Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN
Not a member yet
344 research outputs found
Sort by
EVALUASI PENGGUNAAN STATIN UNTUK PENCEGAHAN RISIKO KARDIOVASKULAR ATEROSKLEROSIS PADA PASIEN DISLIPIDEMIA DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2
Lini pertama pengobatan dislipidemia adalah statin untuk pencegahan risiko penyakit Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD). Penggunaan statin pada pasien dislipidemia dengan komorbid diabetes melitus tipe 2 masih belum tepat, sehingga berisiko tinggi terjadinya ASCVD. Penelitian ini untuk mengetahui persentase ketepatan penggunaan statin berdasarkan perbedaan risiko ASCVD dan jenis statin yang digunakan pada penderita dislipidemia dengan diabetes melitus tipe 2 di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak. Penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang bersifat deskriptif. Pengumpulan data cara retrospektif yaitu data rekam medik, data laboratorium, dan data resep obat pasien rawat jalan dislipidemia dengan diabetes melitus tipe 2 di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak periode Januari – Juni 2019. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 47 pasien. Penelitian ini menunjukkan bahwa pasien dislipidemia dengan diabetes melitus tipe 2 yang memiliki risiko ASCVD < 7,5 % sebanyak 31,91 % dengan penggunaan statin 27,65 % tepat, 4,25 % tidak tepat. Pasien dengan risiko ASCVD ?7,5% sebanyak 68,08 %, penggunaan statin masih belum tepat. Jenis statin yang digunakan pada penelitian ini yaitu simvastatin 10 mg dan 20 mg, serta atorvastatin 20 mg. Kesimpulan dari penelitian ini pasien dengan risiko tinggi ASCVD mendapatkan statin dengan dosis yang tidak tepat berdasarkan pedoman ACC/AHA 2013
EVALUASI PENGGUNAAN STATIN DAN PREDIKSI RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR ATEROSKLEROSIS PADA PASIEN DISLIPIDEMIA DENGAN METODE POOLED COHORT RISK ASSESSMENT EQUATION
Penyakit kardiovaskular aterosklerosis merupakan salah satu faktor penyebab kematian. Salah satu penyebab penyakit kardiovaskular adalah dislipidemia. Pencegahan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerosis atau Atherosclerosis Cardiovascular Disease (ASCVD) pada pasien dislipidemia dapat dilakukan dengan pemberian statin. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase risiko ASCVD dan ketepatan dalam pemilihan terapi. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan studi potong lintang (cross sectional) yang bersifat deskriptif dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Data yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dianalisis risiko ASCVD dengan metode Pooled Cohort Risk Assessment Equation (PCRAE) dan dievaluasi ketepatan penggunaan obatnya berdasarkan pedoman ACC/AHA 2013. Hasil penelitian menunjukkan 43 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pasien dislipidemia dengan risiko ASCVD 7,5% diperoleh 24 pasien tepat (55,81%). Jenis statin yang digunakan pada pasien dengan risiko ASCVD 7,5% menggunakan obat atorvastatin 20 mg (79,16%), dan atorvastatin 40 mg (20,83%)
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Kulit Buah Nanas (Ananas comosus L.) Terhadap Tikus Putih Betina (Rattus norvegicus L.) Galur Wistar
Latar belakang. Nanas (Ananas comosus L.) merupakan salah satu buah yang sangat diminati oleh masyarakat. Senyawa flavonoid dan tanin pada ekstrak etanol kulit buah nanas memberikan kemampuan sebagai antijamur dan antibakteri yang dapat mengobati penyakit diare dan disentri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemberian dosis oral ekstrak etanol kulit buah nanas pada dosis tunggal (24 jam) terhadap perubahan perilaku, aktivitas psikomotor, perubahan bobot badan, dan indeks organ pada tikus betina (Rattus norvegicus L.) galur wistar. Metode. Tahapan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pengambilan dan pengolahan sampel, skrining fitokimia, analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT), pengujian karakteristik ekstrak dan pengujian toksisitas akut berdasarkan pedoman OECD 425 (Acute Oral Toxicity Up and Down Procedure). Kulit buah nanas diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Hewan uji dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok dosis 2000mg/kgBB dan kelompok dosis 5000mg/kgBB. Pengamatan dan pemberian dosis diberikan dalam waktu 24 jam dan diamati selama 14 hari. Hasil. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada bobot badan dan indeks organ antara kelompok kontrol, kelompok dosis 2000 mg/kgBB dan kelompok dosis 5000 mg/kgBB. Kesimpulan. Ekstrak etanol kulit buah nanas (Ananas comosus L.) termasuk dalam kategori praktis tidak toksik dengan LD50 > 5000 mg/kgBB dan tidak memberi pengaruh terhadap parameter toksistas akut
