SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    MEWUJUDKAN MASYARAKAT INDONESIA MENUJU MASYARAKAT MADANI

    No full text
    ABSTRAK Masyarakat madani merupakan suatu kelompok masyarakat yang memiliki tujuan yang terpuji, dan memiliki budi pekerti yang baik. Masyarakat madani bertujuan agar negara yang menganut, masyarakat dapat adil, makmur sejahtera kehidupannya. Masyarakat indonesia seperti kita ketahui bahwa masyarakat terdiri dari berbagai suku, budaya, agama, dan tidak ketinggalan ras yang menduduki tanah indonesia. Dari berbagai kemajemukan tersebut munculah paham madani yang dapat membawa masyarakat indonesia berkesinambungan. Dari sikap menerima perbedaan pendapat, kebebasan berpendapat maupun kebebasan mengutarakan aspirasi rakyat, adanya toleransi, keadilan sosial, dan terakhir yaitu demokrasi bagi bangsa indonesia. Karakteristik tersebut menjadi acuan negara indonesia untuk mewujudkan masyarakat indonesia menuju masyarakat madani. Namun di dalam lingkup negara, demokrasi merupakan hal pokok untuk menjalankan sistem pemerintahan di wilayah negara indonesia. Tanpa adanya demokrasi, masyarakat madani tidak akan terwujud apabila salah satu karakteristik di atas tidak terpenuhi.Kata Kunci: Indonesia, masyarakat madani, karakteristik, pilar penegak, demokrasi

    PENERAPAN PRINSIP PROFESIONALISME PADA KINERJA APARATUR PEMERINTAH DESA DAGANGAN KECAMATAN DAGANGAN KABUPATEN MADIUN

    No full text
    ABSTRAK Profesionalisme merupakan cerminan dari keterampilan dan keahlian aparatur yang dapat berjalan efektif apabila didukung dengan kesesuaian tingkat pengetahuan atas dasar latar belakang pendidikan dengan beban kerja yang menjadi tanggung jawabnya dan juga sebagai cerminan potensi diri yang dimiliki aparatur, baik dari aspek kemampuan maupun aspek tingkah laku yang mencakup loyalitas, inovasi, produktivitas dan kreatifitas. Menjalankan roda pemerintahan, pemerintah desa harus menerapkan prinsip profesionalisme kepada aparat yang telah diatur oleh peraturan yang berlaku. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan judul Penerapan Prinsip Profesionalisme Pada Kinerja Aparatur Pemerintah Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan prinsip profesionalisme pada kinerja aparatur pemerintah Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun, mendeskripsikan kendala yang dihadapi Pemerintah Desa Dagangan dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa, dan mendeskripsikan penyelesaian yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Dagangan terhadap kendala yang dihadapi Pemerintah Desa Dagangan dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi Penelitian ini berada di Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Sumber data peneliti yaitu manusia, dokumen, dan peristiwa. Manusia yang menjadi informan yaitu Rudi Panca Widadi (kepala desa), Joko Suprianto (sekretaris desa), perangkat desa (Suyut, Nur Cholis, Nasarudin Latif), dan para warga(Kateno, Suratman, Nurpiyati, Hadi Siswanto). Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan  wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, serta diakhiri dengan memberikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan menggunakan teknik trianggulasi.Temuan penelitian ini adalah: (1) Prinsip profesionalisme sudah diterapkan pada kinerja aparatur pemerintah desa Dagangan, hal ini dapat dilihat dari: memiliki semangat berkinerja yang tinggi dibuktikan dengan buka pelayanan dengan tepat waktu, sikap responsif dari aparat terhadap warga yang datang untuk mengurus keperluan dikantor; patuh pada asas yang berlaku dibuktikan dengan dalam menjalankan tugas dan fungsinya para aparat berpedoman pada SOP yang berlaku; kreatif dan inovatif dibuktikan dengan semua aparaat bisa memberikan pelayanan tanpa memandang tugas dari jabatan, melakukan pelayanan jemput bola, melakukan sosialisasi terkait program kerja yang dilaksanakan; serta memiliki kualifikasi dibidangnya yang dibuktikan dengan perekrutan sesuai peraturan, meskipun demikian semua aparat bisa memberikan pelayanan meskipun bukan tugas dari jaban yang diembannya. (2) kendala yang dihadapi dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa Dagangan adalah masih terdapat aparat yang kurang disiplin terhadap peraturan yang berlaku yang dibuktikan dengan terdapat aparat yang datang terlambat maupun ada aparat yang keluar kantor pada saat jam kantor belum tutup. Kemudian membangun semangat berkinerja yang tinggi bagi aparat desa juga perlu ditingkatkan, hal tersebut dikarenakan adanya perangkat desa yang kurang disiplin maka akan mengganggu dari kinerja aparat itu sendiri. (3) Solusi yang dilakukan pemerintah desa Dagangan untuk mengatasi semua kendala saat ini adalah langkah pembinaan di pemerintah desa yaitu pada setiap hari senin dilakukan apel kinerja, selain itu aparat desa Dagangan juga mengikuti pembinaan di kecamatan Dagangan yang diikuti oleh aparat desa diseluruh kecamatan Dagangan.Berdasarkan temuan penelitian, disarankan: (1) Pemerintah Desa Dagangan perlu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dari perangkat desa dengan cara mengadakan pembinaan serta pelatihan-pelatihan bagi aparat untuk meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugas dan fungsinya. (2) Melakukan inovasi terhadap solusi yang dilakukan agar segala permasalahan yang dihadapi terselesaikan dengan baik. (3) Kepala Desa Dagangan diharapkan melakukan pendekatan yang lebih kepada aparat dibawahnya secara personal. (4) Para aparat desa Dagangan diharapkan lebih mengedepankan prinsip profesional dan etika dalam berprofesi, selain itu turut berperan dalam acara pembinaan ataupun pelatihan-pelatihan baik yang diselenggaraakan oleh pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten.Kata kunci: Prinsip, Profesionalisme, Kinerja, Aparatur Pemerinta

