Journal of Earth Energy Engineering
Not a member yet
117 research outputs found
Sort by
Perhitungan Analisis Sistem Nodal Untuk Menentukan Laju Alir Minyak Dengan Meningkatkan Range Efesiensi Electric Submercible Pump Pada Sumur di Lapangan Minyak PT. BOB. BSP - Pertamina Hulu
Dengan berjalannya waktu produksi, tekanan reservoir akan mengalami penurunan. Untuk mengatasi hal tersebut diatas dipergunakan pengangkatan buatan yang dikenal dengan “Artificial Lift”. Pada sumur di BOB PT.BSP- Pertamina Hulu Zamrud pada umumnya mempergunakan pompa electric submercible pump (ESP) sebagai pengangkatan buatan. Pompa ESP ini pada periode tertentu juga mengalami penurunan kemampuan untuk mengangkat fluida. Hal ini disebabkan karena berkurangnya kemampuan dari tekanan reservoir, terjadinya over load atau under load pada pompa, karena jumlah stages yang dipasang tidak tepat, dan disamping itu terjadinya kerusakan pada peralatan produksi itu sendiri. Penelitian ini menghitung Range efesiensi pompa terpasang, mengevaluasi kemampuan pompa ditandai besarnya laju produksi, menghitung jumlah stages dan Horse power pompa yang terpasang. Perhitungan mempergunakan metoda Analisa System Nodal, dimana titik nodalnya terletak didasar sumur. Berdasarkan hasil perhitungan range efesiensi pompa dari 4 sumur kajian, terdapat 2 pompa yang bekerja sesuai range efesiensinya dan pompa pada 2 sumur lainnya yaitu sumur F-02 dan F-04 mempunyai laju produksi 2500 stb/d dan 1450 stb/d. Pompa ini bekerja di bawah range efisiensi kalau kondisi ini diabaikan terus akan terjadi kerusakan pada pompa karena “downthrust” pada sumur F-02 dan F-04 agar meningkatkan laju produksi dan menghindari pompa bekerja pada kondisi downtrush maka dari hasil analisa sebaiknya ditambahkan panjang stage dari 44 stage menjadi 75 stage pada sumur F-02 dan 120 stage menjadi 150 stage pada sumur F-04
Prediksi Kinerja Steamflood Dengan Metode Myhill-Stegemeier dan Gomaa di Area R Duri Steamflood (DSF)
Steamflood constitutes one of method Enhanced Oil Recovery (EOR) by injected steam with quality and particular flow rate kontinyu into reservoir. Its aim is increase oil mobility at reservoir by downs viscosity to produced passes through producer. Before does simulation exhaustively, there is it is better does to predict performance a steamflood's reservoir by analytic simple one. This studies compares two simple methods in prediction steamflood's reservoir performance by use of data historical on area R Duri Steamflood (DSF). Gomaa's method utilizes many graph have already at previous generalizing but just applies on field with given characteristic limitation. Then Myhill Stegemeier modifies equation that made by Mandl and Volek to interpose that displacement form in reservoir is frontal displacement one dimension yawns to oil. Both of that method have excess and its lack each. Compares two simple methods in predicting reservoir performance steamflood using historical data on the area "R" Steamflood Duri. Gomaa method using some charts that have been generalized before but only apply to the courts to limit certain characteristics. Myhill-Stegemeier then modify the equations created by Mandl and Volek to argue that the form of displacement in the reservoir is a one-dimensional frontal displacement steam to oil. Both methods have advantages and disadvantages of each. Both methods produce a number of different oil recovery. The cumulative oil recovery methods amounted to 1378917 Stegemeiers Myhill-STB (76% of OOIP) and Method Gomaa of the STB 999 072 (55% of OOIP). Comparison of steam-oil (FSO) obtained in Method Myhill is a comparison of cumulative, it is evident from the constant value (FSO) obtained from the first year until the 10th year. Gomaa is different from the method they are relatively oil-vapor ratio (FSO) obtained
Aplikasi Kurva Derivative Dalam Penentuan Batas Reservoir Pada Sistem Reservoir Lensa
