Tugas Akhir Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    221 research outputs found

    Substitusi Tepung Daging Ikan Kakap Merah (Lutjanus sp.) dalam Pembuatan Kulit Pie

    No full text
    ABSTRAK   Nurani, Firda Sufi. 2013. Substitusi Tepung Daging Ikan Kakap Merah (Lutjanus sp.) dalam Pembuatan Kulit Pie. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si. (II) Dra. Teti Setiawati, M.Pd.   Kata Kunci: Substitusi, tepung daging ikan kakap merah, kulit pie.   Pie merupakan olahan yang termasuk dalam golongan pastry yang mudah dikreasikan dengan aneka rasa, baik asin maupun manis. Bahan dasar pembuatan kulit pie yaitu terigu, lemak dan air. Semua bahan baku yang digunakan dalam keadaan dingin untuk menghindari pengembangan gluten dan menghasilkan kulit pie yang renyah saat dipanggang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi resep yang tepat dalam pembuatan kulit pie ikan kakap merah yang akan diuji, mengetahui tentang tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, warna, tekstur dan aroma produk kulit pie ikan kakap merah. Panelis dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2010-2011 dan 2011-2012 sebanyak 30 orang. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa formula yang tepat untuk membuat kulit pie dengan substitusi tepung daging ikan kakap merah menggunakan perbandingan formula 14,6% tepung daging ikan kakap merah dan 29,2% terigu dengan komposisi bahan sebagai berikut 5% air,17,5% telur, 29,2% butter, 3,5% gula halus, dan 0,7% garam. Formulasi resep yang sesuai adalah formulasi resep yang kedua yaitu terigu 200 g dengan substitusi tepung daging ikan kakap merah sebanyak 100 g. Formulasi kedua menghasilkan kulit pie ikan kakap merah dengan rasa gurih, tekstur renyah, warna golden brown dan aroma ikan yang khas. Hasil uji kesukaan panelis terhadap produk pie yang disubstitusi tepung daging ikan kakap merah dapat diterima dengan tingkat persentase untuk rasa sebanyak 46,67% panelis menyatakan suka, panelis menyatakan suka terhadap tekstur sebanyak 43,33%, panelis menyatakan suka terhadap warna sebanyak 70% dan panelis menyatakan agak suka sebanyak 43,33% terhadap aroma. Saran bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian tentang mengurangi aroma ikan yang kuat pada kulit pie substitusi tepung daging ikan kakap merah. Masyarakat yang akan membuat kulit pie dengan substitusi tepung daging ikan kakap merah memastikan tepung daging ikan benar-benar kering.

    Penggunaan Tempe Dalam Pembuatan Cookies.

    No full text
    ABSTRAK   Insani Hamidah. 2012. Penggunaan Tempe Dalam Pembuatan Cookies. Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si (II) Laili Hidayati S.Pd. M.Si   Kata Kunci : Tempe, cookies Cookies adalah salah satu jenis snack ukuran kecil yang banyak digemari di Indonesia dengan tekstur yang renyah. Selain mudah dan cepat dalam pembuatannya cookies ini sangat beragam dan hampir semua jenis cookies bahan utamanya adalah terigu. Tujuan penggunaan tempe dalam pembuatan cookies adalah untuk menambah protein, lemak, dan karbohidrat. Cookies tempe adalah makanan ringan dengan kualitas rasa yang baik dengan kandungan gizi yang baik pula.   Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji hedonik atau uji kesukaan. Uji hedonik dilakukan untuk tingkat kesukaan panelis terhadap penggunaan tempe dalam pembuatan cookies yang meliputi warna, rasa, tekstur. Panelis yang digunakan untuk uji hedonik sebanyak 30 orang.   Hasil dari uji kesukaan penggunaan tempe dalam pembuatan cookies, 40% panelis menyatakan agak suka terhadap warna, 56,7% panelis menyatakan agak suka terhadap rasa, 50% panelis menyatakan biasa saja terhadap tekstur. Saran dapat menambah variasi produk yang berasal dari tempe, dan penelitian dapat dijadikan referensi baru dalam mengembangkan  pemanfaatan sumber pangan yang baru serta sebagai pengayaan materi kuliah pastry

