SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    PERAN PENGELOLA MUSEUM GUBUG WAYANG DALAM MELESTARIKAN NILAI-NILAI BUDAYA DI MOJOKERTO

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ragam budaya yang dikelola di Museum Gubug Wayang, nilai-nilai budaya yang terdapat di Museum Gubug Wayang, peran pengelola Museum Gubug Wayang dalam Melestarikan nilai-nilai budaya di Mojokerto, hambatan dan solusinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa ragam budaya yang dikelola di Museum Gubug Wayang, nilai-nilai budaya yang terdapat di Museum Gubug Wayang, peran pengelola Museum Gubug Wayang dalam Melestarikan nilai-nilai budaya di Mojokerto, hambatan dan solusinya

    PERAN PENGELOLA MUSEUM GUBUG WAYANG DALAM MELESTARIKAN NILAI-NILAI BUDAYA DI MOJOKERTO

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ragam budaya yang dikelola di Museum Gubug Wayang, nilai-nilai budaya yang terdapat di Museum Gubug Wayang, peran pengelola Museum Gubug Wayang dalam Melestarikan nilai-nilai budaya di Mojokerto, hambatan dan solusinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa ragam budaya yang dikelola di Museum Gubug Wayang, nilai-nilai budaya yang terdapat di Museum Gubug Wayang, peran pengelola Museum Gubug Wayang dalam Melestarikan nilai-nilai budaya di Mojokerto, hambatan dan solusinya

    Persepsi Mahasiswa Terhadap Pelanggaran Hak Cipta atas Penggunaan Buku Bajakan (Studi Kasus Mahasiswa Hukum dan Kewarganegaraan 2015 Universitas Negeri Malang)

    No full text
    Pelanggaran terhadap buku yang kerap terjadi salah satunya adalah penggandaan buku atau pembajakan buku. Penggandaan buku saat ini makin marak terjadi di masyarakat. Walaupun adanya perlindungan akan hak cipta, akan tetapi masih ada dan kerap terjadi kasus pelanggaran atas hak cipta yang salah satunya yaitu pembajakan terhadap buku. Pembajakan buku yang terjadi ini pastinya merugikan bagi pemilik hak cipta atau pemegang hak cipta tersebut dari kemanfaatan ekonomi yang seharusnya didapatkan dari buku itu karena digandakannya buku tersebut tanpa adanya pemberitahuan royalti kepada pemegang hak cipta. Mahasiswa dilinai memiliki intelektualitas yang tinggi, baik dalam berfikir maupun dalam bertindak. Pemikiran yang kritis dan dapat dapat melakukan tindakan yang tepat merupakan suatu persepsi yang sudah melekat pada seorang mahasiswa, sehingga mahasiswa dipandang sebagai manusia yang sudah sewajarnya untuk berfikir.Namun pada kenyataannya, mahasiswa sendiri merupakan oknum yang juga menggunakan buku bajakan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui latar belakang mahasiswa Hkn 2015 Universitas Negeri Malang menggunakan buku bajakan, untuk mengetahui persepsi mahasiswa Hkn 2015 Universitas Negeri malang terhadap penggunaan buku bajakan, untuk mengetahui judul buku bajakan yang sering digunakan oleh mahasiswa Hkn 2015 Universitas Negeri Malang, dan ntuk mengetahui pandangan hukum terhadap pengguna buku bajakan

