SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
PEMANFAATAN DANA DESA UNTUK PROGRAM UNGGULAN PENGEMBANGAN PARIWISATA DI DESA CONDRO KECAMATAN PASIRIAN KABUPATEN LUMAJANG
PEMANFAATAN DANA DESA UNTUK PROGRAM UNGGULAN PENGEMBANGAN PARIWISATA DI DESA CONDRO KECAMATAN PASIRIAN KABUPATEN LUMAJANGSetyo Hadi WicaksonoUniversitas Negeri Malang, Jalan Semarang No 5Surel : [email protected] AbstrakPada artikel ini disajikan informasi mengenai pemanfaatan dana desa untuk program unggulan dalam pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) program unggulan dalam pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, (2) strategi pemerintah desa dalam mengembangkan program unggulan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, (3) bentuk pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, (4) hambatan pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, (5) solusi pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Memanfaatkan dana desa untuk pengembangan pariwisata yang berguna untuk mensejahterahkan masyarakat Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang.Kata Kunci: Pemanfaatan, Dana Desa, Program Unggulan, PariwisataDewasa ini industri pariwisata menjadi sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah. Hal ini menjadi pilihan karena industri pariwisata tidak bertujuan mengurangi atau merusak sumber daya alam tetapi melestarikan dan memperindah objek wisata. Selain itu bisa meningkatkan devisa negara dari industri pariwisata. Maka program pengembangan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi dapat diutamakan sebagai bagian penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Pendek, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPADA) merupakan kewajiban dari pemerintah daerah yang telah diatur dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. RIPPADA menjadi pendoman yang dapat menjadi acuan dan arahan dalam pembangunan kepariwisataan, bagi para pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta dan masyarakat. Di samping itu pembangunan pariwisata diharapkan mampu mendorong peningkatan kesejateraan masyarakat serta pengembangan pariwisata Indonesia. Wisata di Indonesia sangat menarik dengan alam dan budaya di Indonesia yang sangat variatif. Keindahan alam terbentuk secara alami serta budayanya masih khas dan unik. Seperti halnya yang dipaparkan oleh Pendit (2006:79) yaitu mengingat daya tarik utama wisatawan yang berkunjung ke Indonesia adalah karena keindahan alam dan kekayaaan seni budaya, maka tidak heran jika potensi ini menarik untuk dikembangkan.Kota Lumajang adalah salah satu kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Kota Lumajang memiliki beberapa kabupaten, salah satunya adalah Kabupaten Lumajang. Kabupaten Lumajang memiliki potensi wisata pantai seperti Pantai Watu Pecak, Pantai Bambang, Pantai Watu Godeg, Pantai Tlepuk, Pantai Wot Galih. Kemudian obyek wisata pemandian Tambo Raya Idaman, Pemandian Kawasan Wonorejo Terpadu, Pemandian Joyokarto, Pemandian Tirtowono, Pemandian Hutan Bambu. Namun belum banyak program-program daerah yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dari segi pengelolaan pariwisata. Berdasarkan Peraturan Bupati Lumajang Nomor 79 Tahun 2014 tentang Destinasi Wisata Satu Kecamatan Satu Desa Wisata sudah ditetapkan 21 desa. Berkaitan lokasi desa wisata Selok Awar-Awar dengan Pantai Watu Pecak mengalami kerusakan akibat penambangan pasir ilegal maka peneliti menggunakan Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang karena berstatus sebagai Desa Penyangga. Menurut observasi awal peneliti kepada Kepala Desa wisata salah satunya yaitu Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang dengan objek wisata Tambo Raya Idaman adalah wisata alam yang didirikan dan dikelolah oleh pemerintah Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang terdiri atas pemandian, pemandangan Gunung Tambo, dan gedung serba guna. Pasal 1 ayat 8 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa pembangunan desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa. Pembangunan desa dalam kajian wisata sebagai salah satu cara mengenalkan potensi desa kepada wisatawan dalam negeri maupun mancanegara.Pembangunan desa seharusnya mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui pengembangan potensi desa. Satu kecamatan satu desa wisata merupakan salah satu program pemerintah Kabupaten Lumajang untuk mewujudkan masyarakat Lumajang yang sejahtera dan bermartabat. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa. Tanah Bengkok adalah bagian dari tanah desa yang merupakan tanah kas desa, jadi tanah tersebut diperuntukkan untuk gaji pamong desa, yaitu kepala desa dan perangkat desa. Mereka mempunyai hak untuk memperoleh penghasilan atas tanah yang diberikan oleh desa. Jika di lain waktu yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai pamong desa, maka tanah bengkok tersebut menjadi tanah kas desa. Sehingga penghasilan tersebut masuk ke kas desa.Pendapatan penghasilan yang diperoleh dari tanah bengkok yang di kelola oleh pemerintah Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang tidak mengalami peningkatan penghasilan. Oleh karena itu, Kepala Desa dan Perangkat Desa berinovasi untuk mengubah alih fungsi pengelolaan tanah bengkok dari sistem pertanian (penanaman padi, jagung, kelapa, dan lain-lain) menjadi wisata alam Tambo Raya Idaman, sehingga mampu untuk dikelola obyek wisata alam yang mampu mempromosikan destinasi wisata agar dapat mensejahterahkan masyarakat dan menambah anggaran Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Sebenarnya Pemerintah Daerah mempunyai peran dalam memberdayakan masyarakat desa (Sumber Daya Manusia) dan pengembangan potensi desa (Sumber Daya Alam) untuk menyelenggarakan kebijakan otonomi daerah. Konsep otonomi daerah salah satu komponen yang harus dikembangkan adalah wilayah pedesaan di dalam Pasal 90 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa menjelaskan bahwa memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan mematuhi prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, peran keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Desa wisata tersebut mampu menarik perhatian dan minat wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Pembangunan Pariwisata bisa menjadi acuan pengembangan tanah bengkok desa di seluruh Indonesia secara luas dan khususnya Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Oleh karena itu wisata Tambo Raya Idaman menjadi alternatif menyelesaikan permasalahan tanah bengkok sekaligus mengembangkan potensi tanah bengkok menjadi destinasi wisata. Pengembangan obyek wisata Tambo Raya Idaman merupakan program inovasi dari pemerintah Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang yang sebelumnya dana tersebut dialokasikan sebagai tanah kas desa yang mengelolah sektor pertanian.Dana yang digunakan untuk Tambo Raya Idaman tidak secara langsung diserahkan untuk proses pembangunan karena setiap dana kas desa masih digunakan keperluan yang lainya seperti kesehatan, pendidikan dan tanpa menggunakan kontraktor. Maka dari itu pembangunan proyek obyek wisata Tambo Raya Idaman jadi terhambat. Berangkat dari anggapan yang negatif terkait pengelolahan tanah bengkok desa sekaligus untuk mengetahui sejauh mana keseriusan pemerintah desa dalam mengembangkan wisata Tambo Raya Idaman. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pemanfaaatan Dana Desa untuk Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang”. BAHASANA.Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa CondroDesa wisata Condro merupakan program desa wisata berbasis obyek wisata alam dan suasana pedesaan. Sehingga akan menyatu dengan struktur kehidupan manapun masyarakat lokal dan menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Temuan tersebut sesuai dengan temuan pendapat Fandeli (1995:3) bahwa obyek wisata Tambo Raya Idaman di Desa Condro merupakan jenis desa wisata berdasarkan daya tarik alam dan obyek wisata di Desa Wisata Condro adalah tipe terbuka menurut pendapat Hadiwijoyo (2012:70) program yang di buat dan di kelola BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) melalui kelompok sadar wisata (POKDARWIS) dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro antara lain paket wisata, kebersihan lingkungan, pengolahan sampah organik dari sampah obyek wisata. Temuan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa. Tanah Bengkok adalah bagian dari tanah desa yang merupakan tanah kas desa, jadi tanah tersebut diperuntukkan untuk gaji pamong desa, yaitu kepala desa dan perangkat desa. Mereka mempunyai hak untuk memperoleh penghasilan atas tanah yang diberikan oleh desa. Jika lain waktu yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai pamong desa, maka tanah bengkok tersebut menjadi tanah kas desa, sehingga penghasilan tersebut masuk ke kas desa. Sehingga meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) Desa Condro yang nantinya akan mensejahterahkan masyarakat Desa Condro.a. Paket WisataProgram paket wisata merupakan bentuk dari strategi pemasaran suatu perjalanan wisata dengan satu atau lebih tujuan kunjungan yang disusun dari berbagai fasilitas perjalanan tertentu mencangkup biaya pengangkutan, biaya akomodasi, biaya transportasi dalam suatu acara perjalanan yang tetap serta dijual dengan harga tunggal yang menyangkut seluruh komponen dari perjalanan wisata. