Polyglot: Jurnal Ilmiah
Not a member yet
192 research outputs found
Sort by
PENERAPAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS I PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR XYZ GUNUNGSITOLI, NIAS [IMPLEMENTATION OF THE ROLE PLAYING METHOD TO IMPROVE GRADE 1 STUDENTS’ SPEAKING SKILLS IN AN INDONESIAN LANGUAGE LESSON AT PRIMARY SCHOOL XYZ GUNUNGSITOLI, NIAS]
Speaking skills need to be taught to students from an early age. These skills affect students’ ability to communicate in society. The purpose of this study is to improve students’ speaking skills by using the role playing method. Hopefully, through this learning method, students can improve their speaking skills according to aspects in oral communication. The research method used was Classroom Action Research (CAR) which was conducted in two cycles. The subjects of this research were 33 students in grade 1 XYZ Elementary School Gunungsitoli, Nias. The research was carried out from August until November 2017. The instruments used in the research were the following: class teacher and peer teacher observation sheets, speaking skills rubric sheets, students’ questionnaire sheets, and researcher’s reflection journal. The collected data was analyzed quantitatively and qualitatively. The conclusion is that the role playing method can improve students’ speaking skills including aspects of pronunciation (87.87%), tone/intonation (87.12%), fluency (87.87%), and self-confidence (80.30%). The steps of the role playing method that can improve students’ speaking skills are as follows: 1) preparing the scenario, 2) explaining the targeted competency, 3) providing the place, time, and tools to be used, 4) dividing participants into groups, 5) assigning the roles, 6) practicing the role playing, 7) doing the assessment, and 8) evaluating.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Keterampilan berbicara perlu dilatihkan kepada siswa sejak usia dini. Keterampilan ini berdampak pada komunikasi siswa dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan menggunakan metode bermain peran. Harapannya, melalui metode pembelajaran ini, siswa dapat memaksimalkan keterampilan berbicaranya sesuai aspek-aspek dalam komunikasi lisan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian ini adalah 33 siswa kelas I Sekolah Dasar XYZ Gunungsitoli, Nias. Penelitian ini diadakan pada Agustus sampai dengan November 2017. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi guru kelas dan guru sejawat, rubrik keterampilan berbicara, lembar angket siswa, dan jurnal refleksi peneliti. Data yang didapat kemudian diolah secara kualitatif dan kuantitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa yang meliputi aspek pelafalan (87,87%), nada/intonasi (87,12%), kelancaran (87,87%), dan rasa percaya diri (80,30%). Adapun langkah-langkah metode berperan yang dapat meningkatkan keterampilan berbicara adalah sebagai berikut: 1) menyiapkan skenario, 2) menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai, 3) menyediakan tempat, waktu, dan alat yang akan digunakan, 4) membagi peserta dalam kelompok, 5) menetapkan peran, 6) berlatih bermain peran, 7) melakukan penilaian, dan 8) mengevaluasi
SUMBANGSIH PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BAGI KEADILAN DIFABILITAS [THE CONTRIBUTION OF CHRISTIAN EDUCATION TO DISABILITY JUSTICE]
How does Christian education contribute to disability justice? This is the question that guided the author when writing this article. Christian education is at the core of students’ formation. Students are invited not only to master knowledge, but also a theological perspective that they can apply to issues and problems. In mapping and responding to this, the author conducted a literature study of the Christian education curriculum used in schools of the Christian education working group of the churches in Indonesia. The results of this study indicates that disability theology is an issue that has not been discussed comprehensively in the Christian education curriculum in schools, although it has been discussed explicitly at a minimal level.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Bagaimana sumbangsih pendidikan agama kristen bagi keadilan difabilitas? Pertanyaan ini menjadi pokok permasalahan dan panduan dalam penulisan artikel ini. Pendidikan agama kristen merupakan inti pembentukan peserta didik. Peserta didik diajak tidak hanya menguasai ilmu yang tinggi, melainkan teologi yang mampu berdialog dengan konteks mereka. Dalam memetakan dan menanggapi permasalahan tersebut, penulis melakukan penelitian studi pustaka terhadap kurikulum pendidikan agama kristen di sekolah dari kelompok kerja pendidikan agama Kristen persekutuan gereja-gereja di Indonesia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa isu teologi difabilitas belum dibahas secara komprehensif dalam kurikulum PAK di sekolah, walaupun sudah dibahas secara eksplisit dalam kadar minim
UNDERSTANDING VYGOTSKY’S ZONE OF PROXIMAL DEVELOPMENT FOR LEARNING
