SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    1608 research outputs found

    PENGARUH TINGKAT KEBISINGAN DAN PENCAHAYAAN TERHADAP KINERJA PADA KARYAWAN CV. MITRA JAYA MALANG

    No full text
    ABSTRACT Mochamad, Tachyudin. 2016. Pengaruh Tingkat Kebisingan dan Pencahayaan Terhadap Kinerja Pada Karyawan CV. Mitra Jaya Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Solichin, S.T., M.Kes. (II) Prof. Dr. Marji, M.KesKata Kunci: Kebisingan, Pencahayaan, KinerjaKebisingan dan pencahayaan merupakan suatu kesatuan yang ada di dalam lingkup area tempat kerja, lingkungan kerja haruslah sesuai dengan standart-standart yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dan juga lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja. Memperhatikan lingkungan kerja dalam hal ini di khususkan dalam kebisingan dan pencahayaan merupakan salah satu variabel yang dimungkinkan akan mempengaruhi tingkat kinerja dari karyawan suatu industri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) sejauh mana tingkat signifikansi pengaruh dari kebisingan terhadap kinerja karyawan pada CV. Mitra Jaya Malang (2) sejauh mana tingkat signifikansi pengaruh dari pencahayaan terhadap kinerja karyawan pada CV. Mitra Jaya Malang (3) sejauh mana tingkat signifikansi pengaruh dari kebisingan dan pencahayaan terhadap kinerja karyawan pada CV. Mitra Jaya Malang Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Sumber data diperoleh dari kebisingan yang terjadi di area kerja dan intensitas cahaya yang terjadi di area kerja. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan  alat bantu berupa sound level meter untuk mengetahui tingkat kebisingan yang terjadi dan lux meter yang digunakan untuk mengetahui intensitas cahaya yang terjadi sedangkan kinerja didapatkan dari angket yang disebar kepada seluruh karyawan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier berganda untuk mengetahui tingkat signifikansi variabel secara simultan dan uji regresi linier sederhana untuk mengetahui tingkat signifikansi antar varabel secara parsial. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kebisingan berpengaruh dengan tingkat signifikansi sebesar 0,021 terhadap kinerja karyawan, begitu juga dengan intensitas cahaya yang memiliki tingkat signifikansi 0,00 besarnya pengaruh terhadap kinerja karyawan. Secara simultan kebisingan dan pencahayaan berpengaruh secara signifikan sebesar 0,00 terhadap kinerja karyawan