    Pemanfaatan Kacang Merah (phaseolus vulgaris L) Sebagai bahan Subtitusi dalam Pembuatan Mie Basah

    No full text
    ABSTRAK   Rantiarni, Maya. 2012. Pemanfaatan Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L)Sebagai Bahan Substitusi dalam Pembuatan Mie Basah. D3 Tata BogaJurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.Pembimbing (1) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si; (2) Lismi AnimatulChisbiyah, S.Pd., M.Pd.   Kata Kunci: mie basah, kacang merah, uji kesukaanMie merupakan produk pasta yang dibuat dari adonan tepung terigudengan bentuk yang khas. Salah satu contoh produk mie basah adalah jenis mieyang mengalami proses perebusan setelah tahap pemotongan dan sebelumdipasarkan. Penelitian ini memanfaatkan kacang merah sebagai substitusi dalampembuatan mie basah. Tujuan penelitian adalah mendapatkan formulasi,mengetahui kesukaan panelis terhadap produk mie basah substitusi kacangmerah, mengetahui kandungan protein dan kalkulasi harga jual mie basahsubstitusi kacang merah.Pembuatan mie basah substitusi kacang merah diawali dengan pembuatantepung kacang merah, proses dilakukan 3 kali untuk mengetahui tingkatkesukaan dilakukan uji hedonik oleh 40 orang panelis. Kandungan proteindihitung berdasarkan jumlah bahan yang dapat dimakan (Bdd).Hasil penelitian menunjukan formula yang tepat untuk produk mie basahsubstitusi kacang merah adalah formula ke 3 yaitu 10 g tepung kacang merah, 50g tepung terigu, air khi 10 ml, telur 1 butir, garam 1 g, dan air dingin 10 ml. Hasiluji kesukaan menunjukkan bahwa lebih dari setengah 26 panelis (65%) menyukairasa mie basah, lebih dari setengah 24 panelis (60%) menyukai tekstur miebasah, lebih dari setengah 28 panelis (70%) menyukai rasa mie basah.Kandungan protein mie basah substitusi kacang merah sebanyak 19,59 g,sedangkan harga jual mie basah substitusi kacang merah Rp. 3.700,perkemasandengan berat 90 g

    Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa pada Kompetensi Dasar Menyediakan Layanan Makanan dan Minuman di Restoran di SMK Negeri 1 Batu.

    No full text
    ABSTRAK   Febriandini, Devi. 2013. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa pada Kompetensi Dasar Menyediakan Layanan Makanan dan Minuman di Restoran di SMK Negeri 1 Batu. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Teti Setiawati, M.Pd., (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si.   Kata kunci: Pelaksanaan Pembelajaran, Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Peserta didik selain diharapkan mampu berkompeten juga diharapkan mampu memiliki karakter yang baik. Proses pembelajaran pada kompetensi dasar menyediakan layanan makanan dan minuman di SMK Negeri 1 Batu, guru hanya memaksimalkan pencapaian kompetensi sehingga mengesampingkan proses internalisasi karakter pada saat pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa pada perangkat pembelajaran, proses pembelajaran dan faktor-faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran melayani makan dan minum serta peserta didik kelas XI program studi keahlian Tata Boga yang digunakan sebagai populasi pendukung dalam penelitian, sehingga jumlah populasi pada penelitian ini adalah 62 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan 53 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil analisis data diketahui pelaksanaan pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa pada perangkat pembelajaran kompetensi dasar menyediakan layanan makanan dan minuman di SMK Negeri 1 Batu termasuk dalam kategori kurang baik dalam mencantumkan nilai budaya dan karakter yang akan dikembangkan dengan jumlah skor penilaian 7. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa pada proses pembelajaran kompetensi dasar menyediakan layanan makanan dan minuman di SMK Negeri 1 Batu termasuk dalam kategori baik dengan persentase 75,63%. Faktor-faktor penghambat guru dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah lingkungan sekolah dan peserta didik yang kurang memahami arti dan fungsi karakter yang akan dikembangkan karena tidak ada sosialisasi yang diberikan oleh pihak sekolah atau guru. Guru seharusnya tidak hanya melakukan pembiasaan kepada peserta didik, tetapi juga mampu memberikan contoh bagaimana cara bersikap dan berperilaku yang baik. Guru seharusnya merencanakan nilai budaya dan karakter yang akan dikembangkan dengan cara mengintegrasikan dan mencantumkan nilai karakter pada silabus dan RPP, serta melakukan penilaian karakter lebih spesifik, sehingga guru dapat mengetahui perkembangan karakter pada masing-masing peserta didik pada setiap jenjangnya. Pihak sekolah melakukan sosialisasi mengenai pentingnya penerapan pendidikan budaya dan karakter bangsa pada peserta didik

