Polyglot: Jurnal Ilmiah
Not a member yet
    192 research outputs found

    WOMEN'S STRUGGLE AGAINST THE PATRIARCHATE AND COLONIAL HEGEMONY IN PRAMOEDYA ANANTA TOER'S RUMAH KACA

    Full text link
    In most literary works set in the colonial era, women were described as weak, helpless, unable to resist, unlike the character Siti Soendari whom Pramoedya in the novel Rumah Kaca presented. Soendari became a female intellectual figure who fought against the existing power. This article describes the struggle in breaking down the patriarchal system and criticizing colonial power. This research uses a descriptive qualitative method with feminism and a post-colonial approach. The result shows that Siti Soendari was a female figure who fought intellectually. She was an educated woman who delivered her opinion through writing and speech. The way she fought was manifested by writing in newspapers, building organizations, and giving speeches at a youth meeting.  Boycotted by the colonial power, Siti Soendari did not run out of ideas. She circulated her writings instead of publishing them in newspaper. Her struggle was unique because her goal was not just to create gender equality. She struggled to foster a nationalist nature among young people. In other words, she fought not only for women but also for her nation and country. This study recommends that the novel Rumah Hijau can be used as primary reading material in high schools and colleges.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Dalam kebanyakan karya sastra berlatar zaman penjajahan, perempuan digambarkan lemah, tak berdaya, tidak mampu melawan. Berbeda dengan tokoh Siti Soendari yang dihadirkan Pramoedya dalam novel Rumah Kaca. Siti Soendari menjadi sosok perempuan intelektual yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang ada. Artikel ini mendeskripsikan perjuangan tersebut dalam mendobrak sistem patriarkat dan mengkritisi kekuasaan kolonial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan feminisme dan postkolonial. Hasil penelitian menunjukkan Siti Soendari adalah tokoh perempuan yang melakukan perjuangan dengan cara intelektual. Ia perempuan terdidik yang mampu menyuarakan pendapatnya lewat tulisan maupun lisan. Wujud perjuangan tokoh ini, antara lain; menulis di surat kabar, membangun organisasi, dan berpidato di pertemuan-pertemuan pemuda. Saat perjuangannya diboikot oleh kekuasaan kolonial, Siti Soendari tidak kehabisan akal. Tulisan-tulisannya tidak lagi dipublikasi melalui surat kabar, melainkan diedarkan dari orang ke orang. Perjuangan Siti Soendari menjadi unik karena tujuannya bukan sekadar menciptakan kesetaraan gender. Perjuangannya bertujuan menumbuhkan sifat nasionalis di kalangan pemuda. Dengan kata lain, ia tidak sekadar berjuang untuk kaum perempuan tetapi juga untuk bangsa dan negaranya. Hasil penelitian ini merekomendasikan novel Rumah Kaca digunakan sebagai bahan bacaan utama di sekolah menengah maupun perguruan tinggi

    PENGEMBANGAN MODUL PERSIAPAN LANGUAGE B DIPLOMA PROGRAMME DALAM MENULIS TEKS PRIBADI DENGAN BAHASA YANG BAIK DAN BENAR [THE DEVELOPMENT OF LANGUAGE B DIPLOMA PROGRAMME PREPARATION IN WRITING PERSONAL TEXTS IN CORRECT AND PROPER LANGUAGE MODULE]

    Full text link
    The purpose of this research is to evaluate and show that the use of module can helps grade 10 students understand the correct and proper Indonesian and types of personal texts. This certainly also helps grade 10 students prepare themselves before taking the Indonesian Language B subject later in the Diploma Programme. The research and development method used is the simplified form of the theory of Dick & Carey. The research data were obtained using a questionnaire completed by experts, practitioners, and grade 10 students in Indonesian Language B classes. The module is feasible if it has an average score ‰¥ 3.7. The data showed the final average score of 3.7 and 4.2. Based on the results of the data analysis, it can be concluded that the module can help students understand the correct and proper Indonesian and types of personal texts.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan menunjukkan bahwa penggunaan modul dapat membantu siswa kelas X dalam memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar serta  jenis-jenis teks pribadi. Hal ini tentunya dapat membantu siswa kelas X dalam mepersiapkan diri mereka sebelum mengambil mata pelajaran Bahasa Indonesia Language B pada jenjang Diploma nantinya. Metode penelitian dan pengembangan yang digunakan merupakan bentuk sederhana dari teori yang dikemukakan oleh Dick & Carey. Data hasil penelitian diperoleh menggunakan instrument berbentuk angket yang diisi oleh ahli/pakar, praktisi, dan siswa siswa kelas X yang mengikuti mata pelajaran Bahasa Indonesia Language B. Modul dikatakan layak apabila memiliki nilai rata-rata ‰¥ 3,7. Data yang diperoleh menunjukkan nilai rata-rata akhir sebesar 3,7 dan 4,2. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa modul yang dikembangkan dapat membantu siswa dalam memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar serta jenis-jenis teks

