Tugas Akhir Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
221 research outputs found
Sort by
Pengaruh Perbedaan Perlakuan Pembuatan Tepung Biji Nangka (Artocarpus heteropyllus lamk) Terhadap Kualitas Cookies Lidah Kucing Tepung Biji Nangka
ABSTRAK Santoso, Minnar Titis. 2013. Pengaruh Perbedaan Perlakuan Pembuatan Tepung Biji Nangka (Artocarpus heteropyllus lamk) Terhadap Kualitas Cookies Lidah Kucing Tepung Biji Nangka. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Rini Sudjarwati, M. Pd, (II) Laili Hidayati, S. Pd., M. Si. Kata Kunci: Biji Nangka, Tepung Biji Nangka, Cookies Lidah Kucing Biji nangka merupakan hasil sampingan dari buah nangka yang tinggi kalsium dan fosfor. Tepung biji nangka adalah tepung yang dihasilkan dari penurunan kadar air dan penghancuran biji nangka segar dan kukus. Cookies lidah kucing berbentuk pipih, lonjong, rasanya manis dan bertekstur renyah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi pengaruh perbedaan perlakuan pembuatan tepung biji nangka terhadap sifat kimia, sifat fisik, uji mutu hedonik dan uji hedonik cookies lidah kucing tepung biji nangka segar dan kukus. Panelis dalam penelitian ini Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga Angkatan 2009 dan 2010 sebanyak 50 panelis. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji t. Hasil penelitian kandungan kalsium tidak ada perbedaan pada tepung biji nangka segar dan kukus yaitu 253,82±1,02 mg tiap 1kg tepung dan 243,99±1,20 mg tiap 1kg tepung,ada perbedaan kalsium cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 197,63±0,45mg tiap 1kg cookies dan kukus 184,70±0,64mg tiap 1kg cookies.Tidak ada perbedaan fosfor tepung biji nangka segar 0,04±0,00% tiap 100g tepung dan kukus 0,05±0,00% tiap100g tepung, Ada perbedaan fosfor cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 0,14±0,00% tiap 100g cookies dan kukus 0,17±0,00% tiap 100g cookies.Ada perbedaan kandungan kadar air tepung biji nangka segar 5,31±0,03% tiap 100g tepung dan kukus 5,95±0,05% tiap 100g tepung, Ada perbedaan kadar air cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 2,38±0,04% tiap 100g cookies dan kukus 3,79±0,06% tiap 100g cookies. Ada perbedaan sifat fisik warna cookies lidah kucing tepung biji nangka segar yaitu (L)62,25 dan (b) 22,45 dan kukus (L)64,85 dan (b)25,25.Tidak ada perbedaan sifat fisik warna cookies lidah kucing tepung biji nangka segar (a)27,25 dan kukus (a) 21,75.Ada perbedaan sifat fisik tekstur cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 0,75 N dan kukus 2,15 N. Tidak ada perbedaan mutu hedonik warna cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,02 dan kukus 4,14 yaitu warna kuning agak cokelat.Ada perbedaan mutu hedonik rasa cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 3,28 dan kukus 3,64 yaitu rasa cukup manis dan gurih. Tidak ada perbedaan mutu hedonik tekstur cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,44 dan kukus 4,22 yaitu cukup renyah. Tidak ada perbedaan hedonik warna cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,18 dan kukus 4,42 yaitu agak suka. Tidak ada perbedaan hedonik rasa cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,08 dan kukus 4,14 yaitu agak suka. Tidak ada perbedaan hedonik tekstur cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,4 dan kukus 4,24 dengan penilaian agak suka
Pengembangan Produk Bubur Bayi Instan Substitusi Tepung Labu Kuning dan Tepung Ikan Gabus
ABSTRAK Labu kuning dan ikan gabus merupakan bahan pangan lokal yang belum banyak dimanfaatkan masyarakat untuk MP-ASI. Pemanfaatan tepung labu kuning dan tepung ikan gabus untuk bahan substitusi dalam pengembangan produk bubur bayi instan dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis kandungan gizi dan daya terima produk. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor. Perlakuan dalam penelitian ini adalah substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus pada formula bubur bayi instan dengan persentase yang berbeda: (1) formula A (10% tepung labu kuning, 15% tepung ikan gabus); (2) formula B (10% tepung labu kuning, 20% tepung ikan gabus); dan (3) formula C (15% tepung labu kuning, 20% tepung ikan gabus). Substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus pada ketiga formula bubur bayi instan menghasilkan perbedaan kadar betakaroten, zat besi, kalsium, dan serat kasar berbeda secara signifikan (p 0,05). Hasil uji hedonik warna dan aroma bubur bayi instan signifikan (p 0,05). Kadar protein, betakaroten, zat besi, dan serat kasar bubur bayi instan substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus formula B dan C sudah memenuhi persyaratan kandungan gizi bubur bayi instan dari Kementrian Kesehatan RI. Bubur bayi instan formula B tiap 100 gramnya mengandung kadar protein 28,37 gram, betakaroten 0,512 mg, zat besi 5,21 mg, dan serat kasar 3,52 gram. Bubur bayi instan formula C mengandung kadar protein 28,32 gram, betakaroten 0,60 mg, zat besi 5,861 mg, dan serat kasar 4,335 gram. Bubur bayi instan substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus formula B dan C dari sisi kandungan gizi produk, dapat dijadikan sebagai alternatif MP-ASI untuk bayi usia 6-12 bulan. Disarankan untuk dilakukan uji keamanan pangan terhadap produk bubur bayi instan substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus yang dihasilkan untuk mengetahui ada tidaknya resiko pencemaran oleh mikro organisme maupun logam berbahaya
PENGGUNAAN TEPUNG BERAS MERAH SEBAGAI BAHAN PEREKAT (BINDER) DALAM PEMBUATAN NUGGET AYAM DAN PENAMBAHAN JUMLAH TELUR UNTUK MEMPERKUAT TEKSTUR NUGGET
ABSTRAK Inziah, I’anatu. 2014. Penggunaan Tepung Beras Merah Sebagai Bahan Perekat (Binder) Nugget Ayam dan Penambahan Jumlah Telur Untuk Memperkuat Tekstur Nugget. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: Tepung Beras Merah, Nugget Ayam Nugget merupakan makanan siap saji yang terbuat dari daging giling yang dicetak dalam berbagai bentuk potongan dan dilapisi dengan tepung berbumbu. Tepung beras merah adalah tepung yang dihasilkan dari penggilingan beras merah menjadi butiran halus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi nugget ayam menggunakan tepung beras merah sebagai bahan perekat (binder), serta untuk mengetahui tingkat kesukaan penelis terhadap rasa, warna, dan tekstur nugget ayam menggunakan tepung beras merah sebagai bahan perekat (binder) nugget ayam dan penambahan jumlah telur untuk memperkuat tekstur nugget. Uji coba pembuatan nugget ayam menggunakan tepung beras merah sebagai bahan perekat (binder) nugget ayam dan penambahan jumlah telur untuk memperkuat tekstur nugget dilakukan sebanyak dua kali. Percobaan pertama menggunakan tepung beras merah 25 gram, menghasilkan nugget ayam berwarna putih pucat, adonan kurang padat dan kurang kenyal. Hasil yang diperoleh dari percobaan pertama kurang optimal, sehingga dilakukan uji coba kedua dengan penggunaan tepung beras merah 50 gram dan penambahan jumlah telur yang semula 7 gram menjadi 14 gram. Uji coba kedua menghasilkan tekstur nugget ayam yang lebih padat, dan berwarna abu-abu. Berdasarkan hasil uji coba formula nugget ayam menggunakan tepung beras merah sebagai perekat (binder) , formula yang kedua dipilih sebagai formulasi yang digunakan untuk penelitian utama. Panelis yang dipilih agak terlatih yang berjumlah 30 orang yaitu, mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2012 dan mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga angkatan 2011. Uji kesukaan panelis terhadap produk dilakukan dengan cara memberikan sampel produk dan dilanjutkan mengisi angket uji kesukaan. Analisis uji kesukaan menggunakan analisis deskriptif yang disertai penjelasan kesukaan panelis terhadap rasa, warna, dan tekstur. Formula resep yang digunakan yaitu formula yang kedua, menggunakan tepung beras merah sebanyak 50 gram dan telur 14 gram, yang menghasilkan produk nugget memiliki tekstur padat dan berwarna abu-abu. Hasil uji hedonik menunjukkan tingkat kesukaan rasa nugget ayam adalah 86,7 % panelis menyatakan suka, uji kesukaan pada warna nugget ayam adalah 46,7 % panelis menyatakan agak suka, uji kesukaan tekstur 66,7 % panelis menyatakan suka. Pembuatan nugget ayam menggunakan tepung beras merah sebagai perekat disarankan pada proses pemotongan nugget dipotong dalam keadaan dingin. Proses battered dan breaded dilakukan dua kali, supaya hasil jadi nugget ayam lebih rapi. Nugget ayam dapat ditambahkan sayuran untuk meningkatkan mutu dan nilai gizi. ABSTRACT Inziah, I’anatu. 