Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN
Not a member yet
344 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK PENGGUNAAN OBAT ANTIPSIKOTIK DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SUNGAI BANGKONG PONTIANAK
The high incidence of schizophrenia in the inpatient unit of RSJD Sungai Bangkong Pontianak from 2012-2015, so it is necessary to evaluate the characteristics of drug use. This study aims to determine the characteristics of the use of antipsychotic drugs used in schizophrenic patients at the Bangkong River Mental Hospital Pontianak for the period January-December 2020. This study used a cross-sectional design and the sampling method was purposive sampling. Subjects in the study were patients with a diagnosis of schizophrenia. The object of the study used medical record data in January-December 2020. The results showed that the male sex was more likely to suffer from schizophrenia 76.36% and the female was 23.64%; age in the range of 26-45 years the most experienced schizophrenia with a total of 59.99%; the most common symptoms were positive symptoms of 80.24% and negative symptoms of 19.76%; Most schizophrenic patients are male with an age range of 26-45 years who have positive symptoms. Keyword: Antipsychotics, characteristics, hospital, schizophren
EVALUASI KARAKTERISTIK PENGGUNAAN OBAT DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SUNGAI BANGKONG PONTIANAK
Schizophrenia is a mental illness that can reduce the quality of human life. The main therapy in schizophrenia patients is generally given antidepressants and antipsychotics to manage the symptoms that arise, as well as improve the functionality and quality of life of the patient. This study aims to evaluate the characteristics of the use of antidepressant drugs at RSJD Sungai Bangkong, Pontianak. The research method is descriptive and data collection is retrospective. The object of the study used medical record data in January-December 2020. The research subjects were patients with a diagnosis of schizophrenia. The results showed that 51.85% were male and 48.15% were female; age 26-45 had the greatest number of schizophrenia as much as 70.37%; paranoid schizophrenia type by 85.19% and residual schizophrenia type by 14.81%; and the most widely used antidepressant was the Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) group as much as 70.37%. Most schizophrenic patients are male with an age range of 26-45 years who have the characteristics of paranoid schizophrenia. Keywords: antidepressants, characteristics, hospital, schizophreni
PENETAPAN KADAR PROTEIN SEDIAAN SALEP EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striata) dan MADU KELULUT (Trigona Sp.) DENGAN MENGGUNAKAN METODE BIURET
Luka adalah jenis kerusakan pada jaringan dikulit yang disebabkan oleh paparan sumb er yang panas (bahan air panas, kimia, radiasi, api, listrik), oleh perawatan medis, atau peruba han oleh kondisi fisiologis. Luka disebabkan oleh kerusakan fungsi juga anatomi tubuh. Salah satu oleh b ahan alami diketahui dapat mempercepat regenerasi luka yaitu ikan gabus (Channa striata). kandungan air oleh ekstrak ikan gabus memiliki albumin dan juga asam amino, dan kandungan minyak mengandung kadar asam lemak, omega tiga dan omega enam. Mereka berperan pada proses regenerasi luka, meredakan risiko oleh infeksi. Bakteri berterresisten terhadap antibiotik merupakan ancaman fatal. Akibatnya, ada alternatif pencarian pengobataniseperti antibiotik bahan ala m, seperti Trigona Sp. Penggunaan ikan channa dengan madu trigona kelulut pada perbaikan luka da pat dioptimalkan pada bentuk formulasi salep. Salep adalah formulasi semi-padat pada penggunaan eksternal atau topikal yang mudah diterapkan. Tujuan penelitian a dalah untuk mengukur kadar salep protein senyawa fase air ekstrak cairan gabus (Channa striata) d an madu kerlut (Trigona Sp.) dengan metode Biuret. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sa lep kombinasi ekstrak fase air gabus (Channa striata) dan madu kerrut (Trigona sp.) memilik i kandungan protein yang lebih tinggi olehpada salep tunggal, dan konsentrasi rata-rata salep kombinasi adalah 68633. bahwa ada. Ini adalah ± 769,8, dan hasil konsentrasi rata-rata satu salep adalah 67490,2 ± 1619,98. Kata kunci: gabus (Channa striata), madu kerlut (Trigona Sp.), protein, metode biuret
Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Praktek Pemusnahan Obat pada Masyarakat Kota Pontianak
Pemusnahan obat merupakan kegiatan penyelesaian terhadap obat-obatan yang tidak terpakai karena kadaluarsa, rusak, ataupun mutunya sudah tidak memenuhi standar. Tujuan dilakukan pemusnahan ini ialah untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan obat yang tidak memenuhi persyaratan mutu keamanan dan kemanfaatan, selain itu pemusnahan juga bertujuan untuk menghindari pembiayaan seperti biaya penyimpanan, pemeliharaan, penjagaan atas obat atau perbekalan kesehatan lainya yang sudah tidak layak untuk dipelihara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional non eksperimental menggunakan rancangan studi potong lintang (cross sectional) yang bersifat deskriptif dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dalam bentuk google form kepada masyarakat Kota Pontianak. Sampel yang diperoleh sebanyak 117 responden. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei -Juni 2021. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pemusnahan obat pada masyarakat di Kota Pontianak termasuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 61 responden dengan persentase 52,13% dan tingkat perilaku pemusnahan obat pada masyarakat di Kota Pontianak termasuk dalam kategori kurang yaitu sebanyak 87 responden dengan persentase 74,35%
Formulasi minuman serbuk instan kombinasi jahe (Zingiber officinale rosc) dan kunyit (Curcuma domestica val.) dengan variasi gula pasir dan gula merah
Jahe (Zingiber officinale Rosc) dan kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan jenis tanaman herbal yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Pengembangan minuman fungsional jahe dan kunyit agar lebih praktis dapat dikemas dalam bentuk serbuk instan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat fisik dan tingkat kesukaan masyarakat pada minuman serbuk instan kombinasi rimpang jahe dan kunyit dengan penggunaan gula pasir (F1) dan variasi gula pasir dengan gula merah 3:1 (F2). Minuman serbuk instan dibuat menggunakan metode kristalisasi gula. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan gula pasir dan variasi gula pasir dengan gula merah pada F1 dan F2 mempengaruhi karakteristik sifat fisik minuman serbuk instan dengan nilai pH, kadar air, indeks pengetapan, waktu alir dan sudut diam pada F1 masing-masing sebesar 6,52; 0,39%; 12,37%; 14,27 g/detik; dan 28,3?, sedangkan pada F2 masing-masing sebesar 6,12; 1,61%; 5,27%; 8,93 g/detik; dan 31,25?. Tingkat kesukaan masyarakat terhadap F1 dan F2 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada warna dan aroma, namun tidak berbeda signifikan pada rasa
STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIINFLAMASI GOLONGAN STEROID SEBAGAI TERAPI ADJUVAN PADA PASIEN PNEUMONIA USIA BALITA DI RSUD DR. SOEDARSO PONTIANAK
Latar Belakang: Pneumonia merupakan salah satu penyakit paru yang disebabkan adanya infeksi akut pada daerah saluran pernapasan bagian bawah. Infeksi ini dapat disebabkan oleh serangan bakteri, virus serta mikoplasma. Antibiotik merupakan pengobatan lini pertama pada pasien pneumonia. Penggunaan antiinflamasi golongan steroid menjadi terapi penunjang yang diberikan pada pasien pneumonia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui obat-obat antiinflamasi golongan steroid beserta dosis dan lama pemberiannya pada pasien pneumonia di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soedarso Pontianak. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah potong-lintang yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan pada rekam medis pasien yang terdiagnosa pneumonia dengan penggunaan obat steroid. dan dilakukan dengan teknik total sampling. Hasil: Hasil analisis rekam medis dari 22 pasien yang memenuhi kriteria inklusi diperoleh hasil obat tunggal yang cenderung diberikan pada pasien adalah deksametason dan budesonid dengan persentase yang sama yaitu sebesar 47,37%, sedangkan obat kombinasi yang cenderung diberikan adalah budesonid dan prednison dengan persentase sebesar 66,67%. Dosis obat steroid yang cenderung diberikan adalah deksametason >500 mikrogram/kgBB sebesar 24%, budesonid 0,25-0,5mg/ml sebesar 48%, dan prednison >0,05-2 mg/kgBB/hari sebesar 8%. Lama pemberian obat steroid yang cenderung diberikan adalah ? 5 hari dengan persentase sebesar 72,73%. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini yaitu obat-obat antiinflamasi golongan steroid yang digunakan di RSUD dr.Soedarso Pontianak adalah deksametason, budesonid dan prednison dengan dosis masing-masing yang cenderung pada deksametason >500 mikrogram/kgBB, budesonid 0,25-0,5mg/ml, dan prednison >0,05-2 mg/kgBB/hari serta dengan lama pemberian yang cenderung ? 5 hari. Kata kunci : Pneumonia, Obat Steroid, Deksametason, Budesonid, Predniso
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KETEPATAN PEMILIHAN OBAT INFLUENZA UNTUK PENGOBATAN MANDIRI DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
Swamedikasi merupakan upaya yang dilakukan oleh seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit yang sedang dideritanya tanpa terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada dokter. Swamedikasi dilakukan terutama untuk penyakit ringan, seperti influenza. Pengetahuan tentang influenza sangat diperlukan dalam pemilihan obatnya sehingga masyarakat dapat memperhatikan komposisi obat flu yang diminum agar komponen obat sesuai dengan gejala flu yang dialami. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang pengobatan mandiri influenza dan hubungan pengetahuan dengan ketepatan pemilihan obat influenza di kalangan mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak. Desain penelitian ini observasional dengan rancangan potong lintang yang bersifat analitik. Pengambilan sampel dengan teknik quota sampling dan pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dalam bentuk google form kepada mahasiswa aktif Universitas Tanjungpura. Sampel yang diperoleh sebanyak 99 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 63% responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, 18% responden memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 18% responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Hasil dari ketepatan pemilihan obat menunjukkan bahwa ketepatan pemilihan obat influenza adalah sebesar 55% tepat obat dan 45% tidak tepat obat. Hasil hubungan tingkat pengetahuan dengan ketepatan pemilihan obat didapatkan hasil korelasi tersebut mempunyai taraf signifikansi sebesar 0,026 < 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan ketepatan pemilihan obat influenza
Analisis Perbedaan Tekanan Darah pada Akseptor Kontrasepsi Oral Kombinasi yang Memiliki Usia Berisiko Kardiovaskular di Puskesmas Pal III Pontianak
Penggunaan kontrasepsi oral kombinasi diketahui dapat menimbulkan efek samping berupa peningkatan tekanan darah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji hubungan antara usia akseptor dengan kejadian hipertensi pada akseptor kontrasepsi oral kombinasi dan mengkaji rata-rata tekanan darah pada akseptor kontrasepsi oral kombinasi di Puskesmas Pal III Pontianak. Metode penelitian bersifat analitik observasional menggunakan rancangan studi kohort retrospektif. Pengumpulan data rekam medik akseptor dilakukan pada periode Januari 2020-Juni 2020 kemudian diikuti perkembangan penyakit hingga Juni 2021, lalu diamati kejadian hipertensi. Pengolahan data menggunakan Statistical Product and Service Solution versi 25 dan uji Chi-Square dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia 35- 39 tahun sebesar 53,33% dan kelompok usia 40-49 tahun sebesar 46,66%, sedangkan akseptor