Tugas Akhir Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    221 research outputs found

    Sifat Organoleptik Mi Basah Subtitusi Tepung Labu Kuning Dalam Jumlah Yang Berbeda.

    No full text
    oai:ojs.karya-ilmiah.um.ac.id:article/10442ABSTRAK   Mandjasari, D, P. 2010. Sifat Organoleptik Mi Basah Subtitusi Tepung Labu Kuning Dalam Jumlah Yang Berbeda. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Teti Setiawati, M. Pd, (2) Ir. Ummi Rohajatien, M. P.   Kata Kunci: tepung labu kuning, mi basah, sifat organoleptik. Mi basah adalah mi yang terbuat dari tepung terigu berprotein tinggi dengan penambahan bahan-bahan lain seperti soda abu, telur, air, garam, tepung tapioka dan minyak goreng. Tepung labu kuning adalah tepung yang terbuat dari labu kuning dengan proses pengeringan menggunakan mesin pengering. Pada penelitian ini dilakukan penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan tepung labu kuning dan menentukan jumlah tepung labu kuning yang akan digunakan dalam penelitian ini. Penelitian utama yaitu uji mutu hedonik dan uji hedonik pada mi basah subtitusi tepung labu kuning dalam jumlah yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dalam pembuatan mi basah dengan subtitusi tepung labu kuning yang berbeda, yaitu 30%, 40%, dan 50%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik mi  basah subtitusi tepung labu kuning meliputi rasa, warna dan tekstur berdasakan uji mutu hedonik dan uji hedonik. Data diperoleh dari hasil pengisian format penilaian yang dilakukan oleh panelis agak terlatih sebanyak 20 orang dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Data akan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan Duncan’s Mutiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu organoleptik rasa, warna, dan tekstur terdapat perbedaan yang sangat nyata. Hasil uji mutu hedonik mi basah subtitusi tepung labu kuning menunjukkan bahwa semakin sedikit penggunaan tepung labu kuning pada pembuatan mi basah, maka akan memberikan hasil berupa rasa yang cenderung kurang tajam, warna kuning, dan tekstur kenyal. Mi basah dengan subtitusi 30% menghasilkan rasa labu kuning kurang tajam, warna mi basah kuning, dan tekstur mi basah kenyal yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Sedangkan untuk hasil uji hedonik mi basah subtitusi tepung labu kuning menunjukkan semakin sedikit penggunaan tepung labu kuning pada pembuatan mi basah, maka panelis semakin menyukai rasa, warna, dan tekstur mi basah. Mi basah subtitusi tepung labu kuning sebesar 30% merupakan mi basah yang menghasilkan rasa labu kuning (kurang tajam), warna (kuning), dan tekstur (kenyal) yang cenderung disukai oleh panelis. Kesimpulan hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin sedikit penggunaan tepung labu kuning, maka rasa labu kuning pada mi basah akan semakin kurang tajam, warna mi basah akan kuning, dan tekstur mi basah akan kenyal. Saran bagi masyarakat yang akan membuat mi basah subtitusi tepung labu kuning disarankan untuk menggunakan subtitusi tepung labu kuning sebesar 30%. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah bagaimana cara untuk memperpanjang daya simpan mi basah

