Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN
Not a member yet
344 research outputs found
Sort by
UJI SIFAT FISIK SEDIAAN SALEP KOMBINASI MADU KELULUT (Heterotrigona itama), EKSTRAK SIRIH HIJAU (Piper betle L.), DAN MINYAK CENGKEH (Syzygium aromaticum L.)
Madu kelulut (Heterotrigona itama), sirih hijau (Piper Betle L.), dan minyak cengkeh (Syzygium Aromaticum L.) telah banyak dimanfaatkan sebagai pengobatan herbal, salah satunya sebagai pengobatan luka. Selanjutnya perlu dilakukan formulasi ketiga bahan tersebut menjadi sediaan topikal, agar penggunaan dapat lebih mudah dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dari salep kombinasi madu kelulut, ekstrak sirih hijau, dan minyak cengkeh. Penelitian ini dilakukan dengan uji eksperimental. Uji sifat fisik salep yang dilakukan meliputi uji homogenitas, organoleptik, daya sebar, dan daya lekat. Hasil uji sifat fisik menunjukkan salep kombinasi madu kelulut, ekstrak sirih hijau, dan minyak cengkeh memiliki sifat fisik salep terdistribusi merata (homogen); konsistensi agak kental; berwarna hijau; bau khas sirih dan cengkeh; daya sebar sebesar 8,57 ± 0,31 cm, sehingga tidak memenuhi syarat rentang daya sebar salep yang baik; dan daya lekat sebesar 67,33 detik, sehingga memenuhi syarat daya lekat salep yang baik. Kata kunci: Uji Sifat Fisik Salep, Madu Kelulut, Ekstrak Sirih Hijau, Minyak Cengke
EVALUASI PENATALAKSANAAN TERAPI PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE TAHUN 2019
Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh infeksi virus dengue untuk itu dalam pengobatannya hanya diperlukan terapi suportif sebagai pengganti cairan tubuh dan terapi simtomatis seperti pemberian paracetamol untuk mengatasi demam dan tidak memerlukan antibiotik apabila tidak ada infeksi sekunder ataupun mengalami sindrom syok dengue (SSD). Penggunaan obat dan dosis yang tidak sesuai pada anak dapat memperburuk penyakit DBD yang diderita sehingga merupakan urgensi diperlukannya suatu pengkajian dan evaluasi terhadap pola penatalaksanaan DBD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pada pasien DBD serta evaluasi penatalaksanaan terapi pada pasien DBD. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan potong lintang yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data berdasarkan data rekam medis yang dilakukan dengan teknik accidental sampling. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini berjumlah 30 pasien. Hasil penelitian ditemukan karakteristik pasien laki-laki sebanyak 40% dan perempuan sebanyak 60%. Rentang usia pasien yang terlibat dalam penelitian ini berusia 2-5 tahun (33,33%) dan 6-12 tahun (66,67%). Evaluasi penatalaksanaan terapi penyakit DBD pada anak yaitu tepat pasien (100%), tepat indikasi (93,33%), tepat obat (93,33%), dan tepat dosis (86,67%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pasien yang paling banyak mengalami DBD berjenis kelamin perempuan (60%) dengan rentang usia paling banyak 6-12 tahun (66,67%) dan untuk tatalaksana terapi penyakit DBD sudah tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, dan tepat dosis
HUBUNGAN PENGETAHUAN TERHADAP PERILAKU PENGGUNAAN OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS UNTUK SWAMEDIKASI BATUK PADA MAHASISWA NON KESEHATAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA THE RELATIONSHIP OF KNOWLEDGE TO THE BEHAVIOR OF USING OVER THE COUNTER DRUGS AND FREE DRUGS IS LIMITED TO SELF-MEDICATION COUGH IN NON-HEALTH STUDENTS AT THE UNIVERSITY OF TANJUNGPURA
Swamedikasi dapat menjadi permasalahan kesehatan akibat keterbatasan pengetahuan mengenai obat sehingga akan mempengaruhi perilaku seseorang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku swamedikasi batuk serta hubungan pengetahuan terhadap perilaku penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas untuk swamedikasi batuk pada mahasiswa non kesehatan Universitas Tanjungpura. Rancangan penelitian observasional dengan metode cross sectional yang bersifat analitik. Subjek penelitian adalah mahasiswa non kesehatan semester 1 angkatan 2018 di Universitas Tanjungpura. Jumlah sampel 87 orang dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling. Pengambilan data melalui kuesioner. Analisis data yang di gunakan analisis regresi linear sederhana dengan alat bantu spss versi 22. Pengetahuan swamedikasi batuk pada mahasiswa non kesehatan Universitas Tanjungpura termasuk kriteria tinggi 72,53 % yang menjawab benar. Perilaku swamedikasi batuk termasuk kriteria tepat sebanyak 58,62 %. Hasil uji regresi linear di dapat nilai signifikansi sebesar 0,028. Simpulan penelitian ini menunjukan pengetahuan tinggi serta perilaku tepat. Pengetahuan berpengaruh terhadap perilaku penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas mahasiswa non kesehatan dalam melakukan swamedikasi batuk. Hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku adalah signifikan
