SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    1608 research outputs found

    Perbedaan Kekerasan Dan Kekuatan Tarik Denga Variasi Media Pendingin Air, Air Laut Dan Udara Pada Pengelasan Tungsten Inert Gas (Tig) Dengan Gas Lindung Argon Pada Stainless Steel

    No full text
    ABSTRAK   Prasetyo, Dadad. 2016. Perbedaan Kekerasan Dan Kekuatan Tarik Denga Variasi Media Pendingin Air, Air Laut Dan Udara Pada Pengelasan Tungsten Inert Gas (Tig) Dengan Gas Lindung Argon Pada Stainless Steel. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sukarni, S.T., M.T, (II) Drs. Suharmanto, M.Pd   Kata Kunci:kekerasan, kekuatantarik,variasimedia pendingin, tungsten inert gas(TIG),argon, austenitic stainless steel. Stainless steel adalah baja paduan tinggi yang memiliki sifat tahan karat dan sifat mampu las yang sangat baik. Stainless steel banyak digunakan sebagai bahan dasar dalam bidang industri pengolahan logam. Untuk pengelasan pada stainless steel sering digunakan tungstent inert gas (TIG). Panas yang terjadi pada saat pengelasan dan pada pendinginan lambat akan menyebabkan endapan khrom diantara batas butir yang akan mempengaruhi sifat tahan karat dan sifat mekanis dari stainless steel, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekerasan dan kekuatan tarik akibat variasi media pendingin air, air laut, dan udara pada las TIG pada stainless stell. Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian korelasional dengan pendekatan pengambilan data eksperimental. Sedangkan desain penelitiannya adalah penelitian eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis one way annova dan mann whitney. Objek penelitian ini adalah austenitic stainless stell 304 yang diberikan perlakuan yakni pengelasan dengan variasi media pendingin dan keudian di uji kekerasan dan uji kekuatan tarik. Hasil penelitian rata-rata kekerasan pengelasan dengan media pendingin air pada daerah parent metal, las, dan HAZ masing-masing 89,4 HRB, 82,8 HRB, 83,3 HRB, media pendingin air laut 89,2 HRB, 85,3 HRB, 85,3 HRB, dan media pendingin udara 88,2 HRB, 83,7 HRB, dan 84,9 HRB.Dan rata-rata kekuatan tarik pengelasan dengan media pendingin air sebesar 53,49 kgf/mm2, media pendingin air laut sebesar 56,43 kgf/mm2, dan udara sebesar 53,62 kgf/mm2. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kekerasan dan kekuatan tarik dari proses pengelasan akibat variasi media pendingin. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dari variasi media pendingin pada proses pengelasan TIG terhadap nilai kekerasan dan kekuatan tarik pada austenitic stainless stell

    Analisis Pengaruh Putaran, Kecepatan Pemakanan dan Mata Sayat Pisau Frais terhadap Kekasaran Permukaan Baja HQ 709 Proses Frais Konvensional Menggunakan Metode Up Milling dan Down Milling

    No full text
    ABSTRAK   Ropiq, Kusnu. 2016. Analisis Pengaruh Putaran, Kecepatan Pemakanan dan Mata Sayat Pisau Frais terhadap Kekasaran Permukaan Baja HQ 709 Proses Frais Konvensional Menggunakan Metode Up Milling dan Down Milling. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yuni Sunarto, M.Pd. (II) Drs. Imam Sudjono, M.T.   Kata Kunci: Putaran Spindel, Kecepatan Pemakanan, Up Milling dan Down Milling, Kekasaran Permukaan Baja HQ 709. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh putaran, kecepatan pemakanan dan mata sayat pisau frais terhadap kekasaran permukaan baja HQ 709 proses frais konvensional menggunakan metode up milling dan down milling sebagai acuan operator mesin dalam perencanaan suatu komponen mesin. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, yaitu penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data-data yang valid hasil pengujian yang berupa angka dan kemudian mendeskripsikan data tersebut dalam bentuk kalimat yang mudah dibaca, dipahami, dan diinterpresentasikan. Putaran spindel yang digunakan adalah 360 Rpm, 490 Rpm, dan 720 Rpm dengan kecepatan pemakanan 50 mm/min, 75 mm/min, dan 100 mm/min serta menggunakan pahat Flat End mill berdiameter 10 mm bermata sayat 2 flute dan 4 flute dengan metode pengefraisan up milling dan down milling. Pada setiap putaran spindel dan kecepatan pemakanan dilakukan 3 kali proses pengujian kekasaran permukaan agar didapatkan hasil data yang lebih spesifik. Pengujian kekasaran permukaan menggunakan Surface Roughness Tester merk Mitutoyo SJ 301 Series. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa putaran spindel dan kecepatan pemakanan sangat berpengaruh terhadap kekasaran permukaan baja HQ 709. Hal ini terbukti bahwa semakin cepatnya putaran spindel maka jarak pergeseran pahat semakin kecil, sehingga semakin banyak pemakanan pada tiap mata sayat dan menghasilkan permukaan yang halus. Begitu pula semakin tinggi kecepatan pemakanan maka gesekan yang ditimbulkan juga semakin besar sehingga menyebabkan getaran yang tinggi dan menghasilkan permukaan yang kasar. Penggunaan metode up milling dan down milling memiliki perbedaan tersendiri terhadap kekasaran permukaan yang dihasilkan, dimana down milling memiliki tingkat kekasaran lebih rendah dibandingkan dengan up milling. Hal ini dikarenakan arah pemakanan yang berlawanan arah dengan arah putaran pahat pada proses up milling sehingga terjadi getaran yang lebih besar dan menghasilkan permukaan yang kasar. Oleh karena itu, untuk mendapatkan permukaan yang halus perlu memperhatikan putaran spindel, kecepatan pemakanan, mata sayat pahat frais, dan arah putaran pahat terhadap gerak makan meja mesin frais

