Polyglot: Jurnal Ilmiah
Not a member yet
    192 research outputs found

    Hubungan Motivasi Belajar Siswa dengan Persepsi Siswa dalam Berprestasi [The Relationship between Students' Motivation and Students' Perceptions of Achievement]

    No full text
    Learning achievement is influenced by many factors, such as teaching methods, the means and facilities available, the environment and student motivation to learn. One of the problems found in the school was weak student motivation for learning. Which in the end has an impact on the perception of students in achieving good results. The purpose of this research is to know if there is any correlation between the students’ learning motivation and students’ perception of learning achievement and what is the correlation of the students’ learning motivation and students’ perception of learning achievement. This research used a quantitative approach with a sample size of 30 students. Data were collected using a questionnaire. The validity of this instrument construction was obtained from three expert judgments. The empirical validity of this instrument was calculated by the formula of Rank Spearman. The variables concerning student learning motivation consisted of 18 items and the variables indicating student perception of learning achievement consisted of 8 items. Reliability is measured with Cronbach Alpha. The Alpha value obtained for the variables of student learning motivation was 0.865 and the Alpha value of the variable students’ perception of learning achievement is 0.781. Data were analyzed using the Spearman rank correlation (Rho-Spearman) and significance test connection with the distribution of t test at a significance level of 5%. The results of this research showed a significant positive correlation between students’ learning motivation and student perception of learning achievement (r = 0.612, sig= 0,000. That means that the higher the student learning motivation the stronger the student perception of learning achievement.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Prestasi belajar dipengaruhi banyak faktor, misalnya metode guru dalam mengajar, sarana dan fasilitas yang tersedia, lingkungan dan motivasi siswa dalam belajar. Salah satu masalah yang ditemukan di sekolah adalah lemahnya motivasi belajar yang dimiliki siswa yang akhirnya berdampak kepada persepsi siswa dalam berprestasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan motivasi belajar siswa dengan persepsi siswa dalam berprestasi  dan bagaimanakah hubungan motivasi belajar siswa dengan persepsi siswa dalam berprestasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 30 siswa. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Validitas konstruksi instrumen diperoleh dari 3 expert judgment (ahli). Validitas empirik instrumen dihitung dengan rumus Rank Spearman, variabel motivasi belajar siswa terdiri dari 18 item dan variabel persepsi siswa dalam berprestasi terdiri dari 8 item. Reliabilitas diukur dengan Alpha Cronbach, diperoleh nilai Alpha variabel  motivasi belajar siswa adalah 0,865 dan nilai Alpha variabel persepsi siswa dalam berprestasi adalah 0,781. Data dianalisis dengan menggunakan korelasi peringkat spearman (Rho-Spearman) dan uji signifikansi hubungan dengan uji distribusi t pada taraf signifikansi 5%. Hasil analisis ini menunjukkan adanya hubungan yang positif signifikan antara motivasi belajar siswa dengan persepsi siswa dalam berprestasi (r = 0,612, sig = 0,000. Artinya semakin baik atau tinggi motivasi belajar siswa maka akan semakin besar dan kuat juga persepsi siswa untuk meraih prestasi

    Profil Pemecahan Masalah Aljabar Berpandu Pada Taksonomi SOLO Ditinjau Dari Gaya Kognitif Konseptual Tempo Siswa SMA Negeri 1 Makale Tana Toraja [A Profile of Guided Algebra Problem Solving Using the SOLO Taxonomy and the Cognitive Conceptual Tempo Style of Students at the SMA Negeri 1 School In Makale, Tana Toraja]

