SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    PERAN MASYARAKAT ALUN-ALUN DAN PEMERINTAH KOTA MALANG DALAM MENANGANI PENGEMIS DI KAWASAN MASJID AGUNG JAMI’ KOTA MALANG

    No full text
    RINGKASAN ABSTRAK : Pada era modernisasi ini mengemis dianggap sebagai profesi pekerjaan bagi beberapa masyarakat Indonesia karena dengan mengemis para pengemis ini dengan mudah mendapatkan uang tanpa harus mengeluarkan modal ataupun jasa yang bisa ditawarkan. Tentu hal ini menjadi suatu penyimpangan sosial karena masyarakat yang berprofesi sebagai pengemis menganggap mendapatkan penghasilan dengan cepat tanpa bekerja merupakan hal yang wajar atau baik. Para pengemis tersebut memiliki berbagai strategi dalam mendapatkan penghasilan dengan mudah seperti ibu-ibu yang membawa anaknya yang masih dibawah umur dan berdiri di pinggir jalan atau didekat lampu lalu lintas menunggu pengemudi kendaraan yang merasa iba dan memberikan uang kepada mereka. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1980 Tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis disebutkan bahwa pengemis tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) untuk mengetahui peran masyarakat Alun-Alun Kota Malang dalam menangani pengemis di Masjid Agung Jami’ Kota Malang, (2) untuk mengetahui peran Pemerintah Kota Malang dalam menangani pengemis di Masjid Agung Jami’ Kota Malang, (3) untuk mengetahui bentuk pelaksanaan penanganan pengemis yang dilakukan Pemerintah Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan Prosedur pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam langsung ke lapangan dan studi dokumentasi dilapangan. Adapun hasil penelitian ini adalah (1) Peran masyarakat Alun-Alaun Kota Malang dalam menangani pengemis di sekitar Masjid Agung Jami’ Kota Malang dilakukan secara tidak langsung atau secara tidak sadar dilakukan oleh beberapa masyarakat. Diantaranya pemasangan tulisan oleh beberapa pemilik took di sekitar Masjid Agung Jami’ dan Alun-Alun untuk menentukan hari mereke bersedia menerima pengemis. Peran kedua sering nya para pengunjung Masjid Agung Jami’ dalam memberi sebuah makanan pada Hari Jum’at membuat pada hari lain pengemis tidak ada yang berkeliaran di depan Masjid Agung Jami’ sehingga mempermudah Satuan Pamong Praja dalam menangkapnya. (2) Peran Pemerintah Kota Malang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Malang dan Polisi Satuan Pamong Praja Kota Malang dengan tiga strategi penanganan yaitu usaha preventif, represif, dam rehabilitatif. (3) Bentuk pelaksanaan penanganan yang dilakukan Pemerintah Kota Malang terfokus pada tata urutan dan pelaksanaan  tindakan preventif, represif, dan rehabilitatif. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian antara lain (1)Peran masyarakat yang minim hendaknya dilakukan secara maksimal dengan bantuan dari Pemerintah Kota Malang. (2) Perlu adanya penyuluhan dan penghalauan pengemis yang lebih sering dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang dengan melibatkan masyarakat Kata kunci: peran, penanganan, pengemi

    PENANAMAN NILAI-NILAI PANCASILA PADA PESERTA DIDIKSEKOLAH BHINNEKA TUNGGAL IKA DI DUSUN BLENDONGAN DESA SIDOLUHUR KECAMATAN LAWANG KABUPATEN MALANG