    A HOLISTIC APPROACH OF ELLEN WHITE IN CHRISTIAN EDUCATION ORGANIZATION CONCERNING TOTAL QUALITY MANAGEMENT

    Full text link
    The educational management quality is poor and weak. Massive works have been issued to increase its quality. However, those approaches work independently and separately, as a consequence, it does not solve the problem comprehensively. Philosophical and Christian education approaches are far from attention. Ellen White as a Christian education philosopher with an American background shares a potential concept to the tension. This essay employs qualitative research methods and literature study to formulate White's holistic approach concerning total quality management. In sum, with her anthropological and religious features, she argues that spiritual, physical, and mental dimensions should work together in harmony to establish the expected result in educational total quality management in Indonesia.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Manajemen mutu terpadu pendidikan masih lemah dan buruk. Banyak pekerjaan yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitasnya. Namun, pendekatan-pendekatan dilakukan secara terpisah dan sendiri-sendiri, sebagai akibatnya, persoalan tidak terselesaikan secara utuh. Pendekatan filsafat dan pendidikan Kristen masih kurang mendapatkan perhatian. Ellen White sebagai filsuf pendidikan Kristen dengan latar belakang Amerika memberikan konsep yang menjanjikan untuk percakapan ini. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif disertai studi literatur, penelitian ini mencoba untuk mengformulasikan pendekatan holistik White sehubungan dengan manajemen mutu terpadu. Sebagai kesimpulan, dengan kekhasan antropologi dan agamanya, dia berpendapat bahwa dimensi rohani, fisik dan pikiran harus bekerja sama dalam keharmonisan untuk menciptakan hasil yang diharapkan pada manajemen mutu terpadu terhadap pendidikan di Indonesia

    COLLABORATIVE AND PROBLEM-BASED LEARNING IN PROMOTING INDONESIAN EFL LEARNERS’ LEARNING AUTONOMY

    Full text link
    There is an indispensable need for language teachers to promote a more specific breakthrough in diverse wide-ranging Indonesian EFL classroom contexts. One of the efficient teaching-learning strategies worthwhile to achieve this holistic educational major objectivity is to promote student-centered learning approaches in which all learners are capable of constructing a vast array of knowledge jointly with their trusted learning companions. Responding to the resurgence of this learning strategy, both collaborative and problem-based learning enterprises can potentially breed more proficient, critical, creative, and autonomous L2 academicians. These positive matters may be due to the considerable number of precious learning opportunities imparted for learners to enrich each other’s existent understanding in the light of meaningful sharing as well as intimate cooperative networking. This study was conducted by using a library approach to reveal the renewable findings out of the observed phenomenon. Thus, 30 collaborative along with problem-based learning studies conducted in Indonesian EFL learning contexts were overviewed in this study. Generally speaking, two specific major themes strongly suggested Indonesian EFL teachers incorporating collaborative and problem-based learning approaches in their multiverse second language classroom settings to promote more fruitful learning outcomes that suit learners’ real-time life experiences.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Ada sebuah kebutuhan yang sangat krusial bagi para guru Bahasa untuk membawa sebuah terobosan yang spesifik di dalam keanekaragaman pembelajaran Bahasa Inggris konteks negara Indonesia. Salah satu dari strategi pembelajaran yang efektif untuk mewujudkan nilai holistik pendidikan ini adalah menerapkan metode pembelajaran berbasis student-centered dimana semua pelajar dapat memperkaya diri mereka dengan berbagai macam pengetahuan bersama-sama dengan rekan-rekan pembelajaran yang dipercaya. Berkenaan dengan kebangkitan dari strategi pembelajaran ini, pembelajaran berbasis kolaboratif serta pemecahan masalah berpeluang menghasilkan cendekiawan Bahasa kedua yang lebih cakap, kritis, kreatif, dan mandiri. Hal-hal positif dari pembelajaran ini barangkali disebabkan oleh banyaknya ketersediaan dari kesempatan belajar yang berharga ditujukan kepada para pelajar untuk memperkaya pemahaman mendasar mereka satu sama lainnya melalui sharing yang bermanfaat dan kerjasama kooperatif yang intim. Penelitian kualitatif ini menerapkan metode studi pustaka dengan meninjau hasil-hasil yang berarti dari 30 penelitian pembelajaran berbasis kolaboratif dan pemecahan masalah. Secara umum, 2 tema utama yang spesifik dengan kuat menganjurkan para guru Bahasa Inggris untuk menerapkan pembelajaran berbasis kolaboratif dan pemecahan masalah didalam konteks pembelajaran Bahasa Inggris yang beraneka ragam untuk mempromosikan pembelajaran yang lebih bermanfaat sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari para pelajar

