SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1608 research outputs found
Sort by
pengaruh hasil prakerin dan hasil belajar kewirausahaan terhadap kesiapan kerja siswa kelas XII program keahlian teknik kendaraan ringan smkn 1 sidayu
ABSTRAK Abdillah, Fikri, 2019. Pengaruh Hasil Prakerin dan Hasil Belajar Kewirausahaan Terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XII Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan SMKN 1 Sidayu, Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Partono, M. Pd., (2) Dr. H. Amat Nyoto, M. Pd. Kata kunci : Prakerin, Kewirausahaan, Kesiapan KerjaSMK merupakan tempat untuk mendidik setiap siswa yang memiliki bakat dan minat dibidangnya masing-masing, untuk meningkatkan kualitas, mutu dan kesiapan kerja maka pemerintah telah merencanakan Program Sistem Ganda (PSG). Dalam upaya merealisasikan PSG tersebut salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui Praktik Kerja Industri (prakerin) dan pembelajaran kewirausahaan.Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh dari prakerin terhadap kesiapan kerja, (2) mengetahui pengaruh kewirausahaan terhadapkesiapan kerja, (3) mengetahui pengaruh hasil prakerin dan hasil belajar kewirausahaan terhadap kesiapan kerja.Metode penelitian yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan kuantitatif korelasi berjenis expost facto. Dimana penelitian expost facto tidak dibuat perlakuan atau manipulasi pada variabel penelitiannya.Berdasarkan hasil analisis koefisien prakerin terhadap kesiapan kerja diperoleh nilai sig 0.849 dengan angka perbandingan probability 0.05, koefiseien kewirausahaan terhadap kesiapan kerja diperoleh sebesar 0.142. dan berdasrkan uji F yang didapat prakerin dan kewirausahaan terhadap kesiapan kerja diperoleh nilai sig sebesar 0.320 dengan nilai probability 0.05.Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara hasil prakerin dan hasil belajar kewirausahaan terhadap kesiapan kerja
Pengaruh Penggunaan Serat dan Fly Ash Ampas Tebu dengan Magnesium Oksida dan Aluminium dengan Pengikat Epoksi sebagai Pembuat Kampas Rem terhadap Sifat Kekerasan dan Keausan
Abstrak Prasetyo, Yohanes Andre. 2019. Pengaruh Penggunaan Serat dan Fly Ash Ampas Tebu dengan Magnesium Oksida dan Aluminium dengan Pengikat Epoksi sebagai Pembuat Kampas Rem terhadap Sifat Kekerasan dan Keausan. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Widiyanti, M.Pd., (II) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T, Kata Kunci: Serat, Fly Ash, Ampas Tebu, Kampas Rem, Kekerasan, Keausan Kampas rem banyak yang menggunakan asbestos sebagai bahan penguat. Asbestos membahayakan bagi kesehatan manusia jika debunya dihirup serta kurang pakem dalam keadaan panas sehingga industri otomotif mulai mencari penggantinya dengan bahan sintetis. Harga kampas rem yang terbuat dari bahan ini cukup mahal sehingga perlu adanya penggantian dengan bahan yang lebih ekonomis yaitu komposit yang terbuat dari limbah. Limbah yang berpotensi untuk digunakan adalah limbah serat dan fly ash ampas tebu karena berpotensi menjadi bahan penguat, jumlah limbahnya cukup banyak dan sumber daya yang dapat diperbarui. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi serat dan fly ash ampas tebu dengan serbuk MgO terhadap kekerasan dan keausannya serta membandingkannya dengan kampas rem pabrikan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Variasi komposisinya yaitu 20 - 40% serat dan fly ash ampas tebu dengan 40% - 20% serbuk MgO. Pengujian dilakukan dengan menggunakan mesin uji keausan metode pin on disc dan uji kekerasan metode Vickers. Teknik untuk analisis data menggunakan One Way ANOVA menggunakan software SPSS 22 Windows. Hasil dari penelitian menunjukan nilai kekerasan dan keausan pada variasi serat ampas tebu dan serbuk MgO pada komposisi pertama yaitu 50.28 HV dan 1.42931x10-3 mm2/kg, lalu komposisi kedua 47.58 HV dan 1.80361x10-¬3 mm2/kg, serta pada komposisi ketiga 40.98 HV dan 1.882262x10-3 mm2/kg. Nilai kekerasan dan keausan untuk variasi fly ash ampas tebu dan serbuk MgO pada komposisi pertama 37.3 HV dan 1.370923 x10-3 mm2/kg, lalu komposisi kedua 48.1 HV dan 9.83127 x10-4 mm2/kg, serta pada komposisi ketiga sebesar 51.93 HV dan 6.66436x10-4 