    Perbedaan Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan Konvensional Matapelajaran Memperbaiki Roda dan Ban Siswa Kelas XII TKR SMK Veteran 1 Tulungagung

    No full text
    ABSTRAK   Frilanda, Wahyu Hilmy. 2016. Pengaruh Penggunaan  Magnetic Fuel dan Penambahan Bioetanol pada Bensin Terhadap  Emisi Gas Buang dan Konsumsi Bahan Bakar Spesifik pada Sepeda Motor. Pembimbing : (1) Dr. Sukarni, S.T., M.T., (2) Drs. H. Paryono, S.T, M.T.   Kata kunci : Bioetanol, Magnetic Fuel, Emisi Gas Buang, Konsumsi Bahan Bakar Spesifik Banyaknya trasportasi membuat kualitas udara mengalami perubahan disebabkan polusi. Upaya dalam menurunkan emisi gas buang dan peningkatan efisiensi bahan bakar adalah dengan mengunakan magnetic fuel dan bioetanol untuk meningkatkan kesempurnaan pembakaran. Magnetic fuel merupakan peralatan yang dapat mengeluarkan medan magnet. Medan magnet ini digunakan untuk membuat ionisasi pada bahan bakar. Kemudian penggunaan bioetanol sebagai bahan peningkat nilai oktan yang ramah lingkungan. Penambahan bioetanol pada bensin juga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang kurang ramah lingkungan. Perlakuan yang dilakukan bertujuan untuk menemukan adanya pengaruh terhadap emisi gas buang (HC dan CO) serta pada konsumsi bahan bakar spesifik. Hasil penelitian menunjukkan penurunan emisi gas buang CO dengan menggunakan etanol 15% dan kuat medan bervariasi. Nilai terendah CO sebesar 0,0548 %vol pada putaran 1300 rpm menggunakan kuat medan magnet 1,05 mT. Pada putaran 2700 rpm nilai terendah CO sebesar 0,103 % vol menggunakan kuat medan 0,9 mT. Saat putaran 4000 rpm nilai terendah CO menunjukan 0,128 %vol menggunakan kuat medan 0,8 mT. Hasil penelitian HC juga menunjukan terjadinya penurunan. Pada putaran 1300 rpm nilai terendah HC pada 193,4 ppm dengan perlakuan etanol 20% dan kuat medan magnet 0,9 mT. Ketika putaran 2700 rpm nilai terendah HC pada 85,8 ppm dengan perlakuan etanol 10% dan kuat medan magnet 0,8 mT. Putaran 4000 rpm nilai terendah HC pada 45 ppm menggunakan perlakuan 20% dan kuat medan 1,05 mT. Untuk konsumsi bahan bakar spesifik terjadi penurunan. Penggunaan bahan bakar saat perlakuan etanol 20% dengan kuat medan 0,9 mT merupakan perlakuan yang paling rendah konsumsi bahan bakar spesifiknya, yang mempunyai nilai 0,16729 kg/kW.h. Berdasarkan data yang ada maka dapat disimpulkan bahwa ada penurunan signifikan emisi gas buang untuk CO. Tidak ada penurunan signifikan emisi gas buang untuk HC. Ada penurunan signifikan konsumsi bahan bakar spesifik. Hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu referensi ilmu pengetahuan tentang penggunaan bioetanol dan magnetic fuel.   ABSTRAK   Frilanda, Wahyu Hilmy. 2016. The Effects of utilizing Magnetic Fuel and the addition of Bioethanol in Gasoline toward the Outcome of Emission Gas and Specific Fuel Consumption in Motorcycle. Advisors: (1) Dr. Sukarni, S.T., M.T., (2) Drs. H. Prayono, S.T, M.T.   Keywords: Bioetanol, Magnetic Fuel, the Outcome of Emission Gas, Specific Fuel Consumption The transportation made changed of air quality that causes by air polution. Improving the combustion not only to decrease the outcome of emission gas but also increase the fuels efficiency. Using Magnetic fuel and bioethanol is the alternative to increase perfect of combustion in this study. Magnetic fuel is a substance which produce magnetic field. It is employed to create fuel ionization. The ionization process done that fuel could tied the oxygen easier during the process of the combustion. Then, bioethanol is used to improve octane proportion which is basically eco- sustainable. The addition of Bioetanol in gasoline can decrease the use of fossil fuel which basically less eco- sustainable. The objective of the study was finding out the effects of Magnetic Fuel usage and the addition of Bioetanol to the outcome of emission gas (HC and CO) and to the specific fuel consumption. The result showed that the outcome of CO emission gas decrease until 15% using Etanol with varied field strength. The lowest value of CO was 0.0548 %vol under the rotation of 1300 rpm and 1,05 mT magnetic field. At the level of 2700 rpm rotation, the lowest value of CO was 0,103 %vol using 0,9 mT magnetic field. Another result which came up at the level of 4000 rpm rotation was the CO lowest value of 1,128 %vol using 0,8 mT magnetic field. The result of the study upon HC showed that there was HC values drop. At the level of 1300 rpm rotation, the lowest value of HC was 193,4 ppm along with the 20% etanol application and 0,9 mT magnetic field. When the level of rotation was 2700 rpm, the lowest value of HC was 85,88 ppm with 10% etanol application and 0,8 mT magnetic field. Last but not least, at the level of 4000 rpm rotation, the lowest value of HC was found in 45 ppm with 20% etanol application and 1,05 mT magnetic field. Moreover, specific fuel consumption decreased significantly. Through the use of 20% etanol and 0,9 mT magnetic field, the result of fuel usage reached the lowest point of consumption, which was 0,16729 kg.kW.h. Based on the data existed, therefore the conclusions. There was significant decrease in the outcome of CO emission gas. There was no significant decrease in the outcome of HC emission gas. There was significant decrease in the specific fuel consumption. The result of this study can be one of scientific reference about bioethanol and magnetic fuel

