SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1608 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penambahan Hidrogen Electrolyzer terhadap Daya dan Emisi Gas Buang pada Mesin Empat Langkah 110 cc
ABSTRAK Risdian, Alex Achmad. 2015.PengaruhPenambahanHidrogenElectrolyzerterhadapDayadanEmisi Gas BuangpadaMesinEmpatLangkah 110 cc. Skripsi, Program StudiPendidikanTeknikOtomotif,FakultasTeknikUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T., (II) Drs. Partono, M.Pd. Kata Kunci: HidrogenElectrolyzer, Daya, Emisi Gas Buang, MesinEmpatLangkah 110 cc. Jumlahkendaraanbermotorterusmengalamipeningkatanpadasetiaptahunnya. Akibatnyaterjadipeningkatanemisi gas buangdan juga kebutuhanbahanbakarsemakinmeningkat. Untukmenyiasatihaltersebutperludilakukansebuahinovasiyaknidenganmenambahkanalatberupahidrogenelectrolyzer. Alatininantinyaakanmemproduksigas HHO yang selanjutnyadimasukkankedalamruangbakar. Gas hidrogenmemilikiangkaoktan yang tinggiapabiladicampurkandengan premium dapatmeningkatkanangkaoktancampuranbahanbakartersebut. Meningkatnyaangkaoktaniniberakibatpembakaranmenjadisempurnasehinggadayamesinmenjadimeningkatdankadaremisi gas buangmenjaditurun. Penelitianinidilaksanakandengantujuanuntukmengetahuipengaruhpenambahanhidrogenelectrolyzerterhadapdaya, emisi gas buang CO, danemisi gas buang HCpadamesinempatlangkah 110 cc. Metodepenelitianyang digunakanpadapenelitianiniadalahquasi experiments. AnalisisdarihasilpenelitianinimenggunakanPaired Sampel T-Test denganbantuansoftwarepengolah data IBM SPSS Statistics. Hasilpenelitianinimenunjukkan: (1) Tidakadapengaruh yang signifikanpadapenambahanhidrogenelectrolyzerterhadapdaya motor padamesinempatlangkah110 cc, selisihnyahanyasebesar 0,25 HP lebihbesardaya yang dihasilkandaripenambahanhidrogenelectrolyzer. (2) Terdapatpengaruh yang signifikanpadapenambahanhidrogenelectrolyzerterhadapemisi gas buang CO padamesinempatlangkah 110 cc, selisihnyasebesar 0,8694 % lebihkecilemisi gas buang CO yang dihasilkandaripenambahanhidrogenelectrolyzer. (3) Terdapatpengaruh yang signifikanpadapenambahanhidrogenelectrolyzerterhadapemisi gas buang HC padamesinempatlangkah 110 cc, selisihnyasebesar 34.7059 ppm lebihkecilemisi gas buang HC yang dihasilkandaripenambahanhidrogenelectrolyzer. Berdasarkanhasilperolehan data dapatdisimpulkanbahwapenggunaanhidrogenelectrolyzertidakberpengaruhsignifikanterhadapdayatetapimemberikandampakyang positifterhadapkadaremisi gas buang. Di sampingitu, dapatdisarankanagar dilakukanpenelitianlebihlanjutterkaitjumlahproduktifitas gas HHO (HidrogenHidrogenOksigen) yang dihasilkanolehhidrogenelectrolyzerpadarpmrendahdantinggi. ABSTRACT Risdian, Alex Achmad. 2015. Effect of HydrogenElectrolyzer Addition to Power and Gas Emissionon Four StrokeEngine (110 cc). Thesis, AutomotiveEngineeringEducation Program, EngineeringFaculty, State University of Malang. Advisors: (I) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T., (II) Drs. Partono, M.Pd. Keywords:ElectrolyzerHydrogen, Power, Gas Emission, Four Stroke Engine(110 cc). The vehicle’s amount increasedevery year. As a result of it, gas emission and the needs of fuel was increased too. The innovationwas needed to solve this condition. It could be usedelectrolyzerhydrogen tool. It wouldproduce HHO gaswhich was included to the combustion chamber. Hydrogen gas has a high octane number,if it mixedwith premium would increase octane number of its fuel mixture. The increasing of octane number can make perfectcombustion, so engine power increased too and level of gas emission down. This study aimed to know the effect ofelectrolyzer hydrogen addition on power, CO and HC gas emission in fourstroke engine (110 cc). This research usedquasi experiment as a method. The analysisof this research were usedpaired sample T-test with IBM SPSS Statisticssoftware for processing data. The findings of this study show that (1) There was not significant effect in additionelectrolyzerhydrogen onfourstrokeengine (110 cc) power, the difference was only 0,25 HP bigger after added electrolyzer hydrogen. (2) There was a significant effect in additionelectrolyzerhydrogen on COgas emissionfourstroke engine (110 cc), the difference was0.8694% smaller after added electrolyzer hydrogen. (3) There was a significant effect in additionelectrolyzerhydrogen on HC gas emissionfourstroke engine (110 cc), the difference was34.7059 ppm smaller after added electrolyzer hydrogen. Based on that findings, it would be concluded that the utilization of electrolyzer hydrogen does not have significant effect on power but giving positive impact on gas emissionlevel. In other hand, for future research, it would be suggested that would be needed future research to try increased HHO (Hydrogen Hydrogen Oxygen) gas productivity that resulted by electrolyzer hydrogen at low and high rpm.
