Tugas Akhir Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    221 research outputs found

    Studi tentang Pengelolaan Sarana dan Prasarana Teaching Factory pada Program Keahlian Jasa Boga di SMK Negeri 1 Batu

    No full text
    ABSTRAK     Marinda, Dwi. 2013. Studi tentang Pengelolaan Sarana dan Prasarana Teaching Factory pada Program Keahlian Jasa Boga di SMK Negeri 1 Batu. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Teti Setiawati, M.Pd., (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si.   Kata Kunci: sarana dan prasarana, pengelolaan, teaching factory   Teaching factory merupakan kegiatan pembelajaran kewirausahaan, siswa secara langsung melakukan kegiatan produksi baik berupa barang atau jasa di dalam lingkungan pendidikan sekolah. Teaching factory jasa boga di SMK Negeri 1 Batu merupakan program pembelajaran kewirausahaan dalam bidang pastry dan bakery yang dikelola oleh guru jasa boga dan siswa kelas X Program Keahlian Jasa Boga. Ruang yang digunakan dalam kegiatan teaching factory yaitu laboratorium patiseri yang terdiri dari ruang praktik dapur kue basah, ruang praktik dapur kue kering, dan ruang pengemasan produk. Sarana dan prasarana yang memadai serta pengelolaan sarana dan prasarana teaching factory yang baik adalah unsur yang penting dalam berlangsungnya kegiatan teaching factory. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji sarana teaching factory, prasarana teaching factory, dan pengelolaan sarana dan prasarana teaching factory dari segi perencanaan, pengorganisasian, penggunaan, pengawasan, dan perawatan. Populasi dalam penelitian ini adalah teaching factory dan pengelola teaching factory yaitu guru jasa boga berjumlah 8 guru dan siswa kelas X Program Keahlian Jasa Boga berjumlah 84 siswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sampling aksidental dan 6 kali pengamatan. Sampel yang digunakan yaitu berjumlah 6 guru dan 12 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi non partisipan dan menggunakan instrumen check list. Analisis data menggunakan perhitungan mean dari setiap aspek yang diamati sehingga diketahui kategori setiap sub variabel. Hasil penelitian menunjukkan sarana teaching factory  mendapat skor rata-rata 2,87 dengan kategori cukup standar. Prasarana teaching factory mendapat skor rata-rata 4 dengan kategori standar. Pengelolaan sarana dan prasarana teaching factory dari segi perencanaan mendapat skor rata-rata 3,33 dengan kategori standar. Pengelolaan sarana dan prasarana teaching factory dari segi pengorganisasian mendapat skor rata-rata 2,90 dengan kategori cukup standar. Pengelolaan sarana dan prasarana dari segi penggunaan mendapat skor rata-rata 3,36 dengan kategori standar. Pengelolaan sarana dan prasarana teaching factory dari segi pengawasan mendapat skor rata-rata 3,54 dengan kategori standar. Pengelolaan sarana dan prasarana teaching factory dari segi perawatan mendapat skor rata-rata 1,73 dengan kategori tidak standar. Secara umum, pengelolaan sarana dan prasarana teaching factory jasa boga di SMK Negeri 1 Batu mendapat skor rata-rata 2,97 dengan kategori cukup standar