    No full text
    RINGKASAN Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa yang dijadikan pedoman bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak hanya dihafalkan, namun juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu perlunya pembiasaan sejak dini agar nilai-nilai Pancsila dapat tertanam dalam generasi muda sebagai tunas bangsa. Salah satu jalannya adalah melalui pendidikan nonformal seperti yang dijalankan pada Sekolah Bhinneka Tunggal Ika. Sekolah yang sudah berjalan 8 bulan ini memiliki tujuan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila pada anak-anak usia dini yang berada di Dusun Blendongan. Penelitian ini dilaksnakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) nilai-nilai Pancasila yang ditanamkan pada peserta didik di Sekolah Bhinneka Tunggal Ika; (2) Penanaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik di Sekolah Bhinneka Tunggal Ika; (3) Faktor pendukung dan penghambat penanaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik di Sekolah Bhinneka Tunggal Ika; (4) upaya dalam menanggulangi faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik di Sekolah Bhinneka Tunggal Ika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah dengan wawancara mendalam kepada para narasumber, observasi langsung, dokumentasi kelokasi penelitian dan tinjauan literatur. Teknik analisis yang digunakan adalah dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber Hasil penelitian diketahui : (1) Nilai-nilai Pancasila yang ditanamkan pada peserta didik di Sekolah Bhinneka Tunggal Ika, yaitu : memperkenalkan dengan agama, berperilaku sopan, mengetahui hak dan kewajiban, mengenal teman sekelas, hidup toleran, memperkenalkan dengan lingkungan sekitar, memperkenalkan dengan Indonesia, mengajarkan hidup damai, berdemokrasi, saling membantu dan berperilaku adil; (2) Penanaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik di Sekolah Bhinneka Tunggal Ika adalah dengan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, bersalaman dengan pengajar, membebaskan peserta didik memilih bangku, menyelesaikan tugas, mengantri saat pulang dan praktikum, membuat prakarya kolase Garuda Pancasila dan bendera Merah Putih, permainan kerjasama, dan hidup rukun dengan temannya, merayakan HUT RI ke-73, partisipasi dalam proses pembelajaran, menolong temannya yang kesulitan dan memperlaukan peserta didik dengan adil; (3) Faktor pendukung dan penghambat penanaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik di SekolahBhinneka Tunggal Ika berasal dari sumber daya manusia, fasilitas belajar, peserta didik, masyarakat, materi pembelajaran, dan pembelajaran yang kurang maksimal; (4) upaya menaggulangi faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik di Sekolah Bhinneka Tungal Ika adalah berasal dari pengurus Sekolah Bhinneka Tunggal Ika yang mencarikan pengajar tetap, menambah beberapa fasilitas, membuka kelas prakarya untu kanak-anak baru, membatasi waktu belajar (pukul 08.00 – 10.00 WIB), mengadakan sosialisasi kepada masyarakat, dan membuat persiapan materi serta dari Kepala Dusun Blendongan yang selalu siap sedia apabila diperlukan bantuan untuk Sekolah Bhinneka Tunggal Ika. Saran yang diberikanpenelitisetelahmelakukanpenelitianantara lain adalah :kepadapengurusdanpengajarSekolahBhinneka Tunggal Ika agar segeramencantumkannamaSekolahBhinneka Tunggal IkakepadaDinasPendidikanKabupaten Malang, kepadamasyarakatsekitardisarankan agar ikutberpartisipasiuntukkeperluan di SekolahBhinneka Tunggal Ika, dankepadaKepalaDusunBlendonganuntukmengadakanpembahasanlanjutanmengenaiSekolahBhinneka Tunggal Ika.Untuk Program StudiPPKndisarankanuntukmenjadikanSekolahBhinneka Tunggal Ikasebagaisekolahbinaan, danuntukpenelitiselanjutnyadisarankanuntukmenelititentangperkembanganSekolahBhinneka Tunggal Ika

    Kinerja Perangkat Desa dalam Melaksanakan Pelayanan Publik di Desa Bakalanrayung, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang

    No full text
    RINGKASAN Sari, Cindy Desi Fatikhah. 2018. Kinerja Perangkat Desa dalam Melaksanakan Pelayanan Publik di Desa Bakalanrayung, Kecamatan Kudu,  Kabupaten Jombang. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si, (2) Drs. Suparman Adi Winoto, S.H., M.Hum.   Kata Kunci: Kinerja, Pelayanan Publik, Perangkat Desa Pelayanan publik merupakan kewajiban menjadi tanggung jawab perangkat desa untuk mewujudkan kenyamanan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat      . Fungsi layanan dalam pelayanan pemerintah terhadap masyarakat terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan yaitu tugas atau pekerjaan itu sendiri yang harus dilakukan sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, dan proses penyelesaian dalam bentuk layanan yang memuaskan bagi penerima layanan. Pelayanan perangkat desa termasuk dalam kategori pelayanan publik karena adanya kepentingan umum dalam masyarakat yang dilayani oleh perangkat desa. Kepentingan umum yang ada di masyarakat merupakan sasaran utama dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Instansi pemerintahan dalam desa di dalamnya memiliki perangkat yang langsung berhubungan dengan pengelolaan semua sumber daya yang ada di desa terutama dalam menyelenggarakam pelayanan publik terhadap masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kinerja perangkat desa Bakalanrayung dalam melaksanakan pelayanan publik, (2) persepsi masyarakat terhadap kinerja perangkat desa Bakalanrayung dalam melaksanakan pelayanan publik, (3) hambatan perangkat desa Bakalanrayung dalam melaksanakan pelayanan publik, (4) upaya yang dilakukan perangkat desa Bakalanrayung dalam mengatasi hambatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer terdiri dari Kepala Desa, perangkat desa dan masyarakat desa Bakalanrayung yang pernah mendapatkan pelayanan dari perangkat desa. Sumber data sekunder terdiri dari pengamatan dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, (4) kesimpulan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini terdapat 4 hasil yaitu (1) kinerja perangkat desa dalam memberikan pelayanan publik sudah cukup baik, (2) persepsi masyarakat terhadap kinerja perangkat desa sebagian besar mengatakan sudah baik namun ada beberapa yang tidak puas dengan pelayanan yang diberikan, (3) hambatan yang terjadi dikarenakan kekurangan sumber daya manusia dan sarana prasarana, (4) upaya yang dilakukan perangkat desa dalam mengatasi hambatan tersebut adalah mengajukan penambahan sarana prasarana kepada pihak kecamatan. Saran yang dapat disampaikan adalah (1) agar kinerja perangkat desa dalam memberikan pelayanan publik menjadi lebih efektif dan efisien seyogyanya perangkat desa memberikan fasilitas kepada masyarakat berupa poster besar yang berisi tulisan tentang persyaratan dan prosedur dalam membuat KTP, Kartu Keluarga, Akte Kelahiran, dan Surat Kematian, (2) agar persepsi masyarakat terhadap kinerja perangkat desa dalam memberikan pelayanan publik menjadi baik seyogyanya perangkat desa lebih memperhatikan perilaku diri dalam bersikap saat melayani masyarakat, semisal lebih ramah, murah senyum, sopan santun, sabar, dan peduli kepada setiap masyarakat yang berkunjung ke balai desa. (3) agar hambatan yang terjadi dapat teratasi seyogyanya perangkat desa lebih memperhatikan usaha dalam merealisasikan kekurangan yang menjadi hambatan dalam memberikan pelayanan publik. Seperti pengadaan alat percetakan dan komputer perangkat desa dapat mengalokasikan sebagian dana untuk kebutuhan tersebut, (4) agar upaya yang dilaksanakan dapat mengatasi hambatan yang terjadi seyogyanya perangkat desa mencari ide-ide lain untuk mengatasi hambatan tersebut, seperti memberikan fasilitas berupa informasi tentang persyaratan dan prosedur dalam pembuatan KTP, Kartu Keluarga, Akte Kelahiran, dan Surat kematian, sehingga masyarakat tidak perlu bertanya-tanya dalam mengurus pembuatan surat-surat tersebut, (5) agar pelayanan yang diberikan oleh perangkat desa dapat berlangsung dengan maksimal dan memuaskan, segoyganya masyarakat tidak hanya bergantung dari informasi perangkat desa saja namun juga turut aktif mencari informasi mengenai persyaratan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), akte kelahiran, dan surat kematian