2014. The Use Of Red Rice Flour As a Binder Of Chicken Nuggets And Egg Additional To Strengthen Texture Nuggets. Final Assignment. Final Project. D3 Studies Program Of Culinary, Faculty of Engineering, State University Of Malang. Advisor: (I) Dra. Nunung Nurjanah, M. Kes. (II) Laili Hidayati, S. Pd., M.Si. Key words: Brown Rice Flour, Chicken Nuggets Nuggets is fast food made from molded meat which were shapes in pieces and coated with seasoned flour. Red rice flour is flour resulting from milling red rice into granules smooth. The purpose of this research is to get formulations nuggets chicken use red rice flour as a binder and egg additional to strengthen texture nuggets, and to know level fondness penelis against, color, and texture chicken nuggets use flour red rice as a binder of chicken nuggets and egg additional to strengthen texture nuggets. Chicken nuggets were test production using red rice flour as a binder of chicken nuggets and egg additional to strengthen texture nuggets. The first experiment using red rice flour as 25 grams, produces pale white chicken nuggets, dough less dense and less chewy. The results of the first experiment was less optimal, so the second test was done with the use of red rice flour 50 grams and first additional eggs 7 grams to 14 grams egg. The second trial resulted in a chicken nuggets texture that was more dense, and the color gray. Based on the results of trials using the formula chicken nuggets red rice flour as a binder of chicken nuggets and egg additional to strengthen texture nuggets, the second formula selected as the formulation that was used to test preferences. Panelist consisted of 30 trained panelist such as, Students Of D3 Culinary Education 2012 and Undergraduate Students Of Culinary Education 2011. Panel test product was done by providing samples and completed questionnaires of the test. A test using descriptive analysis, the assessment include an explanation of the panel's favorite flavor, color, and texture. Recipe formula used the second formula that produces chicken nuggets using red rice flour 50 grams and additional 14 grams eggs. The second trial resulted in a chicken nuggets texture that was more dense, and the color gray. The results of the hedonic test showed the highest percentage of chicken nuggets taste preference level was 86.7% of panelist expressed pleasure, the highest in the color test a chicken nugget was 46.7% of panelist expressed little pleasure, a test of the highest texture 66.7% panelist. Making chicken nuggets using red rice flour as a binder of chicken nuggets and egg additional to strengthen texture nuggets was recommended slice nuggets in a cold state process. Battered and breaded process done in twice, so that the result will be more presentable. Chicken nuggets can be added vegetable to improve the quality and nutritional value
PERBEDAAN HASIL BELAJAR KOMPETENSI MENYEDIAKAN LAYANAN MAKAN DAN MINUM MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN METODE EKSPERIMEN (Studi Pada KompetensiKeahlian Jasa Boga Kelas XI SMK Negeri 3 Blitar)
ABSTRAK Hendrayana, Tomi.2013. PerbedaanHasil Belajar Kompetensi Menyediakan Layanan Makan dan Minum MenggunakanMetode Demontrasi dan Metode Eksperimen (StudiPadaProgram Keahlian Jasa Boga Kelas XI SMK Negeri 3 Blitar).Skripsi, JurusanTeknologiIndustri, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (I) Dra.Nunung Nurjanah, M.Kes, (II) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si Kata Kunci :hasilbelajar, metode eksperimen, metode demontrasi, layanan makan dan minum. Standar Kompetensi pelayanan makan dan minum merupakan kompetensi yang wajib ditempuh oleh siswa SMK Jurusan Jasa Boga. Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan, ditemukan data nilai siswa pada sebagian siswa kelas XI Jasa Boga pada Kompetensi Dasar Minuman Non alkohol masih rendah, hal tersebut disebabkan karena metode pembelajaran yang kurang interaktif. Penggunaan metode eksperimen dan metode demontrasi dapat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa khususnya pada Kompetensi Dasar Minuman Non Alkohol. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian Quasi Eksperimental dengan teknik sampling populasi yaitu keseluruhan kelas XI Jasa Boga. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan soal pretest dan posttest. Analisis yang digunakan adalah analisis statistik parametrik, uji persyaratan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas dengan menggunakan bantuan soft ware SPSS 16.0, uji hipotesis yaitu uji beda rata-rata kemampuan akhir (t-test) yaitu membedakan rata-rata masing-masing metode pembelajaran dan di analisis menggunakan uji t (t-test) dengan bantuan SPPS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar Kompetensi Dasar Minuman Non Alkohol pada materi teh dan kopi yang diajar menggunakan metode demontrasi dengan metode eksperimen, hasil belajar dengan penerapan metode eksperimen lebih baik dari pada penerapan metode demontrasi. Hasil dapat diketahui dari kenaikan nilai rata-rata kedua kelas yang berbeda, kelas metode demontrasi mempunyai rata-rata nilai pretest 68,9 dan posttest 73,9, hal tersebut menunjukkan kenaikan rata-rata sebanyak 5 poin, sedangkan kelas metode eksperimen mempunyai rata-rata nilai pretest 67,1 dan posttest 81,8, hal tersebut menunjukkan kenaikan rata-rata sebanyak 14,8 poin. Kesimpulannya bahwa ada perbedaan hasil belajar antara penerapan metode eksperimen dan metode demontrasi dengan nilai rata-rata metode eksperimen lebih tinggi yaitu 81,8 sedangkan kelas metode demontrasi sebesar 73,9
Analisis Bauran Pemasaran pada Mie Jogja Pak Karso Malang
ABSTRAK Maharani Dewi, Kartika. 2014. Analisis Bauran Pemasaran pada Mie Jogja Pak Karso Malang. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Aisyah Larasati S.T, M.T, MIM, Ph.D, (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Mie Jogja Pak Karso, Bauran Pemasaran Mie Jogja Pak Karso merupakan usaha yang bergerak pada bidang pengelolaan makanan dan minuman. Mie Jogja Pak Karso merupakan usaha jasa boga yang mampu bertahan dan memiliki daya saing tinggi dan telah menerapkan bauran pemasaran yang meliputi bauran produk, bauran harga, bauran tempat, dan bauran promosi. Fokus penelitian ini antara lain: 1) analisis bauran produk yang meliputi pelayanan, pelengkap makanan, jenis produk, hasil analisis sensori deskriptif, dan porsi produk; 2) analisis bauran harga yang meliputi strategi penetapan harga; 3) analisis bauran tempat yang meliputi layout dapur, konsep tata ruang area pelayanan dan proses pengolahan produk; dan 4) analisis bauran promosi yang meliputi strategi promosi, media promosi, dan sasaran promosi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain: observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan pada konsumen belum semuanya memenuhi prosedur pelayanan konsumen. Pelengkap makanan pada Mie Jogja Pak Karso berupa acar, sambal, saus tomat, dan kecap. Jenis produk yang ditawarkan cukup bervariasi. Hasil analisis sensori deskriptif produk makanan pada Mie Jogja Pak Karso rasa relatif sama yaitu cenderung manis dan gurih, warna coklat, dan tekstur mi, bihun, dan kwetiau kenyal pada produk mi goreng, mi godhog, bihun goreng, bihun godhog, kwetiau, dan ifumie. Tekstur nasi pada nasi goreng masih keras dan berbutir. Sedangkan produk minuman pada Mie Jogja Pak Karso kriteria rasa terlalu manis, konsistensi kurang sesuai dan warna relatif pucat. Proses pengolahan sudah menggunakan resep standar sehingga diperoleh standar porsi yang sama. Setiap produk makanan memiliki berat rata-rata berkisar 250 gr. Strategi penetapan harga produk dengan metode cost based pricing. Tata ruang letak Mie Jogja Pak Karso yaitu berbentuk pulau (island), konsep dapur adalah open kitchen. Area pelayanan pada Mie Jogja Pak Karso semi terbuka dan konsep klasik batu-batuan dibuat seolah-olah seperti di Jogja. Strategi promosi yang dilakukan adalah dengan memberi diskon. Media promosi yang digunakan adalah koran, TV lokal, door to door, dan brosur. Media promosi yang paling sering digunakan adalah brosur. Sasaran promosi pada Mie Jogja Pak Karso adalah mahasiswa dan pegawai kantor