    Sifat Organoleptik Colocasia Noodle Subtitusi Tepung Talas

    No full text
    ABSTRAK Kristiana, Yeyen Ika. 2014. Sifat Organoleptik Colocasia Noodle Subtitusi Tepung Talas. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Teti Setiawati, M.Pd (2) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. Kata Kunci: Mie, Talas, Uji Organoleptik. Talas merupakan umbi-umbian yang mempunyai kandungan karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Produk olahan umbi talas sangat minim sekali, terlebih dari kesukaan masyarakat terhadap talas juga kurang maksimal, hal ini berkaitan dengan kurang disukainya produk olahan talas yang hanya terbatas pada produk yang diolah secara sederhana. Salah satu cara untuk mengembangkan pemanfaatan talas adalah mengolah talas menjadi bahan substitusi tepung terigu dalam pembuatan mi.Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen tentang colocasianoodle (mie tepung talas). Uji coba formula resep colocasia noodle dilakukan sebanyak tiga kali. Analisis data berupaanalisis deskriptif yang didasarkan pada hasil uji mutu hedonik untuk mengetahui penilaian panelis terhadap rasa, warna dan tekstur colocasia noodle, serta hasil uji kesukaan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, warna, dan tekstur colocasia noodle. Pembuatan colocasia noodle (mie tepung talas) menggunakan resep dengan subtitusi tepung talas sebanyak 50% dari jumlah tepung terigu yang digunakan 40 gram. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah pembuatancolocasia noodle menggunakan formulasi resep dengan substitusi tepung talas sebesar 50% dari total tepung terigu.Hasil Uji hedonik menyatakan bahwa setengah (50%) dari panelis menyatakan cukup suka terhadap rasa colocasia noodle yang cukup gurih, sebagian kecil (46,7%) dari panelis menyatakan cukup suka terhadap warna colocasia noodleyang agak coklat, sebagian kecil (46,7%) dari panelis menyatakan suka terhadap tekstur colocasia noodle yang cukup elastis. Harga 1 kemasan colocasianoodle dengan berat 100 g yaitu Rp.6.700,00. Sebaiknya dalam pengayakan tepung diayak menggunakan ayakan dengan ukuran 100 mesh, agar tepung yang dihasilkan lebih halus dancolocasia noodle yang dihasilkan lebih elatis

    Subtitusi Tepung Sorgum Dalam Pembuatan Wingko

    No full text
    ABSTRAK   Fatmawati, Diana Nur. 2014. Subtitusi Tepung Sorgum dalam Pembuatan Wingko. Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P (2)  Dr. Dra. Rina Rifqie Mariana, M.P.   Kata Kunci: Tepung  sorgum, Subtitusi, Wingko, Uji hedonik   Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan formula pembuatan wingko sorgum yang tepat dan  tingkat kesukaan terhadap rasa, warna, tekstur wingko sorgum. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen tentang wingko sorgum. Analisis data berupa analisis deskriptif  terhadap hasil uji hedonik atau uji kesukaan yang bertujuan untuk mengetahui penilaian panelis terhadap rasa, warna dan tekstur wingko sorgum. Uji coba formula resep wingko sorgum dilakukan sebanyak dua kali. Uji coba formula yang pertama menggunakan subtitusi tepung sorgum  40% dari total tepung. Formula uji coba pertama menghasilkan rasa manis, warna coklat gelap dan tekstur kenyal padat. Hasil yang diperoleh dari formula pertama tidak sesuai dengan standar sehingga dilakukan uji coba formula kedua dan uji coba formula yang kedua menggunakan subtitusi tepung sorgum 20% dari total tepung. Formula kedua menghasilkan adonan berwarna coklat muda, rasa manis, dan tekstur padat kenyal. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pembuatan wingko sorgum menggunakan formulasi resep dengan subtitusi tepung sorgum sebanyak 20 % dari total tepung. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa sebagian besar panelis  atau 70% menyukai rasa pada wingko sorgum, sebagian besar panelis atau 53,3 % menyatakan agak suka terhadap warna pada wingko sorgum, dan sebagian besar panelis atau 53,3 % menyatakan agak suka terhadap tekstur pada wingko sorgum. Saran yang disampaikan untuk peneliti selanjutnya yaitu meneliti melakukan analisis zat gizi yang terkandung dalam wingko sorgum, pengembangan produk wingko sorgum, melakukan analisis daya simpan wingko sorgum dan saran untuk produsen wingko yaitu pembuatan tepung sorgum sebaiknya menggunakan alat saringan berukuran 100 mesh untuk menyaring tepung sorgum agar lebih halus lagi dan penyosohan/ditumbuk dilakukan terlebih dahulu agar sorgum tidak  mempengaruhi warna pada produk

