Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Not a member yet
226 research outputs found
Sort by
Changing Organisational Culture: Leader’s Role In Changing Organisational Culture
It has been generally agreed that in order to change the organisational culture it is best, first to change the people in the organisation. Since people are those who make the organisation works and lives. In this case the one who initiate change is the leader of that organisation. This paper will argue that leader is playing an important role in changing the culture of the organisation, and that there are some qualities of leaders needed to enable him/her to change the culture of the organisation
Asesmen Perkembangan Anak (Studi Kasus Asesmen Perkembangan Anak Usia 2 Tahun)
Pemahaman terhadap tahapan tumbuh kembang dapat dilakukan melalui proses asesmen. Asesmen yaitu suatu proses pengumpulan informasi dalam rangka mengambil keputusan. Pengmpulan informasi berupa data yang didapatkan melalui proses pengamatan dengan berbagai macam alat penilaian seperti, skala penilaian, ceklis, rubrik. Jika ruang lingkupnya perkemangan anak usia dini, maka keputusan yang diambil adalah pemberian layanan atau pun perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan dan tahapan tumbuh kembangnya
Urgensi Tujuan Pendidikan Dalam Praktik Pembelajaran Bahasa Arab
Urgensi tujuan pendidikan didalam praktik pembelajaran Bahasa Arab masa kini dan di masa depan, perlu dilakukan pemikiran lanjut mengenai konseptualisasi ilmu pendidikan yang berbasis pada filsafat manusia monopluralis. Konsep manusia monopluralis dijabarkan dari filsafat Pancasila yang berdimensi holistik menempatkan manusia dalam suatu pandangan yang multidimensional. Tujuan pendidikan yang bertitik tolak dari konsep manusia holistik dipandang lebih mampu membangun kepribadian peserta didik ke arah keutuhan kemanusiaan. Maka sudah saatnya para ahli dan pemikir pendidikan mempunyai komitmen bersama untuk menghasilkan pemikiran sistematis ilmiah untuk memperkuat posisi ilmu pendidikan yang berciri epistemologi pendidikan. Pendekatan pengembangan manusia yang holistik membawa implikasi pentingnya merumuskan dan menjabarkan rambu-rambu yang dapat digunakan oleh para praktisi pendidikan (guru, kepala sekolah, pejabat di pusat dan daerah) agar dapat memahami, melaksanakan pendidikan yang berdasarkan pada landasan filsafat manusia Indonesia berdasar Pancasila. Setiap guru perlu mengintegrasikan secara penuh dalam menanamkan nilai bagi peserta didik, begitu pula orang tua dan masyarakat perlu memposisikan diri sebagai teladan (uswatun hasanah), cermin dan rujukan nyata bagi proses aktualisasi nilai-nilai moral (akhlak) dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang menjadi penguatan dimensi pendidikan nilai, agar tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia dapat terwujud secara hakiki
Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal-Soal Model Pisa Konten Numerik Level 1 Sampai 3
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan-kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal model PISA konten numerik khususnya materi operasi hitung bilangan pada level 1 sampai 3 (level rendah). Penelitian dilakukan dengan teknik survey dengan subjek sebanyak 32 siswa kelas VII SMP N 10 Tarakan. Identifikasi kesalahan siswa dihimpun dengan menggunakan 24 butir tes pilihan ganda beralasan (two tier multiple choice item). Instrumen dikembangkan dengan mengacu framework literasi matematika dari PISA. Data respon peserta tes dianalisis dengan statistik deskriptif dan selanjutnya dibuat persentase dari masing-masing jenis kesalahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara rerata capain kompetensi siswa hanya 34 % atau hanya mampu menyelsaikan 4 soal dari 12 soal yang diberikan pada masing-masing komptensi. Kesalahan yang banyak dilakukan siswa adalah kesalahan dalam menginterprestasikan simbol – simbol, grafik, tabel dalam matematika. Selain itu siswa juga kurang cermat dalam melakukan proses perhitunga
Kultur Sekolah dan Kinerja Peserta Didik Man Yogyakarta Iii
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan karakteristik kultur sekolah dan kinerja siswa fokus pada upaya mengkaji (1) karakteristik kultur sekolah terkait dengan aspek sejarah, visi dan misi, core value, dan artifak; (2) karakteristik kinerja siswa dan subkultur yang menopangnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kulaitatif-naturalistik. Objek penelitian ini adalah berupa aspek artifisial dan dinamika psikologis-behavioral dalam kehidupan sekolah di MAN Yogyakata III. Data penelitian ini dikumpulkan melalui dokumen, observasi berperan serta, dan wawancara mendalam dengan kepala madrasah, guru, karyawan, dan peserta didik. Analisis data dilakukan mengacu pada model analisis induktif Guba. Langkah memproses data secara naturalistik dalam hal ini ialah: pertama, menyatukan ke dalam unit-unit; kedua, katagorisasi; ketiga, membuat dan merumuskan teori; keempat, menuliskan teori dengan cara menguraikan temuan-temuan dalam bentuk penelitian kasus. Temuan penelitian menunjukan: (1) karakteristik kultur sekolah yang berkembang terkait erat dengan aspek sejarah madrasah ini. (2) Kelahiran visi menjadi momentum upaya rekulturisasi