SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1608 research outputs found
Sort by
PengaruhJarakdanWaktuPenyemprotanpada Proses Sandblasting denganMenggunakan Media PasirKulonprogoterhadaphasilKekasarandanLajuKorosipada Baja AISI 304.
ABSTRAKDian, Paschalis Apri. 2018. Pengaruh Jarak dan Waktu Penyemprotan pada Proses Sandblasting dengan Menggunakan Media Pasir Kulonprogo terhadap hasil Kekasaran dan Laju Korosi pada Baja AISI 304. Skripsi. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Dr.Aminnuddin,S.T.,M.T (1) Yanuar Rohmat Aji Pradana,S.T.,M.T., M.Sc. (2)Logam merupakan salah satu jenis bahan yang sering dimanfaatkan untuk dijadikan peralatan penunjang bagi kehidupan manusia karena logam memiliki banyak nilai fungsi dibandingkan bahan-bahan lain. Namun logam memiliki kelemahan yaitu mudah terkorosi, penyebab korosi secara umum ada dua macam yaitu korosi kimia dan korosi elektrolit. Banyak macam cara yang digunakan untuk membersihkan suatu karat atau korosi yaitu dengan pencelupan ke dalam larutan asam, penyikatan dengan kawat atau dengan penyemprotan partikel padat yang berupa pasir sebagai zat abarasif atau disebut sandblasting. Pasir yang biasa digunakan adalah pasir silika atau pasir steel grade, namun penggunaan pasir silika sebagai abrasif sangat berbahaya karena pasir ini memiliki unsur penyusunan kimia SiO₂ berupa kristal silika yang dapat menyebabkan silikosis bagi operator blasting. alternatif jenis pasir pengganti yang dapat digunakan untuk proses sandblasting salah satunya yaitu dengan menggunakan Pasir Kulonprogo, yang mempunyai kadar Fe 50%, Al₂O₃ 3,3%, SiO₂ 0,26%, P₂O₅ 0,55%, TiO₂ 9,2%, dan MgO 0,6%. Biji besi dalam bentuk endapan pasir besi dengan kadar Fe sekitar 38-59%. Dalam penelitian ini dilakukan proses sandblasting dengan variasi jarak dan waktu penyemprotan untuk mengetahui apakah itu berpengaruh terhadap nilai kekasaran permukaan dan laju korosi.parameter yang digunakan adalah jarak 50,100 dan 150 mm dan waktu 5,10 dan 15 detik dan disemprot pada Baja AISI 304 yang memiliki dimensi 30 mm x 30 mm x 1 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak dan waktu penyemprotan memiliki pengaruh terhadap nilai kekasaran permukaan dan laju korosi. Nilai kekasaran tertinggi terjadi pada jarak 50 mm dan waktu 15 detik dengan nilai Ra = 1.86333 μm sedangkan nilai kekasaran permukaan terendah pada jarak 150 mm dan waktu 5 detik dengan nilai kekasaran 1.47 μm. Untuk pengujian laju korosi nilai tertinggi terjadi pada jarak 50 mm dan waktu 15 detik dengan nilai laju korosi sebesar 0.0040178 μm/y, sedangkan untuk nilai terendah terjadi pada jarak 150 mm dan waktu 5 detik dengan nilai laju korosi 0.002674 μm/y.Kata Kunci : Sandblasting,Kekasaran,Laju korosi ABSTRACTDian, Paschalis Apri. 2018. Effect of Distance and Time of Spraying on the Sandblasting Process by Using Kulonprogo Sand Media on the Roughness and Corrosion Rate on Steel AISI 304. Thesis. Faculty of Engineering, State University of Malang. Aminnuddin, S.T., M.T (1) Yanuar RAP, S.T., M.T. (2)Metal is one type of material that is often used to be a supporting tool for human life because metals have many functional values compared to other materials. But metals have weaknesses, which are easily corroded, causes of corrosion in general, there are two types, namely chemical corrosion and electrolyte corrosion. Many types of methods are used to clean a rust or corrosion by immersion in an acid solution, brushing with a wire or by spraying solid particles in the form of sand as an abrasive substance or called sandblasting. Sand commonly used is silica sand or steel grade sand, but the use of silica sand as an abrasive is very dangerous because this sand has the element of SiO penyusunan chemical preparation in the form of silica crystals which can cause silicosis for blasting operators. One alternative type of sand that can be used for the sandblasting process is by using Pasir Kulonprogo, which has a Fe content of 50%, Al₂O₃ 3.3%, SiO₂ 0.26%, P₂O₅ 0.55%, TiO₂ 9.2%, and MgO 0.6%. Inside iron ore form of iron sand deposits with Fe content around 38-59%. In this study sandblasting process was carried out with variation of spraying distance and time to determine