    penambahan tepung ubi madu dalam pembuatan kue kering bagiak

    No full text
    ABSTRAK   Ratnasari, Ika. 2014. Penambahan Tepung Ubi Madu Dalam Pembuatan Kue Kering Bagiak. Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si., (II) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si.   Kata kunci: Bagiak, Penambahan, Tepung Ubi Madu Kue kering bagiak merupakan salah satu warisan kuliner khas Banyuwangi. Bahan dasar bagiak adalah tepung garut, tepung tapioka, santan kental, gula halus, margarin, susu bubuk, kuning telur, dan soda kue. Tepung ubi madu digunakan dalam pembuatan bagiak sebagai pengganti tepung tapioka. Tepung ubi madu adalah tepung yang dihasilkan dari ubi madu yang diiris tipis, direndam dalam air,  kemudian dikeringkan dan dihancurkan, dilanjutkan dengan pengayakan sehingga didapatkan tepung ubi madu yang halus. Tepung ubi madu merupakan bahan setengah jadi yang mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi bagiak ubi madu yang tepat dan mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, warna, dan tekstur produk bagiak ubi madu. Uji coba formulasi resep bagiak dengan penambahan tepung ubi madu dilakukan sebanyak dua kali. Uji coba formulasi yang pertama menggunakan tepung ubi madu sebanyak 500g dan tepung tapioka sebanyak250g, menghasilkan bagiak dengan rasa ubi yang kurang kuat dan warnakuning terang. Uji coba formulasi resep yang kedua menggunakan tepung ubi madu sebanyak 750gdan jumlah bahan lain tetap seperti formulasi dasar. Hasil yang diperoleh dari uji coba formulasi keduayaitu warna bagiak kuning kecoklatan dan rasa ubi pada bagiak lebih terasa. Berdasarkan hasil uji coba formulasi bagiak ubi madu, formulasi kedua dipilih sebagai formulasi yang digunakan untuk uji kesukaan. Panelis terdiri dari 30 panelis tidak terlatih, yaitu mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga 2012. Uji kesukaan panelis terhadap bagiak ubi madu dilakukan dengan cara memberi sampel produk dan dilanjutkan mengisi angket uji kesukaan. Hasil uji kesukaan menyatakan bahwa (63.3%) panelis menyatakan suka pada rasa bagiak ubi madu yang manis, (46.6%) panelis agak menyukai warna bagiak ubi madu yang berwarna kuning kecoklatan, dan (60%) panelis menyatakan suka terhadap tekstur bagiak yang renyah. Sebaiknya proses pengeringan ubi madu dilakukan menggunakan mesin pengering sehingga dalam satu hari ubi madu bisa benar-benar kering, karena apabila ubi madu tidak benar-benar kering akan menimbulkan tumbuhnya jamur.   ABSTRACT Ratnasari, Ika. 2014. Added of  Honey Sweet  Potatoes Flour on Making BagiakCookieFinal Project, D3 Studies Program ofCulinary,Faculty of Engineering, State University of  Malang. Advisor: (I) Dr.Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si., (II) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si.   Key word: added, bagiak, honey sweet potato flour Bagiak cookie is one of  the unique culinary heritage of Banyuwangi. The basic ingredients of bagiak are arrowroot flour, tapioca flour, coconut milk, sugar, margarine, milk powder, egg yolks, and baking soda. Honey sweet potato flour was used on making bagiak as a tapioca flour substitute. Honey sweet potato flour is a flour was produced from honey sweet potato which thinly sliced, soaked in water, then dried and crushed, followed by sifting to obtain a smooth honey sweet potato flour. Honey sweet  potato flour is a semi-finished material that has the potential to be used as raw materials in the food industry. The aims of  this study were to obtain  appropriate formulations of  honey sweet potato bagiak and to determine the panelists’s preference level of  the flavor, color, and texture of the product. The trials of prescription formulation with the added ofhoney sweet potato flour were done twice. The first recipe, were used 500g honey sweet potato flour and 250g tapioca flour, these recipe produce the bagiak with a less strong of  honey sweet potato flavor and the color was bright yellow. The second recipe, were used 750g honey sweet potato flour and also was used other ingredients which fixed amount as the basic formulation. These recipe produce thebagiak with brownish yellow color and the honey sweet potato flavor was more tasted. Based on the results of theformulations test of honey sweet potato bagiak, the second recipe was selected as a formulation that was used to hedonic test. Panelistsconsists of30 untrained panelists, namely S1 students ofCulinary Education 2012. The hedonic test were used by giving a sample product and  fill the questionnaire. Hedonic test results showed that (63.3%) of panelists expressed liked the taste of honey sweet potato bagiak, (46.6%) of panelists  rather  liked the color of  honey sweet potato bagiak which brownish yellow, and (60%) of panelists liked the texture bagiak which crispy. Honey sweet potato drying process should be done used drier machine i.e use oven so it can be completely dry on one day, because if not, that will be cause the growth of mold