mm2/kg. Hasil dari penelitian yang dilaksanakan dapat disimpulkan: 1) Terdapat pengaruh variasi campuran serat ampas tebu dengan MgO terhadap kekerasannya dimana yang terbesar pada komposisi 1 yaitu 50.28 HV. 2) Terdapat pengaruh variasi campuran serat ampas tebu dengan MgO terhadap keausannya dimana yang terbaik pada komposisi 1 yaitu 1.42931x10-3 mm2/kg. 3) Terdapat pengaruh variasi campuran fly ash ampas tebu dengan MgO terhadap kekerasannya dimana yang terbesar pada komposisi 3 yaitu 51.93 HV. 4) Terdapat pengaruh variasi campuran fly ash ampas tebu dengan MgO terhadap keausannya dimana yang terbaik pada komposisi 3 yaitu 6.66436x10-4 mm2/kg. Berdasarkan penelitian diharapkan untuk diteliti lebih lanjut dari segi pengaruh proses pembuatannya yang diubah dengan sifat mekanik lainnya agar ditemukan cara pembuatan yang ideal pada komposit ini untuk kampas rem
HUBUNGAN HASIL BELAJAR PEMELIHARAAN MESIN SEPEDA MOTOR DENGAN NILAI PKL SISWA KELAS XII TBSM DI SMK PGRI 5 JEMBER
Lulusan SMK merupakan produk lembaga pendidikan yang siap kerja sehingga dapat diandalkan dalam menghadapi persaingan. Untuk mendukung tujuan tersebut serta mendekatkan antar penawaran dan permintaan ketenagakerjaan, khususnya yang dari SMK maka pihak sekolah kiranya perlu meningkatkan ketrampilan siswa yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Praktik Kerja Lapangan memberikan nilai tambah yang sangat berarti, baik bagi sekolah maupun industri. Bagi sekolah siswa akan terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar pada kondisi yang nyata, sebaliknya bagi industri akan mendapatkan para lulusan yang terampil sebagai tenaga kerja pemeliharaan mesin sepeda motor yang siap pakai.Penelitian ini mempunyai tujuan umum dan tujuan khusus yaitu (1) mengetahui adanya hubungan hasil belajar mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor dengan nilai PKL siswa kelas XII program keahlian teknik sepeda motor di SMK PGRI 5 Jember, (2) menganalisis hubungan hasil belajar mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor dengan nilai PKL siswa kelas XII program keahlian teknik sepeda motor di SMK PGRI 5 Jember.Penelitian ini termasuk penelitian ex-post facto yang bersifat korelasi dengan metode pendekatan kuantitatif. Subyek dari penelitian ini adalah seluruh siswa jurusan Teknik Sepeda Motor SMK PGRI 5 Jember sebanyak 81 siswa. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif yang diperoleh dari nilai raport dan nilai PKL siswa yang telah menempuh mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi sederhana.Hasil penelitian menunjukkan lima simpulan sebagai berikut. Hasil analisis yang diperoleh dapat diketahui bahwa rata-rata nilai mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor siswa dalam kategori tinggi yaitu pada interval kedua dengan rentang 75,10 – 89,99. Sama dengan hasil analisis rata-rata nilai PKL yang juga berada dalam kategori tinggi yaitu pada interval kedua dengan rentang 75,10 – 89,99. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai rhitung lebih besar dari rtabel =(0,430>0,215) dan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berarti kurang dari 0,05 (0,00 < 0,05). Karena angka koefisien korelasi hasilnya positif dan memilik angka signifikan maka korelasi kedua variabel searah dan signifikan.Berdasarkan hasil analisis data yang telah dijabarkan di atas menunjukkan bahwa semakin banyak seseorang belajar di bidang keahliannya, maka semakin banyak pulalah kemampuan yang didapat dalam rangka menyiapkan dirinya untuk bekerja di bidang keahliannya. Berdasarkan data yang telah diolah diketahui skor rata-rata mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor siswa 83 dalam kategori tinggi pada kategori kedua dengan rentang 75,51 – 89,91. Berdasarkan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor berhubungan positif dan signifikan dengan prestasi PKL siswa sebesar rxy = 0,430. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor yang diajarkan di sekolah telah mendukung dalam pencapaian kompetensi PKL siswa karena kompetensi yang diajarkan di sekolah sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan di DUDI.Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telaj dijabarkan diatas, maka kesimpulan yang didapat ada tiga (1) hasil belajar mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor siswa kelas XII program keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor mempunyai skor terendah yaitu 79 dan tertinggi yaitu 91, sedangkan rerata adalah 83 dan median sebesar 83 (2) Nilai PKL siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor mempunyai skor terendah yaitu 81 dan tertinggi yaitu 98 (3) Hasil belajar mata pelajaran pemeliharaan mesin sepeda motor mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan nilai PKL