    ANALISIS VARIASI BUTIR PASIR PEMBUATAN CETAKAN GREEN SAND MOLD DAN JENIS BAHAN PENGIKAT TERHADAP PERMEABILITAS CETAKAN

    No full text
    ABSTRACT Sujiwo, Iqbal Haudli. 2016. Analisis Variasi Butir Pasir Pembuatan CetakanGreen Sand Mold dan Jenis Bahan Pengikat terhadap PermeabilitasCetakan. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Mesin, JurusanTeknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Drs., H. Putut Murdanto, S.T., M.T, (II) Drs. Wahono,S.ST., M.Pd.Kata Kunci: Green Sand Mold, Butir Pasir, Bahan Pengikat, Permeabilitas.Green Sand Mold adalah jenis cetakan dalam pengecoran logam berbahanbaku pasir yang diberi pengikat dan memiliki kandungan air. Pengikat cetakanpasir yang umum digunakan adalah bentonit. Selama ini telah banyak penelitianyang membuktikan bahwa bentonit merupakan pengikat ideal bagi cetakan pasir,tetapi harga bentonit dipasaran tinggi. Produksi limbah tetes tebu masih banyakdimanfaatkan oleh petani sebagai pupuk organik dan makanan tambahan ternakserta sebagai bahan tambahan pada pabrik penyedap rasa (MSG), walaupun jauhsebelumnya tetes juga digunakan oleh masyarakat sebagai bahan campuran:pembuat pot tanaman, spesi dinding maupun pasangan pondasi. Dalam penelitianini, tetes tebu dimanfaatkan sebagai bahan additive untuk perbaikan sifat-sifatmekanis pada tanah lempung. Beberapa alasan pemilihan tetes tebu: Tetes tebumudah didapat dengan harga yang sangat murah, mempunyai sifat cair danlengket serta kekentalan dapat diatur sesuai dengan keinginan melaluipenambahan air, mampu berinteraksi dengan tanah melalui pori-pori danviskositasnya mampu merekatkan partikel-partikel tanah menjadi lebih solid dandapat mengeras, sehingga diharapkan mampu membentuk kekuatan tanah baru.Begitu juga dengan semen portland dimanfaatkan untuk campuran pembuatandinding ataupun untuk bangunan. Berdasarkan alasan tersebut maka secara teori,tetes tebu dan semen portland dapat digunakan sebagai pengikat cetakan pasir.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan variasi mesh danjenis bahan pengikat sebagai campuran pembuatan cetakan green sand moldterhadap permeabilitas dengan bentuk pre-experimental model one-shot case study.Green sand mold diberi treatment variasi butir basir dan jenis pengikat yangberbeda berupa bentonit, semen portland dan tetes tebu. Langkah pengujiandiawali dengan pengujian permeabilitas. Pengujian permeabilitas menggunakanPermeability Tester untuk mengetahui volume udara yang berhasil dialirkancetakan tiap menit (ml/cm3menit).Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh dua informasipenting. Pertama, nilai permeabilitas terendah dimiliki oleh cetakan pasir dengancampuran a) 85% Pasir sungai mesh 40 dengan bahan pengikat semen portland,b) 85% Pasir sungai mesh 50 dengan bahan pengikat semen portland. Hal inidisebabkan kadar ataupun bahan pengikat semen portland seimbang denganvariasi mesh diatas, sehingga ruang antar butir pasir semakin sempit diisi olehkedua pengikat tersebut. Meskipun nilai permeabilitas yang dimiliki cetakan initerendah, tetapi permeabilitasnya paling ideal diantara dua perlakuan lain (antara50-170 ml/cm3menit). Kedua, Hasil penelitian menunjukkan bahwa Permeabilitasdari semua cetakan hanya ada dua spesimen yang memnuhi nilai permeabilitasideal. Hal ini disebabkan karena pengaruh beberapa faktor yang menyebabkan viipermeabilitas tinggi maupun turun, yaitu bentuk pasir, besaran butir pasir, kadarpengikat, jenis pengikat dan cara pembuatanya.viiiABSTRACT Sujiwo, Iqbal Haudli. 