JPG (Jurnal Penelitian Geografi)
Not a member yet
    304 research outputs found

    Design of Educational Facility Service Standards in Indonesia (Case: Junior High School in Lampung Province)

    Full text link
    The educational facility standards in Indonesia do not meet regional needs. A strategic design aligned with regional demographics is necessary. This research aims to create verified standardized designs for educational facility services. The research uses quantitative methods with formal schools at junior high school level in Lampung Province as the research object. The research uses documentation data with secondary data analysis techniques and descriptive statistics. The research results denote (1) educational services condition facilitated by the government in Lampung Province for junior high school level according to Ministry of Education criteria is 16.20%, while according to BSN criteria is 38.87%. The amount of junior high school level standard, both according to Permendiknas and BSN criteria, is stated undersupply. (2) The standard design used is Utami version (2023), modified according to Ministry of Education and BSN criteria, using threshold changes and number of school-age population. The design is equipped with school type criteria: type A, B, and C. (3) Implementation results indicate that if the government maximizes the junior high school facilities with type A relatively then it can be declared as capable of meeting the standard needs for the number of schools, even without the involvement of private schools. Keyword: Educational facility; Service standards; Design; Junior high school; Lampung provinc

    Pemanfaatan Informasi Spasial SIG untuk Menganalisis Risiko Tanah Longsor di Kabupaten Tapanuli Utara

    Full text link
    Bencana tanah longsor semakin sering terjadi di Indonesia, terutama di daerah pegunungan selama musim hujan. Faktor seperti relief yang tinggi, adanya patahan, keberadaan batuan vulkanik rapuh, dan iklim tropis basah berkontribusi pada peningkatan potensi longsor. Selain itu, degradasi dan perubahan penggunaan lahan juga memperburuk situasi. Faktor manusia dan alam menjadi penyebab utama, menyebabkan hilangnya nyawa dan kerugian material yang besar. Kabupaten Tapanuli Utara di Provinsi Sumatera Utara adalah wilayah yang cukup rawan terhadap bencana tanah longsor. Untuk mengurangi risiko korban dan kerugian yang lebih besar, dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi daerah rawan longsor di sana. Penelitian ini menggunakan metode Sistem Informasi Geografis dan melibatkan tahapan pengumpulan data, scoring dan pembobotan parameter, overlay, penentuan total skor dan interval kelas, serta analisis tingkat kerawanan bencana tanah longsor. Hasil penelitian menunjukkan wilayah Tapanuli Utara termasuk daerah cukup rawan terhadap bencana tanah longsor, dengan kelas kerentanan tidak rawan mencakup 17,17% wilayah seluas 651,38 km², kelas kerentanan cukup rawan mencakup 77,78% wilayah seluas 2950,75 km², dan kelas kerentanan rawan mencakup 5,05% wilayah seluas 191,58 km². Upaya mitigasi perlu diperkuat di daerah ini untuk mengurangi potensi bencana dan melindungi masyarakat serta aset material yang berharga.Kata kunci: Tanah Longsor, Mitigasi Bencana,  SIG, Kerawanan, Tapanuli UtaraDOI: http://dx.doi.org/10.23960/jpg.v12.i1.2829

    Factor Analysis in Understanding The Spread of Sexually Transmitted Diseases in West Java Province

    Full text link
    This study aims to analyze the factors that contribute to the spread of sexually transmitted diseases (STDs) in West Java Province, using a Final Project Based Learning approach. The study uses a mixed-methods research design, combining quantitative and qualitative data collection and analysis methods. The results show that the prevalence of STDs in West Java Province is high, particularly among young people and those with low socioeconomic status. The study also identifies several factors that contribute to the spread of STDs, including lack of knowledge about STDs, lack of access to healthcare services, and risky sexual behavior. The study suggests that education and awareness programs, as well as access to healthcare services, are crucial in reducing the spread of STDs in the province. The study also recommends that policymakers and healthcare providers take into account the social and economic factors that contribute to the spread of STDs when developing policies and interventions to address this issue.Keywords: Sexually transmitted diseases; West Java province; Health services.