    No full text
    The objective of this research was to discover the process used in solving a superitem test which consisted of 4 stages according to the SOLO (Structure of Learning Outcomes) Taxonomy, namely unistuctural, multistructural, relational, and extended abstract, and reviewed using the cognitive impulsive and reflective style. The research was qualitative research. The main instrument of the research was the researcher himself guided by a superitem test, an impulsive-reflective cognitive test namely MFFT (Matching Familiar Figure Test), and a valid interview guideline. The subject of this research was the students of class X1 at SMA Negeri 1 Makale Tana Toraja consisting of four students in which 2 subjects were with cognitive impulsive style and 2 subjects with cognitive reflective style. The data was collected by giving a superitem test which was verified with an interview. The results of the research show that: (a) the first subject’s impulsive and reflective style showed the tendency of problem solving at an abstract level which was expanded in the question of one variable linear equation and in the question of two variable linear equation, (b) the second subject’s impulsive cognitive style in two variable linear equation problem solving showed the tendency of unistuctural and relational thinking only, (c) the second subject’s cognitive reflective style showed the tendency of problem solving in relational level, (d) the subject’s impulsive and reflective cognitive style showed the tendency of the same problem solving in the level unistructural, multistructural, relational, and abstract in the question of one variable linear equation, and different in the abstract level in the question of two variable linear equation.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pemecahan masalah dengan melihat dan mengungkap proses berpikir siswa dalam menyelesaikan tes superitem yang terdiri atas 4 tingkatan menurut Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes), yaitu: unistruktural, multistruktural, relasional, dan abstrak yang diperluas ditinjau dari gaya kognitif impulsif dan reflektif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dipandu oleh tes superitem, tes gaya kognitif impulsif-reflektif, yaitu: MFFT (Matching Familiar Figure Test), dan pedoman wawancara yang valid. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Makale Tana Toraja yang terdiri dari 4 subjek yang mana 2 subjek gaya kognitif impulsif dan 2 subjek gaya kognitif reflektif. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes superitem dan verifikasi dengan wawancara. Hasil penelitian ini adalah (a) Subjek pertama gaya kognitif impulsif (GKI) maupun reflektif (GKR) menunjukkan kecenderungan pemecahan masalah pada tingkat abstrak yang diperluas pada soal persamaan linear satu variabel dan soal persamaan linear dua variabel, (b) Subjek kedua gaya kognitif impulsif pada pemecahan masalah persamaan linear dua variabel menunjukkan kecenderungan berpikir unistruktural dan relasional saja, (c) Subjek kedua gaya kognitif reflektif (GKR) menunjukkan kecenderungan pemecahan masalah pada tingkat relasional, (d) Subjek gaya kognitif impulsif maupun reflektif menunjukkan kecenderungan pemecahan masalah yang sama pada tingkat unistruktural, multistruktural, relasional dan abstrak pada soal persamaan linear satu variabel, dan berbeda pada tingkat abstrak pada soal persamaan linear dua variabel

    Peran Guru Kristen sebagai Agen Restorasi dan Rekonsiliasi dalam Mengembangkan Karakter Kristus pada Diri Remaja sebagai Bagian dari Proses Pengudusan [The Role of Christian Educator as Agent of Restoration and Reconciliation in Developing Christ-like Character in Adolescence as part of the Sanctification Process]

    No full text
    Sanctification is a process of maturation to becoming more Christ-like in character after a person experiences regeneration. In the context of adolescent faith development, apart from parents and church clergy, regenerated adolescents also need support from Christian teachers as the agent of restoration in order to restore the image of God in themselves and as the agent of reconciliation in order to restore their relationship with God, others, and themselves all of which have been affected by sin. Christian teachers can function as role models for these adolescents both inside and outside classroom settings. One of the biggest barriers for adolescents to develop a more Christ-like character are their irrational beliefs that influence their thoughts and behaviors. This article will discuss the role of Christian teachers in helping adolescents to become more Christlike in character in their daily life. BAHASA INDONESIA ABSTRAK:  Pengudusan merupakan suatu proses pendewasaan menuju karakter Kristus setelah seseorang mengalami kelahiran baru. Dalam konteks perkembangan iman remaja, selain dari peran orangtua dan pendeta, para remaja yang telah lahir baru membutuhkan dukungan guru Kristen sebagai agen pemulihan untuk memulihkan gambar dan rupa Allah dalam diri mereka dan agen pendamaian untuk memulihkan relasi mereka dengan Allah, sesama, dan diri sendiri yang telah rusak karena dosa. Guru Kristen memiliki peran sebagai teladan bagi para remaja baik didalam maupun diluar konteks kelas. Salah satu hambatan terbesar bagi remaja untuk memiliki dan menghidupi karakter Kristus adalah irrational beliefs mereka yang mempengaruhi pikiran dan perilaku mereka. Artikel ini akan membahas bagaimana peran guru-guru Kristen dalam menolong para remaja untuk memiliki dan menghidupi karakter Kristus dalam kehidupan mereka sehari-hari