Pengaruh penggunaan Hydrocarbon Crack System (HCS) terhadap Konsumsi Bahan Bakar dan Emisi Gas Buang pada Mesin Konvensional Sepeda Motor Yahama New Vega R 110 Cc
ABSTRAK Utomo, Nomade Yan. 2015. Pengaruh Penggunaan Hydrocarbon Crack System (HCS) Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Dan Emisi Gas Buang Pada Mesin Konvensional Sepeda Motor Yahama New Vega R 110 Cc. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin , Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Ir. Mustaman, M.Pd., (II) Drs. H. Sumarli M.Pd. M.T. Kata Kunci : Hidrocarbon Crack System (HCS), Konsumsi Bahan Bakar, Emisi Gas Buang. Mesin sepeda motor akan memperoleh umur panjang atau tidak cepat rusak perlu mendapatkan perawatan rutin atau perawatan secara berkala sesuai petunjuk pabrik yang memproduksinya. Namun pada batas-batas waktunya mesin sepeda motor rusak kemampuannya karena mengalami keausan, maka perlu penggantian komponen yang aus. Selain itu Bahan Bakar Minyak Bumi (BBM) di Indonesia semakin menipis dan harga BBM sekarang mulai naik, Hidrocarbon Crak System (HCS) adalah sistem memecah atom hydrocarbon (bahan bakar premium atau pertamax) menjadi atom hydrogen (H2) dan carbon (C) dengan cara menggunakan pipa katalisator yang dipanaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang dengan melakukan studi dari beberapa sumber penelitian. Tujuan dari peneleitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh kendaraan uji coba yang menggunakan Hidrocarbon Crak System (HCS) dan tidak menggunakan Hidrocarbon Crak System (HCS) dengan bahan bakar pertamax terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang. Jenis metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah true eksperimental posttest control yang bertujuan menyelidiki sebab akibat antara variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Otomotif fakultas teknik Universitas Negeri malang. Analisis data menggunakan analisis uji T dengan bantuan program komputer SPSS for windows. Hasil penelitian ini adalah perbedaan rata-rata konsumsi bahan bakar penggunaan Hidrocarbon Crak System (HCS) dan tidak menggunakan Hidrocarbon Crak System (HCS) adalah 15 ml/detik lebih besar penggunaan yang tidak menggunakan Hidrocarbon Crak System (HCS). Perbedaan rata-rata emisi gas buang (kadar CO) pada penggunaan Hidrocarbon Crak System (HCS) dan tidak menggunakan Hidrocarbon Crak System (HCS) adalah 64,97% lebih besar penggunaan yang tidak menggunakan Hidrocarbon Crak System (HCS). Perbedaan rata-rata emisi gas buang (kadar HC) penggunaan Hidrocarbon Crak System (HCS) dan tidak menggunakan Hidrocarbon Crak System (HCS) adalah 6914 ppm lebih besar penggunaan yang tidak menggunakan Hidrocarbon Crak System (HCS). Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil penelitian dan analisis data adalah ada perbedaan Hidrocarbon Crack System (HCS) terhadap konsumsi penggunaan bahan bakar, ada perbedaan Hidrocarbon Crack System (HCS) terhadap emisi gas buang (Kadar CO), dan ada perbedaan Hidrocarbon Crack System (HCS) terhadap emisi gas buang (Kadar HC). Saran yang dapat diberikan adalah Sebaiknya dilakukan pengembangan dengan cara menyempurnakan Hidrocarbon Crack System (HCS) agar tingkat konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang bisa diminimalkan supaya hasilnya lebih baik lagi ABSTRACT Utomo, Nomade Yan. 2015. The influence of Hydrocarbon Crack System (HCS) Against Fuel Consumption and Exhaust gas Emissions In Conventional Machines of Motorcycle Yahama New Vega R 110 Cc. Thesis, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, University of Malang. Advisors: (I) Drs. Ir. Mustaman, M.Pd., (II) Drs. H. Sumarli M.Pd. M.T. Keywords: Hydrocarbon Crack System (HCS), Fuel Consumption, Exhaust gas and Emissions . Motorcycle engine would gain longevity or not easy to broken needs to get regular care or treatment periodically according to the manufacturer's instructions that produce it. However, the time limits of motorcycle engines ruined it’s ability because of wear and tear, it was necessary to replace worn parts. Beside of that Fuel Petroleum (BBM) in Indonesia dwindling and fuel prices were now starting to rise, hydrocarbon Crak System (HCS) was a system of splitting the hydrocarbon atom (premium fuel or pertamax) into atomic hydrogen (H2) and carbon (C) used a catalyst heated pipe. This study aims to determine the effect of fuel consumption and exhaust gas emissions by studying the literature of several studies. This purpose of the research was to know how the influence of test vehicles that use hydrocarbon Crak System (HCS) and do not use hydrocarbon Crak System (HCS) with pertamax on fuel consumption and exhaust gas emissions. Type of method wich was used in this research was true experimental posttest control which aims to investigate the cause and effect between the independent variables, the dependent variable, and the variable control study was conducted in the Laboratory