SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI KARAKTER REMAJA INDONESIA

    No full text
    PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI KARAKTER REMAJA INDONESIA Nur Khafido Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5 Surel: [email protected]   Abstrak Pada artikel ilmiah ini berlandasakan masalah megenai degradasi karakter yang dimiliki remaja di Indonesia. Hal tersebut memerlukan alternatif solusi, salah satunya melalui proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah yaitu melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter mampu membentuk dan meningkatkan sikap setiap individu sehingga dapat tercipta perilaku yang berkualitas dan memiliki budi pekerti yang luhur.   Kata Kunci : pendidikan karakter, degradasi karakter.   PENDAHULUAN Pada era globalisasi saat ini, perilaku bangsa Indonesia sangat memprihatinkan. Terutama perilaku remaja yang menyimpang nilai-nilai sosial di masyarakat. Hal-hal yang negatif tersebut dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar, baik lingkungan sekolah maupun pada saat di rumah. Misalnya, tawuran antar pelajar, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain. Secara psikologis, kenakalan remaja adalah wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa anak-anak maupun remaja. Moral remaja dari tahun ketahun terus mengalami penurunan kualitas atau degradasi. Degradasi moral ini seakan luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang. Dimana remaja adalah calon generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat membangun dan memajukan karakter bangsa. Pada kenyataannya, arus globalisasi yang masuk ke Indonesia berdampak pada pola fikir dan gaya hidup remaja. Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba (2014), jumlah penyalahgunaan narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir pada kelompok usia 10-59 tahun. Angka tersebut terus meningkat dengan menunjuk hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional dengan Puslitkes UI diperkirakan pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa (2015). Karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang berfikir, bersikap, dan bertindak (Prastyo, 2012 : 13).  Seseorang memiliki karakter yang berbeda, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Perilaku yang di lakukan seseorang setiap hari menjadi suatu landasan cara pandang orang lain. Cara pandang orang lain bisa menghasilkan cara pandang positif maupun negatif. Pandangan positif berupa perilaku sopan santun terhadap sesama manusia, pandangan negatif seperti tingkah laku seseorang yang melanggar niali-nilai sosial. Mudarnya moralitas di kalangan remaja menjadi dampak dari lingkungan masyarakat  yang tidak mendukung, seperti lingkungan pernuh kejahatan, kesenjangan sosial, dan lain-lain. Pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk dan membekali para remaja di Indonesia dalam bertingkah laku. Dalam konteks Indonesia, penerapan pendidikan karakter adalah kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi sehingga dengan implementasi pendidikan karakter akan tercapai tujuan pendidikan bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia remaja secara utuh, terpadu dan seimbang. Sesuai standar kompetensi lulusan melalui pendidikan karkater diharapkan remaja mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50 % variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30 % berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20 % sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua (Suyanto, 2010). Pendidikan karakter di mulai sedini mungkin, baik di bangku sekolah maupun keluarga yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.   BAHASAN Pada bagian ini dijabarkan secara spesifik mengenai (1) Konsep dasar pendidikan karakter (2) Tahap implementasi dan (3) Kekurangan dan kelebihan   Konsep Dasar Pendidikan Karakter Pendidikan karakter merupakan upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis (Lickona, 1991). Sedangkan menurut Yudi (2009), pendidikan karakter adalah suatu payung istilah yang menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. Berdasarkan definisi tersebut, pendidikan karakter bertujuan untuk memberikan arah kepada seseorang mengenai landasan-landasan bertingkah laku yang sesuai dengan norma sosial di masyarakat. Tujuan umum dari pendidikan karakter yaitu menciptakan perilaku yang baik pada setiap individu. Oleh Karena itu, pendidikan karakter yang diselenggarakan dalam lingkup pendiidkan formal maupun non formal sebagai pembentukan karakter yang berkualitas.   Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter Prinsip-prinsip yang dapat diadaptasikan sebagai cara mengukur efektifitas pendidikan karakter sebagai berikut: (1) Menggunakan pendekatan yang komprehensif, bertujuan dan proaktif untuk perkembangan karakter. Pendekatan yang komprehensif dalam pendidikan karakter meliputi semua mata pelajaran sehingga pendidikan karakter tidak otonom (berdiri sendiri) yang hanya focus pada dua mata pelajaran saja, seperti PKn dan Agama. Apabila pendidikan karakter hanya fokus pada dua mata pelajaran saja, maka pendidikan karakter tersebut tidak efektif. (2) Mendorong pengembangan motivasi diri siswa. setiap individu memiliki potensi diri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dengan memberikan motivasi lebih mudah mengantar siswa untuk mengenali bakat, kemampuan mengaktualisasi diri dan meyakinkan keunikan dalam dirinya. (3) memberikan para siswa peluang untuk melakukan tindakan moral. Misalnya, menjadi relawan terhadap bencana alam yang terjadi di suatu daerah dengan menjadi pengelola donasi (Barnawi dan Arifin, 2012 : 37-39). Proses dan tujuan pendidikan karakter melalui pembelajaran di sekolah adalah terwujudnya insan yang berilmu dan berkarakter. Karakter yang diharapkan tidak menyimpang dari budaya asli Indonesia sebagai perwujudan nasionalisme dan sarat muatan agama (Barnawi dan Arifin, 2012 : 28-29). Berdasarkan teori tersebut, pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk karakter pada setiap individu yang berdasarkan dengan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, pendangat pendidikan karakter sangat penting dalam pembentukan karakter untuk menghasilkan insan yang berkualitas, tidak hanya berkualitas melainkan insan yang memiliki akhlak yang baik.   Model-model Realisasi Pendidikan Karakter Model Integrasi sebagai Realisasi Pendidikan Karakter Model yang ditawarkan untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah. Pertama, menggunakan model integrasi dengan menyatukan nilai-nilai dan karakter-karakter yang akan dibentuk dalam setiap mata pelajaran (Barnawi dan Arifin, 2012 : 68). Dalam model ini, pendidikan kewarganegaraan mengajarkan nilai moral pada siswa. Misalnya, guru mengajarkan tentang bersikap sopan santun dalam masyarakat. Bersikap sopan santun kepada sesama manusia terutama kepada orang yang lebih tua. Dalam pendidikan kewarganegaraan terkandung nilai kebangsaan, nilai sosial, nilai agama, dan nilai persatuan. Implementasi dari nilai-nilai tersebut, seperti (1) nilai kebangsaan bisa terlihat ketika guru mengajarkan pada siswa sikap terhadap negara yaitu bangga terhadap negara, cinta tanah air dan rela membela negara, (2) nilai sosial, guru mengajarkan kepada siswanya untuk memiliki jiwa sosial, gotong royong, dan saling membantu, (3) nilai agama bisa di lihat ketika guru mengajarkan tentang kewajiban manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, (4) nilai persatuan ditanamkan pada siswa dengan cara bagaimana menghargai perbedaan yang ada di ruang lingkup masyarakat. Jadi, dengan model ini semua pihak bertanggungjawab secara kolektif dalam lingkup sekolah.   Model Ekstrakulikuler sebagai Realisasi Pendidikan Karakter Model selanjutnya yang dianggap mampu untuk mengimplementasikan pendidikan karakter yaitu model ekstrakulikuler melalui sebuah kegiatan tambahan yang berorientasi pembinaan karakter siswa (Barnawi dan Arifin, 2012 : 68). Kegiatan ekstrakulikuler mempunyai tujuan yang akan dicapai, dengan kegiatan yang beragam tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan kreatifitas menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman yang di dapat dari kegiatan tersebut. Misalnya, kegiatan ekstrakulikuler teater yang dapat membentuk kepribadian seperti disiplin, mandiri, bertanggungjawab, rasa ingin tahu, kreatif, kebersamaan, dan kerja keras. Prinsip-prinsip dari kegiatan ekstrakulikuler sebagai berikut: (1) individual, yaitu prinsip kegiatan yang sesuai dengan potensi, bakat, minat siswa masing-masing, (2) pilihan, yaitu kegitan yang sesuai dengan keinginan, (3) keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan yang menuntut keikutsertaan siswa secara penuh, (4) etos kerja, yaitu prinsip kegiatan yang membangun semangat siswa untuk bekerja dengan baik dan berhasil, (5) menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan dalam suasana yang disukai dan menggembirakan siswa.   Kelebihan dan Kekurangan Pendidikan Karakter Pendidikan karakter baik di rumah maupun di masyarakat dinilai belum menggembirakan. Berikut ini kekurangan dari pendidikan karakter: (1) pemahaman orang tua dalam memberikan pendidikan karakter bagi putra-putrinya masih minim. Padahal, hamper 86 % waktu anak dihabiskan bersama orang tua di rumah. Hanya 16 % waktu anak di sekolah sisanya sebagian besar di luar sekolah. Misalnya, orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjannya sehingga anak tersebut kurang kasih sayang dan akan berpotensi mengganggu psikologi anak, (2) ketika menginjak remaja, siswa dihadapkan pada lingkungan yang tidak kondusif. Lingkungan tidak kondusif mempengaruhi pertumbuhan karakter yang mengakibatkan ketiadaan role model insan berkarakter dalam kehidupan masyarakat (Barnawi dan Arifin, 2012 : 31-32). Pendidikan karakter tidak hanya memiliki kekurangan, akan tetapi pendidikan karakter juga memiliki kelebihan. Kelebihan tersebut meliputi: (1) membantu meningkatkan perilaku prososial dan menurunkan sikap dan perilaku negatif siswa, (2) siswa mencapai sukses baik di sekolah maupun dalam kehidupan, (3) menjadikan pengajaran berlangsung lebih mudah dan belajar berlangsung lebih efisien, (4) membantu siswa siap merespon berbagai tantangan kehidupan, (5) lebih peduli terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat (Schwartz, 2008).   SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Penjelasan yang telah dipaparkan dalam pembahasan dapat diambil kesimpulan yaitu pendidikan karakter merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk membantu membentuk dan meningkatkan perilaku yang baik. Dalam hal ini, pendidikan karakter bertujuan meningkatkan kualitas pribadi dari masing-masing individu. Selain itu, untuk mengukur efektivitas pendidikan karakter terdapat prinsip-prinsip yang dapat diadaptasikan yaitu dengan menggunakan pendekatan komprehensif, yaitu pendekatan yang diterapkan dalam pendidikan karakter melalui seluruh mata pelajaran. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak otonom (berdiri sendiri) sehingga proses pendidikan tersebut berjalan secara efektif. Model yang dapat digunakan untuk merealisasikan pendidikan karakter sebagai berikut: model integrasi dengan menyatukan nilai-nilai serta karakter yang akan dibentuk dalam setiap mata pelajaran. Dalam hal ini, model integrasi lebih menenkankan pada nilai-nilai untuk menyatukan karakter dari masing-masing individu dalam setiap mata pelajaran. Model selanjutnya yaitu model ekstrakulikuler, model ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas, menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman yang di dapat dari kegiatan tersebut. Pembelajaran pendidikan karakter dalam lingkup formal maupun non formal memiliki kelebihan, yaitu menurunkan sikap dan perilaku negatif yang ada pada setiap individu. Dalam hal ini, perilaku individu dilandasi dengan  nilai-nilai yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan karakter membentuk dan meningkatkan kualitas pribadi dari masing-masing individu. Pendidikan karakter tidak hanya memiliki kelebihan saja, akan tetapi pendidikan karakter juga memiliki kekurangan, yaitu lingkungan yang tidak kondusif menyebabkan pendidikan karakter tidak berjalan secara efektif.   Saran Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan, pendidikan karakter merupakan solusi yang diberikan pemerintah untuk mengatasi degradasi karakter yang ada di Indonesia. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan informasi kepada masyarakat bahwasannya dengan pendidikan karakter dapat membentuk kepribadian yang baik. Sebagai seorang pendidik maupun calon pendidik, pendidikan karakter menjadi suatu hal yang sudah sepatutnya dikuasai oleh pelaku pendidik dalam menciptakan peserta didik yang berkarakter. Lingkungan yang tidak kondusif salah satu kekurangan dari pendidikan karakter.   DAFTAR RUJUKAN Asman, Prasetyo. 2012. Desain Pembelajaran Pendidikan Karakter. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Barnawi & Arifin, M. 2012. Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media https://bnn.go.id/blog/siaranpers/laporan-akhir-survei-nasional-perkembangan-penyalahgunaan -narkoba-ahun-anggaran-2014 online diakses pada tanggal 24 April 2016 Latif, Yudi. 2009. Pendidikan Karakter Menuju Keunggulan Bangsa, Makalah, Disampaikan Pada Seminar Nasional Pendidikan Karakter Sebagai Paradigm Baru Dalam Pembentukan Manusia Berkualitas Di Unimed Lickona, T. 1991. Educating For Character: How Our Schools Can Teach Respect And Responsibility, USA: A. Bantam Book

