SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
PARTISIPASI WAJIB PAJAK DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI DESA SUMBERAGUNG KECAMATAN REJOTANGAN KABUPATEN TULUNGAGUNG
RINGKASAN ABSTRAK: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) Pandangan wajib pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Sumberagung, (2) Proses pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan oleh wajib pajak di Desa Sumberagung, (3) Masalah yang terjadi dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Sumberagung, (4) Solusi penyelesaian masalah dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung. Hasil penelitian adalah: (1) pandangan wajib pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Sumberagung adalah wajib pajak sudah mengetahui bahwa membayar Pajak Bumi dan Bangunan merupakan suatu kewajiban bagi masyarakat sebagai wajib pajak dan bagi wajib pajak membayar pajak juga menjadi sebuah beban. Kemudian masyarakat sebagai wajib pajak acuh tak acuh dan juga kurang aktif dalam membayar pajak; (2) proses pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan oleh Wajib Pajak di Desa Sumberagung dilakukan melalui 2 (dua) tahap, yaitu proses penyampaikan Surat Pembayaran Pajak Terutang (SPPT) kepada wajib pajak yang dilakukan oleh petugas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan proses pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) oleh wajib pajak berdasarkan Surat Pembayaran Pajak Terutang (SPPT) yang telah diterima; (3) pada proses pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan terdapat masalah-masalah yang menghambat proses pembayarannya dan dibutuhkan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut
Upaya Sekolah Dalam Mengembangkan Perilaku Gotong Royong Siswa Di SMK Negeri 3 Malang
RINGKASAN Gotong royong sebagai ciri khas Indonesia harus terus menerus dikembangkan dan diperhatikan. Dilembaga pendidikan menjadi tugas setiap warga sekolah untuk bertanggung jawab membangun karakter generasi penerus bangsa dengan tuntutan era globalisasi yang menjadi pengaruh besar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan upaya sekolah dalam mengembangkan sikap gotong royong siswa di SMK Negeri 3 Malang. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini antara lain, bentuk-bentuk kegiatan gotong royong dari kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakulikuler. Lalu adanya program kepedulian sesama, perlombaan, kebersihan sekolah, serta kerja bakti. Upaya warga sekolah terdiri dari kepala sekolah, guru, staf karyawan, siswa dalam mengembangkan sikap gotong royong. Dan kendala yang terjadi yaitu individualistik, pendidikan dari rumah serta solusi dalam mengatasi kendala tersebut ialah dari aspek pembinaan dan pencegahan. Kata Kunci: gotong royong, sekolah, sisw
PERAN PEMERINTAH DESA DAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN "WISATA BUKIT KEREK INDAH" DI DESA KEREK, KECAMATAN NGAWI, KABUPATEN NGAWI
RINGKASAN Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Program pengembangan dan pemanfaatan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) Latar Belakang Pembangunan Wisata Bukit Kerek Indah, (2) Rencana Program Pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah, (3) Pelaksanaan Program Pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah yang berisi: (a) Peran Pemerintah Desa dalam Pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah, (b) Peran Masyarakat dalam Pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah, (4) Faktor Pendukung dalam Pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah, (5) Faktor Penghambat dalam Pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah, serta (6) Upaya dalam Mengatasi Hambatan Pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data milik Miles dan Huberman yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian diketahui bahwa (1) Latar belakang pembangunan Wisata Bukit Kerek Indah adalah pemikiran pemerintah desa dan pemuda masyarakat yang ingin memanfaatkan tanah kas desa dengan lebih baik dari pada sebelumnya. Wisata Bukit Kerek diharapkan mampu memberikan penghasilan yang baik bagi masyarakat sekitar. (2) Rencana program pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah terbagi menjadi dua yakni rencana fisik dan non fisik. Rencana pengembangan fisik terdiri dari pembangunan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang daya tarik wisata seperti jembatan selfie, hiasan tulisan, gazebo, pembangunan kolam renang, pembangunan gedung pertemuan hingga arahan menuju agrowisata. Sedangkan rencana pengembangan non fisik berupa pemberdayaan pemuda dan masyarakat melalui kepengurusan unit BUMDes Desa Kerek serta pengembangan promosi wisata melalui akun instagram milik wisata tersebut. Rencana program tersebut masih bersifat pemikiran dari pengurus, belum ada pendokumentasian dalam bentuk master plan wisata secara rapi. (3) Pelaksanaan program pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah dilakukan pemerintah desa melalui kepengurusan bumdes bersama dengan masyarakat desa tempat. Peran pemerintah dalam pengembangan wisata tersebut adalah pemberian izin pengelolaan tanah kas desa, mengoordinir masyarakat untuk melaksanakan pengembangan wisata dan memasukkan wisata tersebut kedalam salah satu unit bumdes. Selanjutnya peran masyarakat dalam pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah adalah memberikan partisipasinya dengan turun langsung membantu proses pembangunan wisata tersebut, selain itu masyarakat juga membantu proses promosi wisata. (4) Faktor pendukung dalam pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah adalah masyarakat yang kooperatif memberikan idenya yang kreatif, keunikan pemandangan wisata yang masih alami, masuknya wisata tersebut ke dalam BUMDes Desa Kerek, kerjasama yang baik antara pemerintah desa dan masyarakat desa. (5) Faktor penghambat dalam pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah adalah kurangnya dana untuk pengembangan sehingga pengembangan berlangsung lama, pengunjung yang mulai sepi hingga menyebabkan warung-warung dan penjagaan loket menjadi non aktif. Selain itu ada beberapa masyarakat yang meragukan pengembangan wisata tersebut sehingga tidak mau memberikan partisipasinya. (6) Upaya untuk mengatasi hambatan pengembangan Wisata Bukit Kerek Indah adalah pencarian sponsor dana, mengefektifkan dana desa dengan melakukan pembangunan secara bertahap, penambahan wahana baru untuk peningkatan pengunjung dan promosi wisata melalui media sosial. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian antara lainsebaiknya pengurus menggali lagi potensi yang ada di Wisata Bukit Kerek Indah. Pengurus harus memperhatikan keamanan wisata dan keselamatan pengunjung. Pemerintah desa dan pengurus wisata harus membenahi administrasi wisata agar dapat terstruktur dengan rapi. Administrasi wisata yang rapi diharapkan mampu menunjang masuknya investor untuk memberi bantuan. Pemerintah desa harus mampu mendorong pengembangan wisata menuju wisata yang berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan pendapatan desa guna mensejahterakan masyarakat desa
KERJASAMA ANTARA PEMERINTAH DAERAH DENGAN MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN WADUK BENDO SEBAGAI OBJEK WISATA DI DESA NGINDENG KECAMATAN SAWOO KABUPATEN PONOROGO UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
RINGKASAN Setyorini, Anis. 2018. Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam Pembangunan Waduk Bendo sebagai Objek Wisata di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Sri Untari, M. Si., (2) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M. Pd. M. Hum. Kata kunci: Kerjasama, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Pembangunan Wisata. Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam Pembangunan Waduk Bendo sebagai Objek Wisata di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, tujuan dari penelitian ini untuk: (1) peran pemerintah daerah dalam pembangunan Waduk Bendo; (2) peran masyarakat dalam pembangunan Waduk Bendo; (3) kerjasama pemerintah daerah dengan masyarakat dalam pembangunan Waduk Bendo; (4) kendala dalam kerjasama pemerintah daerah dengan masyarakat dalam pembangunan Waduk Bendo; dan (5) cara mengatasi kendala dalam kerjasama pemerintah daerah dengan masyarakat dalam pembangunan Waduk Bendo. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan jenis dan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode penelitian studi kasus. Sumber data penelitian ini adalah Kepala Bappeda litbang Kabupaten Ponorogo, Kepala Desa Ngindeng, dan masyarakat sekitar Waduk Bendo. Data dan informasi yang didapatkan oleh peneliti menggunakan: observasi, dokumentasi dan wawancara. Analisis data yang dilakukan dengan cara hasil penelitian diharapkan sebagai suatu pola, penjelasan yang sesuai sebagai suatu pola, dan kemudian dibuat pola yang lebih sederhana. Untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data di mana membandingkan hasil temuan dengan sumber, metode dan teori yang ada. Berikut ialah tahap penelitian di mana terdapat tahap pra-lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan tahap analisis data. Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan kemudian dijabarkan sebagai berikut. Pertama, peran pemerintah daerah dalam kerjasama untuk pembangunan Waduk Bendo ialah sebagai fasilitator di mana pemerintah daerah bertanggung jawab memberikan pendanaan dan menyediakan fasilitas-fasilitas berupa lahan untuk pembangunan Waduk Bendo, sebagai perencanaan pembangunan di mana sebelum pembangunan di mulai pemerintah daerah melakukan kerjasama dengan pihak konstruksi proyek pembangunan yakni dengan (KSO) yang terdiri atas 3 PT yakni PT. Hutama Karya, PT. Nindhiya Karya dan PT. Wijaya Karya, dan peran pemerintah daerah yang terakhir adalah sebagai pengawas di mana pemerintah daerah melakukan pengawasan pembangunan Waduk Bendo dengan memberikan tugas pihak Satpol PP untuk melakukan patroli di sekitar waduk maupun di pembangunan Waduk selain itu pihak pemerintah juga sering melakukan kunjungan ke pembangunan Waduk Bendo. Kedua, peran masyarakat sebagai penyedia sumber daya manusia sehingga beberapa masyarakat membantu pembangunan Waduk Bendo di proyek pembangunannya sebagai kuli bangunan dan satpam sesuai dengan keahlian masing-masing. Ketiga, dalam pembangunan Waduk Bendo ternyata ada kerjasama antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Dasar pelaksanaan kerjasama tersebut adalah perjanjian secara tidak tertulis, yakni berupa kesepakatan antara kedua belah pihak mengenai tugas masing-masing. Bentuk kerjasama dalam pembangunan Waduk Bendo adalah kerjasama yang dilakukan berdasarkan syarat yang diberikan masyarakat Bendo selaku pemilik lahan, sehingga kerjasama tersebut merupakan kerjasama spontan dan kerjasama langsung. Model kerjasama yang dilakukan jika ditinjau berdasar asas kehidupan organisasi merupakan model subordinate union of partnership di mana kerjasama ini dilakukan oleh dua belah pihak yang memiliki status, kekuatan yang berbeda, jika ditinjau dari pemberian pelayanan oleh pemerintah, swasta model kerjasama ini merupakan model new governance karena pemerintah daerah membangun interaksi baru dengan masyarakat berupa kerjasama antara pemerintah daerah dengan masyarakat untuk pembangunan objek wisata Waduk Bendo. Keempat, kendala yang dihadapi dalam kerjasama untuk pembangunan objek wisata Waduk Bendo yakni (1) pembangunan kurang maksimal di mana kurangnya koordinasi antara pemerintah daerah dengan pihak pelaksana konstruksi pembangunan, pembangunan Waduk Bendo sempat terhenti