SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI KEKUASAAN KEHAKIMAN DALAM RANGKA PENEGAKAN HUKUM INDONESIA
ABSTRAK Kata kunci: implementasi kekuasaan kehakiman, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial. : Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan independent dan bebas dari cengkeraman kekuasaan mana pun dalam menjalankan tugas dan wewenangnya untuk menyelenggarakan peradilan demi terwujudnya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia. Pelaksana kekuasaan kehakiman terdiri atas Mahkamah Agung beserta badan peradilan di bawahnya dan sebuah Mahkamah Konstitusi. Implementasi kekuasaan kehakiman di masa reformasi ini masih lemah karena banyaknya praktik KKN dan mafia peradilan di lingkungan peradilan Indonesia. Independensi kehakiman sangat penting dalam rangka penegakan hukum nasional
PENGARUH PEMUTARAN ULANG FILM G 30 S/PKI TERHADAP MOTIVASI BELA NEGARA PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 1 WONOSARI KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Bela negara merupakan suatu tekad warga negara untuk mempertahankan keutuhan negara berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam rangka menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara. Indikator bela negara meliputi (1) Cinta tanah air (2) Kesadaran berbangsa dan bernegara (3) Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara (4) Rela berkorban unuk bangsa dan negara (5) Memiliki kemampuan awal bela negara. Tujuan dilakukan penelitian ini meliputi (1) Mengetahui pengaruh antara pemutaran ulang Film G 30 S/PKI terhadap motivasi bela negara (2) Mengetahui seberapa besar pengaruh antara pemutaran ulang Film G 30 S/PKI terhadap motivasi bela negara. Penelitian ini menggunakan motede kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 177 siswa. Peneliti mengambil 45 siswa sebagai responden dalam penelitian ini. Setelah melalukan pemutaran ulang film G 30 S/PKI, peneliti menyebarkan instrumen penelitian berupa angket dengan rincian untuk variabel X (Film G 30 S/PKI) sejumlah 20 item, sedangkan untuk variabel Y (Bela Negara) sejumlah 23 item. Keseluruhan item tersebut sudah mewakili masing-masing indikator variabel. Data penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan uji T. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa antara pemutaran ulang Film G 30 S/PKI terhadap motivasi bela negara memiliki pengaruh yang signifikan. Hasil perhitungan diperoleh sebesar 55.554 > 2.940. Artinya jika t hitung lebih besar daripada t tabel maka dapat dinyatakan bahwa variabel X berpengaruh terhadap variabel Y. Kemudian taraf signifikasi 5% yaitu ssebesar 0,00, menunjukkan bahwa tingkat pengaruhnya besar. Besarnya pengaruh yang diperoleh, dapat diihat dari beberapa indikator. Indikator cinta tanah air sebesar 25%, indikator kesadaran berbangsa dan bernegara sebesar 6,25%, indikator yakin akan Pancasila sebesar 18,75%, indikator rela berkorban sebesar 25%, serta indikator kemampuan awal bela negara sebesar 25%. Saran yang dapat diberikan kepada siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Wonosari, hendaknya motivasi bela negara yang ada pada diri masing-masing lebih ditingkatkan lagi. Tidak hanya dengan bantuan media film-film sejarah sebagai pendongkrak motivasi bela negara, namun hal-hal yang ada dilingkungan sekitar harusnya menjadi media dalam menerapkan sikap bela negara yang sudah sepatutnya selalu tercermin pada diri masing-masing siswa. Kata Kunci : Film, Bela Negara, Pengaruh Film Terhadap Perilak
P
ABSTRAK. Model pembelajaran Masyarakat Belajar merupakan proses pembelajaran antara individu satu dengan yang lainnya yang saling melakukan komunikasi dua arah . Model pembelajaran Masyarakat Belajar merupakan salah satu komponen CTL (Contextual Teaching Learning, karna dalam konsep CTL menyarankan agar pembelajaran dengan membentuk kelompok. Implementasi masyarakat belajar yaitu dengan membentuk kelompok yang terdiri dari 1 sampai 6 siswa kemudian diberikan sebuah topik bahasan. Kata kunci: pendekatan, model pembelajaran, masyarakat belaja
EFEKTIVITAS MEDIASI DALAM PENYELESAIAN PERKARA PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA TULUNGAGUNG