Vygotsky is the father of the Zone of Proximal Development (ZPD) theory who claims that a leaner can do what he can almost do alone with the presence of assistance. This literature study aims at investigating what factors need to be present for developing someone’s potential. From the literature study, it was found that there are six factors that need to be present, including assistance, mediation, cooperation, imitation, target and crises. With the presence of assistance from the more capable other and keeping attention to the six important factors, a learner will be able to do what he/she can almost do alone.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Vygotsky adalah penemu konsep Zona Perkembangan Proksimal yang menyatakan bahwa seseorang yang belajar akan mampu melakukan apa yang hampir dapat dilakukannya secara mandiri dengan tersedianya bantuan. Studi kepustakaan ini bertujuan untuk meneliti unsur apa saja yang penting untuk membantu perkembangan potensi seorang pelajar. Dari studi kepustakaan ditemukan bahwa ada enam unsur yang penting yakni bantuan, mediasi, kerjasama, kemampuan untuk meniru, sasaran dan masa sulit atau keluar dari zona nyaman. Dengan adanya bantuan dari orang yang lebih mampu dan kehadiran dari enam unsur tersebut, seorang pelajar akan mampu melakukan apa yang hampir dapat dilakukannya sendiri
THE EFFECTS OF AN EFL TEXTBOOK ON LEARNERS’ IDENTITY CONSTRUCTION
It has been generally accepted that language learning, to some extent, affects identity construction and such a complex relationship has generated a considerable amount of research papers and literature. Few studies, however, have looked into and discussed how teaching media (e.g., language textbooks) contributes to learners’ identity construction particularly in the context of Indonesia. This study attempts to address this gap by analyzing an EFL textbook and then, grafting on several theoretical frameworks, discussing its contribution to the formation of learners’ identity. Its pedagogical implications are also discussed
KNOWLEDGE SHARING BEHAVIOR GURU DITINJAU DARI TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP DAN SELF-EFFICACY [TEACHERS’ KNOWLEDGE SHARING BEHAVIOR FROM TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP AND SELF-EFFICACY’S PERSPECTIVE]
The changing context of the age and the characteristics of today's generation demand that the role of the teacher be more creative and innovative. A way to answer this need is to cultivate a knowledge sharing behavior in the school environment. There are many factors that can support the establishment of this knowledge sharing behavior, including transformational leadership and self-efficacy. This study aims to determine the effect of transformational leadership and self-efficacy on the knowledge sharing behavior of teachers. The research subjects were 112 teachers who teach in two locations of XYZ Private High School in West Jakarta which have the potential to develop knowledge sharing behavior. The design used in this study was correlational, using surveys to collect the data and then analyze using the PLS-SEM method. The results of this study showed that transformational leadership and self-efficacy affected knowledge sharing behavior positively.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Perubahan konteks zaman dan karakteristik generasi zaman sekarang menuntut peran guru yang semakin kreatif dan inovatif. Salah satu upaya untuk menjawab hal ini adalah dengan membudayakan perilaku knowledge sharing behavior di lingkungan sekolah. Ada banyak faktor yang dapat mendukung terbangunnya perilaku knowledge sharing behavior ini, di antaranya transformational leadership dan self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh transformational leadership dan self-efficacy terhadap knowledge sharing behavior guru. Subjek penelitian adalah 112 guru yang mengajar di dua lokasi Sekolah Menengah Atas Swasta XYZ di Jakarta Barat yang memiliki potensi untuk membangun perilaku knowledge sharing behavior. Desain penelitian bersifat korelational, data diambil berdasarkan survey yang dianalisi dengan metode PLS-SEM. Hasil penelitian yang diperoleh memperlihatkan bahwa transformational leadership dan self-efficacy mempengaruhi knowledge sharing behavior secara positif
MODEL KEPEMIMPINAN CARE GROUP DALAM PENDIDIKAN HOLISTIS [A LEADERSHIP MODEL OF CARE GROUPS IN HOLISTIC EDUCATION]
A study program at a private higher education institution, namely CT, a transformational holistic education organization, implements an academic and non-academic guidance program through small groups called CARE Groups (CG). However, regardless of there being a CG program, there are still many cases of CT students breaking rules. These range from general cases to more severe ones that result in warning letters. The discrepancy found in the range of cases is the topic of this study, which focuses on the perspective of the CG leadership. The qualitative method of case study was utilized so that the data may be accurate and in-depth for analysis, in order for there to be further discussion. The three main findings that answered the problem formulated in this study were the description of strategies and CT efforts in equipping CG Leader (CGL), an explanation of the reasons for the emergence of cases among students, and the formulation of an ideal profile for a CGL.