    Inovasi Wingko Berbahan Dasar Tepung Gadung

    No full text
    ABSTRAK   Gustami, Erni. 2011. Inovasi Wingko Berbahan Dasar Tepung Gadung. Tugas Akhir. Progam Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si. (2) Ir. Ummi Rohajatien, M.P.   Kata Kunci: Wingko, tepung gadung, kelapa parut               Wingko gadung adalah produk wingko yang dibuat dengan menggunakan tepung gadung dan kelapa parut sebagai bahan utama. Penggunaan kelapa parut bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan tingkat kesukaan yang meliputi rasa, tekstur, aroma, dan warna dari wingko gadung tersebut.             Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yaitu membuat wingko berbahan dasar tepung gadung dengan persentase yang berbeda serta penambahan kelapa parut dalam jumlah yang berbeda. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Sidik Ragam, apabila ada perbedaan yang signifikan, dilanjutkan uji Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian uji pembedaan pasangan menunjukkan rasa wingko berbahan dasar tepung gadung 70% dengan penambahan kelapa parut 30% lebih baik dari kontrol dengan derajat perbedaan yaitu berbeda sedikit dengan kontrol (wingko dari tepung beras ketan) skor rerata (5,69). Perbedaan tekstur wingko berbahan dasar tepung gadung 70% dengan penambahan kelapa parut 30% lebih baik dari kontrol dengan derajat perbedaan yaitu berbeda sedikit dengan kontrol (wingko dari tepung beras ketan) skor rerata (5,99). Perbedaan aroma wingko berbahan dasar tepung gadung 70% dengan penambahan kelapa parut 30% lebih baik dari kontrol dengan derajat perbedaan yaitu berbeda sedikit dengan kontrol (wingko dari tepung beras ketan) skor rerata (5,96). Perbedaan warna wingko berbahan dasar tepung gadung 70% dengan penambahan kelapa parut 30% lebih baik dari kontrol dengan derajat perbedaan yaitu berbeda sedikit dengan kontrol (wingko dari tepung beras ketan) skor rerata (5,87). Hasil uji pembedaan pasangan wingko gadung dengan wingko menunjukkan bahwa semakin tinggi persentase penambahan kelapa parut dalam pembuatan wingko gadung memberikan hasil berupa rasa wingko yang terlalu manis, tekstur mudah rapuh, aroma terlalu harum, dan warna coklat kehitaman. Hasil uji hedonik wingko gadung menunjukkan tingkat kesukaan wingko berbahan dasar tepung gadung 70% dengan penambahan kelapa parut 30% untuk rasa memperoleh skor rerata (3,54), tekstur memperoleh skor rerata (3,54), aroma memperoleh skor rerata (3,63), dan warna memperoleh skor rerata (3,66) yaitu panelis memilih kriteria suka. Wingko dengan 70% tepung gadung dan penambahan kelapa parut 30% merupakan wingko yang menghasilkan rasa, tekstur, aroma, dan warna yang berbeda sedikit dengan kontrol (wingko dari tepung beras ketan) dan disukai oleh panelis.        Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan kelapa parut dalam pembuatan wingko gadung akan menghasilkan produk yang hampir sama dengan wingko yang terbuat dari tepung beras ketan. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah perlu diteliti mengenai daya simpan produk inovasi dari tepung gadung dan pemanfaatan tepung gadung sebagai produk olahan yang berdaya jual tinggi