    PENGEMBANGAN MODUL MELAYANI MAKAN DAN MINUM SISWA KELAS X KOMPETENSI KEAHLIAN JASA BOGA SMK NEGERI 3 BLITAR

    No full text
    ABSTRAK Nurjanah, Siti. 2014.Pengembangan Modul Melayani Makan dan Minum Siswa Kelas X Kompetensi Keahlian Jasa Boga SMK Negeri 3 Blitar. Skripsi. Program Studi Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Teti Setiawati M.Pd., (II) Dra. Wiwik Wahyuni M.Pd. Kata kunci: modul, melayani makan dan minum, SMK, jasa boga Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas baik berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar berupa modul pada mata pelajaran melayani makan dan minum di SMKN 3 Blitar yang terdiri dari 3 KD yaitu, (1) menjelaskan bagian pelayanan makanan dan minuman, (2) merinci peralatan yang tepat, dan (3) menyediakan layanan makanan dan minuman di restoran. Bahan ajar yang ada di sekolah selama ini masih kurang maksimal pemanfaatannya dalam proses belajar mengajar, sehingga pengembangan bahan ajar ini dapat menambah alternatif siswa untuk belajar. Penelitian pengembangan ini menggunakan langkah pengembangan modul adaptasi Sugiono yang terdiri dari 7 langkah pengembangan, antara lain: (1) potensi dan masalah, (2) mengumpulkan data sebagai bahan perencanaan pengembangan modul, (3) desain produk atau pengembangan produk awal, yaitu pengembangan draf atau produk awal dilakukan oleh pengembang yang bekerjasama atau dibantu oleh para ahli, (4) validasi produk yaitu validasi oleh para ahli, (5) revisi produk, (6) siswa sebagai subjek coba, (7) revisi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) validasi dosen ahli pengembangan media memperoleh persentase kelayakan sebesar 81,25%. (2) hasil validasi ahli materi (dosen dan guru)  untuk kelayakan materi memperoleh persentase 86,25%. (3) validasi guru ahli bahasa indonesia memperolah persentase kelayakan sebesar 85%,dan (4) hasil uji coba dari seluruh siswa kelas X memperoleh persentase ketertarikan 0% tidak ada, 100% keseluruhan siswa, 76, 19% 32 siswa, 69,04% 29 siswa,  64, 28% 27 siswa, 61, 90% 26 siswa, 54, 76% 23 siswa, 50% sebagian siswa, 45,23% 19 siswa, 38,09% 16 siswa, 35,71% 15 siswa, 30,95% 13 siswa, dan 23,80% 10 siswa, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan modul melayani makan dan minum dinyatakan menarik.