    Analisis Output Tegangan Sensor dan Input Tegangan Aktuator Berbagai Putaran pada Motor Honda Supra X 125 PGM FI.

    No full text
    ABSTRAK Rudiyanto, Moch. 2016. Analisis Output Tegangan Sensor dan Input Tegangan Aktuator Berbagai Putaran pada Motor Honda Supra X 125 PGM FI. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T. (2) Drs. H. Imam Muda Nauri, S.T., M.T. Kata Kunci: Output Tegangan Sensor, Input Tegangan Aktuator Berbagai Putaran. Sepeda motor merupakan alat transportasi yang banyak digunakan masyarakat Indonesia. Perkembangan dunia otomotif akhir-akhir ini juga mengalami kemajuan pesat. Diantaranya adanya teknologi EFI (Electronic Fuel Injection). Teknologi ini sudah diterapkan di motor Honda Supra X 125.Pada penelitian ini motor Honda Supra X 125 menjadi objek penelitian. Pada motor Honda Supra X 125 PGM FI ada beberapa sensor dan aktuator,antara lain: (1) Engine oil Temperature (EOT), (2)Crankshaft Position Sensor (CKP), (3) Manifold Absolute Pressure (MAP), (4)Throttle Position (TP),(5)Intake Air Temperature (IAT), (6)Fuel Injector. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui output tegangan sensor dan input tegangan aktuator dalam berbagai putaran pada Motor Honda Supra X 125 PGM FI.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Alat yang digunakan untuk mengukur putaran mesin dalam penelitian ini adalahTachometer. Pada pengambilan data putaran mesin yang digunakan antara 1500 rpm sampai 10000 rpm dengan kenaikan 500 rpm. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil analisis tegangan output MAP menunjukkan tegangan output terendah 1.57 volt pada rpm 1500 dan tegangan output tertinggi 2.79 volt pada rpm 10000. Selain itu, hasil analisis output tegangan TP menunjukkan tegangan output terendah 0.62 volt pada rpm 1500 dan tegangan output tertinggi 4.20 volt pada rpm 10000. Sementara itu, hasil analisis tegangan output IAT menunjukkan tegangan tertinggi 2.88 volt pada rpm 1500 dan tegangan outputterendah 2.15 volt pada rpm 10000.Tambahan, hasil analisis tegangan output EOT menunjukkan tegangan tertinggi 2.88 volt pada rpm 1500 dan tegangan output terendah 0.54 volt pada rpm 10000. Selain itu, hasil analisis tegangan output CKP menunjukkan tegangan output terendah 0.16 volt pada rpm 1500 dan tegangan output tertinggi 0.50 volt pada rpm 10000. Hasil analisis tegangan input injektor menunjukkan tegangan terendah 0.28 volt pada rpm 1500 dan tegangan input tertinggi 2.53 volt pada rpm 10000. Hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa kenaikan putaran mesin juga diikuti kenaikan tegangan output MAP sensor, TP sensor, CKP sensor dan Injektor. Kenaikan putaran mesin juga mengakibatkan penurunan tegangan pada sensor IAT dan sensor EOT. Sementara itu tidak semua sensor dan aktuator mengalami kenaikan atau penurunan tegangan yang diakibatkan oleh putaran mesin. Contohnya sensorTP yang dipengaruhi sudut buka katup, sensor IAT yang dipengaruhi temperatur udara pada intake dan sensor EOT yang dipengaruhi temperatur oli mesin

