Dengan Kebiasaan Hidup Merantau Di Desa Keyongan Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan

    No full text
    ABSTRAK Sholihin, Ahsanus. 2018. Moralitas Remaja Dengan Kebiasaan Hidup Merantau Di Desa Keyongan Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.si, (II)   Dr. Sutoyo, S.H., M.Hum.Kata Kunci: Moralitas, Remaja, MerantauPermasalahan moralitas senantiasa muncul di tengah-tengah masyarakat, masalah tersebut hidup, berkembang dan membawa akibat tersendiri sepanjang masa dan sekarang muncul di kalangan para pelajar, banyak yang melakukan penyimpangan perilaku yang tidak sesuai dengan norma agama, norma hukum, dan norma susila, seperti penyalahgunaan narkoba, minum-minuman, keras, tawuran dan pergaulan bebas yang terkesan menjadi tren kehidupan anak remaja. Diberbagai desa mudah disaksikan perkembangan moralitas remaja yang terus tumbuh dan berkembang ke arah yang negatif, meski sebenarnya sudah cukup banyak upaya dilakukan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk mengurangi kenakalan pada remaja tersebut.Terbentuknya moralitas yang buruk terjadi karena kurangnya bimbingan dan pengawasan dari orang tua, salah satu penyebabnya karena remaja yang jauh dari orang tua, seperi halnya remaja yang sedang merantau. Di Desa Keyongan mayoritas remaja pergi merantau memiliki moralitas yang kurang baik seperti kebut-kebutan di jalanan, perilaku ugal-ugalan, urakan yang menganggu ketentraman lingkungan sekitar, perkelahian, serta minum-minuman keras mewarnai perilaku remaja Desa Keyongan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan alasan remaja Desa Keyongan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan memilih kebiasaan hidup merantau ke kota; Mendeskripsikan moralitas remaja Desa Keyongan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan; Mendeskripsikan permasalahan yang dialami remaja dengan kebiasaan hidup merantau di Desa Keyongan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan; Mendeskripsikan cara mengatasi permasalahan yang dialami remaja dengan kebiasaan hidup merantau di Desa Keyongan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data yang dipakai yaitu informan, peristiwa, dan dokumen. Informan disini yaitu informan dari kepala Desa Keyongan, Masyarakat Desa Keyongan dan remaja Desa Keyongan yang pergi merantau. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan diakhiri penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan cara triangulasi sumber dan triangulasi teknik pengujian data dengan membandingkan antara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Penyebab remaja Desa Keyongan merantau ke kota diantaranya karena kebiasaan keluarga yang mewariskan ilmu berjualan pecel lele kepada anaknya atau saudaranya, tidak tersedianya lapangan pekerjaan dan  keinginan remaja untuk mendapatkan pengalaman kerja yang lebih banyak. Bentuk moralitas remaja yang merantau dapat dibagi menjadi dua yaitu perilaku remaja baik seperti: a) memberikan uang kepada pengemis atau pengamen yang datang ke warung, b) libur pada saat ada tetangga yang meninggal untuk menghormati keluarga yang bersangkutan, c) menolong orang kecelakaan, d) memperbolehkan pelanggan berhutang saat tidak memiliki uang, e) sebelum berdagang izin terlebih dahulu kepada RT setempat. Sedangkan perilaku remaja buruk seperti: a) melihat balapan liar, b)pergi ke tempat karaoke yang ada penghiburnya, c) mabuk d) tidak melakukan sholat lima waktu, e) main judi, f) mengkonsumsi pil terlarang, g) ke tempat prostitusi. Permasalahan yang dialami remaja saat merantau diantaranya adalah rasa bosan, bertengkar dengan rekan kerja baik bos maupun pegawai, warung pecel lele sepi dan bos galak. Cara mengatasi permasalahan yang dialami remaja saat merantau antara lain, mencari kesibukan lain seperti main game, ngopi, karaoke, nongkrong, kumpul dengan teman-teman, membicarakan persoalan yang menyebabkan pertengkaran dan saling instropkesi diri sendiri, membicarakan dengan rekan kerja tentang kenapa warung sepi dan memikiran bagaimana cara agar warung bisa ramai,  diam saat dimarahi, menghiraukan perkataan yang disampaikan bos dan pulang ke kos atau ke kampung halaman.Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut. Bagi pemerintah Desa Keyongan agar mengalakan kegaiatan yang dilakukan oleh remaja. Bagi masyarakat Desa Keyongan agar lebih memperhatikan perilaku dari anaknya. Bagi remaja Desa Keyongan sebelum melakukan sesuatu tindakan memikirkan terlebih dahulu.                                                 ABSTRACT Sholihin, Ahsanus. 2018. The Morality of Teenagers With The wandering Live Habit In Keyongan Village, Babat Sub-district, Lamongan Regency. Thesis, Graduate Program Pancasila and Citizanship Education, Department of Law and Citizenship, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Counselor: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.si, (II) Dr. Sutoyo, S.H., M.Hum.Keywords: Morality, Youth, WanderingThe problem of morality frequently appear in the society, this problem is axist, develope and bring  its own results over time and many more irregularities that are inconsistent with religious norms, legal norms, and moral norms, such as drugs, liquor , bragging and promiscuity free is a trend of adolescent life. In various villages easy to watch the development of adolescent morality that continues to grow and develop in a negative direction, although in fact already quite a lot of efforts made, both by society and government to reduce delinquency in adolescents. Bad morality formed occurs due to lack of guidance and supervision of parents , one of this problem occurs because of teenagers who are live far from her parents, like the teenagers who are live wandering. In Keyongan Village, the majority of teenagers thatlive wandering have poor morality such as street racing, reckless behavior, urban disruption, fighting, and drinking alcohol are the behavior of Keyongan youth. This study aims to describe the reasons for the youth of Keyongan Village, Babat District, Lamongan Regency to choose the habit of living wandering to the city; Describe the morality of Adolescent Keyongan Village, District Babat, Lamongan Regency; Describe the problems experienced by adolescents with living habits wander in Keyongan Village, District Babat, Lamongan Regency; Describe how to overcome the problems experienced by adolescents with living habits wander in Keyongan Village, District Babat, Lamongan Regency.This research uses descriptive qualitative approach. The sources of data is collected from the informants, events, and documents. The nformants are from the head of the Keyongan Village, the Keyongan Village Village and the Keyongan Youth Village who went abroad. The data collection procedure is done by observation, interview, and documentation. Data analysis is done by collecting data, data reduction, data presentation and concluding withdrawal. Checking the validity of the findings is done by means of triangulation of sources and triangulation of data testing techniques by comparing interviews, observation, and documentation.Based on the data that has been collected, the research findings are as follows. Causes of teenage Keyongan Village migrated to the city among others because of family habits that inherited the science of selling pecel catfish to his son or sibling, unavailability of employment and the desire of teenagers to get more work experience. The form of morality of the wandering teenagers can be divided into two: good teen behavior such as: a) giving money to beggars or buskers who come to stalls, b) holidays when there are neighbors who died to honor the family, c) helping people accidents, d ) allows customers to make a debt when they have no money, e) before trading prior permission to the local ruler. While teenagers behaved badly: a) seeing wild races, b) going to a prostitute karaoke, c) drunk d) not doing five prayers, e) playing gambling, f) taking prohibited pills, g) visit the place of prostitution. Problems experienced by teenagers while wandering among them is a sense of boredom, a fight with colleagues both boss and clerks, the stand didnt have visitor and the boss is grumphy. How to overcome the problems experienced by teenagers while wandering among others, looking for other activities such as playing games, coffee, karaoke, hanging out, hanging out with friends, talking about the issues that cause quarrels and mutual instropkesi yourself, talk with colleagues about why the shop is empty and thinking how to make the stalls can be crowded, silent when scolded, ignore the words submitted by the boss and go back to the boarding house or to the hometown. The suggestion given by researcher after doing this research is as follows. For the Keyongan Village government to make an event that empoweringteenager. For the people of Keyongan Village, they must pay more attention to the behavior of their children. For Keyongan Village youth,they must think first before doing something