Pengembangan Media Pembelajaran Training Board Bearing, Seal dan Gasket Pada Mata Pelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Otomotif Kelas X Kompetensi Keahlian TKRO di SMK Negeri 3 Boyolangu
RINGKASAN Kurniawan, D. D. 2019. Pengembangan Media Pembelajaran Training Board Bearing, Seal dan Gasket Pada Mata Pelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Otomotif Kelas X Kompetensi Keahlian TKRO di SMK Negeri 3 Boyolangu. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Amat Nyoto, M.Pd., (II) Drs. Partono, M.Pd. Kata Kunci: Media Pembelajaran, Training Board, PDTO Penyediaan sarana pembelajaran yang memadai dan sesuai dengan kurikulum yang terbaru akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Media dapat dijadikan sebagai sarana penyalur pesan pendidikan antara pendidik sebagai pemberi pesan dan peserta didik sebagai penerima pesan. Khususnya pada Program Keahlian TKRO, peserta didik masih sering merasa kesulitan untuk memahami secara nyata tentang komponen-komponen kendaraan yang utamanya adalah bearing, seal dan gasket. Tujuan penelitian dan pengembangan ini yang pertama adalah untuk menghasilkan media pembelajaran training board dengan karakteristik yang mampu membantu peserta didik dalam memahami materi pada mata pelajaran pekerjaan dasar teknik otomotif dan yang kedua adalah untuk mengetahui tingkat kelayakan training board pada mata pelajaran PDTO. Prosedur pengembangan produk menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Analisis memperoleh hasil mata pelajaran yang akan diambil dan penentuan media pembelajaran yang dibutuhkan, desain yang dihasilkan adalah pengembangan dari analisis media yang dibutuhkan dan akan divalidasi terlebih dahulu oleh ahli media dan materi, pengembangan menghasilkan sebuah media yang telah di desain sesuai kebutuhan, setelah media sudah jadi kemudian diimplementasikan pada siswa kelas X TKRO 2 di SMK Negeri 3 Boyolangu, dan evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengambil kesimpulan seberapa layak media digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Hasil validasi ahli media 1 sebesar 94%, validasi ahli media 2 sebesar 86%, dan validasi ahli media guru sebesar 95%. Hasil validasi ahli materi 1 sebesar 90,21%, validasi ahli materi 2 sebesar 94,56%, dan validasi ahli materi guru sebesar 88,04%. Selain itu terdapat juga nilai yang dihasilkan dari respon siswa terhadap media pembelajaran training board sebesar 89,49%. Data yang diperoleh dari tes adalah nilai siswa setelah menggunakan media pembelajaran training board (posttest). Rata-rata nilai siswa setelah posttest sebesar 78,19%. Hasil dari penelitian ini berupa media pembelajaran training board bearing, seal dan gasket. Media tersebut dikatakan layak digunakan dalam pembelajaran dilihat dari hasil validasi ahli media dan ahli materi yang termasuk dalam kategori valid dikarenakan meperoleh hasil >80%. Berdasarkan hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya media pembelajaran training board dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas X TKRO 2 di SMK Negeri 3 Boyolangu dan menjadikan metode pembelajaran lebih bervariasi dengan melibatkan siswa ikut aktif melaksanakan kegiatan pembelajaran
PENGARUH KAPABILITAS KERJA, BIMBINGAN KARIR DAN NILAI PRAKTIKUM TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA KELAS XII PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PEMESINAN DI SMK PGRI 3 MALANG
