Polyglot: Jurnal Ilmiah
Not a member yet
192 research outputs found
Sort by
Peran dan Karya Roh Kudus serta Implikasinya terhadap Pengembangan Pribadi dan Kualitas Pengajaran Guru Kristen [Roles and Work of the Holy Spirit and the Implications for the Personal Development and Teaching Quality of Christian Teachers]
This paper discusses the role and work of the Holy Spirit and its implications for the personal development and the quality of teaching of Christian teachers in this era of globalization. The main task of a teacher in the context of Christian education is to help students to learn and know God in Jesus Christ and through His Word, and how they can develop and be like Christ in their daily lives. Therefore, it is important to understand the role and work of the Holy Spirit as the Spirit of Wisdom to help the Christian teacher distinguish between the real truth and the truth that is mere humanism. Thus, the teaching delivered by Christian teachers will not influence the students to do negative things after the class or course is finished, but will have a positive influence on the students’ spiritual development, character, intelligence, and behavior.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Tulisan ini bertujuan untuk membahas peran dan karya Roh Kudus serta impilikasinya terhadap pengembangan pribadi dan kualitas pengajaran guru Kristen di era globalisasi. Tugas utama seorang guru dalam konteks pendidikan Kristen adalah membantu para siswa untuk belajar mengenal Allah di dalam Yesus Kristus dan melalui firman-Nya tersebut, mereka dapat bertumbuh dan menjadi serupa dengan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, penting sekali peran dan karya Roh Kudus sebagai Roh Hikmat untuk membantu guru Kristen membedakan antara kebenaran sejati dan kebenaran yang bersifat humanisme belaka. Dengan demikian, pengajaran yang disampaikan oleh guru Kristen tersebut tidak akan membawa para siswanya ke dalam hal-hal yang bersifat negatif pasca pengajaran, tetapi memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan spiritual, karakter, intelegensi, dan perilaku mereka
PENDIDIKAN TENTANG MULTIKULTURALISME DALAM CERITA PENDEK KARYA PENULIS PRIBUMI AMERIKA [EDUCATING ABOUT MULTICULTURALISM USING A SHORT STORY BY A NATIVE AMERICAN AUTHOR]
This paper discusses the contribution that reading a short story written by Native American author Sherman Alexie makes in the multicultural education. The story discussed is “This is What it Means to Say Phoenix, Arizona,” which displays cultural conflicts between Native Americans and Americans within the two main characters. In the discussion, the way such cultural conflicts are presented will be highlighted in terms of representing similar situations which can be reflected by students as individuals with multicultural identities. Cultural perceptions on the story will be discussed using the concept of multiculturalism as proposed by Menand (1995) and Native American literature by Parker (2004). Students’ perceptions on multiculturalism shown in this paper are taken from the students’ papers discussing multiculturalism, which are a required final assignment for the FSIP course. This paper will then have its proposed final conclusion that in compromising multicultural identities, a strategy of tug and let loose is needed.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Makalah ini membahas tentang kontribusi pembacaan cerita pendek (cerpen) karya penulis pribumi Amerika, Sherman Alexie, dalam pendidikan tentang multikulturalisme bagi mahasiswa di Program Studi Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dalam Mata Kuliah Further Studies in Prose (FSIP). Cerpen yang dibahas berjudul “This is What it Means to Say Phoenix, Arizona,” yang di dalamnya terdapat konflik kultural antara Pribumi Amerika dan Amerika dalam diri dua karakter utamanya. Dalam pembahasan akan diperlihatkan bagaimana konflik kultural tersebut merepresentasi situasi sejenis yang dapat direfleksikan oleh mahasiswa, sebagai individu yang memiliki identitas kultural yang beragam. Pandangan-pandangan kultural yang beragam dalam cerpennya akan dibahas menggunakan konsep multikulturalisme Menand (1995) dan kesusastraan pribumi Amerika oleh Parker (2004). Pandangan-pandangan mahasiswa tentang multikulturalisme yang disampaikan dalam makalah ini bersumber dari makalah mahasiswa, yang merupakan tugas akhir untuk Mata Kuliah FSIP, yang membahas cerpen tersebut. Pembahasan pada makalah ini kemudian akan mengerucut pada suatu pandangan bahwa pada akhirnya diperlukan strategi tarik-ulur dalam upaya mengompromikan keragaman identitas kultural