    Peran Pemerintah dalam Memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) melalui "Aplikasi Banyuwangi Mall" di Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    ABSTRAK RINGKASANFazriyah, Indana. 2018. Peran Pemerintah Daerah Dalam Memberdayakan UMKM Melalui “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si, (II) Drs. Petir Pudjantoro, M.Si.Kata Kunci:Aplikasi Banyuwangi Mall, Pemerintah Daerah, UMKMAplikasi Banyuwangi Mall merupakan hasil kerjasama antara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kerjasama tersebut berawal dari inovasi yang diberikan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi kepada Bapak Azwar Anas sebagai Bupati Banyuwangi yang kemudian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) memberikan tawaran untuk melakukan kerjasama hingga diresmikan aplikasi ini. Aplikasi Banyuwangi Mall merupakan aplikasi jual beli online seperti aplikasi jual beli online lainnya, namun dalam aplikasi ini seluruh penjualnya merupakan UMKM asli Banyuwangi. Aplikasi ini dikelola oleh Tim Pengelola Rumah Kreatif Banyuwangi yang diberi wewenang untuk menangani aplikasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) bagaimana prosedur pemasaran produk oleh UMKM melalui “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi, (2) bagaimana peran pihak-pihak terkait pengelolaan “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi, (3) bagaimana kendala dan solusi yang dihadapi dalam pengelolaan “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi, (4) bagaimana persepsi dari pelaku usaha terkait adanya “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan dalam penelitian ini (1) Staf Pemdapingan UKM di Klinik UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi, (2) Kasie Perdagangan Dalam Daerah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banyuwangi, (3) Admin Rumah Kreatif Banyuwangi, dan (4) Pemilik UMKM di Banyuwangi. Teknik pengambilan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan open coding, axial coding dan selective coding. Kemudian pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian dilakukan dengan ketekunan pengamatan, triangulasi sumber dan triangulasi teknik.Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa (1) prosedur pemasaran produk oleh UMKM melalui “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi melalui tiga tahapan yaitu (a) mekanisme pendaftaran seller di Banyuwangi Mall, (b) bisnis proses Banyuwangi Mall, dan (c) proses pembayaran Banyuwangi Mall ke penjual; (2) peran pihak-pihak terkait pengelolaan “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi terdapat tiga pihak yang berperan yaitu (a) Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi yang bertugas sebagai fasilitator dengan memberikan pelatihan kepada UMKKM, (b) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banyuwangi yang bertugas memberikan izin usaha, merk dan label pada produk UMKM, dan (c) Tim Pengelola Rumah Kreatif Banyuwangi yang bertugas sebagai fasilitator dengan memberikan pelatihan dan melakukan kunjungan kepada UMKM; (3) kendala yang dihadapi dalam pengelolan “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi berasal dari sumberdaya manusia yaitu UMKM yang kurang memahami tentang IT dan pentingnya inovasi kemasan produk dan dari aplikasi yang masih berbentuk website hingga kurangnya promosi sehingga solusi yang telah diberikan yaitu pelatihan kepada UMKM dan pemberian konten-konten pada aplikasi hingga promosi melalui media sosial; (4) persepsi dari pelaku usaha terkait “Aplikasi Banyuwangi Mall” di Kabupaten Banyuwangi sesuai dengan hasil penjualan produk UMKM, beberapa pelaku usaha seperti pemilik usaha batik dan kopi Banyuwangi merasakan dampak positif sedangkan untuk beberapa pelaku usaha lainnya seperti pemilik usaha makanan ringan, kaos, kerajinan dan tas kurang merasakan dampak positif.Saran yang diberikan oleh peneliti yaitu upaya promosi yang dilakukan oleh seluruh pihak. Promosi dilakukan melalui website resmi Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banyuwangi. Selain itu Tim Rumah Kreatif Banyuwangi dapat mengaktifkan konten sposor pada media sosial Aplikasi Banyuwangi Mall dan melakukan evaluasi setiap bulan untuk meningkatkan penjualan pada bulan berikutnya

    Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kegiatan Sinau Sosial SMAN 9 Malang di Desa Karanganyar Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang