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Sebuah program studi di suatu perguruan tinggi swasta, sebut saja CT, suatu lembaga pendidikan holistis yang transformasional menerapkan suatu program bimbingan akademik dan non-akademik berbentuk kelompok kecil bernama CARE Group (CG). Namun, terlepas dari adanya instrumen CG, kasus pelanggaran peraturan di kalangan mahasiswa CT kerap kali muncul, mulai dari kasus umum sampai kasus berat yang memiliki konsekuensi Surat Peringatan (SP). Kesenjangan tersebut menjadi topik pembahasan dalam studi ini, berfokus pada segi pandangan kepemimpinan CG. Metode penelitian kualitatif studi kasus digunakan agar mendapatkan data yang akurat dan mendalam untuk dianalisis dan dibahas lebih lanjut. Diperoleh tiga temuan utama yang menjawab rumusan masalah dari penelitian ini, yaitu deskripsi strategi dan upaya CT dalam memperlengkapi CG Leader (CGL), penjelasan akan alasan masih munculnya kasus di kalangan mahasiswa, dan rumusan sebuah profil ideal bagi seorang CGL
PENERAPAN IMBALAN DAN KONSEKUENSI BERBASIS DEMOKRASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA KELAS 3 SEKOLAH DASAR KUPANG [THE IMPLEMENTATION OF DEMOCRATIC-BASED REWARDS AND CONSEQUENCES TO IMPROVE DISCIPLINE OF GRADE 3 ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS IN KUPANG]
The problem of discipline is an issue that is considered common in the classroom setting. The researcher found that the lack of discipline in some students in a grade 3 elementary school in Kupang made the atmosphere in the classroom uncomfortable and not conducive to learning. The researcher's aim was to integrate democratic-based rewards and consequences into the discipline process. Classroom Action Research was used with 4 students as the subjects. The study implemented in three cycles from October 16, 2017, to November 1, 2017. The instruments that were used in continuing to the next cycle were students' activities and observation; other instruments were observation of the method's implementation, mentor's interview, and students' questionnaires. The result of the research showed improved changes to student discipline from cycle one to cycle three.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Masalah disiplin di dalam kelas adalah suatu kebiasaan yang sudah dianggap umum terjadi di dalam kelas. Pada saat mengajar peneliti menemukan masalah kurangnya disiplin pada beberapa siswa di kelas 3 sekolah dasar Kupang yang menjadikan kelas tidak nyaman dan tidak kondusif untuk dilaksanakan pembelajaran. Peneliti bertujuan untuk memadukan antara demokrasi, imbalan dan konsekuensi dalam proses pendisiplinan. Penelitian ini menggunakan metode tindakan kelas dengan 4 orang siswa sebagai subyek. Penelitian ini dilaksanakan sampai tiga siklus dari tanggal 16 Oktober 2017 sampai dengan 1 November 2017. Instrumen yang digunakan untuk melanjutkan siklus adalah lembar observasi aktivitas siswa dan instrumen lainnya adalah lembar observasi penerapan metode, wawancara mentor dan angket siswa. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya perubahan kedisiplinan yang lebih baik pada siswa dari siklus satu hingga siklus ke tiga
INTELEKTUALITAS, GAIRAH & KERENDAHAN HATI: SIKAP TERHADAP SAINS DAN TEKNOLOGI [INTELLECTUALITY, PASSION & HUMILITY: ATTITUDES TOWARDS SCIENCE AND TECHNOLOGY]
Some would claim that science and technology contradict the life of faith, or that the one is more important or higher than the other. Such dualism/dichotomy may result from the pressure of atheism or the friction between various convictions in which scientists work. This writing suggests a healthier attitude towards science and technology for people of faith, where science, technology, and faith are approached without the crippling sacred/secular dichotomy. The concept of cultural mandate (Kuyper) provides a model for cultivating intellectuality, passion and humility as a divine mandate in faithful stewardship towards nature. A well-rounded scientist or engineer must be also aware of the ethical challenges in his or her field.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Ada yang mengklaim bahwa sains dan teknologi berkontradiksi dengan kehidupan iman, atau bahwa yang satu lebih penting atau lebih tinggi dari yang lain. Dualisme/dikotomi demikian dapat muncul dari tekanan paham ateisme atau gesekan dari berbagai keyakinan tempat ilmuwan beraktivitas. Tulisan ini mengusulkan suatu sikap yang lebih sehat terhadap sains dan teknologi untuk orang percaya, di mana sains, teknologi dan iman didekati tanpa dikotomi sakral/sekuler yang melumpuhkan. Konsep mandat budaya (Kuyper) menyediakan model untuk mengusahakan intelektualitas, gairah & kerendahan hati sebagai mandat ilahi dalam penatalayanan yang setia kepada alam. Seorang ilmuwan atau insinyur yang lengkap juga harus peka pada berbagai tantangan etika dalam bidangnya