Penggunaan Tepung Jagung Sebagai Bahan Substitusi Pada Olahan Bakpao
ABSTRAK Putra, Erdilla Dwikurnia. 2014. Penggunaan Tepung Jagung Sebagai Bahan Substitusi Pada Olahan Bakpao. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Aisyah Larasati, ST., MT., MIM. Ph. D., (II) Lismi A. Chisbiyah,. S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Substitusi, Bakpao, Tepung Jagung Bakpao merupakan makanan tradisional masyarakat Tionghoa. Tepung jagung merupakan tepung yang diperoleh melalui proses penggilingan jagung dan dilanjutkan pengayakan, sehingga didapat tepung jagung yang halus. Pengolahan jagung menjadi tepung jagung bertujuan untuk mempermudah proses penggunaan jagung dan mempersingkat waktu dalam mengolah berbagai macam olahan dari jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi bakpao jagung, mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, warna dan tekstur bakpao jagung dan mengetahui harga jual bakpao jagung. Uji coba pembuatan bakpao jagung dilakukan sebanyak dua kali. Percobaan pertama menggunakan substitusi tepung jagung sebanyak 75% menghasilkan tekstur bakpao yang kasar, dan warna bakpao yang kuning. Hasil yang diperoleh dari percobaan pertama kurang optimal, sehingga dilakukan percobaan kedua dengan substitusi tepung jagung sebanyak 50%, penggunaan terigu 75 gr, tepung jagung 75 gr, mentega putih 50 gr dan air 50 ml. Percobaan kedua menghasilkan tekstur bakpao yang cukup empuk dan warna bakpao yang kuning cerah. Berdasarkan hasil uji coba formula bakpao jagung, formula yang kedua dipilih sebagai formulasi yang digunakan untuk uji kesukaan. Panelis terdiri dari 30 orang panelis agak terlatih, yaitu mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga angkatan 2011. Uji kesukaan panelis terhadap produk dilakukan dengan cara memberikan sampel produk dan dilanjutkan mengisi angket uji kesukaan. Analisis uji kesukaan menggunakan analisis deskriptif, berupa persentase penilaian yang disertai penjelasan terhadap kesukaan panelis terhadap rasa, warna dan tekstur. Formula resep yang digunakan yaitu formula kedua menghasilkan produk bakpao jagung dengan rasa agak manis.Hasil uji hedonik yang dilakukan menunjukkan persentase tertinggi tingkat kesukaan rasa bakpao jagung adalah 56,7% panelis menyatakan suka, uji kesukaan tertinggi pada warna Bakpao jagung adalah 46,7% panelis menyatakan agak suka, uji kesukaan tertinggi tekstur bakpao jagung adalah 40% panelis menyatakan suka. Harga jual bakpao jagung perbuah adalah Rp 2.800,00. Pembuatan bakpao jagung disarankan menggunakan mesh 100 untuk menyaring tepung jagung agar lebih halus lagi. Terigu dan tepung jagung sebaiknya dicampur terlebih dahulu menjadi satu agar tidak terjadi perbedaan warna saat pengadukan adonan pada proses pembuatan bakpao jagung. ABSTRACT Putra, Erdilla Dwikurnia. 2014. The Use of Corn Flour As An Ingredient Substitution On Processed Bakpao. Final Project. Culinary Study Program, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisor: (I) Aisyah Larasati, ST., MT, MIM. Ph. D., (II) Lismi A. Chisbiyah,. S.Pd, M.Pd. Key Words: Substitution, Bakpao, Corn Flour Bakpao is the traditional food of Chinese society. Corn flour is made from corn through the grinding process and sieving and results in a fine grained corn flour, Processing corn into corn flour aims to ease the process of using corn and shorten time in a various kinds of processing of corn . The purpose of this research is to identify corn bakpao formulation, to know the level of panelists to preferences flavor, color and texture corn bakpao and knowing selling price of corn bakpao. The trial making corn bakpao is performed two times, in which the first experiment use the substitution of corn flour as many as 75% and it produces rough texture and yellow color of bakpao. The results obtained from the first trial has not been optimal yet, so the second experiment is performed by using a substitution of corn flour as many