whether it affected the surface roughness and corrosion rate. The parameters used were 50,100 and 150 mm and 5.10 and 15 seconds and sprayed on AISI 304 steel which had dimensions of 30 mm x 30 mm x 1 mm. The results showed that the distance and time of spraying had an influence on the value of surface roughness and corrosion rate. The highest roughness value occurs at a distance of 50 mm and a time of 15 seconds with a Ra value = 1.86333 μm while the lowest surface roughness at a distance of 150 mm and a time of 5 seconds with a roughness value of 1.47 μm. The highest value of corrosion rate testing occurred at a distance of 50 mm and a time of 15 seconds with a corrosion rate of 0.0040178 μm / y, while for the lowest value occurred at a distance of 150 mm and a time of 5 seconds with a corrosion rate of 0.002674 μm / y.Keywords: Sandblasting, Roughness, Corrosion Rat
ANALISIS KOMPOSISI CAMPURAN BRICK POWDER SEBAGAI MEDIA CETAKAN TERHADAP HASIL PENGECORAN Al-Si
RINGKASAN Saputra, Welsan Ega. 2019. Analisis Komposisi Campuran Brick Powder Sebagai Media Cetakan Terhadap Hasil Pengecoran Al-Si. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Putut Murdanto, S.T., M.T., (II) Duwi Leksono Edy, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: Brick Powder, Al-Si, Cacat Coran, Struktur Mikro, dan Kekerasan. Proses pengecoran logam memerlukan cetakan untuk media pengecoran logam. Cetakan pasir adalah elemen yang peting pada proses pengecoran, karena logam yang bagus belum tentu menghasilkan coran yang bagus, melainkan juga dipengaruhi oleh kualitas cetakan. Pada prosesnya pembuatan cetakan bisa menggunakan unsur lain selain pasir yaitu melakukan opsi penggunaan media cetakan selain pasir dengan menggunakan serbuk bata atau brick powder untuk media pengecoran logam menggantikan pasir karena brick powder mempunyai karakteristik tahan api (refractory) dan memiliki sifat bentuk yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan brick powder guna memanfaatkan serbuk batu bata sebagai media cetakan pengecoran serta untuk menambah opsi fungsi dari brick powder dikarenakan pembuatan bangunan sudah mulai beralih menggunakan bata yang terbuat dari semen. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode one-shot case study. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, hasil analisis cacat coran yang terjadi pada hasil pengecoran logam Al-Si menggunakan cetakan komposisi brick powder 87%, 82% dan 77% semua terjadi cacat penyinteran yang disebabkan oleh proses pemadatan pada cetakan brick powder yang kurang. Juga terdapat cacat rongga udara yang terjadi di semua spesimen. Rongga udara disebabkan cetakan terlalu banyak menimbulkan gas. Cacat lubang jarum juga terjadi di setiap spesimen. Pada hasil pengamatan struktur mikro porositas terjadi pada hasil coran Al-Si di setiap komposisi cetakan brick powder. Namun pada hasil foto mikro coran Al-Si menggunakan cetakan komposisi brick powder 77% porositas lebih banyak terjadi. Penyebaran struktur butir pada hasil foto mikro coran Al-Si menggunakan cetakan komposisi brick powder 87% lebih merata dan memiliki ukuran butir yang kecil. Sedangkan pada hasil foto mikro coran Al-Si menggunakan cetakan komposisi brick powder 82% penyebaran struktur butir merata dan memiliki ukuran butir yang bervariasi. Pada hasil foto mikro coran Al-Si menggunakan cetakan komposisi brick powder 77% penyebaran struktur butir tidak merata dan ukuran butir bervariasi. Nilai kekerasan tertinggi terdapat pada hasil coran Al-Si menggunakan cetakan komposisi brick powder 87% dengan pengikat bentonit 5% dengan nilai kekerasan 70,3 HV. Sedangkan nilai kekerasan terendah terdapat pada hasil coran Al-Si menggunakan cetakan komposisi brick powder 77% dengan pengikat bentonit 15% dengan nilai kekerasan 59,3 HV. Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan semakin bertambahnya kadar bentonit pada cetakan maka nilai kekerasan hasil coran Al-Si akan menurun
PENGARUH MODEL SISTEM BAHAN BAKAR PADA HONDA MEGAPRO TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN DAYA