PENETAPAN KADAR PROTEIN SEDIAAN SALEP FASE AIR EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striata) dan MADU KELULUT (Trigona Sp.) DENGAN METODE KJELDAHL
Ikan gabus sudah mulai banyak digunakan sebagai pengobatan dibidang Kesehatan terutama sebagai obat luka bakar dan pengobatan pasca operasi. Ikan gabus sendiri memiliki kandungan protein albumin yang lebih tinggi daripada ikan lain. Protein merupakan senyawa yang dapat membantu mempercepat penyembuhan luka. Selama proses penyembuhan luka, tubuh memerlukan asam lemak dan protein. Madu memiliki manfaat secara umum sebagai antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, bahkan membantu penyembuhan luka. Berdasarkan aktivitas yang dimiliki ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) ingin dikembangkan menjadi suatu sediaan pemakaian luar yang ditujukan untuk membantu penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kadar protein yang terkandung dalam sediaan salep fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) dengan penetapan kadar menggunakan metode Kjeldahl. Fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) dibuat dalam sediaan salep yang kemudian dilakukan pengukuran persentase kadar protein. Penetapan kadar protein dalam sediaan salep menggunakan metode Kjeldahl. Metode Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Hasil dari penelitian ini kadar protein menunjukan nilai rata-rata kadar protein 5.722 untuk salep tunggal dan 5.742 untuk salep kombinasi. Hasil menunjukan bahwa salep ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) memliki selisih kadar protein sebesar 0.02% lebih tinggi pada salep ekstrak ikan gabus dengan madu kelulut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa madu tidak mempengaruhi kadar protein secara signifikan didalam salep ikan gabus
Atorvastatin dan Simvastatin menginduksi nyeri otot pada masyarakat Pontianak
Simvastatin adalah obat yang paling umum dilaporkan terkait kejadian nyeri otot, selanjutya atorvastatin, hal ini menjadi salah satu faktor yang menghambat aktivitas sehari-hari pasien pengguna statin sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup. Sehingga, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui faktor resiko yang mempengaruhi kejadian nyeri otot yang diakibatkan dari penggunaan statin. Metode: Metode pengambilan sampel menggunakan kuesioner FIQR, dengan minimal sampel yang diperlukan adalah 46 orang. Penelitian dilakukan di Pontianak pada periode waktu Desember 2020 - Februari 2021. Hasil: Kejadian efek samping nyeri otot yang dirasakan oleh responden penelitian dalam penelitian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu usia pasien, jenis kelamin, dosis, terapi obat ganda. Responden penelitian mayoritas berusia 26-45 tahun, dan persentase jenis kelamin wanita lebih banyak mengikuti penelitian. Dosis statin yang memiliki resioko tinggi terhadap kejadian nyeri otot yang dirasakan oleh masyarakat Pontianak adalah simvastatin 10 mg. Kesimpulan: esimpulan penelitian ini adalah kejadian nyeri otot yang dirasakan oleh masyarakat Pontianak dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko yaitu, usia, jenis kelamin, dosis, dan penggunaan obat terapi ganda
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA) DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. RUBINI MEMPAWAH
Sectio caesarea adalah proses persalinan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Peningkatan jumlah persalinan dengan bedah sesar berbanding lurus dengan peningkatan kejadian infeksi luka operasi (ILO) pasca-operasi. Sekitar 90% morbiditas pasca operasi disebabkan oleh ILO. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik profilaksis dan efektifitas penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar di Rumah Sakit Umum Daerah dr Rubini Mempawah. Metode penelitian ini adalah penelitian obsevasional yang bersifat deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data rekam medis pasien bedah sesar pada tahun 2019. Sampel yang sesuai kriteria inklusi sebanyak 144 pasien, ditemukan (84%) berusia 20-35 tahun, status paritas G1P0A0 (35%), Lama Perawatan 4-5 hari (71%), skor ASA 2 (85%), Hemoglobin ?10 (77%), trombosit 150,000-400,000 (93%) dan hematokrit 26-34 (56%). Hasil penelitian yang diperoleh bahwa efektivitas pasien berdasarkan suhu dan leukosit efektif (100%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu sefalosporin injeksi terapi tunggal (34%), kombinasi nitroimidazol dan sefalosporin (4%), sefalosporin oral terapi tunggal (49%) dan kombinasi nitroimidazol dengan sefalosporin oral (4%)
Aktivitas imunomodulator dari buah naga (Hylocereus sp.): Literature review