    PEMBUATAN TORTILLA BERBAHAN DASAR LABU KUNING

    No full text
    ABSTRAK     Fatima, Dwi Lulut Nur. 2011. Pembuatan Tortilla Berbahan Bahan Dasar Labu Kuning. Tugas Akhir, Program Studi DIII Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Teti Setiawati, M.Pd. (II) Laili Hidayati S.Pd, M.Si Kata Kunci: Labu Kuning, Tortilla, Tortilla  Labu Kuning. Labu kuning merupakan jenis tanaman menjalar dari golongan cucurbicacea, yang pada umumnya diolah sebagai sayur, dodol dan manisan. Labu kuning juga mengandung banyak ß-karoten, selain itu labu kuning juga memiliki pati yang hampir sama dengan jagung sehingga labu kuning juga berpotensial diolah sebagai tortilla. Tortilla merupakan salah satu makanan ringan yang pada umumnya terbuat dari jagung, dan rasanya gurih. Tortilla banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Inovasi produk olahan labu kuning sebagai tortilla ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis labu kuning di masyarakat. Labu kuning yang digunakan sebagai bahan pembuatan tortilla yaitu labu kuning lokal jenis bokor. Uji coba resep dilakukan empat kali uji coba untuk mendapatkan produk yang baik. Formulasi awal yang digunakan adalah resep dasar tortilla dengan mengganti bahan dasar, yang awalnya menggunakan 100 g  jagung diganti dengan 100 g labu kuning. Formulasi resep yang kedua menambahkan jintan dan mengganti teknik pengeringan dengan menggunakan mesin pengering dan menghilangkan proses nixtamal. Formulasi yang ketiga menambahkan jagung giling ampok (Bahasa Jawa) dan mengganti proses pematangan dengan cara dioven. Formulasi yang keempat mengganti ampok dengan tepung terigu dan tepung tapioka. Setelah uji coba resep, dilakukan uji kesukan produk kepada responden, dalam hal ini responden yang digunakan untuk menguji adalah masyarakat umum. Uji coba ini bertujuan untuk mengetahui kesukaan responden terhadap produk tortilla labu kuning. Formulasi resep keempat tidak bisa dijadikan sebagai resep tortilla, tetapi resep tersebut merupakan resep dari kripik simulasi labu kuning. Produk yang dihasilkan memiliki tekstur agak keras, warna kuning dan memiliki rasa gurih. Hasil uji kesukaan menunjukkan 73,33% responden suka terhadap tekstur kripik simulasi, 77,78% suka akan warna kripik simulasi dan 76,67% suka terhadap rasa kripik simulasi. Saran untuk uji coba selanjutnya perlu dilakukan uji coba pembuatan tortilla dengan cara labu kuning dimatangkan terlebih dahulu, produk kripik simulasi labu kuning dapat dijadikan sebagai peluang berwirausaha, sebagai tambahan variasi produk olahan dari labu kuning dan dapat dijadikan sebagai pengetahuan untuk materi mata kuliah Teknologi Pengolahan Makanan industr

    pembuatan es puter berbahan dasar aneka sayuran

    No full text
    ABSTRAK   Dewi, Nurul, Kumala. 2011. Pembuatan Es Puter Berbahan Dasar Aneka Sayuran. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si (II) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd.   Kata Kunci: Sayuran, Es Puter, Uji Kesukaan, Kesimpulan. Sayuran  bermanfaat untuk tubuh karena mengandung nilai gizi yang sangat tinggi, yaitu vitamin, karbohidrat, protein, mineral, lemak, dan lain-lain. Beberapa di antara sayuran bisa digunakan sebagai pemberi warna, pemberi rasa dan aroma. Bayam merah mengandung likopen sehingga memeberi warna merah. Wortel mengandung alfa dan beta karoten sebagai pemberi warna jingga. Daun kelor mengandung klorofil memberi warna hijau. Bahan yang digunakan es puter  seperti es batu serut, santan, gula, dan rasa buah tertentu dicampur di dalam wadah kuali tinggi. Es puter umumnya terbuat dari santan ditambah dengan kelapa muda, ketan hitam dan buah-buah lainnya. Es puter sayuran adalah es puter yang dibuat dari sari daun bayam merah, sari wortel dan sari daun kelor. Penulis memilih sayuran karena sayur yang digunakan untuk es puter berfungsi sebagai pemberi warna, rasa, flavour dan aroma. Pembuatan es puter dilakukan sebanyak tiga kali uji coba resep agar bisa menghasilkan warna, rasa, flavor, dan tekstur yang diharapkan. Pengolahan sayuran menjadi sari sayuran yaitu pemilihan bahan, blanching,menghaluskan dengan blender, dan penyaringan. Proses pengolahan sari sayuran menjadi es puter yaitu dengan mencampur sari sayuran dengan susu kental manis, dan garam, perebusan, pembekuan, pengemasan dan penyimpanan. Warna yang dihasilkan tiga jenis warna, rasa manis, flavor tidak terasa, dan tekstur lembut. Jenis penilitian ini adalah penelitian uji hedonik atau uji kesukaan terhadap es puter sayuran. Adapun kriteria yang diuji dari segi warna, rasa, flavor, dan tekstur. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa responden menyukai es puter sayuran, terlihat dari segi warna 84,4%, rasa 64,5%, flavour 58,8%, dan tekstur 68,8%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bagi penulis selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang pengolahan es puter yang dibuat dari bahan sari sayuran. Perlu adanya penelitian lanjutan tentang sayuran-sayuran yang tidak memiliki flavor untuk pembuatan es puter