2016. The Variation Analysis of Grain Sand Size for GreenSand Mold and The Binding Material Type against the MouldPermeability. Thesis, Mechanical Engineering Department, MechanicalEngineering Program, Faculty of Engineering, State University ofMalang. Advisors: (I) Drs., H. Putut Murdanto, S.T., M.T, (II) Drs.Wahono, S.ST., M.Pd.Keywords: Green Sand Mold, Grain Sand, Materials Fastener , Permeability.Green Sand Mold is a type of molding into foundry which is has a basicmaterial of sand which is given by binder and it contains of water. The binder castof sand which is commonly used is bentonite. All this time, there are a lot ofresearchs give many proof that bentonite is one of the ideal binder cast of sand,but the price of bentonite is expensive. The production of molasses is still widelyused by farmers as an organic fertilizer and supplementary feeding of livestockand also as an additional materials for factory-flavor enhancer (MSG), althoughmuch earlier molasses are also used by the many societies as a mixture-materialslike: plants pot maker,the species of walls or a pair of foundation. In this research,the molasses are used as an additive materials for improvement of the mechanicalcharacter of clay. There are some reasons for selecting molasses: molasses areobtainable in a low prices easily, it has a liquid characteristic and sticky and alsothe viscosity can be arranged according to your preferences with addition ofwater, able to interact with the ground through the pores and the viscosity are ableglueing soil particles become more solid and can be solidified, so that it can becreate fervency of the new soil. In line with portland cement that is used forcompounding of making wall or building. Based on these reasons, this theory,molasses and portland cement can be used as a binder cast of sand.This research is aimed to analyze the use variety of mesh and any types ofbinders as an ingredients for making green sand molds concerning permeabilitywith the shape of pre - experimental model one -shot case study . Green sandmold is applied by basir grain variation and different types of binders such asbentonite , portland cement and molasses . The step of the test is begun withpermeability trial . Permeability trial is using permeability tester to determine thevolume of air which is successfully pointed mold in every minute (cm3/minutes) .Based on the research that has been practiced, there are two importantinformations. First , the lowest value of permeability is owned by sand cast with amixture of a) 85 % sand mesh 40 with material for binder of portland cement, b)85% sand mesh 50 with material binder of portland cement . This is causedgrade or material binder of portland cement are balance with a variety of meshabove , so that the space between the grains of sand are getting narrower filled bythe two of binders . Although the permeability value of this cast having the lowestgrade , but they have an most ideal permeability between the two of othertreatments ( between 50-170 ml / cm3 minutes). Second, the result of this researchshow that the permeability of all the cast only have two of the specimens thatcomplete the ideal permeability value. This case is caused the influence of somefactors that causing the high or low permeability, and they are sand shape,quantity of grain sand, grade of binder, the types of binder, and the way how to produce

