Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan
Not a member yet
247 research outputs found
Sort by
KLASTERISASI PASIEN BPJS DENGAN METODE K-MEANS CLUSTERING GUNA MENUNJANG PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI RUMAH SAKIT ANWAR MEDIKA BALONG BENDO SIDOARJO
Latar belakang: Manajemen RS Anwar Medika mengalami kesulitan dengan tumpukan data di dalam database sehingga database kurang optimalkan dalam penggunaannya. Tujuan: Menemukan informasi baru dari data rekam medis  rawat inap pasien BPJS. Metode: Penelitian ini merupakan diskriptif kuantittif. Data didapatkan dengan melakukan pengelompokkan data dengan metode teknik data mining dengan menggunakan algoritma K-Means. Hasil: Menghasilkan 3 cluster; cluster 1 terdiri dari 91 pasien perempuan (51%), cluster 2 terdiri dari 26 pasien perempuan (14%), dan cluster 3 terdiri dari 63 pasien laki-laki (35%). Kecamatan asal pasien yang terbanyak berasal dari Krian dan Balongbendo. Diagnosis yang banyak diderita adalah Born in Hospital, Diarrgoea, dan Hemorrhagic. Kesimpulan: Banyak pasien BPJS didiagnosis dengan kode ICD X Z38.0, A09+E86, dan A91, sehingga bisa digunakan untuk penentuan anggaran rumah sakit. Saran: Penelitian selanjutnya dapat menggunakan kolaborasi dengan metode clustering hierarki agar didapatkan hasil pengelompokan data yang lebih baik
EFEKTIVITAS KOMBINASI EKSTRAK ETANOL KUNYIT (Curcuma longa linn.) DAN COKLAT (Theobroma cacao) SEBAGAI KANDIDAT ANTIDEPRESAN PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR
Latar belakang:Depresi merupakan penyakit psikologi yang sering terjadi pada manusia. Penggunaan obat antidepresan memiliki efek samping dan dapat menimbulkan ketergantungan. Coklat dapat meningkat hormon dopamin dan serotonin sehingga dapat memperbaiki suasana hati. Kunyit memiliki senyawa aktif kurkumin yang memiliki aktivitas antidepresan melalui modulasi pelepasan serotonin dan dopamin.Tujuan :Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas ekstrak etanol kunyit, ekstrak etanol coklat dan kombinasi ekstrak etanol kunyit dan coklat sebagai antidepresan pada tikus Rattus norvegicus galur wistar. Metode:Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan post test control group desaign yang menggunakan 25 ekor tikus dan  dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol positif, kontrol negatif, ekstrak etanol kunyit, ekstrak etanol coklat serta kombinasi ekstrak etanol kunyit dan coklat. Pengujian antidepresan ditentukan berdasarkan immobility time menggunakan metode swim Forced Test. Hasil pengamatan berupa immobility time dianalisa data dengan one way ANOVA. Hasil: kombinasi ekstrak etanol kunyit dan coklat memiliki nilai rata-rata immobility time yang lebih kecil jika dibandingkan ekstrak etanol coklat dan ekstrak etanol kunyit dan kontrol negatif. Kesimpulan : ekstrak etanol kunyit dosis 560 mg/kgBB dan ekstrak etanol coklat dosis 0,392mg/20gBB memiliki efek antidepresan. Efek antidepresan kombinasi ekstrak etanol kunyit dan coklat lebih signifikan dibandingkan sediaan tunggalny
PERBEDAAN KADAR KADMIUM (CD) DALAM DARAH DAN TEKANAN DARAH PADA PENGELAS DAN NON PENGELAS DI PT. X SURABAYA