Buah naga merupakan buah tropis yang banyak dikembangkan di Indonesia. Komponen bioaktif dari buah naga telah diteliti dapat meningkatkan sistem imun. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah aktivitas imunomodulator pada artikel penelitian dari buah naga. Metode: Studi dilakukan dengan metode studi kepustakaan melalui penelusuran artikel dari PubMed, Google Scholar dan Crossref. Hasil penelusuran diperoleh sepuluh artikel dari 2.307 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak satupun artikel memenuhi kriteria eksklusi. Hasil: Spesies tanaman buah naga yang ditelaah memiliki efek imunomodulator yaitu Hylocereus polyhizus dan Hylocereus undatus. Aktivitas imunomodulator buah naga mempengaruhi sistem imun non spesifik dengan meningkatkan aktivasi makrofag dan menurunkan sitokin proinflamasi. Selain itu, aktivitas imunomodulator juga mempengaruhi sistem imun spesifik dengan meningkatkan aktivasi limfosit. Kandungan yang memiliki efek immunomodulator pada tanaman buah naga yaitu lupeol, polifenol dan oligosakarida. Kesimpulan: Berdasarkan hasil kajian literatur, buah naga memiliki aktivitas imunomodulato
UJI PENETRASI SALEP FASE AIR ESKTRAK IKAN GABUS (Channa striata) DAN MADU KELULUT (Trigona sp) DENGAN PENENTUAN KADAR PROTEIN MENGGUNAKAN METODE LOWRY
Luka merupakan suatu bentuk kerusakan jaringan pada kulit. Terdapat banyak bahan alam yang digunakan untuk penyembuhan luka. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi dalam penyembuhan luka adalah Ikan Gabus (Channa striata). Ikan gabus (Channa striata) merupakan ikan air tawar yang mengandung protein tinggi terutama albumin yang sering digunakan untuk penyembuhan luka. Obat yang beredar di pasaran biasanya menggunakan antibiotik untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Dengan penggunaan antibiotik dapat menyebabkan resisten dalam penyembuhan luka. Bakteri yang resisten terhadap antibiotik menimbulkan ancaman serius, sehingga dibutuhkan pengobatan alternatif untuk mengganti dengan beralih ke bahan alam, salah satunya adalah madu Kelulut (Trigona Sp). Madu sebagai bahan alam dapat digunakan sebagai antibakteri. Pemanfaatan ikan gabus dalam penyembuhan luka dapat dioptimalkan dalam bentuk sediaan salep. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah madu dapat meningkatkan protein pada fase salep fase ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.). Penelitian menggunakan sel difusi Franz untuk mengetahui jumlah protein yang terpenetrasi melalui kulit tikus yang ditentukan dengan nilai fluks dan dianalisis secara deskriptif dengan penentuan kadar menggunakan metode Lowry. Hasil antara salep kombinasi dan salep tunggal, dimana salep kombinasi memiliki nilai fluks yang lebih besar (178.333 g/cm-2 jam-1 ) pada jam ke-18 dan salep tunggal memiliki nilai fluks yang lebih kecil (187.456 g/cm-2 jam-1 ) pada jam ke-18. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok tidak memberikan perbedaan yang signifikan
POTENSI PENGGUNAAN MINYAK ALPUKAT (Avocado Oil) SEBAGAI PELEMBAB
Minyak alpukat (avocado oil) dikenal dengan dengan khasiatnya yang mampu merawat kulit karena mengandung berbagai macam vitamin dan asam lemak. Komponen utama asam lemak yang terkandung dalam minyak ini adalah asam oleat yang berkhasiat untuk melembabkan kulit. Penggunaan sediaan pelembab (moisturizer) merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kulit kering. Pada jurnal review ini membahas tentang penggunaan minyak alpukat sebagai sediaan pelembab
STUDY OF KNOWLEDGE AND ATTITUDE OF HEALTH STUDENTS ABOUT PHARMACOGENOMICS
Pharmacogenomic studies in the field of pharmacy have a role in personalized medicine so they can guarantee the delivery of drugs with the correct dose, type, indication, time, and patient. Limited information about pharmacogenomics can affect the knowledge and attitude of health students. The knowledge that a personhas can influence their attitude. The purpose of this study was to analyze the relationship between knowledge andattitude of health students towards Pharmacogenomics. Methods: This research method is an observational analysis. The sampling technique used was quota sampling by distributing questionnaires or a google form to health students at the Faculty of Medicine, University of Tanjungpura. Data analysis was performed using the ChiSquare test at confidence level of 95%. Results: Based on the responses of 360 participants (involving medical, pharmacy, and nursing study programs) at The Faculty of Medicine, University of Tanjungpura, the most frequency of participants' age was the range 19-20 years (53.33%) with the gender of female (77.50%) and male (22.50%), it was found that the level of knowledge was the best (8,89%), very good (26,39%), good (44,44%), quite good (17,50%), and not good (2,78%). The level of participants' attitude of the role of pharmacogenomics are those who have positive attitude (77,78%) and negative attitude (22,22%). Conclusions: With the highest frequency of participant characteristics are 53% at the age of 19-20 years and 77% female, it can be concluded that the health students of the Faculty of Medicine, University of Tanjungpura had a good level of knowledge and a positive attitude about pharmacogenomics