    Hubungan Kompetensi Kepribadian Mahasiswa Guru dengan Motivasi Berprestasi Siswa [Relationship between Student Teacher’s Personality Competence and Student’s Motivation of Achievement]

    No full text
    The role of teachers is not merely transferring knowledge, but also developing student character. In the field, students tend to do only the minimum necessary to pass. The objectives of this study were to determine if there was a correlation between student-teacher personality competence and student motivation, specifically their achievement motivation. The level of the significance of the correlation was also investigated. This research was a quantitative research correlational design with a 0.05 level of significance. Spearman Rank correlation coefficient test and SPSS program were used to analyze the data. The population of this research was 88 students, while the samples taken were 22 students by using purposive sampling technique. The results of this research confirmed that there was a positive correlation between student-teacher personality competence and students achievement motivation. Furthermore, the correlation between student-teacher personality competence and students achievement motivation was significant.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Peran guru bukan hanya sekadar mentransfer ilmu, melainkan juga mendidik karakter siswa. Di lapangan, siswa menunjukkan bahwa mereka hanya mengejar Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) di dalam kelas untuk lulus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara kompetensi kepribadian mahasiswa guru yang sedang praktik mengajar dengan motivasi berprestasi siswa serta mengetahui signifikansi hubungannya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif desain korelasional dengan taraf signifikansi 0.05. Uji koefisien korelasi Spearman Rank dan program SPSS digunakan untuk menganalisis data. Jumlah populasi penelitian ini adalah 88 siswa, sementara sampel yang diambil sebanyak 22 siswa dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi kepribadian mahasiswa guru dengan motivasi berprestasi siswa. Hubungan kompetensi kepribadian mahasiswa guru dengan motivasi berprestasi siswa ini dinyatakan signifikan. 

    Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team Achievement Division) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VIII Sekolah ABC Topik Relasi dan Fungsi [The Implementation of the Student Team Achievement Division (STAD) Cooperative Learning Type to Improve Conceptual Understanding of Relation and Function Topics of Grade VIII Students at ABC School]

    No full text
    This research was based on the observation that most of the students had low conceptual understanding.  The Student Team Achievement Division (STAD) Cooperative Learning type was applied.  The purpose of the research was to increase conceptual understanding through the implementation of STAD and to understand the procedures of STAD Cooperative Learning in increasing conceptual understanding. This was the Classroom Action Research (CAR) model by Kemmis and Taggart that was conducted between August 3, 2015 and September 21, 2015 at the Grade VIII ABC School.  There were three cycles of CAR that involved 32 students.  The instruments of data collection were a test paper, a group assignment sheet, an open-ended observation sheet, a questionnaire, a mentor feedback sheet, a mentor and a student interview sheet, and reflection journals.  Based on the data analysis, it was found that the implementation of STAD Cooperative Learning was able to increase the conceptual understanding of Grade VIII students on the topics of Relation and Function. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Penelitian ini didasarkan atas hasil observasi  yang menemukan bahwa sebagian besar siswa memiliki pemahaman konsep yang rendah.Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) dicoba untuk diterapkan. Penerapan STAD diharapkan dapat mencapai tujuan penelitian yaitu meningkatkan pemahaman konsep melalui penerapan STAD dan mengetahui langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan pemahaman konsep. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Taggart yang berlangsung selama 03 Agustus 2015 - 21 September 2015 di kelas VIII di sekolah ABC. Penelitian dilakukan dengan tiga siklus dengan melibatkan 32 siswa. Adapun instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu lembar tes, lembar LKK kelompok, lembar observasi terbuka, lembar angket, lembar umpan balik mentor, lembar wawancara siswa dan mentor, dan jurnal refleksi.  Berdasarkan analisis data, diperoleh bahwa penerapan tahapan pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas VIII pada topik relasi dan fungsi