selama 2 tahun dikarenakan lahan untuk pembangunan waduk belum dibebaskan. (2) Masyarakat kontra terhadap pemerintah daerah di mana ada beberapa masyarakat yang kontra dengan pemerintah daerah dikarenakan masyarakat tersebut merasa hak-haknya belum terpenuhi. (3) perjanjian yang dilakukan tidak secara tertulis, seperti yang diketahui bahwa kerjasama tersebut dilakukan secara tidak tertulis, hanya berupa kesepakatan antara pemerintah daerah dengan masyarakat melalui musyawarah. Kelima, cara mengatasi kendala dalam kerjasama sebagai berikut; (1) kendala pembangunan kurang maksimal diselesaikan dengan cara pemerintah daerah melakukan perundingan dan negosiasi dengan pihak perhutani. (2) Kendala masyarakat kontra terhadap pemerintah daerah diselesaikan dengan musyawarah dan negosisasi. (3) Kendala perjanjian secara tidak tertulis diselesaikan dengan cara masyarakat meminta untuk dibuatkan perjanjian secara tertulis sebelum waduk diresmikan. Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh saran sebagai berikut: Bagi masyarakat sekitar Waduk Bendo hendaknya menjadikan penelitian ini sebagai bahan perundingan guna memecahkan masalah yang terjadi di Waduk Bendo berkaitan dengan kerjasama antara pemerintah daerah dengan masyarakat dalam pembangunan Waduk Bendo. Bagi Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang hendaknya menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu literatur atau bahan kajian sosial mengenai kerjasama antara pemerintah daerah dengan masyarakat dalam pembangunan waduk. Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai penambah pengetahuan, informasi, dan referensi untuk pembelajaran mengenai kerjasama antara pemerintah daerah dengan masyarakat dalam pembangunan waduk. Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada para calon peneliti lain untuk melakukan penelitian yang sama di bidang sosial budaya
PELAYANAN PUBLIK BANTUAN PANGAN NONTUNAI MELALUI E-WARONG AL AWALU AL BAROKAH DI KELURAHAN BENDO KOTA BLITAR
RINGKASAN PELAYANAN PUBLIK BANTUAN PANGAN NONTUNAI MELALUI E-WARONG AL AWALU AL BAROKAH DI KELURAHAN BENDOKOTA BLITAR PUBLIC SERVICES FOR NONCASH FOOD ASSISTANCE THROUGHE-WARONG AL AWALU AL BAROKAHIN BENDO SUB-DISTRICT BLITAR CITY Sindi Dwiningrum Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS UM Email: [email protected] Jalan Semarang No.5 Malang ABSTRAK: Bantuan Pangan Nontunai melalui E-Warong KUBE PKH merupakan pelayanan publik dalam penyaluran bantuan sosial pengganti program Rastra atau beras sejahtera. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan deskriptif.Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrument penelitian.Peneliti memilih lokasi penelitian di unit E-Warong Al Awalu Al Barokah di Kelurahan Bendo Kota Blitar.Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan tiga teknik, yaitu teknik wawancara, observasi dan dokumentasi.Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik.Dalam penelitian ini terdapat empat tahap, yaitu tahap awal, tahap inti, tahap analisis data dan tahap penulisan laporan. Hasil penelitian ini sebagai berikut.Pertama, pelayanan publik bantuan pangan nontunai melalui E-Warong Al Awalu Al Barokah di Kelurahan Bendo Kota Blitar dilaksanakan melalui beberapa tahapan yakni; (a) adanya e-warong dan pengelola e-warong, (b) rapat seluruh pendamping e-warong bersama koordinator PKH Kota Blitar, (c) pengemasan ulang komoditi BPNT, (d) pembuatan undangan pengambilan BPNT untuk KPM, (e) pembuatan form kontrol, (f) penyaluran BPNT, (g) rekon form kontrol, (h) melunasi kekurangan komoditi dan (i) membuat laporan. Kedua, kendala dalam pelayanan publik bantuan pangan nontunai melalui E-Warong Al Awalu Al Barokah Kelurahan Bendo Kota Blitar yakni; (a) kendala dari SDM yakni kurangnya pengelola e-warong (b) kendala kemitraan dengan penyuplai komoditi BPNT yakni kualitas komoditi buruk ( c) kendala kemitraan dengan BNI yakni mesin EDC sering eror, (d) KPM yang kehilangan KKS/ lupa nomor pinnya, (e) KPM yang tidak tanda tangan di form kontrol, (f) KPM yang tidak hadir pada saat penyaluran BPNT. Ketiga, upaya untuk mengatasi kendala dalam pelayanan publik Bantuan Pangan Non Tunai melalui E-Warong Al Awalu Al Barokah di Kelurahan Bendo Kota Blitar yakni (a)upaya mengatasi kendala dari segi SDM yakni pada saat penyaluran BPNT dibantu oleh PSM, (b) upaya mengatasi kendala kemitraan dengan penyuplai komoditi yakni dilakukan pengembalian kepada penyuplai untuk komoditi yang buruk, (c) upaya mengatasi kendala kemitraan dengan BNI yakni dilakukan reset ulang mesin EDC yang eror, (d) upaya mengatasi KPM kehilangan KKS/lupa nomor pinnya yakni memberikan amplop wadah KKS yang diberi keterangan nomor pin, (e) upaya mengatasi KPM yang tidak tanda tangan di form kontrol adalah melakukan pengecekan pada bukti transaksi yang disimpan oleh pengelola e-warong, (f) upaya mengatasi KPM yang tidak hadir saat penyaluran BPNT adalah melakukan kunjungan ke rumah KPM untuk mengetahui penyebabnya dan memberikan solusinya. Saran yang diberikan peneliti yaitu: (a) bagi Dinas Sosial Kota Blitar untuk lebih meninjau keadaan di lapangan, (b) bagi pendamping dan pengelola E-Warong Al Awalu Al Barokah lebih memahami fungsi dan tujuan e-warong sehingga dapat melaksanakan semua fungsi e-warong, (c) bagi rekan kemitraan E-Warong Al Awalu Al Barokah untuk lebih meningkatkan kerja sama di bidangnya masing-masing, (d) bagi KPM di unit E-Warong Al Awalu Al Barokah untuk lebih meningkatkan partisipasinya dalam proses pelaksanaan fungsi e-warong. Kata Kunci: pelayanan publik, BPNT, PKH, E-Warong, bantuan sosial, bidang sosial Non-cash food assistance through E-Warong KUBE PKH is a public service in the distribution of social assistance that replaces Rastra (Beras Sejahtera) or prosperous rice program. This study uses qualitative approach that