as 50%, wheat flour 75gr, corn flour 75 gr, white butter 50 gr and water 50 ml. The second experiment results in sufficient tender texture and bright yellow color of bakpao. Based on the trial of corn bakpao, the second formulation is used for the preference test.The panelist consists of 30 panelist that are somewhat trained. These panelists are the Undergraduates Education of Culinary 2011. The preferences test by panelist is performed by giving samples of the products and continuing with filling the questionare of the preference test. The form of the instrument analysis is a descriptive analysis. Kind of the percentage of judgment are accompanied by the explanation against preference on the flavor, color and texture. Formula recipes used is the second formula which produces sweet of corn bakpao with a sweetish. The results of the hedonic test show the highest percentage in taste corn bakpao is 56,7 % in which the panel said like.Test preference highest on colors corn bakpao is 46,7 % in which, the panel said somewhat like.Test preference highest texture corn bakpao is 40 % in which, of the panel said like. Selling price corn bakpao is Rp 2.800,00/piece. This research suggest to make corn bakpao using mesh 100 to sift corn flour to be more fine grained. Wheat flour and corn flour should be mixed priory to prevent any color while kneading dough on the process of making corn bakpao
PERBEDAAN HASIL BELAJAR KOMPETENSI MENYEDIAKAN LAYANAN MAKAN DAN MINUM MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN METODE EKSPERIMEN (Studi Pada KompetensiKeahlian Jasa Boga Kelas XI SMK Negeri 3 Blitar)
ABSTRAK Hendrayana, Tomi.2013. PerbedaanHasil Belajar Kompetensi Menyediakan Layanan Makan dan Minum MenggunakanMetode Demontrasi dan Metode Eksperimen (StudiPadaProgram Keahlian Jasa Boga Kelas XI SMK Negeri 3 Blitar).Skripsi, JurusanTeknologiIndustri, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (I) Dra.Nunung Nurjanah, M.Kes, (II) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si Kata Kunci :hasilbelajar, metode eksperimen, metode demontrasi, layanan makan dan minum. Standar Kompetensi pelayanan makan dan minum merupakan kompetensi yang wajib ditempuh oleh siswa SMK Jurusan Jasa Boga. Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan, ditemukan data nilai siswa pada sebagian siswa kelas XI Jasa Boga pada Kompetensi Dasar Minuman Non alkohol masih rendah, hal tersebut disebabkan karena metode pembelajaran yang kurang interaktif. Penggunaan metode eksperimen dan metode demontrasi dapat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa khususnya pada Kompetensi Dasar Minuman Non Alkohol. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian Quasi Eksperimental dengan teknik sampling populasi yaitu keseluruhan kelas XI Jasa Boga. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan soal pretest dan posttest. Analisis yang digunakan adalah analisis statistik parametrik, uji persyaratan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas dengan menggunakan bantuan soft ware SPSS 16.0, uji hipotesis yaitu uji beda rata-rata kemampuan akhir (t-test) yaitu membedakan rata-rata masing-masing metode pembelajaran dan di analisis menggunakan uji t (t-test) dengan bantuan SPPS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar Kompetensi Dasar Minuman Non Alkohol pada materi teh dan kopi yang diajar menggunakan metode demontrasi dengan metode eksperimen, hasil belajar dengan penerapan metode eksperimen lebih baik dari pada penerapan metode demontrasi. Hasil dapat diketahui dari kenaikan nilai rata-rata kedua kelas yang berbeda, kelas metode demontrasi mempunyai rata-rata nilai pretest 68,9 dan posttest 73,9, hal tersebut menunjukkan kenaikan rata-rata sebanyak 5 poin, sedangkan kelas metode eksperimen mempunyai rata-rata nilai pretest 67,1 dan posttest 81,8, hal tersebut menunjukkan kenaikan rata-rata sebanyak 14,8 poin. Kesimpulannya bahwa ada perbedaan hasil belajar antara penerapan metode eksperimen dan metode demontrasi dengan nilai rata-rata metode eksperimen lebih tinggi yaitu 81,8 sedangkan kelas metode demontrasi sebesar 73,9.