Pengaruh Brain Gym terhadap Konsentrasi Belajar Siswa Kelas IX IPA dalam Pembelajaran Matematika di SMA XYZ Tangerang [The Effects of Brain Gym in Helping Students' Concentration in Learning Math in Grade XI Science at XYZ Senior High School Tangerang]
Math is considered to be one of the subjects that make it difficult for students to concentrate during the learning process because their brains become tired and tense. One of the most popular and trusted ways to improve learning is by using a 'gym gym' approach. Therefore, the researchers wanted to see whether the 'gym gym' approach could improve learning concentration. The research used a quasi-experimental post-test only control group design. The population was the students of class XI Science Basic General Math A and B, while the sample was 15 students from XI Science B as the experimental group. Using the Mann-Whitney U-test with an alpha level of 0.05 indicated the asymptote Sig of 0.001 <0.05. This means that the concentration of learning in the experimental group was lower than that of the control group so it is concluded that the ”˜brain gym’ approach did not significantly affect students’ concentrationBAHASA INDONESIA ABSTRAK: Matematika menjadi salah satu pelajaran sulit yang menyebabkan siswa susah untuk berkonsentrasi selama belajar karena otak menjadi lelah dan tegang. Salah satu cara yang populer dan dipercaya dapat meningkatkan konsentrasi belajar adalah brain gym. Sehingga peneliti ingin melihat apakah terdapat pengaruh brain gym terhadap konsentrasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen desain post-test only control group. Populasi penelitian ini adalah kelas XI IPA A dan B dengan sampel 15 siswa dari kelas XI IPA B sebagai kelompok kontrol dan 15 siswa dari kelas XI IPA A sebagai kelompok eksperimen. Dengan menggunakan Mann-Whitney U-test dengan tingkat alfa 0,05 menunjukkan asymp. Sig sebesar 0,001<0,05. Hal ini berarti konsentrasi belajar pada kelompok eksperimen lebih rendah dari pada kelompok kontrol sehingga disimpulkan bahwa brain gym tidak berpengaruh terhadap konsentrasi belajar siswa
Pendampingan Orang Tua pada Anak Usia Dini dalam Penggunaan Teknologi Digital [Parent Mentoring of Young Children in the Use of Digital Technology]
Technological advances have a significant influence on people's lives including within families. It is undeniable that the current technological advances mainly based on internet services have had both positive and negative impacts on the growth of children in the family. Children born after the 1980’s are a living generation who grew up with information technology and diverse online social applications. Electronic gadgets such as smartphones, laptops, computers, tablets, and so forth have made it easy for children to access the Internet almost anywhere and anytime. Parents play an important role in the development of early childhood communication, especially for children under the age of five. One of the efforts of parents in providing education for children in the family in the digital era is by providing assistance in the use of technology for children. Through mentoring, parents can supervise children and direct positive content for children to use technological advancements appropriately in accordance with the child's growth and development.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Kemajuan teknologi memberikan pengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat termasuk dalam ruang lingkup keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi saat ini terutama berbasis layanan internet memberikan dampak positif dan juga dampak negatif bagi tumbuh kembang anak dalam keluarga. Anak-anak yang lahir setelah era tahun 1980-an merupakan generasi yang hidup di tengah majunya teknologi informasi dan beragam aplikasi sosial dimulai secara daring (online). Melalui gadget seperti smartphone, laptop, komputer, tablet, dan lain sebagainya memberikan kemudahan bagi anak untuk mengakses jaringan internet di mana pun dan kapan pun. Orang tua berperan penting dalam perkembangan komunikasi anak usia dini, khususnya anak di bawah usia lima tahun. Salah satu upaya orang tua dalam memberikan pendidikan bagi anak dalam keluarga di era digital seperti sekarang adalah dengan memberikan pendampingan dalam penggunaan teknologi bagi anak. Melalui pendampingan tersebut, orang tua dapat mengawasi anak dan mengarahkan konten-konten positif bagi anak untuk menggunakan kemajuan teknologi secara tepat sesuai dengan masa tumbuh kembang anak.