    Penerapan Reward dan Konsekuensi untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Kelas II SD Sekolah Kristen ABC [The Implementation of Rewards and Consequences to Improve Students’ Discipline in Grade II of Christian School ABC]

    No full text
    Based on the observations and teaching reflections I did as an internship student in grade II of an elementary school, I found that most of the students did not follow the classroom rules when I was teaching. During the learning process, they chatted with each other, did not raise their hands before talking, and some students played with their belongings. I decided to use rewards and consequences to help them show expected behaviors. The purposes of this research was to know whether the use of rewards and consequences would increase the students’ discipline while I was teaching. The method used in this research was Classroom Action Research (CAR) that was held in two cycles. This research involved 24 students of a grade II class at ABC Christian School. Data was collected from observations, interviews and journal reflections. After analyzing the data descriptively, it was found that the implementation of rewards and consequences increased students’ expected behaviors. The rewards and consequences worked on increasing their discipline by maintaining consistency of the implementation of the rewards and consequences as well as using supporting non-verbal communications. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Berdasarkan hasil observasi telah dilakukan peneliti di kelas 2 sekolah ABC Manado maka disimpulkan bahwa kedisiplinan siswa masih kurang. Peneliti menemukan bahwa siswa tidak mengikuti peraturan dan prosedur yang ada di dalam kelas. Peneliti kemudian memutuskan menggunakan reward dan konsekuensi untuk mengatasi masalah tersebut dan mengembangkan kemampuan peneliti dalam mendisiplinkan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelediki apakah reward dan konsekuensi dapat meningkatkan kedisiplinan siswa dan juga untuk menemukan tentang bagaimana menerapkan reward dan konsekuensi secara efektif dalam meningkatkan kedisiplinan siswa.Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas II yang terdiri dari 25 siswa. Data dikumpulkan melalui instrumen penelitian berupa, lembar observasi mentor, lembar kuesioner siswa, lembar wawancara mentor dan teman sejawat, dan jurnal refleksi harian dan daftar centang dari mentor dan teman sejawat. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik sederhana dan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan reward dan konsekuensi dapat meningkatkan kedisiplinan siswa kelas II. Penerapan reward dan konsekuensi dilaksanakan dengan memperhatikan kesesuaian dengan perkembangan siswa, memberikan penjelasan mengenai prosedur reward dan konsekuensi kepada siswa, mempertahankan kekonsistenan penerapan reward dan konsekuensi serta mengkombinasikan reward dan konsekuensi dengan komunikasi non-verbal

    Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah [Transformational Leadership in School Principals]

    No full text
    For an organization to thrive, it must have a good leader.  A good leader is one who has the ability to influence his/her followers, putting them at ease, helping them experience joy in their work, and bringing about positive change. There are various kinds of leadership styles today -- one of them is transformational leadership. Transformational leadership is regarded as an ideal style to be applied in an educational organization, specifically a school. It is believed that transformational leadership will help a school better development. To apply this kind of leadership, there are 7 principles that must be considered. They are simplification, motivation, determination, mobilization, preparation, facilitation, and innovation. Using these 7 principles, the head of the school should: determine and communicate the school’s vision and mission; evaluate and innovate the school policies; facilitate teacher and staff development; accept criticism and suggestions from teachers, staffs, parents, and students and respond positively. The head of the school should also be able to evaluate teacher and staff performance objectively, solve problems quickly and accurately, make good decisions, create a comfortable workplace, and motivate every person to give their best. Finally, the head of the school should be a role model for others.BAHASA INDONESIA ABSTRAK:  Organisasi yang berkembang pada kenyataannya tidak lepas dari seorang pemimpin yang baik. Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mampu mempengaruhi pengikutnya, membuat orang- orang yang dipimpinnya merasa nyaman dan sukacita, serta membawa perubahan positif. Banyak terdapat berbagai macam gaya kepemimpinan yang baik di era modern ini, salah satunya adalah gaya kepemimpinan transformasional. Gaya kepemimpinan transformasional ini dipandang ideal untuk diaplikasikan di sebuah organisasi sekolah untuk membawa sekolah ke perkembangan lebih baik. Untuk mengaplikasikan gaya kepemimpinan ini, maka ada 7 prinsip yang harus diperhatikan. Ketujuh prinsip tersebut adalah simplification, motivation, determination, mobilization, preparation, facilitation, dan innovation. Mengacu pada prinsip tersebut, maka hal yang dapat dilakukan kepala sekolah adalah dengan mengkomunikasikan visi dan misi, membuat standard kinerja yang jelas dan melakukan evaluasi, memperbaharui kebijakan, memfasilitasi guru dan staff untuk melakukan kebijakan baru yang ada dan untuk mengembangkan diri, mau menerima kritik dan saran dari segala pihak, guru, staff, orang tua murid, dan murid serta meresponinya dengan positif, menilai kinerja guru dan staff secara obyektif, cepat tanggap dalam mengatasi masalah dan mampu mengambil keputusan secara tepat dan benar, menciptakan suasana kerja yang nyaman dan memotivasi setiap individu yang ada di dalamnya untuk memenuhi dan melakukan tanggung jawabnya sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal, memberikan dirinya sendiri sebagai contoh nyata.

    Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI SMA ABC Yogyakarta pada Topik Sistem Gerak [The Implementation of Peer Tutoring to Increase Cognitive Achievment about the Movement System for Grade XI Students at SMA ABC]

    No full text
    Based on low student test scores in a grade XI science class at ABC Senior High School in Yogyakarta, the observer found that the students had difficulties understanding the Movement System. This happened because the learning process in the classroom focused on the teacher and was monotone in nature so the instructional objective was not reached as proven by the low test results. Based on this problem, the observer planned and designed a peer tutor learning process to increase the students' cognitive results. The observer used Classroom Action Research which went from October 20, 2015 to October 29, 2015. There were two cycles that involved 22 students. The instruments used were test sheets, student feedback sheets, observation sheets, mentor interviews with the observer, and the observer’s journal reflections. In the process of analyzing the instruments, the observer used simple mathematic calculations and qualitative analysis techniques. The research showed that the students’ cognitive level (knowledge) increased from 77.27% to 86.36% and the cognitive level (understanding) increased from 63.64% to 90.9% which suggests that cognitive learning can be increased through the implementation of peer tutoring learning method. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Dari hasil tes siswa XI MIPA di SMA ABC Yogyakarta, peneliti menemukan siswa kesulitan dalam mengerjakan tes yang diberikan sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar kognitif siswa. Hal ini dikarenakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang berpusat pada guru dan berjalan monoton sehingga tujuan instruksional tidak tercapai yang dibuktikan dengan hasil tes yang rendah. Berdasarkan permasalahan ini, peneliti merencanakan dan merancang metode tutor sebaya dalam pembelajaran. Hal ini ditujukan untuk melihat peningkatan hasil belajar kognitif siswa. Peneliti menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan sejak 15 Oktober 2015 hingga 29 Oktober 2015. Penelitian yang dilaksanakan berlangsung sebanyak dua siklus dengan melibatkan 22 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar tes, lembar kusioner siswa, lembar observasi dan wawancara mentor dan rekan sejawat serta jurnal refleksi peneliti. Dalam menganalisis instrumen tersebut, peneliti menggunakan penghitungan matematika sederhana dan analisis secara kualitatif deskriptif. Dari hasil penelitian, diperoleh peningkatan kognitif pada level mengetahui dari 77,27% menjadi 86,36% dan peningkatan kognitif dari 63,64% menjadi 90,9% pada level memahami dalam materi Sistem Gerak sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif dapat ditingkatkan melalui penerapan metode pembelajaran tutor sebaya.

