Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN
Not a member yet
344 research outputs found
Sort by
UJI EFEK HEPATOPROTEKTIF FRAKSI ETIL ASETAT DAUN KESUM (Polygonum minus Huds.) SEBAGAI KO-KEMOTERAPI PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI SISPLATIN
Kesum (Polygonum minus Huds.) yang merupakan tanaman endemik Kalimantan Barat diketahui memiliki aktivitas antioksidan dimana hasil skrining fitokimia yang menunjukan bahwa senyawa yang terkandung dalam fraksi etil asetat daun kesum yaitu flavonoid, alkaloid, polifenol. Sisplatin merupakan obat anti kanker yang digunakan dalam terapi kanker serviks dan ovarium, tetapi penggunaannya dalam dosis tinggi dapat menimbulkan kerusakan hati (hepatotoksisitas). Mekanisme hepatotoksisitas ini disebabkan peningkatan produksi ROS (Reactive Oxygent Species) pada hati. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efek hepatoprotektor fraksi etil asetat daun kesum dengan pengukuran kadar SGOT/SGPT menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis dan pengukuran derajat kerusakan hati. Metode ekstraksi menggunakan maserasi dengan pelarut metanol dan difraksinasi menggunakan pelarut etil asetat. Lima belas ekor tikus dibagi secara acak dalam lima kelompok, yaitu kontrol CMC, kontrol sisplatin (5 mg/kg BB), kelompok dosis I (0,707 mg/kg BB), dosis II (1,414 mg/kg BB) dan dosis III (2,828 mg/kg BB) yang diberi fraksi etil asetat daun kesum selama sepuluh hari. Data dianalisis dengan One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji LSD, dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukan bahwa sisplatin dapat menyebabkan hepatotoksisitas dengan kenaikan kadar SGOT/SGPT dan derajat kerusakan hati yang tinggi dibandingkan dengan kontrol CMC. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun kesum memiliki aktivitas sebagai hepatoprotektor, yang ditunjukkan dengan penurunan kadar SGOT/SGPT dan derajat kerusakan hati akibat penginduksian sisplatin adalah dosis I
OPTIMASI FORMULA SUSPENSI SIPROFLOKSASIN MENGGUNAKAN KOMBINASI PULVIS GUMMI ARABICI (PGA) DAN HYDROXYPROPYL METHYLCELLULOSE (HPMC) DENGAN METODE DESAIN FAKTORIAL
Siprofloksasin merupakan antibiotik yang memiliki kelarutan yang rendah dalamair dan memiliki bioavalaibilitas yang rendah di dalam tubuh. Siprofloksasin dibuatdalam sediaan suspensi karena obat yang tidak larut dapat terdispersi secara homogensehingga menghasilkan suatu sediaan yang stabil serta dapat meningkatkanbioavailabilitas obat tersebut di dalam tubuh. Tujuan dilakukan penelitian ini adalahmengetahui proporsi campuran bahan pensuspensi yang digunakan untuk menghasilkansifat fisik yang optimal. Sifat fisik yang diinginkan adalah suspensi yang memilikiviskositas rendah, partikel tidak cepat mengendap dan mudah teredispersi kembali.Penelitian ini menggunakan metode Desain Faktorial dengan perangkat lunak DesignExpert versi 8.0.7.1 trial untuk optimasi sifat fisik sediaan Pulvis Gummi Arabici (PGA)dan Hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) sebagai variabel bebas sedangkanviskositas, volume sedimentasi dan redispersibilitas merupakan variabel tergantung.Berdasarkan metode desain faktorial, diperoleh empat formula yaitu formula A, B, C danD dan diukur sifat fisiknya. Dari hasil analisis, formula optimum yang didapatkan adalahformula A yang dapat memprediksi 62% sifat fisik suspensi formula optimum. Pengujianstatistis sifat fisik suspensi formula optimum hasil percobaan dan prediksi menunjukkannilai p>0,05 atau tidak berbeda signifikan berarti metode desain faktorial dapatmemprediksi formula optimum. Aktivitas antibakteri suspensi formula optimum dankontrol positif juga tidak berbeda signifikan (p>0,05) yang artinya siprofloksasinmemiliki aktivitas antibakteri setelah diformulasikan dalam sediaan suspensi.Kata Kunci : siprofloksasin, suspensi, PGA, HPMC, Desain Faktoria
ANALISIS POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIDIABETIK ORAL PADA PASIEN DI INSTALASI RAWAT JALAN ASKES RUMAH SAKIT DOKTER SOEDARSO PONTIANAK PERIODE JANUARI- MARET 2013
Drug interaction is one of eight drug-related problems categories that may affectpatient clinical outcome. Increasing complexity of the drugs used in current treatment andthe likelihood of polypharmacy practices, make possible the incident of drug interactions.The research aims to know the number and mechanism of the drug-drug interactions inprescriptions contains oral antidibetic, identify drugs are often interact as well as analyzecorrelation between the number of medication in one prescription with drug interactionfound. The study was conducted in dr. Soedarso hospital, Pontianak from the January toMarch 2013. The research used non-experimental methodology by using descriptiveanalysis in a retrospective way. Data analysis using Chi-Square Test on SPSS 17.0. From1435 outpatient prescription sheets that meet the inclusion criteria, found that druginteractions occur 62.16% prescription which received medication oral antidibetic. Thepatterns of interaction mechanism are pharmacokinetic interaction 13.56%,pharmacodynamics 34.15%, and unknown 52.29%. The types of drugs that often interact,among metformin and gliclazide. Incidence of drug interactions occur 6 times higher insubjects who received ? 5 drugs compared with patients who received < 5. The result ofstatistical analysis showed that there is significant correlation between the number ofmedication in one prescription with incidence of drug interaction found drugs (p<0.05).Keyword : drug inteaction, oral antidiabetic, dr. Soedarso hospita
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI ETANOL DAUN BUAS-BUAS (Premna cordifolia Linn.) DENGAN METODE DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)
Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat aktivitas radikal bebas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari daun buas-buas.Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (2,2difenil-1-pikrilhidrazil)yang diawali dengan ekstraksi secara destilasi. Ekstrak etanolyang diperoleh difraksinasi dengan pelarut berdasarkan tingkat kepolaran yaitu n-heksan,kloroform dan etanol. Fraksi yang digunakan adalah fraksi etanol. Selanjutnya dilakukanskrining fitokimia dengan metode uji tabung dan uji pendahuluan dengan metode DPPHsecara kromatografi lapis tipis (KLT) dengan fase gerak kloroform p.a. Aktivitasantioksidan diukur secara spektrofotometer UV-Vis menggunakan DPPH 0,1 mM padapanjang gelombang 515,40 nm dan kontrol positif yang digunakan adalah vitamin C.Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa fraksi mengandung senyawa flavonoid,saponin, fenol dan alkaloid. Hasil KLT diperoleh 2 bercak dengan nilai hRf sebesar 38,75dan 61 yang divisualisasi dengan sinar UV 366 nm serta disemprot dengan DPPH 0,2%.Kedua bercak menunjukkan perubahan warna kuning dengan latar belakang ungu yangmenandakan fraksi memiliki aktivitas antioksidan. Hasil pengukuran secaraspektrofotometri menunjukkan bahwa fraksi mempunyai ICpada 27,853 ?g/ml,sedangkan vitamin C memiliki nilai ICyang lebih rendah yaitu 0,623 ?g/ml.Kata kunci: aktivitas antioksidan, daun buas-buas, DPPH