SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA PEMBELAJARAN PPKn DI KELAS X PD-d SMK NEGERI 4 MALANG

    No full text
    ABSTRAKNormasfila, Imah. 2019 PeningkatanHasilBelajarSiswaDenganMenggunakan Model Discovery Learning PadaPembelajaranPPKn di Kelas X PD-d SMK Negeri 4 Malang  .Skripsi, Program StudiPendidikanPancasiladanKewarganegaraan, JurusanHukumdanKewarganegaraan, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang, Pembimbing (1) Dr. NurWahyuRochmadi. M.P.d, M.S.i (2) Dr. Hj. Yuniastuti, SH, M.PdKata Kunci: Model Discovery Learning, hasilbelajarPembelajaranpadadasarnyamerupakanupayauntukmengarahkanpesertadidikkedalam proses belajarsehinggamerekadapatmemperolehtujuanbelajarsesuaidenganapa yang diharapkan.Pembelajarandenganmenggunakan model discovery learning diharapkanbisamenarikminatbelajarsiswauntukmendapatkanhasilbelajar yang maksimal.Denganrumusanmasalahyaitu “BagaimanaPeningkatanHasilBelajarSiswaDenganMenggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning PadaPembelajaranPPKn di Kelas X PD-d SMK Negeri 4 Malang”Berdasarkanhasilobservasi di SMK Negeri 4 Malang hasilbelajarsiswakelasX PD-dmasih di bawah KKM, penelitianinibertujuanuntukmeningkatkanhasilbelajarPPKn, melalui model pembelajarandiscovery learning.Metodepenelitianyang digunakandalampenelitianiniadalahmengacupada model penelitiantindakankelasKemmisdan Mc. Taggart yang terdiridaritahapperencanaan, pelaksanaantindakan, observasidanrefleksi.Adapunrumusanmasalahnyasebagaiberikut: “BagaimanaPeningkatanHasilBelajarSiswadenganMenggunakan Model Discovery Learning padaPembelajaranPPKn di Kelas X PD-d SMKNegeri 4 Malang”.Perencanaandanpengembangan proses pembelajaranmelaluipenerapanpembelajaran discovery learning dilakukanbersama guru. Dalam proses pembelajaranpadasetiaptindakansiswadiarahkanmenggunakanpembelajaran discovery learning. Berdasarkan data yang diperolehselamapenerapan model pembelajaran discovery learning menggunakanduasiklus.Menunjukkanbahwapenerapan model discovery learning untukmeningkatkanhasilbelajarsiswa yang signifikanpadasetiapsiklusnya.Hasilpenelitianmenunjukkanbahwapenggunaan model discovery learning dapatmeningkatkanhasilbelajarsiswapadamatapelajaranPPKn. Dapatdilihatdarinilaisiklus I denganpresentasekelulusansebesar 60% dannilai rata-rata sebesar 70, sedangkansiklus II presentasekelulusansebesar 96% dannilai rata-rata sebesar 83,5

    PROGRAM KARANG TARUNA MARDHATILLA DALAM MECIPTAKAN SEMANGAT PERSATUAN DAN KESATUAN DI DESA BANGGLE KECAMATAN KANIGORO KABUPATEN BLITAR

    No full text
    Abstrak Pelaksanaan Program Karang Taruna Mardhatilla Dalam Menciptakan Semangat Persatuan Dan Kesatuan Di Desa Banggle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar bertujuan untuk mengetahui : (1) program Karang taruna Mardhatilla untuk mengembangkan semangat persatuan dan kesatuan di Desa Banggle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar; (2) pelaksanaan program yang dilakukan oleh Karang Taruna Mardhatilla dalam mengembangkan semangat persatuan dan kesatuan di Desa Banggle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar; (3) kendala yang dialami oleh Karang Taruna Mardhatilla terhadap pelaksanaan program dalam mengembangkan semangat persatuan dan kesatuan di Desa Banggle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar; (4) solusi mengatasi kendala yang ada terhadap pelaksanaan program dalam mengembangkan semangat persatuan dan kesatuan di Desa Banggle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar..Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan kemudian dijabarkan sebagai berikut. Pertama, Pertama. program Karang Taruna Mardhatilla untuk mengembangkan semangat persatuan dan kesatuan di Desa Banggle terdapat dalam (1) Program bulanan, (2) Program tahunan  . Kedua. pelaksanaan program yang dilakukan oleh Karang Taruna Mardhatilla dalam mengembangkan semangat persatuan dan kesatuan di Desa Banggle  yaitu (1) Kerja bakti, (2) Karnaval bulan Agustus. Ketiga. kendala yang dialami oleh Karang Taruna Mardhatilla terhadap pelaksanaan program dalam mengembangkan semangat persatuan dan kesatuan di Desa Banggle yaitu kendala dalam lingkup (1) Internal, (2) eksternal. Keempat. solusi mengatasi kendala yang ada terhadap pelaksanaan program dalam mengembangkan semangat persatuan dan kesatuan di Desa Banggle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar yaitu (1) Solusi untuk Karang Taruna Mardhatilla, (2) Solusi untuk masyarakat. Bagi Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  penelitian ini diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada calon peneliti lain untuk melakukan penelitian di Desa Banggle mengenai Program Karang Taruna Mardhatilla Dalam Mengembangkan Semangat Persatuan Dan Kesatuan Di Desa Banggle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Kata Kunci: Program, Karang Taruna, Semangat Persatuan dan Kesatuan

    Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    PERAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN OBJEK WISATA RELIGI PURA AGUNG BLAMBANGAN DI KABUPATEN BANYUWANGI Devi Nawang Sari, : NIM: 150711608094, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5,  Surel: [email protected]   ABSTRAK Wisata religi memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dengan nilai nilai kerohanian dan toleransi antar umat beragama yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan. Pariwisata sebagai suatu industri dapat diasumsikan sebagai salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, terutama dalam penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan penghasilan,dan merangsang munculnya sektor informal seperti aneka makanan khas, cenderamata, kerajinanan tangan, jasa pemandu wisata dan transportasi. Pura Agung Blambangan merupakan salah satu objek wisata religi di Kabupaten Banyuwnagi mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar Pura Agung Blambangan.   I. Pendahuluan Pariwisata pada saat ini merupakan suatu kebutuhan manusia, baik yang melakukan perjalanan wisata maupun masyarakat sekitar daerah tujuan wisata. Berdasarkan Undang-UndangNomor 10 Tahun 2009 wisatawan merupakan orang yang melakukan kegiatan wisata. Wisatawan membutuhkan fasilitas yang bagus dalam berwisata, sementara masyarakat sekitar lokasi berharap akan mendapatkan implikasi positif berupa peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Menurut Yoeti (2003:56) berpendapat bahwa fasilitas wisata adalah semua fasilitas yang fungsingya memenuhi kebutuhan wisatawan yang tinggal untuk sementara waktu didaerah tujuan wisata yang dikunjunginya, dimana pengunjung dapat santai menikmati dan berpartisipasi dalam kegiatan yang tersedia didaerah tujuan wisata rersebut. Pariwisata sebagai suatu industri dapat diasumsikan sebagai salah  satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, terutama dalam penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan penghasilan, dan merangsang munculnya sektor informal seperti aneka makanan khas, cenderamata, kerajinanan tangan, jasa pemandu wisata dan transportasi. Wisata religi memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dengan nilai nilai kerohanian dan toleransi antar umat beragama yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan. Perkembangan objek wisata religius memiliki kekuatan penggerak perekonomian yang luas, tidak semata-mata terkait dengan peningkatan kunjungan wisatawan, namun lebih pentingnya lagi adalah perkembangan pariwisata yang mampu membangun semangat kebangsaaan, apresiasi terhadap kekayaan seni budaya bangsa dan toleransi antar umat beragama yang terjalin dengan baik hingga saat ini. Pura Agung Blambangan yang merupakan salah satu objek wisata religi Kabupaten Banyuwangi mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar Pura Agung Blambangan. Tumpuan pariwisata sebagai kekuatan daya saing terletak pada sumber daya yang terolah dengan baik. Pembangunan pariwisata perlu terus di tingkatkan dan dikembangkan sehingga memiliki manfaat: 1) memperbesar penerimaan devisa; 2) memperluas dan meratakan kesempatan usaha dan lapangan kerja; 3) mendorong pembangunan daerah; 4) meningkatkan kesejahteraan masyarakat; 5) memperkaya kebudayaan nasional, tanpa menghilangkan ciri kebribadian bangsa, terpeliharanya nilai-nilai agama; 6) memupuk persaudaraan antar bangsa; 7) dapat memupuk kecintaan tanah air dan melestarikan lingkungan. (Djafar, 2015:42)   II. Pembahasan Pembahasan yang akan dibahas kali ini adalah (1) perkembangan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi, (2) peran masyarakat dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi, (3) kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi, (4) solusi dari kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi.   1. Perkembangan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi Perpindahan persembahyangan, upacara keagamaan Umat Hindu dari Situs Umpak Songo ke Pura Agung Blambangan dengan alasan bahwa Situs Umpk Songo merupakan tinggalan dari Kerajan Blambangan, namun apabila untuk pengambilan tirta masih diperbolehkan. Dalam pembangunan Pura Agung Blambangan petugas yang bekerja menemukan sumur kuno, kemudian melaporkan hasil temuan tersebut ke Dinas Purbakala Kabupaten Banyuwangi sejalan dengan pendapat dari (Sedyawati, 2007:189) berpendapat bahwa pelestarian cagar budaya dengan cara menerapkan suatu kebijakan publik dapat menyangkut dua cara, yakni secara umum dan khusus. Secara umum, yaitu mewujudkan pelestarian cagar budaya dilakukan dengan berbagai aspek pemanfaatan secara luas. Sementara secara khusus, dapat dilakukan dengan cara: a) Mewujudkan aset budaya secara menyeluruh dalam bentuk data untuk dijadikan landasan kebijakan pembangunan lebih lanjut dengan cara pendataan cagar budaya; b) Mewujudkan pengamanan cagar budaya dengan cara mengarahkan pada pemanfaatan untuk kepentingan pendidikan, sosial, dan lain-lain yang sesuai dengan Undang-Undang mengenai cagar budaya; c) Menggugah kepedulian dan partisipasi masyarakat luas dalam mendukung pengelolaan dan pelestarian cagar budaya. Perpindahan persembahyangan dan upacara keagamaan Umat Hindu dari Situs Umpak Songo ke Pura Agung Blambangan dengan alasan bahwa Situs Umpk Songo merupakan tinggalan dari Kerajan Blambangan, namun apabila untuk pengambilan tirta masih diperbolehkan. Temuan tersebut juga sejalan pendapat dari (Soekanto, 2003:432) berpendapat bahwa pelestarian hanya dapat dilakukan secara efektif manakala benda yang dilestarikan tersebut tetap digunakan dan tetap dijalankan. Untuk tetap terjaga kelestarian dari Situs Umpak Songo, pihak Situs Umpak Songo masih membolehkan Umat dalam pengambilan tirta yang ada di Situs Umpak Songo. Pembangunan Pura Agung Blambangan terus berlanjut dalam pelayanan Umat Hindu dalam pemenuhan fasilitas yakni adanya 10 toilet untuk Umat dan juga terdpat 2 ruang ganti untuk umat dan 1 ruang untuk fasilitas bagi petugas kebersihan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat dari (Sammeng, 2001:39) berpendapat bahwa salah satu hal penting untuk mengembangkan pariwisata adalah melalui fasilitas (kemudahan). Pembangunan Pura Agung Blambangan membutuhkan banyak dana. Dana merupakan tonggak utama dalam pembangunan sebuah bangunan termasuk dengan tempat suci. Namun pembangunan Pura Agung Blambangan ini hanya mengandalkan dana dari Punia atau diasa disebut dengan sumbangan. Dalam pengembangan pariwisata pasti yang menjadi masalah utamanya terdapat pada dana. Hal tersebut sejalan dengan pendapat dari (Marpaung, 2002:15) berpendapat bahwa permasalahan yang banyak dihadapi dalam upaya mengembangkan obyek wisata di daerah adalah : (1) masalah dana; (2) masalah sarana prasarana pariwisata; (3) kualitas sumber daya manusia; (4) promosi dan pemasaran.   2. Peran Masyarakat Dalam Pengelolan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan lebih pada penyediaan tempat ibadah bagi Umat Hindu yang berada di Wilayah Banyuwangi. Persembahyangan awal yang dilakukan di Situs Umpak Songo kemudian Tokoh Umat Hindu menyarankan untuk melakukan pembangunan pura dengan tujuan semakin banyaknya Umat namun tempatnya tidak memadahi. Semakin bertambahnya tahun, Umat Hindu yang ada di Wilayah Banyuwangi. pernyataan tersebut selaras dengan yang dikatakan (Chotib, 2015:412) bahwa wisata religi adalah salah satu jenis produk wisata yang berkaitan erat dengan sisi religius atau keagamaan yang dianut oleh manusia.  Objek wisata religi Pura Agung Blambanagan menjadi potensi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar wisata, sebab dengan adanya potensi yang ada disekitar lokasi bisa berdampak terhadap penghasilan masyarakat sekitar tempat wisata religi tersebut. Masyarakat dapat memperoleh pekerjaan sehingga mendapatkan penghasilan dan masyarakat mendapatkan kesejahteraan akibat adanya lokasi objek wisata religi Pura Agung Blambangan. Pernyataan tersebut sesuai dengan faktor penyebab tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia menurut Yoeti (2001: 23) yaitu : 1)meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan negara serta masyarakat pada umumnya, perluasan kesempatan serta lapangan kerja dan mendorong kegiatan-kegiatan industri-industri penunjang dan industri-industri sampingan lainnya; 2) memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia; 3) meningkatkan persaudaraan/persahabatan nasional dan internasional. Keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar objek wisata religi Pura Agung Blambangan. Masyarakat sekitar lokasi objek wisata religi mendapatkan penghasilan melalui kegiatan berdagang (berupa makanan ringan khas Banyuwangi, souvenir khas Banyuwangi), jasa dari parkir, toilet, penginapan sementara ketika hari besar Umat Hindu, bahkan jasa untuk membuatkan bantenan (digunakan untuk prosesi persembahyangan). Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat dari (Pendit,2002:33) mengemukakan pendapatnya bahwa definisi pariwisata yang merupakan salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor sektor produktif lainnya. Selanjutnya, sebagai sektor yang komplek, pariwisata juga merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan cindera mata, penginapan dan transportasi.   3. Kendala Yang Dihadapi Dalam Pengelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi Kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan yakni yakni kesadaran masyarakat di sekitar Pura Agung Blambangan. Masyarakat, terutama pedagang yang ada di dalam area Pura Agung Blambangan kurang memperhatikan ketertiban, kebersihan, keindahan berdagang di dalam area Pura Agung Blambangan yang merupakan tempat suci sekaligus objek wisata religi bagi Umat Hindu. Dalam pengelolaan pariwisata termasuk pengelolaan pariwisata religi yang menjadi subjek penting adalah masyarakat yang ada di sekitar pariwisata tersebut. Apabila masyarakat kurang memahami pelayanan wisata yang baik, maka pengelolaan yang dilakukan kurang dapat memberikan dampak yang maksimal bagi pengunjung (Umat Hindu) yang berkunjung apabila kurang memperhatikan yang dinamakan kebersihan dan keindahan. Pernyataan tersebut sesuai dengan pengertian kendala dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi atau mencegah pencapaian sasaran, kekuatan yang memaksa pembatalan pelaksanaan. Temuan diatas memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat yang kurang akan pentingnya wisata dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat dari pengembangan wisata.   4. Solusi dari Kendala yang dialami Masyarakat Dalam Pengelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi Solusi yang diberikan oleh pihak penelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan atas permasalahan yang terjadi tersebut, sampai saat ini solusi yang ditawarkan adalah melalui pendekatan secara kekeluargaan dan pembinaan secara informal dengan masyarakat terutama masyarakat pelaku pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan. Pendekatan secara kekeluargaan-kekeluargaan dinilai efektif dan juga mampu memberikan dampak yang positif bagi kesadaran masyarakat akan kesadaran di kawasan wisata. Pernyataan tersebut sesuai dengan pengertian solusi yang terdapat didalam kamus besar bahasa Indonesia yakni penyelesaian, pemecahan (masalah dan sebagainya), jalan keluar, pendekatan secara kekeluargaan dan pembinaan secara informal ini merupakan pemecahan dari masalah yang ada yaitu dalam menyelesaikan kendala di dalam pengengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi.   III. Penutup Berdasarkan pembahasan yang sudah dijelaskan secara spesifik, pada bagian ini akan dijelaskan dengan singkat mengenai (1) simpulan dan (2) saran dari artikel ini tentang peran masyarakat dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi.   3.1. Kesimpulan Perpindahan persembahyangan, upacara keagamaan Umat Hindu dari Situs Umpak Songo ke Pura Agung Blambangan dengan alasan bahwa Situs Umpk Songo merupakan tinggalan dari Kerajan Blambangan, namun apabila untuk pengambilan tirta masih diperbolehkan. Pembangunan Pura Agung Blambangan terus berlanjut dalam pelayanan Umat Hindu dalam pemenuhan fasilitas yakni adanya 10 toilet untuk Umat dan juga terdpat 2 ruang ganti untuk umat dan 1 ruang untuk fasilitas bagi petugas kebersihan. Dalam pembangunannya, Pura Agung Blambangan membutuhkan banyak dana, namun dana yang digunakan hanya dari dana punia (sumbangan). Objek wisata religi Pura Agung Blambanagan menjadi potensi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar wisata, sebab dengan adanya potensi yang ada disekitar lokasi bisa berdampak terhadap penghasilan masyarakat sekitar tempat wisata religi tersebut. Masyarakat dapat memperoleh pekerjaan sehingga mendapatkan penghasilan dan masyarakat mendapatkan kesejahteraan akibat adanya lokasi objek wisata religi Pura Agung Blambangan. Kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan yakni yakni kesadaran masyarakat di sekitar Pura Agung Blambangan. Masyarakat, terutama pedagang yang ada di dalam area Pura Agung Blambangan kurang memperhatikan ketertiban, kebersihan, keindahan berdagang di dalam area Pura Agung Blambangan yang merupakan tempat suci sekaligus objek wisata religi bagi Umat Hindu. Solusi yang diberikan oleh pihak penelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan atas permasalahan yang terjadi tersebut, sampai saat ini solusi yang ditawarkan adalah melalui pendekatan secara kekeluargaan dan pembinaan secara informal dengan masyarakat terutama masyarakat pelaku pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan.   3.2. Saran Disarankan kepada masyarakat sekitar Pura Agung Blambangan terutama para pelaku pengelola objek wisata religi Pura Agung Blambangan lebih memperhatikan kembali ketertiban, kebersihan dan keindahan berdagang. Dengan memperhatikan kekurangan tersebut diharapkan Umat yang berkunjung akan merasa lebih nyaman dan memberikan kesan yang baik setelah melakukan kunjungan di Pura Agung Blambangan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi diharapkan ikut mempromosikan salah satu objek wisata religi yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi yakni Pura Agung Blambangan dengan menerjunkan langsung Jebeng-Thulik yang merupakan duta wisata daerah Kabupaten Banyuwangi. Dikarenakan wisata religi merupakan wisata peminatan, maka yang mengunjungi wisata tersebut hanya yang memiliki tujuan tertentu. Maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan pelatihan secara khusus kepada Jebeng-Thulik untuk mempromosikan objek wisata religi Pura Agung Blambangan.   DAFTAR RUJUKAN Balai Pustaka. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta. Marpaung, H. 2002. Pengetahuan Kepariwisataan Edisi Revisi. Bandung : Alfa Beta. Nyoman.S. Pendit. 2002. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta : Pradya Paramita Sammeng, Andi Mappi. 2001. Cakrawala Pariwisata. Jakarta : Balai Pustaka. Sedyawati, Edi. 2007. Budaya Indonesia: kajian arkeologi, seni dan sejarah. Jakarta: Divisi Buku Perguruan Tinggi, Raja Grafindo Persada. Soekanto, S. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers. Yoeti, Oka A, 2001. Pemasaran Pariwisata, Angkasa, Bandung Yoeti, Oka A. 2003. Tours and Travel Marketing. Jakarta: Pradnya Paramitha