produces descriptive. In this study, the researcher acts as the research instruments. The researcher chose the location of the study in the Al Awalu Al Barokah E-Warong unit in the Bendo Village of Blitar City. The data sources in this study are divided into two which are primary data sources and secondary data sources. The procedure of data collection is carried out with three techniques; there are interviews, participatory observation and documentation. The researcher then uses three data analysis; data reduction, data presentation and conclusion or verification. The validity checking of the data is done through source triangulation and technical triangulation. There are four stages in this study, which are initial stage, core stage, data analysis stage and report writing stage. The results of this study are as follows. First, public service for non-cash food assistance through E-Warong Al Awalu Al Barokah in Bendo Sub-District, Blitar City is carried out through several stages; (a) the existence of e-warong and e-warong manager, (b) meeting of all e-warong assistants along with the Blitar PKH coordinator, (c) repackaging BPNT commodities, (d) making invitations to take BPNT for KPM, (e) making control form, (f) BPNT distribution, (g) control form record, (h) pay off commodity shortages and (i) make a report. Second, the constraints in public services for non-cash food assistance through E-Warong Al Awalu Al Barokah, Bendo Sub-District, Blitar City, namely; (a) constraints from HR, namely the lack of e-warong managers (b) the constraints of partnerships with BPNT commodity suppliers, namely the quality of bad commodities (c) the constraints of partnerships with BNI, namely EDC machines are often error, (d) KPM loses the KKS / forgets the pin number, (e) KPM that does not sign in the control form, (f) KPM that is not present at the time of BPNT distribution. Third, resolving attempts to overcome the obstacles in the public service of Non-Cash Food Assistance through E-Warong Al Awalu Al Barokah in Bendo Sub-District, Blitar City namely;(a) resolving attempts to overcome the HR constraints, namely when the BPNT is assisted by PSM, (b) resolving attempts to overcome constraints on partnerships with commodity suppliers, namely the return to suppliers of bad commodities, (c) resolving attempts to overcome the constraints of partnerships with BNI, namely an erroneous reset of EDC machines, (d) resolving attempts to overcome KPM losing KKS / forgetting the pin number, namely giving KKS container envelopes who was given a pin number statement, (e) an attempt to overcome KPM which is not a signature in the control form is to check the proof of transaction that is kept by the e-warong manager, (f) resolving attempts to overcome KPM that were not present at the BPNT distribution were to visit home KPM to find out the cause and provide a solution. Suggestions given by researchers are: (a) for the Social Service Office of the City of Blitar to better review the conditions in the field, (b) the facilitators and managers of E-Warong Al Awalu Al Barokah better understand the function and purpose of e-warong so that they can carry out all e-functions warong, (c) for partners of E-Warong Al Awalu Al Barokah partnerships to further enhance cooperation in their respective fields, (d) for KPM in Al Awalu Al Barokah's E-Warong unit to further increase its participation in the process of implementing e-functions warong. Keyword:public services, BPNT, PKH, E-Warong, social assistance, social fields PENDAHULUAN Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) merupakan “program bantuan sosial pengganti dari Program Beras Sejahtera (Rastra) yang masih terdapat permasalahan dalam proses penyalurannya seperti indikator tepat sasaran yaitu yang seharusnya terdaftar tidak terdaftar, keterlambatan pendistribusian dan lain sebagainya” (Handika, 2017:3). Program BPNT ditetapkan dengan Perpres RI Nomor 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Non Tunai. BPNT dianggap mampu mengurangi beban pengeluaran KPM, meningkatkan ketepatan sasaran dan ketepatan waktu penerimaan bantuan. Hal tersebut dibuktikan dengan penurunan angka kemiskinan pada Maret 2018 yang mencapai 9,82 persen setara 25,95 juta orang dari bulan September 2017 yang mencapai 10,12 persen sertara 26,58 juta orang (Putera: 2018). Program BPNT memberikan bantuan sosial sebesar Rp. 110.000 kepada setiap KPM per bulannya yang ditransfer melalui Kartu Keluarga Sejahtera yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi kebutuhan bahan pangan seperti beras, telur dan lainnya di unit yang sudah ditentukan. Dalam mengoptimalkan pelayanan penyaluran program BPNT dan PKH Kementerian Sosial (Kemensos)meluncurkanPeraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2016 tentang Bantuan Pengembangan Sarana Usaha Melalui Elektronik Warung Gotong Royong Kelompok Usaha Bersama Program Keluarga Harapan atau disingkat E-Warong Kube PKH. E-Warong Kube PKH adalah sarana usaha yang didirikan dan dikelola oleh Kube Jasa sebagai sarana pencairan bantuan sosial berupa bahan pangan pokok dan/atau uang tunai secara elektronik, kebutuhan usaha, serta pemasaran hasil produksi anggota Kube.Sedangkan KUBE menurut (Kementerian Sosial RI, 2017) adalah: Kelompok Usaha Bersama yaitu salah satu program pemerintah yang ada pada Kementerian Sosial RI khususnya di Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan yang bertujuan untuk memberdayakan kelompok masyarakat miskin dengan memberikan modal usaha melalui program Bantuan Langsung Pemberdayaan Sosial (BLPS) untuk mengelola Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Proses pelayanan penyaluran BPNT melaluie-warong menggunakan sistem penyaluran bantuan sosial berbasis non tunai untuk mencegah distribusi yang tak tepat