    PENGGUNAAN BAYAM MERAH SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN DALAM PEMBUATAN BISKUIT

    No full text
    ABSTRAK   Pindasti, Windriati. 2011. Penggunanan Bayam Merah sebagai Bahan Tambahan dalamPembuatan Biskuit. Tugas Akhir. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Dra. Mazarina Devi, M, Si. (2) Dra. Nunung Nurjanah, M, Kes.   Kata Kunci: Biskuit, Bayam Merah, Uji kesukaan.   Biskuit adalah produk makanan kecil yang renyah dibuat dengan cara dipanggang (baking). Ciri-ciri biskuit diantaranya renyah dan kering, bentuk umumnya kecil, tipis dan rata. Biskuit merupakan produk makanan yang dibuat dari bahan dasar terigu dibuat tanpa peragian dengan kandungan air rendah kurang dari 5%. Penambahan bayam merah pada biskuit bisa menjadikan sebagai inovasi produk makanan baru. Bayam merah adalah salah satu jenis dari tumbuhan bayam, yang memiliki ciri-ciri batang yang bewarna merah gelap dan memiliki daun yang tidak terlalu lebar diujung daunnya runcing. Bayam merah memiliki kandungan gizi yang cukup banyak salah satunya terdapat kandungan karetenoid, yaitu Provit A yang memiliki sifat tidak larut air, tetapi jika dipanaskan bahan tersebut kandungan gizinya tidak akan mati. Selain itu juga memiliki kandungan sifat yang larut ke dalam lemak yang dapat menambah nilai gizi pada biskuit bayam merah. Awal pembuatan biskuit bayam merah menggunakan bayam merah yang dijadikan tepung. Penambahan tepung yang digunakan dalam pembuatan biskuit menghasilkan biskuit yang tidak baik, selanjutnya biskuit bayam merah ditambahkan dengan bayam merah yang diambil sarinya. Penambahan sari ke dalam biskuit menghasilkan biskuit yang baik. Penambahan sari bayam merah adalah formulasi yang tepat dalam pembuatan biskuit. Tugas akhir ini membahas tentang uji kesukaan terhadap biskuit bayam merah. Adapun kriteria yang diuji dari segi warna, rasa, tekstur dan aroma. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa sebagian responden yang menyukai rasa biskuit bayam merah sebesar 82,2%, responden yang menyukai warna sebesar 57,8%, responden yang menyukai tekstur sebesar 56,6% dan responden yang menyukai aroma sebesar 51,2%.