Kadmium (Cd) merupakan logam karsinogenik yang termasuk dalam logam pencemar udara. Salah satu proses industri yang menghasilkan kadmium (Cd) adalah proses pengelasan. Berdasarkan hasil pengukuran kadar kadmium (Cd) di udara bengkel las PT. X menunjukkan nilai yang melebihi Nilai Ambang Batas yang telah ditentukan oleh Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar kadmium (Cd) dalam darah dan tekanan darah pengelas dan non pengelas di PT. X. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah observasional-analitik dengan desain penelitian studi potong lintang. Subyek penelitian adalah pengelas dan non pengelas yang berjumlah 24 orang. Penentuan sample dilakukan dengan cara simple random sampling. Analisis perbedaan kadar kadmium (Cd) dalam darah dan tekanan darah pengelas dan non pengelas menggunakan uji statistik Independent t-test dan Mann Whitney. Terdapat perbedaan kadar kadmium (Cd) dalam darah pengelas dan non pengelas di PT. X menggunakan uji statistik Independent t-test dengan nilai p=0,001<0,05. Sedangkan tekanan darah pada pengelas dan non pengelas di PT. X tidak terdapat perbedaan, menggunakan uji statistik Mann Whitney dengan nilai p=0,763>0,05. Disarankan untuk melakukan biological monitoring kadar kadmium (Cd) di udara dan kadar kadmiuim darah (Cd), melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan standar dan peningkatan pengetahuan pekerja terkait kadmium
HUBUNGAN ANTARA AKUMULASI LOGAM DENGAN KADAR P53 PADA TEKNISI GIGI
Latar belakang: Teknisi gigi tidak dapat terhindar dari paparan berbagai agen fisik, kimia, dan biologis yang berasal dari lingkungan kerja. Paparan pada teknisi gigi dapat berupa debu atau asap yang berasal dari grinding saat pengolahan bahan restorasi gigi. Pada penelitian Haryani dkk, 2014 dilaporkan terdapat konsentrasi logam kobalt, nikel, kromium yang tinggi pada darah teknisi gigi di Surabaya yaitu kadar kobalt 27 µg/L, nikel 37 µg/L, dan kromium 117 µg/L. Paparan logam dapat menyebabkan terbentuknya Reaktive Oxygen Species (ROS) dan menyebabkan terjadinya kerusakan DNA. Kerusakan khas yang terjadi pada P53 terjadi mutasi Guanine. Salah satu peran P53 yaitu untuk proses perbaikan DNA. Tujuan:  Untuk mengetahui hubungan antara akumulasi logam dengan kadar P53 pada teknisi gigi. Metode:  Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 40 yang diambil secara acak. Data diambil melalui wawancara dan observasi. P53 diperiksa dari saliva dengan metodeindirect ELISA. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson. Nilai kemaknaan yaitu nilai p<0,05 (tingkat kepercayaan 95%).  Hasil:Tidak ada hubungan signifikan antara akumulasi logam dan P53 pada teknisi gigi. Simpulan dan saran: terdapat korelasi positif namun hubungan tersebut tidak signifikan antara lama bekerja dengan kadar P53 pada teknisi gigi
PENGARUH KETERATURAN BEROBAT DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN NEUROPATI DIABETIK TIPE 2
Latar belakang: Diabetes mellitus merupakan penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan kasus setiap tahun. Diabetes mellitus tipe 2 merupakan jenis diabetes dengan proporsi paling banyak dari total kasus diabetes mellitus. Diabetes mellitus tipe 2 yang tidak terkendali akan menyebabkan terjadinya komplikasi neuropati diabetik. Tujuan: untuk menganalisis pengaruh faktor keteraturan berobat dan aktivitas fisik terhadap kejadian neuropati diabetik pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan desain case control. Kelompok kasus pada penelitian ini berjumlah 36 responden dan kelompok kontrol berjumlah 36 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan sistematik random sampling. Variabel independen yaitu keteraturan berobat dan aktivitas fisik. Penelitian dilakukan di poli penyakit dalam RSUD Dr. M. Soewandhi Surabaya pada bulan Okbober 2017. Hasil: analisis regresi logistik menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara keteraturan berobat (p=0,002 < 0,05) dan pola aktivitas fisik (p=0,033 < 0,05) terhadap terjadinya neuropati diabetik. Simpulan dan saran: Variabel keteraturan berobat dan aktivitas fisik mempengaruhi terhadinya neuropati diabetik. Penderita diabetes mellitus tipe 2 diharapkan mencari informasi kesehatan agar penderita diabetes mellitus tipe 2 tidak berakibat pada komplikasi neuropati diabetik