kualitas dan kuantitas, dengan bermodalkan Kartu Keluarga Sejahtera dan pin yang dimiliki oleh penerima, kegiatan transaksi dapat dilakukan ke unit yang telah ditunjuk sebagai e-warong (e-warong, 2016). E-warong sendiri telah dilaksanakan di seluruh Indonesia salah satunya adalah di Kota Blitar. Di kota Blitar e-warong disambut baik oleh Sekretaris Daerah Kota Blitar Rudi Wijanarko karena sesuai dengan visi misi Pemerintahan Kota Blitar dan diharapkan membantu mengurangi kemiskinan yang terjadi di Kota Blitar (Rofiq, 2016). Berdasarkan data dari pengawas e-warong Kota Blitar Bapak Jito Baskoro kuota BPNT di Kota Blitar yang tersedia adalah 5011 jiwa untuk 4 Kecamatan, dan telah tersalurkan melalui e-warong sebanyak 4745 hal ini dikarenakan beberapa alasan seperti KPM meninggal, pindah, tidak ditemukan dan lain sebagainya. Salah satu unit e-warongyang ada di Kota Blitar berada di Kelurahan Bendo yang diberi nama E-Warong Al Awalu Al Barokah atas kepemilikan Bu Rokhminarti yang mulai menyalurkan BPNT pada tahun 2017 dan melayani KPM BPNT PKH dan non PKH dari 4 Kelurahan dari Kecamatan Kepanjen Kidul. Penyaluran BPNT di E-Warong Al Awalu Al Barokah telah rutin dilaksanakan setiap bulannya, yang tiap sekali proses penyaluran memerlukan waktu sebanyak 3 hari. Dalam proses penyaluran BPNT melalui E-Warung Al Awalu Al Barokah terdapat kemudahan maupun kesulitan. Maka dari itu akan dibahas lebih lanjut bagaimana pelayanan publik program BPNT melaluiE-Warung Al-Awalu Al-Barokah di Kelurahan Bendo Kota Blitar. Pelayanan Publik Menurut Moenir (2010 : 26) “pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materi melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya”. Sedangkan publik menurut KBBI adalah orang banyak, menurut Moore dalam (Mukarom, 2015: 20) “dalam publik terdapat ikatan berupa kepentingan yang mempersatukan dan menciptakan kesamaan pandangan yang mengarah pada kebulatan terhadap suatu persoalan”. Menurut Sinambela (2011:5) “pelayanan publik diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tatacara yang telah ditetapkan”. Jadi dapat disimpulkan pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan pada masyarakat yang memiliki keperluan dalam pelaksanaan pelayanan harus sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Pelayanan publik yang harus diberikan oleh pemerintah diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama menurut Mahmudi dalam Hardiansyah (2011:20-23), yaitu: a. pelayanan kebutuhan dasar: 1) kesehatan; 2) pendidikan dasar; 3) bahan kebutuhan pokok masyarakat dan b. pelayanan umum: 1) pelayanan administrative; 2) pelayanan barang; 3) pelayanan jasa. E-Warong E-Warong diatur dalam Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2016 tentang Bantuan Pengembangan Sarana Usaha Melalui Elektronik Warong Gotong Royong Kelompok Usaha Bersama Program Keluarga Harapan. Persyaratan pembentukan e-warong KUBE PKH diatur dalam Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 25 Tahun 2016 tentang Bantuan Pengembangan Usaha melalui E-Warong KUBE PKH pada pasal 5 yaitu “a. membentuk KUBE Jasa dan b. memiliki tempat untuk mendirikan e-warong KUBE PKH. Untuk kriteria e-warong diatur pada pasal 4 yakni a. lokasi terkoneksi dengan internet dan jaringan listrik; b. melayani 500 sampai dengan 100 KPM; c. menggunakan tempat/rumah pengurus KUBE Jasa atau berdasarkan kesepakatan anggota KUBE;d. melaksanakan transaksi Bantuan Pangan Non tunai Bantuan Pangan Non Tunai Bantuan Pangan Non tunai diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Non Tunai. Berdasarkan peraturan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Non Tunai pasal 1 ayat 7 disebutkan “elektronik warung gotong royong yang selanjutnya disebut e-warong adalah agen bank, pedagang dan/atau pihak lain yang telah bekerja sama dengan Bank Penyalur dan ditentukan sebagai tempat penarikan/pembelian Bantuan Sosial oleh Penerima Bantuan Sosial bersama Bank Penyalur”. Bantuan Pangan Non tunai diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Non Tunai. Dalam Perpres RI Nomor 63 Tahun 2017 pasal ayat (4) dijelaskan “penerima bantuan sosial adalah seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat miskin, tidak mampu, dan/atau rentan terhadap risiko sosial”. Program Keluarga Harapan (PKH) Program perlindungan sosial yang dikenal dunia internasional dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan Program Keluarga Harapan (PKH) ini merupakan upaya percepatan penanggulangan kemiskinan dengan pemberian bantuan bersyarat kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) (Kementerian Sosial RI:2017). Penerima bantuan bersyarat PKH untuk keluarga miskin menurut (Kementerian Sosial RI:2017) adalah: diutamakan bagi ibu hamil untuk memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan (faskes) dan anak untuk memanfaatkan fasilitas pendidikan (fasdik) serta mencakup penyandang disabilitas dan lanjut usia mulai usia 70 tahun sesuai amanat konstitusi dan Nawacita Presiden RI, selain itu KPM PKH juga akan mendapatkan subsidi BPNT, jaminan sosial KIS, KIP, bantuan Rutilahu, pemberdayaan melalui KUBE Anggota PKH yang menjadi pengelola e-warong melaksanakan kegiatan pelayanan yang diatur dalam Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2016 tentang e-warong KUBE PKH. Kegiatan yang dilaksanakan pengelola e-warong yang diatur dalam Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2016 tentang e-warong KUBE PKH pasal 6 salah satunya adalah melayani pencairan Bantuan Sosial Non tunai. Dalam melakukan kegiatan pencairan Bantuan Sosial Non tunai pengelola dapat melakukan kerjasama dengan bank umum milik negara, badan usaha milih negara atau badan usaha yang menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha. METODE PENELITIAN Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penulisan penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Dalam penelitian mengenai “Pelayanan Publik Bantuan Pangan Non Tunai Melalui E-Warong Al Awalu Al Barokah Di Kelurahan Bendo Kota Blitar” merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi(Sugiono, 2015:15). Dalam penelitian kualitatif metode yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen. Penelitian kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan menjawab, memecahkan, menggambarkan gejala sosial yang terjadi pada saat sekarang. Jadi dengan metode deskriptif ini penulis menyelidiki dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi mengenai Pelayanan Publik Bantuan Pangan Non Tunai Melalui E-Warong Al Awalu Al Barokah Di Kelurahan Bendo Kota Blitar. Lokasi Penelitian Penelitian ini berlokasi di e-warong Kelurahan Bendo Kota Blitar tepatnya di unit E-Warung Al Awalu Al Barokahmilik Ibu Rokhminarti warga Jalan Serayu No. 02 RT/RW 01/06 Kelurahan Bendo Kota Blitar. Lokasi ini di dasarkan pada lokasi yang di tunjuk sebagai lokasi penyedia bahan-bahan pokok sebagai tempat transaksi e-warongbagi masyarakat penerima bantuan e-warong. Posisi e-warong ini berada di depan samping rumah pengurus dengan warna cat rumah di dominasi dengan warna biru dan putih serta terdapat banner e-warong yang dipasang di atas pintu masuk rumah. Di lokasi ini tersedia bahan-bahan pokok bersubsidi beserta mesin EDC sebagai alat transaksi. Dalam pelaksanaan pelayanan penyaluran BPNT melalui e-warongterdapat kemudahan maupun kesulitan yang dirasakan oleh masyarakat. Sumber Data Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari wawancara dengan informan. Informan dalam penelitian ini yaitu pemilik unitE-Warong Al Awalu Al Barokahyaitu Ibu Rokhminartidan pihakpendamping yaitu Bapak Haryono dari Dinas Sosial Kota Blitar yang bertanggungjawab pada unit E-Warung Al-Awalu Al-Barokah di Kelurahan Bendo serta beberapa KPM yaitu Ibu Indahwati, Ibu Purwanti, Ibu Sutarmi dan Ibu Titin. Data sekunder yaitu berupadokumen-dokumen arsip terkait. Data sekunder dari penelitian ini diperoleh dari dokumentasi yang diperoleh peniliti ketika melakukan penelitian dan situs resmi yang disediakan oleh pemerintah seperti website resmi e-warong, PKH dan BPNT. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelayanan Publik Bantuan Pangan Nontunai melalui E-Warong Al Awalu Al Barokah 1. Pelayanan Publik Bantuan Pangan Nontunai melalui E-Warong Al Awalu Al Barokah di Kelurahan Bendo Kota Blitar Pelayanan penyaluran BPNT melalui e-warong termasuk dalam kategori pelayanan pemenuhan kebutuhan pokok.Kegiatan pelayanan penyaluran BPNT melalui e-warong berdasarkan prinsip-prinsip pelayanan yang diaturPeraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Standar Pelayanan. Pelayanan penyaluran BPNT yang dilakukan pengelola E-Warong Al Awalu Al Barokah dilaksanakan melalui beberapa tahap. Pelayanan yang diberikan mulai dari 1) tahap-tahap Persiapan Pelayanan BPNT di unit E-Warong Al Awalu Al Barokah; 2) tahap-tahap saat Pelayanan BPNT di unit E-Warong Al Awalu Al Barokah; 3) tahap-tahap sesudah Pelayanan BPNT di unit E-Warong Al Awalu Al Barokah yang akan dijelaskan sebagai berikut. a. Tahap-tahap Persiapan Pelayanan BPNT di unit E-Warong Al Awalu Al Barokah Tahapan persiapan untuk penyaluran BPNT harus terpenuhi syarat adanya e-warong dan pengelola e-warong, persiapan penyaluran BPNT untuk setiap bulannya dimulai rapat setiap pendamping e-warong se Kota Blitar bersama Koordinator PKH Kota Blitar , pengemasan ulang komoditi BPNT, pembuatan undangan pengambilan BPNT untuk KPM, pembuatan form kontrol sebagai alat penyusun laporan bulanan. b. Tahap-tahap saat Pelayanan Penyaluran BPNT di unit E-Warong Al Awalu Al Barokah Penyaluran BPNT di unit E-Warong Al Awalu Al Barokah dilaksanakan selama tiga hari mulai pukul 08.00 hingga 15.00.penyaluran BPNT di E-Warong Al Awalu Al Barokah dengan mekanisme yaitu proses antri, proses transaksi, tanda tangan form kontrol, dan mengambil komoditi BPNT. Bantuan sebesar Rp. 110.000,- dalam bentuk saldo di KKS masing-masing KPM dirukarkan dengan komoditi BPNT berupa beras 10 kg dengan hargaRp. 98.000,- dan telur ½ kg dengan harga Rp. 12.000,
PENCEGAHAN PENYAKIT SOSIAL DIKALANGAN REMAJA DENGAN PONDOK PESANTREN
RINGKASAN Pada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis mengurangi angka penyakit sosial dikalangan masyarakat. Solusi tersebut adalah pencegahan penyakit sosial dikalangan remaja dengan dengan pondok pesantren. Hasil akhir dari pendidikan ini adalah anak mempunyai landasan yang mempengaruhi perilakunya dimasa sekarang serta masa-masa selanjutnya didalam kehidupan social yang bermacam gaya dan pola perilaku, terbentuknya konsep diri anak yang positif, serta kebiasakan anak beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Serta dapat menjadikan anak untuk lebih mandiri
PENERAPAN GOTONG ROYONG DI KAMPUNG 3G (GLINTUNG GO GREEN) KELURAHAN PURWANTORO, KECAMATAN BLIMBING, KOTA MALANG