    PENANAMAN NILAI KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI MATA PELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP PADA KELAS XII SMAN 1 MEJAYAN KABUPATEN MADIUN

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai karakter peduli lingkungan pada SMAN 1 Mejayan, cara penanaman nilai karakter peduli lingkungan melalui mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup, hambatan dan solusinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa nilai karakter peduli lingkungan, berbagai cara penanaman nilai karakter peduli lingkungan, hambatan dan solusinya

    Model Pembelajaran Group Investigation

    No full text
    Dalam makalah ini dibahas mengenai model pembelajaran Group Investigation yng akan diterapkan kepada peserta didik. Tujuan dari penerapan model pembelajaran ini adalah untuk mengetahui manfaat dan dampak yang akan terjadi pada peserta didik. Dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya dituntut menerima apa yang diberikan oleh guru namun juga harus mampu berfikir analisis. Dalam kurikulum 2013 siswa dituntut untuk selalu aktif dalam pembelajaran di kelas hal ini selaras dengan manfaat dari model pembelajaran group investigation yang menuntut agar siswa dapat mengembangkan pola berfikir analisis. Guru hanya akan memberikan sebagian permasalahan dan akan dikembangkan oleh siswa sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah tersebut. Dalam model pembelajaran kooperatif Group Investigation guru hanya menjadi pengarah dan penunjuk dalam proses pengembangan masalah hingga penyelesaian masalah tersebut oleh siswa. Sehingga, siswa akan mampu mengembangkan proses berfikir analisis. Selain itu, dalam model pembelajaran ini juga menekankan penyelesaian masalah dengan berkelompok sehingga selain mengasah cara berfikir analisis, siswa juga akan belajar bersosialisasi dan kerja sama antar anggota kelompok

    SOLIDARITAS SOSIAL ANGGOTA KOMUNITAS MOTOR KAWASAKI NINJA 15O BLITAR “SERIKAT NINJA INDEPENDENT”

    No full text
    ABSTRAK   Dunia otomotif di negara Indonesia semakin berkembang dan bertambah maju seiring dengan berkembangnya zaman, hal ini dapat terlihat dari banyaknya komunitas-komunitas yang ada, contohnya dalam bidang otomotif, komunitas motor. Komunitas motor semakin banyak bermunculan dan berkembang di kota-kota besar maupun kota kecil. Di daerah Blitar terdapat banyak komunitas motor, salah satunya adalah komunitas motor kawasaki ninja 150 Blitar (BNC 150). Komunitas ini terdiri dari pemilik motor ninja 150 cc dan 250 cc yang ada di daerah kota Blitar maupun kabupaten Blitar. Dalam sebuah kelompok masyarakat rasa solidaritas sosial antar anggota itu sangat penting sekali karena dengan solidaritas sosial yang tinggi maka anggota di dalam kelompok tersebut secara tidak langsung memiliki hubungan yang sangat erat sekali seperti hubungan kekeluargaan.Solidaritas dalam komunitas ini meliputi solidaritas mekanis, solidaritas organik, solidaritas internal dan solidaritas eksternal.Kata kunci: Komunitas, Solidaritas, Solidaritas Sosial

    PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP MAKNA SIMBOLIK DALAM TRADISI BUKA LUWUR MAKAM SUNAN KUDUS DI DESA KAUMAN KECAMATAN KOTA KABUPATEN KUDUS

    No full text
    ABSTRAK   Tradisi Buka Luwur merupakan salah satu tradisi yang terus dilaksanakan di Kota Kudus. Melestarikan tradisi dan budaya adalah hal penting  bagi masyarakat agar identitas diri yang dimiliki  tidak mudah tergerus oleh perkembangan zaman. Menurut para ahli kebudayaan,  saat ini sejumlah warisan budaya masa lalu sedikit demi sedikit mulai terkena dampak dari globalisasi, yaitu masuknya budaya luar yang dapat menggeser eksistensi budaya nusantara. Hal tersebut terlihat dengan semakin sedikitnya generasi muda yang mengenal dan memahami budayanya sendiri. Agar eksistensi suatu kebudayaan  tidak hilang dan punah tergerus perkembangan dan kemajuan zaman hendaknya selalu diwariskan kepada generasi penerusnya, salah satunya adalah melalui pelestarian tradisi budaya lokal yang tentunya  memiliki nilai-nilai atau motivasi tertentu dalam masyarakat sebagai warisan kekayaan budaya daerah. Tradisi Buka Luwur merupakan salah satu warisan budaya turun temurun yang ada di Desa Kauman Kecamatan Kota Kabupaten Kudus. Tradisi ini dilaksanakan dengan menggantikan kain luwur penutup makam yang digunakan membungkus nisan, cungkup, dan bangunan di sekitar makam Sunan Kudus. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sekali guna mengenang sosok Sunan Kudus yang telah berjasa di Kota Kudus. Suatu tradisi tentunya memiliki makna yang baik. Berangkat dari hal itu peneliti mengadakan penelitian terhadap makna simbolik tradisi Buka Luwur. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu dan mendeskripsikan beberapa hal, meliputi: (1) pelaksanaan tradisi Buka Luwur makam Sunan Kudus, (2) makna pelaksanaaan tradisi Buka Luwur, (3) makna simbol perlengkapan dalam tradisi Buka Luwur (4) muatan edukasi yang terkandung dalam tradisi Buka Luwur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif expost facto. Pendekatan ini digunakan karena sebagian data diperoleh dari data berupa kata-kata atau data lisan dari orang-orang atau tindakan yang tidak bisa diwakili dengan angka-angka statistik. Sedangkan expost facto dikarenakan tradisi sudah berlangsung sebelum penelitian ini dilaksanakan. Jenis penelitian adalah penelitian studi kasus yang dilakukan secara intensif untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang suatu peristiwa. Metode pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah sekretaris YM3SK, Juru Kunci, dan Kepala Desa Kauman yang terkait langsung dengan tradisi Buka Luwur serta masyarakat sekitar. Peneliti berperan sebagai instrumen, yaitu sebagai pengumpul data dalam penelitian. Kegiatan analisis data dilakukan dengan analisis penjodohan pola menurut Robert K yin yaitu dengan membandingkan pola yang diprediksikan dengan kenyataan di lapangan. Pengecekan keabsahan data peneliti menggunakan teknik ketekunan pengamatan dengan membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumen yang sejenis dengan temuan peneliti. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, peneliti memperoleh empat kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pelaksanaan tradisi Buka Luwur terdapat banyak rangkaian acara mulai dari kegiatan penjamasan pusaka, munadharah masail diniyah, doa Rasul dan terbangan, khatmil Qur’an, santunan anak yatim, pembagian bubur Asyura, pembacaan qasidah albarjanzi, pengajian umum, pembagian berkat salinan, dan pembagian sego jangkrik atau uyah asem, dan yang terakhir adalah pemasangan luwur makam Sunan Kudus. Kedua, makna pelaksanaan tradisi Buka Luwur diharapkan masyarakat dapat terus mengenang jasa-jasa Sunan Kudus dalam mendirikan kota Kudus, mentauladani perjuangan Sunan Kudus dalam menyebarkan dan mengembangkan agama islam di kota Kudus, serta mentauladani kepemimpinan Sunan Kudus dalam membangun karakter masyarakat dengan semboyan “gusjigang”, dalam tradisi Buka Luwur ini semua doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan, shodaqoh-shodaqoh  yang diberikan pahalanya dikirimkan kepada Sunan Kudus, tradisi ini menjadi tradisi ngalap berkahnya Sunan Kudus yang tentunya memiliki karomah yang besar. Ketiga, makna perlengkapan yang digunakan dalam tradisi Buka Luwur, antara lain menyan, ingkung, opor, jajan pasar, sego jangkrik, bubur Asyura, kain luwur, serta pakaian yang digunakan memiliki makna yang baik. Keempat, muatan edukasi yang terkandung dalam tradisi Buka Luwur antara lain kerukunan, gotong-royong, toleransi, religius, saling berbagi, saling peduli, ikhlas, adil, demokratis, dan mencintai tradisi budaya daerah.Saran bagi masyarakat Desa Kauman peneliti mengharapkan agar masyarakat Desa Kauman dapat terus melaksanakan tradisi Buka Luwur sebagai wujud pelestarian tradisi budaya daerah agar tidak hilang. Bagi generasi penerus bangsa, peneliti mengharapkan agar pemuda-pemudi di Desa Kauman khususnya, atau pemuda-pemudi Kota Kudus pada umumnya untuk tidak melupakan sejarah, menghormati para Auliya yang telah berjasa bagi Kota Kudus, generasi muda juga dapat mentauladani  spirit ketokohan Sunan Kudus dalam menyebarkan dan mengembangkan agama islam di Kota Kudus dengan segala ajarannya. Bagi peneliti lain, dapat melakukan penelitian terkait masalah-masalah yang belum dibahas, atau mengkaji tentang tradisi-tradisi budaya di Kudus yang lain sebagai warisan kekayaan budaya daerah yang perlu untuk terus dilestarikan agar tidak hilang tergerus oleh perkembangan zaman