of Automotive engineering faculty of the State University of Malang. Data analysis was using T test with computer program SPSS for windows. The results of this study was the difference in fuel consumption average of hydrocarbon Crak System (HCS) usage and do not use hydrocarbon Crak System (HCS) was 15 ml/sec the usage was grater than did not use hydrocarbon Crak System (HCS). The average difference in exhaust emissions (CO level) on the use of hydrocarbon Crak System (HCS) and do not use hydrocarbon Crak System (HCS) was 64.97% the usage greater than did not use hydrocarbon Crak System (HCS). The average difference in exhaust gas emissions (HC levels) of hydrocarbon Crak System (HCS) and did not use hydrocarbon Crak System (HCS) was 6914 ppm greater usage than dd not use hydrocarbon Crak System (HCS). The conclusion that can be drawn based on the results of the research and data analysis were there were differences hydrocarbon Crack System (HCS) to the fuel consumption usage, there were differences in hydrocarbon Crack System (HCS) to the exhaust gas emissions (Kadar CO), and there were differences in hydrocarbon Crack System (HCS ) to the exhaust gas emissions (HC levels). Advice wich can be given is should be done in a way enhance the development of hydrocarbon Crack System (HCS) to the level of fuel consumption and exhaust gas emissions can be minimized so that results get better
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN CNC TU-3A UNTUK MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul pembelajaran CNC TU-3A sebagai media pembelajaran yang efektif dan effisien pada mahasiswa program Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang yang memprogram matakuliah CNC. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan dengan melakukan pengembangan media dan dilanjutkan denganan alisis data. Research and Development (R dan D) dari Borg and Gaal dipilih sebagai metodologi penelitian. Pengambilan data dilakukan di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin UM. Teknik pengambilan data adalah dengan memberikan angket pada dosen ahli media yang berpengalaman dalam bidang median dan pembelajaran, ahli materi yang berpengalaman dalam bidang matakuliah pemrograman CNC dan mahasiswa yang sedang mengikuti matakuliah perograman CNC. Analisis data kuantitatif dalam penelitian pengembangan ini menggunakan rumus persentase arikuto. Hasil validasi penelitian adalah 95,83 % untuk ahli media, 97,22% ahli materi dan 85,19 kelompok kecil. Hasil yang didapatkan media pengembangan ini tergolong vali
Pengaruh Blended Learning Berbasis Schoology dan Kemampuan Awal Siswa terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan di Kelas XI TKR SMK Negeri 3 Singaraja
ABSTRAK Irawan, Vincentius Tjandra. 2016. Pengaruh Blended Learning Berbasis Schoology dan Kemampuan Awal Siswa terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan di Kelas XI TKR SMK Negeri 3 Singaraja. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Eddy Sutadji, M.Pd, (II) : Dr. Widiyanti, M.Pd. Kata Kunci : Blended Learning, Schoology, Kemampuan Awal, Hasil Belajar Sekolah Menengah Kejuruan merupakan penyedia teknisi madya terbesar di Indonesia. Mayoritas pelajaran yang diberikan di SMK adalah praktikum. Pada kenyataannya, guru pada Mata Pelajaran Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan kelas XI TKR SMK Negeri 3 Singaraja memberikan 70% materi teori dan 30% praktikum pada siswa. Hal ini disebabkan kemampuan awal yang dimiliki siswa masih rendah, guru khawatir akan hasil belajar yang tidak memenuhi KKM, sehingga difokuskan pada pemberian teori agar hasil belajar memenuhi KKM. Blended Learning berbasis Schoology hadir sebagai solusi untuk memberi teori tambahan di luar jam pelajaran sekolah, sehingga pertemuan teori dapat dikurangi dan diganti praktikum. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu dengan the nonequivalent control group design. Subjek penelitian berjumlah 64 siswa, 30 siswa XI TKR 1 sebagai kelas treatment, dan 34 siswa XI TKR 2 sebagai kelas nontreatment. Kemampuan awal didapat dengan memberi prates, dan hasil belajar didapat dengan memberi postes. Instrumen yang digunakan adalah tes multiple choice. Data pada penelitian dianalisis menggunakan SPSS versi 17 for windows. Teknik analisis data yang digunakan adalah ANAVA dua jalan. Hasil penelitian adalah (1) terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa dengan model Blended Learning berbasis Schoology dan siswa dengan model Problem Based Learning (sig p = 0,000 α = 0,05). ABSTRACT Irawan, Vincentius Tjandra. 