EVALUASI MUTU HEDONIKBROWNIESSUBSTITUSI TEPUNG IKAN PATIN
ABSTRAK Nisa’, Choirun. 2014. Evaluasi Mutu Hedonik Brownies Substitusi Tepung Ikan Patin. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Aisyah Larasati, ST., MT., MIM. Ph.D.(II) Dra. Wiwik Wahyuni, M. Pd. Kata Kunci:Substitusi, tepung ikan patin, brownies. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi resep yang tepat dalam pembuatan brownies substitusi tepung ikan patin, mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap warna, aroma, tekstur dan rasa brownies substitusi tepung ikan patin, serta mengetahui mutu hedonik warna, aroma, tekstur dan rasa brownies substitusi tepung ikan patin. Panelis dalam penelitian ini adalah mahasiswa Tata Boga angkatan 2013-2014 sebanyak 25 orang. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa formula yang tepat digunakan dalam pembuatan brownies adalah formulasi III dengan substitusi 75% tepung ikan patin yaitu dengan perbandingan penggunaan terigu 25% dan tepung ikan patin sebanyak 75%. Formulasi III menghasilkan brownies dengan warna cokelat tua, aroma ikan kuat, tekstur padat beremah, dan rasa manis cukup gurih. Hasil uji kesukaan terhadap produk brownies substitusi tepung ikan patin menunjukkan sebanyak 48% panelis menyatakan agak suka terhadap warna yang dihasilkan, 48% panelis menyatakan suka terhadap aroma produk brownies substitusi tepung ikan patin, 24% panelis menyatakan agak suka dan agak tidak suka terhadap tekstur yang dihasilkan, dan 56% panelis menyatakan suka terhadap rasa brownies substitusi tepung ikan patin. Hasil uji mutu hedonik panelis terhadap produk brownies substitusi tepung ikan patin menunjukkan sebanyak 52% panelis menyatakan warna cokelat tua, 28% menyatakan aroma ikan kurang kuat, 32% menyatakan tekstur padat beremah dan 36% panelis menyatakan rasa brownies substitusi tepung ikan patin adalah manis cukup gurih. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah melakukan penelitian untuk memperbaiki tekstur agar sesuai dengan standar brownies dan memperbaiki aroma ikan pada brownies substitusi tepung ikan patin. Selain itu, untuk memastikan hasil brownies substitusi tepung ikan patin memiliki mutu yang baik, masyarakat yang akan membuat brownies substitusi tepung ikan patin harus memastikan bahwa tepung patin benar-benar kering
Pembuatan Sosis dengan Bahan Dasar Ikan Pari
ABSTRAK Amelia, Rininta. 2013. Pembuatan Sosis dengan Bahan Dasar Ikan Pari (Rays). Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Dra. Rina Rifqie Mariana, M.P, (2) Aisyah Larasati, S.T., M.T., MIM., Ph.D Kata Kunci: Sosis, ikan pari, sosis ikan pari, uji hedonik Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formulasi pembuatan sosis ikan pari yang tepat, tingkat kesukaan rasa, warna, tekstur sosis ikan pari dan harga jual sosis ikan pari. Sosis ikan pari yang dihasilkan dari uji coba resep sebanyak 3 (tiga) kali menghasilkan produk yang sesuai dengan yang diharapkan yaitu rasa sedikit jahe, warna putih kecoklatan/putih pucat, dan tekstur kenyal padat. Uji coba pertama dilakukan dengan menambahkan jahe dan bawang putih yang tidak ditumis terlebih dahulu. Uji coba kedua dilakukan dengan mengurangi jumlah jahe yang ditambahkan dan ditumis terlebih dahulu. Uji coba ketiga dilakukan dengan mengurangi kembali jumlah jahe yang ditambahkan. Metode yang digunakan adalah uji hedonik atau uji kesukaan. Pada penelitian ini uji hedonik dilakukan pada sosis ikan pari yang dibuat berdasar formula ketiga. Hasil dari uji kesukaan terhadap sosis ikan pari menunjukan yaitu tingkat kesukaan panelis terhadap rasa sosis ikan pari ialah 76% (menyatakan suka). Tingkat kesukaan panelis terhadap warna sosis ikan pari adalah 36% (menyatakan suka) dan 40% (menyatakan agak suka). Tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur adalah 44% (menyatakan suka). Harga jual sosis ikan pari adalah Rp 12.500 per 140 gr. Harga jual sosis ikan pari sedikit lebih mahal daripada sosis pada umumnya yang berkisar Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per 140 gr. Hal ini dikarenakan harga ikan pari yang relatif mahal. Saran yang disampaikan untuk peneliti selanjutnya yaitu meneliti tentang kandungan protein yang terkandung dalam ikan pari, pemasaran Sosis Ikan Pari, pengembangan produk Sosis Ikan Pari dan meneliti produk sosis dari ikan lain.