    No full text
    ABSTRAK Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam mengembangkan kualitas sumberdaya manusia adalah upaya penanaman karakter bangsa. Salah satu upaya penanaman karakter yang efektif adalah melalui kegiatan di sekolah. Dalam penanaman karakter di sekolah terdapat berbagai kegiatan positif yang dapat dilakukan anak. Kegiatan tersebut antara lain adalah; kegiatan sholat berjama’ah di masjid sekolah, kegiatan upacara bendera rutin setiap senin, kegiatan ekstrakulikuler dam lain-lain. Peningkatan sumberdaya manusia sejak dini merupakan hal penting yang harus direncanakan sungguh-sungguh. Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas sumberdaya manusia karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Adapun salah satu peran strategis untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia adalah dengan menerapkan pendidikan karakter pada sekolah-sekolah. Penanaman pendidikan karakter di satuan pendidikan dapat diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran, pengembangan budaya sekolah melalui pengembangan diri, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. Penerapan pendidikan karakter yang dilakukan SMAN 9 Malang dalam kegiatan Sinau Sosial adalah suatu kegiatan yang unik dan berskala besar sehingga menarik untuk diteliti.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan Sinau Sosial dalam mengimplementasikan pendidikan karakter. Serta mendeskripsikan nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam kegiatan, bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan, hambatan dalam pelaksanaan dan solusi yang diberikan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data yang dipakai yaitu informan, peristiwa, dan dokumen. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan diakhiri penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan cara triangulasi sumber dan triangulasi teknik pengujian data dengan membandingkan antara wawancara, observasi, dan dokumentasi.Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Dalam kegiatan Sinau Sosial terdapat muatan Nilai-nilai karakter antara lain: (1) Nilai Peduli Sosial, Nilai Mandiri, Nilai komunikatif, Nilai religius, Nilai kedisiplinan, Nilai tanggung jawab, Nilai Kepolosan, Nilai Kreatif. (2) Bentuk-bentuk implementasi pendidikan karakter dalam  kegiatan Sinau Sosial  adalah Siswa melakukan pekerjaan rumah tangga di masing-masing rumah induk semang yang ditempati, Siswa ikut membantu dalam pekerjaan induk semang, Kegiatan pasar murah untuk warga Desa Karanganya, Kegiatan khotmil qur’an di musholla-musholla sekitar Desa Karanganyar, Pemberian tugas penelitian dan laporan kegiatan harian, Kegiatan pentas seni di lapangan Desa Karanganyar. (3) Hambatan implementasi pendidikan karakter dalam kegiatan Sinau Sosial Adalah rundown acara yang bertabrakan, sulitnya komunikasi antara siswa dengan warga, Kurangnya fasilitas yang digunakan untuk menunjang kegiatan. (4) Solusi atas hambatan yang ada dalam implementasi pendidikan karakter dalam kegiatan Sinau Sosial adalah Dalam mengatasi rundown acara yang bertabrakan adalah dengan mengatur rundown dengan lebih memperhatikan alokasi waktu, Memberikan sosialisasi dan motivasi kepada siswa agar lebih berani dalam memulai komunikas dengan warga, Dengan menambah jumlah alat transportasi yang digunakan siswa.Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut. Bagi Dinas Pendidikan Kota Malang, agar lebih mendukung pelaksanaan pendidikan karakter yang dilakukan di sekolah-sekolah. Bagi SMA Negeri 9 Malang, agar terus mengevaluasi dan memaksimalkan pelaksanaan pendidikan karakter yang telah berjalan di sekolah. Bagi Panitia Sinau Sosial, agar terus meningkatkan ketekunan. Bagi Siswa-siswi SMA Negeri 9 Malang, agar dapat bekerja sama sesuai dengan tujuan kegiatan yang diintruksikan oleh panitia Sinau Sosial

    Peran Aparatur Desa Dalam Pelayanan Publik Melalui Aplikasi Sistem Informasi Desa Berbasis Website di Desa Pulosari Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran aparatur desa dalam pelayanan publik melalui aplikasi Sistem Informasi Desa (SID). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskripstif. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran aparatur desa dalam pelayanan publik melalui aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) yaitu: memberikan layanan surat adminitrasi kependudukan.Kata kunci: peran, aparatur desa, sistem informasi des

    Minat Baca tingkat Smp-sma di Kabupaten Bojonegoro

    No full text
    ABSTRAK Minat baca, di Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, 2018, Tingkat SMP-SMA.MINAT baca selama ini menjadi salah satu masalah besar bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, saat ini minat baca masyarakat Indonesia termasuk yang terendah di Asia. Indonesia hanya unggul di atas Kamboja dan Laos. Padahal semakin rendah kebiasaan membaca, penyakit kebodohan dan kemiskinan akan berpotensi mengancam kemajuan dan eksistensi bangsa ini. Parahnya lagi, rendahnya minat baca bukan hanya terjadi pada masyarakat umum, di SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi pun minat baca mahasiswa sangat rendah.