    Analisis Ketangguhan dan Cacat Mikro Logam Al-Si Hasil Pengecoran dengan Variasi Jenis Fly Ash dan Bentonit Sebagai Pengikat Cetakan Pasir dengan Metode Green Sand Mold

    No full text
    ABSTRAK Pristiyasa. 2016. Analisis Ketangguhan dan Cacat Mikro Logam Al-Si Hasil Pengecoran dengan Variasi Jenis Fly Ash dan Bentonit Sebagai Pengikat Cetakan Pasir dengan Metode Green Sand Mold. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs., H. Putut Murdanto, S.T., M.T, (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D. Kata Kunci: Ketangguhan, Cacat Mikro, Logam Al-Si, Green Sand Mold, Bentonit, Fly Ash. Pengecoran logam dengan teknik Green Sand Mold atau cetakan pasir basah merupakan teknik pengecoran yang umum digunakan. Pengikat dalam cetakan pasir yang umum digunakan adalah bentonit. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa, bentonit merupakan pengikat ideal bagi cetakan pasir basah. Harga bentonit yang tinggi mendasari penelitian ini menggunakan fly ash sebagai campuran pengikat. Fly ash merupakan abu sisa pembakaran batubara yang melimpah sehingga diperlukan usaha untuk mengatasinya. Karakteristik dari fly ash yang mirip dengan bentonit dapat digunakan sebagai pengikat cetakan pasir basah. Aluminium (Al) adalah salah satu logam non ferro yang memiliki berat jenis ringan, ketahanan terhadap korosi, dan mampu cor yang baik. Pemanfaatan aluminium bekas merupakan alternatif untuk menanggulangi kelangkaan bahan baku aluminium yang semakin luas digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penambahan fly ash sebesar 1%, 2%, 3% sebagai pengikat green sand mold terhadap ketangguhan impak serta cacat mikro. Metode dalam penelitian ini menggunakan pre-experimental one shoot case study. Langkah pengujian impak dalam penelitian ini menggunakan metode Charpy. Pada metode Charpy, nilai ketangguhan spesimen diperoleh dari pemberian beban pada pendulum. Spesimen pengujian impak dibentuk sesuai standar ASTM E 23–56T. Langkah pengujian struktur mikro menggunakan alat uji foto mikro Handheld Digital Microscope. Permukaan spesimen pada pengujian ini diratakan dan dihaluskan sebelum pemberian cairan etsa. Permukaan spesimen yang telah di etsa dilihat struktur mikronya menggunakan alat Handheld Digital Microscope. Bedasarkan hasil penelitian menunjukkan ketangguhan impak fly ash kelas C dan F semakin menurun seiring dengan penambahan kadar fly ash pada cetakan pasir basah pengecoran paduan Al-Si berbasis material piston bekas. Penurunan ini dikarenakan perbedaan kondisi cetakan pada saat penuangan logam cair dan perbedaan temperatur logam yang menurun saat penuangan berlangsung. Berdasarkan penelitian dapat diketahui pula jika fly ash kelas C memiliki nilai ketangguhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan fly ash kelas F. Penggunaan fly ash kelas C dilihat dari struktur mikro menghasilkan lebih sedikit cacat coran dibandingkan dengan fly ash kelas F. Hal ini disebabkan karena perbedaan pada bentuk partikel fly ash. Bentuk partikel fly ash kelas F berdasarkan hasil pengujian SEM-EDX menunjukkan kecenderungan tidak seragam. Berbeda halnya dengan bentuk senyawa kristal fly ash kelas C yang menunjukkan kecenderungan seragam. ABSTRACT Pristiyasa. 2016. Analysis of Toughness and Defect Micro Metal Casting Al-Si Results with the Variation Type of Fly Ash and Bentonite as Binder Mold Sand with Green Sand Mold Method. Thesis, Mechanical Engineering Department, Mechanical Engineering Education Program, Faculty of Engineering, State University Of Malang. Advisors: (I) Drs., H. Putut Murdanto, S.T., M.T, (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D. Key Words: Toughness, Defect Micro, Metal Al-Si, Green Sand Mold, Bentonite, Fly Ash. Metal casting technique Green Sand Mold or wet sand mold casting is a technique that is commonly used in sand molding. Binder in sand molding which  commonly used is bentonite. The previous studies showed that bentonite is an ideal binder for the wet sand molds. Bentonite high prices was the reasons in conducting this study by using a mixture of fly ash as a binder. Fly ash is a coal ash waste which the production is high. Thus, it is necessary to overcome the high production of it. Bentonite can be used as binder in wet sand molding since it has similar characteristic to fly ash. Aluminum (Al) is one of the non ferrous metals which has  lighter specific gravity, resistance to corrosion, and capable of a good cast. Utilizing the use of aluminum is an alternative to overcome the scarcity of raw material for aluminum which is more widely used. This study aimed to analyze the addition of fly ash by 1%, 2%, 3% as a binder green sand mold to the toughness impact and micro defects. The method in this study used pre-experimental one-shot case study. The impact testing in this study was conducted by Charpy method. In the Charpy method, the value of toughness specimens derived from the provision of the load on the pendulum. Impact test specimens formed according to the standard ASTM E 23-56T. Micro structure testing step was carried out using photo test tools micro Handheld Digital Microscope. In this step, the specimen surface was leveled and smoothed before etching fluid administration. Micro sctructure of the specimen which had been smoothed was examined using a Handheld Digital Microscope. The result of this study showed that the impact toughness class C fly ash and F decreased with the addition of fly ash content on the wet sand mold casting of Al-Si based on alloy piston material traces. This was due to the differences in molding conditions at the time of pouring molten metal and metal temperature differences. Based on the research could also be shown class C fly ash had a greater toughness value than class F fly ash. The use of class C fly ash viewed from micro structure had less defects compared to class F fly ash. This was due to differences in particle shape of fly ash. Forms of class F fly ash particles by SEM-EDX test results showed that particles were not uniform compared to class C fly ash