    Pulau Masalembu dan“Budaya Tok Tok”

    No full text
    Budaya adalah sebagai bentuk wujud dasar manusia yang tidak hanya  berakar sebagai naluri, melainkan lahir dari hasil karya manusia yang membentuk suatu ide, nilai, norma, dan pola aktivitas manusia dalam masyarakat. Dalam hal ini secara tidak langsung membangun  suatu kerarifan lokal yang menjadi karakter atau suatu ciri masyarakat yang menjadi relasi dan proses pembelajaran suatu masyarkat sehingga menjadi identitas suatu kelompok masyarakat. Terkait dengan pemaknaan budaya adakalanya saya ingin memperkenalkan keunikan budaya masyarakat kepulauan Masalembu, salah satunya budaya Tok Tok. Tok tok merupakan budaya khas kepulauan Masalembu yang mempertontonkan pertandingan sapi jantan yang di adu kekuatan tanduk yang ada di kepala sapi. Dengan tujuan untuk menghibur masyarakat petani yang ada di pulau Masalembu. Pada zaman dahulukala Konon ceritanya menurut masyarakat setempat nama Masalembu dicetuskan oleh penemu pulau Masalembu, yaitu Datuk Kai Dani yang bangsa kelahirannya dari suku Bugis. Pada abad ke 19. Ya, Sebagaimana kita dengar bahwa bangsa suku Bugis  terkenal dengan bangsa pelaut. Nama bangsa mereka samapi terkenal di seluruh dunia. Dalam cerita nama Masalembu diambil kata dasarnya yaitu Lembu, karna ketika pulau tersebut ditemukan penghuni pulau ini banyak lembunya atau disebut juga sapi. Hingga akhirnya diberi nama pulau Masalembu. Begitulah cerita masyarakat masalembu. Sapi – sapi yang ada di pulau masalembu mulai sejak ditemukan pulau Masalembu sampai sekarang sapi tersebut masih banyak dan tidak punah di pulau Masalembu, meskipun sapi sapi yang ada di jual keluar pulau.  Inilah cerita singkat sejarah lahirnya nama Pulau Masalembu

    EKONOMI KERAKYATAN SEBAGAI BASIS EKONOMI NASIONAL UNTUK MENGURANGI KAPITALISME DI INDONESIA

    No full text
     Pada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis penanganan masalah kapitalisme di Indonesia. Solusi tersebut adalah melalui gagasan ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan merupakan sistem ekonomi yang mengutamakan kepentingan rakyat. Semua kegiatan ekonomi dilakukan dan dimonitori secara langsung oleh rakyat. Hasil akhir dari penerapan ekonomi kerakyatan ini adalah penerapan kegiatan UMKM sebagai penunjang ekonomi nasional. Kata kunci : kapitalisme, ekonomi kerakyatan, ekonomi nasiona

    MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP FENOMENA PLURALISME MENGGUNAKAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

    No full text
    ABSTRAK Globalisasi yang selalu menjadi trend dan menimbulkan perbedaan di setiap negara itu merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi setiap individu. Perbedaan baik secara sosial, budaya, dan agama. Perbedaan tersebut akan membawa dampak yang berbeda-beda pada setiap idividu dalam  menyikapinya. Untuk mengatasi hal tersebut, maka  munculah suatu gagasan yakni Pluralisme. Pluralisme sendiri memiliki arti yaitu suatu gagasan , dimana membentuk suatu kelompok-kelompok yang menunjukan rasa saling menghargai dan menghormati antar satu sama lain. Gagasan tersebut agar menciptakan suatu rasa toleransi antar masyarakat. Sehingga membentuk rasa nyaman, adil, dan tentram dalam masyarakat. Metode yang tepat digunakan dalam memperoleh hasil penelitian ini yakni digunakannya metode studi kasus. Dimana fokus utama dari studi kasus yakni terletak pada bagaimana dampak perilaku individiu terhadap kondisi serta pengaruh terhadap lingkungannya. Serta, pembelajaran Contextual Teaching and Learning merupakan metode yang saya ambil dalam  pemecahan masalah tersebut. Fenomena pluralisme yang sangat marak di Indonesia pada khususya ini memiliki pandangan yang cukup negatif , apabila para siswa (pada khususnya) tidak dibekali pengetahuan yang cukup mengenai apa sih pluralisme itu dan bagaimana paham yang plural tersebut. Karena siswa harus mampu menyangkut pautkan hubungan pembelajaran dikelas dengan permasalahan yang sedang terjadi di pengalaman nyata. Pembelajaran yang menuntut siswa akif dan kreatif ini segala sesuatunya berpusat pada siswa agar siswa dapat memecahkan masalah dengan sendirinya. Kata Kunci : sosial, budaya, agama, pengalaman nyata, berpusat pada siswa, kreatif dan aktif, pemecahan masala

    PENANAMANSIKAPTOLERANSISISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS KATOLIK DIPONEGORO BLITAR MELALUI EKSTRAKULIKULER PRAMUKA

    No full text
    AbstrakSikap toleransi penting dalam kehidupan manusia, baik dalam berkata-kata maupun dalam bertingkah laku. Toleransi berarti menghormati, menghargai dan menerima perbedaan, sehingga terwujud keserasian dan keharmonisan hidup jauh dari konflik, ketegangan sosial, pertentangan dan permusuhan bersifat SARA dalam masyarakat. Upaya untuk menumbuhkan sikap toleransi adalah penanaman nilai karakteradalah melalui jalur pendidikan, karena pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Dalam pelaksanaannya di sekolah penanaman nilai karakter siswa dapat dilakukan secara terpadu melalui proses pembelajaran di kelas, maupun kegiatan ekstrakurikuler. SMA Katolik Diponegoro Blitar adalah sekolah yang berbasis Katolik, namun warga sekolahnya terdiri dari berbagai macam suku, agama dan ras yang dapat hidup rukun dan damai. Hal ini menjadikan SMA Katolik Diponegoro dikenal sebagai sekolah “Bhineka”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penanaman sikap toleransi siswa melalui ekstrakulikuler Pramuka di SMA Katolik Diponegoro Blitar, hasil penelitian adalah: (1) pelaksanaan sikap toleransi siswa yakni: (a) sikap toleransi beragama, antara lain toleransi beribadah sesuai agama dan keyakinan sesama anggota, buka bersama, (b) sikap toleransi antaranggota Pramuka dan masyarakat, antara lain: perkemahan gabungan, dan bakti social, (c) sikap toleransi terhadap lingkungan, antara lain: membersihkan sampah, pembelajaran mengolah sampah, kunjungan ke “Bank Sampah” dan pembuatan bipori; (2) evaluasi penanaman sikap toleransi siswa yakni: (a) evaluasi secara langsung (spontan) ketika anggota melakukan pelanggaran, dan (b) evaluasi melalui rapat Dewan Ambalan; (3) kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan penanaman sikap toleransi siswa, antara lain: kendala bahasa dalam penyampaian materi, kendala waktu, dan kendala sarana dan prasarana; (4) solusi mengatasi kendala dalam penanaman sikap toleransi siswa, antara lain: pemberian tauladan, pembiasaan, pemberian nasehat, dan pemberian sanksi atau hukuman. Pemberian sanksi atau hukuman terlebih dahulu diadakan musyawarah Dewan Ambakan dengan mempertimbangkan bentuk dan berat pelanggaran yang dilakukan anggota sesuai dengan Adat AmbalanKata Kunci: Sikap Toleransi, Ekstrakulikuler Pramuk