    Higiene Sanitasi pada Restoran Pendidikan Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK   Asisca, Tita Kandi. 2012. Higiene Sanitasi pada Restoran Pendidikan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Teti Setiawati, M.Pd., (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si.   Kata Kunci: Higiene Sanitasi, Restoran Pendidikan UM Higiene sanitasi merupakan unsur penting dalam sebuah industri makanan. Restoran Pendidikan UM merupakan restoran pembelajaran yang dikelola oleh mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga diupayakan memenuhi persyaratan higiene sanitasi restoran agar tidak membahayakan kesehatan serta mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah di bidang higiene sanitasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kondisi fasilitas sanitasi, higiene sanitasi penjamah makanan, higiene sanitasi peralatan, higiene sanitasi makanan dan higiene sanitasi tempat pengolahan yang ada di Restoran Pendidikan UM. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga 2010 pada bulan November 2012 yang sedang menempuh mata kuliah MUB Restoran yaitu sebanyak 22 penjamah makanan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan mengambil seluruh populasi. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi non partisipan dan  menggunakan instrument check list. Analisis data menggunakan perhitungan mean  yaitu skor setiap aspek yang diamati dan dirata-rata sehingga diketahui kategori setiap sub variabel.Kondisi fasilitas sanitasi di Restoran Pendidikan UM dikategorikan kurang standar (1,92), higiene sanitasi penjamah makanan dikategorikan cukup standar (3,04), higiene sanitasi peralatan dikategorikan kurang standar (2,29), higiene sanitasi makanan dikategorikan cukup standar (3,2) dan higiene sanitasi tempat pengolahan dikategorikan kurang standar (1,86).   Fasilitas sanitasi restoran yang kurang memadai dapat menghambat penjamah makanan selalu berlaku higiene, sehingga hendaknya lembaga pendidikan dapat mengoptimalkan fasilitas sanitasi baik dari ketersediaan serta kondisi fasilitas sanitasi sesuai peraturan kesehatan yang berlaku. Penerapan higiene sanitasi di Restoran Pendidikan UM hendaknya lebih dipantau dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran demi keselamatan dan kesehatan bersama

    Substitusi Tepung Kacang Merah dalam Pembuatan Bidaran

    No full text
    ABSTRAK   Aini, Rosyida. 2012. Subtitusi Tepung Kacang Merah dalam Pembuatan Bidaran. Tugas Akhir. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Teti Setiawati, M.Pd. (2) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes.   Kata Kunci: Bidaran, Kacang merah, uji kesukaan. Bidaran merupakan makanan ringan yang berbentuk panjang meruncing, berwarna kuning keemasan dan mempunyai rasa gurih. Bahan yang digunakan untuk membuat bidaran adalah, tapioka, garam, telur dan keju. Subtitusi tepung kacang merah pada pembuatan bidaran bisa dijadikan sebagai penganekaragaman pangan, serta untuk meningkatkan nilai gizi karena kandungan protein yang tinggi.Kacang merah merupakan bahan makanan yang mempunyai sumber p[rotein nabati yang potensial. Kadar protein dari kacang merah hampir setara dengan kadar protein kacang hijau yaitu 23,1 g per 100 g kacang merah. Kacang merah kering merupakan sumber protein nabati, karbohidrat kompleks, serat, vitamin B, folasin, tiamin, kalsium, fosfor, dan zat besi.   Awal pembuatan biadaran kacang merah terlebih dahulu kacang merah dolah menjadi tepung. Tepung kacang merah adalah tepung dengan butiran halus, berwarna putih kekuningan dan berbau khas kacang merah. Tepung kacang merah yang digunankan sebanyak 100 g (50%) mengasilkan bidaran yang berwarna kuning kecoklatan, rasa gurih dan tekstur yang renyah.   Hasil uji kesukaan terhadap bidaran substitusi tepung kacang merah menunjukkan bahwa responden yang menyukai warna bidaran substitusi tepung kacang merah sebesar 51,1%, responden yang menyukai rasa bidaran substitusi tepung kacang merah sebesar 56,6%, dan yang menyukai tekstur bidaran substitusi tepung kacang merah sebesar 55,6%.   Produk bidaran substitusi tepung kacang merah memperoleh nilai gizi yang lebih tinggi dilihat dari segi Energi 1,4%, Protein 47,7%, Karbohidrat 76,77%, Ca 25,57%, P 56,37%, Vit A 16,67%, Vit B 80,97%, Vit C 93,67%, kalori yang dimilki oleh bidaran substitusi tepung kacang merah lebih tinggi 11,9% daripada kalori yang dimiliki bidaran yang tidak disubstitusi tepung kacang merah disamping itu kandungan lemak lebih rendah 0,87% dibanding dengan lemak yang terkandung dalam bidaran yang tidak disubstitusi tepung kacang merah.   Satu resep bidaran substitusi tepung kacang merah 200 g dapat menghasilkan 500 g produk bidaran substitusi tepung kacang merah. Bidaran substitusi tepung kacang merah dapat dipasarkan dengan harga Rp 1.500 perkemasan dengan berat 50 g