    Evaluasi Pengelolaan Laboratorium Patiseri Pada Program Studi Pendidikan Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang.

    No full text
      ABSTRAK   Sari, Hilvina Sekar. 2013. Evaluasi Pengelolaan Laboratorium Patiseri Pada Program Studi Pendidikan Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. (I) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si., (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si.   Kata kunci: pendidikan tata boga, laboratorium patiseri, evaluasi pengelolaan   Program Studi  Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Malang  mempunyai visi mewujudkan program studi S1 Pendidikan Tata Boga sebagai pusat keunggulan dan  lembaga rujukan penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan, penelitian dan penerapan ilmu serta teknologi kependidikan dalam bidang Tata Boga yang relevan dengan kebutuhan pembangunan dan masyarakat. Proses pembelajaran di program studi tata boga terdiri dari mata kuliah praktik dan teori. Pada program studi pendidikan tata boga seharusnya memiliki lima laboratorium yaitu laboratorium pengolahan makanan, laboratorium patiseri, laboratorium gizi, laboratorium teknologi makanan/industri, laboratorium cafeteria/restoran. Laboratorium patiseri berfungsi sebagai tempat pembuatan berbagai produk patiseri dengan variasi bentuk, rasa, warna, dan isi untuk berbagai kesempatan. Pengolahan produk patiseri perlu didukung dengan adanya laboratorium yang memadai. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi mekanisme pengelolaan laboratorium dan kesesuai peralatan laboratorium khususnya laboratorium patiseri terhadap Standar Minimal Laboratorium, Workshop, dan Studio Pendidikan dan Kejuruan Jenjang S1. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik deskriptif. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa, persentase kesesuaian peralatan laboratorium patiseri dengan Standar Minimal Laboratorium pada substansi kajian membuat produk patiseri dengan variasi bentuk dan rasa untuk berbagai kesempatan adalah 68,8%. Persentase kesesuaian peralatan substansi kajian mencetak berbagai produk candy dengan berbagai macam bentuk dan ukuran adalah 62,5%. Persentase kesesuaian peralatan substansi kajian menata berbagai produk patiseri pada display adalah 70,19%. Persentase kesesuaian peralatan substansi kajian menggunakan berbagai macam cetakan kue untuk berbagai produk patiseri sebesar 94,12%. Mekanisme pengelolaan Laboratorium Patiseri Program Studi Pendidikan Tata Boga yang sudah dilaksanakan dengan baik adalah penjadwalan penggunaan laboratorium, pengadaan alat, dan peminjaman alat. Sedangkan mekanisme pengelolaan yang belum terlaksana adalah belum adanya struktur organisasi dan pembagian tugasnya secara tertulis, fasilitas k3 masih ada yang kurang, serta pelaksanaan tata tertib yang belum sesuai dengan prosedur dan tidak adanya SOP laboratorium