    Upaya Polsek Arjasa dalam Menanggulangi Penyalahgunaan Narkotika di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep

    No full text
    ABSTRAK Dahlan, Muhammad. 2019. Upaya Polsek Arjasa dalam Menanggulangi Penyalahgunaan Narkotika di Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Suko Wiyono, S.H., M.Hum, (II) Drs.Margono, M.Pd, M.Si. Kata Kunci: Polsek, Penyalahgunaan, Narkotika, PenanggulanganSemakin meningkatnya penyalahgunaan obat-obatan terlarang di kalangan masyarakat tersebut tentulah sangat memprihatinkan, karena merusak moralitas masyarakat Pulau Kangean khususnya di Kecamatan Arjasa. Upaya pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan oleh kepolisian dalam hal ini Polsek Arjasa memiliki peranan dan fungsi yang sangat penting.Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan potret kasus-kasus penyalahgunaan  narkotika di Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep (2) Mendeskripsikan upaya Polsek Arjasa dalam  menanggulangi penyalahgunaan  narkotika di Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep (3) Mendeskripsikan faktor penghambat upaya Polsek Arjasa dalam  menanggulangi penyalahgunaan narkotika di Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep dan (4) Mendeskripsikan upaya Polsek Arjasa dalam  mengatasi hambatan penanggulangan penyalahgunaan narkotika di Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep.Peneliti dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan penelitian kualitatif  dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Polsek Arjasa Kabupaten Sumenep. Sumber data menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan  melalui wawancara, observasi langsung ke lapangan, dandokumen-dokumen di lapangan yang  mendukung penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data mengenai data yang diperoleh, peneliti menggunakan pengecekan keabsahan data dengan meningkatkan ketekunan dalam penelitian dan triangulasi yaitu triangulasi sumber.Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa penyalahgunaan narkotika di Kecamatan Arjasa bukan hanya dilakukan oleh anak muda dengan usia di bawah 18 tahun sampai dengan usia di atas 18 tahun. Salah satu maksud dan tujuan penyalahgunaan narkotika yaitu pengedar  narkotika adalah untuk mencari keuntungan.Tidak berpatok pada kaya dan miskin tetapi lebih membentuk jaringan. Ketika sudah terjerat dalam jaringan penyalahgunaan narkotika, mereka akan mulai  memiliki banyak uang sehingga berusaha membangun jaringan-jaringan yang  lebih luas untuk mencari keuntungan yang  lebih besar.Polsek Arjasa juga telah bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sumenep untuk melakukan operasi diberbagai tempat yang diduga menjadi tempat kegiatan penyalahgunaan narkotika. Disamping itu juga adanya bantuan dari  masyarakat melalui pemberian informasi menunjukkan bahwa sudah ada kerjasama antara masyarakat dan kepolisian yang berlangsung cukup baik. Kerjasama antara kepolisian dan masyarakat tentunya mempermudah upaya kepolisian dalam melaksanakan operasi di lingkungan sekitar.Upaya meningkatkan kerjasama dengan lapisan masyarakat baik instansi maupun lembaga pendidikan diharapkan mampu mengurangi kurangnya kepedulian masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan narkotika. &nbsp

    Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri

    No full text
     Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Satak  Kecamatan Puncu Kabupaten KediriLuky Nurul Islami Universitas Negeri MalangEmail: [email protected] AbstrakPartisipasi masyarakat merupakan keterlibatan atau keikutsertaan masyarakat dalam Pembangunan.Partisipasi masyarakat desa memiliki pengaruh yang besar mengingat bahwa partisipasi merupakan modal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pembangunan desa. Suatu program dapat tercapai apabila masyarakat sadar akan pentingnya pengaruh keterlibatan mereka dalam program pembangunan desa, baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi. Dengan adanya partisipasi masyarakat akan mampu mengimbangi keterbatasan biaya, tenaga dan kemampuan pemerintah dalam pencapaian program pembangunan desa tersebut. Untuk itu, program pembangunan yang dilaksanakan harus mempertimbangkan kondisi lingkungan, kemampuan, serta kebutuhan masyarakat desa. Serta tidak hanya menempatkan masyarakat desa sebagai sasaran pembangunan namun juga sebagai pelaku pembangunan.Pemerintah Desa Satak memiliki program pembangunan desa yang melibatkan masyarakat didalam proses pelaksanaan program pembangunan. Program pembangunan desa tersebut ada pada beberapa bidang yaitu: bidang sosial, bidang pendidikan, bidang kesehatan dan juga pada bidang umum. Dari bidang-bidang tersebut melahirkan bentuk-bentuk partisipasi masyarakat yang beragam, seperti partisipasi tenaga, partisipasi uang, partisipasi buah pikiran, partisipasi keterampilan atau kemahiran serta partisipasi sosial. Hambatan pada pelaksanaan pembangunan desa terdapat pada beberapa bidang yakni pada bidang kesehatan adalah kurangnya minat dan pemahaman masyarakat mengenai posyandu lansia. bidang umum yaitu kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga fasilitas berupa selokan yang telah dibangun oleh Pemerintah Desa. Upaya mengatasi kendala yang terjadi pada bidang kesehatan adalah pihak PKK dan dari Puskesmas Kecamatan Puncu berkeliling mendatangi rumah lansia berdasarkan data penduduk yang diperoleh dari desa, pada bidang umum upaya mengatasi kendala adalah melalui pemasangan pagar kawat berduri di sepanjang kawasan selokan. Kata Kunci: Partisipasi Masyarakar, Pembangunan DesaPENDAHULUANMasyarakat Indonesia sebagian besar tinggal di pedesaan, sebagaimana data dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2015 jumlah penduduk di Indonesia berjumlah 237.671.326 jiwa, mencakup penduduk kota 118.320.256  jiwa (49,79%) dan penduduk desa 119.321.070 jiwa (50,21%). Oleh karena itu, perhatian pembangunan perlu lebih banyak diarahkan kepada pembangunan pedesaan. pembangunan merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan guna meningkatkan taraf hidup baik berupa sarana prasarana maupun kualitas sumber daya manusia. Pembangunan desa yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat desa, yang dilakukan dan dimanfaatkan oleh masyarakat desa itu sendiri haruslah melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan, dan hal tersebut memberikan pengaruh yang cukup besar bagi terlaksana dan tercapainya tujuan pembangunan desa. Tujuan pembangunan desa, sebagaimana dituangkan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 78 Ayat (1)  adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Pembangunan desa dilaksanakan dengan mengedepankan semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotong royongan guna mewujudkan perdamaian serta keadilan sosial.Partisipasi masyarakat merupakan suatu tindak perilaku dari masyarakat untuk ikut serta dalam melaksanakan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan umum. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan tidak hanya berarti rakyat memikul beban pembangunan dan tanggung jawab pelaksanaannya saja, tetapi juga dalam menerima kembali dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan. Setiap masyarakat memberikan respon dan atau menunjukkan keterlibatan dalam pelaksanaan pembangunan dengan berbagai bentuk, seperti memberikan sumbangan tenaga atau partisipasi tenaga, dan sebagainya. Menurut Huraerah(2008:102) bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dapat ditunjukkan seperti berikut(1) Partisipasi buah pikiran, yang diberikan partisipan dalam anjang sono, pertemuan atau rapat;(2) Partisipasi tenaga, yang diberikan partisipan dalam berbagai kegiatan untuk perbaikan atau pembangunan desa, pertolongan bagi orang lain, dan sebagianya;(3) Partisipan harta benda, yang diberikan orang dalam berbagai kegiatan untuk perbaikan atau pembangunan desa, pertolongan bagi orang lain yang biasanya berupa uang, makanan dan sebagainya;(4) Partisipasi ketrampilan dan kemahiran, yang diberikan orang untuk mendorong aneka ragam bentuk usaha dan industri;(5) Partisipasi sosial, yang diberikan orang sebagai tanda keguyuban. Masyarakat Desa Satak sebagian besar kurang tanggap terhadap teknologi. Susahnya akses internet juga memberikan dampak positif yaitu membuat kehidupan masyarakat disana masih sangat kental rasa kekeluargaannya, gotong royongnya dan juga mampu hidup dengan pluralitas agama dengan sangat aman dan nyaman. Terlepas dari sisi nuansa kehidupan pedesaan yang sangat kental, masyarakat di desa ini juga seperti kurang memahami bagaimana perannya dalam pembangunan desa. Masyarakat Desa Satak kurang terbiasa dengan keterlibatan proses pembangunan yang bersifat dari, oleh dan untuk masyarakat. Kebanyakan dari masyarakat desa tersebut menyerahkan dan mempercayakan pembangunan desa kepada pemerintah desa. Tentunya hal ini seringkali berdampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat yang bersifat semu. Atau dengan kata lain, menunjukkan masyarakat dalam kondisi tidak berminat atau bahkan tidak berdaya untuk mengakses pada program-program pembangunan, khususnya pada keputusan-keputusan yang secara nyata dapat mensejahterakan dan meningkatkan taraf hidup mereka, sehingga permasalahan sosial seperti kemiskinan masih terus membelit kehidupan mereka. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai partisipasi masyarakat dalam pembangunan Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. METODE PENELITIANPenelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Peneliti menggunakan penelitian kualitatif untuk memperoleh data yang bersifat mendalam sehingga dapat membantu dalam proses penelitian. Selain itu, peneliti dapat mengetahui bagaimana realita partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa. Seperti halnya yang dipaparkan oleh Sugiyono (2014:1) mendefinisikan bahwa Metode penelitian kualitatif dilakukan oleh peneliti secara menyeluruh, segala bentuk penelitian yang dilakukan secara obyektif dalam hal ini diartikan sesuai dengan kondisi alami yang ada saat penelitian dilakukan, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan baik dari berbagai sumber, berbagai cara, maupun berbagai waktu dengan menekankan pada makna selama penelitian berlangsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yang memiliki arti bahwa penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa yang berlaku saat ini. Dalam pendekatan deskriptif ini peneliti akan mencatat, mendeskripsikan maupun menganalisis tentang data-data yang telah dikumpulkan dalam penelitian yang dilakukan. Menurut Nazir (2005:54) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.Kehadiran peneliti sangat penting karena peneliti adalah pihak yang membutuhkan data dan sekaligus pihak yang mengumpulkan data. Menurut Sugiyono (2014: 222) “peneliti kualitatif sebagai human instrument berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya”. Kehadiran peneliti dalam penelitian ini  dilakukan menjadi hal yang berperan karena kehadiran peneliti selain sebagai pelaksana, pengamat juga menjadi pengumpul data yang akan mempengaruhi hasil dari penelitian yang dilakukan.Lokasi penelitian adalah lokasi peneliti mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan selama proses penelitian. Lokasi ini disesuaikan dengan tema yang diangkat dalam skripsi ini yaitu di Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Desa Satak ini merupakan desa yang terletak di lereng Gunung Kelud dan terkena dampak letusan Gunung Kelud yang cukup parah, karena lokasinya yang terletak kurang lebih 10km dari Gunung Kelud. Alasan pemilihan lokasi ini yakni desa Satak memiliki karakteristik yang cukup unik yaitu kondisi desa yang terletak jauh dari pusat kota dan juga sulit dalam sinyal dan akses jaringan internet, juga jarak antar Dusun harus melewati hutan sengon. Akses jaringan telepon dan internet yang sangat susah ditemukan sehingga membuat masyarakat kurang melek terhadap teknologi membuat peneliti tertarik untuk mengamati bagaimana partisipasi masyarakat desa Satak dengan kondisi geografis seperti yang di paparkan diatasSumber data merupakan subyek utama dari data yang akan diperoleh. Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan oleh peneliti ialah sumber primer dan sekunder. Sebagaimana Sugiyono (2017:225) menjelaskan bahwa sumber primer merupakan sumber data yang yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, sedangkan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data pada pengumpul data. Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari Informan dengan teknik wawancara. Sedangkan Sumber data sekunder dalam peneltian ini diperoleh dari dokumen-dokumen terkait dengan data yang akan dikumpulkan.Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini: Pertama, menggunakan teknik wawancara.  Menurut Wiyono (2007:49) teknik wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang bisa digunakan dalam penelitian untuk mendapatkan informasi tentang obyek penelitian dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lisan. Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa wawancara merupakan cara menghimpun data yang dilakukan dengan melakukan tanya jawab secara lisan atau berhadapan muka secara langsung, dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Kedua, teknik observasi yaitu peneliti mengamati tempat atau lokasi warga saat melakukan aktifitas pembangunan desa atau kerja bakti serta lokasi pembangunan yang dilakukan sesuai dengan program pemerintah desa. Menurut Wiyono (2017:48) “observasi adalah teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan informasi dengan cara mengamati perilaku subyek dalam situasi tertentu. Ketiga, dokumentasi ini digunakan untuk memudahkan peneliti dalam mengidentifikasi kegiatan partisipasi masyarakat. Teknik dokumentasi ini mampu membantu peneliti dalam menarik kesimpulan agar data-data yang diperoleh dari wawancara dan observasi sesuai dengan data yang di dapatkan dari hasil dokumentasi. Analisi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data model interaktif Miles and Huberman. Miles and Huberman dalam Sugiyono (2008: 237), mengemukakan aktivitas dalam analisis data kualitatif harus dilakukan secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. langkah-langkah analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Interaktif. Model dari Miles dan Huberman, yang membagi langkah-langkah dalam kegiatan analisis data dengan beberapa bagian yaitu pengumpulan data (data collection), reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclutions). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA. Program-program pembangunan di Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten KediriPembangunan desa merupakan hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan bermasyarakat. Untuk itu pelaksanaan pembangunan harus mempertimbangkan kondisi lingkungan, kekayaan alam serta kebutuhan dari masyarakat. Pembangunan desa bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 78 ayat (1) tentang Desa). Maka dari itu, program-program pembangunan yang dilahirkan oleh pemerintah Desa Satak dikelompokkan dalam beberapa bidang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang bersifat berkelanjutan yaitu pada bidang sosial, bidang pendidikan, bidang kesehatan dan bidang umum. Program pembangunan dalam bidang sosial yang dilaksanakan oleh pemerintah desa merupakan pembangunan yang mempunyai sasaran pada kebutuhan dasar masyarakat Desa Satak yakni kebutuhan akan papan yang diwujudkan dalam bentuk bedah rumah yang tidak layak huni bagi masyarakat Desa Satak yang tidak mampu. Pada bidang pendidikan, pemerintah Desa Satak melaksanakan program pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan masyarakatnya baik dalam pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Program tersebut diwujudkan dalam pembangunan gedung untuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Pada bidang kesehatan, Program pembangunan desa pada bidang kesehatan adalah pelaksanaan posyandu secara rutin selama satu bulan sekali dan adapula cek kesehatan bagi lansia atau posyandu lansia yang diadakan satu bulan sekali dengan tanggal pelaksanaan menyesuaikan dengan pihak dari Puskesmas Kecamatan Puncu. Pada bidang umum, pembangunan lebih merujuk kepada pembangunan pada fasilitas umum. Pembangunan di bidang umum yang dilaksanakan oleh pemerintah Desa Satak adalah memperbaiki selokan utama serta memasang paving di mushola dusun A Yani yang dilaksanakan guna memberikan manfaat untuk masyarakat Desa Satak. B. Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat di Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten KediriMasyarakat yang sadar akan pentingnya keterlibatan mereka dalam pelaksanaan pembangunan desa secara sukarela maka akan mudah tercapainya tujuan dari program pembangunan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Mubyarto (Dikutip oleh Ndraha 1987:102) partisipasi di definisikan sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya suatu program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berati mengorbankan kepentingan diri sendiri. Partisipasi masyarakat Desa Satak dapat dilihat dalam beberapa bentuk, yaitu: Pertama, partisipasi buah pikiran ditunjukkan masyarakat desa satak melalui kegiatan musyawarah desa dan kegiatan rapat rutinan RT yang dilakukan setiap satu bulan sekali. Partisipasi terseut dapat diketahui dari kegiatan pada bidang pendidikan yakni musyawarah mengenai pembangunan gedung untuk taman pendidikan Al-Quran (TPA) dengan melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, Rt dan Rw, serta perwakilan pengajar di TPA dusun A Yani. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Huraerah (2008: 102) bahwa partisipasi buah pikiran, yang diberikan partisipan adalah anjang sono, pertemuan atau rapat. Pada kegiatan tersebut masyarakat menyampaikan aspirasinya terkait dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Selain itu, masyarakat juga mendapat informasi terkait tujuan program-program pembangunan desa yang akan dilaksanakan oleh pemerintah desa. Masyarakat pun juga dapat megkritik ataupun memberikan saran terkait dengan rencana program pembangunan desa maupun mengevaluasi jalannya program pembangunan desa. Kedua, partisipasi tenaga ditunjukkan pada beberapa bidang yaitu bidang sosial dengan membantu pelaksanaan program pemerintah desa yaitu bedah rumah. Bidang umum, masyarakat ikut andil dalam menyumbangkan tenaga yang ditunjukkan dengan keikutsertaan masyarakat dalam pemasangan paving di mushola Dusun A Yani. Hal ini sesuai dengan pendapat Huraerah (2008:102) yaitu partisipasi tenaga yang diberikan partisipan dalam berbagaii kegiatan uyntuk perbaikan atau pembangunan desa, pertolongan bagi orang lain, dan sebagianya. Selain itu dalam bidang umum ditunjukkan dengan kegiatan kerja bakti dalam membersihkan dan merawat selokan yang telah dibangun dan menjadi program pembangunan desa. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nurman (2015:239) bahwa masyarakat turut, merawat dan mengembangkan hasil-hasil pembangunan desa. Ketiga, partisipasi masyarakat juga ditunjukkan dalam partisipasi harta benda pada bidang umum, seperti perbaikan mushola dana juga di peroleh dari masyarakat secara sukarela. Partisipasi juga ditunjukkan dengan memberikan makanan dan minuman ketika ada kegiatan kerja bakti dan sebagainya. Keempat, partisipasi keterampilan atau kemahiran ditunjukkan dalam bidang pendidikan yaitu masyarakat yang memiliki ilmu dan ketrampilan dalam hal mengaji secara sukarela menjadi pengajar Taman Pendidikan Al-Quran baik di Dusun Satak dan Dusun A Yani.  Hal ini sesuai dengan pendapat Nurman (2015:229) bahwa masyarakat memiliki keterbukaan dan keterlibatan yang sangat erat dengan permasalahan rohani atau keagamaan. Kelima, partisipasi sosial ditunjukkan pada bidang kesehatan ditunjukkan dengan keterlibatan masyarakat untuk menjadi kader atau anggota penggurus posyandu. C. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan di Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediria. Kurangnya minat dan pemahaman masyarakat mengenai posyandu lansia Pada bidang kesehatan ditemukan kendala ketika pelaksanaan posyandu lansia. Tidak adanya minat dan kurangnya pemahaman terkait dengan posyandu lansia ini tidak hanya pada lansia di Desa Satak tetapi juga pada keluarga lansia. Sehingga membuat pelaksanaan posyandu lansia tidak dapat berjalan secara maksimal karena banyak lansia yang tidak mau menghadiri kegiatan tersebut b. Masyarakat yang masih membuang sampah di selokanKepedulian dari masyarakat merupakan hal yang harus dimiliki, dari kepedulian tersebut akan menimbulkan kesadaran bahwa pentingnya menjaga lingkungan sekitar maupun menjaga fasilitas yang di sediakan oleh Pemerintah desa. Pembangunan pada bidang umum berupa pembangunan atau renovasi selokan ini terdapat kendala yaitu kurangnya kepedulian masyarakat untuk menjaga lingkungan, sebagian masyarakat masih membuang sampah di selokan, dan membersihkan selokan hanya ketika musim hujan akan datang. D. Upaya mengatasi kendala-kendala yang dialami dalam pelaksanaan pembangunan di Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediria. Pihak PKK dan dari Puskesmas Kecamatan Puncu berkeliling mendatangi rumah lansia berdasarkan data penduduk yang diperoleh dari DesaBerdasarkan hasil musyawarah, upaya yang dilakukan pemerintah desa dan anggota PKK untuk tetap melaksanakan program posyandu lansia, karena kegiatan atau program ini sangat bermanfaat dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan terutama untuk lansia.b. Pemasangan pagar kawat berduri disepanjang selokanSalah satu upaya yang dilakukan adalah membangun kawat berduri yang diharapkan dapat menhentikan masyarakat untuk tidak  membuang sampah di selokan KESIMPULANProgram pembangunan Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri di bidang sosial adalah bedah rumah bagi rumah tak layak huni dan bagi warga yang sangat membutuhkan; Program pembangunan di bidang pendidikan adalah pembangunan kelas untuk Taman Pendidikan Al-Quran; Pembangunan pada bidang kesehatan ditunjukkan pemerintah desa melalui kegiatan posyandu untuk balita, posyandu untuk lansia dan juga penyuluhan jentik-jentik yang bekerjasama dengan Puskesmas Kecamatan Puncu; Program pembangunan desa pada bidang umum ditunjukkan dengan renovasi dan pemasangan paving di mushola dusun A Yani dan juga pembangunan selokan. Bentuk partisipasi tenaga pada bidang sosial diwujudkan melalui program bedah rumah yaitu membantu menbongkar rumah warga yang akan dibedah, keterlibatan masyarakat dalam program pemerintah desa ditunjukkan dengan partisipasi tenaga yaitu ikut sertanya masyarakat dalam kegiatan kerja bakti memasang paving,  dan kerja bakti membersihkan selokan. Partisipasi masyarakat dalam bentuk partisipasi buah pikiran dengan mengikuti musyawarah dalam rangka pembangunan gedung Taman Pendidikan Al-Quran. Partisipasi keterampilan atau kemahiran diwujudkan dengan beberapa masyarakat yang menjadi pengajar di Taman Pendidikan Al-Quran secara sukarela. Bentuk partisipasi sosial yaitu masyarakat secara sukarela menjadi kader posyandu, yang memiliki tugas untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat serta memberikan informasi mengenai kegiatan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah desa. Partisipasi dalam bentuk harta benda ditunjukan dalam bidang umum yaitu menyumbang secara sukarela untuk renovasi mushola dan memberikan makanan dan minuman ketika sedang dilaksanakan kerja bakti. Kendala yang dihadapi pada pelaksanaan program pembangunan desa di bidang kesehatan adalah kurangnya minat dan pemahaman masyarakat mengenai posyandu lansia. Selain itu, ditemukan lagi kendala pada pelaksanaan pembangunan desa di bidang umum yaitu masyarakat yang masih membuang sampah diselokan. Upaya mengatasi kendala pada bidang kesehatan adalah Pihak PKK dan Puskesmas Kecamatan Puncu berkeliling mendatangi rumah lansia berdasarkan data penduduk yang diperoleh dari Desa. Sedangkan untuk mengatasi kendala yang terjadi pada program pembangunan di bidang umum adalah  musyawarah desa dengan keputusan pembangunan pagar kawat berduri untuk menutupi akses jalan ke selokan utama. SARANKendala pembangunan bidang umum  agar masyarakat tidak membuang sampah di selokan sebaiknya pemerintah desa memprioritaskan pembangunan yang perlu dilaksanakan, seperti penyediaan Tempat Pembuangan akhir yang memadai sehingga mendorong masyarakat untuk tidak membuang sampah di selokan.Pada program pembangunan di bidang kesehatan, agar masyarakat aktif dalam kegiatan posyandu alangkah lebih baiknya diberikan sosialisai kepada masyarakat terkait dengan tujuan dan manfaat dari posyandu lansia agar masyarakat memahami pentingnya menjaga dan mengece