PENENTUAN PARAMETER KINETIK ENZIM XANTIN OKSIDASE TERINHIBISI EKSTRAK SELEDRI BERDASARKAN METODE GRAFIK LINEWEAVER-BURK DAN LANGMUIR
Latar belakang: Seledri merupakan tanaman obat yang diketahui mampu menghambat aktivitas enzim xantin oksidase yang berperan dalam pembentukan asam urat. Prevalensi penyakit asam urat (gout) yang tinggi di Indonesia, yaitu 1,6-13,6% per seribu penduduk membuat penelitian tentang sifat penghambatan terbentuknya produk asam urat dalam tubuh sangat diperlukan. Tujuan: mengetahui nilai parameter kinetik enzim xantin oksidase dengan adanya penambahan ekstrak seledri. Metode: Ekstrak seledri dari daun dan batang diperoleh menggunakan metode soxhletasi dan pelarut hidroetanol. Penentuan parameter kinetik enzim dilakukan dengan metode grafik linear Lineweaver-Burk dan Langmuir. Hasil: Ekstrak hidroetanol daun seledri menunjukkan inhibisi terbaik sebesar 86.86% (konsentrasi 30%) dan ekstrak hidroetanol batang seledri menunjukkan inhibisi terbaik sebesar 87.71% (konsentrasi 40%). Penambahan ekstrak daun seledri pada enzim memberikan nilai Km sebesar 27.74 ppm dan Vmaks sebesar 3,55 U/mL pada metode grafik Lineweaver-Burk, sedangkan pada metode grafik Langmuir nilai Km mencapai 327.66 ppm dan Vmax sebesar 6.45 U/mL. Penambahan ekstrak batang seledri menghasilkan nilai Km sebesar 145.24 ppm dan Vmax sebesar 4,55 U/mL pada metode grafik Lineweaver-Burk, sementara pada metode grafik Langmuir nilai Km sebesar 321,09 ppm dan Vmaks sebesar 5.21 U/mL. Kesimpulan: Metode grafik Langmuir lebih sesuai digunakan untuk penentuan parameter kinetik dalam inhibisi enzim xantin oksidase oleh ekstrak seledri
FAKTOR RISIKO GANGGUAN FAAL PARU AKIBAT PAPARAN FORMALDEHID (STUDI PADA INDUSTRI PLYWOOD PT. OPQ DI KABUPATEN LUMAJANG)
Latar belakang: Formaldehid yang merupakan bahan utama perekat dalam industri plywood yang terabsorbsi melalui saluran inhalasi dapat menyebabkan kerusakan paru dan mempengaruhi faal paru bahkan diduga menyebabkan kanker. Tujuan: untuk melihat faktor determinan yang mempengaruhi gangguan faal paru akibat paparan formaldehid. Faktor faktor determinan yang diamati dalam penelitian adalah umur, tinggi badan, berat badan, IMT, beban kerja, masa kerja, lama kerja, penggunaan masker, pengalaman kerja, perilaku merokok serta jumlah rokok yang dikonsumsi oleh pekerja unit pengeleman plywood PT. OPQ Kabupaten Lumajang pada bulan april – juli 2013. Metode: Observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Total populasi dalam penelitian ini sebanyak 53 pekerja dengan jumlah sampel 39 pekerja. Sampling dilakukan dengan metode simple random sampling. Hasil: terdapat pengaruh signifikan antara gangguan faal paru yang dialami pekerja dengan masa kerja (0.008) dan jumlah rokok yang dikonsumsi per hari (0.029). Hasil penelitian juga menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara gangguan faal paru yang dialami pekerja dengan umur, tinggi badan, berat badan, IMT, beban kerja, lama kerja, penggunaan masker, pengalaman kerja dan perilaku merokok perkerja. Kesimpulan: masa kerja dan jumlah rokok yang dikonsumsi per hari merupakan faktor determinan gangguan faal paru akibat paparan formaldehid pada pekerja di unit pengeleman plywood PT. OPQ Kabupaten Lumajang
EFEK PEMBERIAN KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizu) TERHADAP PERUBAHAN KADAR TRIGLISERIDA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN YANG DIBERIKAN DIET TINGGI LEMAK