    PENGGUNAAN CUMI-CUMI (LOLIGO) SEBAGAI BAHAN UTAMA PEMBUATAN ABON

    No full text
    ABSTRAK   Arina, Hesty Rizky. 2013. Penggunaan Cumi-cumi (Loligo) sebagai Bahan Utama Pembuatan Abon. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Titi Mutiara Kiranawati, M.P, (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes.   Kata Kunci: Penggunaan, Abon, Cumi-cumi   Abon merupakan salah satu olahan dengan daya awet tinggi dan merupakan salah satu produk siap konsumsi yang aman bagi konsumen. Cumi-cumi sebagai salah satu sumber protein yang tinggi masih terbatas proses pengawetannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi abon cumi-cumi, mengetahui kesukaan penelis terhadap rasa, warna, dan tekstur abon cumi-cumi. Uji coba pembuatan abon cumi-cumi dilakukan sebanyak dua kali. Uji coba pertama cumi-cumi diolah menggunakan teknik pengolahan panggang dan uji coba kedua digunakan teknik pengolahan cumi-cumi kukus. Berdasarkan hasil uji coba formula abon cumi-cumi diperoleh teknik pengolahan kukus sebagai teknik pengolahan cumi-cumi yang kemudian dilakukan uji kesukaan. Panelis terdiri dari 30 orang panelis agak terlatih, yaitu mahasiswa S1 Tata Boga angkatan 2011. Penelitian terhadap produk dilakukan dengan cara memberikan sampel produk yang diilanjutkan uji kesukaan. Bentuk instrumen analisis uji kesukaan menggunakan analisis deskriptif. Hasil uji hedonik yang dilakukan, persentase tertinggi pada rasa abon cumi-cumi adalah 26,7% panelis menyatakan agak tidak menyukai. Uji kesukaan tertinggi pada warna abon cumi-cumi adalah 36,8% panelis menyatakan agak menyukai. Uji kesukaan tertinggi tekstur abon cumi-cumi adalah 30% panelis menyatakan biasa saja. Formula resep abon yang digunakan yaitu dengan penggunaan gula merah 200 gram, gula putih 100 gram, dan santan 300 ml sehingga menghasilkan produk abon cumi-cumi yang manis. Pada pembuatan abon cumi-cumi disarankan menggunakan gula putih saja dan proses akhir akhir digoreng untuk mendapatkan abon yang kering.

    UJI ORGANOLEPTIK ONDE-ONDE KETAWA SUBSTITUSI TEPUNG SUWEG (Amorphophallus campanalatus Bl.) DENGAN PERSENTASE YANG BERBEDA

    No full text
    ABSTRAK   Rijayanti, Nurul. 2013. Sifat Organoleptik Onde-onde Ketawa Subtitusi Tepung Suweg (Amorphophallus campanalatus Bl.) Dengan Persentase Yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. (2) Ir. Ummi Rohajatien, M.P.   Kata Kunci: onde-onde ketawa, tepung suweg, suweg   Onde-onde ketawa adalah produk makanan ringan yang sejenis onde-onde padat berbentuk bulat merekah tanpa isi dengan lapisan wijen. Onde-onde ketawa berbahan dasar terigu, kemudian disubstitusi dengan tepung suweg. Tepung suweg yang digunakan berasal dari tepung suweg segar yang telah dikeringkan lalu dihaluskan. Suweg berbentuk bulat berukuran besar dengan diameter sekitar 28 cm, berat sekitar 3 kg, kulit berwarna coklat, dan bagian dalam berwarna kuning. Penggunaan substitusi tepung suweg bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik yang meliputi warna, tekstur, dan rasa melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen pada pembuatan onde-onde ketawa subtitusi tepung suweg dengan persentase yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dilakukan tiga kali pengulangan dengan jumlah panelis 20 orang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis sidik ragam, apabila ada perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji Duncan's Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan sangat nyata pada taraf signifikan 1% terhadap  warna, tekstur, dan rasa onde-onde ketawa subtitusi tepung suweg dengan persentase 20%, 30%, dan 40%. Hasil uji mutu hedonik menunjukkan onde-onde ketawa subtitusi tepung suweg dengan persentase 20% menghasilkan warna agak kurang coklat keemasan dengan skor 2,06, tekstur rapuh dengan skor 4,48, dan rasa agak kurang manis dengan skor 1,98. Onde-onde ketawa subtitusi tepung suweg dengan persentase 30% menghasilkan warna agak coklat keemasan dengan skor 3,05, tekstur netral dengan skor 2,81, dan rasa netral dengan skor 2,23. Onde-onde ketawa subtitusi tepung suweg dengan persentase 40% menghasilkan warna agak coklat keemasan dengan skor 3,96, tekstur agak kurang rapuh dengan skor 1,78, dan rasa manis dengan skor 4,34. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa onde-onde ketawa subtitusi tepung suweg dengan persentase 20% merupakan tekstur yang paling disukai oleh panelis dengan tingkat kesukaan 55%, dan onde-onde ketawa substitusi tepung suweg dengan persentase 40% merupakan warna dan rasa yang paling disukai oleh panelis dengan tingkat kesukaan 68,33% dan 53,33%.