Zuhri, Syaifudin. 2019. Pengaruh Kapabilitas Kerja, Bimbingan Karir dan Nilai Praktikum terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XII Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK PGRI 3 Malang. Skripsi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Marsono, S.Pd.T., M.Pd, Ph.D., (II) Agus Suyetno, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: kapabilitas kerja, bimbingan karir, nilai praktikum, kesiapan kerja Sekolah memiliki tujuan untuk dapat menghasilkan SDM yang berkualitas melalui siswanya yang diukur dalam Soft Skills dan bimbingan karir yang ada di sekolah sehingga kesiapan untuk bekerja dapat maksimal. Siswa yang telah dibekali pengetahuan-pengetahuan tentang dunia kerja, Soft Skills dan kompetensi keahlian dalam pembelajaran praktik sebagai standar yang harus dimiliki sebelum masuk dunia industri dimana akan mengamati, belajar dan mencari pengalaman kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh kapabilitas kerja terhadap kesiapan kerja; (2) pengaruh bimbingan karir terhadap kesiapan kerja; (3) pengaruh nilai praktikum terhadap kesiapan kerja; (4) pengaruh kapabilitas kerja dan bimbingan karir terhadap kesiapan kerja; (5) pengaruh kapabilitas kerja dan nilai praktikum terhadap kesiapan kerja; (6) pengaruh bimbingan karir dan nilai praktikum terhadap kesiapan kerja; dan (7) pengaruh kapabilitas kerja, bimbingan karir dan nilai praktikum terhadap kesiapan kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sampel dan populasi penelitian ini adalah siswa kelas XII program keahlian teknik pemesinan di SMK PGRI 3 Malang. Variabel yang dikaji dalam penelitian ini adalah kapabilitas kerja, bimbingan karir, nilai praktikum dan kesiapan kerja. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data kuesioner dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Hasil penelitian dari analisis deskriptif diperoleh: (1) rata-rata untuk kapabilitas kerja (47,8%) siswa cenderung memilih opsi jawaban setuju; (2) rata-rata untuk bimbingan karir (39,5%) siswa cenderung memilih opsi sangat tidak setuju; (3) rata-rata untuk nilai praktikum (44,8%) siswa cenderung mendapat nilai 80 ke atas; (4) rata-rata untuk kesiapan kerja (38,1%) siswa cenderung memilih opsi tidak setuju. Dalam uji asumsi klasik diperoleh: (1) data berdistribusi normal; (2) tidak terjadi heteroskedastisitas; (3) tidak terjadi multikolinieritas. Kemudian dalam uji hipotesis dalam penelitian ini didapatkan: (1) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kapabilitas kerja terhadap kesiapan kerja; (2) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara bimbingan karir terhadap kesiapan kerja; (3) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara nilai praktikum terhadap kesiapan kerja; (4) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kapabilitas kerja dan bimbingan karir terhadap kesiapan kerja; (5) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kapabilitas kerja dan nilai praktikum terhadap kesiapan kerja; (6) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara bimbingan karir dan nilai praktikum terhadap kesiapan kerja; (7) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kapabilitas kerja, bimbingan karir dan nilai praktikum terhadap kesiapan kerja. Berdasarkan temuan tersebut, maka diberikan beberapa saran yaitu: (1) bagi sekolah agar lebih meningkatkan layanan konsultasi melalui bimbingan konseling untuk para siswa supaya kelemahan-kelemahan yang dimiliki siswa bisa teratasi dan menemukan pekerjaan yang cocok dengan bakat dan minat siswa; (2) bagi guru agar dapat membimbing siswa untuk mempersiapkan menghadapi dunia kerja dan memiliki kemampuan dalam memecahkan permasalahan dalam bekerja. Selain itu, guru dapat memfasilitasi untuk mengundang pihak industri memberikan informasi kompetensi pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian yang diharapkan dapat memantapkan pilihan para siswa untuk terjun ke dunia kerja; (3) bagi siswa diharapkan mampu membangun sikap disiplin, bersemangat dan berani dalam lingkungan sekolah sebagai bekal diri untuk masuk ke dunia kerja. Selain itu, dapat memanfaatkan layanan bimbingan karir di sekolah dengan sebaik-baiknya agar mengetahui potensi-potensi yang ada di dalam diri; (4) bagi peneliti selanjutnya diharapkan nantinya bisa dijadikan referensi, dan sebagai acuan untuk menemukan penelitian baru dengan membandingkan variabel-variabel lain yang belum diteliti.