2016. The Effect of Blended Learning Based on Schoology and Prior Knowledge of Students toward the Learning Outcome of Light Vehicle Electrical Maintenance Subject in Grade XI TKR SMK Negeri 3 Singaraja. Undergraduate Thesis, Department ofMechanical Engineer. Faculty of Technique. State University of Malang. Supervisors (I) Dr. Eddy Sutadji M.Pd, (II) : Dr. Widiyanti, M.Pd. Keywords : Blended Learning, Schoology, Prior Knowledge, Learning Outcome Vocational high school is the largest provider of intermediate technicians in Indonesia. The majority of lessons given in SMK are a practicum. In fact, SMK Negeri 3 Singaraja, grade XI TKR for Light Vehicle Electrical Maintenance subject, the teacher focuses on 70% of meeting at productive subject by only giving theory lesson, whereas for 30% teacher gives practicum to the students. This is due to the prior knowledge of the students was low; therefore the teacher concerned the learning outcome would not fulfill the school’s minimum criteria. Blended Learning based on Schoology becomes a solution to give the extra theory outside school’shours, so the meeting of theory can be cut down and can be replace with practicum. This research used a quasi-experimental method with the nonequivalent control group design. The participant in this study was 64 students, 30 students of grade XI TKR 1 as atreatment class, and 34 students class XI TKR 2 as a nontreatment class. The prior knowledge was obtained by giving the pre-test, and learning outcome was obtained by giving post-test. The instrument used a multiple choice test. Data in this study were analyzed using SPSS version 17 for Windows. The data analysis technique was using two-way ANOVA. The results of this study were (1) there was significant differences in learning outcome between students with Blended Learning based on Schoology model and students with Problem Based Learning model(sig p = 0,00
Pengembangan Multimedia Pembelajaran BerbasisFlash, Video, dan Animasi pada Kompetensi Kejuruan DasarPengecoran Logam untuk Siswa Kelas X SMK
ABSTRAK Yudayana, Bagus Indra. 2015. Pengembangan Multimedia PembelajaranBerbasis Flash, Video, dan Animasi pada Kompetensi KejuruanDasar Pengecoran Logam untuk Siswa Kelas X SMK. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Mesin,Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing; (I) Tuwoso, Dr., M.P.(II) Putut Murdanto, H. Drs., S.T.,M.T. Kata Kunci : Pengembangan Bahan Ajar, Pengecoran, Multimedia Materi pengecoran yang terdapat pada kompetensi kejuruan dasar, diberikan kepada siswa kelas X Sekolah Menengah Kejuruan jurusan Teknik Pemesinan. Materi pengecoran ini termasuk dalam kompetensi dasar menjelaskan pembuatan dan pengolahan logam. Di dalam menyampaikan materi pengecoran, LKS merupakan sarana pendukung yang digunakan, dimana keseluruhan pembelajarannya hanya merupakan pelajaran teori tanpa melakukan praktik. Pengembangan ini bertujuan (1) Menghasilkan media pembelajaran berbasis flash, animasi, dan video kompetensi kejuruan dasar pengecoran logam untuk siswa kelas X SMK sesuai dengan struktur isi kompetensi; (2) Mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran berbasis flash, animasi, dan video kompetensi kejuruan dasar pengecoran logam untuk siswa kelas X SMK melalui validasi ahli media, ahli materi, dan uji kelompok kecil yang berkompeten Metode penelitian dan pengembangan menggunakan modelpengembangan Borg and Gall yang menjadi pedoman pengembangan produk.menjelaskan sepuluh langkah penelitian pengembangan yang akan dijadikan pedoman dalam penelitian dan pengembangan Borg and Gall, yaitu: (1) tahap penelitian dan pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan format produk awal, (4) uji coba awal, (5) revisi produk, (6) uji coba lapangan, (7) revisi produk, (8) uji lapangan, (9) revisi produk akhir, dan (10) desiminasi dan implementas. Hasil produk media yang dikembangkan berbentuk software CD interaktifpada materi pengecoran. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yangdiperoleh dari hasil penskoran yang kemudian diterjemahkan persentase kevalidtannya, hasil validasi kelayakan media pembelajaran ini menunjukkan hasil yang valid dengan skor sebagai berikut : (1) Validasi ahli media sebesar 82%, (2) Validasi ahli materi sebesar 81%, (3) Uji coba perseorangan sebesar 91% dan (4) Uji coba kelompok kecil sebesar 88%. ABSTRACT Yudayana, Bagus Indra. 2015. Development of Multimedia LearningBased Flash, Video and Animation on Vocational CompetencyBasic Metal Casting for the Class X SMK. Skripsi. Mechanical Engineering Education, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Malang Supervisor; (I) Tuwoso, Dr., MP (II) Putut Murdanto, H. Drs., ST,. MT. Keywords: Teaching Materials Development, Casting, Multimedia Casting material contained in the basic vocational competence, given to students Grade X Vocational High School Department of Mechanical Enginering. The casting material included in the basic competency describes the preparation and processing of metals. In presenting the material in the casting, LKS is a means of support used, where all the learning is only a theory without practice lessons. The aim of this development (1) Generate a flash-based learning media, animation, and video vocational competence base metal casting