    PEMANFAATAN IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS) SEBAGAI BAHAN SUBTITUSI PEMBUATAN CAMILAN STICK

    No full text
    ABSTRAK   Widiantoro, Ebit. 2013. Pemanfaatan Ikan Cakalang Sebagai Bahan Subtitusi Pembuatan Camilan Stick. Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si., (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd.   Kata Kunci: Ikan Cakalang, Camilan Stick, Subtitusi   Camilan stick atau  stick merupakan jajanan gurih berbentuk tongkat pipih yang digoreng menggunakan minyak banyak sampai kue mengembang dan berwarna kuning kecoklatan. Jajanan ini terbuat dari terigu, tepung maizena juga menggunakan telur dan margarin untuk pengemulsi serta garam, keju, bawang atau kaldu instan sebagai perasa. Agar dihasilkan rasa yang inovatif dan khas, stick ditambah dengan  tepung ikan. Ikan yang digunakan yaitu ikan cakalang karena hasil tangkapan banyak dan belum maksimal dalam pemanfaatan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui formulasi resep dalam pembuatan stick dengan subtitusi tepung ikan cakalang dan mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, warna dan tekstur terhadap stick dengan subtitusi tepung ikan cakalang. Uji coba formulasi resep dalam pembuatan stick dengan subtitusi tepung ikan cakalang dilakukan sebanyak 3 kali. Panelis dalam penelitian ini adalah mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Malang sebanyak 25 orang. Metode yang digunakan dalam perhitungan uji kesukaan yaitu menggunakan perhitungan persentase dan data dianalisis menggunakan analisa deskriptif. Formulasi resep produk stick cakalang yang digunakan ialah formulasi uji coba ke-3 yaitu penambahan tepung ikan cakalang sebanyak 60 gram dengan 140 gram terigu protein sedang. Hasil uji kesukaan terhadap rasa stick cakalang tertinggi yaitu sebanyak 52 % berada pada katerogi suka sebab rasa yang dihasilkan gurih khas ikan. Hasil uji kesukaan terhadap warna stick cakalang tertinggi yaitu sebanyak 36% berada pada kategori agak suka sebab warna yang dihasilkan coklat muda bukan coklat keemasan, sedangkan untuk hasil uji kesukaan terhadap tekstur stick cakalang tertinggi sebanyak 44% berada pada kategori suka dan agak suka sebab tekstur yang dihasilkan renyah. Harga jual yang dapat digunakan sebagai nilai tukar produk sebesar Rp. 33.100/300 gram.

    Substitusi Tepung Kacang Merah Dalam Pembuatan Kue Semprong.