    KINERJA APARATUR PEMERINTAH DALAM PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KECAMATAN GURAH, KABUPATEN KEDIRI

    No full text
    RINGKASAN ABSTRAK       Dewi, Fyta Kurnia. 2018.Kinerja Aparatur Pemerintah Dalam Pelayanan Administrasi Kependudukan di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)  Drs. H. Suparman Adi Winoto, S.H, M.Hum (II) Dr. Hj. Yuniastuti, S.H, M.Pd   Kata Kunci: Kinerja, Aparatur Pemerintah, Pelayanan, Administrasi Kependudukan.   Abstrak: Kinerja merupakan suatu aktifitas yang dilakukan oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Kinerja seorang pegawai dapat dilihat dari  hasil kerja secara kualitas dan secara kuantitas yang mampu dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Kinerja seorang pegawai dalam mengurus administrasi kependudukan sangat diperlukan guna membantu terlaksananya suatu pembangunan. Terlaksananya pembangunan nasional tidak akan pernah lepas dari kinerja seorang pegawai dalam mensukseskan pembangunan tersebut.. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan judul Kinerja Aparatur Pemerintah Dalam Pelayanan Administrasi Kependudukan di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan program kerja pelayanan administrasi kependudukan di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, mendeskripsikan kinerja aparatur pemerintah dalam pelayanan administrasi kependudukan di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, dan mendeskripsikan kendala yang ada dalam memberikan pelayanan administrasi kependudukan serta penyelesaian dari kendala dalam pelayanan administrasi kependudukan di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.   Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi Penelitian ini berada di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Sumber data peneliti yaitu informan, peristiwa, dokumentasi. Informan tersebut yaitu Ahmad Wito Subagyo (camat), Chusnuddin Anshori (sekretaris kecamatan), Bapak Purwanto (kepala seksi pemerintahan), dan para warga(Bingah, Suhadak, Miton). Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan  wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, serta diakhiri dengan memberikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan menggunakan teknik trianggulasi.   Temuan penelitian ini adalah: (1) Di Kecamatan Gurah memiliki 5 program kerja yang utama yaitu program kemsyarakatan, program pemerintahan, program pelayanan, program kesekretariatan, serta program ketertiban dan keamanan wilayah (tantip). Program kerja pelayanan administrasi kependudukan di Kecamatan Gurah terdapat 2 jenis pelayanan yang pertama yaitu pelayanan sosial berupa pemberian pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat utamanya untuk lansia dan penyandang difabel, namun ada juga pelayanan kesehatan untuk balita, dan pengadaan posyandu di pendopo Kecamatan. Program pelayanan yang kedua merupakan pemberian pelayanan pengurusan administrasi kependudukan yang berada di kantor pelayanan Kecamatan Gurah. (2) Kinerja aparatur   pemerintah dalam pelayanan administrasi kependudukan di Kecamatan Gurah sudah baik, hal ini dibuktikan dengan para aparatur pemerintah Kecamatan Gurah sudah berkinerja dengan baik: kinerja yang berpedoman pada Standart Operasional Prosedur (SOP) dan sesuai dengan pembagian tugas dan fungsinya serta adanya SK dari pemerintah pusat yang menentukan jabatan pegawai. Aparatur pemerintah Kecamatan Gurah berkinerja yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terutama dalam pelayanan pengurusan administrasi kependudukan.   Aparatur pemerintah di Kecamatan Gurah memiliki semangat kinerja yang baik: hal tersebut dibuktikan dengan kinerja aparatur yang sudah baik dalam memberikan pelayanan dalam pengurusan administrasi kependukan kepada masyarakat. Ketaatan peraturan berupa: setiap aparatur pemerintah Kecamatan Gurah melaksanakan tugas dan fungsinya, seperti pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sudah sesuai berdasarkan Standart Operasional Prosedur (SOP). Kualifikasi aparatur pemerintah di Kecamatan Gurah: sudah bekerja sesuai dengan peran jabatan yang sudah ditetapkan dengan adanya tupoksi. (3) faktor kendala yang terdapat di Kecamatan Gurah berupa sumber daya manusia (SDM) aparatur pemerintah yang berbeda, sarana dan prasarana yang kurang memadai untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Faktor pendukung kinerja aparatur pemerintah di Kecamatan Gurah berupa pemberian kenaikan tunjangan yang sudah dikemas dalam aplikasi E-Kinerja. (4) solusi untuk menangani hambatan yang terjadi pada pelayanan administrasi kependudukan di Kecamatan gurah, Kabupaten Kediri berupa pemberian pembinaan dan pengadaan workshop untuk aparatur pemerintah serta seluruh kepala desa yang berada di wilayah Kecamatan Gurah.   Berdasarkan temuan penelitian, disarankan: (1) pemerintahan Kecamatan Gurah perlu meningkatkan adanya pembinaan dan pelatihan-pelatihan, serta workshop yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Kecamatan Gurah, juga untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hendaknya pembinaan dan pelatihan-pelatihan, serta workshop diagendakan secara teratur, supaya mutu pelayanan yang diberikan aparatur pemerintah kepada masyarakat itu lebih maksimal dari yang sebelumnya. (2) Camat diharapkan dapat mengusulkan atau mengajukan perekrutan anggota kepada pemerintahan daerah, serta menambah jumlah sarana dan prasarana, hal tersebut bertujuan untuk menunjang pemberian pelayanan kepada masyarakat agar lebih baik lagi. (3) aparatur pemerintah Kecamatan Gurah diharapkan selalu mengedepankan pelayanan yang baik kepada masyarakat untuk terciptanya mutu atau kualitas pelayanan yang baik.

    Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Dengan Seni Kolase Pada Siswa Tunadaksa Kelas IV Di SLB Manisrejo Kota Madiun

    No full text
    RINGKASAN Dampak gagguan intelegensi yang dialami bagi siswa tunadaksa mengakibatkan hambatan perkembangan dalam bergerak, tersenyum, menunjukkan minat pada berbagai hal, menggunakan tangannya, duduk, berjalan, berbicara dan mengerti. Hal ini mengakibatkan bagi siswa tunadaksa mengalami kesulitan dalam menggerakkan motorik halusnya, sehingga dalam melatih motorik halus bagi siswa tunadaksa membutuhkan suatu pembelajaran ketrampilan yang dapat merangsang otot – otot pada jari jemarinya agar dapat lebih kuat dan terkontrol.   Penelitian ini menerapkan pembelajaran seni kolase yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan motorik halus bagi siswa tunadaksa kelas IV di SLB Manisrejo Kota Madiun.   Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas ( PTK ). Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus, dari masing – masang siklus terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan evaluasi, serta refleksi. Pengumpulan data menggunakan tes praktek untuk mengetahui hasil kemampuan motorik halus sebelum dan sesudah diberikan treatment. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motorik halus melalui pembelajaran seni kolase dengan hasil nilai rata – rata pada  pra tindakan 38,9%, pada siklus I 45,4% dan pada siklus II 72,2%.   Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa “ ada peningkatan motorik halus peserta didik tunadaksa kelas IV melalu pembelajaran seni kolase di SLB Manisrejo Kota Madiun”.   Agar persiapan pembelajaran lebih matang, mudah dalam mengkondisikan kelas, dan pembelajaran tidak membuat siswa jenuh maka guru sebaiknya menyiapkan materi – materi yang akan diajarkan terlebih dahulu dan menggunakan media yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa

    MODUL DIGITAL BERBASIS MOBILE UNTUK MEMPUBLIKASIKAN BATIK MEGA MENDUNG NUSANTARA

    No full text
    ABSTRAK   Kata-kata kunci : Modul digital, Batik, Mega mendung, Mobile.   Modul digital merupakan salah satu bahan ajar yang memuat tentang informasi atau materi tertentu yang dirancang sesuai kebutuhan. Modul digital ini berisi tentang materi batik mega mendung yang berasal dari kota cirebon. Perkembangan motif batik saat ini cukup tinggi, karena motif batik mega mendung cukup menarik dan memiiki karakteristik dan filosofi tersendiri. Hal tersebut merupakan salah satu alasan peneliti mengembangkan modul batik mega mendung, agar pengguna dapat mengetahui teknik pembuatan batik mega mendung. Modul digital ini berbasis mobile mencakup materi, video, dan kuis interaktif. Tujuan pengembangan modul digital ini antara lain adalah : (1) memudahkan guru untuk menyampaikan materi teknik pembuatan batik, (2) menyediakan bahan ajar kepada siswa agar siswa dapat mempelajari materi secara mandiri, (3) mempubikasikan batik mega mendung agar tetap terlestarikan

    Pengembangan Modul Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Bermuatan Ayat Al Quran pada Materi Hak Asasi Manusia (HAM) untuk Kelas X Madrasah Aliyah

    No full text
    ABSTRAK   Rachmad Jaya, Edy. 2017. Pengembangan Modul Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Bermuatan Ayat Al Quran pada Materi Hak Asasi Manusia (HAM) untuk Kelas X Madrasah Aliyah . Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial. Dosen Pembimbing: (I) Dr.Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd., M.Si (II) Dr.Siti Awaliyah, S.Pd., M.Hum   Kata Kunci: Pengembangan, Modul bermuatan ayat Al Qur’an.   Berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 angka 1, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana berlajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pada pasal 2 juga diamanatkan bahwa pendidikan nasional berakar pada nilai-nilai agama. Modul bermuatan Ayat Al Qur’an adalah modul pembelajaran yang berisi materi PPKn yang dipadukan dengan kajian dari Al Quran dan Sunnah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan modul Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) bermuatan ayat Al Quran pada materi Hak Asasi Manusia (HAM) untuk kelas X Madrasah Aliyah. Penelitian ini menggunakan model 4D Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahap, yaitu define, design, develope, dan dissaminate. Namun, penelitian ini sampai tahap develope untuk menjaga efektifitas waktu. Validasi perangkat dilakukan oleh validator ahli media, dosen ahli materi, dan uji keterbacaan oleh siswa. Validasi oleh ahli dan uji keterbacaan oleh siswa ditujukan untuk mengukur kevalidan perangkat pembelajaran. Data kualitatif diperoleh melalui pengisisan kritik dan saran dari ahli. Hasil validasi modul oleh dosen ahli media menunjukkan kriteria valid dengan skor79%, hasil validasi modul oleh dosen ahli materi mrenunjukkan kriteria sangat valid dengan skor 93% dan uji keerbacaan siswa dengan kriteria sangat valid dengan skor 94%. Produk akhir dari pengembangan ini berupa modul dengan muatan Ayat Al Qur’an dan Hadits yang disesuaikan dengan Materi Hak Asasi Manusia.