    PERAN PEMERINTAH DESA DAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA DI DESA SAWAHAN KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK

    No full text
    ABSTRAK   Dewi, Riana Ema. 2017. Peran Pemerintah Desa dan Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si. (II) Dr. Sutoyo, SH., M.Hum.   Kata Kunci: Peran, Pemerintah Desa, Masyarakat, Desa Wisata   Suatu desa wisata dengan berbagai potensi yang ada jika dikembangkan dengan baik dapat dijadikan sebagai sarana untuk mensejahterakan masyarakat. Keberhasilan dalam pengembangan desa wisata tentunya tidak lepas dari peran pemerintah desa dan masyarakat. Salah satu contoh pengembangan desa wisata yang sedang dilakukan sejak 2 (dua) tahun yang lalu dan tidak lepas dari peran pemerintah desa dan masyarakat adalah pengembangan desa wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) untuk mengetahui program dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, (2) untuk mengetahui peran pemerintah desa dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, (3) untuk mengetahui peran masyarakat dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, (4) untuk mengetahui faktor pendukung dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, (5) untuk mengetahui faktor penghambat dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, dan (6) untuk mengetahui cara mengatasi hambatan dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara, observasi langsung ke lapangan dan dokumentasi-dokumentasi yang berada di lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah penjodohan pola. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh peneliti melakukan pengecekan data dengan cara sebagai berikut keikutsertaan ketekunan dan triangulasi. Hasil penelitian diketahui : (1) program dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek ada 6 (enam) yaitu: program paket wisata, program kebersihan lingkungan, program pengolahan pupuk organik dari sampah dapur, program sayur organik, program edukasi stek durian, dan program festival durian. (2) Peran Pemerintah Desa dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan meliputi sosialisasi, pendukung, mengontrol, promosi, dan mengevaluasi.  (3) Peran Masyarakat dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan meliputi perencanaan, pelaksanaan, promosi, serta ramah-tamah dan gotong royong. (4) Faktor pendukung dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan meliputi hasil potensi desa, partisipasi masyarakat, dukungan pemerintah desa, sinergi pemerintah desa dan masyarakat, dan modal sosial masyarakat. (5) Faktor penghambat dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan meliputi partispasi masyarakat, pendanaan, dan wisata kebun durian yang bersifat musiman. (6) Cara mengatasi hambatan dalam pengembangan desa wisata di Desa Sawahan yaitu pemerintah desa memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya pengembangan desa wisata, masyarakat sebagai pengelola pengembangan desa wisata mengajukan proposal ke BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten Trenggalek, dan pemanfaatan potensi desa lainnya yang ada dan yang musim agar tidak tergantung dengan musim durian dan pengembangan desa wisata di Desa Sawahan tetap berjalan. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian antara lain: (1) Kepada Pemerintah Desa Sawahan : Agar masyarakat terlibat dalam setiap kegiatan desa wisata di Desa Sawahan, sebaiknya Pemerintah Desa Sawahan mengadakan kegiatan rutin seperti kerja bakti yang sifatnya gotong royong untuk membersihkan area desa wisata dan sekaligus sebagai sarana diskusi untuk membahas program pengembangan desa wisata di Desa Sawahan antara pemerintah desa dan masyarakat karena selama ini partisipasi masyarakat masih perlu ditingkatkan. (2) Kepada Masyarakat Desa Sawahan : Agar potensi desa di Desa Sawahan dapat berkembang, sebaiknya seluruh golongan masyarakat dari petani, wiraswasta, maupun PNS terlibat dalam kegiatan desa wisata mulai dari perencanaan sampai evaluasi karena mereka yang paling memahami mengenai potensi apa yang ada di Desa Sawahan. Pengembangan desa wisata di Desa Sawahan ini adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. (3) Kepada Pemerintah Kabupaten Trenggalek : Agar kesejahteraan masyarakat di Desa Sawahan terus meningkat dengan adanya program pengembangan desa wisata, sebaiknya peran pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten Trenggalek perlu ditingkatkan. Khususnya dalam hal pendanaan, karena pendanaan akan digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang ada sehingga menunjang pengembangan desa wisata. 