APLIKASI THREE WAY CATALYTIC CONVERTER PADUAN CuZn (KUNINGAN) DENGAN MODEL HONEYCOMB PADA KNALPOT TERHADAP NILAI EMISI NOx, CO, DAN HC PADA SEPEDA MOTOR SHOGUN 125cc
ABSTRAKSofana, Ilyas. 2019. Aplikasi Three Way Catalytic Converter Paduan CuZn (Kuningan) Dengan Model Honeycomb Pada Knalpot Terhadap Nilai Emisi NOx, CO, HC pada Sepeda Motor Shogun 125cc. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T., (2) Fuad Indra Kusuma S.Pd., M.Pd.Kata Kunci: Three Way Catalytic Converter, Paduan CuZn (Kuningan), Model Honeycomb, Nilai Emisi NOx, CO, HC.Sepeda motor merupakan sarana transportasi yang menjadi salah satu pilihan masyarakat saat ini, sehingga penggunaannya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan input data yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (2016), jumlah sepeda motor yang digunakan di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 105.150.082 unit yang sebagian besar masih menggunakan motor bakar bensin. Penggunaan sepeda motor dengan jumlah sekitar 105 juta tersebut menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat polusi udara tertinggi ke-7 di dunia menurut The Eco Experts (dalam Liputan 6, 2017), sehingga dibutuhkan upaya untuk mengurangi polusi tersebut. Salah satu upayanya adalah pengaplikasian three way catalytic converter (TWC) dengan model honeycomb pada knalpot untuk mereduksi emisi gas buang NOx, CO, dan HC. Dalam penelitian ini material yang digunakan pada TWC adalah CuZn atau kuningan. Material tersebut digunakan karena jumlahnya melimpah, harga ekonomis, dan juga tahan terhadap suhu tinggi.Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji signifikansi aplikasi penggunaan three way catalytic converter paduan CuZn (kuningan) terhadap emisi gas buang NOx, CO, dan HC.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen jenis posttest only control group design yang di dalamnya terdapat kelompok eksperimen (yang diberi perlakuan TWC) dan kelompok kontrol (tanpa perlakuan). Pengambilan data digunakan dengan gas analyzer untuk mengetahui emisi gas buang NOx, CO, dan HC. Media yang digunakan adalah Shogun 125cc tahun 2007, serta variasi RPM yang digunakan adalah 1000 sampai 7000 dengan kelipatan 1000 RPM untuk memastikan keabsahan data yang didapat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa aplikasi TWC paduan CuZn (kuningan) dapat mereduksi gas HC yang sebelumnya 1224,1386 ppm menjadi 1031,5629 ppm atau mengalami penurunan sebesar 15,7 % dan NOx yang sebelumnya 0,6843 ppm menjadi 0,6557 ppm atau mengalami penurunan sebesar 4,2%, namun pada gas CO justru mengalami kenaikan yang sebelumnya 5,3786 %vol menjadi 9,0414 %vol atau mengalami kenaikan sebesar 68,5 %
Hubungan Pembelajaran Teaching Factory dan Praktik Kerja Lapangan dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Produktif SMK di Malang
RINGKASANDitama, B. K. 2019. Hubungan Pembelajaran Teaching Factory dan Praktik Kerja Lapangan dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Produktif SMK di Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ir. Djoko Kustono, M.Pd. (II) Dr. Yoto, S.T., M.M., M.Pd. Kata Kunci: teaching factory, praktik kerja lapangan, prestasi belajarSekolah Menengah Kejuruan (SMK) bertujuan untuk mencetak siswanya menjadi tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keterampilan. Pengembangan pendidikan SMK berpijak pada kebijakan link and match (keterkaitan dan kesepadanan) sebagai dasar kebijakan meningkatkan prestasi belajar siswa. Untuk mewujudkan link and match tersebut, maka dibuatlah program pembelajaran teaching factory dan praktik kerja lapangan. Penelitian ini menggunakan termasuk penelitian korelasional dengan jenis pendekatan kuantitatif. Tempat penelitian di SMKN 6 Malang dan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi. Sampel penelitian berjumlah 109 dari SMKN 6 Malang kelas XII jurusan TKR 1-4 dan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi kelas XII TKR 1. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi nilai siswa.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh: (1) terdapat hubungan antara pembelajaran teaching factory dengan prestasi belajar mata pelajaran produktif berdasarkan sub variabel nilai pengetahuan siswa SMK di Malang, (2) terdapat hubungan antara Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan prestasi belajar mata pelajaran produktif berdasarkan sub variabel nilai keterampilan siswa SMK di Malang, (3) terdapat hubungan antara pembelajaran teaching factory dengan prestasi belajar mata pelajaran produktif berdasarkan sub variabel nilai keterampilan siswa SMK di Malang, (4) terdapat hubungan antara Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan prestasi belajar mata pelajaran produktif berdasarkan sub variabel nilai pengetahuan siswa SMK di Malang, dan (5) terdapat hubungan antara pembelajaran teaching factory dan Praktik Kerja Lapangan (KPL) secara bersama-sama dengan prestasi belajar siswa SMK di Malang. Hal ini berdasarkan uji hipotesis yang menunjukkan Fhitung = 297,449 > Ftabel = 3,08 dan sumbangan efektif 84,9%. Hasil analisis regresi ganda pada penelitian ini menunjukkan koefisien determinasi R2, bahwa besar kontribusi variabel pembelajaran teaching factory dan praktik kerja lapangan berpengaruh terhadap variabel prestasi belajar sebesar 84,9% sedangkan sisanya (100% - 84,9% = 15,1%) dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel yang diteliti.Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pembelajaran teaching factory dan Praktik Kerja Lapangan (KPL) secara bersama-sama dengan prestasi belajar siswa SMK di Malang diterima. sumbangan efektif 84,9% menunjukkan variabel prestasi belajar dipengaruhi oleh variabel pembelajaran teaching factory dan praktik kerja lapangan. SUMMARYDitama, B.K. 2019. Correlation Teaching Factory Learning And Field Work Practice With Learning Achievement of Productive Subjects In Vocational High Schools at Malang. Thesis, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Ir. Djoko Kustono, M.Pd. (II) Dr. Yoto, S.T., M.M., M.Pd. Keywords: teaching factory, practice of field work, learning achievementVocational High School (SMK) aims to make students into workers who have knowledge and skills. The development of vocational education rests on the link and match policy (linkages and equivalence) as the basis of policies to improve student learning achievement. To realize the link and match, teaching factory learning programs were made and fieldwork practices. This study uses including correlational research with a type of quantitative approach. The place of research in Malang 6 Vocational High School and Muhammadiyah 7 Gondanglegi Vocational School. The research sample amounted to 109 from Malang Vocational High School 6 class XII majors TKR 1-4 and Muhammadiyah 7 Gondanglegi Vocational TKR class XII 1. Techniques for collecting data using questionnaires and documentation of student grades.Based on the results of the study obtained: (1) there is a relationship between teaching factory learning and learning achievement of productive subjects based on the sub-variable value of knowledge of Vocational students in Malang, (2) there is a relationship between field work practices and sub-subject variable value of skills of Vocational students in Malang, (3) there is a relationship between teaching factory learning and learning achievement of productive subjects based on sub-variables of skills scores of vocational students in Malang, (4) there is a relationship between field work practices and subject achievement productive based on the sub-variable value of knowledge of Vocational students in Malang, and (5) there is a relationship between teaching factory learning and field work practices together with the learning achievements of SMK students in Malang. This is based on hypothesis testing which shows Fcount = 297,449> Ftable = 3.08 and effective contribution of 84.9%. The results of multiple regression analysis in this study show the coefficient of determination R2, that the contribution of teaching factory learning variables and fieldwork practices influence the learning achievement variable of 84.9% while the rest (100% - 84.9% = 15.1%) is influenced by other variables outside the variable under study. The results of the study can be concluded that there is a relationship between teaching factory learning and field work practice together with the learning achievements of SMK students in Malang accepted. effective contribution of 84.9% shows that learning achievement variables are influenced by teaching factory learning variables and fieldwork practices
PERBANDINGAN TINGKAT KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN TEMBAGA, BESI, DAN ALUMUNIUM PADA PIPA RANGKAIAN CHIPS SEBAGAI ALAT PENYUPLAI SISTEM KELISTRIKAN KENDARAAN