RINGKASAN Gotong royong merupakan warisan budaya yang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Gotong royong adalah kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama, bersifat sukarela dan tanpa pamrih untuk menyelesaikan suatu program untuk mencapai tujuan positif yang disepakati secara musyawarah mufakat. Perkembangan zaman yang begitu cepat menyebabkan perubahan-perubahan pola fikir individu dalam masyarakat sehingga nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat juga berubah salah satunya adalah gotong royong. Untuk itu perlu adanya penguatan aktivitas gotong royong yang syarat akan nilai-nilai luhur. Salah satunya masyarakat kampung Glintung yang menggunakan gotong royong untuk menjalankan program penghijauan yang biasa disebut 3G (Glintung Go Green). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) bentuk kegiatan gotong di kampung 3G, (2) alasan masyarakat menerapkan gotong royong di kampung 3G, (3) bentuk partisipasi masyarakat dalam menerapkan gotong royong di kampung 3G. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Kehadiran dan keterlibatan peneliti dilapangan mutlak untuk menemukan data-data yang valid dari subyek penelitian dibandingkan dengan penggunaan alat nonhuman (seperti instrument angket). Prosedur pengumpulan data mengunakan observasi, wawancara, dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model analisis Miles and Huberman yang terdiri tiga langkah analisis data yaitu (1) reduksi data (data reduction), (2) penyajian data (data display), (3) penarikan kesimpulan (conclusion drawing and verification). Untuk menjamin keabsahan data, peneliti melakukan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dan menggunakan trianggulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, bentuk kegiatan gotong royong di kampung 3G meliputi: (1) menanam tanaman di setiap rumah masing-masing; (2) membuat biopori secara manual dengan kerja bakti; (3) membuat sumur injeksi yang dilakan secara gotong royong untuk menabung air dalam tanah; (4) menanam sistem pot/polybag untuk penghijaun dan membagikan ke rumah-rumah warga; (5) menanam tanaman hidroponik untuk mensiasati lahan yang sempit di kampung 3G; (6) membuat vertical garden dilakukan dengan kerja bakti untuk mengurangi pantulan panas sinar matahari; (7) membuat sky garden untuk melembabkan suhu udara di kampung 3G; (8) membuat flying garden dilakukan untuk memperindah kampung 3G; (9) mengecat kampung secara gotong royong; (10) membersihkan kampung secara gotong royong agar kampung menjadi sehat dan bersih; dan (11) acara hajatan merupakan bentuk tolong menolong untuk membantu warga dalam bentuk material maupun tenaga. Kedua, alasan masyarakat menerapkan gotong royong di kampung 3G meliputi: (1) kesadaran diri berbuat ikhlas untuk ikut kerja bakti dan sebagai bentuk amal ibadah oleh masyarakat; (2) harapan mengubah wajah kampung menjadi lebih baik sehingga warga memiliki kualitas hidup yang lebih baik; (3) sanksi administrasi diberlakukan agar masyarakat tidak menolak untuk melakukan penghijauan; (4) Sanksi sosial dilakukan agar masyarakat mau gotong royong dan memiliki sikap moral yang baik; (5) menambah pengalaman berupa pengetahuan tentang tanaman hidroponik dan cara mengolah berbagai jenis bibit tanaman (6) menguatnya interaksi sosial, berupa terjalinnya kebersamaan dan lunturnya sikap individualisme. Ketiga, bentuk partisipasi masyarakat dalam menerapkan gotong royong di kampung 3G meliputi: (1) partisipasi inisiatif, berupa ide dan gagasan dari masyarakat untuk program 3G; (2) partisipasi fisik, berupa pengerahan tenaga untuk melaksanakan program pembangun 3G; (3) partisipasi uang, berupa sumbangan sukarela bagi masyarakat yang mampu untuk memenuhi kebutuhan program; dan (4) partisipasi harta benda berupa sumbangan sukarela seperti pot untuk media tanam. Saran yang dapat diberikan peneliti setelah melakukan penelitian antara lain: bagi masyarakat kampung Glintung Go Green supaya tetap meningkatkan keikutsertaan dan mempertahankan aktivitas gotong royong yang syarat akan nilai luhur; bagi masyarakat umum supaya memupuk dan melestarikan aktivitas gotong royong sehingga eksistensi kepribadian bangsa Indonesia tetap terjaga; bagi pemerintah baik pusat dan daerah supaya menerapkan kebijakan dan kebijaksanaan tentang pentingnya aktivitas gotong sebagai pancaran jiwa Pancasila dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat
ANALISIS KOMPARATIF FERTILITAS PENDUDUKANTARA MASYARAKAT PETANI DENGAN MASYARAKAT PEDAGANG DI DESA MIMBAAN KECAMATAN PANJI KABUPATEN SITUBONDO
RINGKASAN Sa’idi, Rony Khollan. 2017. Analisis Komparatif Fertilitas Pendudukantara Masyarakat Petani Dengan Masyarakat Pedagang Di Desa Mimbaan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Dr. Singgih Susilo, M.s, M.si Kata Kunci: fertilitas, PUS, variabel antara, komparatif Fertilitas adalah hasil reproduksi yang nyata (bayi lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Akan tetapi dalam perkembangannya fertilitas lebih diartikan sebagai hasil reprodusi nyata (bayi lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Desa Mimbaa merupakan Desa dengan letak strategis sehingga menjadi sentra penggerak dalam bidang perekonomian,pendidikan, dan perdagangan, sehingga terdapat banyak kelompok masyarakat yang melakukan migrasi dengan alasan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Desa Mimbaan memilikijumlah penduduk wanita pernah kawin PUS usia produktif (14-49 tahun) yaitu sebanyak 20.945 jiwa. Jumlah penduduk dalam mata pencaharian sangat mendominasi pada petani sebnyak 1.609 jiwa yang terdiri dari buruh tani 1.267 jiwa dan tani 342 jiwa, sedangkan jumlah penduduk yang terbanyak kedua bermata pencaharian pedagang yaitu sebanyak 639 jiwa. Jumlah kelahiran yaitu sebanyak 365 yang terdiri dari laki-laki 179 jiwa dan perempuan 186 jiwa, angka kelahiran ini merupakan angka kelahiran tertinggi. Desa Mimbaaan menyumbang angka kelahiran tertinggi yaitu sebanyak 50 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebnyak 26 jiwa dan perempuan sebanyak 24 jiwa, sehingga TFR kecamatan panji pada tahun 2016 mencapai angka 1,3. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan pengkajian mengenai. analisis komparatif fertilitas pendudukantara masyarakat petani dengan masyarakat pedagang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang komaratif fertilitas di Desa Mimbaan, mendeskrispsikan perbedaan anatara petani dan pedagang dari faktor usia kawin pertama, lama periode reproduksi, lama penggunaan kontrasepsi, mortalitas bayi, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan terhadap fertilitas secara simultan maupun parsial. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui faktor apakah yang paling dominan mempengaruhi fertilitas di Di Desa Mimbaan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo. Penelitian ini merupakan penelitian kantitaif metode survei. Penarikan sampel dilakukan secara proporsional random sampling dengan responden wanita pernah kawin berjumlah 92 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan juga menggunakan uji pebedaan independen sampel t test dan regresi linear berganda. Hasil uji t test menunjukkan tidak terdapat perbedaan fertilitas antara masayarakat petani dan masayarakat pedagang di Desa Mimbaan, adapun faktor yang memiliki perbedaan dalam fertilitas yaitu pendapatan keluarga, faktor yang memliki sumbanagan tertinggi adalah mortalitas bayi untuk masyarakat petani dan lama periode reproduksi untuk masyarakat pedagang