    Pengaruh Pembuangan Limbah Plastik terhadap Sungai Ciwulan Menyebabkan Gangguan pada Ekosistem Perairan Sungai

    Full text link
    Sungai Ciwulan di Jawa Barat, Indonesia, berperan penting sebagai ekosistem air tawar yang memberikan manfaat ekologis dan ekonomi kepada penduduk setempat. Namun, masalah serius timbul akibat pencemaran plastik dari limbah yang tidak terkendali di sungai ini. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tingkat pencemaran plastik di Sungai Ciwulan, mengidentifikasi jenis plastik yang umum ditemukan, serta menyebarkan dampaknya pada lingkungan sungai dan manusia. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan mikroplastik, terutama filamen, serat, dan fragmen yang paling umum. Konsentrasi fosfat yang tinggi dalam air sungai menjadi permasalahan serius yang dapat berdampak pada ekosistem perairan dan kesehatan manusia, yang disebabkan oleh deterjen rumah tangga. Dampak pencemaran plastik meliputi gangguan pada sumber air minum, kesehatan manusia, kerusakan ekosistem, dan kerugian ekonomi. Upaya penanggulangannya meliputi edukasi, pengurangan plastik sekali pakai, pengumpulan, daur ulang plastik, pembersihan sungai, regulasi lingkungan, dan inovasi teknologi. Dengan pemahaman lebih dalam tentang pencemaran plastik di Sungai Ciwulan, diharapkan tindakan ini dapat mengurangi dampak negatifnya, melindungi ekosistem sungai, dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Kata Kunci: Sampah Plastik; Ekosistem Sungai; dampak pencemaran plastik

    TRANSGRESI DAN REGRESI GARIS PANTAI DARI TAHUN 2014-2023 DENGAN MENGGUNAKAN DSAS DI WILAYAH KEPESISIRAN KABUPATEN KULON PROGO, YOGYAKARTA

    Full text link
    Penelitian ini mengkaji perubahan garis pantai selama satu dekade (2014-2023) di wilayah kepesisiran Kabupaten Kulon Progo yang memiliki panjang garis pantai +- 25,5 km. Garis pantai didapatkan dari ekstraksi citra satelit Landsat 8-9 OLI dengan memanfaatkan Band NIR dan SWIR 1 dan 2. Model perubahan garis pantai didapatkan dari pengolahan Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Perhitungan model perubahan garis pantai yang dipilih adalah End Point Rate (EPR) dan Linear Regression Rate (LRR). Dari hasil penelitian ditemukan bahwa wilayah kepesisiran Kabupaten Kulon Progo seperti Pantai Congot, Pantai Glagah, Pantai Bidara, Pantai Bugel, dan Pantai Trisik serta Muara Sungai Progo setiap tahunnya mengalami kemunduran pantai yang ditunjukkan dengan nilai EPR dan LRR yang negatif. Erosi marin tertinggi yang terjadi di wilayah Kepesisiran Kabupaten Kulon Progo terdapat di Muara Sungai Progo, dengan  estimasi EPR dan LRR dapat mencapai erosi sejauh 20,4 m/ tahun (EPR) dan 23,1 m/tahun (LRR). Histori erosi marin di wilayah kepesisiran Kabupaten Kulon Progo menyebabkan hilangnya ekonomi dan mata pencaharian. Hasil dari penelitian ini dapat memandu para peneliti dan para pengambil keputusan untuk perencanaan dan pengelolaan wilayah kepesisiran yang berkelanjutan. Kata kunci: Wilayah Kepesisiran, erosi marin, DSAS, EPR, LRR DOI: http://dx.doi.org/10.23960/jpg.v12.i1.28562 This study examines shoreline changes over a decade (2014-2023) in the coastal area of Kulon Progo Regency which has a coastline length of +- 25.5 km. The coastline was obtained from the extraction of Landsat 8-9 OLI satellite images by utilizing Bands NIR and SWIR 1 and 2. The shoreline change model was obtained from Digital Shoreline Analysis System (DSAS) processing. The selected shoreline change model calculations are End Point Rate (EPR) and Linear Regression Rate (LRR). From the results of the study, it was found that the coastal areas of Kulon Progo Regency such as Congot Beach, Glagah Beach, Bidara Beach, Bugel Beach, Trisik Beach and  Progo River Estuary annually experienced coastal retreat as indicated by negative EPR and LRR values. The highest marine erosion that occurs in the coastal area of Kulon Progo Regency is in the Progo River Estuary, with estimated EPR and LRR can reach marine erosion as far as 20.4 m/year (EPR) and 23.1 m/year (LRR). The history of marine erosion in the coastal area of Kulon Progo Regency has caused economic and livelihood losses. The results of this study can guide researchers and decision-makers for sustainable planning and management of coastal areas