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO STORYLINE DALAM PENGAMALAN PANCASILA PADA MATERI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PRAKTIK PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA BAGI SISWA KELAS X SMKN 1 KEDIRI

    No full text
    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO STORYLINE DALAM PENGAMALAN PANCASILA PADA MATERI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PRAKTIK PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA BAGI SISWA KELAS X SMKN 1 KEDIRI Oleh: Ahmad Ekha Yustira Nur Wahyu Rochmadi Suparman Adi Winoto Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang [email protected]   Tugas pokok Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yaitu dalam rangka character building. Diperlukan metode penyampaian materi saat kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan pembangunan karakter sebagai good citizenship dan penerapan nilai-nilai Pancasila yang lebih inovatif, salah satunya adalah melalui video. Melalui video dapat memberikan suasana pembelajaran PPKn yang menarik bagi peserta didik. Selanjutnya video dikemas dalam bentuk media pembelajaran yang menampilkan materi nilai-nilai Pancasila dengan video pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian pengembangan denan menggunakan prosedur yang mengadopsi dari Sugiyono (2016:298) yang meliputi (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk dan (7) revisi produk. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian pengembangan ini menggunakan instrumen pengumpulan data berupa angket atau kuisioner. Lalu untuk mengukur pendapat orang, peneliti menggunakan skala Likert. Selanjutnya teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui hasil validasi dan hasil uji coba yaitu dengan membandingkan skor yang diperoleh dari responden dengan skor maksimal. Hasil pengembangan produk yang melalui langkah validasi media, validasi materi dan validasi praktisi pendidikan memperoleh temuan yaitu hasil validasi media sangat layak/valid (94,78%), hasil validasi materi sangat layak/valid (90%), dan hasil validasi praktisi pendidikan sangat layak/valid (96%). Sementara itu dalam penerapan media pembelajaran setelah melalui serangkaian uji coba kelompok kecil dan kelompok besar memperoleh kesimpulan akhir yaitu hasil uji coba kelompok kecil mendapatkan predikat sangat layak/valid (83,14%) dan hasil uji coba kelompok besar mendapatkan predikat sangat layak (84,91%). Berdasarkan hasil secara keseluruhan maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran video storyline materi nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran di kelas.   Kata Kunci : Media Pembelajaran, PPKn, Video Storyline    PENDAHULUAN Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam konteks pembangunan mental dan pembentukan identitas nasional. Melalui PPKn maka pembangunan nasional akan memiliki semangat yang berkarater dalam membangun peradaban melalui warga negara. Menurut Rahayu (2007:2) bahwa terdapat landasan filosofis dalam kandungan Pendidikan Kewarganegaraan yaitu membangun semangat kebangsaan warga negara dalam menghargai nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan sosial, cinta tanah air, kesadaran hukum dan kemampuan bela negara. Melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan karakter warga negara akan tumbuh menjadi warga negara yang mengerti makna pembangunan yang bermuara pada perilaku good citizenship. Tugas pokok Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yaitu dalam rangka character building. Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran sangat penting bagi peserta didik untuk belajar membangun karakter yang menjiwai Pancasila melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Seperti yang dikemukakan oleh Toyib dan Nuryadi (2016:18) bahwa PPKn memiliki visi da misi untuk mengembangkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air pembinaan karakter seperti perilaku jujur, santu, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri. .Namun kegiatan pembelajaran PPKn seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan jarang pendidik membawa peserta didik pada pengalaman sebagai perwujudan warga negara yang baik. Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nurdafillah dkk (2014:127) masih sering ditemukan sat penyampaian materi pada mata pelajaran PPKn guru masih menggunakna metode ceramah, bahkan dalam evaluasi guru masih sering menenkankan hafalan kepada peserta didik. Demikian maka penyampaian materi yang berkaitan dengan pembanguan karakter sebagai good citizenship dan penerapan nilai-nilai Pancasila akan lebih konkret dan mudah dipahami oleh peserta didik melalui kegiatan yang melibatkan pengalaman empirik. Maka dari itu agar tercipta kondisi dan suasana pembelajaran yang mampu membawa peserta didik memiliki semangat terhadap mata pelajaran PPKn, guru harus memaksimalkan sumber-sumber belajar yang tersedia seperti di sekolah, di lingkungan rumah tinggal, di lingkungan desa, dan berbagai tempat lainnya (Dzamarah, 2002:56). Sementara itu keberadaan ruang digital menjadi primadona terutama bagi pelajar. Wujud dari ruang digital yang lebih luas lagi adalah munculnya ruang sosial berbentuk digital yang baru yang disebut sebagai media sosial yang semakin meningkat setiap tahunnya. Berdasarakan laporan Tetra Pak Index tahun 2017, dari 132 juta pengguna internet sebanyak 40% penngguna media sosial dan ini meningkat dari tahun 2016 yang berkisar 51% dari 45 juta pengguna (Yudhianto, detik.com edisi 27 September 2017). Beberapa fitur media sosial mampu menarik minat remaja untuk menggunakannya seperti fitur video dan foto yang mampu menunjukkan eksistensi pengguna.  Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa saat ini sedang terjadi fenomena bahwa remaja khususnya akan lebih tertarik untuk melakukan interaksi melalui ruang digital. Media pembelajaran dalam bentu video telah ada sejak dahulu yang biasanya dikemas dalam bentuk film atau cerita pendek. Selanjutnya video yang akan dikembangkan akan dikemas dalam bentuk media yang menampilkan perpaduan antara materi nilai-nilai Pancasila dengan contoh video yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Adanya video dalam substansi materi diharapkan dapat membantu peserta didik untuk memahami materi secara kontekstual. Terdapat hasil penelitian terdahulu terkait media pembelajaran video oleh Widayati (2013:110) dengan judul “Pengembangan Media Pembelajaran Video Pembalajaran Geografi pada Materi Pelestarian Lingkungan Hidup Kelas XI IPS di SMAN 2 Gresik”. Dalam penelitian tersebut ditemukan masalah bahwa geografi memiliki materi yang kompleks sehingga guru dituntut untuk kreatif dalam pembelajaran serta nilai siswa yang cederung turun ketika pembelajaran hanya bersifat visual saja. Hasil yang diperoleh setelah media pembelajaran video diterapkan menunjukkan respon siswa terhadap media ini dalam kategori kuat yaitu sebesar 78,14 % serta hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan. Maka dengan ini media pembelajaran video yang telah dikembangkan mendapat mendapat nilai kelayakan sebesar 83,33 %. Terinspirasi oleh fitur video atau tayangan yang konstekstual dalam pembelajaran serta hasil analisis penelitian terdahulu tentang media pembelajaran video maka tercetuslah rancangan media pembelajaran Video Story Line. Namun media pembelajaran Video Story Line yang akan dikembangkan nantinya tidak meninggalkan materi yang bersifat tekstual. Media pembelajaran Video Story Line dirancang dengan kombinasi praktik pengamalan nilai-nilai pancasila. Sehingga media pembelajarn Video Story Line akan memenuhi aspek tekstual dan kontekstual. Sehingga ini menjadi kelebihan daripada media pembelajaran yang akna dikembangkan. Berdasarkan hasil paparan di atas, maka peneliti akan mengembangkan media pembelajaran audio visual berupa media pembelajaran Video Story Line. Jenis penelitian yang akan digunakan oleh peneliti adalah penelitian dan pengembangan dengan judul “ Pengembangan Media Pembelajaran Video Story Line dalam Pengamalan Pancasila pada Materi Nilai Nilai Pancasila dalam Praktik Penyelenggaraan Pemerintahan Negara bagi Siswa Kelas X SMKN 1 Kediri”   METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan merupakan suatu langkah untuk mengembangkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada sebelumnya (Sukmadinata, 2013:164).  Penelitian dan pengembangan ini secara procedural terdiri dari beberapa tahap mulai dari (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, (7) revisi produk. Keterbatasan waktu yang menyebabkan pengambilan langkah penelitian dan pengembangan hanya menggunakan tujuh langkah. Mengenai prosedur penelitian dan pengembangan ini dapat diuraikan dalam langkah-langkah berikut ini. Gambar 3.1 Langkah-langkah Model Penelitian dan Pengembangan Langkah-langkah tersebut mengadaptasi dari Sugiyono (2016:298) bahwa terdapat 10 langkah, yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain (6) ujicoba produk, (7) revisi produk (8) ujicoba pemakaian, (9) revisi produk, (10) produksi massal.   