ABSTRAK Khoironil Barnamij. 2019. Pengaruh Model Sistem Bahan Bakar Pada Honda Megapro Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Dan Daya. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1).Drs.H.Sumarli,M.Pd. M.T. (2) Drs. Paryono. ST,M.T. Kata Kunci: System Electronic Fuel Injektion,System Bahan Bakar konvensional, Efisiensi Bahan Bakar, Dan Daya. Indonesia dijadikan kesempatan besar oleh pengusaha otomotif sebagai pasar penjualan dari berbagai produk otomotif. Dengan sangat pentingnya alat transportasi ini maka masyarakat akan memilih sepeda motor yang mempunyai tenaga besar, irit bahan bakar dan ramah lingkungan. Saat ini berkembang teknologi EFI (electronic fuel injection) mesin sepeda motor untuk pada mesin sepeda motor untuk dapat meningkatkan prestasi mesin Tanpa disadari semakin lama mesin digunakan dapat berpengaruh terhadap daya sepeda motor itu sendiri.. Hal tersebut juga dipengaruhi dengan kinerja injector, pada mesin berteknologi EFI injector berfungsi sebagai penyemprot bahan bakar kesaluran masuk (intake manifold) biasanya sebelum katup masuk, namun ada juga yang ke throttle body. Volume penyemprotan disesuaikan oleh waktu pembukaan nozzle/injector. Lama dan banyaknya penyemprotan diatur oleh ECU (Electronik Control Unit). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemasangan Injector Vixion terhadap efisiensi bahan bakar dan daya pada sepeda motor Honda Megapro, dan diperoleh alternative yang menambah daya pada pemakaian komponen tersebut yang menambah daya motor. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian ekperimental yang menggunakan dua jenis sampel dimana sampel 1 (satu) Honda Megapro standart dan sampel ke 2 (dua) Honda Megapro dengan system electronic fuel injection, yang nantinya dua sempel tersebut akan di lakukan pengambilan data efisiensi bahan bakar dan daya. Data dari sampel tersebut nantinya akan dilakukan perbandingan anatara sampel 1 (satu) dengan sampel 2 (dua) sehingga dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini. Teknik analisis yang digunakan adalah One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test, Test of Homogeneity of Variances, dan Paired Samples Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan bakar lebih irit dikarnakan electronic fuel injection merupakan teknologi yang sudah modern yang semuanya di atur secara sistematis oleh program pada ECU dan daya mesin lebih tinggi pada saat penggunaan System electronic fuel injection karena proses pencampuran bahan bakar yang lebih banyak dan sempurna yang diberikan oleh system electronic fuel injectio, sehingga daya yang dihasilkan menjadi lebih tinggi dari pada penggunaan system bahan bakar konvensional. Berdasarkan hasil penelitian diatas dan setelah dilalukan analisis data dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadapad efisiensi bahan bakar dan daya antara penggunaan system electronic fuel injection dengan system bahan bakar konvensional
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY BERBASIS ANDROID UNTUK MENUMBUHKAN KEAKTIFAN BALAJAR PADA PELAJARAN PEKERJAAN DASAR TEKNIK OTOMOTIF SISWA KELAS X SMKN 6 MALANG
Rahmat. 2019. Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan Teknologi Augmented Reality Berbasis Android Untuk Menumbuhkan Keaktifan Belajar Pada Pelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Otomotif Siswa Kelas X SMKN 6 Malang. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin. Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.SyarifSuhartadi, M.Pd, (II) M. Ihwanudin, S.Pd, M.Pd.Kata kunci: Augmented Reality, Keaktifan BelajarPekerjaan Dasar Teknik Otomotif adalah salah satu mata pelajaran yang wajib di tempuh oleh siswa jurusan teknik kendaraan ringan otomotif di SMKN 6 Malang. Mengetahui materi dan tahu benda aslinya agar mempermudah siswa dalam belajar mengajar. Jika siswa hanya mengandalkan guru dan materi pembelajaran maka tidak mendapatkan hasil maksimal. Sumber belajar agar lebih mudah di akses maka perlu adanya Inovasi sumber belajar yang dapat membantu peran guru dan materi. Modul pembelajaran menggunakan teknologi Augmented Reality Berbasis Android adalah pilihan tepat karena lebih interaktif, menarik, dan mudah digunakan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Media Pembelajaran Menggunakan Teknologi Augmented Reality Berbasis Android agar dapat menumbuhkan keaktifan belajar