    PEMBUATAN MI KERING SUBSTITUSI PATI BENGKUANG

    No full text
    ABSTRAK   Puspitosari, Wahyu Sapti. 2011. Pembuatan Mi Kering Substitusi Pati Bengkuang. Tugas Akhir, Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Teti Setiawati, M. Pd, pembimbing (II) Dra. Nunung Nurjanah, M. Kes   Kata Kunci: mi kering, bengkuang, pati bengkuang, uji kesukaan   Mi kering adalah mi yang mempunyai daya simpan lebih lama (dapat mencapai beberapa bulan) bergantung pada kadar air dan cara penyimpanannya. Umbi bengkuang mengandung gula, pati serta fosfor dan kalsium. Kandungan gizi dari 100 g umbi bengkuang mengandung energi 55 kkal, protein 1,4 g, lemak 0,2 g, karbohidrat 12,8 g, kalsium 15 mg, fosfor 18 mg, besi 0,6 mg, vitamin C 20 mg, vitamin B1 0,04 mg, vitamin A 0,00 mg, dan air 85,1 g. Bengkuang merupakan buah yang banyak mengandung karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi resep mi kering substitusi pati bengkuang dan tingkat kesukaan responden terhadap tekstur, aroma dan rasa mi kering subtitusi pati bengkuang. Uji coba pembuatan produk mi kering subtitusi pati bengkuang dilakukan sebanyak lima kali, dengan formulasi yang berbeda. Formulasi resep mi kering substitusi pati bengkuang yang tepat adalah formulasi mi yang kelima dengan substitusi pati bengkuang sebesar 10 g, dan menghasilkan mi dengan tekstur kenyal, aroma tidak apek dan rasa gurih. Hasil dari uji kesukaan terhadap mi kering substitusi pati bengkuang yaitu kurang dari setengah (40%) responden menyatakan suka dengan tekstur mi kering subsitusi pati bengkuang. Hasil dari uji kesukaan terhadap mi kering substitusi pati bengkuang yaitu kurang dari setengah (30%) responden menyatakan suka dengan aroma mi kering subsitusi pati bengkuang. Hasil dari uji kesukaan terhadap mi kering substitusi pati bengkuang yaitu kurang dari setengah (37,78%) responden menyatakan suka dengan rasa mi kering subsitusi pati bengkuang.

    Pengolahan Wortel Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Nata

    No full text
      ABSTRAK  Kartikasari, Risma. 2011. Pengolahan Wortel Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Nata. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Teti Setiawati, M. Pd (2) Laili Hidayati, S. Pd, M.Si Kata Kunci : Nata, Wortel, Uji Kesukaan. Nata termasuk minuman berserat tinggi dan rendah kalori. Nata merupakan suatu bahan menyerupai gel (agar-agar) yang terapung pada medium yang mengandung gula dan asam hasil pembentukan mikroorganisme Acetobacter xylium. Nata de carrot merupakan minuman yang terbuat dari jus wortel, yang mempunyai tekstur agak kenyal dan berwarna putih transparan. Masalah dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui formula resep yang tepat dalam pembuatan nata de carrot, untuk mengetahui kesukaan konsumen terhadap warna dan tekstur nata de carrot.Pengolahan nata de carrot ini dilakukan dua kali uji coba resep agar dapat menghasilkan warna dan tekstur nata pada umumnya. Formula resep yang tepat pada produk nata de carrot adalah 1200 ml jus wortel, gula 60 gr, asam asetat glasial 2 ml, asam sitrat 0.7 gr, pupuk ZA 2 gr, bibit nata 120 ml. Garam inggris 0.7 gr.  Pengolahan wortel menjadi jus yaitu, melalui proses penghancuran wortel menjadi jus dan  direbus dengan gula selama ± 30 menit, penambahan bahan bantu, pewadahan dan pendinginan, penambahan bibit atau stater, fermentasi selama 6-7 hari, pascapanen selama 6-7 hari. Tekstur yang dihasilkan, yaitu agak kenyal, berwarna putih transparan.Uji kesukaan responden terhadap warna dan tekstur nata de carrot dilakukan dengan cara memberi angket dan produk. Respondennya adalah anak-anak, remaja dan dewasa. Hasil uji kesukaan warna nata de carrot pada produk  yang disukai sebanyak 64.4% sehingga warna produk nata de carrot diasumsikan dapat diterima oleh respoden karena warna nata de carrot tidak berbeda dengan warna nata pada umumnya, yaitu putih transparan. Tekstur  nata de carrot yang disukai sebanyak 82.1% sehingga tekstur nata de carrot diasumsikan sangat dapat diterima oleh responden karena tekstur nata de carrot hampir sama dengan tekstur nata pada umumnya, yaitu agak kenyal, agar nata de carrot lebih dikenal dan disukai banyak masyarakat sebaiknya air nata de carrot diberi perasa lain misalnya melon atau leci.