Pemanfaatan Abon Ikan Bandeng (chanos-chanos forskal) Sebagai Filling Pada Muffin
ABSTRAK Yeni Putri Sari. 2013. PemanfaatanAbonIkanBandeng (ChanosChanosForskal) Sebagai Filling Pada Muffin.TugasAkhir, Program Studi D3 Tata Boga, JurusanTeknologiIndustri,FakultasTeknik,UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. WiwikWahyuni, M.Pd., (II) Lismi A. Chisbiyah, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci:muffin, abonikanbandeng, ujikesukaan. Muffinmerupakanprodukquick bread yang memilikiteksturlembut yang diolahdenganpemanggangan di dalam oven (baking) dengansuhu 180˚ C selama 40menit.Ikanbandeng (ChanoschanosatauMilkfish) merupakansalahsatujenisikan yang mempunyai rasa spesifik, telahdikenal di Indonesiadanmemilikikandungan protein yang cukuptinggi.Abonikanadalahsuatuprodukolahanikanyang padaprinsipnyamerupakansuatumetodepengawetandengankombinasiantara perebusan/ pengukusan danpenggorengansertapenambahanbumbu-bumbutertentu. Tujuandaripenelitianiniuntukmendapatkanformulasi yang tepatdandiujitingkatkesukaanpanelisterhadapwarna, rasa, aroma,danteksturmuffinfillingabonikanbandeng.Penelitianinimenggunakan format penilaiandan data dianalisismenggunakanpersentase.Penilaiandilakukanterhadapmuffinfillingabonikanbandeng yang meliputi rasa, tekstur, aroma, danwarna.Panelisterdiridari 40 orang panelisagakterlatihdarimahasiswa D3 dan S1 Tata Bogaangkatan 2010-2011. Ujicobaresepdilakukansebanyak 2 kalidenganformulasiresep yang berbeda,untukmendapatkanformulasi yang sesuaipadaprodukmuffinfillingabonikanbandeng.Formulasiresep yang digunakansebagaiujikesukaanyaituformulasiresepkeduadenganhasil rasa gurih, teksturlembut,denganwarnakuningagakcoklat, serta aroma khasabonikanbandeng. Hasilujikesukaanmenunjukkanbahwa42,5% panelismenyatakansukaterhadapwarnamuffinfillingabonikanbandeng, 40% panelismenyatakanagaksukaterhadap rasamuffinfillingabonikanbandeng,27,5% panelismenyatakanagaksukaterhadapteksturmuffin fillingabonikanbandeng, dan40% panelismenyatakanagaksukaterhadaparoma muffinfillingabonikanbandeng.Kesimpulandaripenelitianiniyaitusecarakeseluruhanpanelisdapatmenerimawarna, rasa, tekstur, dan aroma muffinfillingabonikanbandeng. Saran padapenelitianiniyaitupemilihanikanbandengsebaiknyamemilihikandenganukuranbesar,sertadalam proses pembuatanabon,api yang digunakanharussesuai agar hasilabondapatmaksimal