    PANCASILA SEBAGAI PEDOMAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

    No full text
    ABSTRAK   Untuk memahami pancasila terlebih dahulu harus memahami pengertian dari Pancasila, pengertian Pancasila secara umum di bagi menjadi tiga yaitu pengertian secara Etimologis,Historis, dan Terminologis. Selain memahami arti dari Pancasila sebagai warga negara yang baik kita juga harus mengerti dan memahami nilai-nilai apa saja yang terkandung di dalam Pancasila. Selain memahami kita juga harus menerapkan nilai-nilai dari Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

    Proyek Sekolah Literasi Sebagai Implementasi Melek Budaya Membaca di SMAN 10 Malang

    No full text
    Abstrak   Kata Kunci: Proyek Sekolah Literasi, Budaya Membaca, SMAN 10 Malang. Rendahnya tingkat minat   membaca di Indonesia juga berimbas pada rendahnya pemahaman peserta didik Indonesia terhadap suatu bacaan dan juga berakibat pada rendahnya tingkat kompetensi individu yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, kiranya sangat penting untuk menumbuhkembangkan minat baca masyarakat Indonesia. Atas dasar tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Malang mengembangkan Proyek Sekolah Literasi (PSL) sebagai implementasi dari kebijakan yang telah dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Project ini bertujuan agar seluruh warga sekolah menjadi gemar membaca dan juga melek keberaksaraan. Seperti telah diketahui bahwa membaca merupakan suatu keharusan yang mendasar untuk membentuk perilaku seseorang terutama pada era globalisasi ini. Pembentukan perilaku dari warga suatu negara juga dapat dimulai dari penerapan budaya membaca di negara tersebut. Prasyarat bagi suatu bangsa agar dapat maju dan berkembang adalah adanya masyarakat pembelajar. Masyarakat pembelajar akan membentuk suatu warga negara yang baik atau good citizenship. Dengan adanya good citizenship dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi suatu negara. Oleh karena itu maka penanaman budaya membaca sangat diperlukan. Berdasarkan hal tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Malang mengembangkan Project Sekolah Literasi (PSL) sebagai implementasi dari dari kebijakan yang telah dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui pelaksanaan Project Sekolah Literasi di SMA Negeri 10 Malang (2) untuk mengetahui peran sekolah, guru dan siswa dalam penerapan Project Sekolah Literasi di SMA Negeri 10 Malang (3) untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam penerapan Project Sekolah Literasi di SMA Negeri 10 Malang. Penelitian ini dilakukan di SMAN 10 Malang kampus 2 Tlogowaru dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Menggunakan metode analisis data Case Study Research yaitu pengumpulan bukti, pengujian bukti, pengkategorian bukti, tabulasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengenai Proyek Sekolah Literasi, (1) Kegiatan Proyek Sekolah Literasi terdiri dari (a) Silent Reading yang terdiri dari kegiatan membaca tenang, meresume hasil bacaan, pemilihan resume terbaik, pengumuman resume terbaik setiap minggu dan setiap semester. (b) Pojok Buku. (c) Lomba-lomba Literasi, terdiri dari menulis puisi, menulis cerpen, menulis novel, pembacaan puisi, dll. (2) Tujuan Project Sekolah Literasi adalah untuk memberdayakan budaya membaca dan melek aksara di lingkungan sekolah. (3) peran sekolah dalam pelaksanaan Project Sekolah Literasi adalah sebagai fasilitator. Guru sebagai pengawas, fasilitator dan juga motivator. Dan siswa sebagai pendukung dan pelaksana kebijakan dari Project Sekolah Lierasi. (4) kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam pelaksanaan Proyek Sekolah Literasi adalah mengenai masalah kurangnya buku dan solusinya adalah dengan menambah koleksi buku tersebut. Kendala dan solusi dari pihak guru dalam pelaksanaan Project Sekolah Literasi adalah mengenai pengaturan waktu, fokus guru dalam penanganan program literasi. Solusinya adalah memperbaiki permasalahan pengaturan waktu, pengupayaan agar guru tidak terlambat lagi, pembagian tugas yang jelas untuk guru yang bertugas menangani masalah literasi di kampus 1 dan kampus 2. Kendala yang dihadapi dan solusi yang dilakukan oleh siswa dalam pelaksanaan Project Sekolah Literasi sebagai pelaksana kebijakan adalah masalah waktu yang singkat, kurangnya komunikasi antara pihak sobat pustaka dan siswa, kegiatan Proyek Sekolah Literasi dianggap sebagian siswa sebagai kegiatan yang membosankan dan kurang menarik. Solusinya adalah memperbaiki komunikasi antara siswa dengan sobat pustaka, dan guru pembimbing maupun sobat pustaka membuat inovasi model kegiatan. Kendala yang dihadapi dan solusi yang dilakukan oleh siswa dalam pelaksanaan Project Sekolah Literasi sebagai pendukung kebijakan adalah kurangnya antusiasme siswa, masalah waktu yang singkat, siswa dan siswi yang sering ramai pada saat kegiatan berlangsung. Solusinya adalah pembuatan program kerja baru yang sesuai dengan permintaan siswa yang sekiranya tidak menghabiskan banyak waktu, sobat pustaka diharuskan untuk lebih berani menegur teman maupun kakak tingkat yang berbuat ramai ataupun melakukan kegiatan yang tidak seharusnya dilakukan pada jam kegiatan literasi. Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil saran selanjutnya yaitu untuk membuat inovasi kegiatan Proyek Sekolah Literasi agar lebih menarik dan menjadikan Project Sekolah Literasi sebagai program tetap sekolah, karena program ini sangat baik untuk meningkatkan minat membaca siswa