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai perbandingan konduktivitas pada tembaga, besi, dan alumunium sebagai bentuk pengembangan terhadap CHIPS. Untuk menyiasati tingkat kefektifan engine pada sistem kendaraan bermotor yang tidak sesuai harapan maka diperlukan sebuah terobosan baru salah satunya yaitu CHIPS. Kami terinspirasi dari manfaat alternator. CHIPS memanfaatkan panas mesin hasil pembakaran bahan bakar sebagai suplai listrik pada sistem kendaraan kususnya mobil. CHIPS membutuhkan bahan dengan konduktivitas tinggi karena sesuai teori yang telah ada bahwa semakin besar nilai konduktivtas suatu bahan maka bahan tersebut merupakan konduktor yang baik. Untuk mengetahui besar konduktivitas masing-masing bahan tersebut metode yang digunakan adalah eksperimental. Bahan yang digunakan pada eksperimen ini ada 3 jenis logam yaitu tembaga, besi, alumunium. Nilai konduktivitas yang diperoleh adalah k = 385 W/mK untuk tembaga; k = 205 W/mK untuk alumunium; dan k = 50 W/mK untuk besi.Kata Kunci: Konduktifitas, Tembaga, Besi, Alumunium, CHIPSAbstractThis study aims to determine the value of the ratio of conductivity to copper, iron, and aluminum as a form of development towards CHIPS. Get around the engine effectiveness level in the motorized vehicle system that is not as expected so it is necessary to make a new breakthrough, one of them is CHIPS. We are inspired by the benefits of the alternator. CHIPS utilizes engine heat as a result of combustion of fuel as a supply of electricity to the vehicle system especially cars. CHIPS requires materials with high conductivity because according to the existing theory that the greater the value of conductivity of a material, the material is a good conductor. To find out the conductivity of each of these materials the method used was experimental. The materials used in this experiment are 3 types of metals, namely copper, iron, aluminum. The conductivity value obtained is k = 385 W / mK for copper; k = 205 W / mK for aluminum; and k = 50 W / mK for iron.Keywords: Conductivity, Copper, Iron, Aluminum, CHIP
Studi Tentang Pelaksanaan Teaching Factory SMK di Kota Malang (Studi Multi Kasus)
RINGKASAN Renita. 2019. Studi Tentang Pelaksanaan Teaching Factory SMK di Kota Malang (Studi Multi Kasus). Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Purnomo, S.T., M.Pd., (II) Dr. Widiyanti, M.Pd. Kata Kunci: teaching factory, industri, SMK. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diharapkan dapat diserap langsung oleh lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesesuaian kemampuan lulusan di bidang keahlian masing-masing adalah dengan mengeluarkan peraturan untuk penerapan teaching factory di SMK. Hal ini selaras dengan Kepres Tahun 2014 yang berbunyi SMK membangun teaching factory di lingkungan SMK dengan teknologi terkini. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana teaching factory terlaksana di SMK se Kota Malang. Dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan teaching factory SMK di Kota Malang. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi multi kasus. Sumber data diambil dari informan yang memiliki kemampuan dan kesesuaian dengan kasus yang ada. Informan dalam penelitian ini meliputi Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran, Ketua Program Keahlian, Tata Usaha, serta Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan meliputi reduksi data, penyajian data, dan diakhiri penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, maka dilakukan teknik triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, perencanaan proses pelaksanaan teaching factory SMK di Kota Malang dilakukan dengan mempersiapkan sumber daya manusia yaitu peserta didik dan pendidik, mempersiapkan industri yang akan dijadikan mitra kerja sama, serta mempersiapkan sarana dan prasarana yang menunjang terlaksananya teaching factory. Kedua, teaching factory di Kota Malang telah terlaksana di dua belas SMK, sedangkan dua puluh SMK lainnya belum melaksanakan teaching factory. Ketiga, faktor pendukung dalam pelaksanaan penyaluran tenaga kerja yaitu sekolah memperoleh dukungan penuh dari industri. Faktor penghambat yang mendasar adalah beberapa peserta didik belum maksimal dalam proses pelaksanaan teaching factory. Cara mengatasi hal tersebut adalah dengan pendampingan secara langsung dari pihak industri dan SMK untuk memantau kerja peserta didik selama kegiatan pembelajaran. Saran yang diberikan dari hasil penelitian yaitu: (1) Bagi SMK yang telah melaksanakan teaching factory disarankan untuk menambah link industri sebagai mitra kerja serta melakukan seleksi peserta didik yang mengikuti kelas teaching factory agar pelaksanaan teaching factory lebih kondusif; (2) Bagi SMK yang belum melaksanakan teaching factory disarankan untuk menjalin hubungan dengan SMK yang bisa dijadikan rujukan terkait pelaksanaan teaching factory serta mengajukan bimtek kepada industri yang hendak dijadikan mitra kerja sama
Analisa Pengaruh Kecepatan Putaran Spindel dan Tekanan Minyak Sawit Pada Mist Cooling Proses Frais (Milling) Baja St60 Terhadap Keausan Pahat High Speed Steel