    Pemanfaat Kacang Hijau Sebagai Bahan Tambahan Dalam Pembuatan Kwetiau.

    No full text
    ABSTRAK   Hasan, Mochammad Fuad. 2012. Pemanfaat Kacang Hijau Sebagai BahanTambahan Dalam Pembuatan Kwetiau. Tugas Akhir, Progam Studi D3Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes (2) LailiHidayati, S.Pd. M.Si   Kata kunci: Kacang hijau, kwetiau, uji kesukaan Kacang hijau (Phaseolus radiatus L) berasal dari famili Leguminoseaseatau polong-polongan. Biji kacang hijau terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kulitbiji 10%, kotiledon 88%, dan sisanya adalah lembaga 2%. Karbohidrat merupakankomponen terbesar kacang hijau yaitu 58%. Karbohidrat yang terdapatpadakacang hijau adalah pati, gula, dan serat, karena kacang hijau mengandungkarbohidrat dan protein yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagaisalah satu bahan dalam pembuatan kwetiau.   Kwetiau termasuk salah satu makanan yang dapat digunakan sebagaipengganti nasi. Kwetiau memiliki bentuk seperti mie yang warnanya putih beningdengan bentuk pipih dan lebar dan terbuat dari tepung beras, tapioka, dan air.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi yang tepat dalam pembuatankwetiau dengan penambahan puree kacang hijau, serta untuk mengetahui tingkatkesukaan panelis terhadap warna, tekstur, dan warna, dan mengetahui harga jualkwetiau dengan penambahan puree kacang hijau.   Formulasi resep yang tepat untuk kwetiau dengan penambahan pureekacang hijau adalah uji coba resep yang kedua yaitu dengan penambahan pureekacang hijau sebanyak 180 g. Formulasi resep tersebut menghasilkan kwetiauyang berwarna putih kekuningan, tekstur kenyal dan elastis, serta rasa yang gurih.Hasil dari uji kesukaan terhadap kwetiau dengan penambahan kacang hijau yaitupanelis yang menyatakan biasa saja atau netral sebesar 42,5% terhadap warnakwetiau dengan penambahan puree kacang hijau yang berwarna putih kekuningan,47,5% panelis menyatakan biasa saja atau netral terhadap tekstur kwetiau denganpenambahan puree kacang hijau yang kenyal dan elastis, dan 45% panelismenyatakan agak suka terhadap kwetiau dengan penambahan puree kacang hijauyang rasanya gurih. Harga kwetiau yang telah ditambah kacang hijau yaitu sebesarRp. 5.570,00 per 150 g