PENERAPAN MODEL SECI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN PROFESIONAL UNTUK MENINGKATKAN MODAL INTELEKTUAL GURU [IMPLEMENTATION OF SECI MODELS IN PROFESSIONAL DEVELOPMENT PROGRAMS TO IMPROVE TEACHERS' INTELLECTUAL CAPITAL]
Schools are an important key for a nation because schools play a role in preparing the nation's next generation. Schools are organizations that require good knowledge management. The knowledge that schools have is the work of their members, the teachers. The knowledge possessed by teachers varies. For this reason, schools must create a system so that knowledge can be shared and learned by all the teachers in the school. One way that can be done is by implementing a professional development program. Through this program, there will be a process of knowledge transfer according to the SECI model. This program is effective in increasing the knowledge of teachers and thus their intellectual capital. If the intellectual capital of the teachers increases, their competence in teaching will also develop and they can create a better generation for the nation.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Sekolah adalah kunci penting suatu bangsa, karena sekolah berperan dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Sekolah merupakan sebuah organisasi yang memerlukan pengelolaan pengetahuan yang baik. Pengetahuan yang dimiliki sekolah adalah hasil kreasi para anggotanya, yaitu para guru. Pengetahuan yang dimiliki oleh para guru, tidaklah sama antara satu dan yang lainnya. Untuk itu, sekolah harus menciptakan suatu sistem agar pengetahun tersebut dapat dibagikan dan dipelajari oleh semua guru di dalamnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengadakan program pengembangan professional. Melalui program ini, maka akan terjadi proses perpindahan pengetahuan menurut model SECI. Program ini efektif untuk meningkatkan pengetahuan para guru yang merupakan modal intelektual mereka. Jika modal intelektual para guru bertambah, maka kompetensi mereka juga akan berkembang terutama dalam pengajaran. Hal ini diharapkan dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang berkompetensi tinggi di kemudian hari
PENERAPAN METODE GIVING QUESTIONS AND GETTING ANSWERS UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X-MIA DI SEKOLAH ”˜FANÓS’ KUPANG [IMPLEMENTATION OF THE GIVING QUESTIONS AND GETTING ANSWERS METHOD TO IMPROVE CRITICAL THINKING SKILLS WITH GRADE 10-MIA STUDENTS AT 'FANÓS' KUPANG]
Critical thinking is one of the higher order thinking skills that high school students must have. Grade 10-MIA students in ”˜FANÓS’ School Kupang had difficulties improving their critical thinking skills. The researcher used the Giving Questions and Getting Answers method to help these students improve their critical thinking skills. The purpose of this research was to find out whether there was any improvement in students’ critical thinking skills when the Giving Questions and Getting Answerss method was implemented in their school. This research method used Classroom Action Research (CAR) by Kemmis and McTaggart’s model in two cycles. The subjects consisted of 30 Grade 10-MIA students. The research instruments were check-list observation sheet, students’ questionnaire, mentor’s interview sheet, post-test sheet with its rubric, mentor’s observation sheet and open observation sheet. The result was analyzed using descriptive statistics and qualitative. The results showed that Giving Questions and Getting Answers could improve Grade 10-MIA students’ critical thinking skills when explaining the functions of the two papers, explaining the lesson, group discussion, asking questions from the 1st paper, giving conclusions from the 2nd paper and giving a post-test.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Berpikir kritis adalah salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dimiliki siswa SMA. Siswa kelas X-MIA di Sekolah 'FANÓS' Kupang mengalami kesulitan dalam memperbaiki kemampuan berpikir kritis mereka. Peneliti menggunakan metode Pemberian Pertanyaan dan Mendapatkan Jawaban untuk membantu siswa kelas X-MIA untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbaikan kemampuan berpikir kritis siswa atau tidak dan untuk mengetahui bagaimana cara memberikan pertanyaan dan mendapatkan jawaban diimplementasikan di Sekolah FANÓS Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-MIA yang terdiri dari 30 siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus. Instrumen penelitiannya adalah lembar observasi daftar periksa, kuesioner siswa, lembar wawancara mentor, lembar post-test dengan rubriknya, lembar observasi mentor dan lembar observasi terbuka. Hasilnya dianalisis dengan statistik deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah Memberikan Pertanyaan dan Mendapatkan Jawaban dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-MIA dan diimplementasikan dengan menjelaskan fungsi kedua makalah tersebut, menjelaskan pelajaran, diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan dari makalah pertama, pemberian kesimpulan dari kertas ke-2 dan memberikan post-test