    HUBUNGAN KEWENANGAN KEPALA DAERAH DENGAN DPRD DALAM PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH(APBD) DI KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Purnomo, Didik. 2017. Hubungan Kewenangan Kepala Daerah Dengan DPRD dalam Proses Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di Kota Malang. Skripsi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Uneversitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nuruddin Hady, SH., MH, (II) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si.   Kata Kunci: Kewenangan, Pemerintahan Daerah, APBD   APBD merupakan instrumen keuangan daerah sangatlah penting dalam mendorong pembangunan di daerah. Tanpa pembiyayaan yang cukup, maka daerah dalam menyelenggarakan tugas kewajiban serta kewenangan yang ada padanya dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya, yang merupakan ciri pokok yang mendasar dari suatu otonomi daerah menjadi hilang. Kepala daerah dan DPRD merupakan lembaga yang menentukan arah pembangunan daerah, hubungaan yang baik diperlukan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kerjasama yang sinergi antara beberapa lembaga pemerintahan. Pemberian wewenang dan peraturan-peraturan yang mengatur kepala daerah dan DPRD memberikan kewenangan untuk digunakan sebagaimana mestinya serta mengangkat demokrasi dan ekonomi di daerah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kewenangan kepala daerah dengan DPRD dalam proses penyusunan APBD di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian pada penelitian ini adalah adalah Pemerintahan Kota Malang yang bertempat di jalan Tugu No. 1 Kota Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap persiapan, tahap penyusunan rancangan penelitian, tahap pelaksanaan penelitian dan tahap penyelesaian Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan dari hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, proses penyusunan di Kota Malang sebagai berikut; (1) kepala daerah menyusun KUA dan PPAS berdasarkan RKPD dan diajukan kepada DPRD untuk dibahas bersama; (2) disepakati KUA dan PPAS dituangkan dalam Nota Kesepakatan kepala daerah dengan DPRD; (3) kepala daerah membuat pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagai bahan penyusunan RAPBD; (4) kepala daerah mengajukan rancangan Perda tentang APBD disertai penjelasan dan dokumen-dokumen kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama; dan (5) Rancangan Perda tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan peraturan walikota tentang penjabaran APBD disampaikan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk dievaluasi, dilampiri RKPD, KUA, dan PPAS yang disepakati antara kepala daerah dan DPRD, dalam hal gubernur sebagai wakil pemerintah pusat menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Kota tentang APBD dan rancangan peraturan walikota tentang penjabaran APBD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum, RKPD, KUA dan PPAS, serta RPJMD, walikota menetapkan menjadi perda dan peraturan walikota. Kedua, hubungan kewenangan kepala daerah dengan DPRD dalam proses penyusunan APBD di Kota Malang. Walikota Malang dengan DPRD adalah kemitraan hal ini sesuai dengan tugasnya Walikota Malang sebagai pemegang kekuasaan pengelola keuangan daerah seperti mengajukan KUA dan PPAS setelah itu Mengajukan Perda tentang APBD. DPRD Kota Malang selaku wakil dari rakyat merupakan mitra Walikota Malang dalam pengunaan anggaran DPRD Kota Malang haruslah tau arah dan tujuan uang rakyat tersebut akan digunakan untuk apa dan bagaimana sesuai dengan tujuannya untuk mensejahterakan rakyat. Kedua unsur penyelengara pemerintahan daerah memiliki tugas dan kewenangan masing-masing untuk memberikan pelayanan kepada masarakat Kota Malang. Ketiga, kendala-kendala yang dihadapi dalam proses penyusunan APBD di Kota Malang. Kendala dalam proses penyusunan APBD di Kota Malang antara lain: (a) Terlalu banyak program kerja SKPD; (b) Kurangnya partisipasi masyarakat dalam Musrenbang; (c) Waktu pembahasan APBD mepet; (d) DPRD tidak menjalankan fungsi anggaran dengan baik; dan (e) Tarik ulur kepentingan politik. Keempat, upaya yang ditempuh dalam mengatasi kendala-kendala dalam proses penyusunan APBD di Kota Malang. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala yang dihadapi dalam proses penyusunan APBD di Kota Malang antara lain: (a) Mengurangi dan menyesuaikan program kerja SKPD; (b) Memberikan undangan dan informasi mengenai Musrenbang; (c) Berkordinasi dengan pemerintah daerah mengenai jadwal pembahasn; (d) Memberikan pelatihan pendalaman kopetensi anggaran; dan (e) Melakukan lobbying penyesuaian pendapat

    NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI NYADRAN DAM BAGONG DI KELURAHAN NGANTRU KECAMATAN TRENGGALEK KABUPATEN TRENGGALEK

    No full text
    ABSTRAK Anggraini, Novia, Septi.2017.Nilai Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nyadran Dam Bagong Di Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Didik Sukriono, S.H, M.Hum (II) Drs. Petir Pudjantoro, M. Si. Kata Kunci : Nilai Kearifan Lokal, Nyadran Dam Bagong, Kelurahan Ngantru Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman suku, ras, agama, etnis, bahasa dan juga budaya. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan suatu hal yang wajib dijaga, dilestarikan bahkan diwariskan pada generasi selanjutnya. Kearifan lokal merupakan kebenaran yang telah mentradisi dalam suatu daerah dan merupakan keunggulan budaya masyarakat setempat yang patut dijadikan pegangan hidup. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini berada di Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini merupakan suatu tradisi yang dilakukan dengan tujuan sebagai bentuk rasa syukur para petani di Kabupaten Trenggalek kepada Tuhan Yang Maha Esa atas aliran air dari Dam Bagong yang terus mengalir mengairi sawah di Kecamatan Trenggalek terutama Kelurahan Ngantru dan di Kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek dan sekaligus mengenang jasa Ki Ageng Menak Sopal yang pertama kali menyebarkan ajaran agama Islam di Kabupaten Trenggalek dengan membangun sebuah Dam Bagong. Penelitian yang berjudul Nilai Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nyadran Dam Bagong Di Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek bertujuan untuk mendeskripsikan (I) gambaran umum lokasi penelitian; (II) sejarah tradisi Nyadran Dam Bagong; (III) prosesi pelaksanaan tradisi Nyadran Dam Bagong; (IV) nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi Nyadran; dan (V) fungsi kearifan lokal tradisi Nyadran Dam Bagong di Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek dalam pelestarian lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan di Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Data penelitian yang berupa sumber data primer Kepala Kelurahan Ngantru, Juru Kunci makam Ki Ageng Menak Sopal dan Dam Bagong, Dokumentalis tradisi Nyadran Dam Bagong, Ketua Gapoktan sekaligus Wakil Ketua Gapoktan Kelurahan Ngantru. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian (I) menunjukkan sejarah tradisi Nyadran Dam Bagong merupakan tradisi masyarakat terutama para petani di Kelurahan Ngantru yang pada umumnya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga untuk menghormati jasa-jasa Ki Ageng Menak Sopal yang menyebarkan agam islam pertama kali di Kabupaten Trenggalek dengan cara membuat sebuah tanggul air dan dengan disembelihkan Gajah Putih. Hasil penelitian (II) menunjukkan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong ini terdapat beberapa prosesi didalamnya, antara lain (a) Proses Jamasan Kerbau (Memandikan Kerbau); (b) Proses Pasrah Tampi Maeso; (c) Pagelaran Wayang Kulit; (d) Proses Penyembelihan Kerbau; (e) Kegiatan Tahlil dan Tadarusan; (f) Kegiatan Ruwatan; (g) Kirab