    Perbedaan Kekuatan Tarik Dan Jenis Patahan Pada Sambungan Las GMAW Baja karbon Rendah (ST 37) Akibat Proses Normalizing

    No full text
    ABSTRACT Himawan, Citrakara Upendra S.B.K. 2016. Perbedaan Kekuatan Tarik Dan Jenis Patahan Pada Sambungan Las GMAW Baja karbon Rendah (ST 37) Akibat Proses Normalizing.  Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yoto, S.T., M.Pd., M.M. (II) Dr. Widiyanti, M.Pd.Kata Kunci : Baja Karbon Rendah (ST 37), Normalizing, Kekuatan Tarik, Jenis PatahanLogam akan mengalami pengaruh pemanasan akibat pengelasan dan mengalami perubahan struktur mikro disekitar daerah lasan. Bentuk struktur mikro bergantung pada temperatur tertinggi yang dicapai pada pengelasan, kecepatan pengelasan, dan laju pendinginan daerah lasan. Pada saat proses pemanasan benda kerja akan mengembang dan akan mengkerut pada proses pendinginan. Keseimbangan kecepatan pengembangan dan pengkerutan dapat mempengaruhi sifat bahan dan meninggalkan beban dalam benda kerja. Disamping terjadinya perubahan bentuk struktur mikro yang dengan sendirinya terjadi regangan maka terjadi juga tegangan yang sifatnya tetap yang disebut dengan tegangan sisa. Tegangan sisa dapat menurunkan nilai keuletan benda, meningkatkan kegetasan benda, dan dapat menurunkan sifat fatik benda. Tegangan sisa dapat dihilangkan dengan cara perlakuan panas (Normalizing).Spesimen uji yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil lasan baja karbon rendah (ST 37) mengunanakan las GMAW. Jenis baja ini merupakan baja karbon rendah dengan kandungan C 0,25 %, Si 0,05 %, P 0,05 %, dan Cu 0,2 %. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental yang dilakukan dilaboratorium. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh variasi suhu normalizing terhadap perbedaan nilai kekuatan tarik dan jenis patahan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan terhadap nilai kekuatan tarik dan jenis patahan pada tiap peningkatan suhu, pada spesimen tanpa normalizing memiliki nilai rata-rata kekuatan tarik 35,197 Kg/mm2, normalizing pada suhu 750 oC memiliki nilai rata-rata kekuatan tarik 36,14 Kg/mm2  dan memiliki sifat getas, normalizing pada suhu 800 oC memiliki nilai rata-rata kekuatan tarik 35,555 Kg/mm2  dan memiliki sifat sedikit ulet, dan normalizing suhu 850 oC memiliki nilai rata-rata kekuatan tarik 36,242 Kg/mm2  dan memiliki sifat getas. Hasil penelitian ini terjadi disebabkan karena setelah dilakukan proses normalizing ukuran butir menjadi seragam dan tegangan sisa yang terbentuk akibat dari persebaran panas yang tidak merata menjadi berkurang. Pada penelitian ini, penemuan yang penting adalah bahwa peningkatan suhu normalizing  dapat mengurangi tegangan sisa yang terjadi dan meningkatkan nilai kekuatan tarik pada hasil lasan.ABSTRACT Himawan, Citrakara Upendra S.B.K. 2016. Tensile Strength and Type of Fracture Differences On the Result Low carbon steel (ST 37) GMAW Welds due Normalizing process. Essay, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Supervisors: (I) Dr. Yoto, S.T., M.Pd., M.M. (II) Dr. Widiyanti, M.Pd.Keywords: Low Carbon Steel (ST 37), Normalizing, Tensile Strength, ToughnessMetals will have the effected by heating due to the welding and micro-structural changes around the weld region. Shape microstructure depends on the highest temperature reached in the welding, welding speed, and the cooling rate of the weld region. During the process of heating the workpiece expands and constricts the cooling process. Balance development speed and shrinkage can affect material properties and leave the burden of the workpiece. Besides the change in shape of the microstructure which itself happens strain then there is also tension that are still called residual stress. Residual stress can decrease the value of tenacity objects, increase the brittleness of objects, and can reduce the fatigue properties of