    PENGARUH PEMBELAJARAN JARAK JAUH MODEL BAURAN TERHADAP HASIL BELAJAR DAN PERSEPSI MAHASISWA [THE EFFECT OF THE BLENDED LEARNING MODEL ON STUDENT LEARNING OUTCOMES AND PERCEPTIONS]

    Full text link
    This study aims to determine whether distance learning can effectively be implemented. This study compares the blended model of distance learning to traditional learning. The comparison is related to students’ learning outcomes and their perceptions of the two different learning models. This research is a quantitative study using a quasi-experimental research design with a time-series model. The population of this research was all fourth semester students who took digital electronics courses. Data collection was carried out in two ways: first, by using several tests to gather data on learning outcomes and, second, by giving questionnaires to determine student perceptions. Data analysis was performed using the t test for paired (dependent) samples. This study revealed that there were statistical differences between blended learning and traditional learning (p < 0.05). This result also showed that the blended model of distance learning was more effective than traditional learning.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Penelitian ini adalah bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran jarak jauh efektif untuk diterapkan. Penelitian ini membandingkan antara pembelajaran jarak jauh model bauran dengan pembelajaran tradisional. Yang dibandingkan adalah hasil belajar mahasiswa dan persepsi mereka pada kedua pembelajaran ini. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang menggunakan desain penelitian quasi-eksperimen model time-series. Populasi penelitian ini adalah semua mahasiswa semester 4 yang mengikuti perkuliahan mata kuliah Elektronika Digital. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu dengan beberapa tes untuk data hasil belajar dan kuesioner untuk data persepsi mahasiswa. Analisa data dibuat dengan menggunakan uji t untuk sampel berpasangan (tak bebas). Hasil analisis uji t dan perbandingan mean diperoleh bahwa terdapat perbedaan pada kedua sampel rata-rata yang diuji dan pembelajaran jarak jauh model bauran memiliki rata-rata yang lebih tinggi dari pembelajaran tradisional (P<0.05). Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran jarak jauh model bauran adalah lebih efektif dari pembelajaran tradisional

    PERAN DOSEN PEMBIMBING SEBAGAI PEMIMPIN YANG MELAYANI DALAM PEMBIMBINGAN TUGAS AKHIR MAHASISWA PROGRAM SARJANA [THE ROLE OF SUPERVISOR AS A SERVANT LEADER IN THE FINAL PROJECT SUPERVISION OF UNDERGRADUATE STUDENTS]