Reservoir lensa merupakan reservoir yang memiliki bentuk menyerupai lensa dan memiliki sifat reservoir yang tertutup. Saat ini, reservoir dengan tipe lensa mulai banyak diproduksikan. Studi mengenai reservoir lensapun telah banyak dilakukan untuk dapat lebih memahami kelakuan reservoir ini. Untuk memperoleh analisa lebih baik mengenai reservoir lensa ini diperlukan studi-studi yang tepat sehingga pengembangan lapangan dengan reservoir ini berjalan dengan baik. Analisa yang dilakukan salah satunya adalah analisa mengenai batas reservoir dengan menggunakan kurva derivative pada reservoir lensa ini. Untuk itu, yang perlu dilakukan adalah membuat model reservoir lensa dan melakukan simulasi untuk dapat memperkirakan kelakuan dari reservoir ini. Data yang diperlukan antara lain: tekanan reservoir, waktu produksi, batas reservoir , properti fluida, dan properti batuan. Dari data tersebut kemudian digunakan software simulasi reservoir CMG untuk memperoleh data tekanan dari sumur uji dan software Saphire untuk interpretasi dari data tekanan yang diperoleh. Pada penelitian ini akan dibahas tentang identifikasi dan analisa batas reservoir untuk reservoir dengan tipe lensa dengan menggunakan model ideal pada software Saphire. Selain itu, akan dibahas pula bentuk kurva derivative yang dihasilkan dari reservoir lensa
Analisis Kinerja Tenaga Pendorong Reservoir dan Perhitungan Water Influx pada Perolehan Minyak Tahap Primer (Studi Kasus Lapangan Falipu)
Primary recovery is the stage of oil production by relying on the natural ability of the driving force of the reservoir. Kind of driving force that is water drive reservoir, depletion drive, segregation drive and a combination drive. The pressure drop occurred along its produced oil from the reservoir. Reservoir so that the driving force is the main parameter in maintaining reservoir pressure balance. Through the concept of material balance is the determination of the type of propulsion quifer reservoir and the power that generates driving force parameter analysis capability and aquifer in oil producing naturally. Then do the forecasting production to limit the ability of primary recovery production phase. Combination drive depletion of water drive and the drive is a driving force in the dominant reservoir Falipu Fields with a strongly water aquifer types of drives obtained through material balance equation. Calculations using the method of water influx Havlena & Odeh used as a correction factor for determining the type of propulsion reservoir and aquifer strength. Forecasting production in the Field Falipu generate recovery factor of 41% with a pressure boundary in 2050
Optimasi Hidrolika Lumpur Pemboran Menggunakan Api Modified Power Law Pada Hole 8½ Sumur X Lapangan Mir
Salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan dalam keberhasilan suatu operasi pemboran adalah pembersihan lubang bor dari serbuk bor selama proses pemboran berlangsung. Perencanaan dan kontrol yang baik dapat mempercepat operasi pemboran dan secara keseluruhan dapat menghemat biaya. Sistem hidrolika lumpur pemboran berpengaruh terhadap pembersihan lubang bor, lumpur yang keluar dari nozzle dengan kecepatan tinggi membantu pahat menembus batuan serta mengangkat cutting ke permukaan. Analisis hidrolika lumpur dan hidrolika pahat pada sumur X dilakukan pada pelaksanaan pengeboran hole 8½dimulai dari kedalaman 2093 ft – 5555 ft. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kehilangan tekanan sirkulasi lumpur pemboran serta untuk mengoptimalkan laju alir sirkulasi dan diameter nozzle pahat untuk mengoptimalkan pengangkatan cutting. Metode yang dipergunakan dalam analisis lumpur pemboran adalah metode API modified power law dimana metode tersebut merupakan penyempurnaan dari metode power law dan direkomendasikan untuk dipergunakan oleh API. Sedangkan metode yang digunakan dalam mengevaluasi keberhasilan hidrolika pahat dilakukan dengan menggunakan metode Bit Hydraulic Horse Power (BHHP). Metode BHHP sesuai digunakan untuk pemboran vertical dengan pertimbangan gaya gravitasi dan cenderung aliran yang digunakan laminer. Berdasarkan hasil studi kasus diperoleh bahwa pengangkatan cutting akan sempurna apabila aliran di annulus laminar, total kehilangan tekanan adalah 842.08 psi dimana kehilangan tekanan yang terjadi pada Surface Connection 6.312 psi, Pada Drill String 523.191 psi, Pada Annulus 169.305 psi, Pada Bit 136.955 psi. Laju alir aktual 502 gpm dengan diameter nozzle 6x15 tidak optimal, maka laju alir dioptimasikan menjadi 440 gpm dengan diameter nozzle 6x10