sehingga hasil belajar akan lebih maksimal.Pengembangan modul dilakukan menggunakan model pengembangan ADDIE. Model pengembangan ini dipilih karena adanya validasi yang harus dilakukan. Langkah pengembangan ADDIE sebagai berikut: (1) analisis (analyze), (2) desain (design), (3) pengembangan (development), (4) Implementasi (implementation), (5) evaluasi (evaluation). Pengembangan konten dilakukan dengan model Research and Development yaitu: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) uji coba pemakaian. Pengujian dilakukan oleh ahli media, ahli materi, uji kelompok kecil, dan uji kelompok besar. Penguji yang dilakukan ahli media memperoleh persentase sebesar 88,09%. Penguji ahli materi memperoleh persentase sebesar 95,53%. Penguji pada kelompok kecil memperoleh persentase sebesar 85,35%. Uji kelompok besar atau lapangan memperoleh persentase sebesar 84,44%. Observasi keaktifan belajar yang dilakukan mendapatkan hasil bahwa 18 orang siswa berkategori sedang dan 7 orang siswa berkategori tinggi. Dari data yang didapatkan menunjukkan bahwa Media Pembelajaran Menggunakan Teknologi Augmented Reality Berbasis Android layak untuk digunakan sebagai bahan ajar pendambing guru dan modul yang di kembangkan sudah dapat menumbuhkan keaktifan belajar siswa pada kategori keaktifan sedang.
Perbedaan Penggunaan Standard Camshaft Dan RacingCamshaft Terhadap Daya Dan Konsumsi Bahan Bakar Pada Engine OHC 110 cc Karburator
RINGKASANSantoso, Didik Leo. 2019. Perbedaan Penggunaan Standard Camshaft Dan RacingCamshaft Terhadap Daya Dan Konsumsi Bahan Bakar Pada Engine OHC 110 cc Karburator. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Paryono, S.T, M.T. (II) Erwin Komara Mindarta. S.Pd, M.Pd.Kata Kunci: standard camshaft, camshaft racing, daya, konsumsi bahan bakarKurang maksimalnya daya yang dihasilkan sepeda motor keluaran pabrik menjadi alasan konsumen untuk memodifikasi sepeda motor. Sebanyak 50 konsumen yang ditanya 68% lebih memilih Yamaha dibandingkan Honda. Tujuan penelitian ini yang pertama untuk mengetahui perbedaan penggunaan standard camshaft dan camshaft racing terhadap daya pada engine OHC 110 cc karburator, yang keduan untuk mengetahui perbedaan penggunaan standard camshaft dan camshaft racing terhadap konsumsi bahan bakar pada engine OHC 110 cc karburator. Daya merupakan energi yang dihasilkan mesin persatuan waktu mesin. Konsumsi bahan bakar merupakan banyaknya bahan bakar yang dihabiskan selama proses pembakaran berlangsung.Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Rancangan penelitian ini menggunakan desain penelitian perbandingan kelompok statis. Subyek dalam penelitian ini yaitu engine OHC 110 cc dan obyek dalam penelitian ini adalah standard camshaft dan camshaft racing. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan instumen dokumentasi dan tes. Dalam penelitian ini menggunakan analisis uji independent sample t tes. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh pertama perbedaan penggunaan standard camshaft dan camshaft racing terhadap daya dengan nilai signifikansi 0,003 < 0,05, yang kedua perbedaan penggunaan standard camshaft dan camshaft racing terhadap konsumsi bahan bakar dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulakn bahwa pertama terdapat perbedaan daya pada engine tipe OHC 110 cc karburator yang menggunakan standard camshaft dan camshaft racing, yang kedua terdapat perbedaan konsumsi bahan bakar pada engine tipe OHC 110 cc karburator yang menggunakan standard camshaft dan camshaft racing
Hubungan Motivasi Berprestasi dan Persepsi Siswa terhadap Iklim Kelas Workshop dengan Prestasi Mata Pelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) Siswa Kelas X Teknik Pemesinan SMKN 1 Blitar