yang membawa kemajuan. (3) ULTRAPRIMA adalah visi sekaligus konsep khas mengenai sistem nilai budaya utama (core value) yang diwujudkan dengan menanamkan kedisiplinan, kerja keras, kerja sama, kemandirian, kompetisi dan semangat membaca. (4) Internalisasi visi dan nilai ULTRAPRIMA pada pribadi komunitas sekolah dilakukan dalam sebuah lingkungan belajar yang didesain dengan konsep ‘Kampus Hijau’. (5). Karakteristik kinerja peserta didik dapat dikatagorikan dalam dua bagian yaitu peserta didik yang berkinerja tinggi, memiliki subkultur positif yang berasumsi bahwa memenangkan persaingan membutuhkan kesungguhan, dan bahwa prestasi dan prestise adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipertahankan. Kedua, siswa yang berkinerja rendah, memiliki subkultur negatif yakni menganggap bahwa masih terdapat inkonsistensi dalam pengawasan penerapan tata tertib yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pelanggaran, dan krisis persepsi diri
Aplikasi Teori Gestalt Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak
Belajar merupakan tugas utama siswa, sehingga keberhasilan dalam belajar merupakan harapan semua siswa. Akan tetapi, aktivitas belajar bagi setiap siswa berbeda-beda, Perbedaan ini menyebabkan perbedaan tingkah laku peserta didik dalam belajar, ada yang lancar, ada yang tidak, ada yang cepat menangkap apa yang dipelajari, dan ada pula yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar. Oleh karena itu upaya mencegah atau meminimalkan, dan juga memecahkan kesulitan belajar melalui diagnosis kesulitan belajar sangat diperlukan. Dalam teori Gestalt, kesulitan belajar dipandang sebagai masalah yang muncul karena adanya ketegangan. Ketegangan tersebut ditimbulkan oleh kesenjangan antara persepsi dan memori. Adapun aplikasi teori Gestalt dalam mengatasi kesulitan belajar pada anak dapat dilakukan dengan enam tahap. Tahap-tahap tersebut dapat diawali dengan identifikasi kasus, kemudian diagnosis, selanjutnya prognosis, dilanjutkan dengan pemberian treatment atau proses terapi, dan yang terakhir yaitu evaluasi dan follow up atau tindak lanjut
Pendidikan Inspiratif (Menjadikan Iklim Pembelajaran Bermakna)
Dapat disimpulakan pembahasan mengenai Pendidikn Inspiratif itu adalah usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik untuk menggerakan atau membangkitkan semangat para peserta didik untuk menciptakan suatu proses pembelajaran yang bermakna. Dalam usaha untuk meningkatkan iklim pembelajaran yang inspiratif, aspek paling utama yang harus diperhatikan oleh pendidik adalah bagaimana pendidik mampu untuk menarik dan mendorong minat peserta didik untuk senang dan menyukai terhadap pembelajaran
Pembelajaran Akhlak Siswa Studi Implementasi Ajaran Kitab Ta‘Lim Al-Muta‘Allim
Penanaman nilai-nilai akhlak dalam dunia pendidikan saat ini menjadi sangat penting, mengingat dewasa ini pengaruh teknologi dan informasi cukup menghegemoni pola hidup setiap individu.yang kemudian berdampak pada pergaulan dan perilaku tidak terpuji lainnya. Dengan demikian, pembelajaran akhlak merupakan salah satu solusi yang kemudian bisa menjadi benteng kokoh bagi siswa agar tidak terpengaruh terhadap hal-hal negative yang ditimbulkan dari adanya kehidupan modern ini. Mata Pelajaran Akhlak merupakan salah satu dari mata pelajaran yang berada dalam kurikulum. Mata Pelajaran Akhlak tercakup dalam suatu bidang studi tertentu yang dinamakan Akidah Akhlak, serta dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan tentang nilai-nilai akhlak yang merupakan dasar utama dalam pembentukan pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah Yang Maha Esa dan berbudi luhu
Menimbang Gagasan Al-Ghazali Tentang Pendidikan Islam
Tulisan ini merupakan relfeksi terhadap gagasan tokoh lslam klasik dalam menata dunia pendidikan. Setiap tokoh mewakili zamannya, tetapi bukan berarti produk gagasannya tidak berlaku di zaman sekarang. Kalaupun produk gagasannya tidak relevan lagi, minimal metodologi yang digunakan dalam mempreduksi tersebut dapat dipertimbangkan untuk diterapkan di era kekinian. Al-Ghazali merupakan tokoh besar Islam yang tidak hanya focus pada dunia sufistik tetapi juga telah menorehkan tinta emas dalam dunia pendidikan. Menyikapi problem dunia pendidikan yang semakin kompleks, maka tulisan ini focus pada gagasan al-Ghazali mengenai tujuan pendidikan, kurikulum, metode dan media, proses pembelajaran, pendidikan, dan peserta didik
Konsep Bermain Pada Anak Usia Dini
Anak usia dini merupakan anak yang berada pada umur 0-6 yang sedang dalam proses perkembangan dan pertumbuhan dan memiliki potensi yang harus dikembangan. Untuk mengembangan potensi yang dimiliki maka diperlukan suatu kegiatan yang dapat mengembangkan dan mengoptimalkan setiap tahapan perkembangan anak. Bermain merupakan aktifitas yang menyengkan yang dilakukan atas dasar suatu kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir dan dilakukan secara suka rela dengan tahapan perkembangan dimuali dari tahapan manipulative, simbolis, eksplorasi, eksperiment dan tahapan dapat dikenal. Melalui bermain aspek perkembangan motorik,social,emosional, bahasa anak akan berkembang jika dalam kegiatan main anak usia dini di dukung oleh tiga jenis main yaitu: main sensorimotor ,main peran,main konstruktif