    A Comparison of STAD and Drill Strategy in Increasing Grade V Students’ Cognitive Achievement on Ratios

    Get PDF
    This research is aimed at determining whether grade V students’ cognitive achievement increase using STAD and drill strategy. This research is also aimed at comparing STAD and drill strategy in increasing the cognitive achievement of grade V students on the topic of ratios in mathematics. The design of this research is a pretest-posttest two-group design. The sampling is done randomly. Descriptive statistics and non-parametric statistics are used to analyze the data. Using SPSS, the results showed that the grade V students’ cognitive achievement on ratios increased after studying mathematics using STAD and drill strategy. However, there was no significant difference in results between STAD and drill strategy in increasing the student’s cognitive achievement. Therefore, the grade V students’ cognitive achievement in both classes increased at a similar level using STAD and drill strategy.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pencapaian kognitif siswa kelas V dapat meningkat menggunakan STAD dan drill strategy. Penelitian ini juga bertujuan untuk membandingkan STAD dan drill strategy dalam meningkatkan pencapaian kognitif siswa kelas V pada topik perbandingan dalam pembelajaran matematika. Desain dari penelitian ini adalah pretest-posttest two group design. Pengambilan sample dilakukan secara random. Statistik deskriptif dan statistik non-parametrik adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis data pada penelitian ini. Dengan menggunakan SPSS, penelitian ini menunjukkan bahwa pencapaian kognitif siswa kelas V pada topik perbandingan meningkat setelah pembelajaran matematika menggunakan STAD dan drill strategy. Namun, tidak ada perbedaan antara STAD dan drill strategy dalam meningkatkan pencapaian kognitif siswa kelas V pada topik perbandingan. Maka dari itu, pencapaian kognitif siswa kelas V pada kedua kelas meningkat pada tingkatan yang hampir setara dengan menggunakan STAD dan drill strategy

    Penerapan Metode Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif IPA di SD Kristen Gunungsitoli Utara [The Implementation of the Numbered Heads Together (NHT) Strategy to Increase Cognitive Achievement of Grade IV Students in a Science Class Learning about Plants at a Christian Primary School in Gunung Sitoli Utara]

    No full text
    Science learning in grade IV requires students to be able explain the structure and function of plants. Students who could not explain the structure and the function of plants had low  cognitive learning scores. The researcher used the Numbered Heads Together (NHT) strategy to increase the students’ cognitive learning score and also to discover the steps involved in applying NHT in a science class learning about plants structures. The research method used was Classroom Action Research model by  Kemmis and Taggart for 2 cycles. The research was conducted at SD Kristen Gunungsitoli Utara grade IV on 26 October 2016. The instruments that were used were test sheets, students’ questionnaire sheets, researcher checklist sheets, mentor’s observation sheets, mentor’s interview sheets, students’ interview sheets, mentor’s feedback sheets, and the researcher's reflective journal. The result from this research showed that the NHT method could increase the students’ cognitive learning score when students were divided into groups, given questions,  thought together, and answered the given questions. It could be concluded that the Numbered Heads Together strategy is the right method to increase cognitive learning scores. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Pembelajaran IPA kelas IV menuntut siswa untuk mampu menjelaskan struktur dan fungsi tumbuhan. Namun realitanya siswa belum mampu menjelaskan struktur dan fungsi tumbuhan dengan tepat sehingga menyebabkan perolehan hasil belajar kognitif siswa menjadi rendah. Peneliti menggunakan metode Numbered Heads Together (NHT) untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa melalui metode NHT dan juga untuk mengetahui langkah penerapan metode NHT pada pembelajaran IPA materi bagian tumbuhan. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart selama dua siklus. Penelitian dilaksanakan di SD Kristen Gunungsitoli Utara kelas IV tanggal 26 Oktober 2016 sampai 29 Oktober 2016. Instrumen yang digunakan selama siklus antara lain lembar tes, lembar angket siswa, lembar check-list peneliti, lembar observasi guru pamong, lembar wawancara guru pamong, lembar wawancara siswa, lembar feedback guru pamong, dan jurnal refleksi peneliti. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode NHT dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas IV pada mata pelajaran IPA materi bagian tumbuhan dengan cara melakukan pembagian kelompok, memberikan pertanyaan, berpikir bersama dan menjawab pertanyaan yang diberikan. Maka dapat disimpulkan bahwa metode Numbered Heads Together merupakan metode yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar kognitif

    128

    full texts

    192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Polyglot: Jurnal Ilmiah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