SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1608 research outputs found
Sort by
Implementasi pengembangan soft skill di SMK Negeri 1 Singosari
Hasil survei yang dilakukan National Association of College and Employee (NACE) di Amerika pada tahun 2002 terhadap pendapat 457 pengusaha mengenai 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan lembaga pendidikan menunjukkan pentingnya soft skill bagi calon tenaga kerja. Dari hasil survei tersebut ternyata kemampuan berkomunikasi, kejujuran (integritas), dan kemampuan bekerja sama yang merupakan contoh atribut soft skill menempati urutan teratas. Dunia usaha atau industripun sekarang pada umumnya telah mensyaratkan kepada calon tenaga kerjanya untuk memiliki beberapa atribut soft skill tertentu. Hal ini juga berdasarkan surat lowongan pekerjaan yang masuk ke bursa kerja di SMK Negeri 1 Singosari. Pentingnya soft skill inilah yang mendorong SMK Negeri 1 Singosari untuk mengembangkan soft skill kepada peserta didiknya.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk pengembangan soft skill yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Singosari. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan wawancara, pengamatan, dan studi dokumentasi terhadap RPP yang dibuat oleh guru dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penerapan soft skill di SMK Negeri 1 Singosari.Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMK Negeri 1 Singosari membuat kebijakan untuk membentuk sikap atau attitude (soft skill) yang baik kepada peserta didiknya melalui character building dan mengembangkan atribut soft skill yang lain melalui berbagai bentuk dan kegiatan. Atribut soft skill yang dikembangkan dikelompokkan menjadi 4, yaitu pengenalan diri, pengembangan diri, kedisiplinan, dan safety atau keselamatan kerja. Berdasarkan hasil wawancara, tidak semua guru mengetahui definisi tentang soft skill meskipun telah menerapkannya. Di RPP yang dibuat oleh gurupun tidak ada rencana untuk mengembangkan soft skill tertentu, meskipun berdasarkan metode, teknik evaluasi, dan langkah pembelajaran yang direncanakan bisa mengembangkan soft skill peserta didik. Beberapa bentuk pengembangan soft skill yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran adalah melalui kegiatan baris-berbaris sebelum dan sesudah kerja praktik, berdo’a bersama, mencium tangan guru setelah selesai pembelajaran, tes lisan, penulisan laporan, kerja kelompok, pesan moral, dan mengingatkan peserta didik yang berbuat salah serta pembinaan dalam bentuk push up bagi yang terlambat. Di luar proses pembelajaran, pengembangan soft skill dilakukan dalam kegiatan MOS, upacara, ektrakurikuler, outbond, pembinaan soft skill pengembangan diri, dan pengembangan soft skill melalui character building. Dalam pelaksanaan pengembangan soft skill tersebut hambatan yang dihadapi adalah kurangnya kepedulian dari pihak tertentu dalam menerapkannya, adanya keterbatasan waktu dalam melakukan pengawasan terhadap peserta didik, kurangnya waktu luang dalam melakukan pembinaan pengembangan soft skill, dan keberhasilan dari pengembangan soft skill ini tergantung kepada kemauan dari peserta didik sendiri untuk berubah
Implementasi Pembelajaran Model Problem Posing-STAD Untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Pokok Bahasan Pengenalan Ilmu Statika dan Tegangan Siswa Kelas X Teknik Pemesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen
ABSTRAKPratomo, Teguh. 2009. Implementasi Pembelajaran Model Problem Posing-STAD Untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Pokok Bahasan Pengenalan Ilmu Statika dan Tegangan Siswa Kelas X Teknik Pemesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd. (II) Drs. H. Yoto, S.T., M.Pd., M.M.Kata kunci: pembelajaran kooperatif, problem posing-STAD, motivasi belajar, prestasi belajar. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang berasosiasikan pada pendekatan konstruktivisme. Pada dasarnya belajar kooperatif lebih menekankan belajar bersama atau berinteraksi dengan teman. Metode ini mampu menyediakan kondisi yang menyebabkan siswa satu dengan yang lainya saling aktif berinteraksi dan berlomba untuk meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran model problem posing-STAD merupakan pembelajaran yang menggabungkan aspek konstruktivisme dan kooperatif yang bertujuan supaya siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat, dan keaktifan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada pelaksanaanya problem posing-STAD diterapkan pada saat diskusi kelompok. Pada tahap diskusi kelompok selain siswa mendapat lembar kerja informasi dari guru, siswa juga melakukan kegiatan menyusun soal serta menyelesaikannya. Penelitian ini dilakukan di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, tanggal 21 Oktober sampai 6 November 2009. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Teknik Pemesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen tahun pelajaran 2008/2009. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi/pengamatan, dan (4) refleksi. Hasil penelitian diperoleh adalah pembelajaran model problem posing-STAD pada matadiklat PDTM pokok bahasan Pengenalan Ilmu Statika dan Tegangan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Pada aspek motivasi belajar, siklus I memiliki persentase sebesar 50,12% dan siklus II memiliki persentase sebesar 73,11%. Peningkatan persentase sebesar 22,99%. Pada aspek prestasi belajar, siklus I memiliki persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 78,60% dan siklus II memiliki persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 83,30%. Peningkatan persentase sebesar 4,70%. Nilai rata-rata siklus I sebesar 80,30, sedangkan siklus II sebesar 86,25. Peningkatan persentase sebesar 5,95%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan melakukan penelitian tentang pembelajaran dengan menggunakan model problem posing-STAD pada permasalahan pembelajaran yang memiliki karakteristik yang sama, dan memberikan variasi dalam pembelajaran PDTM dengan pendekatan problem posing-STAD, seperti diberikan permainan saat menukarkan soal, agar siswa tidak merasa bosan dan lebih termotivasi untuk membuat soal.
PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR BIODIESEL (MINYAK JARAK-SOLAR) TERHADAP KANDUNGAN EMISI GAS BUANG MESIN DIESEL
ABSTRAK Aminudin, Achmad. 2009. Pengaruh Pemanasan Bahan Bakar Biodiesel (Minyak Jarak-Solar) Terhadap Kandungan Gas Buang Mesin Diesel. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sukarni, S.T, M.T., (II) Retno Wulandari, S.T., M.T. Kata Kunci: pemanasan bahan bakar, biodiesel, mesin diesel, kandungan gas buang. Pemanasan terhadap bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) sebelum diinjeksikan ke dalam ruang bakar dengan tujuan untuk menurunkan viskositasnya agar nantinya setelah diinjeksikan ke dalam ruang bakar dapat membentuk butiran-butiran yang lebih halus dan menghasilkan campuran bahan bakar dan udara yang lebih homogen. Selain itu untuk melihat bagaimana perubahan yang terjadi pada kandungan gas buang mesin diesel jika dilakukan pemanasan terhadap bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan pemanasan bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar), pengaruh yang signifikan variasi putaran mesin, dan pengaruh interaksi yang signifikan antara pemanasan bahan bakar dengan variasi putaran mesin terhadap kandungan gas buang mesin diesel. Minyak jarak yang digunakan sebagai bahan bakar biodiesel (20% minyak jarak-80% solar) dalam penelitian ini diperoleh dari Lembaga Penilitian Universitas Negeri Malang, yaitu minyak jarak yang telah melalui proses transesterifikasi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Universitas Brawijaya Malang, tanggal 6 Pebruari 2009 dengan menggunakan alat Orsad Apparatus. Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian eksperimental dengan desain faktorial 5 x 2. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analis varian dua jalan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perlakuan putaran mesin yang digunakan adalah rentangan 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanasan bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) pengaruh terhadap kandungan gas buang mesin diesel. Pada saat mesin diberi pemanas, kadar emisi CO dan O2 lebih rendah jika dibandingkan dengan tidak menggunakan pemanas. Sedangkan kadar CO2 lebih tinggi jika dibandingkan dengan tidak menggunakan pemanas. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemanasan bahan bakar, variasi putaran mesin dan interaksi antara pemanasan dan putaran mesin mempengaruhi kadar emisi CO, O2, dan CO2. Dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya pengaruh kenaikan suhu bahan bakar terhadap kandungan emisi gas buang.
Analisa Tentang Prestasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Latar Belakang Orang Tua Dengan Minat Menjadi Guru Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang
Mareta, Dite.2008. Analisa tentang prestasi praktik pengalaman lapangan (PPL) dan latar belakang orang tua dengan minat menjadi guru mahasiswa jurusan teknik mesin universitas negeri malang. skripsi, program studi pendidikan teknik mesin, jurusan teknik mesin. fakultas teknik, universitas negeri malang. pembimbing: (1) Drs. Partono., M.Pd (2) Drs. H. Yoto., S.T., M.Pd., M.