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat Desky (1999:23) bahwa paket wisata di Desa Condro merupakan perpaduan beberapa produk wisata yang dikemas menjadi satu kesatuan harga yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tujuan dari paket wisata itu sendiri memberikan kemudahan bagi wisatawan dalam pelaksanaan aktivitas wisatanya. Dalam satu paket wisata biasanya wisatawan mengetahui terlebih dahulu apa yang akan dilakukan, apa saja yang akan didapatkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan dan hal-hal yang berkaitan dalam paket wisata yang didapatkan.b. Kebersihan LingkunganProgram kebersihan lingkungan di desa wisata Condro mempunyai beberapa kegiatan yaitu pengolahan kompos, pelatihan pengolahan biogas, dan pelatihan jumantik. Desa Wisata Condro juga mendapat bantuan berupa sapiteng yang dikerjakan langsung oleh masyarakat desa secara gotong royong. Kebersihan lingkungan juga didukung melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) program ini merupakan program yang dilakukan pemerintah pusat untuk air bersih di rumah-rumah sebagai pengganti air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang biayanya lebih mahal daripada program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), air bersih ini berasal dari sumber air tanah buatan yang di simpan di bak yang berukuran besar kemudian dialirkan ke rumah warga melalui pipa-pipa. Selain itu kebersihan lingkungan juga didukung oleh kegiatan masyarakat diantaranya ibu rumah tangga yang membersihkan pekarangan rumahnya setiap hari dan kegiatan kerja bakti masyarakat pada hari-hari tertentu. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat Sangian (2011:3-4) bahwa kebersihan lingkungan dimulai dengan menjaga kebersihan halaman dan membersihkan jalan depan rumah dari sampah. c. Pengolahan Sampah Organik dari Sampah Obyek WisataPupuk organik merupakan jenis pupuk yang berasala dari sampah organik hijau (sampah daun-daun pepohonan, rumput liar) dan organik hewan (sisa makan wisatawan misalnya ikan, daging, telur, dan sejenisnya) yang telah melalui proses rekayasa yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pembuatan pupuk organik menggunakan bahan baku yang ada disekitar, sehingga sangat mudah didapat dan murah. Selain itu juga sebagai sarana mendaur ulang sampah yang sudah yang tidak terpakai agar dapat bernilai dan bermanfaat untuk masyarakat. Kegiatan merupakan pelatihan bagi masyarakat dan kelompok sadar wisata Tambo Raya Idaman di Desa Condro untuk memanfaatkan sampah obyek wisata menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi aktivitas masyarakat khususnya dibidang pertanian. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat Damanhuri dan Padmi (2006:23) bahwa pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian, karena dengan meningkatnya kadar kandungan bahan organik dan unsur hara yang ada dalam tanah, maka dengan sendirinya akan memperbaiki sifat, unsur kimia, dan unsur biologi tanah atau lahan pertanian. B. Strategi Pemerintah Desa dalam Mengembangkan Program Unggulan Pariwisata di Desa CondroKegiatan untuk pemanfaatan dana desa untuk program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro, tentunya memiliki strategi dalam pelaksanaannya dan dibawah ini adalah strategi pemerintah desa dalam mengembangkan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro sebagai berikut.a. SosialisasiKegiatan sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan pemerintah desa memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya desa wisata dengan cara mengundang secara langsung masyarakat untuk menghadiri rapat desa yang diselenggarakan oleh pemerintah desa. Ketika pemerintah desa memberikan sambutan pada acara di dusun tertentu, pemerintah desa juga selalu menyempatkan untuk membahas pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat Suyono, (1985:379) Sosialisasi adalah proses seorang individu belajar berintegrasi dengan sesamanya dalam suatu masyarakat menurut sistem nilai, norma, dan adat istiadat yang mengatur masyarakat yang bersangkutan Suyono, (1985:379). Sedangkan menurut Suharto (1991:112), sosialisasi atau proses memasyarakat adalah proses orang orang yang menyesuaikan diri terhadap norma norma sosial yang berlaku, dengan tujuan supaya orang yang bersangkutan dapat diterima menjadi anggota suatu masyarakat. Jadi sosialisasi dengan masyarakat perlu dilakukan untuk mengatur sistem nilai, norma, dan adat istiadat guna untuk mempermudah dalam pengembangan obyek wisata di Desa Condro.b. Promosi Pemerintah Desa Condro dalam mengembangkan obyek wisata di Desa Condro juga berperan dalam hal promosi yaitu memperkenalkan obyek wisata di desa wisata Desa Condro kepada banyak pihak, dalam berbagai kesempatan pemerintah desa memperkenalkan keberadaan Desa Condro dan obyek wisata Tambo Raya Idaman kepada banyak pihak, diantranya tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Pemerintah desa menjelaskan tentang potensi yang ada di Desa Wisata Condro dan berbagai program yang ditawarkan untuk menarik wisatawan dari luar daerah untuk berkunjung ke lokasi desa wisata di Desa Condro. Hal ini merupakan strategi pemerintah desa dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro juga ditujukan untuk memajukan kegiatan perekonomian. Berjalannya kegiatan perekonomian ini merupakan perwujudan dari pelaksanaan pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan. c. MengontrolPemerintah Desa Condro sudah memberikan mandat kepada masyarakat untuk pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro. Tugas pemerintah desa dalam pengembangan obyek wisata adalah mengontrol dan ikut bertanggung jawab atas keberlangsungan pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro. Supaya proses pengembangan obyek wisata ini berjalan sesuai dengan rencana yang telah disepakati bersama. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat HAW Widjaja (2003:3), bahwa desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya, dengan mengikuti kegiatan masyarakat dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro. Pemerintah desa dapat mengontrol dan mengawasi sejauh mana tujuan desa wisata di Desa Condro dilakukan oleh masyarakat khususnya kelompok sadar wisata (POKDARWIS). Temuan ini sesuai dengan pendapat Dale (Winardi, 2000:224) pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskan sehingga mencapai tujuan yang sesuai apa yang direncnakan.d. Alih Fungsi LahanPemerintah Desa Condro melakukan alih fungsi lahan yaitu tanah kas desa yang berada di Dusun Gentengan. Hal ini dilakukan karena tanah kas desa yang mengelola pertanian. Tanaman yang ditanam di tanah kas desa diantaranya padi, jagung, kelapa, kacang, lombok. Setiap masa panen dari hasil pertanian tersebut tidak meningkat bahkan mengalami kerugian. Hal ini disebabkan oleh masalah teknis dan non teknis. Masalah tersebut menjadikan alasan pemerintah desa berinisiatif mengubah alih fungsi lahan pertanian menjadi obyek wisata supaya hasilnya dirasakan masyarakat secara merata. Pembangunan desa seharusnya mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui pengembangan potensi desa. Satu kecamatan satu desa wisata merupakan salah satu program pemerintah Kabupaten Lumajang untuk mewujudkan masyarakat Lumajang yang sejahtera dan bermartabat. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa. Tanah Bengkok adalah bagian dari tanah desa yang merupakan tanah kas desa, jadi tanah tersebut diperuntukkan untuk gaji pamong desa, yaitu kepala desa dan perangkat desa. Mereka mempunyai hak untuk memperoleh penghasilan atas tanah yang diberikan oleh desa. Jika di lain waktu yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai pamong desa, maka tanah bengkok tersebut menjadi tanah kas desa. Sehingga penghasilan tersebut masuk ke kas desa.Sebenarnya Pemerintah Daerah mempunyai peran dalam memberdayakan masyarakat desa (Sumber Daya Manusia) dan pengembangan potensi desa (Sumber Daya Alam) untuk menyelenggarakan kebijakan otonomi daerah. Dalam konsep otonomi daerah salah satu komponen yang harus dikembangkan adalah wilayah pedesaan didalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan mematuhi prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, peran keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Desa wisata tersebut mampu menarik perhatian dan minat wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. C. Bentuk Pelaksanaan Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa CondroKegiatan untuk pemanfaatan dana desa untuk program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro, tentunya melaksanakan bentuk pelaksanaannya dan dibawah ini adalah bentuk pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro sebagai berikut.a. Perencanaan Program UnggulanPerencanaan program unggulan di Desa Wisata Condro dilakukan oleh BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) dengan masyarakat. Tanah kas desa yang mengelola sektor pertanian beralih fungsi menjadi obyek wisata. Hal ini dilakukan lantaran hasil panen yang tidak mengalami kenaikan dalam waktu ke waktu. Pemerintah Desa Condro kemudian berinisiatif untuk mensejahterakan masyarakat desa dan menambah pendapatan desa melalui alih fungsi lahan tanah kas desa. Temuan ini sesuai dengan pendapat Abe (2005:47) perencanaan partisipatif yang melibatkan masyarakat akan mempunyai dampak yang sangat penting dalam pembangunan, yaitu terhindar dari peluang terjadinya manipulasi, memberikan nilai tambah pada legitimasi rumusan perencanaan, serta meningkatkan kesadaran dan ketrampilan politik masyarakat. Kegiatan perencanaan desa wisata di Desa Condro menghasilkan 3 (tiga) program yaitu program paket wisata, kebersihan lingkungan, dan pengolahan sampah obyek wisata menjadi pupuk organik.b. Pelaksanaan Program Unggulan Pemerintah Desa Condro dalam menjalankan program unggulan ini melibatkan berbagai pihak diantaranya adalah masyarakat khususnya kelompok sadar wisata (POKDARWIS) sebagai menerima mandat yang diberikan oleh pemerintah desa kemudian pihak lembaga terkait. Sehingga melaksanakan program unggulan ini sesuai prosedurnya selain itu program unggulan yang berbasis pariwisata ini sangat berpotensi berkembang pesat karena letak obyek wisata yang berada di area kaki Gunung Tambo, suasana desa yang masih asri, maka proses pengembangan obyek wisata ini dilakukan. Program unggulan ini menggunakan dana desa melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Program tersebut diantaranya program paket wisata, kebersihan lingkungan, dan pengolahan sampah obyek wisata menjadi pupuk organik. Selanjutnya program pengembangan desa wisata lainnya, masyarakat khususnya Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) berperan sebagai pelaku atau seseorang yang menjalankan program tersebut. Temuan tersebut sesuai dengan pasal 68 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, bahwa masyarakat desa mempunyai kewajiban salah satunya yaitu berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di desa.Masyarakat desa wisata Condro apabila ada komando dari pihak pemerintah desa untuk membantu kegiatan desa demi menunjang pengembangan desa wisata di Desa Condro, masyarakat akan secara bersama-sama akan membantu kegiatan tersebut. Hal ini terlihat ketika pemerintah desa membangun jalan sebagai akses menuju lokasi wisata di Desa Condro. Temuan tersebut sesuai bila dihubungkan dengan pendapat Islamy (1998:45) bahwa masyarakat kini telah kritis dan telah memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagai masyarakat yang aktif yaitu berpartisipasi dalam kegiatan desa atas komando dari pemerintah desa.D. Hambatan Pelaksanaan Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa CondroKegiatan untuk pemanfaatan d
PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI PANCASILA
PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI PANCASILATyas Mutiara Wahyuni Universitas Negeri MalangEmail: [email protected] AbstrakPada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis penanganan masalah degradasi Pancasila di dalam masyarakat. Solusi tersebut adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini merupakan sebuah solusi yang dapat diaplikasikan ke masyarakat dengan cara sosialisasi. Hasil akhir dari pendidikan karakter ini adalah pola pikir serta moral masyarakat menjadi lebih baik yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.Kata Kunci: degradasi Pancasila, pendidikan karakter, masyarakat.Saat ini baik masyarakat maupun para pelajar banyak yang melakukan tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. Hal ini terjadi karena kurangnya memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Degradasi Pancasila merupakan proses kemorosotan pemahaman masyarakat umum terhadap Pancasila sehingga memicu terjadinya konflik seperti kekerasan, munculnya kelompok garis keras dan prostitusi. Aksi kekerasan terlihat seperti sesuatu yang lazim terjadi di masyarakat. Integrasi bangsa bergerak menuju arah negatif yang melahirkan keretakan dan ketegangan dalam hubungan antar komunitas, personal atau kelompok. Contohnya seperti tawuran antar pelajar, membakar mobil milik caleg, merusak properti umum, dll. Sehingga dengan timbulnya konflik seperti itulah yang bisa menimbulkan ketegangan sosial di masyarakat maupun pelajar. Kekerasan atau anarkisme memang cukup menggelisahkan masyarakat. Keragaman bangsa yang niscaya menjadi potensi konflik yang sangat besar. Masyarakat mulai kehilangan nilai-nilai pancasila yang menekankan multikulturalitas, kebhinnekaan dan nilai keadilan. Pancasila hanya menjadi hafalan masyarakat tanpa aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.Selain itu, munculnya kelompok garis keras sepeti ISIS yang kemudian bermunculan banyaknya kelompok/aliran garis keras di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan tujuan kelompok garis keras yaitu terjadi kerusuhan dengan menggunakan agama sebagai kedok. Kelompok ini membajak kepentingan-kepentingan agama agar bisa meraih kekuasaan. Justru, perilaku mereka yang mencoreng nilai-nilai agama menjadi buruk di mata masyarakat, apalagi mereka menggunakan cara-cara kekerasan.Prostitusi di Indonesia juga menjadi penyebab degradasi moral. Prostitusi di zaman sekarang ini tidak hanya sebagai suatu transaksi perdagangan melainkan prostitusi di perpolitikan Indonesia. Yang dimaksud dengan prostitusi perpolitikan adalah praktik jual beli jabatan dan otoritas. Masalah prostitusi yang seringkali terjadi di negara ini harus ditindak lanjuti oleh pihak berwajib dikarenakan prostitusi seksual sendiri mempunyai banyak dampak negatif, diantara lainnya adalah tersebarnya penyakit menular seperti HIV dan AIDS, rendahnya martabat pihak bersangkutan, dan degradasi moral. Namun, praktik prostitusi politik seperti korupsi dan suap-menyuap mempunyai dampak negatif dalam cakupan yang lebih besar. Banyak kasus pejabat negara berompi oranye yang membuktikan bahwa praktik kotor tersebut merugikan tidak hanya beberapa oknum, namun merugikan negara secara keseluruhan. Terlebih lagi, politik menjadi isu yang sangat sensitif untuk dibicarakan, seakan-akan masyarakat acuh oleh apa yang terjadi dalam birokrasi Indonesia sebenarnya.Kompas (4 Januari 2013) melansir informasi bahwa sepanjang 2012 setidaknya ada 104 peristiwa konflik sosial, bentrokan antarwarga merupakan pemicu konflik yang paling besar mencapai 33,6 persen. Hal ini di ungkapkan oleh Kasubdit Penanganan Konflik Sosial, Ditjen Kesbangpol, Kementerian Dalam Negeri Tri Jaladara. Dari informasi tersebut dapat dilihat bahwa degradasi Pancasila dalam masyarakat semakin banyak. Sebab masyarakat sendiri banyak yang bergerak menuju gerakan separatis dan mereka menganggap Pancasila hanya sebagai hafalan saja tapi tidak diaplikasikan secara nyata.Permasalahan ini jika tidak ditanggapi dengan serius maka dampaknya akan memperburuk moral bangsa Indonesia. Karena ideologi bangsa Indonesia sendiri adalah Pancasila. Ir. Soekarno mengatakan bahwa Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia secara turun-temurun yang sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan Barat, yakni Pancasila itu falsafah bangsa Indonesia. Pancasila menjadi landasan fundamental dalam kehidupan berbangsa. Pancasila juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan bangsa, serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari. Dengan demikian, Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia.Falsafah adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang bersifat menyeluruh. Falsafah Pancasila dalam arti bersifat religius dan falsafah Pancasila dalam arti praktis. Pancasila bersifat religius artinya filsafat Pancasila mengenal adanya kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan manusia. Sedangkan falsafah Pancasila dalam arti praktis, digunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari agar hidupnya dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik dunia maupun akhirat. (1) falsafah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, digunakan sebagai pegangan, pedoman atau petunjuk oleh bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila juga digunakan