    Full text link
    The final project is a graduation requirement for undergraduate students to obtain their bachelor’s degree. The final project is carried out by students  under the direction of their supervisors. One of the indicators of a supervisor’s success in the final project supervision is that students are able to complete the final project in one semester. The supervisor is expected to be able to carry out his role by imitating Jesus Christ, in accordance with the vision and mission of Universitas Pelita Harapan as a Christian institution which prioritizes faith in Christ. This research aims to understand the role of the supervisor as a servant leader in the final project supervision. This is important in order to see how he conforms to the role and also can be used as a reference to improve the performance of the final project supervisor. A qualitative research method in a study case was used in this research to generate an in-depth understanding. Research subjects were six lecturers who participated in structured interviews and 36 student respondents who gave responses through questionnaires. Based on the results of the analysis, the supervisors in the Faculty of Psychology have carried out their role as servant leaders in their students’ final project supervision and supporting their students in completing their final projects in one semester.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Tugas akhir merupakan syarat kelulusan bagi mahasiswa program sarjana untuk mendapatkan gelar sarjana strata satu. Proses pengerjaan tugas akhir dilakukan oleh mahasiswa di bawah arahan dosen pembimbing, di mana salah satu indikator keberhasilan dosen pembimbing dalam proses pembimbingan tugas akhir adalah mahasiswa mampu menyelesaikan tugas akhir dalam satu semester. Dosen pembimbing diharapkan dapat menjalankan perannya dengan meneladani Yesus Kristus, sesuai dengan visi dan misi Universitas Pelita Harapan sebagai sebuah institusi Kristen yang mengedepankan iman kepada Kristus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana peran dosen pembimbing sebagai pemimpin yang melayani dalam menjalankan proses bimbingan tugas akhir. Hal ini penting untuk mengetahui kesesuaian peranan dosen pembimbing dan dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan kinerja dosen pembimbing tugas akhir. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus untuk mendapatkan deskripsi secara mendalam. Subjek penelitian adalah enam orang narasumber dosen dengan melakukan wawancara terstruktur dan 36 responden mahasiswa yang memberikan tanggapan melalui kuesioner. Berdasarkan hasil analisis, dosen pembimbing di Fakultas Psikologi UPH telah menjalankan perannya sebagai pemimpin yang melayani dalam pembimbingan tugas akhir mahasiswa dengan baik dan mendukung mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir dalam satu semester

    MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA MELALUI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA GAYA LORENTZ [IMPROVING STUDENTS’ COGNITIVE LEARNING OUTCOMES THROUGH DEVELOPMENT OF LORENTZ FORCE TOOLS]

    Full text link
    Based on the results of the distribution of questionnaires to students and interviews with physics teachers, there are two things that the author found. The first is students still have difficulty in determining the direction of Lorentz force and the second is the availibility of tools for Lorentz force practicums at school is still a separate component. So, it is necessary to develop Lorentz force media that can overcome both problems. The purpose of this study is to improve students' cognition through developing Lorentz force tools. The research and development (R&D) of the Borg and Gall model is the methodology applied in this study. The research instrument used was the test instrument. The results of the development of tools is validated by material experts, media experts, and Physics teachers. The validity of the Lorentz force tools is calculated using the product moment formula, reliability is calculated using the KR-20 formula. The results of data analysis in the experimental class, obtained an average score of pretest of 29.17, grooming post-test average of 82.78. From these data, it can be concluded that the development of Lorentz force tools  can improve students’ learning outcomes in the cognitive aspect.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Berdasarkan dari hasil penyebaran angket kepada siswa dan wawancara terhadap guru Fisika ada dua hal yang penulis temukan. Pertama masih ditemukan siswa yang kesulitan dalam menentukan arah gaya Lorentz dan yang kedua KIT praktikum gaya Lorentz yang tersedia di sekolah  masih dalam komponen yang terpisah. Sehingga perlu adanya pengembangan media gaya Lorentz yang dapat mengatasi kedua permasalahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kognitif siswa melalui  pengembangan alat peraga gaya Lorentz. Penelitian dan pengembangan (R & D) model Borg and Gall merupakan metodologi yang diterapkan pada penelitian ini. Instrumen penelitian  yang digunakan instrumen tes. Hasil pengembangan alat peraga divalidasi oleh ahli materi, ahli media dan guru Fisika. Validitas alat peraga gaya Lorentz dihitung dengan menggunakan rumus product Moment, reliabilitas  dihitung dengan menggunakan rumus KR-20. Hasil dari analisis data pada kelas eksperimen, diperoleh skor rata-rata pre-test sebesar 29,17, dan rata-rata post-test82,78. Dari data tersebut dapat simpulkan melalui pengembangan alat peraga gaya Lorentz mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif

    EKSISTENSI BAHASA DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL: SEBUAH PENDEKATAN INTERDISIPLINER [LANGUAGE EXISTENCE IN INTERPERSONAL COMMUNICATION: AN INTERDICIPLINARY APPROACH]