    UPAYA SEKOLAH DALAM MENCEGAH RADIKALISME BAGI SISWADI SMA MA’ARIF NU PANDAAN KABUPATEN PASURUAN

    No full text
    UPAYA SEKOLAH DALAM MENCEGAH RADIKALISME BAGI SISWA DI SMA MA’ARIF NU PANDAAN KABUPATEN PASURUANVIDIA MAGHFIROH FADLILAH Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang No 5Surel : [email protected] AbstrakPada artikel ini disajikan informasi mengenai upaya sekolah dalam mencegah radikalisme bagi siswa di SMA Ma’arif NU Pandaan kabupaten Pasuruan.  Upaya tersebut melalui program, strategi, pelaksanaan, kendala dan solusi dalam mencegah radikalisme. Melalui program deradikalisasi yang terintegrasi dengan program sekolah harus disusun dengan baik supaya program tersebut terarah dan dapat secara optimal diterapkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Kata Kunci: Upaya Sekolah, Radikalisme,  Siswa, Program, Sosialisasi Anti RadikalismeIndonesia kini tak lepas dari ancaman-ancaman disintegrasi dengan munculnya paham-paham radikal. Semakin maraknya gerakan-gerakan radikal di Indonesia membuat kekhawatiran tersendiri dikalangan masyarakat Indonesia karena radikalisme berhubungan erat dengan aksi terorisme. Menurut Jainuri (2016: 5) “radikalisme tindakan dan gerakan ditandai oleh aksi ekstrem yang harus dilakukan untuk mengubah suatu keadaan seperti yang diinginkan. Radikalisme mulai menjadi ancaman bagi generasi muda saat ini”. Kalangan anak muda Indonesia makin mengalami radikalisasi secara ideologis dan makin tak toleran. Pemahaman ini jika dibiarkan bisa menyebabkan disintegrasi bangsa karena mereka menganggap ideologi Pancasila tidak lagi penting. Temuan BNPT mengenai tingkatan pendidikan pelaku terorisme berasal dari kalangan terdidik yaitu sebanyak 63,6 persen lulus sekolah menengah atas dan 16,4 persen lulus dari universitas (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, 2016, http://belmawa.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2016/12/Strategi-Menghadapi-Paham-Radikalisme-Terorisme.pdf, 25 November 2017).Radikalisme menjadi salah satu perhatian penting di tiap-tiap daerah di Indonesia. Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu daerah yang ingin mencegah masuknya paham-paham radikal yang dapat merusak toleransi dan kerukunan dalam kehidupan umat beragama. Mayoritas masyarakat Kabupaten Pasuruan yang beragama Islam yang kuat dan terlebih lagi Pasuruan popular dikenal sebagai gudangnya para santri menjadikan Kabupaten Pasuruan dapat menjadi sasaran dalam penanaman paham-paham radikal. Perihal tersebut maka seperti dilansir dari pasuruankab.go.id, walaupun di Kabupaten Pasuruan belum terdeteksi gerakan dari simpatisan maupun pengikut ISIS secara pasti, Bupati Pasuruan segera menerbitkan peraturan  perihal Larangan Keberadaan Gerakan ISIS di semua wilayah Kabupaten Pasuruan. Penerbitan Perbup adalah sebagai follow up (kelanjutan) dari Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 450/380/sj tertanggal 7 Agustus 2014, tentang Peran Aktif Kepala Daerah dalam Penanganan Penyebaran Paham dan Ideologi ISIS di Indonesia, maupun Peraturan Pergub Jawa Timur Nomor 51 Tahun 2014 tertanggal 12 Agustus 2014, perihal Pelarangan dan Gerakan ISIS di Jawa Timur (Pemerintah Kabupaten Pasuruan, 2016, https://www.pasuruankab.go.id/berita-1759-terbitkan-perbup-larang-isis-masuk-kabupaten-pasuruan.html, 25 November 2017).Wilayah di Kabupaten Pasuruan yaitu di Kecamatan Pandaan juga menjadi salah satu wilayah yang disinyalir terdapat tempat tinggal terduga teroris. Dilansir dari wartabromo.com pada Senin, 14 Mei 2018 Tim Densus 88 Anti Teror, menggeledah sebuah rumah di Dusun Kalitengah Baru, Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Penggeledahan diduga terkait kasus teror bom di Surabaya dan di Sidoarjo pada hari sebelumnya. Hanya saja orang terduga teroris dalam penggerebekan oleh tim Densus itu tidak ada di rumah. Beberapa waktu usai menggeledah, polisi mengamankan sejumlah barang, salah satunya berupa buku yang dikumpulkan dalam beberapa kardus (Suwono, 2018, http://www.wartabromo.co/2018/05/14/densus-88-geledah-rumah-terduga-teroris-di-Pandaan, 3 Oktober 2018).Radikalisme kini mulai menyebar di tengah-tengah masyarakat melalui sarana-sarana umum kegiatan masyarakat. Sekolah adalah salah satu tempat yang bisa menjadi sarana dalam penyebaran paham radikal karena setiap peserta didik yang memperoleh pendidikan akan mudah terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran baru. Apabila setiap hari peserta didik diberi pemahaman radikalisme yang buruk, maka akan mempengaruhi pola pikir peserta didik tersebut dan akan diterapkan dalam suatu perilaku menyimpang dan akan merugikan orang lain. SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan menjadi lokasi penelitian karena sekolah ini menjadi salah-satu sekolah yang berbasis agama Islam di kecamatan Pandaan dibawah naungan Nahdatul Ulama yang menjadi salah satu organisasi masyarakat di Indonesia yang adaptif yaitu sesuai dengan tuntutan lingkungan, norma-norma dan adat istiadat yang berlaku di lingkungan dan masyarakat Indonesia sehingga menolak paham radikal yang dianggap menyimpang. Seperti pemaparan Sarmidi Husna selaku Sekretaris LBM PBNU, di laman nu.or.id bahwasanya NU tidak suka radikalisme, padahal di pesantren mereka juga mempelajari tentang jihad. Pelajaran soal jihad didapatkan santri dan Nahdliyin di antaranya melalui kitab Fathul Mu’in. Dalam kitab tersebut, disebutkan bahwa jihad ada empat tingkatan. Pertama, adalah menetapkan eksistensi Allah. Kedua, menegakkan syariat Allah, dan ketiga perang di jalan Allah maksudnya yaitu kita baru menyerang kalau lebih dulu diserang untuk membela diri dan kehormatan serta pada tahap keempat adalah jihad dengan memberikan perlindungan kepada setiap warga masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. NU menyadari bahwa dalam beragama ada pihak-pihak yang moderat, namun ada juga yang tidak. Ketika ada yang tidak moderat, maka perlu dibina melalui pendidikan. (Sarmidi Husna, 2018, http://www.nu.or.id/post/read/93560/benarkah-nu-menolak-radikalisme-karena-tidak-belajar-jihad, 3 Oktober 2018)Berdasarkan urgensi yang dipaparkan pada latar belakang maka diperlukan penelitian mengenai sikap radikalisme di masyarakat khususnya pada para pelajar, sehingga peneliti menganggap sekolah adalah salah satu tempat yang bisa menjadi sarana penyebaran paham radikal. Oleh karena itu peneliti akan membuat suatu penelitian yang berjudul “Upaya Sekolah Dalam Mencegah Radikalisme bagi Siswa di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan”.  Peneliti ingin melakukan penelitian ke Sekolah Menengah Atas yang berbasis agama Islam untuk mengetahui upaya yang telah dilakukan untuk mencegah radikalisme dengan objek penelitian yaitu di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan. BAHASANPada bagian ini digambarkan secara spesifik mengenai program dalam mencegah radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan kabupaten Pasuruan, strategi, pelaksanaan, kendala, dan solusinya. Program Sekolah dalam Mencegah Radikalisme Di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten PasuruanProgram-program Anti Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan dapat dikategorikan dalam dua bentuk yaitu(1) program terintegrasi di dalam mata pelajaran dan(2) program kegiatan rutin sekolah.Hal ini sesuai dengan pendapat dari Muhaimin, Suti’ah, dan Sugeng Listyo Prabowo (2009: 349) program merupakan pernyataan yang berisi kesimpulan dari beberapa harapan atau tujuan yang saling bergantung dan saling terkait, untuk mencapai suatu sasaran yang sama. Sementara itu terkait dengan program pembelajaran Mudasir (2012: 1) mengatakan program sering dikaitkan dengan perencanaan, persiapan, dan desain atau rancangan. Desain dalam perspektif pembelajaran adalah rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran disebut juga dengan program pembelajaran.Pertama, program yang terintegrasi dalam mata pelajaran merupakan kegiatan dalam mencegah radikalisme melalui materi-materi yang sudah dimasukkan dalam beberapa mata pelajaran. Mata pelajaran yang dimaksud adalah mata pelajaran yang didalamnya memuat tentang penguatan pendidikan karakter, antara lain:(1) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan;(2) Pendidikan Agama Islam;(3) Ilmu Pengetahuan Sosial;(4) Bimbingan Konseling; dan(5) AswajaKedua, program kegiatan rutin sekolah merupakan kegiatan yang telah diagendakan sekolah yang dilaksanakan secara berulang-ulang atau telah menjadi kebiasaan yang dijalankan di SMA MA’arif NU Pandaan. Kegiatan rutin sekolah terdapat pada beberapa kegiatan berdasarkan waktu pelaksanaannya, yaitu secara harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Kegiatan harian berisi kegiatan-kegiatan antara lain berdoa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan piket kelas; kegiatan mingguan dilakukan upacara bendera setiap hari Senin; kegiatan bulanan yaitu Istighosah; dan kegiatan tahunan berisi kegiatan-kegiatan antara lain Peringatan Hari Besar Nasional (Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia dan Peringatan Hari Kartini),  Peringatan Hari Besar Islam (Kegiatan OSIS berbagi Ta’jil dan Buka Bersama), dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Sosialisasi Anti Radikalisme). Strategi Sekolah dalam Mencegah Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten PasuruanSMA Ma’arif NU Pandaan telah menyusun strategi dalam mencegah radikalisme  berdasarkan rencana rancangan program untuk mencapai tujuan dan manfaat. Sebagai lembaga pendidikan SMA Ma’arif NU Pandaan telah menjadi salah satu institusi sosial yang berperan dalam melindungi generasi muda, hal ini sesuai dengan yang disampaikan BNPT (2016:6) melalui peran lembaga pendidikan, guru dan kurikulum dalam memperkuat wawasan kebangsaan, sikap moderat dan toleran pada generasi muda.Berdasarkan temuan penelitian, SMA Ma’arif NU Pandaan memiliki pendekatan dan rancangan program yang diharapkan sekolah dalam mencegah radikalisme melalui pembiasaan sikap anti radikalisme, pemahaman materi anti radikalisme, dan literasi spiritual. Hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2014: 185-187) yang mengatakan deradikalisasi dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan, baik agama, psikologi, sosial budaya, pendidikan, politik, hukum, ekonomi, teknologi, dan sebagainya. Pendidikan karakter yang terintegrasi dalam mata pelajaran diberikan dalam mata pelajaran antara lain mata pelajaran PPKn, Pendidikan Agama Islam, Bimbingan Konseling, Pendidikan Ilmu Sosial dan Aswaja. Sedangkan strategi sekolah dalam mencegah radikalisme melalui pembiasaan atau program rutin dibagi menjadi 4 bentuk yaitu sifatnya harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Kegiatan harian melalui menyanyikan lagu Indonesia Raya, berdoa bersama, dan piket kelas; kegiatan mingguan melalui upacara bendera; kegiatan bulanan melalui istighosah; dan kegiatan tahunan melalui PHBN, PHBI, dan MPLS. Hal ini sesuai dengan pendapat Effendy (2007: 32) strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan taktik operasionalnya.Tujuan sekolah dalam mencegah radikalisme melalui program-program Anti Radikalisme bagi peserta didik yaitu untuk meningkatkan antara lain:(1) religius;(2) nasionalisme;(3) gotong royong;(4) kebersamaan;(5) demokratis; dan(6) kekeluargaan.Sebagai sekolah yang berbasis Islam, SMA Ma’arif juga ingin menguatkan mental keagamaan atau sikap spiritual melalui kegiatan keagamaan.  