sebagai pedoman dalam memecahkan masalah di dalam negeri seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Tanpa memiliki pandangan hidup maka bangsa Indonesia akan terombang-ambing dalam menghadapi persoalan yang pasti akan timbul, baik persoalan di dalam masyarakat sendiri, maupun persoalan dari bangsa-bangsa di dunia. (2) falsafah Pancasila sebagai dasar negara RI, Pancasila sebagai dasar negara harus kokoh dan kuat agar Indonesia tetap berdiri tegak dan juga harus tahan uji terhadap serangan-serangan baik secara internal maupun eksternal. Oleh karena itu, seluruh peraturan perundang-undangan RI harus sejiwa dan sejawa dengan Pancasila. Dan telah ditegaskan bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum yang ada di negara RI. (3) falsafah Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, Pancasila memberikan corak yang khas kepada bangsa Indonesia dan tidak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia, serta merupakan ciri khas yang dapat membedakan bangsa Indonesia dari bangsa yang lain. Walaupun bangsa Indonesia sejak dahulu bergaul dengan peradaban kebudayaan lain dan saat ini dipengaruhi unsur-unsur asing, namun kepribadian Indonesia tetap hidup dalam kepribadiannya sendiri.Maka berdasarkan urgensi pembahasan, diperlukan alternatif solusi yang efektif untuk meminimalisasi degradasi Pancasila. Beberapa solusi yang relevan antara lain: (1) diadakan reorientasi kepada masyarakat, (2) pemulihan kondisi keamanan dan ketertiban serta menindak tegas para pelaku gerakan separatisme, (3) saling menghormati, bermusyawarah serta melakukan rembug desa sebagai perekat bangsa. (4) keluhuran nilai pancasila yang mampu menyatukan keragaman etnik dan budaya masyarakat yang heterogen. (5) penyebaran informasi yang berlebihan serta membesar-besarkan isu terkait prostitusi, alangkah lebih baik jika media massa memberikan informasi yang lebih mendidik. Dari beberapa solusi tersebut, pendidikan karakter menjadi solusi yang diprediksikan paling efektif. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang bertujuan untuk membangun sebuah karakter seseorang untuk menjadi lebih baik dan pendidikan ini penting bagi setiap orang, yang dimana karakter tersebut lah yang akan mendominasi sifat atau identitas dari orang tersebut. Pendidikan karakter ada dua macam yaitu, pendidikan karakter internal dan pendidikan eksternal.Pendidikan karakter secara internal, didapatkan dari peran keluarga dalam mambentuk kepribadian atau karakter itu sendiri seperti peran ayah dalam keluarga, ibu, abang, dan lain sebagainya yang bisa menjadi contoh yang baik bagi karakter seseorang. Pendidikan karakter ini menjadi sangat penting karena sekitar 70% sifat dari keluarga akan manjadi contoh bagi sifat karakter orang dalam keluarga tersebut. Orang tua merupakan tameng dari pendidikan karakter tersebut, karena peran orang tua dalam mendidik anak sangat besar jika orang tuanya adalah bersifat religius maka besar kemungkinan karakter tersebut akan diturunkan kepada anaknya. Tentu orang tua akan mengajarkan hal yang identik dengan sifat dari kedua orang tuanya. Berbeda pula jika orang tuanya yang cerai maka akan berdampak pada karakter anak ataupun orang dalam keluarga tersebut, hal ini akan sangat berdampak negatif bagi karakter setiap orang dalam keluarga itu dan harus segera dihindari, jika kurang mendapatkan pendidikan karakter internal maka karakter eksternal yang harus di integritaskan.Pendidikan karakter ekternal, bisa didapatkan dibanyak tempat seperti pendidikan karakter disekolah, tempat bermain, tempat belajar bimbingan, atau bergaul bersama teman yang baik mengikuti organisasi dilingkungan sekolah dan masyarakat dan lain sebagainya. Pendidikan karakter eksternal juga penting didapatkan oleh setiap orang, karena jika mereka tidak mendapatkan pendidikan karakter secara internal maka pendidikan eksternal ini lah yang akan menjadi wadah dan sebagai tempat untuk meningkatkan kualitas karakter yang baik dari orang tersebut. Maka dari itu sangat penting untuk memilih mentor atau pembimbing yang akan mengajarkan tentang pendidikan karakter dan mengerti karakter setiap orang yang hal tersebut bisa didapatkan dalam pendidikan karakter di sekolah yang biasanya dilakukan oleh guru BK untuk merubah karakter seseorang menjadi lebih baik. Karakter seseorang yang keras maka perlu mentor atau pembimbing yang bisa meredamnya karena jika sama-sama keras tidak akan terjadi perubahan karakter orang tersebut.Pada saat sekarang ini di zaman modern bahaya globalisasi dan modernisasi sangat mempengaruhi karakter pribadi seseorang. Dimana efek dari globalisasi dapat membuat seseorang dapat cenderung ke hal yang negatif atau pun ke hal yang positif tergantung kita yang memfilternya, bila cenderung ke negatif maka perlu batasan-batasan yang bisa menghindarkan diri kita dari hal tersebut dalam konteks ini dapat dipelajari dengan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter diantaranya yaitu, (1) religius: Merupakan sikap yang memegang teguh perintah agamanya dan menjauhi larangan agamanya, seraya saling menjaga kerukunan dan kesatuan antar berbeda pemeluk agama dan keyakinan; (2) Jujur: Merupakan sikap yang selalu berpegang teguh untuk menghindari keburukan dengan menjaga perkataan, perasaan dan perbuatan untuk selalu berkata dengan benar dan dapat dipercaya; (3) Toleransi: Perilaku yang cenderung menghargai perbedaan dengan mengurangi mempertajam perselisihan karena perbedaan. Perilaku ini diwujudkan dengan penerimaan atas perbedaan, dan keragaman sebagai suatu kekayaan bangsa Indonesia untuk mewujudkan fungsi toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; (4) Disiplin: Tindakan yang menjaga dan mematuhi anjuran yang baik dan menghindari dan menjauhi segala larangan yang buruk secara konsisten dan berkomitmen; (5) Kerja keras: Mencurahkan segala kemampuan dan kemauan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai hasil yang diharapkan dengan tepat waktu dan berorientasi lebih pada proses dan perkembangan daripada berorientasi pada hasil; (6) Kreatif: Selalu mencari alternatif penyelesaian suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang. Ini dilakukan untuk mengembangkan tata cara atau pemahaman terhadap suatu masalah yang sudah ada terlebih dahulu melalui pendekatan sudut pandang yang baru; (7) Mandiri: Meyakini potensi diri dan melakukan tanggung jawab yang diembannya dengan penuh percaya diri dan berkomitmen; (8) Demokratis: sikap dan tindakan yang menilai tinggi hak dan kewajiban dirinya dan orang lain dalam kedudukan yang sama. Ini dilakukan untuk memberikan pengakuan secara setara dalam hak berbangsa seraya merawat kemajemukan bangsa indonesia; (9) Rasa ingin tahu: suatu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui apa yang dipelajarinya secara lebih mendalam dan meluas dalam berbagai aspek terkait, (10) Tanggung Jawab : Menyadari bahwa segala hal yang diperbuat oleh dirinya bukan hanya merupakan tugas dan kewajiban bagi dirinya sendiri, namun juga keluarga, lingkungan, masyarakat, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.Perubahan tersebut bisa terjadi dikarenakan faktor-faktor tertentu yang cenderung bisa mempengaruhi karakter dari seseorang. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan karakter yang kurang baik pula. Dari situ lah kita berfikir bagaimana jika lingkungan disekitar buruk. Maka tentu akan berakibat negatif pula. tentu kita perlu mengatasi hal tersebut. Dengan adanya pendidikan karakter sangat berguna bagi seseorang untuk memilah mana yang baik baginya dan mana yang buruk. Dalam konteks indonesia, pendidikan karakter bangsa Indonesia telah dikembangkan sejak negeri ini berdiri, yang dimana presiden RI pertama yaitu Bapak Ir. Soekarno yang mengemukakan gagasan tentang pentingnya pembentukan karakter bangsa. Ketika itu nilai karakter yang diutamakan adalah penghargaan atas kemerdekaan, kedaulatan, dan kepercayaan pada kekuatan sendiri. Mengingat pembentukan karakter bersifat spiritual dan kontekstual, maka ia bisa berubah berdasarkan maksud dan tujuannya, dengan berbasis pada nilai dan macam-macam norma. Daftar RujukanBudiningsih, A. 2004. Pembelajaran Moral (Berpijak pada Karakteristik Siswa dan Budayanya). Jakarta : Rineka Cipta.Gunawan, H. 2012. Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi. Bandung:Alfabeta.https://nasional.kompas.com/News/Nasional (online), (diunduh pada tanggal 01 Februari 2018)Kusuma, D. 2007. Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman. Jakarta: Grasindo.Zuriah, N. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO STORYLINE DALAM PENGAMALAN PANCASILA PADA MATERI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PRAKTIK PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA BAGI SISWA KELAS X SMKN 1 KEDIRI