Pengaruh Pemberian Serbuk Cangkang Telur Terhadap Bobot Badan dan Indeks Organ Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Galur Wistar dalam 28 Hari
Cangkang telur merupakan hasil limbah yang melimpah di Indonesia yang komposisinya memiliki fungsi di dunia kesehatan yaitu kalsium karbonat, apabila ingin dikembangkan menjadi sediaan farmasi harus diuji keamanannya dengan melihat pengaruh pemberian cangkang telur terhadap bobot badan dan indeks organ dari hewan uji. Penelitian ini untuk menganalisis perubahan bobot badan dan indeks organ pada tikus putih (Rattus norvegicus L.) galur Wistar dengan pemberian serbuk cangkang telur selama 28 hari. Metode: Analisis kuantitatif pada bobot badan dan indeks organ tikus putih (Rattus norvegicus L.) galur Wistar menggunakan Microsoft excel dan SPSS uji One Way Anova. Hasil: Tidak adanya pengaruh serbuk cangkang telur terhadap kenaikan bobot badan tikus jantan dan betina. Efek penurunan indeks organ terjadi di kelompok tikus betina pada organ ginjal-anak ginjal, hati, limpa, pankreas, dan uterus-ovarium, sedangkan di kelompok tikus jantan terjadi pada organ hati dan testis. Efek peningkatan indeks organ juga terjadi di kelompok tikus betina pada organ limpa, dan uterus-ovarium, sedangkan pada kelompok tikus jantan di organ ginjal-anak ginjal, hati, pancreas, vesikula seminalis, dan testis. Kesimpulan: Tidak terjadi perubahan pada bobot badan, sedangkan pada indeks organ terjadi efek peningkatan dan penurunan tikus jantan dan betina
UJI FITOKIMIA EKSTRAK INFUSA KULIT PISANG (Musa acuminata x Musa Balbisiana)
Kulit pisang kepok (Musa acuminata x Musa balbisiana) merupakan limbah organik yang belum banyak dimanfaatkan dalam bidang Kesehatan. Kulit pisang kaya akan berbagai unsur mineral seperti Kalium, Natrium, Zink dan Mangan. Kulit pisang Kepok juga memiliki kandungan vitamin C, vitamin B, kalsium, protein, selulosa, hemiselulosa, pigmen klorofil, lemak, arabinosa, galaktosa, rhamnosa, dan asam galacturonic. Sehingga dapat dijadikan sebagai potensi tanaman obat. Pengetahuan tentang kandungan fitokimia tanaman menjadi sebuah dasar agar suatu tanaman dapat digunakan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia kulit pisang kepok serta rendemen yang dihasilkan dengan metode infusa. Infusa kulit pisang didapatkan rendemen sebesar 52,93%. Infusa kulit pisang kepok mengandung metabolit sekunder fenol, antrakinon dan flavonoid yang dibuktikan dengan hasil positif pada pengujian.
POTENSI PENGGUNAAN SHEA BUTTER DALAM PRODUK LIP CARE
Produk perawatan bibir ada banyak bentuk dan formulasinya. Shea butter adalah bahan yang paling banyak digunakan dalam kosmetik karena mudah diformulasikan dengan sejarah panjang penggunaan yang aman dalam kosmetik. Shea butter memiliki sifat pelembab yang sangat baik karena kandungan asam lemaknya yang tinggi. Shea butter juga memiliki banyak manfaat seperti fungsi sun-screening, sebagai emolien dan skin moisturizer, dan sebagai anti-aging. Produk lip care yang mengandung shea butter dengan konsentrasi 1.8% hingga 45% tergantung jenis produk lip care yang diformulasikan. Jurnal review ini dibuat dengan tujuan untuk melihat potensi penggunaan shea butter terutama dalam produk lip care
ANALISIS HUBUNGAN PENGGUNAAN OBAT ANALGESIK TERHADAP RISIKO HOSPITALISASI JATUH PADA PASIEN LANSIA RAWAT JALAN DI KLINIK SARAF RSUD DR SOEDARSO PONTIANAK
Jatuh merupakan salah satu masalah kesehatan tertinggi pada lansia. Jatuh pada lansia dapat memicu terjadinya hospitalisasi. Salah satu faktor ekstrinsik penyebab jatuh adalah penggunaan obat analgesik. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan studi kohort retrospektif. Data dikumpulkan dengan teknik purposive sampling. Data yang digunakan adalah data pasien lansia rawat jalan yang menggunakan obat analgesik dengan tanggal indeks pengobatan (Januari – Juni 2019). Analisis data dilakukan dengan program Statistical Product Service Solutions (SPSS) versi 16.0. Hasil: Penelitian ini menunjukan sebanyak 75% pasien menggunakan OAINS; 43,97% pasien menggunakan kombinasi 2 obat analgesik; dan 51,72% pasien menggunakan analgesik ?3-6 bulan. Hasil analisis menunjukan terdapat hubungan bermakna antara lama penggunaan >6-9 bulan (p= 0,029; RR= 0,338; CI95%= 0,112-1,019), serta tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis analgesik (p= 0,208; RR= 1,916; CI95%= 0,641-5,724), dan jumlah analgesik (p= 0,236; RR= 0,567; CI95%= 0,210-1,526) dengan risiko hospitalisasi jatuh. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukan lama penggunaan analgesik >6-9 bulan memiliki hubungan yang signifikan untuk terjadinya risiko hospitalisasi jatuh