Temuan ini sesuai dengan yang disampaikan oleh BNPT (2016:6) generasi muda diharapkan mampu menangkal dengan kuat pengaruh radikalisme dari dalam diri dengan menanamkan jiwa nasionalisme, memperkaya wawasan keagamaan, membentengi diri terhadap provokasi, membangun komunikasi yang baik antar individu dan masyarakat.Berdasarkan temuan yang diperoleh dari manfaat yang bisa diambil dari program Anti Radikalism adalah ada perubahan sikap dari peserta didik yang awalnya terpaksa menjadi terbiasa. Perubahan akan terjadi pada tata cara berfikir, tata cara bicara, dan tata cara bersikap ada perbedaan. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Agus (2014: 112) bahwa perubahan orientasi ideologi radikal dan kekerasan kepada orientasi yang damai dan toleran harus melalui proses pembelajaran dan dialog. Pelaksanaan Program  Sekolah dalam Mencegah Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten PasuruanProgram sekolah dalam mencegah radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik yang pelaksanaannya dibagi dalam 2 bentuk yaitu terintegrasi dengan mata pelajaran dan kegiatan rutin sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2010 : 136 ) pelaksanaan pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah–langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan. Beberapa program telah dilaksanakan oleh SMA Ma’arif NU Pandaan, pelaksanaan program tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Program Terintegrasi dalam Mata PelajaranBerdasarkan temuan penelitian, materi Anti Radikalisme di berikan sesuai dengan Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang menanamkan pendidikan karakter. Pemahaman Anti Radikalisme yang diberikan guru berupa penanaman Anti Radikalisme dari kejadian-kejadian di berita mengenai ciri-ciri radikalisme, sumber radikalisme, bahaya radikalisme, dan cara mencegah radikalisme. Selain itu, pengetahuan Anti Radikalisme dapat diselipkan pada materi ideologi Pancasila. Temuan ini sesuai dengan yang dipaparkan oleh Agus (2014: 243) yang mengatakan lembaga pendidikan di semua level memiliki peran penting mencegah radikalisme dan terorisme dikalangan generasi muda. Pelajar dan mahasiswa perlu diberi kesadaran bahwa Indonesia didirikan oleh founding fathers sekaligus mereka tokoh agama yang mempunyai pandangan nasionalis, humanis, dan toleran. Pelajar dan mahasiswa perlu mendapatkan pelajaran civic education yang mengajarkan cinta negara.Berdasarkan temuan penelitian, SMA Ma’arif NU Pandaan memiliki mata pelajaran khusus ke NU-an yang disebut Ahlussunnah Waljamaah atau yang disingkat sebagai Aswaja. Sebagai contoh terdapat materi bahwa peranan Nahdatul Ulama sebagai organisasi yang tidak radikal, materi konsep-konsep ukhuwah NU yaitu tentang individu yang bersikap kepada individu lain, dan materi tentang NU dalam perkembangan zaman dalam menanggapi jihad, radikalisme, terorisme, khilafiah islamiyah, demokrasi, kesetaraan jender, HAM, dan pluralisme di Indonesia. Temuan ini sesuai dengan yang dipaparkan oleh Agus (2014: 183) dalam mewujudkan program deradikalisasi harus selalu berpijak pada prinsip-prinsip hukum dan kemanusiaan. Agus (2014: 247- 249) juga menambahkan diperlukan langkah-langkah dalam mencegah radikalisme dan terorisme pada peserta didik di lembaga pendidikan berbasis agama Islam, sebagai berikut:(1) memberikan pemahaman kepada santri tentang nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, penyelamatan, dan cinta kasih, selain itu pula perlu ditingkatkan akan kesadaran hukum, penegakkan keadilan, toleransi terhadap perbedaan dan modernisasi dalam memandang berbagai masalah,(2) perlu dikembangkan pengajaran agama yang humanis bagi kaum non pesantren dan masyarakat luas,(3) meluruskan kurikulum yang ada di pondok pesantren tentang makna jihad dan terorisme. Kegiatan Rutin SekolahTerdapat temuan penelitian bahwa sikap Anti Radikalisme ditanamkan oleh sekolah kepada peserta didik melalui pembiasaan 4 bentuk yaitu dilakukan secara harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hikam (2016: 160) menjelaskan bahwa program deradikalisasi harus dikembangkan mencakup pendeteksian dan peringatan dini terhadap pengaruh atau ideologi yang dianggap dapat menciptakan ancaman terhadap ideologi nasional Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Hikam (2016: 162) juga menambahkan bahwa program deradikalisasi dilakukan dalam berbagai cara, seperti komunikasi intensif dan berkualitas, pencapaian prestasi di bidang akademik maupun non akademik, penguatan wawasan Kebangsaan, dan aplikasi-aplikasi kearifan lokal yang tumbuh dalam masyarakat. Bentuk-bentuk pembiasaan tersebut diuraikan sebagai berikut: a. Kegiatan HarianKegiatan harian merupakan kegiatan rutin di SMA Ma-arif NU Pandaan berkaitan dengan mencegah radikalisme yang dilakukan setiap hari. Kegiatan harian kegiatan doa bersama dilakukan serentak yang dipandu langsung oleh guru dari kantor melalui pengeras suara. Setelah berdoa bersama selesai peserta didik diwajibkan menyanyi lagu Indonesia Raya. Ketika pulang sekolah peserta didik wajib melaksanakan piket kelas. Ketiga kegiatan harian ini dimaksud untuk memupuk sikap religius,  nasionalisme, dan gotong royong. b. Kegiatan MingguanKegiatan harian merupakan kegiatan rutin di SMA Ma-arif NU Pandaan berkaitan dengan mencegah radikalisme yang dilakukan setiap seminggu sekali. Kegiatan upacara bendera dilaksanakan sebagaimana umumnya yaitu pengibaran bendera merah putih didiringi lagu Indonesia Raya setelah itu mengheningkan cipta, pembacaan UUD 1945, pembacaan Pancasila, amanat pembina upacara sampai kepada pembubaran upacara. Kegiatan ini dimaksud untuk memupuk sikap nasionalisme. c. Kegiatan BulananKegiatan harian merupakan kegiatan rutin di SMA Ma-arif NU Pandaan berkaitan dengan mencegah radikalisme yang dilakukan setiap sebulan sekali. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari bulan pada Minggu ke empat yaitu istighosah yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Kegiatan ini dimaksud tidak hanya untuk memupuk sikap religius tapi juga kebersamaan, hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2014: 185-187) yang mengatakan deradikalisasi dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan salah satunya yaitu pendekatan agama yang menekankan bahwa setiap agama mengajarkan umatnya untuk berperilaku penuh kasih dan sayang terhadap sesamanya. d. Kegiatan TahunanKegiatan harian merupakan kegiatan rutin di SMA Ma-arif NU Pandaan berkaitan dengan mencegah radikalisme yang dilakukan setiap setahun sekali. Beberapa kegiatan tersebut antara lain.1) Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan IndonesiaDalam memeriahkan HUT RI, SMA Ma’arif NU Pandaan melakukan beberapa kegiatan, antara lain:(1) Lomba gerak jalan;(2) Upacara bendera(3) Lomba antar kelas.Kegiatan ini dimaksud untuk memupuk sikap nasionalisme dan penghormatan terhadap jasa pahlawan  hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2014: 185-187) yang mengatakan deradikalisasi dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan salah satunya yaitu pendekatan sosial budaya berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal dapat menjadi pemandu perilaku dalam menentukan keberadaban, seperti kebajikan, kesantunan, kejujuran, tenggang rasa, penghormatan dan penghargaan terhadap orang lain.2) Peringatan Hari KartiniDalam memeriahkan Hari Kartini, SMA Ma’arif NU Pandaan melakukan beberapa kegiatan, antara lain:(1) Lomba Mading; dan(2) Lomba fashion.Sama seperti peringatan HUT RI, peringatan hari Kartini juga untuk memupuk sikap nasionalisme melalui pendekatan sosial budaya.3) Kegiatan OSIS berbagi Ta’jil, dan Buka Bersama Dalam memperingati bulan Ramadhan, SMA Ma’arif NU Pandaan melakukan beberapa kegiatan, antara lain:(1) Berbagi Ta’jil; dan(2) Buka Bersama.Kegaiatan ini menjadi salah satu kegiatan keagamaan dan kepedulian terhadap orang lain sehingga  memupuk sikap religius dan sosial melalui pendekatan keagamaan dan sosial budaya4) Sosialisasi Anti Radikalisme dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)MPLS merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi siswa baru dengan maksud untuk memperkenalkan siswa baru dengan lingkungan sekolah yang baru juga dengan para guru, kakak kelas dan sesama siswa baru agar terjalin keakraban dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta suasana yang harmonis dan kondusif. Berdasarkan jadwal kegiatan diatas setiap hari peserta didik tidak lepas dari pendidikan karakter, antara lain:(1) materi penguatan pendidikan karakter berisi tentang pengelolahan karakter antara lain religiositas, nasionalisme, dan gotong royong;(2) materi Anti Radikalisme berisi tentang pengertian, ciri-ciri radikalisme, bentuk-bentuk radikalisme, penyebab radikalisme;(3) pengenalan ekstrakulikuler sebagai wadah pengembangan bakat minat peserta didik;(4) kegiatan LBB yang di latih langsung oleh polsek dan koramil Pandaan.Kegiatan ini dimaksud untuk mengubah sikap, cara pandang, dan edukasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2014: 185-187) yang mengatakan deradikalisasi dapat dilakukan dengan pendekatan psikologis yang digunakan agar mampu menyentuh dan memahami bagian yang terdalam dari setiap orang maupun kelompok. Sehingga melalui pendekatan psikologis bisa memberikan pemahaman mengenai cara pandang yang dianggap keras menjadi lunak, toleran, damai, dan moderat. Kendala dalam Pelaksanaan Program Sekolah untuk Mencegah Radikalisme Di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten PasuruanKendala-kendala yang dirasakan secara umum bagi seluruh peserta didik terdapat pada program terintegrasi dalam mata pelajaran dan dalam program kegiatan rutin sekolah Terkait dengan program terintegrasi dalam mata pelajaran terdapat pada keterbatasan materi Anti Radikalisme yang dianggap belum sangat penting dan mendesak, maka hanya bisa menyelipkan dalam agenda KBM sekolah. Situasi dan kondisi juga mempengaruhi berhubungan dengan fokus belajar peserta didik, dan materi yang dianggap masih awam membuat peserta didik kesulitan dalam memahami materi. Terkait dengan kegiatan rutin sekolah pengkondisian peserta didik dalam setiap kegiatan masih susah karena jumlah peserta didik yang banyak, sasaran sosialisasi Anti Radikalisme yang hanya kepada siswa baru saja yaitu pada saat MPLS, dan waktu yang terbatas dalam pelaksanaan sosialisasi Anti Radikalisme mengakibatkan pemateri terburu-buru kurang mendetail dan suasana di dalam kelas yang kurang kondusif, beberapa ada yang berbicara sendiri dan bercanda sehingga beberapa peserta didik tidak bisa fokus.Kendala-kendala tersebut merupakan faktor internal dalam pelaksanaan pembelajaran. Sesuai pendapat Dimyati dan Mudjiono (2010: 235-254) problematika pembelajaran berasal dari dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern. Terdapat berbagi fakto