    KARAKTERISTIK DEKOMPOSISI PEMBAKARAN SAMPAH PADAT ANORGANIK COMBUSTIBLE SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKAR PADA VARIASI HEATING RATE

    No full text
    ABSTRAK Asmarani, Risa. 2016. Karakteristik Dekomposisi Pembakaran Sampah Padat Anorganik Combustible Sebagai Alternatif Bahan Bakarpada Variasi Heating Rate. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sukarni, S. T., M. T, (II) Drs. H. Imam MudaNauri, S. T., M. T Kata Kunci: alternatifbahanbakar, pembakaran, sampah padatan organik combustible, energy aktivasi Bahan bakar fosil sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk menunjang kebutuhan hidup. Namun ketersediaannya semakin menipis dan bahaya emisi yang ditimbulkan besar. Masalah sampah anorganik di Kota Malang masih belum ditangani dengan baik. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya tumpukan sampah ditempat pemrosesan akhir(TPA)dan pengolahan yang tidak menghasilkan nilai ekonomi. Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian tentang pengolahan sampah padat anorganik combustibledi kota Malang sebagai alternative pengganti bahan bakar fosil dilakukan. Dengan penelitian ini akan didapat pola dekomposisi dan nilai energy aktivasi (Ea)sebagai dasar untuk perancangan reaktor yang tepat yang sesuai dengan karakteristiknya. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental eksploratif. Penelitian diawali dengan pengambilan sampah di beberapa tempat penampungan sementara (TPS)Kota Malang. Kemudian sampah dicuci, dikeringkan, dihaluskan, ditimbang dan dikemas hingga siap diujikan keLaboratorium Sentral UM. Instrumen pengujian adalah alat TGA Linseis STA PT 1600. Analisis data menggunakan aplikasi Linseis dan Origin. Selanjutnya dapat dihitung energy aktivasinya. Hasil penelitian berupa grafik thermogavimetric(TG) dan derivativethermogravimetric(DTG).Terdapat tiga tahap dekomposisi dimana tahap pertama merupakan hilangnya kadar air, tahap kedua merupakan pelepasan volatile sedangkan tahap ketiga adalah dekomposisi abu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama,terjadi 3 tahap dekomposisi pembakaran pada heating rate 10° C/min. Penurunan massa pada tahap 2 sebanyak 83% dengan kadar abu 1.1%. Laju penurunan massa maksimum tahap 2 adalah -0.09 %/s pada temperatur 350.6° C.Kedua, terjadi 3 tahap dekomposisi pembakaran pada heating rate 15° C/min. Penurunan massa pada tahap 2 sebanyak 77% dengan kadar abu 4.8%. Laju penurunan massa maksimum tahap 2 adalah -0.16 %/s pada temperatur 351.4° C.Ketiga, terjadi 3 tahap dekomposisi pembakaran pada heating rate 20° C/min. Penurunan massa pada tahap 2 sebanyak 73% dengan kadar abu 9.6%. Laju penurunan massa maksimumtahap 2 adalah -0.18 %/s pada temperatur 356.3° C.Keempat, nilai energi aktivasi sebesar 47 kJ/mol menunjukkansampel mudah bereaksi