objects. Residual stress can be eliminated by heat treatment (Normalizing).Test specimens used in this study is the result of the weld low carbon steel (ST 37) using GMAW welding. This type of steel is low carbon steel containing 0.25% C, 0.05% Si, 0.05% P and 0.2% Cu. The method in this study using quantitative research methods. The design study is an experimental research conducted in laboratory. Data analysis techniques used in this research is descriptive analysis. The results showed that there are significant variations in the temperature of normalizing the difference in the value of tensile strength and type of fracture. The results showed an increase in the value of tensile strength and type of fracture for each increase in temperature, the specimen without normalizing has the average value of the tensile strength of 35.197 Kg/mm², normalizing at a temperature of 750 °C has an average value of tensile strength of 36.14 Kg/mm² and have a brittle fracture, normalizing at a temperature of 800 °C has an average value of tensile strength 35.555 Kg/mm² and has a ductile fracture, and normalizing temperature of 850 °C has an average value of tensile strength 36.242 Kg/mm² and has a brittle fracture. The results of this study occurred due after the normalizing process into a uniform grain size and residual stress formed due to uneven heat distribution is reduced. In this study, the important finding is that the normalizing temperature increase can reduce residual stress and increases tensile strength values on the outcome of the weld

    Studi Tingkat Kebisingan Bengkel saat Praktik Tune-up Motor Bensin Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRACT Ahmad, Asrul Muwafik. 2016. Studi Tingkat Kebisingan Bengkel saat Praktik Tune-up Motor Bensin Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Marji, M.Kes., (II) Drs. Paryono, S.T., M.T.Kata Kunci : kebisingan, tune-up, otomotifKebisingan sering terjadi saat melakukan praktik tune-up motor bensin. Untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang kebisingan ruang praktik tune-up motor bensin maka peneliti melakukan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat kebisingan bengkel saat praktik tune-up motor bensin mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang; (2) pengaruh tingkat kebisingan bengkel saat praktik tune-up motor bensin terhadap mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang; dan (3) keadaan bengkel praktik tune-up motor bensin mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang.Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Kebisingan dapat diukur dengan menggunakan alat Sound Level Meter atau aplikasi Sound Meter yang telah dikalibrasi. Penelitian dilakukan di bengkel praktik Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang, pada bulan Mei 2016 dengan jumlah responden 19 orang. Rancangan penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan menggunakan observasi dan angket, kemudian dianalisis menggunakan analisis statistik menggunakan Microsoft Excel 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan bengkel sebesar 88,125 dB. Angka menunjukkan bahwa ruang praktik dalam keadaan bising.  Sedangkan dari hasil angket, sebesar 65,33% dari responden merasa cukup terganggu dengan kebisingan diruang bengkel praktik tune-up motor bensin. Deskripsi ruang praktik tune-up¬ menunjukkan bahwa ruang praktik tersebut belum cukup memenuhi kenyamanan dan keamanan pelaku praktik. Berdasarkan penelitian dapat disarankan bagi pelaku praktik, hendaknya menggunakan alat pelindung diri saat melakukan praktik; bagi jurusan teknik mesin dan pengelola bengkel praktik, hendaknya memperhatikan dan menerapkan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi para pelaku praktik; bagi peneliti selanjutnya, hendaknya dilakukan penyempurnaan untuk memperkaya kajian ilmu tentang kebisingan diruang praktik