    PEMBUATAN PASTA FARFALLE DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG UDANG REBON DAN TEPUNG IKAN LELE

    No full text
    ABSTRAK   Nurlaminingtyas, Evie. 2013. Pembuatan Pasta Farfalle DenganPenambahan Tepung Udang Rebon Dan Tepung Ikan Lele. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang,.Pembimbing (1) Dra. Nunung Nurjanah, M. Kes  (2) Laili Hidayati, S,Pd., M.Si   Kata Kunci: Pasta Farfalle, Tepung Udang Rebon, Tepung Ikan Lele Pasta merupakan suatu olahan makanan yang terbuat dari bahan dasar tepung, air, telur, salad oil dan garam, yang memiliki warna kuning. Pasta dibedakan menjadi dua jenis, pasta segar (pasta frescca), dan pasta kering (pasta secca). Pasta kering (pasta secca) adalah pasta segar yang sudah dibentuk kemudian dikeringkan spageti, macaroni dan lasagna. Tujuan penelitian: (1) Mengetahui formulasi resep pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele, (2) Mengetahui kesukaan panelis terhadap: (1) Rasa pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele, (2) Warna pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele, (3) Tekstur pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele, (4) Aroma pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele. Pembuatan pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan  lele dilakukan tiga kali uji coba. Utuk memperoleh uji kesukaan  terhadap: (1) Rasa pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele,(2) Warna pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele, (3) Tekstur pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele, (4) Aroma pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele. Uji kesukaan menggunakan 40 panelis agak terlatih. Hasil penelitian menunjukan, formulasi pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele yang digunakan adalah formulasi resep ketiga yaitu 25 gr tepung udang, 20 gram tepung ikan lele, 100 gr terigu protrein tinggi, 1 butir telur, 5 gram garam, 60 mili air es, dan 25 mili salat oil. Hasil uji kesukaan pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele menunjukkan, panelis agak suka terhadap rasa dari pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele yaitu sebanyak 47,5%. Panelis yang menyatakan suka terhadap warna dari pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele yaitu sebanyak 75%. Panelis menyatakan agak suka terhadap tekstur pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele yaitu sebanyak 55%. Panelis menyatakan agak suka terhadap aroma pasta farfalle dengan penambahan tepung udang rebon dan tepung ikan lele yaitu sebayak 57,5%

    PENGGUNAAN KUPANG SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN DALAM PEMBUATAN TIWUL

    No full text
    8ABSTRAK   Lisnawati, Rita. 2013. Penggunaan Kupang Sebagai Bahan Tambahan Dalam Pembuatan Tiwul. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dra. Rina Rifqie Mariana, M.P, (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si.   Kata Kunci: Tiwul, Kupang, Instan Tiwul merupakan makanan tradisional masyarakat daerah yang terbuat dari tepung gaplek yang dicampur dengan garam dan air. Tiwul dapat digunakan sebagai makanan pokok pengganti nasi. Tiwul mempunyai jangka waktu penyimpanan yang tidak lama, maka dari itu tiwul dikembangkan menjadi tiwul instan yang dapat disimpan lebih lama. Tiwul instan memiliki kandungan gizi yang kurang untuk menambah kandungan gizi pada tiwul instan maka dilakukan penambahan dengan kupang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formula yang tepat dalam pembuatan tiwul instan dengan penambahan kupang dan mengetahui tingkat kesukaan terhadap warna, rasa, aroma dan tekstur terhadap tiwul instan kupang. Formula resep uji coba untuk pembuatan tiwul instan dengan penambahan kupang sebanyak 3 kali dengan penambahan kupang 60%, 50%, 40% dari jumlah tepung gaplek.Hasil penelitian menunjukkan formula yang tepat merupakan formula yang ketiga 40% yang digunakan sebagai pembuatan tiwul instan kupang. Metode yang digunakan dalam perhitungan uji kesukaan yaitu menggunakan metode dengan format deskriptif dan uji kesukaan menggunakan perhitungan persentase. Hasil uji kesukaan terhadap warna tiwul instan kupang yaitu sebanyak 46,7% dengan katerogi netral. Hasil uji kesukaan terhadap rasa tiwul instan kupang sebanyak 40% dengan kategori tidak suka. Hasil uji kesukaan terhadap aroma tiwul instan kupang sebanyak 40% dengan kategori netral, sedangkan untuk hasil uji kesukaan terhadap tekstur tiwul instan kupang sebanyak 30% menyatakan dengan kategori netral. Pada penelitian ini disarankan pada proses penyajian diberikan perlakuan khusus seperti penambahan abon pada saat penyajian tiwul instan kupang

    0

    full texts

    221

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Tugas Akhir Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