    Pesan Moral Anime Shigatsu Wa Kimi no Uso

    No full text
    ABSTRAK   Anime adalah film animasi dari Jepang, anime cukup terkenal di Indonesia karena beberapa film animasi dari Jepang sempat tayang di televisi Indonesia. Film animasi jepang memliki banyak genre yang beragam yang dibedakan berdasarkan ditujukan untuk umur penonton. nilai (value) yang berlaku dalam suatu lingkungan sosial dan mengatur tingkah laku seseorang. Maria Assumpta menambahkan bahwa pengertian moral adalah aturan aturan (rule) mengenai sikap (attitude) dan perilaku manusia (human behavior) sebagai manusia. Shigatsu Wa Kimi no Uso merupakan salah satu film animasi dari Jepang yang menceritakan tentang kehidupan siswa SMP yang memiliki trauma bermain piano. Film tersebut tayang di stasiun TV Jepang, meskipun tidak tayang di Indonesia tapi film tersebut dapat diakses melalui internet.Kata Kunci: Anime, Moral, Shigatsu Wa Kimi no Us

    PERSPEKTIF MASYARAKAT TERHADAP MINUMAN TUAK (Studi Masyarakat di Desa Gedongombo Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban)

    No full text
    ABSTRAK Kebiasaan yang tidak bisa di tinggal oleh masyarakat Tuban yakni mengkonsumsi minuman tuak dimana minuman tuak inni sudah ada sejak nenek moyang dan menjadi sejarah turun-temurun. Kabupaten Tuban terkenal dengan sebutan kota tuak, jadi tak heran bila di jumpai banyak warung-warung kecil yang berjualan minuman legen dan tuak. Masyarakat tuban sudah menganggap ini sebuah tradisi/budaya dari turun-temurun mengkonsumsi minuman tuak.Kata Kunci : Perpektif Masyarakat. Budaya Minum Tuak

    Model Pembelajaran personal model pertemuan kelas

    No full text
    ABSTRAK  Peserta didik memiliki kebutuhan yang terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan sifat dan karakteristiknya sebagai manusia. Karakteristik peserta didik sebagai keseluruhan kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil hubungannya antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya yang dapat menentukan dalam mewujudkan harapan meraih masa depan. Maka dari itu, diperlukan beberapa model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik ,yang salah satunya yaitu model pembelajaran personal yang menekankan pada pengembangan konsep diri setiap individu yang meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri. Model Pembelajaran ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesehatan mental dan emosional anak-anak .Model Pembelajaran Personal ini mepunyai beberapa rumpun yang salah satunya yaitu model pembelajaran pertemuan kelas, yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman diri dan tanggung jawab kepada diri sendiri serta kelompok sosial

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