Evaluasi Peningkatan Produksi Pada Formasi Sandstone Sumur #H Dan #P Dengan Perencanaan Stimulasi Pengasaman Matriks (Studi Kasus Lapangan Falih)
Salah satu upaya stimulasi sumur yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sumur yang mengalami penurunan produksi karena menurunnya permeabilitas akibat kerusakan formasi adalah dengan pengasaman matriks. Pengasaman matriks dapat dilakukan pada formasi sandstone menggunakan fluida stimulasi berbahan dasar asam Hydrofloric (HF) yang dicampur dengan asam Hydrochlorid (HCl). Dalam pelaksanaannya perlu dilakukan perencanaan desain pengasaman matriks serta mengevaluasi hasil sebelum dan sesudah dilakukan stimulasi pengasaman matriks. Penggunaan Asam Hydrofloric pada batuan sandstone karena dapat melarutkan Silikat. Asam Hydrofloric bereaksi dengan Calsium (Ca) dan Mangan (Mg) membentuk endapan. Pencampuran asam Hydrofloric dan Hydrochlorid akan dapat menghilangkan scale karena sementasi sandstone terdiri dari Ca dan Mg. Evaluasi keberhasilan stimulasi dilakukan pada sumur #H dan #P yang didasarkan pada laju produksi harian sumur, productivity index, kurva IPR (Inflow Performance Relationship) Wiggins serta harga permeabilitas sumur. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada sumur #H mengalami peningkatan produksi dari 81.125 BOPD menjadi 121.365 BOPD dengan kenaikan harga productivity index dari 0.12 bbl/day/psi menjadi 0.2 bbl/day/psi dan kenaikan harga permeabilitas dari 11.65 mDarcy menjadi 17.79 mDarcy. Hasil pengamatan yang dilakukan pada sumur #P mengalami penurunan produksi dari 40.89 BOPD menjadi 34.94 BOPD dengan penurunan harga productivity index dari 0.10 bbl/day/psi menjadi 0.09 bbl/day/psi dan penurunan harga permeabilitas dari 10.76 mDarcy menjadi 9.42 mDarcy
Optimasi Perhitungan Laju Alir minyak Dengan Meningkatkan Kinerja Pompa Hydraulic Pada Sumur Minyak Di Lapangan PT. KSO Pertamina Sarolangon Jambi
Seiring dengan berjalannya waktu produksi suatu sumur minyak, tekanan reservoir pada sumur tersebut akan berkurang. Hal ini menyebabkan akan terjadi penurunan laju produksi. Untuk mengatasi kondisi tersebut dilakukan pengangkatan buatan atau artificial lift. Pada lapangan minyak PT.KSO Pertamina Sarolangon Jambi pengangkatan buatan dengan mempergunakan Hydrolic Pump Unit (HPU). Efisiensi volumetrik (Ev) merupakan indikasi kelayakan kapasitas suatu pompa. Pada suatu periode tertentu pompa juga mengalami penurunan kemampuan untuk mengangkat fluida, dengan menurunnya efisiensi volumetrik. Berdasarkan hasil evaluasi dari Peneliti terdapat 10 sumur yang mempunyai efisiensi volumetrik < 55%, dan dilihat dari kurva IPR sumur tersebut masih memiliki potensi untuk dilakukan optimasi. Kemampuan suatu sumur untuk berproduksi dapat diketahui dengan melakukan perhitungan produktifitas sumur dengan kurva IPR berdasarkan data aktual di lapangan. Optimasi dapat dilakukan dengan metode Analisa systim Nodal (Pump Intake Curve). Hasil evaluasi efisiensi volumetrik (Ev) pompa terpasang dari 10 sumur kajian, terdapat 7 sumur mempunyai EV < 30 % dan 3 sumur mempunyai EV < 55 %. Berdasarkan hasil perhitungan laju alir maksimum kemampuan dari masing-masing sumur yaitu : F-01= 141,39 Bfpd,F-02 = 165 Bfpd, F-02 = 165 Bfpd, F-03 = 118,90 Bfpd, F-04 = 150 Bfpd, F-05 = 177,90 Bfpd, F-06 = 290 Bfpd, F-07= 185,30 Bfpd, F-08= 262 Bfpd, F-09=145 Bfpd dan F-10= 98 Bfpd. Setelah dilakukan perhitungan optimasi pada sumur kajian, didapatkan kenaikan laju produksi yang signifikan, dengan perhitungan perubahan kecepatan dan panjang langkah pompa. Kondisi sumur pada perhitungan optimasi ini tidak terjadi pelepasan gas dari fluida, karena pump intake pressure atau tekanan masuk pompa masih diatas tekanan bubble point
Evaluasi Masalah Bottom Hole Assembly Lepas Pada Pemboran Berarah Di Sumur X Lapangan Y