ABSTRAKUrroziq, Mochamad Musyafa. 2019. Hubungan Motivasi Berprestasi dan Persepsi Siswa terhadap Iklim Kelas Workshop dengan Prestasi Mata Pelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) Siswa Kelas X Teknik Pemesinan SMKN 1 Blitar. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd, (2) Drs. Wahono., S.ST., M.Pd.Kata Kunci: motivasi berprestasi, iklim kelas workshop, prestasi belajar.Keberhasilan pendidikan tergantung pada bagaimana proses pembelajaran berlangsung. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui hubungan motivasi berprestasi dengan prestasi Mata Pelajaran PDTM siswa kelas X Teknik Pemesinan SMKN 1 Blitar; (2) untuk mengetahui hubungan iklim kelas workshop dengan prestasi Mata Pelajaran PDTM siswa kelas X Teknik Pemesinan SMKN 1 Blitar; (3) untuk mengetahui hubungan motivasi berprestasi dan iklim kelas workshop secara bersama-sama dengan prestasi Mata Pelajaran PDTM siswa kelas X Teknik Pemesinan SMKN 1 Blitar.Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik kuesioner dan dokumentasi. Kuesionar digunakan untuk mengambil data variabel motivasi berprestasi dan iklim kelas workshop, sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data nilai rapor siswa pada mata pelajaran PDTM. Analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi sederhana dan regresi berganda. Pengujian yang telah dilakukan pada penilian ini menghasilkan beberapa kesimpulan: (1) terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi Mata pelajaran PDTM siswa kelas X Teknik Pemesinan SMKN 1 Blitar. Koefisien korelasi antar variabel dependent dengan independent sebesar 0,762 dengan sumbangan efektif sebesar 30,63%; (2) terdapat hubungan iklim kelas workshop berprestasi dengan prestasi Mata Pelajaran PDTM siswa kelas X Teknik Pemesinan SMKN 1 Blitar. koefisien korelasi antar variabel dependent dengan independent sebesar 0,869 dengan sumbangan efektif sebesar 55,96%;(3) terdapat hubungan motivasi berprestasi dan iklim kelas workshop dengan prestasi Mata Pelajaran PDTM siswa kelas X Teknik Pemesinan SMKN 1 Blitar. Koefisien korelasi antar variabel dependent secara bersama-sama dengan variabel independent sebesar 0,930 dengan sumbangan efektif sebesar 86,59%
Persepsi Guru tentang Kesiapan Program Keahlian Otomotif Sekolah Menengah Kejuruan di Malang Raya dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0
RINGKASAN Erwin, Lorenzah 2019. Persepsi Guru tentang Kesiapan Program Keahlian Otomotif Sekolah Menengah Kejuruan di Malang Raya dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0, Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Amat Nyoto, M.Pd., (II) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd. Kata Kunci: persepsi guru Perkembangan industri saat ini sudah pada tahap industri ke 4.0 dimana pada industri ini sudah berbasis data dan digital. Inilah sejarah singkat perkembangan industri mulai dari awal yaitu pada revolusi industri pertama menggunakan mesin uap setelah itu revolusi kedua ditemukannya listrik, revolusi ketiga ditandai dengan adanya mesin mesin otomatis dan yang terakhir yaitu industri era ke empat ini. hal ini juga berdampak pada dunia pendidikan khususnya SMK. Muatan pendidikan pada SMK harus meliputi pembelajaran yang selalu inovatif, ketrampilan literasi digital, karir dan kecakapan hidup. Dengan adanya instruksi presiden no 9 tahun 2016 tentang revitalisasi SMK sebagai upaya dalam menyikapi perkembangan industri 4.0 ini. Direktorat pembinaan SMK pun juga menetapkan lima area revitalisasi yang terdiri dari guru dan tenaga kependidikan, kurikulum, kerjasama dunia Usaha/Industri, sertifikasi dan akreditasi dan sarana prasarana dan kelembagaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kesiapan dari dimensi kesiapan guru, kesiapan kurikulum dan kesiapan sarana prasarana pada program keahlian otomotif SMK yang ada di malang raya guna menghadapi era revolusi industri 4.0 Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel adalah nonprobality sampling, yaitu sampel jenuh. Responden pada penelitian ini adalah seluruh guru produktif program keahlian otomotif SMK Negeri 10 Malang dan SMK Negeri 01 Singosari yang berjumlah 22 responden. Instrumen yang digunakan adalah angket/ kuisioner tertutup. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukan bahwa kesiapan program keahlian otomotif dalam menghadapi era industri 4.0 pada: (1) dimensi kesiapan guru dengan kategori sangat siap sebesar 94,26%, berdasarkan indikator (a) kompetensi guru sebesar 61,96% dan (b) prinsip guru mengajar 32,30%. (2) kesiapan kurikulum masuk pada kategori siap dengan persentase 71,05%, berdasarkan indikator (a) perkembangan kurikulum sebesar 4,55%, (b) prinsip kurikulum 23,44%, (c) strategi kurikulum 29,43%, (d) penyelarasan kurikulum 9,09%, (e) pembelajaran sistem blok 4,55% dan (f) english area 0%. Dan (3) dimensi kesiapan sarana prasarana berada pada kategori sangat siap dengan persentase 86,16% didapat dari indikator berikut, (a) standar 17,36%, (2) sumber pemenuhan sarana prasarana 19,83%, (3) perbaiakan thumanetal 28,51% dan (4) prinsip 5R sebesar 13,84%. Sehingga jika dikakulasikan dari ketiga dimensi kesiapan yang diambil, kesiapan program keahlian otomotif SMK di Malang Raya dalam rangka menghadapi era revolusi industri 4.0 berada pada kategori sangat siap dengan persentase 83,83%. Saran yang diberikan untuk SMK yang berada di Malang Raya adalah pertama untuk dimensi kesiapan kurikulum, disarankan pada dimensi ini untuk mengadakan program english day dan adanya english area. Sebagai sarana komunikasi global, bahasa inggris memang harus dikuasai secara aktif baik lisan maupun tulisan. Agar para lulusan nantinya bisa proaktif dalam menghadapi arus informasi global dan bekal ketika terjun di dunia kerja
Pengaruh Variasi Kuat Arus Pengelasan MIG (Metal Inert Gas) terhadap Distribusi Kekerasan dan Kekuatan Impact Baja St 37 Hasil Proses Pack Carburizing
Penerapan pengelasan pada carburized steelyang sering digunakan sebagai material elemen transmisi sangat potensial digunakan sebagai pengganti sambungan baut dengan tujuan untuk mengurangi berat kendaraan sehingga dapat menurunkan konsumsi bahan bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh variasi arus pengelasan MIG terhadap distribusi kekerasan dan kekuatan impactpada baja yang mengalami proses pack carburizing.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental eksploratif pada objek penelitian berupa sambungan las baja St 37 yang melalui pack carburizingdan pengelasan MIG dengan variasi kuat arus pengelasan sebesar 120, 140 dan 160 A. Data hasil penelitian didapatkan melalui pengamatan struktur mikro, uji distribusi kekerasan, dan uji kekuatan impactdengan menggunakan mikroskop optik, microvickers dan charpy impact.Dengan menggunakan arus pengelasan yang lebih tinggi, maka ukuran butir pada HAZ lebih besar. Pada daerah logam induk dan logam las ukuran butir paling besar terjadi di arus 140 A. Melalui pengujian kekerasan dengan microvickers, distribusi kekerasan yang paling homogen terjadi pada variasi arus 140 A, jika dibandingkan dengan arus pengelasan yang lain, dibuktikan dengandistribusi kekerasan yang paling meratapada 10 titik pengujian sepanjang cross-section pengelasan.Di sisi lain, distribusi yang paling heterogen terjadi pada arus 160 A, yang ditunjukkan oleh perbedaan nilai kekerasan yang lebih tinggi antar titik jika dibandingkam dengan penggunaan arus pengelasan lain.Berdasarkan hasil pengujiancharpy impact dapat dilihat bahwa kekuatan impact yang paling tinggi terdapat pada arus 140 A dengan nilai harga impak 0,524 J/mm2.Selain itu daerah getas pada patahan spesimen tersebut secara visual tampak lebih sempit jika dibandingkan spesimen yang lain yang menunjukkan sifat patahan lebih ulet sehingga memiliki nilai harga impact tinggi dibandingkan spesimen lainnya. Fenomena-fenomena tersebut dipengaruhi oleh temperatur pengelasan dan gaya pengadukan (lorentz force) yang berbeda pada variasi arus yang berbeda, dimana nilai optimal didapatkan pada arus pengelasan 140 A
. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Kerja Bangku Siswa Kelas X-1 SMKN 1Turen
ABSTRAKPutra, Rayzal Nur Aditya. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Kerja Bangku Siswa Kelas X-1 SMKN 1Turen. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Basuki M.Pd., (II) Agus Suyetno, S.Pd., M.Pd.Kata kunci: Group Investigation, aktivitas, hasil belajar.Kurikulum KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi wilayah dan karakteristik peserta didik. Di dalam KTSP diuraikan secara jelas mengenai tujuan pembelajaran MESIN yaitu menekankan pada pemberian pengalaman langsung kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami lingkunan kerja sekitar secara menyeluruh dan diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan lingkungan sekitar serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian pada kenyataannya guru masih mengalami kesulitan dalam mewujudkan