    Uji Kinerja Instalasi Pelapisan Logam Nikel Ditinjau dari Hubungan Ketebalan Lapisan dan Variasi Tegangan pada Medium Carbon Steel

    No full text
    ABSTRAK Dermawan, Lutfi. 2016. Uji Kinerja Instalasi Pelapisan Logam Nikel Ditinjau Dari Hubungan Ketebalan Lapisan dan Variasi Tegangan Pada Medium Carbon Steel. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Wahono, S. ST., M.Pd. (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T. Ph.D. Katakunci : Electroplating, variasi arus, tebal lapisan Electroplating merupakan suatu proses pengendapan zat atau ion-ion logam pada eletrtoda katoda (negatif) dengan cara elektrolisis. Hasil dari elektrolisis tersebut akan mengendap pada elektroda negatif/katoda. Terjadinya suatu endapan pada proses ini disebabkan adanya ion-ion bermuatan listrik yang berpindah dari suatu elektorda melalui elektrolit. Endapan yang terjadi bersifat adhesif terhadap logam dasar. Pelapisan logam mempunyai berbagai tujuan, diantaranya adalah supaya tahan korosi, penampilannya bagus, mengkilap dan cemerlang dari segi estetika. Proses pelapisan dipengaruhi oleh rapat arus, konsentrasi larutan, temperatur dan waktu pelapisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil kinerja dari rangkaian electroplating sederhana dengan menggunakan nikel sebagai logam pelapis dan spesimen medium carbon steelsebagai logam yang dilapisi. Penelitian ini ditulis dengan hasil analisis dari beberapa perlakuan electroplating yang menggunakan temperatur larutan 54-56 oC, lama pencelupan 10 menit dan 3 variasi tegangan arus yaitu 2 volt, 4 volt dan 6 volt berdasarkan tinjauan pustaka yang ada. Hasil electroplating dengan menggunakan tegangan arus 2 volt diperoleh data rata-rata ketebalan lapisan sebesar 9,2 µm, untuk penggunaan tegangan 4 volt diperoleh data rata-rata sebesar 12,1 µm, sedangkan penggunaan tegangan 6 volt diperoleh data rata-rata sebesar 18,9 µm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar tegangan yang digunakan maka tebal lapisan logam nikel pada medium carbon steel meningkat dengan rata-rata penambahan lapisan sebesar 18,9 µm. Pada hasil electroplating terdapat beberapa cacat lapisan seperti peeling, rough deposite dan pitting ABSTRACT Dermawan, Lutfi. 2016. Nickel Metal Coating Installation Performance Test Observed by Voltage Correlation Variation Effect onCoating Thickness in Medium Carbon Steel. Thesis, Departemen of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Supervisors: (I) Drs. Wahono, S.ST., M.Pd. (II) rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T. Ph.D. Keywords : Electroplating, current variation, thick layer Elecroplating is a process of metal deposition on the cathode electrode (negative) by electrolysis. The result of that electrolysis was forming sediment on the cathode electrode (negative).  The sediment was formed in this process caused by ions that loads electricity that moved from electrode by electrolit. The formed sediment is adhesively to base metal.Metal plating has a variety of purpose, such as corrosion resistant, well appearance, shiny, and high aestetic value. Electroplating process was affected by current density, concentration, temperatute, and holding time of the electroplating process. The purpose of this research was to knows the result of performance of simple electroplating instalation using nickel as a metal coating and medium carbon steel specimen as a metal that coated by nickel. This research was made from analysis result fromsome electroplating treatments that used liquid temperature about 54-55 oC, holding time that used was 10 minutes, and 3 variations of electricity voltage was 2 volt, 4 volt, and 6 volt based on a literature review. Electroplating result that used voltage 2Vresulted average of thickness 9,2 µm.Result of electroplating that used voltage 4Vresulted average of thickness 9,2 µm. Result of electroplating that used voltage 6Vresulted average of thickness 18,9 µm. The result of research shows if the larger voltage that used then the thickness of nickel coating on the medium  carbon steel was increased with an average of added layers 18,9 µm. There are some defects such as peeling layers, rough deposite and pitting in electroplating result