Tugas pokok Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yaitu dalam rangka character building. Diperlukan metode penyampaian materi saat kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan pembangunan karakter sebagai good citizenship dan penerapan nilai-nilai Pancasila yang lebih inovatif. Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan guna menunjang kegiatan pembelajaran yang lebih inovatif, salah satunya adalah melalui video. Namun masih terdapat masalah yang mana guru belum memanfaatkan secara maksimal teknologi tersebut. Melalui video dapat memberikan suasana pembelajaran PPKn yang menarik bagi peserta didik. Selanjutnya video dikemas dalam bentuk media pembelajaran yang menampilkan materi nilai-nilai Pancasila dengan video pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.Berdasarkan latar belakang tersebut maka tujuan penelitian ini adalah (1) mengembangkan produk media pembelajaran video storyline dalam pengamalan Pancasila materi nilai-nilai Pancasila pada mata pelajaran PPKn bagi siswa kelas X SMKN 1 Kediri, (2) menjelaskan penerapan media pembelajaran video storyline dalam pengamalan Pancasila materi nilai-nilai Pancasila pada mata pelajaran PPKn bagi siswa kelas X SMKN 1 Kediri, dan (3) mendeskripsikan hasil penerapan media pembelajaran video storyline dalam pengamalan Pancasila materi nilai-nilai Pancasila pada mata pelajaran PPKn bagi siswa kelas X SMKN 1 KediriPendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian pengembangan dengan menggunakan prosedur yang mengadopsi dari Sugiyono (2016:298) yang meliputi (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk dan (7) revisi produk. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian pengembangan ini menggunakan instrumen pengumpulan data berupa angket atau kuisioner. Lalu untuk mengukur pendapat orang, peneliti menggunakan skala Likert. Selanjutnya teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui hasil validasi dan hasil uji coba yaitu dengan membandingkan skor yang diperoleh dari responden dengan skor maksimal.Hasil pengembangan produk yang melalui langkah validasi media, validasi materi dan validasi praktisi pendidikan memperoleh temuan yaitu hasil validasi media sangat layak/valid (94,78%), hasil validasi materi sangat layak/valid (90%), dan hasil validasi praktisi pendidikan sangat layak/valid (96%). Sementara itu dalam penerapan media pembelajaran setelah melalui serangkaian uji coba kelompok kecil dan kelompok besar memperoleh kesimpulan akhir yaitu hasil uji coba kelompok kecil mendapatkan predikat sangat layak/valid (83,14%) dan hasil uji coba kelompok besar mendapatkan predikat sangat layak (84,91%). Berdasarkan hasil secara keseluruhan maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran video storyline materi nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran di kelas.Kajian produk yang telah direvisi bahwa secara keseluruhan media pembelajaran dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Kelebihan yang dimiliki media pembelajaran video storyline diantaranya terdapat tayangan video serta pengoperasiannya yang mudah. Saran yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya agar produk media pembelajaran dapat dikembangkan dalam bentuk (.apk) dalam bentuk android dan penelitian selanjutnya dapat supaya dilanjutkan untuk penelitian untuk menguji keefektifan produk di kelas
PENGUATAN NILAI KARAKTER ANTI KORUPSI MELALUI IMPLEMENTASI ELECTRONIC CAFÉ (E-CAFÉ) BHAWIKARSU DI SMA NEGERI 3 MALANG
Electronic Café (E-Café) Bhawikarsu adalah pengembangan program kantin kejujuran yang berasal dari Kementerian Pendidikan Nasional yang bekerja sama dengan komisi pemberantasan korupsi (KPK) dalam upaya untuk menanamkan sekaligus menguatkan nilai karakter anti korupsi. Electronic Café (E-Café) Bhawikarsu ini memuat konsep pendidikan nilai yang menekankan pada pembiasaan karakter anti korupsi pada peserta didik. Usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai tersebut, dapat dikembangkan dalam ranah pendidikan khususnya sekolah. Sekolah memerlukan pengelolaan yan baik agar peserta didik menjadi bermutu dan berkarakter
KEMITRAAN PERUM PERHUTANI KPH JOMBANG DENGAN KELOMPOK MASYARAKAT PEMUDA PRODUKTIF (POKMAS) DALAM PENGELOLAAN OBJEK WISATA RINTISAN BUKIT PINUS DI DESA CARANGWULUNG KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN JOMBANG
ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) kesepakatan kemitraan antara Perum Perhutani KPH Jombang bersama Pokmas dalam pengelolaan objek Wisata Rintisan Bukit Pinus,(2) realisasi kesepakatan kemitraan antara Perum Perhutani KPH Jombang bersama Pokmas dalam pengelolaan objek Wisata Rintisan Bukit Pinus(3) masalah yang terjadi dalam realisasi kesepakatan kemitraan antara Perum Perhutani KPH Jombang bersama Pokmas dalam pengelolaan objek Wisata Rintisan Bukit Pinus, dan (4) solusi penyelesaian masalah dalam realisasi kesepakatan kemitraan antara Perum Perhutani KPH Jombang bersama Pokmas dalam pengelolaan objek Wisata Rintisan Bukit Pinus Hasil penelitian adalah: (1) Kesepakatan kemitraan yang terjalin antara Perum Perhutani KPH Jombang dengan Pokmas tertuang dalam Perjanjian kerjasama (PKS) dalam pengelolaan Wisata Rintisan Bukit Pinus dengan aturan pembagian bagi hasil yang jelas; (2) Realisasi kesepakatan kemitraan antara Perum Perhutani KPH Jombang dengan Pokmas dalam Pengelolaan Wisata Rintisan Bukit Pinus sudah berjalan dengan baik, terbukti dengan adanya PKS yang telah tertulis dan pendapatan bagi hasil telah jelas, dan uang setoran dari Pokmas sudah tidak telat lagi dan adanya evaluasi setiap satu bulan dalam pelaksanaan kerjasamanya; (3) Kendala yang dihadapi oleh Perum Perhutani KPH Jombang dengan kelompok masyarakat pemuda produktif (Pokmas) dalam pengelolaan objek wisata rintisan Bukit Pinus adalah berupa sumber daya manusia dan anggaran; (4) Upaya Perum Perhutani KPH Jombang dengan Pokmas Pemuda Produktif untuk mengatasi kendala dalam pengelolaan objek wisata rintisan Bukit Pinus, pertama dengan melakukan sharing bersama sehingga dapat mengembangkan realisasi kemitraan dan yang kedua adalah melakukan studi banding ke wisata lain yang dimaksudkan untuk mengambil ilmu dalam mengembangkan suatu wisata.Kata kunci: kemitraan, kelompok masyarakat, Perum Perhutani KPH Jomban
GERAKAN PRAMUKA SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM UPAYA MENINGKATAN NASIONALISME
GERAKAN PRAMUKA SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM UPAYA MENINGKATAN NASIONALISMEHepy Mandiana Sari Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor [email protected] AbstrakGerakan pramuka merupakan nama sebuah organisasi pendidikan non-formal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan serta memiliki tujuan akhir untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia. Sehingga akan sangat sesuai apabila gerakan pramuka dijadikan sebagai sarana pendidikan karakter untuk meningkatkan nasionalisme. Mengingat di jaman sekarang ini, banyak generasi muda yang mulai melupakan nilai-nilai luhur serta lupa akan nasionalisme bahkan kerusakan moral pun terjadi dimana-mana. Selain itu, tujuan awal dari adanya gerakan pramuka juga sudah berniat untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia generasi muda. Namun, untuk merealisasikannya juga diperlukan tahap-tahap yang dimulai dari sosialisasi hingga evaluasi melalui pemberian tugas serta penyebaran angket. Tentunya penerapan gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter ini memiliki kelebihan seperti menanamkan semangat kebangsaan serta mengembangkan kewarganegaraan dengan daya tari lingkungan. Namun terdapat pula kelemahan bahwa tidak semua jenjang pendidikan mewajiban kegiatan ini. Kata Kunci : Gerakan Pramuka, Pendidikan karakterMenurut Hans Kohn, nasionalisme merupakan suatu bentuk yang timbul karena kesadaran berbangsa dan bernegara. Namun, di era globalisasi seperti ini, tentu tidak dapat dipungkiri jika terdapat banyak tantangan terhadap sikap nasionalisme, terutama para generasi muda. Ada yang mengungkapkan bahwa salah satu faktor kuat yang terus mengikis nasionalisme bangsa Indonesia adalah globalisasi. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Edison A. Jamli dkk. Kewarganegaraan. 