tujuan KTSP yang sebenarnya. Berdasarkan observasi, guru cenderung mengunakan metode ceramah dan text book oriented dalam membelajarkan siswa. Guru kurang memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk mempelajari MESIN. Hasil observasi yang dilakukan di kelas X-1 SMKN 1 Turen diketahui bahwa pada kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas aktivitas siswa tidak terakomodasi dengan baik. Banyak siswa yang bercanda dan bermain ponsel selama proses pembelajaran. Selain itu soal tes yang diberikan kepada siswa masih bersifat hafalan dan hanya mengakomodasi tingkatan berpikir pengetahuan, pemahaman dan penerapan.Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan mengenai kurangnya aktivitas siswa dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMKN 1 Turen. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI). Melalui penerapan pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Kerja Bangku siswa kelas X-1 di SMKN 1 Turen.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X-1 semester genap tahun ajaran 2018-2019 SMKN 1 Turen yang berjumlah 33 siswa, terdiri dari 20 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar siswa serta data pendukung berupa aktivitas guru dan catatan lapangan. Aktivitas belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa pada ranah afektif menurut taksonomi Bloom sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada tiap akhir siklus serta ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi aktivitas siswa dan guru, dan catatan lapangan, jurnal belajar, dan lembar penilaian antar teman.Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Kerja Bangku siswa kelas X-1 SMKN 1 Turen. Peningkatan aktivitas belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa secara klasikal dari 76,13% pada siklus I menjadi 82,50% pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui melalui peningkatan persentase hasil belajar pada masing-masing tingkat kognitif pada siklus I dan siklus II. Pada tingkat kognitif C2 mengalami peningkatan sebesar 15,6%, pada tingkat kognitif C3 meningkat sebesar 2,3%, pada tingkat kognitif C4 meningkat sebesar 2,6%, dan tingkat kognitif C5 meningkat sebesar 2,8%, sedangkan pada tingkat kognitif C1 dan C6 tidak mengalami peningkatan hasil belajar. Peningkatan hasil belajar juga ditunjukkan dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa yaitu pada siklus I sebesar 72,4% kemudian meningkat menjadi 86,2% pada siklus II
Studi Manajemen Pendidikan Kejuruan Model Pendidikan Sistem Ganda di SMKN 3 Boyolangu
ABSTRAK Ashari, Affan Ghafar. 2018. Studi Manajemen Pendidikan Kejuruan Model Pendidikan Sistem Ganda di SMKN 3 Boyolangu. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1). Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd (2). Dr. H. Agus Sholah, M.Pd. Kata Kunci : pendidikan sistem ganda (PSG), Prakerin (Praktik Kerja Industri) Pendidikan Sistem Ganda (PSG) merupakan salah satu model pendidikan kejuruan yang memadukan antara model sekolah dan model pasar yang mana pendidikannya dilakukan di dua tempat yaitu sekolah dan industri. Di Indonesia, penerapan PSG ini sangat beragam akibat berbagai macam faktor. Oleh sebab itu diperlukan acuan berdasarkan pada fungsi manajemen meliputi: perencanaan, pengorganisasian, penggerak, pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan PSG di SMKN 3 Boyolangu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Peneliti menggunakan komparasi integratif sebagai teknik analisis data setelah semua data diidentifikasi dan dikategorikan. SMKN 3 Boyolangu melakukan Prakerin (Praktik Kerja Industri) sebagai penerapan pelaksanaan PSG. (1) Dalam perencanaan Prakerin di SMKN 3 Boyolangu, kesiapan peserta Prakerin berpengaruh pada urutan pemberangkatan Prakerin, sedangkan kondisi sekolah (meliputi: pembangunan kelas baru, daya tampung ruang kelas, dan lain-lain) mempengaruhi jumlah kelas yang berangkat dalam satu periode pelaksanaan Prakerin serta jangka waktu pelaksanaan Prakerin. Dengan demikian pelaksanaan Prakerin di SMKN 3 Boyolangu akan mengalami perubahan pada setiap tahun. (2) Dalam pengorganisasian, pelaksana PSG SMKN 3 Boyolangu selama beberapa tahun belakangan hanya mengalami pergantian personalia