    LEMBAGA BANTUAN HUKUM (LBH) SEBAGAI PENEGAK KEADILAN HUKUM DAN KEADILAN SOSIAL DALAM PROSES PERADILAN DI INDONESIA

    No full text
    Pada artikel ilmiah ini disajikan mengenai solusi mengatasi keadilan hukum dan keadilan sosial yang dewasa ini sangat jauh dari cita-cita bangsa Indonesia didalam proses pengadilan di Indonesia. Solusi tersebut adalah dengan dibentuknya Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Lembaga ini dibentuk secara independen tanpa campur tangan pemerintah, yang berfungsi sebagai badan pengawas dalam sistem peradilan dan pendidikan serta pendampingan terhadap masyarakat guna sebagai kontrol proses pengambilan keputusan didalam proses peradilan agar sesuai dengan keadilan hukum dan keadilan sosial yang sering kali menyeleweng bahkan tidak adanya kedua keadilan tersebut. Masyarakat yang seharusnya diberlakukan secara adil dan sama dihadapan hukum didalam realitanya masyarakat diperlakukan secara semena-mena dihadapan hukum karena lemahnya pengetahuan masyarakt tentang hukum dan prosesnya. Hukum yang seharusnya melindungi seluruh rakyat termasuk rakyat kecil malah sebaliknya mereka ditindas oleh para mafia peradilan yang memperlakukan masyarakat sebagai bahan percobaan dihadapan hokum. Para mafia hukum menggunakan kekuasaan serta harta mereka demi kelancaran tujuan mereka. Banyak sekali kasus-kasus tentang ketidakadilan hukum didalam proses pengadilan yang membuat kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan menurunnya wibawa hukum dimata masyarakat. Masalah ini yang akan membuat semakin terpuruknya bangsa Indonesia, karena hukum positif yang berlaku tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya sesuai dengan cita-cita bangsa yang terkandung dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan tidak sesuai dengan pasal 1 ayat 3 UUD NRI 1945 tentang kedaulatan hukum.

    Penerapan Model Pembelajaran Self Control Learning Sebagai Pembentukan Perilaku Peserta Didik di SMA

    No full text
    Dalam artikel kali ini akan disajikan informasi mengenai Model Pembelajaran Self Control Sebagai Pembentukan Perilaku Peserta Didik di SMA, dari berbagai banyak permasalahan yang timbul adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengandalikan diri pada lingkungannya, lingkungan memiliki peran besar terhadap perkembangan pola perilaku pada remaja. Perkembangan dari Self Control sendiri akan berkembang dengan sejalan dengan bertambahnya umur dari seseorang. Anak bertumbuh lebih dewasa maka diharapkan juga mempunyai self control lebih baik pula, dilihat dari berbagai banyaknya masalah remaja lebih cenderung tidak mampu melakukan pengendalian diri atau Self Control dan akan berdampak pada hal negative contohnya saja seks bebas, pornografi, penyalahgunaan obat, mencuri. Maka dari itu pentingnya penerapan Model Rumpun Pembalajaran Self Control Learning pada peserta didik di SMA, agar peserta didik bisa mengendalikan dirinya lebih kearah positif dari proses belajar mengendalikan diri, disis lain guru sebagai fasilator dalam penerapan model pembelajaran self control learning mengingat remaja adalah generasi muda yang diharapkan Negara Indonesia menjadi lebih baik, maka perlu juga penerapan model pembelajaran self learning dan pendidikan karakter agar peserta didik dapat diharapkan mengimplementasikan nilai-nilai yang positif kedepannya sebagai penerus bangsa

    Nilai-Nilai Pancasila Yang Terkandung Dalam Upacara Tradisional Labuhan Pantai Ngliyep Di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang

    No full text
    NILAI-NILAI PANCASILA YANG TERKANDUNG DALAM UPACARA TRADISIONAL LABUHAN PANTAI NGLIYEP DI DESA KEDUNGSALAM KECAMATAN DONOMULYO KABUPATEN MALANGYulia Sukma Dewi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu SosialUniversitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5Email: [email protected] artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai sejarah upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep, prosesi upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep yang meliputi rangkaian kegiatan sebelum pelaksanaan upacara tradisional labuhan Pantai Ngliyep dan pelaksanaan upacara tradisional labuhan Pantai Ngliyep, serta nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep meliputi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, nilai Persatuan Indonesia, nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Kata Kunci: Nilai, Pancasila, Upacara Tradisional Labuhan.Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kemajemukan suku dan budaya, pulau di Indonesia terbentang luas dari Sabang hingga Merauke memperlihatkan betapa beragamnya suku, budaya, kepercayaan, agama dan bahasa daerahnya. Setiap keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda pada aspek sosial maupun budayanya. Kebudayaan dan masyarakat memiliki keterkaitan yang sangat erat, kebudayaan dijadikan sebagai hal yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia yaitu sebagai pemersatu dan sebagai jati diri sehingga masyarakat tersebut tidak dapat meninggalkan budaya yang sudah dimilikinya sejak jaman dahulu. Hanafie, Rita (2016:37-38) menjelaskan bahwa “kebudayaan adalah sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia sehingga dalam kehidupan sehari-sehari kebudayaan itu bersifat abstrak”. Menurut Edward B. Tylor sebagaimana dikutip oleh (Hanafie, Rita. 2016: 34) “kebudayaan adalah kompleks yang mengatur pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain-lain kemampuan serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa kebudayaan erat kaitannya dengan Pancasila. Pancasila dijadikan sebagai pandangan hidup bagi bangsa dalam segala seluk-beluk aspek kehidupan, masyarakatnya sangatlah berpegang teguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pancasila merupakan cerminan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, setiap kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia selalu berlandaskan pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memiliki banyak makna yang berarti bagi kebudayaan Indonesia salah satunya yaitu mengatur dan mewadahi kebudayaan di Indonesia.Salah satu warisan dari kebudayaan yang ada dalam masyarakat adalah tradisi. Tradisi biasa dipahami sebagai hal-hal yang dilakukan secara turun-temurun oleh suatu kelompok masyarakat sebagai pengetahuan, doktrin, dan kebiasaan yang didalamnya mengandung pesan-pesan simbolik. Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur terdapat tradisi yang hingga saat ini masih dilaksanakan dan dipertahankan serta dilestarikan yaitu upacara tradisional labuhan yang biasanya disebut sebagai (Larung Sesaji) yang dilaksanakan setiap bulan Maulud. Menurut Sumarsih (1989:1) mengatakan bahwa “Upacara tradisional secara umum dapat diartikan sebagai tingkah laku resmi yang dilakukan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan kepada kegiatan teknis sehari-hari, akan tetapi mempunyai kaitan di luar kemampuan manusia”. Definisi tentang labuhan juga diutarakan oleh Sumarsih (1989:35) bahwa “Labuhan berasal dari kata labuh yang artinya sama dengan larung yaitu membuang sesuatu ke dalam air (sungai atau laut)”. Upacara tradisional labuhan tersebut menjadi keunggulan dan keunikan bagi kelompok masyarakat di Desa Kedungsalam. Keunikan yang ada pada upacara tradisional labuhan tersebut terletak pada ritual memasak, dimana juru masaknya adalah seorang laki-laki. Mengingat kegiatan upacara tradisional labuhan bersifat sakral dan sudah lama dikenal serta dilaksanakan oleh sebagian masyarakat yang tinggal di daerah pantai Ngliyep maupun masyarakat daerah lain. Pada saat upacara tradisional labuhan dilaksanakan maka banyak pendatang dari daerah lain yang hadir untuk menyaksikan dari kalangan tua maupun muda. Mirisnya, para pendatang tersebut hanya hadir untuk sekedar melihat upacara tradisional labuhan tersebut sebagai hiburan belaka tanpa memandang adanya sisi kesakralan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Banyak dari pendatang tersebut tidak menyadari bahwa dalam upacara yang mereka nilai sebagai hiburan terdapat nilai-nilai Pancasila yang senantiasa selalu dilakukan diantaranya terdapat Nilai Ketuhanan, Nilai Kemanusiaan, Nilai Persatuan, Nilai Kerakyatan dan Nilai Keadilan. Tradisi tersebut dipertahankan secara turun-temurun dari setiap generasi ke generasi, namun dalam penerapannya belumlah tentu generasi yang ada  mengetahui nilai-nilai apa yang terkandung dalam tradisi tersebut. Berdasarkan pemikiran tersebut maka dari itu, penelitian dirasa perlu karena dapat memberikan informasi serta pengetahuan kepada generasi penerus bangsa bahwasannya nilai-nilai Pancasila juga terdapat dalam tradisi-tradisi yang ada di Indonesia misalnya pada Upacara Tradisional Labuhan Pantai Ngliyep. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Nilai-Nilai Pancasila yang Terkandung Dalam Upacara Tradisional Labuhan Pantai Ngliyep di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang”. Berdasarkan judul tersebut  peneliti akan mengungkap beberapa nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep. METODE PENELITIANMetode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai sejarah upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep, prosesi upacara tradsional labuhan di Pantai Ngliyep, dan apa saja nilai-nilai pancasila yang terkandung dalam prosesi upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep. Subjek penelitian ini adalah Kepala Desa Kedungsalam yaitu Bapak Misdi, panitia pelaksana upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep yaitu Bapak Iwan Yuyanto, dan pelaku sejarah ( keturunan Eyang Atun) yaitu Bapak Kaseno. Lokasi penelitiannya berada di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunkan adalah teknik analisis data Miles dan Huberman, yaitu pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASANPada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) sejarah upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep, (2) prosesi upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep, (3) nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam prosesi upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep.Sejarah Upacara Tradisional Labuhan di Pantai Ngliyep1.Periodesasi 1900-1913Pada sekitar tahun 1900-an, di daerah hutan belantara kedatangan seorang linuwih bernama Eyang Kyai Thalib yang bersal dari Mataram, Jawa Tengah. Beliau beserta dengan pandereknya membabat hutan Gung Liwang Liwung dijadikan sebagai tempat pemukiman, semakin hari para pendatang dari Mataram semakin banyak sehingga pemukiman warga kemudian dijadikan sebagai Desa yang diberi nama Desa Kedungsalam.Pada awal tahun 1913, Eyang Kyai Thalib yang menjadi Kepala Desa pertama pada saat itu kebingunagan dengan datangnya wabah, yakni wabah kelaparan, paceklik dan wabah pagebluk. Pagebluk merupakan penyakit aneh yang memiliki ciri-ciri apabila seorang yang sakit pada pagi hari maka sore harinya bisa meninggal, apabila sore hari sakit maka pagi harinya bisa meninggal. Wabah pagebluk tersebut dinamakan pagebluk Saparan karena terjadi pada bulan Sapar (bulan jawa). Dalam kebingungannya Eyang Kyai Thalib teringat kepada keponakan perempuannya bernama Eyang Atun yang tinggal di Dukuh Wotgalih, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Kemudian diajaklah Eyang Atun untuk melakukan semedi di Gunung Kombang yang terletak di Pantai Ngliyep. Akhirnya, Eyang Kyai Thalib dan Eyang Atun mendapatkan wangsit atau petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa beliau beserta dengan masyarakat Desa Kedungsalam harus melaksanakan labuhan atau larungan sesaji di Gunung Kombang. Pada tanggal 13 Maulud/ Mulud 1331 H, Eyang Kyai Thalib beserta dengan masyarakat Desa Kedungsalam melakukan labuhan sesaji untuk yang pertama kalinya. Setelah dilakukan labuhan berangsur-angsur wabah tersebut sirna. 2.Periodesasi 1913-1979 Pada tahun 1913 setelah Eyang Atun meninggal dunia , ketua Adat dari upacara tradisional labuhan Pantai Ngliyep diteruskan kepada cucu Eyang Atun yaitu Eyang Supiyadi.3.Periodesasi 1979-2010Setelah Eyang Supiyadi meninggal dunia, upacara tradisional labuhan sesaji dilanjutkan oleh adik dari Eyang Supiyadi yaitu Mbah Supangat. Mbah Supangat meninggal dunia pada tahun 2010.4.Periodesasi 2010-sekarangSetelah Mbah Supangat meninggal dunia, upacara tradisional labuhan Pantai Ngliyep diwariskan kepada Bapak Gatot hingga saat ini. Bapak Gatot merupakan anak laki-laki dari Mbah Supangat. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Munir (2016:8) mengatakan bahwa, “...kebudayaan merupakan pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai, dan simbol-simbol-yang mereka terima tanpa sadar/tanpa dipikirkan-, yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dan peniruan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.Prosesi Upacara Tradisional Labuhan di Pantai NgliyepProsesi upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep sebagai berikut:1.Pembukaan acara diadakan pukul 14.00 di Pantai Ngliyep oleh dua orang laki-laki sebagai pembawa acara.2.Berdo’a bersama, pembacaan doa dibacakan oleh Bapak Hendri Catur Manunggal, 3.Kotekan lesung yang dilakukan oleh ibu-ibu posyandu lansia Desa Kedungsalam sebagai penyambutan dari Bapak Wakil Bupati Malang yaitu Bapak Drs. H. Moh. Sanusi, M.M. lagu yang dimainkan berjudul lesung jumengglung, 4.Pembacaan sejarah labuhan Gunung Kombang oleh Bapak Iwan Yuyanto. 5.Sambutan oleh Bapak Drs. H. Moh. Sanusi., M.M selaku Wakil Bupati Malang 6.Sambutan oleh Ketua Umum Raden Mas Rosid 7.Pemberangkatan jodang atau sesaji yang akan dilarungkan dengan iring-iringan barisan. 8.Pelarungan dilakukan di Gunung Kombang, yang pertama dilarungkan adalah tenggok berisi sesajian kurang lebih berisi nasi ketan putih, badek (air tape). Tenggok tersebut dilarungkan oleh Bapak Gatot, kemudian pelarungan kepala kambing oleh Bapak Wakil Bupati Malang dan seterusnya.9.Acara upacara tradisional labuhan di tutup dengan selamatan di rumah lumbung pada pukul 17.00, acara selamatan atau gendurenan tersebut dihadari oleh banyak kalangan masyarakat dari yang tua hingga yang muda, dari kalangan kerabat labuh maupun dari masyarakat sekitar. Selamatan menggunakan bacaan-bacaan secara islami kemudian dilanjutkan dengan pembagian berkat yang berisi nasi dan potongan daging ayam atau daging kambing serta sate. Pembagian berkat tersebut dibagikan secara adil oleh para panitia labuhan, acara gendurenan atau selamatan ini merupakan kegiatan terakhir yang wajib dilakukan oleh masyarakat setelah kurang lebih 10 jam rumah lumbung pantang di datangi oleh perempuan, laki-laki yang berada dirumah lumbung selama preosesi memasak harus berpuasa dan tidak boleh mengenakan baju berwarna hijau gadung. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Hambali Hasan (1985:1) “Upacara tradisional merupakan suatu kegiatan sosial yang melibatkan warga masyarakat pendukungnya dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan keselamatan, yang mengandung aturan-aturan yang wajib dipenuhi dan dilaksanakan oleh masyarkat”.Nilai-Nilai Pancasila Yang Terkandung Dalam Prosesi Upacara Tradisional Labuhan di Pantai Ngliyep1.Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin ketika proses penyembelihan hewan yang akan di korbankan untuk labuhan diawali dengan bacaan bassmallah, nilai Ketuhanan juga tercermin ketika seluruh masyarakat Desa Kedungsalam dan sekitarnya serta masyarakat pendatang ( kerabat labuh) yang berbeda agama serta kepercayaan bekerjasama mempersiapkan upacara labuhan mereka saling hormat menghormati sehingga menciptakan suasana kerukunan hidup antar umat beragama, serta dengan tetap lestarinya upacara tradisional labuhan tersebut merupakan wujud percaya dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta pada saat prosesi do’a bersama di Pantai Ngliyep juga dengan doa’doa islami. Pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan Munir (2016: 147) ... beberapa butir nilai yang terkandung dalam sila pertama Pancasila, yakni: a) Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, b) hormat dan menghormati serta bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup, c) saling hormat menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing, d) tidak memaksakan kehendak suatu agama kepercayaan kepada orang lain.2.Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan BeradabNilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab tercermin ketika masyarakat Desa Kedungsalam sebelum pelaksanaan upacara tradisional labuhan mengadakan kegiatan kemanusiaan yakni shodaqohan anak yatim, serta sikap saling menghormati dan menghargai antara masyarakat sekitar rumah lumbung dan kerabat labuh juga terlihatkan ketika masyarakat sekitar rumah lumbung mempersilahkan kerabat labuh perempuan untuk tinggal dirumahnya karena rumah lumbung pantang didatangi perempuan pada saat pukul 03.00-12.00 siang. peneliti juga menemukan bahwasannya ketika masyarakat saling tolong-menolong dalam mempersiapkan acara upacara labuhan tersebut karena pada dasarnya manusia hidup tidak bisa tanpa bantuan dari orang lain. Pernyataan tersebut sesuai dengan beberapa pendapat Munir (2016:148) mengenai butir Pancasila sila kedua, yakni: a) mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban sesama manusia, b) saling mencintai sesama manusia, c) mengembangkan sikap tenggang rasa, d) tidak semena-mena terhadap orang lain, e) menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, f) gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, g) berani membela kebenaran dan keadilan, h) bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari masyarakat dunia internasional dan dengan itu harus mengembangkan sikap saling hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain. Selain itu Munir (2016:143) mengatakan, “setiap manusia dituntut untuk adil dengan sesama. Manusia di dunia ini tidak hidup sendirian, pasti membutuhkan bantuan orang lain”.3.Nilai Persatuan IndonesiaNilai Persatuan Indonesia tercermin ketika masyarakat sekitar dan masyarakat pendatang (kerabat labuh) yang berbeda agama dan kepercayaan datang ke Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam berkumpul untuk mempersiapkan upacara tradisional labuhan karena adanya rasa persatuan. Peneliti juga menemukan bahwa nila Persatuan Indonesia yang jarang sekali masyarakat sadari tercermin ketika masyarakat Desa Kedungsalam dan sekitarnya tetap ingin menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi upacara tradisional labuhan Pantai Ngliyep sebagai wujud cinta tanah air, dengan lestarinya upacara tradisional labuhan tersebut berarti masyarakat Desa Kedungsalam dan sekitar sudah menyatakan kecintaannya terhadap tanah air Indonesia. Pernyataan tersebut sesuai dengan beberapa butir nilai Pancasila sila ketiga pendapat Munir (2016:148) yakni: a) menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, b) rela berkorban demi bangsa dan negara, c) cinta tanah air, d) berbangga sebagai bagian dari Indonesia, e) mmemajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang berBhineka Tunggal Ika.4.Nilai Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan PerwakilanBerdasarkan temuan penelitian nilai Pancasila sila keempat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan tercermin ketika sebelum pelaksanaan labuhan, panitia terlebih dahulu melakukan musyawarah dengan Bapak Gatot selaku Ketua Adat untuk menemukan suatu mufakat atau keputusan bersama, pada saat musyawarah tersebut pemimpin dijadikan sebagai pedoman namun pemimpin juga tidak boleh seenaknya sendiri artinya pemimpin haruslah mendengarkan dan menerima saran dan pendapat dari anggota yang lain, selain itu dalam pelaksanaan upacara labuhan masyarakat setempat beserta dengan kerabat labuh saling bergotong royong mempersiapkan upacara labuhan. Setelah upacara tradisional labuhan Pantai Ngliyep selesai masyarakatpun masih bergotong-royong untuk membersihkan rumah lumbung agar bersih dan rapi seperti semula. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Munir (2016:149) beberapa butir nilai yang terkandung dalam sila keempat Pancasila, yakni: a) mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat diatas kepentingan pribadi dan golongan, b) tidak memaksakan kehendak pada orang lain, c) mengutamakan budaya rembug musyawarah dalam mengambil keputusan bersama, d) berembug atau musyawarah sampai mencapai konsensus atau kata mufakat yang diliputi dengan semangat kekeluargaan.5.Nilai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat IndonesiaNilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tercermin pada saat prosesi yang terakhir yakni pada saat selamatan atau gendurenan yang bertempat di rumah lumbung Desa Kedungsalam, pada saat pembagian berkat berupa nasi putih, sate kambing jumbo, dan daging ayam pembagian berkat tersebut dibagikan secara adil oleh panitia, untuk masyarakat yang beberapa hari sebelumnya sudah membantu tapi pada saat selamatan di rumah lumbung  berhalangan hadir maka panitia juga menyisihkan sebagian sate kambing dan daging ayam untuk bapak ibu yang berghalangan hadir tersebut sebagai wujud menghormati dan menghargai atas bantuan yang telah disalurkan beberapa hari sebelum pelaksanaan upacara labuhan. Peneliti juga menemukan bahwa pada saat pembagian sate daging kambing dan daging ayam tersebut dilakukan secara adil oleh panitia, apabila satu orang mendapatkan satu tusuk sate saja maka yang lain juga harus mendapatkan satu tusuk. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Munir (2016:149) secara singkat, ada beberapa butir nilai yang terkandung dalam sila ke-5 Pancasila, yakni: a) bersikap adil terhadap sesama, b) menghormati hak-hak orang lain, c) menolong sesama, d) menghargai orang lain, e) melakukan pekerjaan yang berguna bagi kepentingan umum dan bersama. SIMPULAN DAN SARANSimpulan1.Sejarah upacara tradisional labuhan berawal tahun 1900-an, di hutan belantara kedatangan linuwih bernama Eyang Kyai Thalib, beliau beserta dengan pandereknya membabat hutan Gung Liwang Liwung dijadikan pemukiman. Awal tahun 1913 terjadi wabah kelaparan, paceklik, dan pagebluk. Wabah pagebluk memiliki ciri-ciri apabila orang yang sakit pada pagi hari sore harinya bisa meninggal, apabila sore hari sakit pagi harinya bisa meninggal. Eyang Kyai Thalib teringat kepada keponakan perempuannya bernama Eyang Atun, kemudian diajaklah Eyang Atun untuk bersemedi di Gunung Kombang. Beliau mendapatkan petujuntuk bahwasannya harus melaksanakan labuhan sesaji. Pada tanggal 20 Februari 1913 dilakukan labuhan sesaji yang pertama, setelah dilakukan labuhan sesaji wabah pun berangsur-angsur sirna.2.Prosesi upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep sebagai berikut: (a) Pembukaan acara tepat pukul 14.00 di Pantai Ngliyep oleh pembawa acara, (b) Berdoa bersama, pembacaan doa oleh Bapak Hendri Catur Manunggal, (c) Kotekan lesung yang dilakukan oleh ibu-ibu posyandu lansia Desa Kedungsalam sebagai penyambutan dari Bapak Wakil Bupati Malang, (d) Pembacaan sejarah labuhan Gunung Kombang oleh Bapak Iwan Yuyanto, (e) Sambutan oleh Bapak Drs. H. Moh. Sanusi., M.M selaku Wakil Bupati Malang, (f) Sambutan oleh Ketua Umum Yayasan Pelestari Budaya, (g) Pemberangkatan jodang atau sesaji yang akan dilarungkan, (h) Pelarungan dilakukan di Gunung Kombang, (i) Yang terakhir, selamatan atau gendurenan di rumah lumbung.3.Nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam prosesi upacara tradisional labuhan di Pantai Ngliyep meliputi: (a) Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, (b) Nilai Kemanusiaan yang adil dan beradab, (c) Nilai Persatuan Indonesia, (d) Nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan, (e) Nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Saran1.Kepada Panitia Upacara Tradisional Labuhan: Agar Upacara tradisional dapat berjalan dengan baik dan khidmat, sebaiknya panitia Upacara Tradisional Labuhan saling berkoordinasi antara satu dengan yang lain mengenai rundown, penyebaran informasi Upacara Tradisional, serta lebih menertibkan pengunjung yang datang ke Pantai Ngliyep2.Kepada Masyarakat Desa Kedungsalam dan sekitarnya: Agar Upacara Tradisional Labuhan tetap lestari, sebaiknya masyarakat tetap turut berpartisipasi dalam acara Upacara Tradisional Labuhan. DAFTAR PUSTAKAAbdulsyani. 2007. Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: PT Bumi Aksara.Al Hakim, dkk. Suparlan.2014. Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Konteks Indonesia. Malang: Madani (kelompok Intrans Publising) Wisma Kalimetro.C.S.T Kansil dan Christine S.T Kansil. 2011. Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara. Jakarta: PT. Rineka Cipta.Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.Fauzi, Achmad. 2005. Pancasila &l