Kepala Kerbau dan Tumpeng Agung yang dilanjutkan pembukaan acara Tradisi Nyadran Dam Bagong; (h) Ziarah ke makam Ki Ageng Menak Sopal; (i) Pelemparan kepala, kaki dan kulit kerbau ke Dam Bagong; (j) Makan bersama nasi tumpeng agung dan nasi bungkus dan dilanjutkan dengan acara Jaranan.dari   prosesi tradisi Nyadran Dam Bagong ini. Hasil penelitian (III) menunjukkan nilai-nilai kearifan lokal yang tercermin dalam tradisi tersebut, yaitu (a) nilai religius, tercermin dalam doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan YME dan dalam proses ziarah makam Ki Ageng Menak Sopal yang dilakukan oleh Bapak Bupati beserta tokoh-tokoh masyarakat; (b) Nilai Gotong-royong, tercermin dari berbagai pihak terutama petani yang menyiapkan penyelenggaraan upacara tradisi ini agar terselenggara dengan baik; (c) Nilai Sosial, tercermin dalam prosesi makan bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat yang hadir dalam tradisi Nyadran Dam Bagong sehingga terjalin silaturahmi yang baik antara sesama warga Kelurahan Ngantru; (d) Nilai Pendidikan, tercermin dalam sejarah tradisi Nyadran Dam Bagong yang digali oleh masyarakat kelurahan Ngantru dan kemudian dibacakan pada saat tradisi tersebut berlangsung; (e) Nilai Moral, tercermin dalam seluruh prosesi tradisi Nyadran Dam Bagong tersebut; (f) Nilai Keindahan, tercermin dalam prosesi arakan kepala kerbau dan Tumpeng Agung dari rumah bapak Samsuri menuju ke Bangsal makam Bagong; (g) Nilai Saling Menghargai, tercermin dalam ziarah makam Ki Ageng Menak Sopal yang artinya menghormati jasa yang telah diberikan; (h) Nilai Tanggung Jawab, tercermin dari panitia-panitia yang tanpa disuruh, siap untuk melaksanakan tugasnya masing-masing; (i) Nilai Rendah Hati, tercermin dalam tokoh Ki Ageng Menak Sopal yang dikatakan memiliki sifat rendah hati dan suka menolong. Hasil penelitian (IV) menunjukkan dengan adanya tradisi Nyadran Dam Bagong ini masyarakat Kelurahan Ngantru menerima dengan baik acara tradisi ini diadakan satu sekali dalam setahun. Dalam melakukan upaya-upaya pelestarian tradisi tersebut yang dilakukan oleh beberapa pihak baik pemerintah maupun masyarakat Kelurahan Ngantru tidak terdapat kendala apapun. Selain itu fungsi kearifan lokal tradisi Nyadran Dam Bagong ini dalam pelestarian lingkungan adalah dengan adanya tradisi tersebut masyarakat Kelurahan Ngantru lebih menjaga Dam Bagong tersebut, tidak mandi atau bahkan bermain sembarangan di dam tersebut sehingga nantinya dapat membuat dam tersebut menjadi kotor. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan tradisi Nyadran Dam Bagong merupakan aset budaya yang harus selalu dilestarikan dan dijaga juga diperkenalkan oleh masyarakat, agar keberadaan tradisi ini tidak terancam punah seiring dengan perkembangan jaman pada saat ini. Selain itu dalam pelaksanaan tradisi Nyadran Dam Bagong tetap menjaga keaslian dan kesakralan tradisi Nyadran Dam Bagong agar tetap terjaga keaslian tradisi, meskipun adanya inovasi-inovasi yang dilakukan agar tradisi ini semakin berkembang, namun tidak dengan mengubah ataupun mengganti prosesi yang ada sebelumnya.

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