    PENGARUH PENGELASAN GTAW DENGAN VARIASI KECEPATAN ALIRAN GAS ARGON TERHADAP KEKERASAN DAN KEKUATAN TARIK PLAT STAINLESS STEEL 304

    No full text
    ABSTRACT Nugroho, Wilis P. 2016. Pengaruh pengelasan gtaw dengan variasi kecepatan alir gas argon terhadap kekerasan dan kekuatan tarik plat stainless steel 304. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widiyanti, M.Pd, (II) Prihanto Trihutomo, S.T., M.T.Kata Kunci: kekerasan, kekuatan tarik, variasi kecepatan alir gas argon, GTAW, argon, austenitic stainless steel.Stainless steel adalah baja paduan tinggi yang memiliki sifat tahan karat dan sifat mampu las yang sangat baik. Stainless steel banyak digunakan sebagai bahan dasar dalam bidang industri pengolahan logam. Stainless steel sering digunakan pada tangki-tangki bahan kimia, sudu turbin, tangki penyimpanan susu dan alat rumah tangga. Untuk pengelasan pada stainless steesering digunakan Gas Tungsten Arc Welding (GTAW). Dalam pengelasan GTAW logam sambungan harus kuat sehingga tidak mudah patah dan retak. Salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya patah dan retak adalah difusi hydrogen. Untuk menghindari terbentuknya patah dan retak akibat difusi hydrogen yaitu dengan penggunaan gas pelindung untuk mencegah agar hydrogen yang terkandung di atmosfir tidak terserap oleh logam cair pada saat proses pengelasan.Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian korelasional dengan pendekatan pengambilan data eksperimental. Sedangkan desain penelitiannya adalah penelitian eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis one way annova. Objek penelitian ini adalah austenitic stainless stell 304 yang diberikan perlakuan yakni pengelasan dengan variasi kecepatan alir gas argon dan kemudian di uji kekerasan dan uji kekuatan tarik.Hasil penelitian rata-rata kekerasan pengelasan dengan variasi kecepatan alir gas argon 5 L/min pada daerah logam induk, las dan HAZ masing masing 177,0 HV, 207,1 HV, dan 233,7 HV, pada variasi kecepatan alir gas argon 7 L/min 177,0 HV, 174,5 HV, 162,6 HV, pada variasi kecepatan alir gas argon 9 L/min 177,0 HV, 145,6 HV 232,3 HV dan rata-rata kekuatan tarik maksimal, yield point, dan elongasi dengan variasi kecepatan alir gas argon 5 L/min masing masing 49,26 kg/mm2, 27,02 kg/mm2 dan 4,95%, pada variasi kecepatan alir gas argon 7 L/min 50,82 kg/mm2, 28,48 kg/mm2 dan 5,6%, pada variasi kecepatan alir gas argon 9 L/min 55,47 kg/mm2, 32,25 kg/mm2 dan 7,06%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada variasi kecepatan alir gas argon pada proses pengelasan GTAW terhadap kekuatan tarik dan kekerasan pada austenitic stainless steel. Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan yaitu kekuatan tarik pengelasan GTAW dengan variasi kecepatan aliran gas argon tertinggi pada pengelasan dengan kecepatan alir 9 L/min, dan kekerasan tertinggi berada pada kecepatan alir 5L/min dan terendah berada pada kecepatan alir 9 L/min dan yang mendekati logam induk kecepatan alir 7 L/min. Saran dari penelitian ini dapat dijadikan rujukan dan dapat dilakukan penelitian dengan variasi yang berbeda

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERUPA SOFTWARE FLIP BOOK STANDAR KOMPETENSI PERBAIKAN SISTEM STATER SISWA KELAS XI JURUSAN TEKNIK KENDARAAN RINGAN DI SMK PEKERJAAN UMUM MALANG