for students of class X SMK accordance with the structure of the contents of competence; (2) Determine the feasibility of flash-based learning media, animation, and video vocational competence base metal casting for students of class X SMK through expert validation media, subject matter experts, and a small group of competent test. Research and development methods using Borg and Gall development models that guide product development.explained the ten steps of research development to be used as guidelines in the research and development of Borg and Gall, namely: (1) the stage of research and information gathering early, (2) planning, (3) the development of the format of the initial product, (4) early trials, ( 5) revision of the product, (6) the field trials, (7) product revision, (8) field test, (9) the revision of the final product, and (10) the dissemination and implementas. Results of media products developed form of interactive CD softwarethe casting material. Data obtained in the form of quantitative dataobtained from the scoring and then translated percentage kevalidtannya, the results validate the feasibility of this learning media show a valid result with a score as follows: (1) Validate media experts by 82%, (2) Validation of subject matter experts by 81%, (3) Trial individuals amounted to 91% and (4) trial was a small group of 88%
Pengaruh Penggunaan Magnetic Fuel dan Penambahan Bioetanol pada Bensin Terhadap Emisi Gas Buang dan Konsumsi Bahan Bakar Spesifik pada Sepeda Motor
ABSTRAK Frilanda, Wahyu Hilmy. 2016. Pengaruh Penggunaan Magnetic Fuel dan Penambahan Bioetanol pada Bensin Terhadap Emisi Gas Buang dan Konsumsi Bahan Bakar Spesifik pada Sepeda Motor. Pembimbing : (1) Dr. Sukarni, S.T., M.T., (2) Drs. H. Paryono, S.T, M.T. Kata kunci : Bioetanol, Magnetic Fuel, Emisi Gas Buang, Konsumsi Bahan Bakar Spesifik Banyaknya trasportasi membuat kualitas udara mengalami perubahan disebabkan polusi. Upaya dalam menurunkan emisi gas buang dan peningkatan efisiensi bahan bakar adalah dengan mengunakan magnetic fuel dan bioetanol untuk meningkatkan kesempurnaan pembakaran. Magnetic fuel merupakan peralatan yang dapat mengeluarkan medan magnet. Medan magnet ini digunakan untuk membuat ionisasi pada bahan bakar. Kemudian penggunaan bioetanol sebagai bahan peningkat nilai oktan yang ramah lingkungan. Penambahan bioetanol pada bensin juga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang kurang ramah lingkungan. Perlakuan yang dilakukan bertujuan untuk menemukan adanya pengaruh terhadap emisi gas buang (HC dan CO) serta pada konsumsi bahan bakar spesifik. Hasil penelitian menunjukkan penurunan emisi gas buang CO dengan menggunakan etanol 15% dan kuat medan bervariasi. Nilai terendah CO sebesar 0,0548 %vol pada putaran 1300 rpm menggunakan kuat medan magnet 1,05 mT. Pada putaran 2700 rpm nilai terendah CO sebesar 0,103 % vol menggunakan kuat medan 0,9 mT. Saat putaran 4000 rpm nilai terendah CO menunjukan 0,128 %vol menggunakan kuat medan 0,8 mT. Hasil penelitian HC juga menunjukan terjadinya penurunan. Pada putaran 1300 rpm nilai terendah HC pada 193,4 ppm dengan perlakuan etanol 20% dan kuat medan magnet 0,9 mT. Ketika putaran 2700 rpm nilai terendah HC pada 85,8 ppm dengan perlakuan etanol 10% dan kuat medan magnet 0,8 mT. Putaran 4000 rpm nilai terendah HC pada 45 ppm menggunakan perlakuan 20% dan kuat medan 1,05 mT. Untuk konsumsi bahan bakar spesifik terjadi penurunan. Penggunaan bahan bakar saat perlakuan etanol 20% dengan kuat medan 0,9 mT merupakan perlakuan yang paling rendah konsumsi bahan bakar spesifiknya, yang mempunyai nilai 0,16729 kg/kW.h. Berdasarkan data yang ada maka dapat disimpulkan bahwa ada penurunan signifikan emisi gas buang untuk CO. Tidak ada penurunan signifikan emisi gas buang untuk HC. Ada penurunan signifikan konsumsi bahan bakar spesifik. Hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu referensi ilmu pengetahuan tentang penggunaan bioetanol dan magnetic fuel. ABSTRAK Frilanda, Wahyu Hilmy. 2016. The Effects of utilizing Magnetic Fuel and the addition of Bioethanol in Gasoline toward the Outcome of Emission Gas and Specific Fuel Consumption in Motorcycle. Advisors: (1) Dr. Sukarni, S.T., M.T., (2) Drs. H. Prayono, S.T, M.T. Keywords: Bioetanol, Magnetic Fuel, the Outcome of Emission Gas, Specific Fuel Consumption The transportation made changed of air quality that causes by air polution. Improving the combustion not only to decrease the outcome of emission gas but also increase the fuels efficiency. Using Magnetic fuel and bioethanol is the alternative to increase perfect of combustion in this study. Magnetic fuel is a substance which produce magnetic field. It is employed to create fuel ionization. The ionization process done that fuel could tied the oxygen easier during the process of the combustion. Then, bioethanol is used to improve octane proportion which is basically eco- sustainable. The addition