Perkawinan adalah suatu hal yang sangat sakral dalam masyarakat, dan pada umumnya pernikahan hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup dan juga dengan satu orang pasangan.Akan tetapi banyak masyarakat yang melupakan dari kesakralan pernikahan itu sendiri yang berujung pada perceraian. Untuk menyelesaikan sebuah perceraian maka harus dilakukan melalui Pengadilan. Dalam menyelesaikan sengketa atau perkara di pengadilan, maka jalan pertama yang ditempuh di sana akan ditawarkan sebuah bentuk perdamaian yang bernama mediasi. Mediasi ini dilakukan oleh orang ketiga atau disebut mediator. Mediasi sudah masuk keranah Pengadilan yang didasari oleh Peraturan Mahkamah Agung No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Penelitian ini di laksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi dari segi sumber data dan metode pengambilan data. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini antara lain adalah: (1) Persidangan perceraian di Pengadilan Agama Tulungagung dilaksanakan pada hari Senin sampai Kamis dengan 3 Majelis (2) Pelaksanaan mediasi dalam penyelesaian perkara perceraian di Pengadilan Agama Tulungagung masih belum efektif. Karenakan faktor psikologis para pihak yang bersengketa, fasilitas dan sarana yang belum memadai, serta sedikitnya hakim mediator di Pengadilan Agama Tulungagung.(3) Faktor yang dapat menentukan keberhasilan mediasi yaitu faktor internal yang berasal dari para pihak yang bersengketa, serta faktor eksternal yang berasal dari pihak mediator dan pihak ketiga atau dari pihak selain pihak-pihak yang bersengketa dan mediator. (4) Pengadilan Agama Tulungagung telah melakukan beberapa upaya yakni meningkatkan kemampuan mediator dengan mengikuti sertifikasi mediator tingkat Jawa Timur.Kata kunci: efektifitas, mediasi, perceraia
KARAKTER KARTINI DALAM FILM KARTINI KARYA HANUNG BRAMANTYO TAHUN 2017
Alur cerita film “Kartini” terdiri dari empat belas adegan dan alur cerita film merupakan alur campuran atau alur maju-mundur-maju. Karakter Raden Ajeng Kartini yang terdapat dalam film “Kartini" yaitu karakter religius, jujur, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial dan tanggung jawab. Karakter Raden Ajeng Kartini pada film ‘Kartini" dalam perspektif Penguatan Pendidikan Karakter yaitu bahwa tiga belas nilai karakter Raden Ajeng Kartini yang muncul dalam film “Kartini” merupakan tigas belas dari delapan belas nilai karakter Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Kata kunci: karakter, Kartini, film Kartini dan Penguatan Pendidikan Karakte
PERAN KOMUNITAS 1000 GURU MALANG DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN PEDALAMAN MELALUI PROGRAM TRAVELING AND TEACHING DI KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Pendidikan merupakan sarana atau tempat dalam memperbaiki sumber daya manusia, yang dilaksanakan oleh guru dalam memberikan pendidikan kepada peserta didik yang secara sistematis tersusun dalam tingkat pendidikan SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Pendidikan mempunyai beberapa faktor yang mendukung dalam proses pelaksanaannya yaitu faktor dari dalam (intern) yang meliputi kondisi fisik siswa baik jasmani maupun rokhani dan faktor dari luar (ekstern) yaitu keadaan lingkungan keluarga, sekolah dan masyrakat. Kedua faktor tersebut harus berjalan secara seimbang karena mempunyai peranan yang sama penting untuk menciptakan pendidikan yang dapat mencapai salah satu tujuan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hubungan yang saling memberikan dampak yang positif dalam membangun pendidikan yang lebih baik tidak terlepas dengan interaksi antar sesama baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Komunitas 1000 Guru malang merupakan para generasi penerus bangsa yang peduli terhadap pendidikan pedalaman di Kabupaten Malang melalui program komunitas yaitu traveling and teaching. Tujuan dilakukan penelitian ini meliputi: (1) latar historis berdirinya komunitas 1000 Guru Malang, (2) program traveling and teaching, (3) peran komunitas 1000 Guru Malang melalui program traveling and teaching dalam memajukan pendidikan pedalaman di Kabupaten Malang, (4) kendala yang dihadapi oleh komunitas 1000 Guru Malang dalam memajukan pendidikan pedalaman melalui program Traveling and teaching di Kabupaten Malang, dan (5) upaya komunitas 1000 Guru Malang untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam memajukan pendidikan pedalaman melalui program traveling and teaching di Kabupaten Malang.