    No full text
    ABSTRACT Wiharpermana, Gieskan Tataloka. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Berupa Software Flip book Standar Kompetensi Perbaikan Sistem Starter Siswa Kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Ringan di SMK Pekerjaan Umum Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Syamsul Hadi M.Pd M.Ed, (II) Drs. Sumarli MT. M.Pd.Kata kunci: Pengembangan, Media Bahan Ajar, Sistem Starter, Teknik Otomotif.       Perkembangan teknologi informasi saat ini semakin berkembang dan membawa dampak besar pada kemajuan dunia pendidikan. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari perkembangan teknologi tersebut, antara lain banyaknya media pendidikan yang dikembangkan berbasis komputer dan internet semakin mempermudahkan sisa dalam meng-akses materi pelajaran kapanpun dan dimanapun. Salah satu contoh penerapannya adalah media pembelajaran flip book yang sedang dikembangkan. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan media pembelajaran flip book, membuat buku petunjuk penggunaan media pembelajaran flip book dan mengetahui kelayakan media flip book sebagai media embelajaran dalam standar kompetensi perbaikan sistem starter untuk siswa kelas XI jurusan teknik kendaraan ringan SMK Pekerjaan Umum Malang. Pengembang ini menggunakan metode pengembangan deskriptif dengan mengadopsi model pengembangan ADDIE yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda yang terdiri dari lima tahapan: Analisys, Design, Development, Implementation & Evaluate. Instrumen pengumpul data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket/kuisioner yang dibagikan kepada ahli media, ahli materi, 3 orang siswa untuk uji perorangan dan 10 siswa untuk uji kelompok kecil. Data yang diperoleh berupa data kuatitatif yang diperoleh dari hasil penskoran yang kemudian diterjemahkan kevalidannya.Berdasarkan analisis data dari hasil pengembangan tersebut, diperoleh empat kesimpulan hasil pengembangan sebagai berikut. Pertama dari penilaian beberapa aspek pada media pembelajaran flip book oleh ahli media dan materi dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran flip book valid untuk diujikan kepada siswa. Persentase kevalidannya mencapai 91% pada uji ahli media dan 81% pada uji ahli materi. Tanggapan yang diberikan ahli media dan materi pada instrument angket kemudian ditindak lanjuti pada bagian revisi produk sebelum diuji kelayakannya kepada siswa ditahap uji peroranganKedua penilaian yang dilakukan oleh responden pada tahap uji perorangan pada beberapa aspek dari media pembelajaran flip book memperoleh persentase kevalidan mencapai 92% dan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ini valid untuk diuji kelayakannya pada tahap uji lapangan. Saran dari responden pada instrumen penilaian juga diunakan pengembang sebagai dasar revisi media tahap kedua.Ketiga, penilaian kelayakan media pembelajaran flip book pada tahap uji lapangan mendapatkan persentase sebesar 84%. Dengan demikian media pembelajaran yang dikembangkan layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran dalam standar kompetensi perbaikan sistem starter pada kendaraan. Keempat, media pembelajaran flip book yang telah diuji kelayakannya terdiri dari CD dan buku petunjuk penggunaan media pembelajaran flip book. Media pembelajaran tersebut dapat dioperasikan dengan optimal serta spesifikasi komputer mini-mal Pentium 4 dan beberapa perangkat komputer tambahan

    Analisis Struktur Mikro, Kekerasan, dan Ketebalan Lapisan Nitrasi pada Baka AISI 304 yang Mengalami Proses Pack Nitriding

    No full text
    ABSTRAK Purnomo Aji, Bagus. 2015. Analisis Struktur Mikro, Kekerasan, dan Ketebalan Lapisan Nitrasi Baja AISI 304 yang Mengalami Proses Pack Nitriding. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin,  Fakultas Teknik, Universitas  Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs., Wahono, S.ST., M.Pd., (II) Prihanto Tri Hutomo, S.T., M.T. Kata kunci: Struktur Mikro, Kekerasan, Ketebalan Lapisan Nitrasi, Baja AISI 304, Pack Nitriding Baja AISI 304 merupakan baja karbon rendah yang biasanya dipergunakan sebagai   bahan   baku   dalam   industri   pembuatan   perkakas   dan   pembuatan komponen mesin. Hasil pengerjaan berupa perkakas maupun komponen mesin diharuskan mempunyai  beberapa sifat antara lain keras, tangguh, tahan karat, tahan aus. Untuk meningkatkan kekerasan dapat dilakukan proses surface hardening dengan metode pack nitriding, sehingga nantinya akan diperoleh kekerasan yang tinggi pada permukaannya tanpa merusak inti logam. Proses  pack  nitriding  pada  penelitian  ini  dipengaruhi  oleh  beberapa variabel antara lain waktu perlakuan selama 2 jam, 3 jam, dan 4 jam pada temperatur  570  0C;  variasi  jenis  pupuk  nitrogen  yaitu  ZA dengan  kandungan nitrogen 20% dan Urea dengan kandungan nitrogen 46%; yang nantinya akan menghasilkan spesimen dengan ketebalan lapisan nitrasi dan kekerasan yang bervariasi. Metode dalam penelitian ini menggunakan kuantitatif. Desain penelitian ini  penelitian  adalah  eksperimental  yang  dilakukan  di  laboratorium.  Teknik analisis data menggunakan analisis regresi untuk membedakan hasil pengujian. Analisis statistik tersebut digunakan untuk pengujian dan membuktikan hipotesis. Objek penelitian ini adalah baja AISI 304 yang kemudian diberi perlakuan yakni pack nitriding dengan variasi holding time 2 jam, 3 jam, dan 4 jam dengan media pupuk ZA dan urea. Hasil pemeriksaan struktur mikro didapatkan bahwa hasil spesimen pack nitriding terbentuk  lapisan  nitrasi  berupa compound layer  dengan  2  fasa dan diffusion layer dengan 1 fasa. Jenis butir logam pada spesimen keseluruhan terbentuk jenis ferrite dan pearlite dengan bentuk equiaksial. Hasil pengujian ketebalan lapisan nitrasi merupakan pengamatan fasa paling luar yang terbentuk pada compound layer dengan ketebalan terendah pada spesimen pack nitriding menggunakan  pupuk  ZA  dengan  holding  time  2  jam  sebesar  2,686  µm,  dan lapisan nitrasi paling tebal diperoleh pada spesimen pack nitriding menggunakan pupuk urea dengan holding time 4 jam sebesar 15,143 µm. Tingkat kekerasan paling rendah yang didapatkan pada spesimen pack nitriding menggunakan pupuk urea dengan holding time 2 jam sebesar 409,5 HV dan tingkat kekerasan tertinggi didapatkan spesimen pack nitriding menggunakan pupuk Urea dengan holding time 4 jam sebesar 807,3 HV. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variasi holding time dan variasi jenis pupuk nitrogen berpengaruh terhadap kekerasan dan ketebalan lapisan nitrasi baja AISI 304 yang dilakukan proses pack nitridin