of Bioetanol in gasoline can decrease the use of fossil fuel which basically less eco- sustainable. The objective of the study was finding out the effects of Magnetic Fuel usage and the addition of Bioetanol to the outcome of emission gas (HC and CO) and to the specific fuel consumption. The result showed that the outcome of CO emission gas decrease until 15% using Etanol with varied field strength. The lowest value of CO was 0.0548 %vol under the rotation of 1300 rpm and 1,05 mT magnetic field. At the level of 2700 rpm rotation, the lowest value of CO was 0,103 %vol using 0,9 mT magnetic field. Another result which came up at the level of 4000 rpm rotation was the CO lowest value of 1,128 %vol using 0,8 mT magnetic field. The result of the study upon HC showed that there was HC values drop. At the level of 1300 rpm rotation, the lowest value of HC was 193,4 ppm along with the 20% etanol application and 0,9 mT magnetic field. When the level of rotation was 2700 rpm, the lowest value of HC was 85,88 ppm with 10% etanol application and 0,8 mT magnetic field. Last but not least, at the level of 4000 rpm rotation, the lowest value of HC was found in 45 ppm with 20% etanol application and 1,05 mT magnetic field. Moreover, specific fuel consumption decreased significantly. Through the use of 20% etanol and 0,9 mT magnetic field, the result of fuel usage reached the lowest point of consumption, which was 0,16729 kg.kW.h. Based on the data existed, therefore the conclusions. There was significant decrease in the outcome of CO emission gas. There was no significant decrease in the outcome of HC emission gas. There was significant decrease in the specific fuel consumption. The result of this study can be one of scientific reference about bioethanol and magnetic fuel
KARAKTERISTIK DEKOMPOSISI PEMBAKARAN BAHAN BAKAR CAMPURAN MIKROALGA SPIRULINA PLATENSIS DENGAN KULIT KACANG TANAH
ABSTRACT Prambada, Erik. 2016. Karkteristik Dekomposisi Pembakaran Bahan Bakar Campuran Mikroalga Spirulina platensis dengan Kulit Kacang Tanah. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Univesitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sukarni, S.T., M.T. (II) Drs. Solichin, S.T., M.Kes.Kata kunci: Mikroalga Spirulina platensis, Kulit Kacang Tanah, Komposisi Kandungan Unsur Kimia, Sifat Fisik, Nilai Kalor, dan Dekomposisi Pembakaran Bahan Bakar Biomassa.Bahan bakar fosil merupakan bahan bakar utama untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia sampai dengan saat ini. Permasalahan yang terjadi manusia cenderung berketergantungan terhadap bahan bakar fosil untuk memenuhi semua kebutuhan dasar kegiatan mulai dari sektor industri, sektor rumah tangga, dan sektor transportasi. Hal tersebut mengakibatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan bakar fosil, dampak kerusakan lingkungan, dan pemanasan global, sehingga perlu adanya sumber energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan. Salah satu sumber energi alternatif terbarukan dan melimpah di Indonesia adalah biomassa yaitu biomassa mikroalga Spirulina platensi dan kulit kacang tanah, karena Indonesia merupakan negara agraris dan maritim yang memiliki wilayah laut dan lahan pertanian yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan sumber energi alternatif baru terbarukan berupa bahan bakar padat dimulai dari mengetahui kandungan unsur kimia, sifat fisik, nilai kalor, dan proses dekomposisi pembakaran bahan bakar campuran mikroalga Spirulina platensis dengan kulit kacang tanah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental eksploratif yang bertujuan menemukan temuan baru berdasarkan teori dari suatu penelitian sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari pengujian SEM-EDX untuk mengetahui komposisi kandungan unsur kimia didominasi oleh kandungan unsur kimia C (karbon) dan O (oksigen) dari biomassa mikroalga Spirulina platensis unsur kimia C (karbon) sebesar 43.55±3.51%, dan O (oksigen) sebesar 22.86±2.51%, untuk kulit kacang tanah unsur kimia C (karbon) sebesar 57.78±1.88% dan unsur kimia O (oksigen) sebesar 33.87±1.42%. Berdasarkan hasil pengujian bomb calorimeter untuk mengetahui nilai kalor bahan bakar biomassa yaitu nilai kalor mikroalga Spirulina platensis sebesar 16,57 MJ/kg dan nilai kalor kulit kacang tanah sebesar 17.72 MJ/kg. Bersadarkan hasil pengujian proximate untuk mengetahui sifat fisik bahan bakar biomassa yaitu sifat fisik mikroalga Spirulina platensis adalah kandungan moisture 7.88%, volatile matter 74.76%, fixed carbon 8.75%, dan ash 8.61%, sifat fisik kulit kacang tanah adalah kandungan moisture 7.76%, volatile matter 68.68 %, fixed carbon 13.28%, dan ash 10.28%. Hasil penelitian dekomposisi pembakaran bahan bakar campuran mikroalga Spirulina platensis dengan kulit kacang dari pengujian TGA (Thermogravimetric Analysis) dihasilkan tiga tahap proses dekomposisi pembakaran yaitu: a.) moisture, b.) volatile matter, dan c.) fixed carbon.