    Kenakalan Remaja Dampak dari Perkembangan Iptek

    No full text
    Kenakalan Remaja Dampak dari Perkembangan Iptek A. Permasalahan IPTEK adalah singkatan dari ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu suatu sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan ataupun wawasan seseorang dibidang teknologi. Dapat juga dikatakan, definisi IPTEK ialah merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi, baik itu penemuan yang terbaru yang bersangkutan dengan teknologi ataupun perkembangan dibidang teknologi itu sendiri. IPTEK memiliki dampak positif dan dampak negatif. Saat ini IPTEK telah berkembangang sangat pesat/cepat. Dapat dilihat dari semakin banyaknya bermunculan berbagai macam teknologi canggih yang dapat membantu aktifitas dalam kehidupan manusia. Bengan semakin berkembangannya IPTEK itu sendiri, sehingga menimbulkan efek positif dan negatif, seperti misalnya: Dan sisi positifnya seperti: Dapat meringankan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia. Dapat membuat segala sesuatunya menjadi lebih cepat dan mudah. Dapat mengurangi pemakaian bahan-bahan alami yang semakin kesini semakin langka. IPTEK juga membawa manusia kearah lebih maju dan modern Memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan dengan mudah Sisi negatif seperti: Dapat menimbulkan polusi. Perkembangan IPTEK yang semakin pesat dan banyak dimanfaatkan. Akan tetapi disamping itu banyak sekali polusi pencemaran yang dihasilkan dari perkembangan IPTEK itu sendiri. Dapat membuat orang semakin malas, karena IPTEK memiliki tujuan untuk mempermudah & memanjakan manusia. Jadi manusia akan semakin malas sebab sudah ada teknologi yang dapat menggantikan dirinya bekerja. Dapat merusak moral, dimana Internet menjadi media IPTEK yang dapat mempengaruhi moral dari seseorang. Seperti misalnya konten yang berbau negatif dan yang lainnya. Pengguna IPTEK terbanyak adalah pada usia remaja karena kemajuan ilmu pegetahuan dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari lembaga pendidikan dimana pada abad ke 20 mampu mendorong lebih cepat dalam industri informasi ,komnukasi dan transportasi.Namun banyak juga remaja yang menyalahgunakan IPTEK melalui internet. Karena kemudahan mereka untuk mengakses situs-situs negatif yang tidak seharusnya dilihat .Maka itu akan berdampak pada kenakalan remaja. Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan, atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak ke dewasa. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.   PENYEBAB KENAKALAN REMAJA Kenakalan remaja itu terjadi karena beberapa faktor, bisa disebabkan dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).[3]   Faktor Internal Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.   Faktor Eksternal Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. Teman sebaya yang kurang baik Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Dampak dari penggunaan IPTEK media internet pada remaja adalah mengunjunggi situs-situs yang tidak layak untuk dilihat diusia mereka . Karena kontrol diri remaja yang masih lemah, lingkungan yang mendukung hal-hal tersebut, dan kurangnya peran orang tua maka remaja perlahan akan terjerumus ke kenakalan remaja .Ketika melihat situs yang tidak layak dilihat, mereka akan penasaran dan ingin mencoba melakukan hal-hal yang belum ia ketahui dampak kedepannya .Mereka akan melampiaskan keingintauan mereka pada teman-teman disekitarnya yang mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginakan dan sangat merugikan semua pihak.   A. Data Kenakalan Remaja Akibat Perkembangan IPTEK 1. ANGKA KENAKALAN REMAJA MENINGKAT 20 % LEBIH WONOSOBOZONE Dibanding tahun sebelumnya, angka kenakalan remaja di tahun 2016 meningkat cukup pesat, yakni lebih dari 20%. Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBPPPA), Nurul Hidayati, mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, diantaranya pengaruh lingkungan dan Gadget. Akibat dari kenakalan tersebut, menurut Nurul seperti tingginya angka hamil diluar nikah, pernikahan dini, perceraian, bahkan sampai aborsi. “Sepengetahuan saya, bukannya menurun, tapi meningkat, sekitar 20 an persen, kenakalan meningkat, pernikahan dini juga meningkat, tingkat perceraian juga meningkat, dan itu ditandai dengan banyaknya remaja dibawah usia karna hamil duluan,” urai Nurul. Hal itu menjadikan pihak terkait melakukan terobosan sebagai tindakan pencegahan. Upaya tersebut terlihat ketika Dinas PPKBPPPA menggelar sosialisasi dan orientasi pengurus Pusat Informasi Konseling Remaja dan Mahasiswa atau PIK RM, pada Rabu, 22 Februari 2017. Dengan adanya sosialisasi tersebut, Nurul berharap angka kenakalan remaja dapat berkurang serta mampu memotivasi remaja untuk melakukan tindakan yang positif. (Ard)   2. KOMNAS PA SEBUT 97% REMAJA INDONESIA PERNAH AKSES PORNOGRAFI JAKARTA - Kemutakhiran teknologi, khususnya internet, terkadang disalahgunakan dalam pemakaiannya. Survei membuktikan, sebanyak 97 persen pelajar SMP dan SMU di Indonesia mengakses dan menonton video di situs porno. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 4.500 pelajar SMP dan SMA di 12 kota besar Indonesia menunjukkan hasil yang cukup mencengangkan. Sebanyak 97 persen responden mengaku telah mengakses situs berkonten pornografi dan juga menonton video porno melalui internet.   B. Program dalam Mengatasi Masalah Kenakalan Remaja, khususnya Jejaring Internet yang Merugikan Membuat sebuah program penyuluhan yang ditujukan kepada remaja lewat peran orangtua . Peran orangtua sangat mendukung keberhasilan program ini karena perkembangan anak yang pertama dipengaruhi lingkungan keluarga . Program penyuluhan ini diadakan mulai dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas karena pada masa-masa ini banyak sekali permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak hingga remaja setara dengan tingkat pendidikan . Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin banyak permasalahan yang dihadapi. Dengan program ini bertujuan supaya anak dapat terbuka diri kepada orangtua dan menjelaskan semua masalah yang dihadapi dan mencari jalan keluar terbaik dengan orangtua. Melakukan pengamatan pada alat komunikasi anak dengan melihat dan mengamati apa saja yang dilakukan anak di dunia maya. Mengusahakan supaya alat komunikasi anak tidak terkunci dengan pasword, apabila dikunci maka cari tahu passwordnya dengan bantuan teman terdekatnya. Lihat history  riwayat penggunaan internet baik melalui aplikasi komunikasi maupun situs-situs yang telah dikunjungi ketika si anak tertidur. Jika anak melakukan kesalahan, nasehati dengan baik.Jangan memarahi dengan kekerasan karena dalam psikologi anak yang pernah mengalami kekerasan akan mudah membangkang dan pemarah.   Program Pendidikan Kewarganegaraan Melakukan penyuluhan kepada orangtua setiap awal semester untuk mengawasi perilaku anaknya dan berusaha supaya anak bersikap terbuka Memberi penyuluhan bahwa peran orangtua sangat penting untuk mencegah kenakalan remaja Beri tahu orangtua cara untuk melihat history riwayat yang sudah dilakukan anak baik melalui aplikasi komunikasi seperti whatsapp,instagram,facebook,line,dan lain-lain maupun situs-situs yang pernah dikunjungi seperti google,chrome dan lain-lain. Beri tahu waktu yang tepat untuk mengamati apa saja yang sudah dilakukan anak didunia maya,yaitu di malam hari ketika anak tertidur. Beri nasehat apabila mengetahui kesalahan anak , jangan pernah memarahi anak dengan kekerasan karena anak akan membangkang. Pemahaman Nilai-Nilai yang terkandung dalam Pancasila Penerapan Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila perlu ditegakkan ,khususnya sila ke 1 ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ untuk menghindarkan anak dari perbuatan tercela .   C. Daftar Pustaka https://id.wikipedia.org/wiki/Kenakalan_remaja Wonosobo Zone,2017, ANGKA KENAKALAN REMAJA MENINGKAT 20 % LEBIH,https://www.wonosobozone.com/angka-kenakalan-remaja-meningkat-20/. Diakses 14 Maret 2019 Sora N,2015,Pengertian IPTEK Atau Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lengkap, http://www.pengertianku.net/2015/01/pengertian-iptek-atau-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-lengkap.html. Diakses 14 Maret 2019 Ramadhan Aditya,2013,Survei: 97% Remaja Indonesia Mengakses Situs Porno,http://mediaindonesia.com/read/detail/71598-komnas-pa-sebut-97-remaja-indonesia-pernah-akses-pornografi. Diakses 15 Maret 201