PEMBELAJARAN ETIKA POLITIK UNTUK MENGATASI HILANGNYA ETIKA POLITIKUS
RINGKASAN Pada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis dan efektif untuk menangani masalah etika politik di kalagan para politikus. Solusi tersebut adalah pembelajaran etika politik efektif. Pembelajaran ini dapat diterapkan di perguruan tinggi sehingga para peserta didik sebagai generasi penerus politik Indonesia dapat lebih beretika. Pembelajaran ini merupakan suatu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar mengenai etika politik secara efektif dan memperoleh hasil yang signifikan. Hasil akhir dari pembelajaran ini adalah setiap peserta didik mendapat peran untuk latihan kepemimpinan dengan kreatif, solutif, serta beretika. Kata Kunci: etika politik, pembelajaran, efektif, latihan kepemimpinan
Pengamalan Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang.
ABSTRAK Fitria, Ulfa. 2017. Pengamalan Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd, M.Si, (II) Dr. Didik Sukriono, S.H, M.Hum. Kata Kunci: Nilai-nilai kearifan lokal, Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk, Candi Kidal Budaya asing yang mendominasi terhadap nilai budaya asli mampu menggeserkan kebudayaan yang menjadi jati diri bangsa. Kondisi tersebut sudah mulai terlihat di tengah kehidupan kita saat ini. Budaya-budaya asing datang dengan begitu mudahnya akibat dampak dari kuatnya arus global. Dampak yang dikhawatirkan dari pergeseran kebudayaan tersebut berupa sikap dan olah pikir dari manusia Indonesia sendiri, dari sikap yang mengunggulkan gotong royong dan musyawarah menjadi lebih individualis, yang demikian itu jauh dari ajaran kebudayaan yang luhur. Untuk tetap mempertahankan keluhuran budaya bangsa Indonesia ini, salah satu alternatifnya dengan mengembangkan dan mempertahankan budaya sendiri, salah satu budaya yang dimaksud adalah Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal. Tujuan dari penilitian ini: (1) Menjelaskan asal usul Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk, (2) Mendiskripsikan prosesi pelaksanaan Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal, (3) Mengetahui nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal, (4) Memahami perspektif masyarakat tentang adanya Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal , (5) Mengetahui kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal, (6) Mengetahui bagaimana mengatasi kendala dalam upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan orientasi teoritis tentang kebudayaan yang berjenis penelitian etnografi, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari Bapak KRAT. Sutrimo RB, SE., MM sebagai ketua pelaksana dari LSM atau Ormas Raket Prasaja, Ibu Siti Romelah sebagai ketua Juru Kunci Candi Kidal, Bapak Imam Pinarko sebagai Juru Kunci II candi Kidal, Bapak Achmad Taufik sebagai Kepala Desa Kidal, Bapak Utomo sebagai penari Garudeya, Bapak Sateman sebagai sesepuh Desa Bangilan-Pandanajeng. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan wawancara, studi dokumentasi, dan observasi. Analisis data yang dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian adalah: (1) Asal mula Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal yaitu mengangkat kembali kegiatan luhur pendahulu yaitu Tradisi Ruwatan Sengkala pada masa Kerajaan Singosari; (2) Pelaksanaan Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal terbagi menjadi dua tahapan yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan; (3) Nilai-nilai kearifan lokal dalam Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal terdapat sembilan nilai luhur; (4) Perspektif masyarakat tentang adanya Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal; (5) Kendala dalam pelaksanaan Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal yaitu faktor internal (dana dan ketidakpedulian masyarakat terhadap tradisi dan faktor alam. (6) Upaya pelestarian Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal yaitu gotong royong, perlengkapan sarana dan prasarana, dan pelaksanaan secara rutin. Saran yang berhubungan dengan upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal, yaitu kepada (1) Panitia Penyelenggara Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal mampu mempertahankan eksistensi dari kebudayaan Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal dan mampu memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat dalam memandang nilai-nilai kearifan lokal dalam Tradisi Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal, (2) Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, diharapkan ikut membantu dalam mensosialisasikan Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal, baik memalui media cetak maupun elektronik. (3) Masyarakat Desa Kidal, sudah sepatutnya ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal ini, serta masyarakat pun dituntun untuk paham terhadap nilai-nilai kearifan lokal dalam Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk di Candi Kidal