ANALISIS VARIASI KADAR KATALIS ZINC OXIDE TERHADAP DEKOMPOSISI PEMBAKARAN MIKROALGA Chlorella sp. SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKAR TERBARUKAN
ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristikpembakaran akibat penambahan katalis pada dekomposisi pembakaran mikroalgaChlorella sp. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimentaleksploratif. Pada penelitian ini digunakan katalis zinc oxide dengan massa 0,3 mg,0,6 mg, dan 0,9 mg. Pengujian untuk mengetahui perilaku pembakaran Chlorellasp. menggunakan Thermal Analyzer merk Metller Toledo tipe STARe GC 200.Mikroalga dibakar pada suhu ruangan hingga suhu 1200 oC dengan lajupembakaran 10 oC/min pada udara atmosfer dengan laju udara 50 ml/min. Hasildari penelitian ini menunjukkan bahwa dekomposisi pembakaran Chlorella spdengan maupun tanpa katalis terjadi pada lima tahap selama proses pembakarandari temperatur ruangan hingga 1200 oC. Persentase kadar katalis memilikikeefektifan berbeda-beda pada masing-masing tahap pembakaran. Persentase zincoxide yang sesuai untuk menghilangkan moisture adalah 3% dan 9%, untukmenghilangkan kandungan volatilnya adalah 9%, dan untuk menghilangkankandungan fixed karbon mikroalga Chlorella sp adalah 6 % dan 9 %. Pada akhirpembakaran, residu Chlorella sp meningkat 1,95 % setelah ditambahkan zincoxide 0,3 mg, meningkat 3,91 % setelah ditambahkan zinc oxide 0,6 mg, namunmenurun 6,9 % setelah ditambahkan zinc oxide 0,9 mg. Katalis bekerja padatemperatur tinggi, namun secara umum penambahan katalis zinc oxide mampumenurunkan temperatur puncak pada masing-masing tahap dekomposisi. Diantaratiga variasi kadar katalis zinc oxide yang digunakan untuk pembakaran biomassaChlorella sp pada penelitian ini, persentase zinc oxide paling baik adalah 9% darimassa sampel Chlorella sp. Kata kunci: Chlorella sp, zinc oxide, dekomposisi pembakaran, termogravimetri
Analisis Fluiditas Dan Hasil Coran Pada Pengecoran Paduan Logam Aluminium (Al Si) Terhadap Variasi Temperatur Penuangan Menggunakan Metode Spiral.