2005).Adapun tantangan yang dimaksud yakni seperti semakin tidak pedulinya anak muda terhadap lingkungan sosialnya terutama hal sederhana yang berkaitan dengan nasionalisme. Hal ini terbukti dengan banyaknya murid yang ketika upacara bendera bersikap seenaknya sendiri, bahkan ketika sang merah putih dikibarkan justru ada yang asyik berbicara dengan teman disampingnya, begitu pula ketika lagu-lagu nasional dinyanyikan. Dan lebih parahnya lagi, terkadang generasi muda jaman sekarang justru lebih hafal dngan lagu barat daripada lagu nasional. Namun ternyata, hal tersebut bukan hanya berdampak pada sikap nasionalisme yang semakin lenyap, tapi juga terhadap empat pilar berbangsa dan bernegara yang salah satunya adalah Pancasila. Bahkan “Indonesia pada masa depan akan didominasi generasi melek IT (Information Technology) dan terpapar budaya global yang kuat. Hal itu berakibat pada lemahnya rasa nasionalisme dan patriotisme serta dikhawatirkan bisa berujung bubarnya negara-bangsa (nation-state) bernama Indonesia” Kompas (1 April 2016 )Dalam realita yang ada dalam masyarakat terutama generasi muda, mereka lebih menyukai budaya barat, menyukai produk yang berasal dari luar, bahkan generasi muda sekarang ini lebih hafal lagu-lagu pop daripada lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Padahal, “nasionalisme merupakan sarana untuk mempersatukan rakyat nusantara yang merasa senasib dan seperjuangan” (Hariyono, 2014 : 63). Nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri serta kesadaran anggota dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa. Dapat pula dikatakan bahwa nasionalisme adalah kecintaan alamiah terhadap tanah air, kesadaran yang mendorong untuk membentuk kedaulatan dan kesepakatan untuk membentuk negara berdasar kebangsaan yang disepakati dan dijadikan sebagai pijakan pertama dan tujuan dalam menjalani kegiatan kebudayaan dan ekonomi. (Hans Kohn, 1984).Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul karena adanya kolonialisme. Penjajahan yang dilakukan oleh Jepang dan Belanda dan penderitaan yang harus dirasakan akibat terjajah telah mampu melahirkan semangat kebersamaan sebagai satu kesatuan yang harus bangkit dan hidup menjadi bangsa merdeka.Diakui atau tidak saat ini semangat nasionalisme bangsa Indonesia semakin berkurang. Semangat nasionalisme yang dulu pernah berkobar di dalam jiwa bangsa Indonesia ketika melawan penjajah, nampaknya kini telah sirna bersama jasad para pahlawan dan pejuang kemerdekaan.Tak ada lagi semangat-semangat nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia terutama para generasi muda. Mereka seakan lupa akan perjuangan para pahlawan-pahlawan bangsa yang telah mengorbankan harta benda dan nyawa serta keluarga mereka. Sungguh besar jasa mereka, sungguh tinggi jiwa nasionalisme mereka.Berkurangnya sikap nasionalisme para generasi muda, tentu terdapat sebab-sebab yang melatarbelakanginya, seperti budaya asing yang masuk tanpa filterisasi, perdagangan bebas yang tidak terkendali, cepatnya arus globalisasi yang merupakan faktor luar penyebab lunturnya sikap nasionalisme. Adapun pengertian Globalisasi menurut bahasa adalah Global dan sasi, Global adalah mendunia, dan Sasi adalah Proses, jadi apabila pengertian Globalisasi menurut bahasa ini di gabungkan menjadi "Proses sesuatu yang mendunia". Globalisasi secara singkat adalah “sebuah proses dimana antar individu/kelompok menghasilkan suatu pengaruh terhadap dunia”. Globalisasi tidak bisa dihindari karena hidup itu terus berkembang tidak mungkin diam saja, dan pasti menghasilkan suatu pengaruh/perubahan. Mau tidak mau globalisasi pun akan terus berkembang mengikuti zaman tersebut. Globalisasi mempunyai pengaruh yang positif dan juga pengaruh negatif. Pengaruh-pengaruh tersebut tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Namun secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau bahkan hilang.Faktor luar yang menyebabkan berkurangnya nasionalisme, ternyata juga tidak lepas dari faktor dalam atau yang biasa disebut dengan faktor internal. Penyebab dari faktor dalam yakni kurangnya kemauan masyarakat Indonesia untuk paham arti nasionalisme yang sebenarnya, serta tertinggalnya negara Indonesia dibanding negara-negara lainnya. Oleh karena itu, dengan adanya penyebab dari dalam dan dari luar tersebut maka akan berdampak pada hilangnya kepribadian bangsa Indonesia, tidak ada generasi penerus bangsa yang bisa diandalkan, membuat Indonesia semakin tertinggal, bahkan jika dibiarkan terlalu lama, Indonesia akan hancur.Terdapat solusi-solusi bijak untuk mengatasai persoalan-persoalan mengenai lunturnya sikap nasionalisme terutama generasi muda, diperlukan solusi yang bijak untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah perubahan pola pikir generasi muda melalui gerakan pramuka yang merupakan sarana pendidikan karakter. Pramuka dipandang sebagai salah satu kegiatan di luar sekolah yang sangat relevan dengan pendidikan kaarakter bangsa yang terbukti dengan adanya kesamaaan nilai dengan Pancasila. Oleh karena itu, dalam makalah ini dibahas tentang pentingnya gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter untuk meningkatkan nasionalisme serta mengoptimalkaan empat pilar berbangsa dan bernegara. BAHASANPada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) konsep dasar, (2) langkah realisasi, serta (3) kelebihan dan kekurangan gerakan pramuka.Konsep Dasar Gerakan PramukaKepramukaan sebagaimana tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka (bab II Pasal 7) adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan (PDK) dan Metode Kepramukaan (MK), yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.Kepramukaan ini dicetuskan pertama kali oleh Robert Stephenson Smith Boden Powell dan Willian Alexander Smith pada tahun 1907 ketika mengadakan perkemahan kepanduan pertama (dikenal sebagai jamboree) di Kepulauan Brownsea, Inggris. Kepramukaan kemudian berkembang ke seluruh penjuru dunia termasuk ke Indonesia.Konsep dasar gerakan pramuka yakni bahwa gerakan pramuka merupakan nama sebuah organisasi pendidikan non-formal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan serta memiliki tujuan akhir untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia. Gerakan Pramuka atau Gerakan Kepanduan Praja Muda Karana merupakan satu-satunya wadah (organisasi) berbadan hukum yang berhak menyelenggarakan kepramukaan di Indonesia. Gerakan Pramuka berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia dan didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan dan ditetapkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961 tanggal 20 Mei 1961, sebagai kelanjutan dan pembaruan gerakan kepanduan nasional Indonesia.Gerakan pramuka juga merupakan sarana bagi para remaja untuk menjadi warga negara yang lebih baik dengan cara belajar tentang diri mereka sendiri beserta dengan segala kecakapan, kemampuan dan kelemahan, serta bagaimana mengatasi kelemahannya itu. Gerakan ini lebih ditekankan pada bagaimana melakukan sesuatu yang baik dan berguna untuk pengembangan watak remaja ( Joshua, 1994 : 40 ). Sehingga, dengan adanya konsep tersebut maka sangat sesuai apabila gerakan pramuka dijadikan sebagai sarana pendidikan karakter untuk meningkatkan serta mengoptimalkan empat pilar berbangsa dan bernegara.Ciri-ciri dari gerakan pramuka ini adalah (1) bentuk kegiatannya menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, serta praktis, (2) dilakukan ditempat terbuka, (3) menggunakan prinsip dasar dan metode kepramukaan, (4) memiliki dasa dharmapramuka dan tri satya, (5) memiliki anggota yang meliputi pramuka siaga yang berumur 7-10 tahun, penggalang berumur 11-15 tahun, penegak berumur 16-20 tahun, serta pramuka pandega yang berumur 21-25 tahun.Tujuan dari gerakan ini adalah untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia generasi muda ssehingga dapat meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air. Gerakan pramuka ini juga bertujuan agar para remaja memahami kelebihan dan kekurangan diri masing-masing.Langkah-Langkah Gerakan Pramuka Sebagai Pendidikan Karakter dalam Upaya Meningkatkan NasionalismeDalam upaya gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter untuk meningkatkan rasa cinta tanah air, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut .Langkah AwalTahap awal yang harus dilakukan yakni (1) sosialisasi ke sekolah-sekolah, orang tua, serta para guru tentang pentingnya gerakan pramuka sebagai sarana pembentukan karakter. Dengan adanya sosialisasi, maka komponen-komponen penting yang dibutuhkan dalam implementasi gerakan pramuka sebagai pendidikan arakter dalam meningkatkan nasionalisme akan terealisasi karena mereka menjadi bena-benar faham dang mengerti mengenai pentingnya gerakan pramuka dalam pembentukan karakter generasi muda.