    PRESEPSI MASYARAKAT TERHADAP EFEKTIVITAS PELAYANAN PROGRAM RASKIN

    No full text
    ABSTRAK   Program raskin diluncurkan dalam rangka mengamankan kondisi rawan pangan yang di akibatkan oleh krisis yang berkempanjangan dan menurunnya daya beli masyarakat, dengan tujuan untuk meningkat kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu bahwa masyarakat pada saat ini jauh dari kondisi sejahtera, maka perlu indikator-indikator masyarakat yang telah mencapai kesejahteraan. Usaha-usaha kesejahteraan sosial merupakan suatu organisasi yang formal. Pemberian bantuan dan amal perorangan, walaupun mereka mengadakan usaha kesejahteraan namun demikian tidak terorganisasi secara formal. Juga pelayanan-pelayanan dan bantuan dalam hubungan saling menolong seperti keluarga, sahabat-sahabat, tetangga, kelompok-kelompok kekerabatan dan semacamnya tidak termaksud dalam pengertian struktur kesejahteraan sosial (sebagai sistem sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia).Kata Kunci: Presepsi, Masyarakat, Efetivitas, Pelayanan, Program, Raski

    AKTUALISASI HAK ASASI MANUSIA DALAM NEGARA HUKUM YANG BERDASARKAN PANCASILA

    No full text
    Negara hukum adalah negara yang menjadikan hukum sebagai landasan dalam mengatur masyarakat. Hak asasi manusia merupakan hak yang melekat pada setiap jiwa manusia yang merupakan anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Negara hukum memiliki andil dalam penegakkan hak asasi manusia. Adapun tugas negara hukum yakni memberikan perlindungan, pengakuan serta penegakkan terhadap terlaksananya hak-hak asasi bagi setiap masyarakatnya. Hukum harus dijadikan sebagai pedoman yang tegas dalam menegakkan hak asasi manusia yang tetap disesuaikan dengan nilai-nilai dalam Pancasila

    PERAN APARATUR DESA DALAM PELAYANAN PUBLIK MELALUI APLIKVSI SISTEM INFORMASI DESA BERBASIS WEBSITE DI DESA PULOSARI KECAMATAN BARENG KABUPATEN JOMBANG

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran aparatur desa dalam pelayanan publik melalui aplikasi Sistem Informasi Desa (SID). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskripstif. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran aparatur desa dalam pelayanan publik melalui aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) yaitu: memberikan layanan surat adminitrasi kependudukan

    PROGRAM GREEN & CLEAN AND CHARACTER BUILDING SEBAGAI UPAYA PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SMK NEGERI 1 SINGOSARI