    Potential of Micro Hydro for Electricity Supply in Remote Areas of Singajaya, South Garut

    Full text link
    The issue of electricity demand in remote areas is the focus of this research. One proposed alternative solution is to provide electricity by harnessing natural potential, such as using hydropower through micro hydro systems. This study aims to (1) analyze the electricity supply in Singajaya District, Garut Regency, (2) assess the conditions of remote areas based on the non-electrification ratio of villages, (3) evaluate the potential of Micro Hydro Power Plants (MHPP), and (4) analyze the distribution of this potential in the region. Singajaya District has a high non-electrification ratio, particularly in villages such as Sukamulya, Pancasura, and Sukawangi. The use of renewable energy through MHPP is seen as a solution to enhance electricity availability in these remote areas. This research employs a spatial approach based on Geographic Information Systems (GIS) to map potential sites for MHPP development, along with field data including rainfall, water discharge, and topography. The findings of the study indicate that (1) the electricity supply in Singajaya District is still limited, especially in remote areas that only receive 450 W, while in central areas of the district, capacity can exceed 450 W; (2) the conditions in remote areas of Singajaya District are characterized by high non-electrification ratios, with Sukamulya at 34.32%, Pancasura at 32.23%, and Sukawangi at 31.28%, making these three villages priorities for intervention; (3) six key locations were identified with significant capacity for electricity development, with a total potential generation of 170.18 kW; and (4) the distribution of MHPP potential, characterized by high water discharge and suitable elevation for water flow, could address electricity access for 19.22% of households that currently lack electricity. Keywords: Electricity Supply; Mircro Hydro; Remote Area; Renewable Energy Potentia

    Analisis Pemetaan Tingkat Rawan Banjir di Kota Payakumbuh Berbasis Sistem Informasi Geografis

    No full text
    Indonesia rawan mengalami bencana hidrometereologi, salah satunya banjir. Kota Payakumbuh secara geografis berada pada daerah Pegunungan Bukit Barisan yang berjarak 124 km dari Kota Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memetakan tingkat rawan banjir di Kota Payakumbuh berbasis Sistem Informasi Geografis melalui software ArcGIS 10.4.1. Metode yang digunakan adalah skoring dan pembobotan terhadap parameter hujan yang kemudian di-overlay. Data penelitian berupa data sekunder yang diambil melalui berbagai sumber, diantaranya Geoportal Kota Payakumbuh, dan DEMNAS. Hasil yang diperoleh berupa peta rawan banjir dengan Kecamatan Payakumbuh Utara dan Kecamatan Payakumbuh Timur sebagai kecamatan dengan tingkat kerawanan banjir tertinggi. Faktor utama penyebab terjadinya banjir di Kota Payakumbuh adalah sedikit adanya lahan terbuka/tanah kosong sehingga rendahnya daya resap air hujan. Hal ini diperparah dengan intensitasnya curah hujan tahunan yang sangat tinggi pada musim penghujan yaitu mencapai kisaran >3000 mm/tahun. Kata Kunci: banjir, rawan bencana, Kota Payakumbuh, Sistem informasi Geografis