Studi Tentang Pengelolaan Pendidikan Sistem Ganda Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Lulusan di SMK Negeri 6 Malang
ABSTRAK Riyanto, Herfan Juniwan. 2009. Studi Tentang Pengelolaan Pendidikan Sistem Ganda Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Lulusan di SMK Negeri 6 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. YOTO, S.T., M.Pd., M.M., (II) Drs. H. Suharmanto, M.Pd. Kata Kunci : Pendidikan Sistem Ganda Lulusan SMK diharapkan memiliki sikap profesional, mampu beradaptasi dengan industri dan menjadi manusia kreatif dan produktif sehingga mampu mengisi lapangan kerja. Agar lulusan SMK dapat memasuki lapangan kerja, maka mereka tidak hanya diberikan pengetahuan yang sifatnya teoritis saja, tetapi perlu dibekali dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya terapan dan aplikatif, dengan kata lain lulusan SMK sangat tergantung pada adanya keseimbangan dan keserasian antara pengetahuan teori dan praktek. Sesuai dengan hal tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:(1) Pengintegrasian dunia usaha/industri (DU/DI) pada pelaksanaan PSG di SMK Negeri 6 Malang. (2) Perencanaan PSG bagi siswa SMK Negeri 6 Malang. (3)Pengorganisasian PSG di SMK Negeri 6 Malang. (4) Kontrol dan pengendalian PSG di SMK Negeri 6 Malang. (5) Manfaat yang diperoleh pihak sekolah dan pihak DU/DI dalam pelaksanaan PSG. (6) Kendala dan solusi yang dihadapi pihak sekolah dan DU/DI dalam rangka pelaksanaan PSG di SMK Negeri 6 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Disebut pendekatan kualitatif karena data yang dihasilkan bukan dalam bentuk angka-angka tetapi berupa kata-kata tertulis atau lisan. Jenis penelitian ini adalah studi kasus yaitu suatu penelitian yang detail atas satu latar atau satu subyek atau satu tempat penyimpanan data atau satu peristiwa tertentu. Dalam penelitian ini data-data yang diperoleh adalah berupa dokumen, laporan kegiatan PSG, foto-foto, catatan hasil wawancara, serta catatan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Informan kunci dalam penelitian ini adalah: (1) Kepala Sekolah (2) Wakasek Kurikulum (3) Wakasek Hubungan Masyarakat (4) Pembimbing atau pengawas DU/DI (5) Ketua Jurusan Otomotif (6) Pembimbing PSG (7) Siswa. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa : (1) SMK Negeri 6 Malang dalam pelaksanaan PSG adalah menggunakan dual sistem blok, sistem model block release pada program keahlian otomotif adalah sistem blok release yang pelaksanaannya dilaksanakan selama 12 bulan pada tingkat II, dengan pertimbangan dikelas I sudah mendapatkan pengalaman praktik dasar dan mendapatkan bekal praktik program diklat produktif. (2) Pendidikan Sistem Ganda adalah milik dan tanggung jawab bersama antara sekolah dan industri, maka dalam penyusunan kurikulum/ programnya harus disusun secara bersama-sama, sehingga ada kejelasan tentang apa yang akan dipelajari siswa di sekolah dan apa yang akan dipelajari siswa melalui bekerja langsung di industri. (3) Di SMKN 6 Malang kegiatan pengorganisasian PSG di koordinator oleh Waka Humas. Selanjutnya dibentuk tim-tim khusus untuk menangani masalah PSG. Dimana guru pembimbing sebagai pemonitoring dan pembimbing siswa dan untuk mencari DU/DI yang bersedia bekerja sama dengan sekolah. Tetapi segala keputusan kerjasama diserahkan kepada pihak industri. (4) Pengontrolan dan pengendalian PSG yang dilakukan di SMKN 6 Malang adalah untuk mengetahui seberapa besar kepuasan pihak industri dalam membimbing siswa praktik, selain itu kontrol dan kendali yang dilaksanakan di SMKN 6 Malang juga dilakukan oleh guru pembimbing yang berperan sebagai pemonitoring. (5) Sektor dunia usaha/ industri dan lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya saling membutuhkan satu sama lain. Keduanya memerlukan hubungan hubungan yang serasi, saling menunjang dan saling menguntungkan. Ditinjau dari segi kehidupan dunia usaha dan industri, kebutuhan peningkatan teknologi dan mutu produksi merupakan masalah yang perlu segera dipecahkan. Sebaliknya lembaga pendidikan kejuruan sangat membutuhkan dana guna memperlancar keotonomian dan menuju lembaga yang swadana. (6) Pelaksanaan PSG selama ini mengalami kendala-kendala struktural, geografis, potensi teknologis, psikologis, akademis, manajerial, dan kultural
Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar” pada mata diklat motor otomotif di kelas 2 SMK Siwa Lima Santo Yoseph Langgur – Tual. Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Tekni
ABSTRAK Febby, Pelipus, 2009. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar” pada mata diklat motor otomotif di kelas 2 SMK Siwa Lima Santo Yoseph Langgur – Tual. Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Kata Kunci : Kooperatif Tipe STAD, Ceramah, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Mutu pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan mutu pendidikan di negara-negara ASEAN lainnya masih relatif rendah. Padahal dalam kenyataanya, mutu pendidikan sangat mempengaruhi mutu siswa yang dikeluarkannya. Rendahnya mutu pendidikan ditunjukkan dengan rendahnya prestasi belajar siswa termasuk mata pelajaran motor otomotif. Hal itu disebabkan masih adanya kesulitan dalam pembelajaran motor otomotif yang ditimbulkan karena kurangnya variasi pembelajaran motor otomotif. Materi yang harus disampaikan pada siswa sangat banyak, sehingga guru dengan metode kontekstual yang meliputi kegiatan ceramah bervariasi mengejar pemenuhan materi. Oleh karena itu diperlukan variasi pembelajaran untuk mengatasi kesulitan belajar motor otomotif pada siswa yang salah satunya dapat dilakukan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai perbedaan motivasi belajar dan prestasi belajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode pembelajaran ceramah pada pokok bahasan sistim pendingin pada kendaraan roda empat dan untuk mengetahui metode mana yang sesuai, sehingga dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II semester II SMK Siwa Lima Santo Yoseph Langgur, yang berjumlah 44 siswa yang berasal dari kelas IIA sampai dengan kelas IIB Sampel dalam penelitian ini berjumlah 2 kelas, dimana kelas IIB untuk kelompok eksperimen dan kelas IIA untuk kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel adalah mengunakan teknik One Stage Cluster Random Sampling.Variabel penelitian ada dua yaitu variabel pembelajaran kooperatif tipe STAD (X2) dan metode Pembelajaran konvensional (X1) Data diambil, melalui teknik dokumentasi dan tes. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis uji t. Berdasarkan hasil analisis motivasi awal kedua kelompok memiliki rata motivasi 83.3%. Berdasarkan hasil uji beda prestasi belajar siswa dari kedua kelompok diperoleh t hitung = -0.131x 44 Pada taraf signifikasi 5% dengan dk = 20+24-2 = 42 diperoleh F(0,05)(44) = 2.1. Dengan demikian diketahui bahwa t hitung t(0,143)(44). Maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata prestasi belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol atau rata-rata prestasi belajar siswa mata pelajaran motor otomotif yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik daripada prestasi belajar siswa pada mata pelajaran motor otomotif yang menggunakan metode ceramah. Berdasarkan hasil uji ketuntasan hasil belajar siswa yang mendapatkan pengajaran dengan metode koperatif tipe STAD diperoleh harga t hitung = 5.458 > t-tabel = 4.303 Dengan demikian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa yaitu 60.78 telah mencapai ketuntasan belajar yaitu lebih besar dari 55. Mengacu dari hasil penelitian tersebut peneliti dapat mengajukan saran-saran yaitu: (1) Pihak sekolah diharapkan bersedia mengunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam mata pelajaran notor otomotif ataupun mata pelajaran lainnya seperti pelajaran Matematika, chasis dan body, Fisika dan lain-lain, (2) Guru diharapkan semakin memotivasi siswa untuk belajar dan bekerjasama antar sesama anggota kelompoknya, dan (3) Bagi pihak sekolah, lembaga terkait lainnya dan peneliti berikutnya diharapkan biasa mengadakan penelitian lanjutan sehingga semakin mengembangkan metode pembelajaran
Modifikasi Camshaft Untuk Meningkatkan Daya pada Honda Gl 200