    Full text link
    Language is very important in communication since it is the main means to deliver a message. A message can be effectively communicated if both speakers and listeners use a comprensible language. The purpose of this paper is to describe the existence of language in communication by using an interdisciplinary approach. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Bahasa sangat penting dalam komunikasi karena merupakan alat utama untuk menyampaikan sebuah pesan. Pesan yang disampaikan dalam komunikasi akan efektif bila menggunakan bahasa yang dimengerti dan dipahami baik oleh komunikator maupun komunikan. Tujuan penulisan ini untuk mendeskripsikan eksistensi bahasa dalam komunikasi dengan menggunakan pendekatan interdisipliner

    PERANAN INFLUENCER DALAM MENGKOMUNIKASIKAN PESAN DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM [THE ROLE OF SOCIAL MEDIA INFLUENCERS IN COMMUNICATING MESSAGES USING INSTAGRAM]

    Full text link
    Instagram as a social media network has produced influencers who are influential in disseminating information and messages digitally. Influencers are considered capable of impacting their followers through photo uploads and electronic word of mouth (EWoM) which they post on their social media feeds. This study was conducted qualitatively with a literature review approach and indirect interviews with influencers and their followers. The results show that the role of influencers has an impact on followers based on what they upload and what they write about on Instagram.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Media sosial Instagram telah melahirkan para influencer yang berpengaruh dalam penyebaran informasi dan pesan secara digital. Influencer dinilai mampu memberikan dampak bagi para pengikutnya melalui unggahan foto dan electronic word of mouth (EWom) yang mereka sampaikan di media sosial mereka. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan literature review dan wawancara tidak langsung kepada para influencer dan juga pengikutnya. Hasilnya menunjukan bahwa peranan influencer memberikan dampak bagi pengikutnya berdasarkan pada pada apa yang mereka unggah dan apa yang mereka tulis di sosial media Instagram.

    MENJADI GURU YANG REFLEKTIF MELALUI PROSES BERPIKIR REFLEKTIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA [BECOMING A REFLECTIVE TEACHER THROUGH THE REFLECTIVE THINKING PROCESS IN MATHEMATICS LEARNING]

    Full text link
    This research is based on problems found during the Field Experience Program (PPL 2) when more than 50% of the students scored below the minimal completeness criteria (KKM) on the first daily test and some students were impolite to the teacher.  The author sees these problems being caused by the teacher's lack of ability to manage the classroom, especially in the realm of classroom interaction. One of the expected competencies of a teacher is that he or she is able to become a reflective person. Indeed, God condemns the attitude of a person who always defends himself because it makes him always justify his actions without wanting to reflect upon those actions. Being a reflective person will help a teacher examine his strengths and weaknesses in teaching to improve the quality of his teaching. The purpose of this study is to describe the importance of repeated reflection by a teacher through the reflective thinking process in mathematics learning. The results of the reflection process can help a teacher solve problems in class. The author suggests that the teacher focuses on observing the characteristics of the students in class so that, through the introduction of each individual student, the teacher can prepare what is needed to carry out learning in accordance with the characteristics of students.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Penelitian ini didasari oleh permasalahan yang ditemukan saat menjalankan Program Pengalaman Lapangan (PPL) 2 yang mana pada saat ulangan harian pertama terdapat lebih dari 50% siswa mendapat nilai dibawah KKM dan beberapa siswa yang berlaku tidak sopan kepada guru. Penulis melihat permasalahan ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan guru dalam memanajemen kelas khususnya dalam ranah interaksi di dalam kelas. Salah satu kompetensi yang diharapkan adalah guru mampu menjadi pribadi yang reflektif. Sejatinya, Allah mengutuk sikap orang-orang yang selalu membela diri karena hal tersebut akan membuat manusia selalu membenarkan tindakannya tanpa mau merefleksikan tindakannya. Menjadi pribadi yang reflektif, akan membantu guru untuk memeriksa kelebihan dan kekurangannya dalam mengajar untuk memperbaiki kualitas pengajarannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan pentingnya melakukan refleksi berulangkali oleh guru melalui proses berpikir reflektif dalam pembelajaran matematika. Dengan demikian, dari hasil proses refleksi tersebut dapat membantu guru untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di kelas. Penulis menyarankan untuk guru fokus mengobservasi karakteristik siswa dalam satu kelas. Supaya, melalui pengenalan akan setiap pribadi siswa, guru dapat mempersiapkan hal apa saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa

    128

    full texts

    192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Polyglot: Jurnal Ilmiah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