    No full text
    ABSTRAK   PROGRAM GREEN & CLEAN AND CHARACTER BUILDING SEBAGAI UPAYA PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SMK NEGERI 1 SINGOSARI Nila Annisa Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected] ABSTRAK: Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui, (1) Program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari (2) Pelaksanaan program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMKN 1 Singosari (3) Hambatan  yang di hadapi pihak sekolah terkait program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMKN 1 Singosari (4) Dampak dari program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter peserta didik di SMKN 1 Singosari. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama program green & clean and character building sebagai upaya penanaman pendidikan karakter peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari. Kedua, dalam pelaksanaan program tersebut walikelas juga berpartisipasi dalam mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung. Ketiga, hambatan yang di hadapi terkait program green & clean dan character building adalah terbatasnya sarana prasarana, ketidak hadiran walikelas, tidak ada buku panduan lengkap Adiwiyata, Keempat, output yang di hasilkan dari program green & clean dan character building  sebagai upaya penanaman pendidikan karakter tersebut, peserta didik dapat meningkatkan nilai-nilai spiritual, memiliki wawasan yang lebih luas dan siswa lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan  sekitar. Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Green & Clean, Character Building Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam tindakan nyata berupa tingkah laku seperti jujur, bertanggung jawab, kerja keras dan sebagainya dan di praktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini pendidikan karakter juga di tanamkan melalui program green & clean and character building pada peserta didik di SMK Negeri 1 Singosari. Pengertian Adiwiyata Kata ADIWIYATA berasal dari 2 (dua) Kata “ADI” dan “WIYATA”. Adi memiliki makna: besar, agung, baik, ideal dan sempurna. Wiyata memiliki makna: tempat dimana seorang mendapat ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam berkehidupan sosial. Jika secara keseluruhan ADIWIYATA mempunyai pengertian atau makna: tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh secara ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita menuju keada cita-cita pembangunan berkelanjutan Program Green & Clean and Character Building di SMK Negeri 1 Singosari sebagai upaya penanaman pendidikan karakter peserta didik di SMKN 1 Singosari Berdasarkan hasil temuan peneliti di lokasi penelitian di SMK Negeri 1 Singosari, peneliti menyimpulkan  bahwa pendidikan itu sangat penting, pendidikan dapat diperoleh dari mana saja, tanpa disadari pendidikan juga bisa diperoleh dari hal-hal kecil disekitar kita, selain harus belajar di ruang kelas. Hal tersebut juga sama yang diugkapkan oleh Kurniawan (2013: 27) bahwa pendidikan itu seluruh aktifitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik terhadap semua aspek perkembangan kepribadian, baik jasmani dan rohani, secara formal, informal, dan nonformal yang berjalan terus-menerus untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi atau moral yang baik. Dalam hal ini SMK Negeri 1 Singosari menggagas sebuah Program, yang mana program tersebut merupakan kegiatan yang mengutamakan aspek penanaman pendidikan karakter bagi peserta didik. Program tersebut diberi nama Green & Clean and Character Building , seperti yang diungkapkan oleh Pak Doni pada wawancara (16 November 2017) bahwa pada tahun-tahun sebelumnya sudah ada bahkan sejak beberapa tahun lalu namun terjadi perubahan nama hingga ditahun ini nama programnya adalah Green & Clean and Character Building. Program tersebut merupakan salah satu program yang diusung oleh Adiwiyata, Adiwiyata merupakan program yang dibentuk oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Hal tersebut diungkapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bahwa Program Pada tahun 1996 disepakati kerjasama pertama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, yang diperbaharui pada tahun 2005 dan tahun 2010. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tahun 2005, pada tahun 2006 Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan program pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar dan menengah melalui program Adiwiyata. Mengingat betapa pentingnya karakter bagi sebuah bangsa maka perlu diadakan sebuah perbaikan moral bagi generasi muda. Karakter bangsa merupakan aspek yang penting dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) karena karakter yang baik itu perlu dibina sejak usia dini dan dilaksanakan terus menerus. Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Muslich (2013: 70) bahwasannya karakter terbentuk karena seseorang itu melakukan suatu kebaisaan terus menerus dengan sikap yang diambil serta kata-kata yang diungkapkan kepada orang sekitarnya. Karena dalam perkembangannya karakter itu bisa berubah akibat pengaruh dari lingkungan sekitar maka dari itu SMK Negeri 1 Singosari berupaya menanamkan pendidikan karakter melalui Program Green & Clean and Character Building karena kemajuan suatu bangsa itu bisa dilihat dari kualitas karakter bangsa. Adiwiyata merupakan program yang mengutamakan terciptanya kesadaran warga sekolah serta pengetahuan yang lebih luas dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Hal ini juga disampaikan oleh Sinta (2017) bahwa pengertian adiwiyata secara keseluruhan adalah tempat yang baik dan ideal untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengembangkan norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita menuju cita-cita pembangunan berkelanjutan. Menciptakan lingkungan yang ideal merupakan salah satu fokus program Green & Clean seperti yang diungkapkan oleh Pak Hamdan pada wawancara (17 November 2017) Program Green & Clean itu itu sebenarnya mengacu pada lingkungan jadi kita lebih bagaimana cara membuat lingkungan yang sehat, bersih yang nantinya bisa mempengaruhi seluruh warga sekolah. Dengan melaksanakan program tersebut secara tidak langsung dalam ingatan peserta didik akan tertanam sifat kepedulian social, mencintai lingkungan sekitar serta mewujudkan sumberdaya manusia yang berkarakter. Perbedaan program tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya pasti ada, seperti perubahan dari yang kurang baik menjadi baik, perubahan dari yang kotor menjadi bersih. Mengingat adanya program ini telah berjalan dua tahun lebih di SMK Negeri 1 Singosari maka tentu ada perbedaan dan perubahan pada tahun ini dan tahun sebelum-sebelumnya sesuai pendapat dari Pak Doni bahwa pada tahun ssebelumnya masih banyak pengadaan-pengadaan tapi kalau tahun ini sudah pada tahapan perawatan dan pengembangan”. (Wawancara 16 Nopember 2017). Hal tersebut berbeda dengan pendapat Pak Hamdan selaku orang yang setiap jumat mengikuti jalannya pelaksanaan program bahwa hal yang dirasakan adalah guru-guru pada tahun ini sudah mulai malas dalam pelaksanaan program dan juga pada tahun ini sekolah tidak memberikan anggaran untuk program. Dari kedua pendapat di atas jelas memiliki perbedaan dimana pada tahun sebelumnya berupa rencana-rencana yang masih belum terlaksana kemudian pada tahun ini sudah mulai tahap pelaksanaan namun guru malah mulai malas dalam pelaksanaannya sedangkan menurut sumber lainnya adalah masalah dana ditahun ini yang tidak memiliki anggaran dari pihak sekolah padahal ditahun sebelumnya pihak sekolah memberikan anggaran sendiri untuk program adiwiyata Green and Clean ini. Pelaksanaan Program Green & Clean and Character Building SMK Negeri 1 Singosari Sebagai Upaya Penanaman Pendidikan Karakter Peserta Didik Di SMKN 1 Singosari Program ini dilaksanakan setiap hari jumat dimulai pukul 06.30-07.45 WIB dengan dua siklus kegiatan yaitu Green & Clean  dan Character Building. Kemudian Character Building dibagi lagi menjadi dua kegiatan yang berbeda yaitu Characters Building di aula dan Character Building di masjid. Kegiatan ini rutin dilaksanakan pada hari jumat secara berkelanjutan dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh pendidikan karakter selain belajar materi pelajaran di ruang kelas. Hal ini selaras dengan sepenggal visi dan misi sekolah yaitu berbudaya Lingkungan, yang Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dua hal itu merupakan penjabaran dari terbentuknya Program Green & Clean dan Character Building di SMK Negeri 1 Singosari. Harapan sekolah dalam membuat program tersebut adalah agar dengan terbiasanya peserta didik dihari jumat melaksanakan pembinaan karakter maka dalam kehidupan selanjutnya peserta didik tertanan dala m pikiran dan hatinya bahwa hal-hal yang positif itu bisa dilakukan mulai dari hal kecil, dimulai dari lingkungan sekitar. Kesimpulannya adalah kegiatan positif yang dilakukan secara terus menerus kemudian menempel pada individu maka akan membentuk karakter yang baik bagi individu itu sendiri. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bahwa prinsip-prinsip dasar Adiwiyata yaitu partisipatif dan berkelanjutan. Partisipatif maksudnya adalah semua pihak sekolah berperan aktif secara keseluruhan mulai perencanaan sampai evaluasi kegiatan serta bertanggung jawab sesuai perannya sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Made Pidarta dalam Siti Irene Astuti D. (2009: 31-32) bahwa partisipasi itu keterlibatan seseorang atau beberapa orang dalam suatu kegiatan. Keterlibatan dapat berupa keterlibatan mental dan emosi serta fisik dalam menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya (berinisiatif) dalam segala kegiatan yang dilaksanakan serta mendukung pencapaian tujuan dan tanggungjawab atas segala keterlibatan. Prinsip yang kedua adalah berkelanjutan artinya seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif. Hal itulah yang membentuk karakter peserta didik yang secara tidak sadar akan melahirkan generasi bangsa yang berkarakter dan berkualitas. Green and Clean Pelaksanaan Program Green & Clean dan Character Building di SMK Negeri 1 Singosari yang pertama adaah Green & Clean dalam pelaksanaannya dimulai pada pukul 06.30-07.45 WIB. Kegiatan nyata yang dilakukan adalah tiga rangkaian kegiatan yaitu pencegahan terhadap kerusakan lingkungan, perawatan seluruh area sekolah, dan penanggulangan terhadap bencana. Peserta didik sudah terjadwal setiap tahunya untuk membersihkan area berbeda yang sudah  ditentukan sesuai jadwal waktu dan tempatnya. Tiga bentuk aksi nyata dalam kegiatan Green and clean adalah: a.Pencegahan Terhadap Kerusakan Lingkungan Kegiatan yang dilakukan adalah dengan menyiram tanaman, reboisasi,  membersihkan ruang kelas beserta seluruh property kelas, pembersihan bengkel masing-masing jurusan, pembersihan area taman sekolah. b.Perawatan Seluruh Area Sekolah Pelaksanaan kegiatan ini salah satunya yaitu merawat kolam ikan dengan memberi makan ikan, mencabut rumput liar di area sekolah, merawat alat dan mesin yang ada di setiap bengkel jurusan. c.Penanggulanggan Terhadap Bencana Misalkan terjadi banjir maka kegiatan yang dilakukan peserta didik adalah dengan cara menanam kembali pohon (reboisasi) yang sudah mati, jika ada bencana mereka membenahi lingkungan yang rusak. Ketiga bentuk kegiatan tersebut selaras dengan 4 (empat) komponen yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup yang menjadi satu kesatuan utuh dalam mencapai sekolah Adiwiyata. Keempat komponen tersebut adalah: (1) Kebijakan Berwawasan Lingkungan, (2) Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan, (3) Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipatif, (4) Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan. Character Building di Aula Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan setiap dua minggu sekali. Kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi dan penyuluhan. Masing-masing bergantian kalau minggu ini sosialissi maka pertemuan yang akan datang dilakukan penyuluhan. Seperti yang sudah dilaksanakan yaitu sosialisasi program Adiwiyata dan Pembentukan karakter oleh guru Bimbingan Konseling (BK)  dilaksanakan setiap hari Jumat di Aula SMK Negeri 1 Singosari. Setiap Minggu bergantian dari pihak BK dan tim Adiwiyata memberikan sosialisasi program dan pembentukan karakter kepada siswa SMK Negeri 1 Singosari. Masing-masing memiliki peran yang berbeda namun tetap pada tujuan akhirnya yaitu pembentukan karakter peserta didik. 1.Character Building di Masjid Yang kedua adalah kegiatan pembinanaan karakter berupa kegiataan keagamaan di masjid. Pada kegiatan Character Building di masjid ini yaitu pembinaan rohani dibagi menjadi 2 (dua) tempat yaitu masjid dan kelas teori khusus, karena bagi penganut agama islam kegiatan berlangsung di masjid dimulai dengan pembacaan sholawat kepada Nabi, sholat dhuha berjamaah, kemudian istighosah, dilanjutkan dengan siraman rohani dan diakhiri dengan doa sedangkan selain agama islam berada di ruang kelas teori dengan pembinaan rohani didampingi ahli agama yang bersangkutan. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Pak Doni ketika wawancara pada 16 November 2017 bahwa Ketika kegiatan keagamaan berlangsung di masjid maka yang beragama non islam mengikuti kegiatan keagamaan diruang kelas khusus dengan guru yang didatangkan dari luar sekolah. Hambatan yang dihadapi terkait Program Green & Clean and Character Building Sebagai Paya Penanaman Pendidikan Karakter Peserta Didik Di SMKN 1 Singosari Dalam setiap program tentu tak lepas dari adanya masalah atau hambatan dalam pelaksanaannya baik hambatan dari sekolah, guru ataupun peserta didik dalam melaksnakan program tersbut. Dimulai dari hambatan yang dihadapi pihak sekolah terkait pelaksanaan program adalah sebagai berikut: 1.Dengan terbatasnya sarana dan prasarana sekolah membuat kegiatan yang berlangsung tidak maksimal namun upaya yang dilakukan pihak sekolah adalah dengan membuat peserta didik berfikir kreatif dan mandiri. 