ABSTRAK Purwantono, Andri. 2007. Modifikasi Camshaft Untuk Meningkatkan Daya pada Honda Gl 200. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Mardji, M.Kes, (II) Sukarni, S.T.,M.T. Kata kunci: camshaft, daya, Honda GL 200. Camshaft salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik mesin, misalnya pencapaian puncak tenaga pada putaran atas, menengah , bawah. Dalam melakukan modifikasi camshaft/ disain ulang profil camshaft, perlu ditentukan tujuan modifikasi atau orientasi penggunaan mesin. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil camshaft yang tepat untuk meningkatkan daya dan untuk mengetahui karakteristik mesin setelah menggunakan camshaft modifikasi. Penelitian ini menggunakan mesin Honda GL 200 sebagai objek penelitian. Penelitian dilakukan di beberapa tempat: Bengkel Las Sinar Putra Purwodadi Pasuruan dan Bengkel Paddock AMS Purwodadi Pasuruan untuk pengerjaan modifikasi camshaft dan pemasangan. Sedangkan pengukuran variabel camshaft dilakuan di laboratorium Pusat Pendidikan dan Pelatihan Program 1 Tahun SUZUKI- UNIVERSITAS NEGERI MALANG, kemudian pengukuran torsi dan daya di bengkel Silver Motorsport (SMS) jl Raya Ngagel 77 H-J Surabaya. Rancangan penelitian yang digunakan penelitian experiment development. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis korelasi kendalls, kruskal-wallis, dan analisis grafik dan kajian pustaka. Dalam penelitian ini menggunkan 2 camshaft modifikasi yang berbeda profil dan 1 buah camshaft standar sebagai variabel kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara valve lift (jarak angkat katup), valve lift duration (lama angkat katup), valve lift timing (waktu angkat katup), lobe separation angle (LSA), overlap, tekanan kompresi dengan torsi dan daya pada Honda GL 200, dan terjadi peningkatan daya setelah menggunakan camshaft modifikasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian tentang variabel-variabel camshaft untuk pengembangan lebih lanjut, misalnya pengaruh perubahan 2˚,4˚,6˚,8˚,10˚ ovelap dan LCA terhadap torsi dan daya, dan masih banyak variabel-variabel lain yang perlu diteliti lebih lanjut. Setelah menemukan profil camshaft untuk mendapatkan daya maksimal dan efisiensi bahan bakar yang tinggi serta ramah lingkungan, dapat dipatenkan/hak cipta kemudian dijual pada dunia industri. Dalam melakukan modifikasi camshaft perlu ditetukan orientasi penggunaan mesin.  
Studi Tentang Kondisi Sarana Dan Prasarana Terhadap Standarisasi Smk Pasca Kebijakan Alih Fungsi Di Smkn 11 Malang.
ABSTRAKZubaidi, Erik. 2009. Studi Tentang Kondisi Sarana Dan Prasarana Terhadap Standarisasi Smk Pasca Kebijakan Alih Fungsi Di Smkn 11 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing ( I ) Drs. Partono, M.Pd. ( II) Drs. H. Kusdi, S.T., M.T.Kata Kunci : Bengkel Mekanik Otomotif SMK, Prasarana, SaranaSebagai lembaga pendidikan tingkat menengah SMA hanya membekali para peserta didik dengan kemampuan teoritis saja tanpa dibekali dengan skill yang diperlukan dunia kerja. Artinya, mereka sengaja dipersiapkan untuk melanjutkan dunia pendidikan tinggi, bukan dunia nyata yang membutuhkan akan pengalaman hidup. Hal ini sungguh kontradiktif dengan tujuan bangsa Indonesia untuk mencapai pasar bebas. Sehingga perlu adanya langkah antisipatif yang harus dilaksanakan oleh pemerintah seperti halnya tersebut diatas. Pemerintah akan memperbanyak pembangunan sekolah menengah kejuruan (SMK) serta mengurangi pengembangan sekolah menengah atas (SMA). Pihak pemerintah melalui Dikmenjur berniat menargetkan rasio perbandingan SMK dengan SMA mencapai angka perbandingan hingga 70% : 30% untuk perkembangan SMK sampai tahun 2015 kelak.Pada tahun 2007 SMAN 11 Malang, sesuai dengan SK Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang resmi beralih fungsi menjadi SMKN 11 Malang. Sehingga mulai tahun ajaran 2007/2008 sekolah ini telah menjalankan fungsinya sebagai Sekolah Menengah Kejuruan dalam bidang Teknologi Informatika dan 3 (tiga) Program Keahlian yaitu Multimedia, Rekayasa Perangkat Lunak, dan Mekanik Otomotif. Proses kebijakan alih fungsi di SMKN 11 Malang berjalan dalam waktu yang singkat. Berdasarkan apa yang menjadi fokus kajian dalam mencapai tujuan, maka rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Sedangkan metode yang digunakan adalah observasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data kesiapan SMKN 11 Malang pasca alih fungsi dari SMAN 11 Malang menjadi SMKN 11 Malang. Penelitian ini memaparkan kondisi SMKN 11 Malang pada kondisi peralatan bengkel mekanik otomotif dan kondisi gedung mekanik otomotif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SMKN 11 Malang masih dikatakan belum siap untuk menghadapi alih fungsi SMA menjadi SMK karena kondisi sarana dan prasarana terutama bengkel mekanik otomotif masih belum mencukupi