    Studi Evaluasi Pelaksanaan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK N 2 Pasuruan.

    No full text
    ABSTRAK Kurniawan, Ambar. 2016. Studi Evaluasi Pelaksanaan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK N 2 Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Widiyanti, M.Pd., (2) Drs.Putut Murdanto, S.T., M.T. Kata Kunci: Evaluasi Pelaksanaan, Uji Kompetensi Keahlian, Teknik Pemesinan SMK memiliki tujuan mendasar dari lulusannya adalah untuk bekerja atau berwirausaha secara mandiri sesuai bidang kejuruan yang ditekuni. Salah satu aspek yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk memenuhi tuntutan kompetensi dunia usaha/industri adalah melalui aspek evaluasi atau pengukuran kompetensi yaitu berupa uji kompetensi keahlian. Uji kompetensi keahlian adalah penilaian untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa pada level tertentu sesuai kompetensi keahlian yang ditempuh. Dalam pelaksanaanya uji kompetensi keahlian diberbagai daerah masih mengalami permasalahan diantaranya adalah asesor, ketersediaan peralatan praktik, dan keterbatasan biaya untuk pelaksanaan uji kompetensi keahlian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi pelaksanaan uji kompetensi keahlian (UKK) program keahlian teknik pemesinan SMK N 2 Pasuruan yang meliputi: (1) Evaluasi Konteks; (2) Evaluasi Masukan yang terdiri dari (a) Kelayakan Peralatan Utama, (b) Kelayakan Peralatan Pendukung, (c) Kelayakan Tempat/Ruang, (d) Kelayakan Asesor Internal, (e) Kelayakan Asesor Eksternal, (f) Kesiapan Siswa, dan (g) Kesiapan Panitia; (3) Evaluasi Proses; dan (4) Evaluasi Hasil/Produk. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif evaluatif, dan dilaksanakan setelah pelaksanaan uji kompetensi keahlian teknik pemesinan SMK N 2 Pasuruan. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru, asesor, siswadan panitia pelaksana. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, angket (kuesioner) dan wawancara, selanjutnya pengolahan data penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian Studi Evaluasi Pelaksanaan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK N 2 Pasuruan adalah sebagai berikut: (1) Evaluasi konteks secara keseluruhan termasuk dalam kategori sesuai dengan nilai 75%; (2) Evaluasi masukan diperoleh hasil untuk aspek-aspek: (a) kelayakan peralatan utama secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat layak dengan nilai 100%, (b) kelayakan peralatan pendukung secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat layak dengan nilai 82,44%, (c) kelayakan tempat/ruang secara keseluruhan termasuk dalam kategori layak dengan nilai 80%, (d) kelayakan asesor internal secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat layak dengan nilai 93,75%, (e) kelayakan asesor eksternal secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat layak dengan nilai 93,75%, (f) kesiapan siswa secara keseluruhan termasuk dalam kategori siap dengan nilai 79,86%, (g) kesiapan panitia secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat siap dengan nilai 89,47%; (3) Evaluasi proses pelaksanaan secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat baik dengan nilai 82,75%; dan (4) Evaluasi hasil/produk secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat baik

    0

    full texts

    1,608

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