RAGAM BAHASA DALAM PERSPEKTIF ALKITAB [LANGUAGE VARIETY FROM A BIBLICAL PERSPECTIVE]
Language variety is considered an integral part of human beings as the rightful owners of the language. However, due to scientfic developments, it seems that our understanding of language variety is only focused on the ability to create language varieties. Man forgets his nature as a creature and that there is a Creator who created all things on earth, including languages and their varieties. Therefore, the scientific view of language variety must be corrected using the Biblical perspective so that we as believers, created in God's image (imago dei), do not misunderstand that language variety occurs not because of man's creativity but because of God's grace and prophecy set forth in the writings and genres of the Bible long before language variety was a term used by science. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Ragam bahasa menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dengan manusia sebagai pemilik sah dari bahasa tersebut. Namun, akibat perkembangan ilmu pengetahuan, tampaknya pemahaman ragam bahasa sering sekali dititikberatkan pada kemampuan manusia itu menciptakan ragam bahasa. Manusia melupakan kodratnya sebagai ciptaan bahwa masih ada pencipta yang mengakibatkan segala sesuatu yang ada di dunia ini termasuk juga dengan bahasa dan ragam bahasa dapat terjadi. Oleh karena itu, pandangan ilmu pengetahuan akan ragam bahasa harus diluruskan melalui pandangan ragam bahasa dalam perspektif Alkitab agar kita sebagai orang yang percaya dan sebagai gambar dan rupa Allah (imago dei) tidak salah memahami bahwa ragam bahasa dapat terjadi bukan karena hasil kreativitas manusia, melainkan karena anugerah Tuhan dan nubutan Tuhan yang telah termaktub di dalam Alkitab jauh sebelum kita mengenal istilah ragam bahasa menurut ilmu pengetahuan dengan segudang penulisan ragam bahasa dan genre yang ada di dalam Alkitab
KUALITAS BONBON BOND SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA TOPIK IKATAN KIMIA [THE QUALITY OF BONBON BOND AS A LEARNING MEDIA FOR CHEMICAL BONDING TOPICS]
This study aims to determine the quality of the Android-based courseware program named Bonbon Bond for chemical bonding topics. This research is one of a sequence in Research and Development work. The subject of this study was senior high school students who had been studying chemical bonding. The data were gathered through observation and questionnaire. Result showed that the quality of Bonbon Bond is categorized good.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas courseware berbasis android yang diberi nama Bonbon Bond untuk topik ikatan kimia. Penelitian ini merupakan salah satu tahap dari rangkaian penelitian research and development. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMA yang telah mempelajari topik ikatan kimia. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan pengisian kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas Bonbon Bond termasuk kategori baik
MENGUKUR RASA INGIN TAHU SISWA [MEASURING STUDENTS' CURIOSITY]
One factor that influences students in becoming active learners and self developers is curiosity. Curiosity is defined as an impulse within a person to gain new information without appreciation or extrinsic factors. A person's curiosity encourages him to devote more attention to an activity, to process information more deeply, to remember information better, and to fulfill tasks more accurately. This paper aims to create a valid and reliable instrument to measure students’ curiosity and to test it students in a grade 10 and 11 science class using cluster random sampling. Results showed no correlation between students’ curiosity and their grades. It was also found that there was no significant mean difference in students’ curiosity between male and female students. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi siswa sebagai pembelajar yang aktif dan terus mengembangkan diri adalah rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu didefinisikan sebagai dorongan dalam diri seseorang untuk memperoleh informasi baru tanpa adanya penghargaan maupun faktor ekstrinsik. Rasa ingin tahu seseorang mendorong ia mencurahkan banyak perhatian kepada suatu aktivitas untuk memproses informasi lebih dalam, mengingat informasi lebih baik dan lebih cenderung mengerjakan tugas dengan tuntas. Penelitian ini bertujuan untuk membuat instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur rasa ingin tahu siswa, mengujikannya pada siswa kelas X dan XI disuatu sekolah dengan cluster random sampling. Hasil penelitian mendapatkan instrumen kuesioner yang valid dan reliabel serta pengujian hipotesa yang menyatakan tidak ada hubungan rata-rata rasa ingin tahu dengan tingkat pendidikan kelas X dengan kelas XI dan tidak ada perbedaan rata-rata rasa ingin tahu siswa perempuan dengan siswa pria
PENGARUH PENERAPAN METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PENGAJARAN KOSAKATA BAHASA INGGRIS SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 33 JAKARTA [THE EFFECT OF IMPLEMENTING CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ON TEACHING ENGLISH VOCABULARY IN GRADE 11 AT SENIOR HIGH SCHOOL 33 JAKARTA]