Latar Belakang : Dislipidemia merupakan abnormalitas profil lipid dalam serum, salah satunya adalah peningkatan kadar trigliserida serum. Kulit buah naga merah  (Hylocereus polyrhizus) mengandung flavonoid, tanin, alakaloid steroid dan vitamin C dapat digunakan untuk memperbaiki profil lipid pada dislipidemia. Tujuan: Membuktikan bahwa pemberian kulit buah naga merah dapat memperbaiki trigliserida. Metode: Jenis penelitian ini eksperimental murni, dengan menggunakan rancangan random post test only control grup desaign.menggunakan hewan coba sebanyak 30 ekor tikus putih jantan galur wistar. Pengukuran kadar trigliserida dengan metode GPO-PAP. Data dianalisis secara statistik dengan uji One Way Anova. Hasil: Rerata trigliserida hewan coba yang mendapat diet tinggi lemak dan freeze dried  kulit buah naga merah selama 4 minggu mengalami penurunan rerata sebesar 13,50 mg/dl (dosis 0,72 g/200 g), 20,00 mg/dl(dosisi 1,08 g/200 g) dan 23,00 mg/dl (dosis 1,44 g/200 g). Pada uji varian Anova memperlihatkan bahwa kadar trigliserida berbeda secara signifikan antar kelompok (p > 0,05). Kesimpulan: penelitian menunjukkan bahwa kulit buah naga merah dosis 1.44 gram dapat digunakan untuk menurunkan kadar trigliserida pada tikus jantan dyslipidemia.Saran:Penelitian selanjutnya dapat dimungkinkan untuk memperbaiki profil lipid yang lain seperti kolesterol
ANALGETIC ASSAY OF TREMBESI LEAVES (Samanea saman (Jacq.) Merr.)
Background: Trembesi (Samanea saman (Jacq.) Merr.) is a plant of the genus Samanea spread in tropical areainclude Indonesia. This plant have some chemical ingredients such as flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and steroids or triterpenoids. Objective: To know the analgesic activity and the effective dose of ethanol extract of leaves of trembesi in white male mice (Mus musculus L.). Method: This research is experimental with Post-Test Only Control Group Design techniques. Analgesic activity test was performed by chemical induction method using acetic acid in vivo with a negative control treatment (CMC-Na 0,5%), a positive control (aspirin 500mg), dose of ethanol extract of trembesi 150, 300 and 600 mg/kgBB. Data were analyzed with Hendersoth and Forsaith equation to determine the amount of stretching by mice. Analysis by One Way ANOVA test and LSD test. Results: The results showed the analgesic power percent ethanol extract of trembesi leaves are respectively 16.6%, 45.8% and 69.6%. Conclusions: The dose of ethanol extract of trembesi leaves have analgesic activity with the most effective dose is 600 mg/kgBB is equivalent to 500mg of aspirin (p=0.560)
GAMBARAN (OPEN DEFECATION FREE) ODF DI KABUPATEN MOJOKERTO
Latar belakang: Derajat kesehatan masyarakat merupakan tolak ukur yang digunakan dalam pencapaian keberhasilan program dengan berbagai upaya berkesinambungan, terpadu dan lintas sektor dalam rangka pelaksanaan kebijakan pembangunan di bidang kesehatan. Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan salah satunya adalah lingkungan dimana upaya untuk memperbaiki lingkungan salah satunya adalah dengan adanya STBM. Indikator output STBM adalah setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF). Kabupaten Mojokerto memiliki program untuk meningkatkan akses sanitasi dasar dengan tidak buang air besar sembarangan. Tujuan: Mengetahui gambaran Desa ODF di Kabupaten Mojokerto. Metode: Studi literature. Hasil: Data akses sanitasi tahun 2018 Jawa Timur sebesar 87%, akses sanitasi tahun 2018 Kabupaten Mojokerto sebesar 77%. Data Desa ODF di Jawa Timur tahun 2018 sebesar 39,71%, data ODF di Kabupaten Mojokerto tahun 2018 sebesar 18,4%. Tahun 2019 Desa ODF di Kabupaten Mojokerto sabesar 20,39%. Simpulan: Upaya yang telah dilakukan oleh Kabupaten Mojokerto telah dapat meningkatkan desa ODF yang sebelumnya 18,4% menjadi 20,39%. Tahun 2019 terdapat 1 Kecamatan yang sudah 100% ODF (bebas buang air besar sembarangan)