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Dalam mencari data dari informan yang terdiri dari anggota komunitas 1000 Guru Malang, pihak sekolah yang pernah dilakukan kegiatan traveling and teaching, dan relawan dari komunitas 1000 Guru Malang. Pengumpulan data tersebut menggunakan wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan mengeceknya ulang yang diperoleh dilapangan.Hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, latar historis berdirinya komunitas 1000 Guru Malang merupakan gabungan dari komunitas 1000 Guru yang ada di regional Malang, dengan memiliki tujuan yang sama yaitu peduli terhadap pendidikan pedalaman. Kedua, program traveling and teaching merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan dengan kegiata mengajar di sekolah pedalaman dan kegiatan mengunjungi wisata lokal. Ketiga, peran komunitas 1000 Guru Malang melalui program traveling and teaching yaitu: mengajar siswa, memberikan motivasi kepada siswa, memberikan penyuluhan gizi kepada siswa, peran peduli terhadap masyarakat dengan memberikan pelayanan kegiatan pengobatan gratis, peran dalam melatih siswa dalam kegiatan pentas seni, dan peran dalam mengembangkan wisata dengan mengunjungi tempat wisata. Keempat, kendala yang dihadapi oleh komunitas 1000 Guru Malang antara lain, miskomunikasi antar anggota tim, relawan, dan sponsorship, relawan yang kurang bertanggung jawab dalam mengikuti kegiatan, perizinan yang dipersulit, dan kesibukan dari anggota. Dan Kelima, upaya komunitas 1000 Guru Malang dalam mengatasi kendala yang dihadapi dengan lebih meningkatkan kerjasama yang baik diantara anggota tim, relawan, dan sponshorship
EFEKTIFITAS PEMANFAATAN TANAH HUTAN BERDASARKAN UU NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN PADA MASYARAKAT DESA CABAK KECAMATAN JIKEN KABUPATEN BLORA
ABSTRAK RINGKASANLina Setiarini. 2018. Efektifitas Pemanfaatan Tanah Hutan Berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pada Masyarakat Desa Cabak Kecamatan Jiken Kabupaten Blora, Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M.Si (II) Dr. Siti Awaliyah, S.Pd., SH., M.HumKata kunci: efektifitas, pemanfaatan lahan hutan, kelola hutan, masyarakat sejahtera, hutan lestariSebagai akibat dari penggunaan lahan kawasan hutan yang lebih luas bilamana dibandingkan dengan lahan persawahan yang berlokasi di Desa Cabak Kecamatan Jiken Kabupaten Blora, masyarakat Desa Cabak yang mayoritas merupakan petani sebagai sumber matapencaharian utama dirasa belum cukup terpenuhi secara baik kesejahteraannya. Hal itu dibuktikan dari data penelitian Badan Pusat Statistik Kabupaten Blora pada tahun 2010 yang mengemukakan hasil perhitungan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan per sektor pertanian di Kecamatan Jiken. Dari 16 Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Blora, Kecamatan Jiken menyumbang pendapatan kecil dari bidang pertanian dengan prosentase 3,5% dengan harga konstan 42255,81, hal ini menduduki peringkat kedua setelah Kecamatan Bogorejo dengan prosentase 2,6%. Kemudian diikuti oleh Kecamatan Sambong dengan prosentase 3,5% dengan harga konstan 42361,25 dan selebihnya dari kecamatan-kecamatan lain prosentasenya berada di atas 4,0%. Adanya permasalahan tersebut oleh Pihak Perhutani dan adanya dukungan dari Pemerintah telah memberi hak kepada masyarakat sekitar hutan untuk dapat mengelola atau memanfaatkan lahan hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan keperluan umum lainnya dengan syarat memenuhi berbagai kebijakan yang ada. Juga terdapat peraturan yang sah mengenai adanya pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan yaitu di dalam UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Adanya permasalahan serta solusi yang ada dan didampingi oleh peraturan yang jelas, peneliti tertarik untuk melakukan kajian secara mendalam tentang keefektifan dari pemanfaatan tanah hutan dengan mengacu pada peraturan yang sedang berlaku.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tiga hal, diantaranya; (1) mengetahui bentuk pemanfaatan tanah hutan pada kawasan hutan Desa Cabak, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, (2) mengetahui pelaksanaan pemanfatan tanah hutan pada kawasan hutan Desa Cabak, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, (3) mengetahui efektivitas pemanfaatan tanah hutan di kawasan hutan Desa Cabak Kecamatan Jiken Kabupaten Blora berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan informasi di lapangan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian berlokasi di KPH Cepu dan BKPH Cabak Kabupaten Blora. Terkait analisis data, peneliti menggunakan tiga alur kegiatan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan/verifikasi kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan penelitian, peneliti menggunakan teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi secara mendalam, dan triangulasi.Berdasarkan hasil analisis data dari temuan penelitian dapat disimpulkan tiga simpulan, yaitu: (1) bentuk pemanfaatan tanah hutan dalam Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yaitu untuk tujuan umum seperti pengembangan Tanaman Porang, pembuatan sumur resapan, dan pengembangan lokasi wisata lokomotif yang pelaksanaan pengelolaan diatur oleh pihak Perum Perhutani serta pemanfaatan oleh masyarakat dalam bidang pertanian yaitu dengan sistem budidaya