This study aimed at investigating the effect of vocabulary teaching in procedure texts using Contextual Teaching and Learning (CTL). The research was carried out with the English classes in the Social Sciences program which was taught vocabulary using the Contextual Teaching and Learning (CTL) method while another class used a traditional method in teaching vocabulary. The study used the quantitative data collected through the Post-Test after the treatment, questionnaires, and interviews. The data collected from the Post-Test were analyzed by implementing a t-test using SPSS 22 and counting average scores of both groups. The findings of the study indicate that teaching vocabulary using Contextual Teaching and Learning (CTL) method brings significant results. Furthermore, the results gathered from interviews and questionnaires confirmed that learners had a positive attitude towards CTL, as this method provided the students with a lot of activities which created a learning environment that was fun, enjoyable, and effective for improving the students’ vocabulary. Moreover, CTL also increased learners’ participation, scores, and collaboration.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Artikel jurnal ini membahas efek pengajaran kosakata bahasa Inggris teks prosedur dengan menggunakan metode Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian ini dilakukan pada suatu kelas IPS yang menggunakan CTL, sedangkan kelas lain menggunaan metode pengajaran tradisional. Metode penelitian ini adalah kuantiatif dengan jenis Post-Test Only. Data penelitian diambil dengan menggunakan Post-Test yang diberikan sehari dan tiga minggu setelah perlakuan kepada kedua kelas partisipan. Analisis hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan rerata dan uji t dependen dan independen menggunakan SPSS 22. Analisis tersebut menunjukkan peningkatan hasil yang signifikan pada kelas XI IPS 1 yang menerapkan metode CTL. Selain itu, hasil temuan penelitian dari wawancara dan kuesioner menunjukkan bahwa metode Contextual Teaching and Learning (CTL) memberikan pengaruh positif dalam pembelajaran kosakata di kelas, yaitu meningkatnya partisipasi pemelajar, kemampuan kosakata reseptif dan produktif, dan kolaborasi di antara pembelajar
Panggilan Sebagai Guru Kristen Wujud Amanat Agung Yesus Kristus Dalam Penanaman Nilai Alkitabiah Pada Era Digital [A Christian Teacher’s Calling in Response to Jesus Christ’s Great Commission in Instilling Biblical Values in a Digital Era]
oai:ojs2.ojs.uph.edu:article/325The purpose of this paper is to discuss a Christian teacher’s calling in response to the great commission of Jesus Christ in building character in digital era. The main task of a teacher in the context of Christian education is to assist students in knowing God in Jesus Christ and being like Christ in their daily lives. Christian teachers become co-workers with God in conveying the values of His kingdom in a digital era that is filled with individualism, selfishness, and self-righteousness, all of which lead to the loss of love. The teaching that is delivered by Christian teachers can bring students to God’s truth which will affect students’ character, intellect, and spirituality. These not only help students but can also be used to serve and help other people to face the challenges of this digital era.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Tulisan ini bertujuan untuk membahas panggilan guru Kristen sebagai wujud amanat agung Yesus Kristus dalam penanaman nilai pada era digital. Tugas utama seorang guru dalam konteks pendidikan Kristen adalah membantu para siswa untuk belajar mengenal Allah di dalam Yesus Kristus dan melalui firmanNya. Mereka dapat menjadi serupa dengan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu penting sekali mahasiswa menangkap panggilanNya sebagai Guru Kristen, karena dengan demikian akan menjadi rekan sekerja Allah dalam menyampaikan nilai-nilai kerajaanNya di era digital yang sarat dengan egoisme, mementingkan diri sendiri, bahkan merasa diri benar, sehingga kasih menjadi pudar. Dengan demikian, pengajaran yang disampaikan guru Kristen akan membawa para siswa memiliki nilai-nilai kebenaran yang justru kembali kepadaTuhan dan berpusat kepada Kristus, yang berdampak kepada pertumbuhan karakter intelektual, spiritual, intelegensi tidak hanya menjadi kebanggaan sendiri melainkan dipakai untuk melayani dan menolong orang lain dalam menghadapi era digital ini
The Effect of Using Origami Paper to Teach the Perimeter of Plane Figures on Cognitive Achievement of Students Grade IX
This pre-experimental research design aims to know whether there is an effect of using origami paper to teach the perimeter of plane figures on cognitive achievement of students in grade IX and how the use of origami paper can affect students’ cognitive achievement. The subject was taken from 16 students of class IX-A as an experimental class that were going to study using origami paper as the teaching aid. The data obtained was students’ pre-test and post-test. The gained mean of students’ score between pre-test and post-test was significantly greater than the expected score 0.4, in fact the gain reached 0.82 which is categorized high. Thus, it can be concluded that there was an effect of using origami paper to teach the perimeter of plane figures on students’ cognitive achievement.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Desain penelitian eksperimen ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat pengaruh penggunaan kertas origami untuk mengajar keliling dari suatu bidang datar terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas IX dan bagaimana penggunaan tersebut mempengaruhi hsil belajar. Sampel penelitian adalah 16 siswa kelas IX-A sebagai kelompok ekperimen yang akan menggunakan kertas origami. Data diperolehh dari hasil pre-tests dan post-tests. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan rata-rata skor yang signifikan antara hasil pre-tests dan post-tests yang di duga, yaitu 4.0 (normalized gain), bahkan mencapai 0.8 yang termasuk golongan tinggi. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pada hasil belajar kognitif pada pengajaran keliling suatu bidang datar dengan menggunakan kertas origami