tanpa penambahan jumlah personalia. Personalia pelaksanaa PSG (POKJA PSG) hanya terdiri dari 4 orang, meliputi: HUMAS, KAPOKJA PSG, Sekretaris, dan Administrator. Hal ini mengakibatkan pembagian kerja dan pengawasan pelaksanaan Prakerin secara langsung oleh personalia pelaksana Prakerin yang tidak efisien. (3) Pelaksanaan Prakerin di SMKN 3 Boyolangu terdiri dari beberapa kegiatan meliputi: pembekalan, pelaksanaan, dan penyesuaian. Perkembangan dalam pelaksanaan Prakerin di SMKN 3 Boyolangu terjadi dalam rincian dari kegiatan tersebut terkait pembuatan sertifikat Prakerin yang awalnya dibuat setelah pelaksanaan penyesuaian dan saat ini dilakukan selama pelaksanaan Prakerin yang proses pengarahan mengenai pembuatan sertifikat Prakerin dilakukan saat kegiatan pembekalan. (4) Dalam tindakan pengawasan Prakerin SMKN 3 Boyolangu, guru pembimbing Prakerin melakukan kegiatan monitoring selama pelaksanaan Prakerin (penerapan Concurrent Control). Selain pengawasan selama pelaksanaan Prakerin, SMKN 3 Boyolangu juga menggunakan beberapa angket (angket kepuasan industri dan rekomendasi tempat prakerin) sebagai dasar evaluasi pelaksanaan Prakerin selanjutya dalam hal persiapan dan tempat pelaksanaan Prakerin. ABSTRACK Ashari, Affan Ghafar. 2018. A Study on Vocational School Management of Dual System Education in SMKN 3 Boyolangu. Essay, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Adsivor (1) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd (2) Dr. H. Agus Sholah, M.Pd. Keywords: dual system education, internship Dual system education is one model of vocational education that combines school model and market model where education is done in two places, namely school and industry. In Indonesia, the implementation of dual system education is variative due to various factors. Therefore, the dual system education need a reference based on the management functions including: planning, organizing, actuating, and controlling. This study aims to find out the planning, the organizing, the actuating, and the controlling of dual system education in SMKN 3 Boyolangu. This research is a descriptive research that use interview, observation, and document study as data collection metode. After all of data were identified and categorized, the researcher used integrative comparison as a data analysis technique. SMKN 3 Boyolangu conducts internship as the implementation of dual system education. (1) In the planning of internship in SMKN 3 Boyolangu, internship participants readiness affect the order of departure on the internship implementation, while the conditon of the school itself (including: the construction of new classes, the capacity of classrooms, etc.) affect the number of classes departing in the implementation period of the internship and duration of the internship period. Thus, the implementation of internship in SMKN 3 Boyolangu will experiencing changes in every year. (2) In organizing, the committee of internship implementation in the SMKN 3 Boyolangu for the past few years only have experienced personnel changes without the addition of personnel. The committee of internship implementation in the SMKN 3 Boyolangu (POKJA PSG) has only 4 members including: vice principal of the public relations, KAPOKJA PSG, secretary, and administrator. This resulted in inefficiency on division of labor and direct control of POKJA PSG in internship implementation. (3) Actuation of internship in SMKN 3 Boyolangu consists of several activities including: debriefing, implementation, and adjustment activities. There is a change related on the process of making a certificate where previously the process carried out after the adjusment activities and now the process is carried out during the internship implementation. (4) The controlling of internship implementation in SMKN 3 Boyolangu was done by guidance teacher (from school) with the concurrent control implementation. Besides the concurrent control implementation, SMKN 3 Boyolangu also conducts the feedback control that use questionnaires as a basis for the evaluation actions in the next internship implementation. The evaluation actions includes the preparation of the internship implementation and the internship place