mengalami hipertensi sebesar 13,33%, dan yang tidak mengalami hipertensi sebesar 86,66% (p-value=1,000; RR=0,875; CI=0,066-11,542), rata-rata kenaikan tekanan darah akseptor kelompok usia 35-39 tahun terjadi peningkatan tekanan darah sistolik dan tidak terjadi peningkatan tekanan darah diastolik (120,63/75,75 mmHg menjadi 122,88/72,63 mmHg), sedangkan akseptor kelompok usia 40-49 tahun tidak terdapat rata-rata peningkatan tekanan darah sistolik maupun diastolik (134,43/87,57 mmHg menjadi 126,43/82,57). Kesimpulan penelitian, menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan pada akseptor kontrasepsi oral kombinasi terhadap kejadian hipertensi dan terjadi peningkatan rata-rata tekanan darah sistolik pada kelompok usia 35-35 tahun
PENGARUH EMULGATOR TRIETANOLAMIN DAN ASAM STEARAT TERHADAP SIFAT FISIK FORMULA LOSION EKSTRAK MINYAK CINCALOK
Cincalok merupakan makanan yang terbuat dari fermentasi udang rebon dan merupakan makanan khas Kalimantan Barat, Indonesia. Cincalok mengandung senyawa astaxanthin yang berasal dari udang rebon yang memiliki sifat antioksidan kuat. Ekstrak minyak cincalok dapat diformulasikan menjadi sediaan losion untuk perawatan kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh emulgator trietanolamin dan asam stearat terhadap sifat fisik losion ekstrak minyak cincalok. Sediaan losion ekstrak minyak cincalok kemudian diuji sifat fisiknya antara lain uji organoleptis, homogenitas, daya sebar, daya lekat, pH , viskositas,dan ukuran globul. Hasil penelitian menunjukkan losion ektrak minyak cincalok memiliki tekstur yang lembut, warna jingga, bau khas rose oil, homogen dengan pH 7.5, viskositas 170 poise, daya sebar 5.4 cm, daya lekat 155 detik dan ukuran globul 2.471 µm. Losion ekstrak minyak cincalok yang menggunakan emulgator trietanolamin dan asam stearat memiliki sifat fisik yang baik
UJI SIFAT FISIK SEDIAAN SALEP KOMBINASI MADU KELULUT (Heterotrigona itama) DAN EKSTRAK SIRIH HIJAU (Piper betle Linn.)
Salep merupakan sediaan semi padat yang mudah digunakan sebagai obat luar dan memiliki keuntungan tidak mengiritasi kulit. bahan alam yang dapat digunakan sebagai zat aktif dalam pembuatan salep yakni madu kelulut (Heterotrigona itama) dan sirih hijau (Piper betle Linn). Madu kelulut memiliki kemampuan menstimulasi proses pengangkatan jaringan mati. Sirih hijau memiliki banyak manfaat yakni menahan pendarahan, menyembuhkan luka kulit, membersihkan tenggorokan dan sariawan. Peneliti bertujuan untuk mengetahui sifat fisik sediaan salep kombinasi madu kelulut (Heterotrigona itama) dan ekstrak sirih hijau (Piper betle Linn.). Uji sifat fisik yang dilakukan meliputi uji daya lekat, uji daya sebar, uji homogenitas dan uji organoleptic. Hasil uji sifat fisik menunjukkan uji organoleptik yang stabil, uji daya sebar 9,10 ± 0,10, uji daya lekat 54,67 ± 3,86 dan terdistribusi merata (homogen). Kata kunci: Salep, Uji Sifat Fisik, Madu Kelulut, Sirih Hijau ABSTRACT Ointment is a semi-solid preparation that is easy to use as an external medicine and has the advantage of not irritating the skin. Natural ingredients that can be used as active substances in the manufacture of ointments are kelulut honey (Heterotrigona itama) and green betel (Piper betle Linn). Kelulut honey has the ability to stimulate the process of removing dead tissue. Green betel has the advantage of being able to prevent the bleeding, healing skin wounds, clearing throat and mouth sores. The objective of this study was to determine the physical properties of the combination of kelulut honey (Heterotrigona itama) and green betel extract (Piper betle Linn.). The physical properties test carried out included the adhesion test, the spreadability test, the homogeneity test and the organoleptic test. The results of the physical properties test show that the organoleptic test was stable, the spreadability test was 9.10 ± 0.10, the adhesion test was 54.67 ± 3.86 and distributed homogeneously Key words: Ointment, Physical Properties Test, Kelulut Honey, Betel Gre