    PERAN PEMERINTAH DESA DALAM MELESTARIKAN NILAI KEARIFAN LOKAL PENTAS SENI PADA SITUS PETILASAN TRIBUANA TUNGGADEWI DI DESA KLINTEREJO KECAMATAN SOOKO KABUPATEN MOJOKERTO

    No full text
    ABSTRAKRizka, Istichomah. 2019. Peran Pemerintah Desa dalam melestarikan nilai kearifan lokal pentas seni pada Situs Petilasan Tribuana Tunggadewi Di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. Skripsi, Jurusan Hukun dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si (II) Rani Prita Prabawangi, S.Hub Int, M.SiKata kunci: melestarikan, nilai kearifan lokal, situs petilasan.Suatu bangsa pasti memiliki peninggalan-peninggalan kerajaan di setiap daerahnya masing-masing. Termasuk Kabupaten Mojokerto terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Majapahit. Adapun beberapa peninggalan yang dimaksut misalnya situs, candi, arca, dan benda-benda peninggalan lain. Situs merupakan tempat yang diduga sebagai benda cagar budaya. Begitu pula situs peninggalan kerajaan majapahit yakni situs tribuana tunggadewi, yang diduga tempat dikuburnya ratu majapahit. Akan tetapi perkembangan zaman modern membuat masyarakat kurang mengetahui keberadaan situs petilasan tribuana tunggadewi tersebut. Selain itu masyarakat juga dangkal dalam pengetahuan terkait nilai keraifan lokal pentas seni yang ada pada situs petilasan tribuana tunggadewi.Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui (1) sejarah Situs Petilasan Tribuana Tunggadewi Di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. (2) nilai kearifan lokal pentas seni pada Situs Petilasan Tribuana Tunggadewi Di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. (3) Peran Pemerintah Desa dalam melestarikan nilai kearifan lokal pentas seni pada Situs Petilasan Tribuana Tunggadewi Di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. (4) Mengetahui hambatan dalam pelestarian nilai kearifan lokal pada Situs Petilasan Tribuana Tunggadewi Di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. (5) upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam melestarikan nilai kearifan lokal pada Situs Petilasan Tribuana Tunggadewi Di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pada penelitian deskriptif ini, peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana peran pemerintah desa dalam melestarikan nilai kearifan lokal pentas seni pada situs petilasan tribuana tunggadewi Di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. Melalui jenis penelitian deskriptif dengan data yang sudah terkumpul mulai dari kata-kata, wawancara, atau dokumentasi akan disusun secara terstruktur dan obyektif. Hal ini bertujuan agar penelitian ini terlihat kebenarannya berdasarkan fakta di lapangan.Hasil dari penelitian ini adalah Situs Petilasan Tribuana Tunggadewi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, sekitar tahun 1980 an. Terdapat nilai-nilai keraifan lokal dalam pentas seni yakni nilai gotong royong, nilai keindahan, nilai tanggung jawab, nilai sosial, dan nilai budaya. Adapun peran dari pemerintah desa yakni peran pemerintah desa dalam memberikan sosialisasi kegiatan Majapahit Festival Culture, peran pemerintah desa yang berupaya untuk membina masyarakat desa, dan peran pemerintah desa dalam menjalin keamanan dan ketertiban acara Majapahit Festival Culture. Kendala dalam melestarikan nilai kearifan lokal adalah faktor masyarakat yang mayoritas beragama Islam di Desa Klinterejo, beranggapan bahwa kepercayaan terhadap situs petilasan tribuana tunggadewi bertentangan dengan kepercayaan mereka terhadap agama Islam. Dalam agama islam tidak diperbolehkan mempercayai segala sesuatu yang bertentangan dengan alquran dan hadis. Sehingga masyarakat tidak terlalu mempercayai religius yang ada pada situs petilasan tribuana tunggadewi. Ada sebagaian yang mempercayai situs petilasan tribuana tunggadewi sebagai tempat pemujaan untuk mendapatkan sesuatu yang diimpikan dan digunakan untuk semedi yang dihadapi cuaca dan lampu penerang. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi memanggil pawang hujan dan memberikan akses lampu yang terang.Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan ada peran dari pemerintah desa klinterejo untuk memfasilitasi terkait tempat, peralatan ataupun jasa agar kegiatan pentas seni yang ada di desa klinterejo tetap berkembang dengan semestinya sekaligus dapat membuat situs petilasan tribuana tunggadewi dikenal oleh masyarakat luas