3.2.1 POTENSI DAN MASALAH Langkah awal yang dilakukan peneliti dalam tahapan penelitian dan pengembangan yaitu dengan menganalisis potensi dan masalah dalam pembelajaran PPKn siswa kelas X SMKN 1 Kediri. Menurut Sugiyono (2016: 298-299) bahwa potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah, sedangkan masalah adalah penyimpangan antara harapan dengan kenyataan yang sebenarnya. Penelitian dan pengembangan ini terdapat proses yang dijalankan dengan melakukan identifikasi terhadap potensi dan masalah pada subjek penelitian. Dalam kaitannya pada proses pembelajaran, identifikasi potensi merupakan identifikasi tentang kelebihan dalam proses pembelajaran. Identifikasi masalah merupakan identifikasi masalah-masalah yang terjadi atau timbul dalam proses pembelajaran sehingga dapat diketahui cara dalam mengatasi masalah tersebut. Perkembangan pembelajaran di tingkat Sekolah Menengah Atas dapat dibilang pesat dengan ditandai berkembangnya Information and Communication Technology (ICT) di tiap sekolah. Keberadaan ICT di sekolah juga didukung dengan adanya ruang berupa laboratorium computer. Selain itu juga saat ini peserta didik banyak yang memiliki dan /atau membawa laptop untuk menunjang belajar mereka di sekolah. Apalagi saat ini dengan berkembangnya ICT, setiap sekolah telah dilengkapi fasilitas wifi atau hotspot area. Pendayagunaan ICT di Sekolah Menengah Atas merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Asumsi penting terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) sering dibilang membosankan dan kurang menarik bagi sebagian peserta diidk tentu dapat teratasi dengan memanfaatkan instrument ICT supaya pembelajaran lebih inovatif dan kontekstual karena dapat memberikan pemahaman konkret kepada peserta didik. Saat ini memanfaatkan ICT dengan berbagai kelebihannya sudha harus dimaksimalkan oleh setiap pendidik terutama sebagai media pembelajaran. melalui media pembelajaran yang inovatif tetntu dapat membantu pendidik untuk memberikan gambaran yang lebih realistis dan kontekstual terhadap materi-materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SMKN 1 Kediri serta asumsi bahwa peneliti adalah alumni SMKN 1 Kediri yang sudah barang tentu mengenal lingkungan pembelajaran di SMKN 1 Kediri bahwa sekolah tersebut memiliki potensi fasilitas computer, laptop, dan jaringan internet yang memadahi. Selain itu juga belum banyak guru mata pelajaran PPKn yang memanfaatkan fasilitas yang tersedia dengan maksimal guna menunjang kegiatan pembelajaran. Pada pembelajaran seringkali guru menggunakan media pembelajaran verbal sehingga membuat peserta didik kesultan memahami dan cenderung cepat bosan. Pada materi yang bersinggungan dengan aktualisasi nilai-nilai Pancasila seringkali hanya disampaikan secara verbal tanpa ditunjukkan secara konkret seperti apa penerapan nilai-nilai Pancasila yang dimaksud. Sehingga pemahaman peserta didik hanya sebatas pada aspek kognitif saja belum sampai pada tindakan aktualisasi nilai-nilai tersebut. Maka dari itu pembelajan nilai-nilai Pancasila harus ditampilkan secara kontekstual dan konkret agar peserta didik dapat memahami dan  melanjutkan pemahamannya dengan tindakan nyata. Terdapat cara supaya peserta didik dapat memahami dan selanjutnya menerapkan nilai-nilai Pancasila yaitu dengan menampilkan model pembelajaran yang kontekstual melalui media pembelajaran dalam bentuk video dengan desain tampilan yang menarik, dalam hal ini media pembelajaran Video Storyline.   3.2.2 PENGUMPULAN DATA Tahap kedua yang dilakukan dalam pengembangan media pembelajaran Video Story Line yaitu mengumpulkan data atau informasi. Tahap ini bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi yang diperlukan tentunya yang berkaitan dengan pengembangan materi dan media. Upaya untuk mencari solusi terhadap potensi dan masalah yang muncul maka dilakukan pengumpulan data yang digunakan untuk memberikan solusi dengan mengembangkan suatu produk yang dibuat. Tahap pengumpulan data ini, peneliti mencari informasi untuk pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan wawancara pada kelas X SMKN 1 Kediri tentang proses pembelajaran, sumber belajar dan masalah pada saat pembelajaran, selanjutnya melakukan wawancara dengan guru PPKn kelas X SMKN 1 Kediri untuk mendapatkan informasi dan mengkonfirmasi pendapat siswa terhadap masalah pada saat proses pembelajaran, sehingga mendapatkan solusi untuk mengatasi masalah yang terjadi pada saat pembelajaran. Hasil wawancara guru dan siswa dijadikan pedoman awal dalam memilih dan menentukan materi dan media yang akan dibuat. Berdasarkan pegumpulan data yang diperoleh maka peneliti mendapatkan data/informasi mengenai pengembangan materi dan pengembangan media yang dijelaskan sebagai berikut:   a. Data untuk Pengembangan Materi Kompetensi Inti Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleransi, damai), santun, responsive dan pro aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, keangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.   Kompetensi Dasar 1.1 Mensyukuri nilai-nilai Pancasila dalam praktik oenyelenggaraan pemerintahan negara sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Tuhan yang Maha Esa 2.1 Menujukkan sikap gotong royong sebagai bentuk penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara 3.1 Menganalisis analisis nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara 4.1 Menyaji hasil analisis nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara   Indikator 1.1.1 Menunjukkan sikap beriman kepada Tuhan  Yang Maha Esa terhadap praktik penyelenggaraan pemerintah negara sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa 2.1.1 Menunjukkan sikap peduli terhadap penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara 3.1.5 Menjelaskan nilai-nilai Pancasila   Tujuan Pembelajaran 1.1.1.1 Menunjukkan sikap beriman kepada Tuhan  Yang Maha Esa terhadap praktik penyelenggaraan pemerintah negara sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa 2.1.1.1 Menunjukkan sikap peduli terhadap penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara 3.1.5.2 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa 3.1.5.3 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 3.1.5.4 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Persatuan Indonesia 3.1.5.5 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan 3.1.5.6 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia   Materi Pokok Adapun materi pokok yang diambil untuk pengembangan media pembelajaran ini adalah aktualisasi nilai-nilai Pancasila. b. Data untuk Pengembangan Media Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada siswa kelas X SMKN 1 Kediri serta guru mata pelajaran PPKn diperoleh informasi bahwa selama ini guru hanya menggunakan metode pembelajaran secara verbal sehingga siswa seringkali merasa bosan, mudah mengantuk dan tidak bersemangat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. hasil wawancara kepada siswa diperoleh informasi bahwa siswa cenderung lebih senang terhadap metode pembelajaran yang dirancang guna menarik perhatian siswa, seperti halnya dengan menampilkan tayangan video, dll. Berdasarkan data dan informasi tersebut diatas peneliti mengembangkan media pembelajaran Video Storyline dengan memanfaatkan bantuan software yang sudah ada yaitu Articulate Storyline 3. Software ini dipilih karena pengoperasian yang tegolong mudah. Dalam proses pembuatan media pembelajaran ini peneliti juga mengunjungi laman web Articulate Storyline 3 (https://articulate.com/p/storyline-3) guna mendapatkan informasi tambahan untuk penggunaan software ini.   3.2.3 DESAIN PRODUK Produk media pembelajaran Video Story Line berupa tampilan materi berbentuk slide yang didalamnya terdapat video pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan format (.swf). Video pengamalan nilai0nilai Pancasila terdapat dalam salah satu menu yang menjadi sajian inti dari media pembelajaran video storyline. Peralatan yang dibutuhkan dalam menunjang media tersebut antara lain komputer/laptop/tablet PC. Langkah yang dilakukan untuk membuat desain media pembelajaran video Storyline yaitu (a) membuat desain konsep media Video Story Line, tertera pada gambar 3.2 , (b) membuat storyboard media, tertera pada lampiran 13, (c) membuat secara utuh media pembelajaran Video Story Line menggunakan Articulate Story Line 3. Gambar 3.2 Desain Konsep Media Pembelajaran Video Story Line Gambar 3.2 diatas merupakan desain konsep tampilan yang akan menjadi gambaran media pembelajan Video Story Line. Pada gambar 3.2 tersebut tergambar bahwa tampilan media terdiri dari beberapa menu. Halaman utama merupakan tampilan pembuka pada media, kemudian terdapat halaman apersepsi yang berisi video yang bertujuan untuk mengarahkan peserta didik pada materi yang akan disampaikan. Terdapat beberapa menu, yaitu (a) KI, KD, Indikator dan Tujuan, (b) Nilai-nilai Pancasila, (c) Video Story Line, (d) Latihan soal dan tantangan, dan (e) Referensi. Selanjutnya desain konsep navigasi digunakan sebagai acuan untuk pembuatan storyboard, yaitu rancangan desain dan tata letak beserta konten media pembelajran yang akan dimuat. Desain storyboard ini nantinya menjadi acuan dalam pembuatan media pembelajaran Video Story Line secara utuh. Desain Storyboard ditampilkan pada lampiran 13.   3.2.4 VALIDASI DESAIN Pada tahap ini, peneliti selanjutnya melakukan uji coba validasi desain kepada ahli materi PPKn, ahli media pembelajaran, dan ahli praktisi pendidikan. Terlebih dahulu peneliti membuat instrumen penilaian kelayakan media pembelajaran Video Story Line. Instrumen yang digunakan adalah angket atau kuisioner. Terdapat dua angket yang digunakan yaitu angket validasi materi dan angket validasi media. Angket validasi yang akan dibuat berdasarkan acauan referensi yang relevan. Pada tahap ini bertujuan untuk mengukur kelayakan produk Video Story Line dan mengetahui kekurangan dari produk yang akan dikembangkan. Validasi desain akan dilakukan dengan melibatkan dosen Teknologi Pendidikan (TEP) Fakultas Ilmu Pendidikan dan validasi materi oleh dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta melibatkan guru PPKn kelas X SMKN 1 Kediri. Instrument yang digunakan adalah angket (kuisioner). Terdapat dua instrument angket yang digunakna yaitu angket validasi media dan angket validasi materi. Instrument angket validasi dibuat dengan memperhatikan berbagai bahan referensi yang akurat dan relevan terhadap perkembangan pembelajaran. pada angket validasi media terhadap empat aspek kriteria penilaian yang dijabarkan kedalam dua pulu tiga indicator. Aspek tersebut antara lain kelayakan isi media, desain layar dan tampilan, efektifitas dan kebermanfaatan, dan kegrafisan dan elemen-elemen desain (selengkapnya pada Lampiran 2 dan 3). Kemudian angket validasi materi terdapat empat aspek kriteria penilaian yang dijabarakan kedalam dua puluh indicator. Aspek tersebut antara lain kesesuaian kurikulum dan materi, konten/isi materi, komponen kebahasaan, dan relevansi dan keakuratan.   3.2.5 REVISI DESAIN Tahap revisi desain dilakukan dengan cara memperbaiki desain media pembelajaran Video Story Line berdasarkan saran dari hasil validasi ahli media, ahli materi dan praktisi pemdidikan. Diharapkan hasil dari revisi desain dapat menjadikan media pembelajaran Video Story Line lebih menarik dan siap untuk diujicobakan. Revisi diambil berdasarkan kritik dan saran yang diperoleh dari ahli media, ahli materi dan praktisi pendidikan. Hasil a

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