    Analisis Variasi Komposisi Fly Ash dan Bentonit pada Pengikat Cetakan Pasir terhadap Permeabilitas, Kekuatan Tekan dan Fluiditas Green Sand Mold

    No full text
    ABSTRAK Herwido, Novinda Tegar. 2016. Analisis Variasi Komposisi Fly Ash dan Bentonit pada Pengikat Cetakan Pasir terhadap Permeabilitas, Kekuatan Tekan dan Fluiditas Green Sand Mold. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs., H. Putut Murdanto, S.T., M.T, (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D. Kata Kunci: Green Sand Mold, Bentonit, Fly Ash, Permeabilitas, Kekuatan Tekan, Fluiditas Green Sand Mold adalah jenis cetakan dalam pengecoran logam berbahan baku pasir yang diberi pengikat dan memiliki kandungan air. Pengikat cetakan pasir yang umum digunakan adalah bentonit. Selama ini telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa bentonit merupakan pengikat ideal bagi cetakan pasir, tetapi harga bentonit dipasaran tinggi. Produksi limbah abu bekas pembakaran batu bara (fly ash) di Indonesia melimpah membuat harga fly ash lebih ekonomis dan mudah diperoleh. Bentonit dan fly ash dilihat dari senyawa penyusun memiliki kemiripan yaitu kandungan CaO (lempung). Berdasarkan alasan tersebut maka secara teori, fly ash dapat digunakan sebagai pengikat cetakan pasir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan fly ash sebagai campuran pengikat terhadap permeabilitas, kekuatan tekan dan fluiditas dengan bentuk pre-experimental model one-shot case study. Green sand mold diberi treatment variasi kadar pengikat berupa fly ash dan bentonit. Langkah pengujian diawali dengan pengujian permeabilitas. Pengujian permeabilitas menggunakan Permeability Tester untuk mengetahui volume udara yang berhasil dialirkan cetakan tiap menit (cm3/menit). Setelah itu dilanjutkan pengujian kekuatan tekan menggunakan Universal Sand Strength untuk mengetahui kemampuan cetakan menahan tekanan dari aliran logam cair tiap satuan luas (N/cm2). Terakhir untuk pengujian fluiditas dilakukan dengan metode Birmingham. Melalui metode ini dapat diketahui panjang alir lelehan logam (mm) yang dapat mengisi pola cetakan dengan ketebalan berbeda. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh tiga informasi penting. Pertama, nilai permeabilitas terendah dimiliki oleh cetakan pasir dengan campuran fly ash 4% dan bentonit 5%. Hal ini disebabkan kadar bentonit dan fly ash hampir seimbang sehingga ruang antar butir pasir semakin sempit diisi oleh kedua pengikat tersebut. Meskipun nilai permeabilitas yang dimiliki cetakan ini terendah, tetapi permeabilitasnya paling ideal diantara dua perlakuan lain (antara 50–170 cm3/menit).  Kedua, nilai kekuatan tekan dari semua cetakan pasir tinggi (diatas 0–1,0 kg/cm2). Kekuatan tekan yang tinggi berdampak pada pembongkaran yang sulit tetapi cetakan terhindar dari kerontokan. Tetapi seiring dengan penambahan fly ash, nilai kekuatan tekan semakin menurun. Hal ini disebabkan karena kadar CaO yang berlebih membuat reaksi cementing agent tidak sempurna. Ketiga, Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluiditas dari semua cetakan tidak ada yang sesuai pola. Hal ini disebabkan karena temperatur penuangan yang terlalu rendah sehingga berpengaruh pada kekentalan logam, salah alir, dan sumbat dingin. ABSTRACT Herwido, Novinda Tegar. 2016. Analyze the Composition of Variation Fly Ash and Bentonite in the Binder of Molding Sand Permeability, Compressive Strength and Fluidity of Green Sand Mold. Thesis, Mechanical Engineering Department, Mechanical Engineering Program, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisors: (I) Drs., H. Putut Murdanto, S.T., M.T, (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D. Keywords: Green Sand Mold, Bentonite, Fly Ash, Permeability, Compressive Strength, Fluidity Green Sand Mold is a type of molding in foundry sand raw material which has binder and contains water. Molding sand binder which commonly used is bentonite. Previous studies showed that bentonite is an ideal binder for sand molding, yet the price is quite high in the market. The production of coal burning ashes (fly ash) in Indonesia is high thus it makes the price of fly ash more economical and can be obtained easily. Bentonite and fly ash have similar CaO  compound (clay). Based on this reason, theoretically, fly ash can be used as a binder in sand molding. This study aimed to analyze the use of fly ash as a binder mixture to the permeability, compressive strength and fluidity to form pre-experimental model of a one-shot case study. Green sand mold treatment was given binder content variation in the form of fly ash and bentonite. The pre test began with permeability testing. Permeability testing used permeability tester to determine the flowed air volume per minute (cm3/minutes). Compressive strength testing was used Universal Sand Strength to determine the ability of molds to withstand the pressure of the molten metal flow per unit area (N/cm2). Fluidity testing conducted by the Birmingham method. Through this method, it could be revealed the melted metal flow length (mm) which filled molds pattern with varying thickness. Based on this research, there were three important information. First, the value of the lowest permeability was owned by a sand mold with a mixture of 4% fly ash and 5% bentonite. It was caused by the similarity of bentonite and fly ash amount therefore the space between the grains of sand was narrower if it was filled by two binders. Although the permeability owned by this molds was low, but it had the most ideal permeability among  the two other treatments (between 50–170 cm3/minutes). Second, the value of the compressive strength of all the sand mold was high (above 0–1.0 kg/cm2). High compressive strength affected disassembly difficulty but it avoid mold loss. However, the more fly ash added, the value of compressive strength was decreased. This was due to the excess of CaO content which made the cementing agent reaction was imperfect. Third, the results showed that the fluidity of all molds was not suit the pattern at all. It was caused by the low pouring temperature that affected viscosity metal, false flow, and cold plug

    Uji Kinerja Instalasi Pelapisan Logam Nikel Dengan Electroplating Sederhana Ditinjau Dari Pengaruh Temperatur Terhadap Ketebalan dan Warna Lapisan Pada Medium Carbon Steel