    Brownies Kukus Tepung Sukun

    No full text
    ABSTRAK   Lingga, Gokmaria.2011. Brownies Kukus Tepung Sukun. Tugas Akhir Program Studi D3 Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Ir. Ummi Rohajatien, M. P  (II) Ir. Budi Wibowotomo, M.Si   Kata Kunci: Tepung Sukun, Brownies Kukus Buah sukun adalah tumbuhan dari genus Artocarpus dalam family moraceae.  Buah sukun memiliki nilai ekonomi yang cukup  baik dan mengandung karbohidrat yang tinggi sehingga dapat dibuat sebagai bahan dasar dalam pembuatan brownies, selain itu juga dapat memperluas wacana tentang pemanfaatan buah-buahan khususnya buah sukun. Setelah dilihat  tentang sukun dan manfaatnya maka penggunaan dari sukun dan tepungnya dapat menghasilkan bermacam-macam produk termasuk brownies. Brownies adalah kue bertekstur agak keras dan padat dan dikenal dengan warna coklat pekat karena mengandung coklat yang tinggi. Pembuatan produk ini dilakukan guna mengetahui kesukaan konsumen terhadap warna, rasa, aroma dan tekstur dari brownies kukus tepung sukun. Pemakaian tepung sukun dalam pembuatan brownies bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi  serta membuat suatu produk yang bervariasi dari buah sukun serta mengembangkan hasil dari buah sukun menjadi suatu produk baru yaitu brownies kukus tepung sukun. Data hasil dari uji coba kesukaan ini di peroleh dari hasil pengisian format penilaian uji kesukaan panelis. Panelis yaitu dari masyarakat yang belum terlatih. Analisis data digunakan dengan cara uji coba kesukaan terhadap brownies kukus tepung sukun. Kesimpulan penulis ini adalah penggunaan bahan yang sesuai dengan resep standar sehingga menghasilkan brownies kukus tepung sukun. Teknik yang dilakukan pada brownies ini adalah teknik pengukusan. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa responden yang menyukai warna brownies sebanyak 94,44% ( 85 orang), rasa 66,67% ( 60 orang), aroma 56,67% (51 orang), tekstur 65, 56% (59 orang). Saran dari penulis ini adalah menjadikan produk brownies kukus tepung sukun sebagai peluang berwirausaha dan menjadikan inovasi produk olahan dari tepung sukun

    Bakpao dengan Penambahan Tepung Wortel

    No full text
    ABSTRAK  Khumairah, Aizatul. 2011. Bakpao dengan Penambahan Tepung Wortel. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I). Ir. Ummi Rohajatien, M.P (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: bakpao, tepung wortel.                    Bakpao merupakan makanan tradisional Tionghoa yang dibuat dari adonan terigu yang diberikan isian, lalu dikukus sampai mengembang dan matang. Pembuatan bakpao dengan penambahan tepung wortel bertujuan untuk menampilkan bakpao dengan warna lain yaitu kuning dengan menggunakan pewarna alami yang aman, rasa bakpao tersebut juga menjadi agak manis sehingga tidak memerlukan banyak gula didalamnya. Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui kesukaan konsumen terhadap rasa, tekstur dan warna bakpao wortel. Responden yang dijadikan untuk pengambilan data adalah masyarakat umum dengan kategori anak-anak, remaja dan dewasa.                   Wortel adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. Wortel merupakan sayuran yang mudah didapatkan dan sangat murah tetapi manfaatnya sangat banyak bagi kesehatan tubuh kita. Ada beberapa orang terutama anak-anak tidak menyukai sayuran ini karena mungkin belum mengetahui apakah manfaat wortel yang sangat kaya vitamin. Wortel diubah menjadi bahan setengah jadi dalam bentuk tepung wortel untuk penambahan adonan pembuatan bakpao. Jumlah perbandingan tepung terigu dan tepung wortel dalam pembuatan bakpao adalah tepung terigu 300gr dan tepung wortel 50gr.                    Hasil uji kesukaan terhadap bakpao dengan penambahan tepung wortel yaitu diperoleh persentase kesukaan rasa bakpao wortel pada responden anak-anak yang menyatakan suka sebanyak 42,4% dan tidak suka sebanyak 57,6%, responden remaja yang menyatakan suka sebanyak 85,2% dan tidak suka sebanyak 14,8%, responden dewasa yang menyatakan suka sebanyak 96,3% dan tidak suka sebanyak 3.7%. Persentase kesukaan tekstur bakpao wortel pada responden anak-anak sebanyak 73,1% dan tidak suka sebanyak 26,9%, responden remaja yang menyatakan suka sebanyak 88,9% dan tidak suka sebanyak 11,1%, responden dewasa yang menyatakan suka sebanyak 92,6% dan tidak suka sebanyak 7,4%. Persentase kesukaan warna bakpao wortel pada responden anak-anak yang menyatakan suka sebanyak 88,3% dan tidak suka sebanyak 11,7%, responden remaja yang menyatakan suka sebanyak 100%, responden dewasa yang menyatakan suka sebanyak 96,3% dan tidak suka sebanyak 3,7%.                  Kesimpulan dari penulisan ini adalah tepung wortel yang ditambahkan pada adonan bakpao wortel sebanyak 50gr, rasa yang dihasilkan manis gurih dengan tekstur empuk dan warna kuning cerah. Pengukusan bakpao dilakukan selama 10 menit karena tingkat kematangan bakpao sudah dicapai, jika lebih dari 10 menit tekstur permukaan bakpao menjadi kempis dan tidak mulus