    PENGARUH GAME ONLINE UNTUK MANAJEMEN WAKTU SISWA

    No full text
    Pengaruh Game Online untuk Manajemen Waktu Mahasiswa Penulis : Puput Indriasari (150711607785) Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang   PENDAHULUAN Mayoritas orang sering mengabaikan waktu. Padahal waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jika seseorang mampu mengelola waktu dengan baik maka akan berdampak baik pula untuk hidupnya. Sebaliknya, jika seseorang tidak mampu mengelola waktu dengan benar akan memberikan dampak yang buruk pula utuk kehidupannya. Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas. Saat menjadi mahasiswa tentu berbeda dibandingkan saat menjadi seorang siswa. Tanggung jawab yang dimiliki dan kesibukkan yang dirasakan tentulah jauh berbeda. Walaupun jadwal kuliah tidak sepadat jadwal sekolah, namun terdapat kegiatan-kegiatan yang diikuti yang dapat menyita waktu. Belum lagi tugas-tugas mata kuliah yang biasanya menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa karena dalam pengerjaannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Banyak mahasiswa, merasa bahwa kebiasaan belajar yang dilakukannya sudah memadai. Dewasa ini game online sedang marak di masyarakat, peminatnya tidak pandang bulu mulai dari anak-anak sampai orang dewasa termasuk mahasiswa. Dalam memainkannya terkadang mahasiswa tidak mengenal waktu sehingga seringkali mahasiswa lupa akan waktu. Game online sudah menjamur dari waktu yang cukup lama diIndonesia. Penyebarannya pun sangat cepat sekali terutama dalam beberapatahun terakhir. Terlebih lagi untuk game online bernama “Mobile Legend”. Permasalahan selalu timbul ketika sesuatu itu dilakukan berlebihan. Dalam hal ini, berlebihan bisa diasumsikan sebagai pengaturan waktu yang kurang baik dari mahasiswa. Banyak mahasiswa yang ketagihan dengan hal ini dan menjadi melupakan tugas-tugas dan kewajibannya sebagai mahasiswa. Seharusnya hal ini lebih diperhatikan lagi karena jika tidak disesuaikan akan mengganggu mahasiswa dalam memanajemen waktu.   PENGARUH GAME MOBILE LEGENDS UNTUK MANAJEMEN WAKTU 1. Pengertian Mobie Legend Mobile Legends: Bang Bang adalah sebuah permainan MOBA yang dirancang untuk ponsel. Kedua tim lawan berjuang untuk mencapai dan menghancurkan base musuh sambil mempertahankan basis mereka sendiri untuk mengendalikan jalan setapak, tiga "jalur" yang dikenal sebagai "top", "middle" dan "bottom", yang menghubungkan basis-basis. Di masing-masing tim, ada lima pemain yang masing-masing mengendalikan avatar, yang dikenal sebagai "hero", dari perangkat mereka sendiri. Karakter terkontrol komputer yang lebih lemah, yang disebut "minions", bertelur di basis tim dan mengikuti tiga jalur ke basis tim lawan, melawan musuh dan menara.   2. Pengaruh Mobile Legend Terhadap Mahasiswa Dunia game adalah dunia yang sangat meengasyikan bagi anak-anak hingga remaja, bahkan tidak dipungkiri juga orang dewasa. Mulai dari Clan of Clash (COC) bahkan Mobile Legend. Game pada dasarnya digunakan untuk menghilangkan rasa stress akibat terlalu banyak aktivitas, namun yang terjadi sekarang game malah menjadi masalah dan bukan lagi menjadi penghilang rasa stres. Banyak anak-anak, remaja bahkan orang dewasa ketagihan terhadap game. Game yang sedang trend dan menjadi sorotan bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa adalah game Mobile Legend. Mobile legend adalah sebuah permainan piranti bergerak berjenis MOBA yang dikembangkan dan diterbitkan oleh Moonton. Mobile Legend Bang Bang adalah sebuah permainan MOBA yang dirancang untuk ponsel. Kedua tim lawan berjuang untuk mencapai dan mengahancurkan basis musuh sambil mempertahankan basisnya. Dimasing-masing tim, ada lima pemain yang masing-masing mengendalikan avatar, yang dikenal sebagai "hero". Di indonesia game Mobile Legend menimbulkan kontroversi yang dianggap  berbahaya, memiliki unsur kekerasan dan tidak mendidik. Tidak hanya anak-anak bahkan mahasiswa juga menjadi korban dalam game tersebut. Hampir 70% orang yang memainkan game akan ketagihan dan lama-kelamaan lupa akan segala hal. Dampak yang ditimbulkan dalam game ini sangatlah besar. Mahasiswa yang seharusnya fokus pada saat pembelajaran mereka lebih mementingkan diskusi mengenai game Mobile Legend, mereka tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh dosen dikelas. Bahkan mereka rela mengeluarkan sejumlah uang untuk mengakses bahkan membeli hal-hal yang diperuntukan untuk game. Tidak jarang ditemui di cafe maupun sekitar kampus banyak sekali membicarakan mengenai Mobile Legend, tidak ada habis-habisnya yang dibicarakan hanya Mobile Legend. Pada saat mereka dirumah mereka menggunakan wakutnya untuk game dari pada untuk belajar maupun mengerjakan tugas, dan hal inilah yang menjadi tingkat konsentrasi belajar menurun. Mereka lebih mementingkan game daripada belajar. Bahkan pada saat acara keluarga maupun acara berkumpul dengan teman-temannya mereka hanya terfokuskan pada game dan mengabaikan teman disekitarnya, seolah-olah mereka hidup dengan game.   3. Dampak Positif Mobile Legend • Belajar Teamwork dan Tidak Egois Dalam game yang berbasis tim, kemenangan bakal ditentukan oleh kerjasama antar anggota tim. Kita tidak akan bisa menang dengan menjadi jagoan sendirian. Dengan berbasis 5 hero melawan 5 hero, disini kita dituntut bekerjasama dengan oranglain demi melancarkan serangan efektif ke tower musuh. Kekompakan menjadi modal utama, jangan solo sendirian karena merasa jago. Jangan sampai musuh level up duluan karena kita Disini juga kita belajar untuk tidak egois. Dengan memilih role yang dibutuhkan tim, kita akan belajar mengalah untuk menang. Jangan egois dengan memilih hero yang memng kita ingin gunakan tapi tidak pas dengan tim. Kerjasama tim dan tidak egois ini bisa dipraktekkan di kehidupan sehari-hari. Kerjasama tim dapat berguna di kampus dan kantor serta sifat tidak egois akan bermanfaat di kehidupan sehari-hari tentunya. • Menguji Kesabaran Pernahkah saat kita bermain, ada teman setim kita yang selalu cerewet tapi tidak bisa main? atau saat kita bermain, kita masih dalam perjalanan dengan kendaraan sehingga sinyal kita tidak stabil? Nah disini kita sedang belajar untuk lebih bersabar. Karena jika kita memaksakan diri, hasilnya akan jelek. Contohnya kita tetap memaksakan diri untuk bermain padahal sinyal kita kurang stabil. Koneksi akan sering terputus dan kita malah bisa terkena penalty akibat sering disconnect Saat pertama kali mulai bermain pun kita dituntut untuk sabar karena hero yang kita miliki serta skin yang kita punya sangat terbatas. Padahal musuh kita punya skin yang bagus dan keren. Kita bisa saja mengeluarkan uang asli untuk mempercepat ini, namun jika kita grinding dari awal tentu buah kesabaran kita akan menghasilkan. • Melatih Kejelian dan Kewaspadaan Saat kita sudah sering bermain game ini, tentu kita sudah terlatih kapan harus melihat map untuk mengetahui dimana hero musuh, kapan harus menyerang, kapan harus mundur. Kita terlatih untuk mengambil keputusan cepat dan tepat saat peluang datang dan harus jeli hero mana atau tower mana yang harus diserang terlebih dahulu. Kita juga dilatih untuk jeli saat hero musuh mendadak hilang, karena siapa tahu kita akan disergap saat menyerang. Dengan terlatih dalam kejelian dan mengambil peluang ini, kita akan lebih waspada dikehidupan sehari-hari. Reflex dan kejelian kita dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat juga dterlatih. Entu hal ini akan berguna di kehidupan sehari-hari • Tidak Mudah Menyerah Kita pasti pernah mengalami saat dimana tim kita dibantai habis oleh tim musuh. Kemungkinan menang kecil sekali, namun kita tidak menyerah. Sedikit demi sedikit kita bisa membalikkan keadaan sehingga menjadi Epic Comeback! Banyak sekali yang langsung menyerah lalu rage quit, namun sebaiknya jangan menyerah. Walaupun kita kalah pada akhirnya, namun sifat tidak mudah menyerah hingga akhirlah yang harus kita bina dan kita latih. Sifat ini tentu akan sangat berguna dikehidupan sehari-hari dimana kita akan menemui banyak masalah dan kita tidak menyerah hingga akhir.   4. Dampak Negatif Mobile Legend • Lupa Waktu Game MOBA mempertemukan dua tim, dengan masing-masing tim tiga sampai lima player, di sebuah arena. Durasi permainannya pun cukup lama, bisa sampai setengah jam bila pertandingan berlangsung dengan sengit. Karenanya, tak ayal game ini membuat si pemainnya terkadang lupa akan waktu dan merasa kecanduan ingin bermain lagi dan lagi. Nah, kalau sudah begitu, ada banyak akibat yang ditimbulkan, seperti misalnya mengganggu waktu kerja, kuliah, dan lainnya. • Kurang Tidur Bagi sebagian gamer, khususnya mereka yang punya segudang aktivitas kerja yang padat, malam hari adalah waktu yang paling ideal dalam bermain game. Namun, saking asyiknya bermain game, terkadang tanpa sadar waktu terus berjalan hingga menjelang pagi. Padahal, di pagi hari mereka harus bangun untuk kembali bekerja. Tak jarang, ada yang sampai bolos bekerja karena kesiangan. Dan ketika mereka kesiangan, biasanya lanjut tidur atau memainkan kembali game tersebut. • Bertengkar dengan Pasangan Sebenarnya dampak yang satu ini mungkin ada hubungannya dengan dampak yang pertama. Karena lupa waktu, mereka jadi lupa untuk memberi kabar ke pasangan masing-masing. Atau ketika sedang asyik bermain tiba-tiba saja pacar atau pasangan mencoba menghubungi gamer melalui panggilan telepon, baik itu lewat sambungan operator atau melalui panggilan di layanan messenger. Padahal saat itu kondisi permainan sedang memanas, hingga membuat gamer terkadang kesal dan memarahi pacarnya. Kalau sudah begitu, pertengkaran pun tak terelakkan. • Boros Baterai Sebenarnya game apapun itu bisa bikin baterai boros. Nah, karena game MOBA ini bikin kecanduan, memainkan satu dua pertandingan saja dirasa tak cukup. Apalagi jika bermain dengan teman-teman atau biasa dikenal dengan istilah Mabar (main bareng). Padahal kondisi baterai sudah low-batt, tapi gamer tetap saja mengisi sambil bermain. Kalau kebiasaan ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin bila baterai smartphone akan cepat rusak. • Asyik Sendiri Bermain game bisa menjauhkan yang dekat. Karena sudah asyik main bareng teman di dalam game, teman yang kebetulan sedang berkumpul bersama jadi dicuekin. Tak peduli kondisi sedang ramai, gamer biasanya menyempatkan diri memainkan satu atau dua pertandingan.   DAFTAR PUSTAKA Game. Mobile Legends Prof. Dr. H. Sunarto & Dra. Ny. B . Agung Hartono. 2008. Manajemen Waktu. Jakarta : PT Rineka Cipt

    Pola Perilaku Menyimpang pada Siswa di SMA Negeri 1 Lawang

    No full text
    AbstrakDalam artikel ini akan dijelaskan mengenai pola perilaku menyimpang pada siswa yang ada di SMA Negeri 1 Lawang. Masa remaja merupakan tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Dalam mengalami masa tersebut, anak akan mendapatkan pengaruh-pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Lingkungan pun memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk perilaku anak.Kata kunci: Perilaku, Remaja, Perilaku MenyimpangAbstractIn this article, will explain about the patterns of deviant behavior in students in SMA 1 Lawang.  Adolescence is a developmental stage between childhood and adulthood characterized by general physical changes and cognitive and social development.  In experiencing this period, children will get influences both from the outside and from within.  The environment also has a considerable influence in shaping children's behavior.Keyword: Behavior, Teenager, Deviant BehaviorMasa remaja merupakan tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan social. Masa remaja dimuali pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara hokum (Hurlock dalam Ramadan, 2013: 10). Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat kepribadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuata

    IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMER 2 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA KEDIRI

    No full text
    Peraturan Daerah Kota Kediri Nomer 2 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) ini diharapkan mampu mengakomodir perkembangan Kota Kediri yang tumbuh sangat pesat sesuai dengan rencana kota dua puluh tahun yang akan mendatang yang tercantum dalam Peraturan Daerah No 1 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Kediri Tahun 2011-2030. Peraturan Daerah Kota Kediri Nomer 2 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2014.Pengelolaan RTH Taman Brantas di Kota Kediri menurut Perda Nomor 2 Tahun 2014 terdiri dari proses perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan pengendalian. Proses perencanaan dalam pengembangan RTH maupun taman kota di kota Kediri dapat dilihat dengan adanya perencanaan yang diilakukan denganlintas instansi. Konsep pelaksanaan pengelolaan RTH taman kota di kota Kediri. Pelaksanaan dapat dilihat dengan adanya kegiatan rutin harian yang dilaksanakan oleh para pegawai DLHKP. Pemanfaatan dalam hal ini bisa dilihat dengan adanya pemanfaatan sarana produksi dan sarana peralatan yang bisa digunakan untuk kepeluan mengelola taman. Serta juga dapat dilihat dari adanya suatu organisasi atau komunitas yang ingin mengadakan perkumpulan dan pertunjukan di taman maka bisa memanfaatkan taman tersebut. Selain itu, pemanfaatan ini juga bisa dilakukan oleh masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas taman dengan bijak dan sesuai dengan semestinya. Sedangkan untuk pengendalian dalam pengelolaan taman di kota Kediri bisa dilihat dengan adanya kontrol pada pegawai yang melakukan kegiatan harian dan pengendalian ini juga berguna untuk mengetahui dan mengatasi suatu masalah yang terjadi, serta menjaga agar semua elemen taman dapat terkendali dengan baik

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