Sumur X pada lapangan Y merupakan sumur dengan permasalahan rangkaian BHA terlepas setelah proses pembebasan rangkaian pipa pemboran karena adanya Pack off pada kedalaman 3.360 ft MD. Hal tersebut ditandai dengan tidak adanya return pada saat dilakukan circulation serta tekanan pompa naik secara tiba-tiba. Pack off menyebabkan formasi gugur dan cutting terakumulasi di lubang sumur. Terakumulasinya cutting menjadi penyebab rangkaian terjepit akibat. Perhitungan reactive torque dengan persamaan Frank J Schuh dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai torsi yang menyebabkan BHA terlepas dari rangkaian tersebut. Menurut perhitungan yang telah dilakukan, rangkaian BHA lepas terjadi karena torsi reaksi (reactive torque) sebesar 60.240 ft.lb. yang sekitar dua kali lebih daripada nilai make up torque untuk HWDP 5” yaitu sebesar 22.800 ft.lb. Masalah rangkaian BHA lepas dapat ditangani dengan menggunakan metode operasi fishing. Waktu ekonomis fishing yang didapat untuk melakukan kegiatan fishing sebesar 3,1 hari. Apabila fishing job tidak berhasil, maka dapat dilakukan operasi penindaklanjutan untuk menghindari fish yang tertinggal di dalam lubang sumur dengan melakukan pembelokan lintasan sumur pada titik Kick Off Point (KOP) yang baru, yakni pada kedalaman 485 ft
Analisis Kualitas Bonding Cement Di Zona Produktif Sumur BA 147 Menggunakan Ultra Sonic Imager Tool (USIT) Log di Lapangan BOB PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu
Squeeze cementing adalah bagian dari pekerjaan ulang sumur yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas bonding cement yang buruk. Kualitas bonding cement yang buruk dapat menyebabkan meningkatnya harga water cut akibat masuknya fluida yang tidak diinginkan ke dalam sumur seperti air dan gas . Terjadinya High Water Cut pada Sumur BA#147 hingga 99% diikuti penurunan oil rate hingga 8.97 bopd yang signifikan menjadi suatu permasalahan. Hal ini dikarenakan oleh masalah terbatasnya fasilitas pengolahan air dan pertimbangan efisiensi produksi. Sehingga perlu dilakukan evaluasi kualitas bonding cement dan squeeze cementing disekitar zona produktif sumur BA#147. Metode analisis kualitas bonding cement yang digunakan yaitu Ultra Sonic Imager Tool (USIT). USIT mampu menginterpretasikan kondisi cement, casing dan jenis material (liquid dan gas) yang terdapat dibelakang casing. Selanjutnya dilakukan design squeeze cementing untuk meningkatkan kualitas bonding cement yang buruk. Setelah dilakukan analisis berdasarkan hasil image impedance yang diinterpretasikan USIT, didapatkan hasil kualitas bonding cement yang buruk pada interval kedalaman 3300ft – 3380ft. Berdasarkan hasil interpretasi USIT tersebut dilakukan squeeze cementing untuk memperbaiki bonding cement. Dibutuhkan 8.55 slurry cement, 1.27 bbl additive dan maximum squeeze pressure 586 psi. Teknik penyemenan yang digunakan yaitu teknik penyemenan bradenhead (open ended). Kualitas cement setelah dilakukan squeeze cementing pada sumur BA#147 yaitu good bonding berdasarkan harga image impedance yang ditampilkan pada rekaman USIT kedua
Rekonstruksi dan Validasi Data Permeabilitas Relatif Untuk Proses History Matching Dalam Simulasi Reservoir Pengembangan Lapangan X
Sebelum suatu model reservoir digunakan, terlebih dahulu dilakukan history matching atau menyesuaikan kondisi model dengan dengan kondisi reservoir. Salah satu parameter yang perlu disesuaikan adalah permeabilitas relatif. Untuk melakukan rekonstruksi nilai permeabilitas relatifnya dibutuhkan data SCAL (Special Core Analysis) dari sampel core. Langkah awal rekonstruksi adalah dengan melakukan normalisasi data permeabilitas relatif (kr) dan saturasi air (Sw) dari data SCAL yang berasal dari tiga sampel core. Setelah dilakukan nomalisasi, dilakukan denormalisasi data permeabilitas relatif yang akan dikelompokkan berdasarkan jenis batuannya. Setelah dilakukan history matching menggunakan black oil simulator, data denormalisasi tersebut belum sesuai dengan kondisi aktual. Selanjutnya digunakan persamaan Corey untuk rekonstruksi kurva permeabilitas relatifnya. Hasil dari persamaan tersebut didapat bahwa nilai kro dan krw jenis batuan 1 sebesar 0,25 dan 0,09 kemudian nilai kro dan krw untuk jenis batuan 2 sebesar 0,4 dan 0,2. Nilai permeabilitas dari persamaan Corey digunakan untuk melakukan history matching, hasilnya didapat kecocokan (matching) dengan keadaan aktual. Berdasarkan hasil simulasi, nilai produksi minyak aktualnya adalah 1.465.650 bbl sedangkan produksi dari simulasi adalah 1.499.000 bbl. Artinya persentase perbandingan aktual dan simulasinya adalah 1,14% yang dapat dikatakan cocok karena persentase perbedaannya di bawah 5%