    No full text
    ABSTRAK   Wijayanti D.A. 2012. Substitusi Tepung Kacang Merah Dalam Pembuatan Kue Semprong. Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga. Pembimbing (I) Dr.Dra. Mazarina Devi, M.Si.  (II) Dra. Nunung Nurjanah M.Kes.   Kata Kunci : kue semprong, kacang merah, uji hedonik     Kue semprong merupakan kue tradisional yang banyak dikonsumsi didaerah Jawa dan Sumatra. Kue semprong kacang merah merupakan kue semprong yang terbuat dari substitusi tepung kacang merah dan bahan campuran lainnya. Tujuan penelitian  ini adalah mengetahui formulasi resep yang tepat untuk pembuatan kue semprong kacang merah dan tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, warna, dan tekstur.       Proses pembuatan kue semprong kacang merah diawali dengan membuat tepung kacang merah, kemudian ditambahkan bahan tepung beras, tepung ketan, telur, santan, garam, gula. Kemudian dibuat menjadi adonan dan dicetak menggunakan cetakan khusus untuk kue semprong. Penulisan ini merupakan laporan dari uji coba resep yang dilakukan sebanyak 2 kali dengan formulasi resep yang berbeda dengan uji kesukaan terhadap panelis atau uji hedonik  meliputi rasa,tekstur, warna. Panelis yang dijadikan sebagai objek pengambilan data uji kesukaan adalah masyarakat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa sebanyak 30 panelis.       Hasil dari uji kesukaan kue semprong kacang merah 46,6%  menyukai warna dari kue semprong kacang merah dengan kriteria agak suka dari 30 responden, 50% menyukai  rasa dari kue semprong kacang merah dengan kriteria agak suka dari 30 panelis, 50% menyukai tekstur dari kue semprong dengan kriteria agak suka dari 30 panelis

    Study Komparatif Perkembangan Gerak Lari Cepat 30 Meter Anak Usia 7-9 Tahun Berdasarkan Status Gizi Di Kota dan Kabupaten Malang.

    No full text
    ABSTRAK   Kurniawan, Edwinsyah Wahyu Romadani. 2012. Study Komparatif Perkembangan Gerak Lari Cepat 30 Meter Anak Usia 7-9 Tahun Berdasarkan Status Gizi Di Kota dan Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Asim, M. Pd. (II) Drs. Agus Tomi, M. Pd.   Kata Kunci: Perkembangan Gerak Lari Cepat 30 Meter Anak Usia 7-9 Tahun Berdasarkan Status Gizi. Faktor gizi penting untuk memacu pembangunan, khusunya yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia berkualitas. Kualitas asupan gizi yang baik tentunya akan berpengaruh terhadap status gizi setiap idividu. Status gizi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keaktifan para peserta didik. Hal ini di karenakan status gizi merupakan gambaran keadaan keseimbangan antara tinggi rendahnya asupan gizi seseorang. Semakin tinggi asupan gizi seseorang tentu akan berbanding lurus dengan tingginya status gizi seseorang. Hal ini akan mempengaruhi terhadap tingkat perkembangan gerak lari cepat 30 meter anak. Dengan demikian status gizi anak berpengaruh terhadap tingkat perkembangan gerak lari anak tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan gerak lari cepat 30 meter anak usia 7-9 tahun berdasarkan status gizi di Kota dan Kabupaten Malang.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross-sectional. Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelompok anak usia 7-9 tahun yang dijadikan sampel mewakili kelompok anak usia 7-9 tahun, dan penelitian ini dilakukuan pada waktu yang relative sama dengan satu kali tes tanpa ada tes lanjutan.Berdasarkan hasil perhitungan anak status gizi baik menggunakan uji Anova menggunakan program SPSS menjelaskan bahwa nilai signifikansi 0,000 kurang dari 0,05, artinya H0 ditolak. Begitu juga anak status gizi kurang menggunakan uji Anova mengunakan program SPSS menjelaskan bahwa nilai signifikansi 0,000 kurang dari 0,05, artinya H0 ditolak.   Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan perkembangan gerak lari cepat 30 meter anak usia 7, 8, dan 9 tahun yang memiliki status gizi baik. Sedangkan pada anak yang memiliki status gizi kurang disimpulkan terdapat perbedan perkembangan gerak lari cepat 30 meter anak usia 7, 8, dan 9 tahun.   Diharapkan kepada semua guru pendidikan jasmani dan orang tua baik yang memiliki status gizi baik maupun yang memiliki status gizi kurang agar mengetahui tingkat perkembangan gerak lari cepat para peserta didik, supaya bisa dikembangkan ke arah prestasi. Diharapkan setelah penelitian ini para guru pendidikan jasmani dan kesehatan mengetahui tingkat perkembangan gerak lari cepat anak didiknya selanjutnya agar bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi

    0

    full texts

    221

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Tugas Akhir Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