RINGKASAN Cahya, Kevin. 2019. Analisa Pengaruh Kecepatan Putaran Spindel dan Tekanan Minyak Sawit Pada Mist Cooling Proses Frais (Milling) Baja St60 Terhadap Keausan Pahat High Speed Steel. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Aminnudin, S.T., M.T., (II) Yanuar Rohmat Aji Pradana, S.T., M.Sc. Kata Kunci: frais, putaran spindel, tekanan mist cooling, minyak sawit, keausan pahat. Sektor manufaktur menjadi kontributor terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, tercatat di angka 19,83 % pada triwulan II-2018. Sektor manufaktur yang berperan penting yaitu proses permesinan frais (milling). Salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari setiap proses pemesinan adalah timbulnya keausan pahat setelah dilakukan proses pemotongan. Keausan sendiri timbul karena adanya gesekan antara geram dengan pahat dan antara pahat dengan benda kerja. Parameter proses permesinan frais memiliki peran penting dalam terhadap keausan pahat, sehingga diperlukan pengaturan parameter pemotongan dan penambahan cairan pendingin. Mist cooling merupakan salah satu teknik pendinginan pada proses permesinan konvensional. Teknik mist cooling dengan cairan minyak sawit (palm oil) merupakan proses pendinginan yang ramah lingkungan karena tidak berbahaya bagi operator mesin. Oleh karena itu, metode mist cooling diterapkan dengan variasi putaran spindel dan tekanan pendingin pada proses frais baja St60 kemudian dianalisa pengaruhnya terhadap pahat high speed steel. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan variabel bebas yang digunakan yaitu putaran spindel sebesar 360, 490, dan 720 rpm serta tekanan mist cooling sebesar 0,5; 1,5; dan 2,5 bar. Besarnya tingkat keausan pahat diukur menggunakan mikroskop optik dengan perbandingan sisi pahat (flank side) sebelum dan sesudah proses permesinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan putaran spindel berakibat pada peningkatan keausan pahat, hal ini terjadi karena peningkatan gesekan yang terjadi antara benda kerja terhadap sisi tepi pahat (flank side) pada putaran spindel yang lebih tinggi. Di samping itu, terjadi penurunan keausan pahat menggunakan tekanan mist cooling yang lebih tinggi hingga 0,187 mm pada tekanan 1,5 bar. Namun, tingkat keausan pahat mengalami peningkatan pada tekanan 2,5 bar sebesar 0,230 mm sehingga menunjukkan bahwa tekanan yang paling optimum untuk digunakan sebagai pendinginan yaitu 1,5 bar. Kondisi ini terjadi dikarenakan kurangnya jumlah minyak yang masuk ke dalam daerah pemotongan selama proses frais pada tekanan yang lebih tinggi, dan proses pelumasan didominasi oleh tekanan udara. SUMMARY Cahya, Kevin. 2019. Analysis of Spindle Speed and Palm Oil Pressure Variations on Milling Process of St60 Using Mist Cooling Toward High Speed Steel Tool Wear. Undergraduate Thesis, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Aminnudin, S.T., M.T., (II) Yanuar Rohmat Aji Pradana, S.T., M.Sc. Keywords: milling, spindle rotation, mist cooling pressure, palm oil, tool wear. Manufacturing sector became the biggest contributor to the National Gross Domestic Product (GDP), recorded at 19.83% in quarter II-2018. One of the most important processes used is the milling process. However, the appearance of tool wear after the cutting process is always considered as the process limitation. The wear itself arises because of the friction between the tool and the chip or workpiece. The milling machine process parameter plays an important role in tool wear, so it is necessary to adjust the cutting parameters and apply of coolant addition. Mist cooling is introduced as one of the cooling techniques in conventional machining processes. The technique of mist cooling using palm oil is considered as an eco-friendly cooling process because it is not dangerous for machine operators. Therefore, the respective cooling method was applied under the different spindle speed and coolant pressure condition for St60 milling and the tool wear was then studied. This research was conducted experimentally with the variation on the spindle rotation of 360, 490, and 720 rpm and mist cooling pressure of 0.5, 1.5, and 2.5 bars. The tool wear measurement was subsequently conducted visually by using an optical microscope through comparison on flank side before and after milling process. The results showed that the increase of spindle speed can enhance the tool wear due to the greater degree of friction occurred on flank side on higher spindle speed with 0.233 mm at 720 rpm. On the other hand, the tool wear was observed to be reduced using higher mist cooling pressure up to 0,187 mm at 1.5 bar. However, the tool wear remained higher when the excess pressure of 2.5 bar were applied with 0.23 mm indicating 1.5 bar was an optimum pressure can be used. This can be caused by the lack of oil amount exposing cutting region during milling when the excess pressure was used due to the air spray domination.