ABSTRAK Satryanto, Teo.2015. Analisis Fluiditas Dan Hasil Coran Pada Pengecoran Paduan Logam Aluminium (Al Si) Terhadap Variasi Temperatur Penuangan Menggunakan Metode Spiral. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Putut Murdanto, S.T., M.T (2) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D. Kata Kunci: Metode spiral, fluiditas, hasil coran, struktur mikro Alumunium dapat dibentuk dengan proses penuangan atau pencetakan. Dalam proses penuangan alumunium sering terjadi cacat, baik itu berbentuk rongga ataupun pengerasan aluminium yang terlalu cepat sehinggga tidak mendapatkan hasil fluiditas yang baik. Disamping itu alumunium cair sangat peka terhadap terbentuknya oksidasi dipermukaan dan terperangkapnya gas-gas lain seperti hydrogen dalam cairan. Hal ini sangat merugikan dalam hal kualitas hasil penuangan, karena mengakibatkan penggetasan dan cacat-cacat. Hal ini harus ditanggulangi untuk mendapatkan hasil coran yang berkualitas. Salah satu cara untuk menanggulangi penggetasan dan cacat-cacat pada hasil coran aluminium adalah dengan memvariasi temperatur penuangan. Dengan variasi temperature penuangan tersebut diharapkan dapat memperbaiki fluiditas dan kualitas hasil coran. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh variasi temperatur penuangan dengan menggunakan metode spiral terhadap fluiditas, hasil coran, dan stuktur mikro paduan logam aluminium Al-Si. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen. Meto-de penelitian eksperimen bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi temperatur penuangan pada dengan menggunakan metode spiral terhadap fluiditas, hasil coran, dan struktur mikro paduan logam aluminium (Al-Si). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, uji fluiditas pada hasil coran tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan karena panjang rata-rata pada setiap spesimen memiliki hasil yang tidak berbeda jauh, yaitu panjang rata-rata pada temperature penuangan 650 ⁰C adalah 78,4 cm, panjang rata-rata pada temperature penuangan 700 ⁰C adalah 78,6 cm, panjang rata-rata pada temperature penuangan 750 ⁰C adalah 78,5 cm. Dari hasil uji foto makro hasil coran yang paling baik terdapat pada spesimen hasil coran dengan variasi temperatur penuangan 700 ⁰C. Pada spesimen hasil coran dengan variasi temperatur 700 ⁰C terjadi cacat coran cetakan rontok, cacat sirip, lubang jarum, dan rongga udara.Dari hasil uji struktur mikro yang telah dianalisis, hasil coran dengan variasi temperatur penuangan 750 ⁰C struktur mikronya lebih baik dibandingkan dengan variasi temperatur penuangan 650 ⁰C dan 700 ⁰C dikarenakan hasil coran dengan variasi temperatur penuangan 750 ⁰C struktur mikronya memiliki struktur dendrit yang lebih banyak
Perbedaan Ketangguhan dan Jenis Patahan pada Duralium Akibat Proses Artificial Aging dengan Variasi Media Pendingin Dromus Oil dan Air
ABSTRAK Puspitasari, Dewi. 2015. Perbedaan Ketangguhan dan Jenis Patahan pada Duralium Akibat Proses Artificial Aging dengan Variasi Media Pendingin Dromus Oil dan Air.Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Solichin, S.T., M. Kes. (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T. Ph.D. Kata Kunci : Duralium, Artificial Aging, Dromus oil, Ketangguhan, Jenis Patahan Duralium merupakan aluminium paduan yang terdiri dari aluminium, tembaga, silikon, dan magnesium. Duraliummemiliki sifat ringan, keuletan yang tinggi, dan juga sifat tahan korosi. Untuk mendapatkan sifat material yang kuat dan ulet perlu dilakukan heat treatment pada paduan ini dengan variasi media pendingin. Variasi media pendingin yang digunakan adalah media pendingin air, dromus oil 10% + air, dromus oil 20 % + air, dan dromus oil 30% + air. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui(1) ketangguhan pada duralium akibat proses artificial aging dengan variasi media pendingin air, dromus oil 10 % + air, dromus oil 20 % + air, dan dromus oil 30 % + air, (2) jenis patahan pada duralium akibat proses artificial aging dengan variasi media pendingin air, dromus oil 10 % + air, dromus oil 20 % + air, dan dromus oil 30 % + air, dan (3) perubahan fasa yang terjadi pada duralium akibat proses artificial aging dengan variasi media pendingin air, dromus oil 10 % + air, dromus oil 20 % + air, dan dromus oil 30 % + air. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Ditinjau dari jenis metode penelitian, maka jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian eksperimen. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang dilakukan dengan cara merangkum hasil penelitian dari pengamatan yang dilakukan. Data yang diperoleh berupa nilai rerata ditampilkan dalam bentuk tabel, dan histogram sehingga lebih mudah dibaca. Pengujian ketangguhan menggunakan mesin uji takik metode charpy dan jenis patahan diamati dari hasil foto mikro dan makro duralium. Hasil ketangguhan duralium hasil aging meningkat dari 0,0655 joule/mm2 ke 0,0820 joule/mm2 dan menurun menjadi 0,0710 joule/mm2. Hal ini disebabkan adanya presipitat yang terbentuk merata dari hasil aging akibat perbedaan media pendingin pada proses hardening. Patahan getas (brittle fracture) pada spesimen duralium akibat proses artificial aging dengan variasi media pendingin air. Patahan ulet (ductile fracture) pada spesimen duralium akibat proses artificial aging dengan variasi media pendingin dromus oil 20% + air, dan dromus oil 10% + air. Patahan campur (Mix fracture) pada spesimen duralium akibat proses artificial aging dengan variasi media pendingin dromus oil 30% + air. Pada penelitian ini, penemuan yang penting adalah bahwa perubahan fasa akibat proses agingjuga disebabkan adanya pengaruh perbedaan media pendingin pada proses sebelumnya (hardening)