2.Ketidakhadiran wali kelas saat kegiatan berlangsung, hal ini dikarenakan beberapa guru sedang menempuh pelatihan profesi ganda, upaya pihak sekolah dalam menangani hal ini adalah dengan mengutus guru pelaksana program untuk ikut mendampingi kelas yang bersangkutan. 3.Keterbatasan sarana pendukung dalam penyampaian informasi atau penyuluhan di aula, hal ini diupayakan untuk guru selalu membuat inovasi setiap pelaksanaan penyuluhan setiap dua minggu sekali dengan menyajikan materi yang semenarik mungkin sehingga peserta didik tidak jenuh saat materi disampaikan. 4.Pada masalah dana anggaran sekolah untuk program Adiwiyata green and Clean dan character Building. 5.Tidak adanya buku panduan khusus terkait proses program adiwiyata itu sendiri sehingga sekolah mengembangkan sendiri seluruh proses perencanaan program. Hal tersebut diungkapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bahwa Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata, belum dapat menjawab kendala yang dihadapi daerah, khususnya bagi sekolah yang melaksanakan program Adiwiyata. Hal tersebut terutama kendala dalam penyiapan dokumentasi terkait kebijakan dan pengembangan kuriku lum serta, sistem evaluasi dokumen dan penilaian fisik . Dari kendala tersebut diatas, maka dianggap perlu untuk dilakukan penyempurnaan Buku Panduan Pelaksanaan Program Adiwiyata 2012 dan sistem pemberian penghargaan yang tetap merujuk pada kebijakankebijakan yang telah ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kemendikbud. Hambatan dari peserta didik adalah adanya ketidak percayaan peserta didik kepada gurunya dengan istilah ”gurunya kok begitu” hal inipun diungkapkan oleh Pak Hamdan ketika wawancara 17 November 2017 beliau mengungkapkan bahwa masih ada role model dikalangan siswa. Dilanjutkan dengan pendapat Afrinda dan Hana (wawancara 18 November 2017) mengungkapkan bahwa ketika program berlangsung dia melihat bahwa masih banyak anak yang males menyimak, padahal informasi yang diberikan itu merupakan hal yang penting dan baik namun masih ada banyak yang enggan untuk mendengarkan, dan mungkin hal itu disebabkan oleh media isi dan penyampaiannya yang kurang asik, kemudian ketika dalam kehidupan sekolah sehari-harinya beberapa siswa ada yang masih belum peduli lingkungan sekitar, seperti membuang sampah tidak ditempatnya, menginjak rumput di taman, atau bahkan ada yang sengaja merusak beberapa property milik sekolah. Output dari Program Green & Clean and Character Building SMK Negeri 1 Singosari Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah terbentuknya karakter yang baik serta berbudaya lingkungan dengan berpedoman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ada output yang berhasil dikembangkan melalui program tersebut diantaranya adalah peserta didik menjadi peduli lingkungan sekitar, mereka sadar bahwa lingkugan harus dijaga oleh semua warga sekolah, timbulnya nilai kesopanan antar sesame, memiliki sifat bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, jujur, mandiri, komunikatif, toleransi, kreatif, berwawasan luas dan berakhlak baik, sarana pendekatan diri kepada sang pencipta, 3 (tiga) S yaitu senyum, sapa, salam, mempererat tali silaturrahmi. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Lickona bahwa peserta didik ini memerlukan karakter seperti etos kerja yang kuat, disiplin diri, ketekunan, rasa hormat dan tanggungjawab untuk memiliki hubungan dan kehidupan antar pribadi yang positif dalam masyarakat. Adiwiyata tidak hanya bermakna pengetahuan saja namun juga pada tataran perubahan prilaku yang membawa suatu perubahan perilaku, yang mana perubahan tersebut dilandasi iman, ilmu pengetahuan dan seni. Seperti yang diungkapkan oleh Gunawan bahwa pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah namun pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation), mampu merasakan (afektif) nilai yang baik serta biasa melakukannya (psikomotor).  Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Dari adanya program ini dirasakan banyak perubahan positif yang terjadi seperti contohnya muncul kesadaran diri atas pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta karakter yang baik itu tidak bisa muncul dengan sendirinya melainkan harus ditanam dan dipupuk secara konsisten. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar program adiwiyata yang kedua yaitu berkelanjutan yang artinya seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif. KESIMPULANBerdasarkan paparan data, temuan penelitian dan pembahasan dal

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