(2) sosialisasi tentang nasionalisme serta empat pilar berbangsa dan bernegara sekaligus pembinaan terhadap peserta didik serta pengajar.Langkah ini juga merupakan langkah yang penting, karena dengan mengetahui arti dari nasionalisme, maka pihak-pihak yang dibutuhkan akan semakin mantab dengan upaya pentingnya gerakan pramuka sebagai pendidikan karakter.Hal tersebut bisa terjadi karena mereka telah benar-benar memahami tentang tujuannya yakni meningkatkan nasionalisme.Langkah ImplementasiDalam langkah ini, hal-hal yang harus dilakukan adalah (1) kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi dengan sekolah-sekolah untuk menarik minat generasi muda terhadap gerakan pramuka melalui pendelegasian anggota dari UKM Pramuka di perguruan tinggi untuk terjun ke sekolah-sekolah, (2) Menciptakan permainan-permainan sebagai sebuah langkah pembaharuan untuk melatih kedisplinan melalui kegiatan yang menyenangkan, karena Olave yang merupakan murid dari “Boden-Powell” mengatakan “lepaskan topi untuk masa lalu dan singsingkan lengan baju untuk masa depan”. Ia tidak menginginkan sistem kepramukaan yang kaku dan ketinggalan zaman (Joshua, 1994 : 84), (3) Penyampaian materi tentang pramuka dan empat pilar berbangsa dan bernegara kepada anggota pramuka serta Pembina oleh orang-orang yang berkompeten.Tahap EvaluasiDan dalam tahap evaluasi, diadakan pemberian komentator / pendapat dari para anggota pamuka maupun pembina serta orang tua dan guru-guru melalui materi-materi atau metode yang telah disampaikan dan dilakukan melalui pemberian tugas dan pembagian kuisioner. Dengan adanya pemberian tugas serta pembagian kuisioner dalam tahap evauasi ini, maka akan dapat diketahui kekurangan-kekurangan dalam implementasi gerakan pramuka sebagai pendidikan karakter. Dan akan dijadikan perbaikan kedepan. Kelebihan Kelebihan perlu diterapkannya gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter ini adalah (1) karena generasi muda dilatih untuk disiplin, mandiri, serta dapat dipercaya sesuai dasa dharma yang ada dalam pramuka, (2) Pendidikan karakter dilakukan dengan cara non-formal sehingga tidak menyebabkan kebosanan, (3) selain melatih kedisiplinan, pramuka dapat dijadikan sebagai sarana berorganisasi, (4) menanamkan semangat kebangsaan, (5) berbentuk kegiatan yang positif, aktif, inovatif, dan produktif, (6) serta merupakan fungsi yang mengembangkan kewarganegaraan dengan daya tarik dalam lingkungan. KelemahanKelemahan-kelemahan tersebut antara lain (1) tidak semua jenjang pendidikan mewajibkan pramuka, (2) tidak ada pembinaan pramuka di beberapa sekolah karena tidak ada SDM, (3)serta kurangnya dana untuk melaksanakan kegiatan pramuka terutama di sekolah-sekolah yang jumlah muridnya sedikit. SIMPULAN DAN SARANKrisis moral serta lunturnya jiwa nasionalisme pada golongan muda atau biasa disebut generasi muda merupakan suatu persoalan yang harus segera diatasi dengan cara yang bijak. Oleh sebab itu, gerakan pramuka merupakan kegiatan yang cocok dijadikan sebagai upaya meningkatan semangat nasionalisme, karena gerakan pramuka ini menekankan pada suatu cara untuk melakukan hal-hal yang baik serta pengembangan watak remaja. Selain itu gerakan pramuka ini juga dari awal telah memiliki tujuan untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia generasi muda agar meningkatkan rasa cinta tanah air.Gerakan pramuka sebagai upaya untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dapat direalisasi kan melalui cara-cara yang efisien daan efektif yakni melakukan langkah awal melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah dan guru mengenai gerakan pramuka serta empat pilar berbangsa dan bernegara, kemudian bisa dilanjutkan dengan kerjasama dengan perguruan tinggi dan menciptakan permainan-permainan kedisiplinan serta tahap terakhir adalah melakukan tahap evaluasi dengan adanya pemberian tugas atau pembagian kuisioner mengenai kegiatan yang dilakukan.Penerapan gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter ini tentunya memiliki kelebihan yakni pendidikan karakter dilakukan dengan cara non-formal sehingga tidak menyebabkan kebosanan, selain itu para generai muda juga akan dilatih menjadi seorang yang disiplin dan mandiri. Kemudian dalam gerakan pramuka ini juga kegiatannya berbentuk positif, aktif, inovatif, dan produktif. Namun, dibalik kelebihan-kelebihan tersebut adapula kelemahan-kelemahan diantaranya tidak semua jenjang pendidikan mewajibkan pramuka, SDMnya kurang, serta kekurangan dana untuk melaksanakan kegiatan pramuka. Saran Gerakan Pramuka merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan nasionalisme serta mengoptimalkan empat pilar berbangsa dan bernegara pada generasi muda. Namun sayangnya, hal ini tidak didukung dengan wajibkannya gerakan pramuka di segala jenjang pendidikan. Selain itu, generasi muda sekarang juga cenderung lebih suka hal-hal yang menyenangan yang tidak terlalu menguras tenaga dan pikiran. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah membuat kebijakan untuk mewajibkan gerakan pramuka di segala jenjang pendidikan, serta memberi nilai plus bagi generasi muda yang aktif dalam kegiatan pramuka, kemudian untuk para Pembina juga diharapkan untuk selalu membuat pembaharuan dalam membina kegiatan pramuka sehingga generasi muda akan tertarik dalam kegiatan tersebut. DAFTAR RUJUKANSambodo, Joshua Indro.1994.Mereka Yang Berjasa Merubah Dunia “Robert Boden Powell”.Jakarta:PT Gramedia Pustaka UtamaHariyono.2014.Ideologi Pancasila.Malang:Intrans PublishingJamli, Edison dkk.Kewarganegaraan.2005.Jakarta:Bumi Akasara.Kompas. 1 April 2016. Nasionalisme dikalahkan Teknologi, hlm. 16.Kohn, Hans.1984.Nasionalisme Arti dan Sejarahnya.Jakarta:Erlangg
IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI SALAH SATU DETERMINAN PEMBANGUNAN DAN KARAKTER BANGSA
Hakikat identitas nasional kita sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila. Teori tentang munculnya identitas nasional suatu bangsa sebagai hasil interaksi historis antara empat faktor penting yaitu (1) mencakup etnisitas, teritorial, bahasa, agama , dan sejenisnya. keberanekaragaman, dan dalam hal ini dinamakan Bhineka Tunggal Ika. (2)Pembangunan komunikasi dan teknologi, bagi suatu bangsa adanya kemajuan teknologi serta pembangunan (3) modifikasi bahasa dan gramatika yang resmi, tumbuhnya birokrasi dan pemantapan sistem pendidikan nasional. .(4) meliputi penindasan, dominasi, dan pencarian identitas alternative melalui memori kolektif rakyat. Identitas nasional yang menunjukkan jati diri Indonesia
Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar
ABSTRAKRahayu, Mery. 2019. Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H. (II) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si.Kata Kunci: Pembinaan, Nilai, Nilai Budi Pekerti, Lembaga Pembinaan Khusus AnakManusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna.Manusia diciptakan dengan diberi akal dan pikiran. Secara naluriah manusia akan hidup berdampingan dengan sesama serta menghasilkan keturunan yang disebut dengan anak. Anak merupakan generasi penerus bagi para pendahulunya. Kemajuan suatu bangsa juga tergantung dari kualitas para generasi mudanya. Sehingga peran orang tua, masyarakat, maupun lingkungan berperan penting dalam membentuk kepribadian seorang anak supaya anak berkembang ke arah yang baik. Sedangkan di era modernisasi seperti saat ini yang ditandai dengan perkembangan IPTEK maupun gaya hidup yang berubah dengan sangat cepat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Anak dengan mudah mengakses segala macam informasi yang diinginkannya. Berhubungan dengan hal tersebut, peran orang tua, masyarakat maupun lingkungan diperlukan kembali untuk mengarahkan anak mengakses informasi sesuai dengan usianya supaya anak tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. Karena pada saat ini bukan hal yang baru apabila terdapat seorang anak yang harus berhadapan dengan hukum, seorang anak terjerat sebuah kasus kriminal yang menyebabkan anak yang bersangkutan harus menjalani masa hukuman dalam sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Pada dasarnya orang tua akan menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada anak-anaknya, akan tetapi ketika seorang anak salah dalam pergaulan dan kurangnya pengawasan ataupun kontrol dari orang tua, maka nilai-nilai budi pekerti yang telah diajarkan oleh orang tuanya akan diabaikan oleh anak tersebut. Oleh karena itu, anak-anak yang harus menjalani hukuman di sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak akan mendapatkan pembinaan kepribadian termasuk pembinaan nilai-nilai budi pekerti seperti yang dilakukan oleh Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar supaya anak-anak tersebut kembali menjadi anak yang baik dan tidak merugikan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) untuk mendekripsikan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar, (2) untuk mendeskripsikan faktor pendukung dalam pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar, (3) untuk mendeskripsikan hambatan-hambatan yang muncul dalam pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar, (4) untuk mendeskripsikan upaya yang dilakukan oleh Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar.Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar. Sumber data menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara, observasi langsung ke lapangan, dan dokumen-dokumen di lapangan yang mendukung penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data mengenai data yang diperoleh, peneliti menggunakan pengecekan keabsahan data dengan meningkatkan ketekunan dalam penelitian dan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini adalah (1) pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar meliputi kegiatan apel sebanyak tiga kali (apel pagi, apel siang, dan apel sore), upacara pada Hari Nasional, sholat berjamaah khususnya pada waktu sholat dhuhur, kegiatan keagamaan pada bulan Ramadhan, kebersihan lingkungan dan sosialisasi dengan pihak luar seperti pengusaha ayam Dinasti, Dinas Kesehatan Kota Blitar, TNI, dan organisasi perempuan.(2) Faktor pendukung dalam pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar yaitu petugas yang selalu memberikan arahan maupun teguran kepada anak didik di LPKA Kelas I Blitar, lingkungan LPKA Kelas I Blitar yang dilengkapi dengan peraturan serta Tamping yang membantu mengkoordinir anak didik lain di LPKA Kelas I Blitar, dan adanya kerja sama dengan pihak luar dalam memberikan sosialisasi dan motivasi kepada anak didik di LPKA Kelas I. (3) Dalam pelaksanaan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar muncul faktor penghambat yaitu kurangnya minat anak didik di LPKA Kelas I Blitar dalam memperbaiki sikap dan perilakunya, tidak adanya psikolog di LPKA Kelas I Blitar, serta sarana dan prasarana Sekolah Istimewa yang kurang memadai. (4) Sehingga upaya yang dapat dilakukan oleh Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar dalam mengatasi hambatan yang muncul yaitu memberikan teguran secara langsung kepada anak didik, melakukan pendekatan kepada anak didik melalui BK, dan pemberian pre-test serta post-test kepada anak didik di LPKA Kelas I Blitar.Setelah melakukan penelitian saran yang diberikan oleh peneliti yaitu (1) anak didik LPKA Kelas I Blitar diharapkan sebisa mungkin mengikuti semua kegiatan pembinaan nilai-nilai budi pekerti dengan sungguh-sungguh. (2) Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar hendaknya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana supaya lebih menunjang kegiatan pembinaan nilai-nilai budi pekerti. (3) Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar menjaga kerja sama dengan instansi-instansi terkait
Peran Kepemimpinan Kepala Desa dalam Mewujudkan Partisipasi Masyarakat di Bidang Pembangunan Desa Prasi Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo
ABSTRAKSuhesti, Putri Neneng. 2019. Peran Kepemimpinan Kepala Desa dalam Mewujudkan Partisipasi Masyarakat di Bidang Pembangunan Desa Prasi Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si (II) Dr. Sri Untari, M.SiKata Kunci: Peran kepemipinan, kepala desa, partisipasi masyarakat.Penelitian ini dilatar belakangi oleh banyaknya pemahaman partisipasi masyarakat yang seringkali memiliki pengertian sebagai dukungan yang harus diberikan oleh masyarakat pada suatu keputusan pemerintah saja. Oleh karena itu, ukuran yang dipakai adalah sejauh mana masyarakat menanggapi, melaksanakan dan mau mengikuti kehendak pemerintah tersebut, sehingga lebih bersifat top down. Apabila masyarakat tidak patuh dan tidak mendukung sepenuhnya program dari pemerintah, maka masyarakat akan dianggap tidak berpartisipasi dalam pembangunan. Dalam pandangan ini, sebenarnya masyarakat lebih dilihat sebagai objek pembangunan bukan sekaligus subjek atau bagian dari pelaku pembangunan. Padahal partisipasi masyarakat merupakan kerjasama antara rakyat dan pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan, dan mengembangkan hasil pembangunan. Sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui peran kepala desa dalam mewujudkan partisipasi masyarakat khususnya dalam bidang pembangunan di Desa Prasi.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal, yaitu (1) peran kepemimpinan kepala desa dalam mewujudkan partisipasi masyarakat di bidang pembangunan desa Prasi, (2) partisipasi masyarakat di bidang pembangunan desa Prasi, (3) kendala-kendala yang dihadapi kepala desa dalam mewujudkan partisipasi masyarakat di bidang pembangunan Desa Prasi, dan (4) usaha mengatasi kendala-kendala yang dihadapi kepala desa dalam mewujudkan partisipasi masyarakat di bidang pembangunan Desa Prasi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan peneliti sebagai instrumen utama penelitian ini. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Prasi Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan obeservasi, wawancara dan dokumen yang mendukung penelitian. Teknik analisis data menggunakan model miles dan huberman yaitu reduksi data, model data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi teknik dan sumber maupun meningkatkan ketekunan pengamatan.Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, mengenai peran kepemimpinan kepala desa dalam mewujudkan partisipasi masyarakat di bidang pembangunan Desa Prasi terbagi menjadi peran kepala desa dalam menjalankan fungsi sebagai seorang pemimpin yaitu peran kepala desa menjalankan fungsi inisiator pembangunan, fungsi konsultasi, fungsi pengendalian, dan fungsi delegasi dalam memaksimalkan partisipasi masyarakat di bidang pembangunan desa. Kedua, mengenai partisipasi masyarakat di bidang pembangunan yang terbagi menjadi dua yaitu pembangunan fisik dan non fisik yang terdiri dari berbagai bidang seperti kesehatan, keagamaan, sosial, dan pendidikan. Ketiga, mengenai kendala-kendala yang dihadapi kepala desa dalam mewujudkan partisipasi masyarakat di bidang pembangunan desa Prasi yaitu adanya masyarakat yang mementingkan materi atau upah sebelum mengikuti partisipasi pembangunan desa, adanya masyarakat memiliki kesibukan tersendiri, pencairan dana pembangunan desa yang lama serta keterbatasan waktu dan tenaga kepala desa. Keempat, mengenai usaha mengatasi kendala-kendala yang dihadapi kepala desa dalam mewujudkan partisipasi masyarakat di bidang pembangunan Desa Prasi yaitu adanya upah yang sesuai dengan kinerja masyarakat, memberdayakan masyarakat yang kurang mampu dan tidak memiliki pekerjaan, mengatur dana pendapatan desa dengan efisien dan memanfaatkan keuntungan dari pendapatan asli desa dan pemberian tugas kepada perangkat desa sesuai bidang masing-masing.Saran yang diberikan oleh peneliti yaitu (1) Kepala desa perlu meningkatkan pengawasan terhadap kinerja perangkat desa serta lebih mengontrol dan melakukan koordinasi organisasi pemuda desa untuk lebih aktif dan memberikan kontribusi kepada Desa Prasi. (2) Perangkat desa perlu menerapkan sikap yang sopan dan ramah dengan baik dalam memberi pelayanan kepada masyarakat serta perlu lebih aktif dalam memantau perkembangan yang ada di desa Prasi. (3) Masyarakat desa Prasi perlu lebih responsif terhadap pelaksanaan pembangunan serta lebih aktif dalam memantau kinerja dari aparatur desa.
EKSISTENSI KESENIAN TAYUB DI DUSUN NGRAJEK DESA SAMBIREJO KECAMATAN TANJUNGANOM KABUPATEN NGANJUK
ABSTRACTTayub is a social dance but in its realization it can be romantic and can be erotic. Usually danced by female dancers called tledhek and always involves male viewers to dance together (pengibing). Tayub held to celebrate weddings and various celebrations. otherThe objectives of the study were to: (1) Explain the origin of the existence of tayub art in the Ngrajek Hamlet, Sambirejo Village, Tanjunganom Subdistrict, Nganjuk Regency. (2) Explain the existence of tayub art at this time in the Ngrajek Hamlet, Sambirejo Village, Tanjunganom Subdistrict, Nganjuk Regency. (3) Explaining the efforts of the village government to preserve tayub art in the Ngrajek Hamlet, Sambirejo Village, Tanjunganom Subdistrict, Nganjuk Regency. (4) Explain what values are contained in the art of tayub in the Ngrajek Hamlet, Village Sambirejo, Tanjunganom District, Nganjuk Regency.Keywords :The Origin of Tayub Art, Existence of Tayub Art, Government Efforts to Preserve Tayub Art, Values in Tayub Art.ABSTRAKTayub adalah tari pergaulan tetapi dalan perwujudannya bisa bersifat romantis dan bisa pula erotis. Biasa ditarikan oleh penari wanita yang disebut dengan tledhek dan selalu melibatkan penonton pria untuk menari bersama (pengibing). Tayub dilaksanakan untuk merayakan pesta pernikahan dan berbagai macam hajatan lainnya.Tujuan dari penelitian yaitu untuk: (1) Menjelaskan asal mula adanya kesenian tayub di Dusun Ngrajek Desa Sambirejo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. (2) Menjelaskan keberadaan kesenian tayub saat ini di Dusun Ngrajek Desa Sambirejo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. (3) Menjelaskan upaya dari pemerintah desa melestarikan kesenian tayub di Dusun Ngrajek Desa Sambirejo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. (4) Menjelaskan nilai-nilai apa saja yang yang terkandung dalam kesenian tayub di Dusun NgrajekDesa Sambirejo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk.Kata Kunci : Asal Mula Kesenian Tayub,Keberadaan Kesenian Tayub, Upaya Pemerintah melestarikan Kesenian Tayub, Nilai-Nilai dalam Kesenian Tayub