    ANALISIS FAKTOR MASYARAKAT TETAP BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BENCANA BANJIR

    Full text link
    Kota Banjarmasin memiliki fungsi strategis sebagai pusat pertumbuhan perdagangan dan pelayanan sosial. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan tempat tinggal, orang cenderung menggunakan lahan rawan bencana sebagai tempat tinggal. Dampaknya, banyak masyarakat yang menjadi korban bencana banjir ketika musim penghujan tiba. Masyarakat yang menjadi korban banjir tersebut tetap memilih bertahan. 0/eh karena itu untuk mengetahui bagaimana kondisi eksisting dan pertimbangan masyarakat kembali bermukim di kawasan tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini. Populasinya adalah rumah tangga yang bermukim di lokasi tersebut. Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive. Penelitian ini didesain menggunakan mixed method. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui survei. Pengolahan data kuantitatif meliputi editing dan tabulasi, penelitian kuantitatif menggunakan Analisis faktor Sedangkan pengumpulan data kualitatif, dilakukan melalui lndepth-Interview dan FGD. Hasil penelitian disimpulkan bahwa pertimbangan utama yang mendasari masyarakat memutuskan untuk tetap tinggal di kawasan rawan bencana banjir Pulau Bromo Kota Banjarmasin adalah faktor jarak waktu tempuh ke tempat kerja kedekatan dengan keluarga,dan persepsi harga Iahan. Kata Kunci: Analisis faktor, Banjir, Kawasan rawan bencana, Lahan ilegal, Preferensi DOI: http://dx.doi.org/10.23960/jpg.v9.i2.2703

    Eksplorasi Budaya Repong Damar Dalam Ranah Geografi Perilaku (Studi Fenomenologi Pada Masyarakat Krui)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna repong damar melalui pendekatan fenomenologi dan proses penerimaan dalam masyarakat Krui. Tahap pengungkapan makna dan penerimaan dilakukan dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi dan analisis dengan pendekatan induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Krui memaknai repong damar sebagai: konservasi hutan, sumber pendapatan, dan simbol status sosial. Proses penerimaan repong damar dilakukan dalam tiga ranah, yaitu: kognitif: masyarakat menerima informasi bahwa getah pohon damar memiliki harga jual yang tinggi di pasar lokal dan internasional, afektif: masyarakat mulai membahas tentang budidaya pohon damar di kawasan hutan tanpa merubah fungsinya, dan psikomotor: merupakan tahap penerimaan budidaya pohon damar dengan terus mengembangkan gagasan dalam proses pengelolaannya. Oleh karena itu, repong damar merupakan budidaya pohon damar yang dilakukan di dalam kawasan hutan produksi tanpa mengubah fungsi hutan dan membantu penyelamatan hutan untuk masa depan. Kata Kunci: Konservasi Hutan, Masyarakat Krui, Proses Penerimaan, Repong Damar. DOI: http://dx.doi.org/10.23960/jpg.v9.i2.2705