    Pengolahan Paprika Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Manisan kering

    No full text
    ABSTRAK   Darajat, Abarul Rafi’ud. 2011. Pengolahan Paprika Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Manisan Kering. Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M. Si (II) Ir. Ummi Rohajatien, M.P     Kata Kunci: Manisan Kering Paprika, Uji Hedonik Paprika sebagai bahan dasar pembuatan manisan kering adalah karena pada umumnya manisan menggunakan buah-buahan atau cabe sebagai bahan dasar. Tujuan dari menggunakan paprika sebagai bahan dasar yaitu bahan baku yang yang sangat melimpah dan menambah varian makanan dari jenis manisan. Paprika merupakan produk hortikutural yang dapat dikonsumsi sebagai bahan campuran aneka masakan maupun dalam bentuk produk olahan, selain merupakan komuditas yang melimpah paprika merupakan salah satu sayuran yang baik untuk tubuh, sedangkan manisan kering paprika merupakan jenis makanan olahan yang berwarna seperti pada aslinya dan bertekstur kering tetapi tidak keras. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui prosedur pembuatan manisan yang tepat untuk manisan kering paprika, kesukaan masyarakat/responden terhadap warna, aroma dan tekstur manisan kering paprika. Formulasi resep yang tepat untuk manisan kering paprika adalah formulasi resep yang kedua. Formulasi resep tersebut menghasilkan manisan yang bertekstur kering tetapi tidak keras. Penggunaan gula pasir berpengaruh pada warna dan keawetan manisan yang dihasilkan. Gula yang dipakai adalah gula pasir yang berwarna putih bersih agar dihasilkan warna manisan yang tetap cerah. Hasil dari uji kesukaan warna manisan kering paprika sebanyak 79 dengan prosentase 77,78% dan yang menyukai rasa manisan kering paprika sebanyak 62 dengan prosentase 68,89%, yang menyukai tekstur dari manisan kering paprika sebanyak 44 responden dengan prosentase 48,89%. Total responden menyatakan tidak suka sebanyak 46 dengan prosentase 51,1%. Dari uji hedonik yang dilakukan banyak responden kurang menyukai. Kesimpulan penulisan ini adalah konsentrasi gula pada proses penggulaan adalah 100% dari jumlah bahan. Teknik pengeringan yang dilakukan  adalah penjemuran (sun drying) Responden lebih menyukai warna manisan kering paprika dan responden kurang menyukai aroma dari manisan kering paprika

    0

    full texts

    221

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Tugas Akhir Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