STUDI PENGETAHUAN DAN PERSEPSI MAHASISWA KESEHATAN TERHADAP FARMAKOGENOMIK
Konsep pengobatan saat ini memiliki kelemahan, yaitu secara general, satu obat dengan dosis standar dapat diberikan untuk semua orang dengan penyakit yang sama. Hal ini tidaklah efektif mengingat perbedaan respons obat dapat terjadi bagi setiap individu akibat variasi genetiknya. Farmakogenomik dapat menjadi salah satu ilmu yang menjelaskan adanya perbedaan respons dari setiap individu terhadap obat yang diberikan. Pengetahuan seseorang yang baik terhadap sesuatu akan mempengaruhi individu dalam mempersepsikan hal tersebut secara positif. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengetahuan dan persepsi mahasiswa kesehatan terhadap ilmu farmakogenomik berdasarkan karakteristik. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Perekrutan sampel dilakukan dengan teknik quota sampling dan alat ukur kuesioner. Penelitian melibatkan 360 responden mahasiswa kesehatan di Universitas Tanjungpura. Hasil: Berdasarkan respon partisipan yang berasal dari program studi kedokteran, farmasi, dan keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, penelitian diikuti oleh perempuan sebanyak 273 responden (75,83%) dan laki-laki sebanyak 87 responden (24,17%) yang didominasi mahasiswa berusia rentang 19-20 tahun sebanyak 193 responden (53,05%). Tingkat pengetahuan terhadap farmakogenomik: terbaik (6,9%), sangat baik (35,6%), baik (42,2%), cukup baik (13,9%), dan kurang baik (1,4%), serta memiliki persepsi positif dengan tingkat pengetahuan baik sebesar 41,94%. Kesimpulan: Dengan frekuensi karakteristik partisipan tertinggi yaitu 53,05% pada usia 19-20 tahun dan 75,83% berjenis kelamin perempuan, diambil kesimpulan bahwa mahasiswa kesehatan di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura memiliki tingkat pengetahuan baik dan tingkat persepsi positif terhadap farmakogenomi
OINTMENT FORMULATION OF SNAKEHEAD FISH (Channa striata) EXTRACT AND KELULUT HONEY (Heterotrigona itama) WITH CMC-Na AS A BINDER
The ointment of snakehead fish extract and kelulut honey have been proven to be efficacious in the wound healing process. However, the ointment in previous studies underwent phase separation which indicated a lack stability of the preparation. In this study, CMC-Na was used as a binder to increase the consistency of the ointment by binding the water phase and preventing it from leaving the base. Methods: Variations in the concentration of CMC-Na used were 3% (F1); 4.5% (F2); and 6% (F3). The evaluation of the preparations was carried out in the form of organoleptic, homogeneity, dispersibility, adhesion, and protective power tests. The dispersion and adhesion power data were analyzed using the SPSS 21.0 program. Results: The ointment with CMC-Na was proven to have a denser consistency, so it was able to increase the stability of the ointment. The higher the CMC-Na concentration, the lower the dispersibility and the higher the adhesion of the preparation. F1 (CMC-Na 3%) had the highest average dispersive power of 5,09 cm. F3 (CMC-Na 6%) had the highest average adhesion of 1799 seconds. The SPSS analysis results showed that all formulas with CMC-Na had significant different dispersive and adhesion values from the control formula (? ? 0,05). Conclusions: Formula 1 (CMC-Na 3%) showed an ointment that meets the criteria with homogeneous preparation results, an average spreadability of 5-7 cm (5,09 cm), an average adhesion of not less than 4 seconds (1797,33 seconds), and has a good protective power
PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS TEH DAUN GAHARU (Aquilaria malaccensis)
Agarwood leaf (Aquilaria malaccensis) is one type of plant that can be used as a brewed drink.(1) The making of agarwood leaf tea is made for 15 minutes until it dissolves. Based on the results of phytochemical screening, the simplicia of agarwood leaves contains secondary metabolites such as flavonoids, phenols, tannins, saponins, and steroids.(2) A thin layer (TLC) using butanol as mobile phase: acetic acid: water (B:A: A) as eluent and silica gel GF254 as stationary phase. Spot examination using FeCl3 5% to detect phenolic group compounds and AlCl3 5% for flavonoids seen at UV light 254nm and 366nm.(3) The results showed that gaharu leaf tea that had been brewed obtained yellow spots indicating the group of flavonoid compounds and spots. The black color indicates the phenol group of compounds. Keyword: Tea, Agarwood Leaf, TLC, Flavonoid, Pheno