    Analisis Autokorelasi Spasial Jumlah Sekolah, Guru dan Murid di Kota Padang

    Full text link
    Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok masnyarakat yang akan menentukan kualitas sumberdaya manusia untuk masa yang akan datang. Pemerataan fasilitas pendidikan menjadi tolak ukur tercapainya salah satu tujuan perencanan pendidikan Kota Padang merupakan salah satu daerah yang memiliki jumlah angka rata-rata lama sekolah yang paling tinggi di Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan menganalisis autokorelasi spasial jumlah sekolah, guru dan murid pada masing-masing tingkatan sekolah di Kota Padang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks moran dan LISA. Hasil analisis indeks moran  menunjukkan  bahwa jumlah sekolah, guru dan murid di SD dan SMP tidak terdapat autokorelasi spasial. Untuk SMA terdapat autokorelasi spasial jumlah sekolah, sedangkan jumlah guru dan murid tidak memiliki autokorelasi spasial. Hasil analisis LISA memeperlihatkan tidak terdapat autokorelasi spasial lokal untuk tingkatan SD dan SMP baik jumlah sekolah, jumlah guru dan jumlah murid, sedangkan untuk SMA terdapat autokorelasi spasial lokal jumlah sekolah, guru dan murid dibeberapa kecamatan. Kata kunci: autokorelasi; LISA; moran,; pendidikan DOI: http://dx.doi.org/10.23960/jpg.v11.i2.27600 ReferencesAprilia, R. N., Sugiyanto, & Prihadi, S. (2021). Kajian Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Dasar ( SD / MI ) dan Menengah Pertama ( SMP / MTS ) di Kecamatan Sambong Kabupaten Blora Tahun 2020 ( Implementasi Dalam Pembelajaran Geografi Kelas XI Pada Materi Kualitas Penduduk dan Indeks Pembangun. Geadidaktika, 1(2), 87–103.Arisca, W. D., & Agustini, E. P. (2020). Pola Persebaran Sekolah Sma Dan Smk Di Kabupaten Ogan Komerin Ulu, Ogan Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir, Dan Prabumulih Menggunakan Metode Avarage Nearst Neighbour. Jurnal Bina Komputer, 2(2), 99–121https://doi.org/10.33557/binakomputer.v2i2.975Asnia, R. R., Syaf, H., & Mey, D. (2020). Analisis Spasial Dan Sebaran Fasilitas Pendidikan Tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Kolaka. Jurnal Perencanaan Wilayah, V(1).Ayyumi, F. H., Damayanti, A., & Maulidina, K. (2022). Pola Sebaran dan Keterjangkauan SD, SMP dan SMA di Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Jurnal Kajian, Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan, 10(2), 6–9.Badan Pusat Statistik Kota Padang (2023). Kota Padang dalam Angka 2023. BPS Kota Padang.Dewi, R. P. (2016). Analisis Spasial Penyediaan Fasilitas Pendidikan pada Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Boyolali. Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar, 1(2), 51–58.Marinda, R., R.P. Sitorus, S., & Pribadi, D. O. (2020). Analisis Pola Spasial Persebaran Kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Karawang. Jurnal Geografi, 12(02), 161. https://doi.org/10.24114/jg.v12i02.17646Muazir, S., Lestari, Nurhamsyah, M., Alhamdani, M. R., & Rudiyono. (2022). Pola Sebaran dan Keterpusatan Fasilitas Pendidikan sebagai Pelayanan Publik di Kota Pontianak. Journal of Regional and Rural Development Planning, 6(3), 233–248. https://doi.org/10.29244/jp2wd.2022.6.3.233-248Mukhlis, & Harudu, L. (2019). Pola persebaran dan keterjangkauan lokasi sekolah terhadap pemukiman dengan menggunakan sistem informasi geografi Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan. Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi, 4(4).Mukhlis, Harudu, L., & Musyawarah, R. (2019). Analisis Pola Persebaran dan Keterjangkauan Lokasi Sekolah Terhadap Pemukiman di kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan. Jurnal Environmental Science, 2(1).Nisa, E. K. (2012). Identifikasi Spatial Pattern dan Spatial Autocorrelation Pada Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2012. Jurnal At-Taqaddum, 9(1), 202–226.Preana, I. W. (2020). Pemetaan pola sebaran sekolah dasar berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kecamatan Nusa Penida. ENMAP, 1(1), 37–43.Retno, D., Saputro, S., & Widyaningsih, P. (2018). Proporsionalitas Autokorelasi Spasial dengan Indeks Global ( Indeks Moran ) dan Indeks Lokal (Local Indicator Of Spatial Association ( LISA ). KNPMP, III.Rizal, S., & Syaibana, P. L. D. (2022). Analisis Keterjangkauan dan Pola Persebaran SMA / MA Negeri di Kabupaten Banyuwangi Menggunakan Analisis Buffering dan Nearest Neighbor pada Aplikasi Q-GIS. Techno.COM, 21(2), 355–363.Sapakoly, V. T. W., & Papilaya, F. S. (2023). Analisis Pola Persebaran & Keterjangkauan SMA / SMK di Kota Salatiga Menggunakan Analisis Buffering & Nearest Neighbor. Jurnal Sistem Informasi dan Informatika, 6(1), 1–9

    293

    full texts

    304

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JPG (Jurnal Penelitian Geografi)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