    PERAN KOMUNITAS 1000 GURU MALANG DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN PEDALAMAN MELALUI PROGRAM TRAVELING AND TEACHING DI KABUPATEN MALANG

    No full text
    Abstrak   Kata kunci: peran, komunitas 1000 Guru Malang, pendidikan pedalaman   Pendidikan merupakan sarana memperbaiki sumber daya manusia dengan memberikan pendidikan kepada peserta didik secara sistematis. Faktor yang mendukung pendidikan yaitu faktor dari dalam (intern) meliputi kondisi fisik, jasmani maupun rokhani dan faktor dari luar (ekstern) yaitu keadaan lingkungan keluarga, sekolah dan masyrakat. Kedua faktor tersebut harus berjalan seimbang karena mempunyai peranan yang penting untuk menciptakan pendidikan yang dapat mencapai cita-cita nasional. Komunitas 1000 Guru malang merupakan bentuk partisipasi generasi bangsa yang peduli terhadap pendidikan pedalaman di Kabupaten Malang melalui program komunitas yaitu traveling and teaching. Tujuan dilakukan penelitian ini meliputi: (1) latar historis berdirinya komunitas 1000 Guru Malang, (2) program traveling and teaching, (3) peran komunitas 1000 Guru Malang  melalui program traveling and teaching, (4) kendala yang dihadapi oleh komunitas 1000 Guru Malang dalam kegiatan traveling and teaching di Kabupaten Malang, dan (5) upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh komunitas 1000 Guru Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data informan terdiri anggota komunitas, pihak sekolah, dan relawan. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data dan mengeceknya ulang yang diperoleh dilapangan. Hasil penelitian dijabarkan sebagai berikut. Pertama, latar historis berdiri komunitas 1000 Guru Malang merupakan gabungan dari komunitas 1000 Guru di regional Malang, tujuan komunitas yaitu peduli terhadap pendidikan pedalaman. Kedua, program traveling and teaching merupakan kegiatan mengunjungi sekolah pedalaman dan mengunjungi wisata lokal. Ketiga, peran komunitas 1000 Guru Malang melalui program traveling and teaching yaitu: mengajar, pemberian motivasi, penyuluhan gizi, pengobatan gratis, kegiatan pentas seni, dan traveling. Keempat, kendala yang dihadapi oleh komunitas sebagai berikut, miskomunikasi antar anggota tim, relawan, dan sponsorship, relawan yang kurang bertanggungjawab, perizinan, dan kesibukan para anggota. Dan kelima, upaya mengatasi kendala dengan meningkatkan kerjasama yang baik diantara anggota tim, relawan, dan sponshorship

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