tumpangsari, (2) pelaksanaan tumpangsari dengan memenuhi berbagai persayaratan dan kebijakan dari pihak yang berwenang mengelola hutan diantaranya prosedur perizinan, prosedur pembagian lahan, prosedur pembagian hasil, serta hambatan dan upaya masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan lahan telah terlaksana dengan baik, (3) dalam upaya mewujudkan semboyan “Masyarakat Sejahtera Hutan Lestari” pengelolaan dirasa sudah efektif mengingat kebutuhan masyarakat yang dapat terpenuhi dan telah menguntungkan pihak Perhutani (perusahaan) terkait tetap lestarinya hutan, pemanfaatan tanah hutan oleh masyarakat secara umum sudah efektif telah memenuhi aturan-aturan sebagaimana diatur di dalam UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Masyarakat sebagai pesanggem telah mematuhi peraturan perjanjian kerjasama yang dibuat antara KPH Cepu dengan LMDH Wana Bhakti Desa Cabak dalam hal pengelolaan lahan tanaman Agroforestry di lokasi dalam kawasan hutan, pada perjanjian kerjasama ini didasarkan kepada UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan beserta peraturan lain terkait kehutanan.Saran yang diberikan bagi peneliti setelah melaksanakan penelitian yaitu: bagi BKPH Cabak agar lebih mengoptimalkan pengawasan pada kawasan hutan untuk memastikan pelaksanaan PHBM telah sesuai dengan ketentuan peraturan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; bagi LMDH Wana Bhakti Cabak untuk dapat meningkatkan pendekatan kepada masyarakat atau pesanggem dengan melaksanakan sosialiasi secara rutin untuk membahas hal-hal mengenai sistem Agroforestry dan pengaplikasiannya; bagi masyarakat atau pesanggem untuk senantiasa turut berpartisipasi dalam upaya mewujudkan tujuan dari dilaksanakannya kerjasama dengan sistem PHBM oleh Perhutani yaitu mewujudkan “Masyarakat Sejahtera Hutan Lestari” dengan tetap berdasar kepada peraturan yang berlaku
MEKANISME PENGEMBANGAN KURIKULUM
ABSTRAK Mekanisme pengembangan kurikulum ini sangat penting dalam proses belajar mengajar di sekolah baik untuk guru, peserta didik, maupun lembaga yang menaungi, tahap pengembangan kurikulum ini secara teoritis dilakukan dari pengembangan tingkat lembaga , kemudian pengembangan progam di setiap bidang studi, kedua tahap ini saling keterkaitan, bila salah satu tahap tidak dilakukan maka pengembangan kurikulum pun juga tidak akan berjalan dengan baik dan maksimal jadi, perlu adanya mekanisme dan prinsip yang baik agar kurikulum bisa terlaksana dengan tepat
PERAN KOMUNITAS BEKYAD SEBAGAI GERAKAN KREATIF PENERAPAN NILAI PANCASILA DI DUSUN PREMBAN DESA SUMBERKRADENAN KECAMATAN PAKIS KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Dewasa ini globalisasi telah menjangkiti seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia. Globalisasi merupakan suatu proses tatanan di dalam masyarakat yang global tanpa mengenal batasan wilayah, letak geografis, serta waktu. Globalisasi mempunyai hubungan dengan peningkatan ketergantungan antar manusia dan bangsa di seluruh belahan dunia melalui berbagai aspek, yaitu perdagangan, pendidikan, investasi, perjalanan, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan, serta teknologi informasi. Sudah bukan waktunya untuk menyalahkan globalisasi atas kekurangan dan permasalahan bangsa. Sebagai generasi muda haruslah bisa bersatu di dalam suatu organisasi atau komunitas untuk memanfaatkan globalisasi supaya menciptakan kondisi yang adil dan makmur bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya seperti yang telah dilakukan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Bekyad ini
PERAN KOMUNITAS BEKYAD SEBAGAI GERAKAN KREATIF PENERAPAN NILAI PANCASILA DI DUSUN PREMBAN DESA SUMBERKRADENAN KECAMATAN PAKIS KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Dewasa ini globalisasi telah menjangkiti seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia. Globalisasi merupakan suatu proses tatanan di dalam masyarakat yang global tanpa mengenal batasan wilayah, letak geografis, serta waktu. Globalisasi mempunyai hubungan dengan peningkatan ketergantungan antar manusia dan bangsa di seluruh belahan dunia melalui berbagai aspek, yaitu perdagangan, pendidikan, investasi, perjalanan, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan, serta teknologi informasi. Sudah bukan waktunya untuk menyalahkan globalisasi atas kekurangan dan permasalahan bangsa. Sebagai generasi muda haruslah bisa bersatu di dalam suatu organisasi atau komunitas untuk memanfaatkan globalisasi supaya menciptakan kondisi yang adil dan makmur bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya seperti yang telah dilakukan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Bekyad in