    No full text
    ABSTRACT Dwiana, Ressa Anggita. 2016. Uji Kinerja Instalasi Pelapisan Logam Nikel Dengan Electroplating Sederhana Ditinjau Dari Pengaruh Temperatur Terhadap Ketebalan dan Warna Lapisan Pada Medium Carbon Steel. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Wahono, S.S.T., M.Pd. (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T. Ph.DKata kunci: Electroplating, variasi temperatur, tebal lapisan, warna lapisan.Electroplating merupakan suatu proses pengendapan zat atau ion-ion logam pada elektroda katoda (negatif) dengan cara elektrolisis. Terjadinya suatu endapan pada proses ini disebabkan adanya ion-ion bermuatan listrik yang berpindah dari suatu elektroda melalui elektrolit. Proses electroplating dipengaruhi oleh tegangan arus, temperatur dan waktu pencelupan. Endapan yang terjadi bersifat adhesif terhadap logam dasar. Pelapisan logam sendiri mempunyai berbagai tujuan, diantaranya adalah supaya tahan korosi, penampilannya bagus, mengkilap, dan cemerlang dari segi estetika. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pelapisan . Faktor pertama yang mempengaruhi lapisan adalah temperatur. Faktor kedua yang mempengaruhi lapisan adalah voltase. Faktor ketiga yang mempengaruhi lapisan adalah konsentrasi larutan. Faktor terakhir yang mempengaruhi lapisan adalah waktu pelapisan. Penelitian untuk mengetahui hasil kinerja dari rangkaian electroplating sederhana dengan menggunakan nikel sebagai logam pelapis dan spesimen medium carbon steel sebagai logam yang dilapisi. Artikel ini ditulis dengan hasil analisis dari beberapa perlakuan electroplating sederhana yang menggunakan variasi temperatur larutan 45 °C, 55 °C, dan 65 °C lama pencelupan 5 menit dan voltase yaitu 4 volt. Untuk ketebalan lapisan yang paling tinggi adalah pada temperatur 65 °C dengan ketebalan 8,6 µm. Sedangkan ketebalan paling rendah adalah pada temperatur 45 °C dengan ketebalan 5,6 µm. Semakin tinggi temperatur maka kadar warna akan semakin meningkat. Warna paling gelap pada hasil electroplating nikel adalah pada temperatur 65 °C.ABSTRACK Dwiana, Ressa Anggita. 2016. Nickel Coatings Installation Performance Test using Simple Electroplating in terms of Temperature Effect against Layer Thickness and Layer Colour of Medium Carbon Steel. Thesis, Mechanical Engineering Department, Engineering Faculty, Universitas Negeri Malang. Supervisors: (I) Drs. Wahono, S.S.T., M.Pd. (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T. Ph.DKeywords: Electroplating, temperature variations, layer thickness, layer color. Electroplating was a process of metal deposition on cathode electrode (negative) by electrolysis. Deposition in this electroplating caused by electrically charged ions moving from one electrode through electrolytes. The depositions were adhesive towards basic metals. Electroplating process affected by current density, temperature and coating time. Metal coatings have various purposes, such as corrosion resisting, glistening metal, and improving appearance for aesthetic purpose. There are several factors affecting the process of metal coatings. The first factor that affecting metal coating process is temperature. The second factor that affecting metal coating process is electric voltage. The third factor that affecting metal coating process is the concentration of liquid, and the last one factor that affecting metal coating process is plating holding time. This research intended to examine the result of simple electroplating instalation using nickel as a metal coating and medium carbon steel specimens as the coated metals. The research made of different treatments of simple electroplating with temperature variations of 45 °C, 55°C, and 65°C, 5 minutes of dip-coating and 4 volt of electric voltage. The analysis result shows highest thickness value was at a temperature of 65 °C that resulted 8.6 µm thickness, while the lowest thickness value was at a temperature of 45 °C with 5.6 µm thickness. The result of research shows that higher temperature used in electroplating process then resulted the higher color level. The darkest color in electroplating process for nickel was at a temperature of 65 °C

    PROSES CONJECTURING SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH GENERALISASI POLA

    No full text
    ABSTRACT Sutarto, 2016. Proses Conjecturing Siswa dalam Pemecahan Masalah Generalisasi Pola. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Promotor: Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si., Ko-Promotor I: Dr. Subanji, M.Si., Ko-Promotor II: Dr. Sisworo, M.Si.Kata Kunci: Proses conjecturing, pemecahan masalah, generalisasi pola.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses conjecturing siswa dalam pemecahan masalah generalisasi pola berdasarkan teori APOS. Subjek penelitian ini adalah 27 siswa kelas VIII SMP. Pengumpulan data dilakukan dengan dua tahap menggunakan instrumen bantu yaitu Tugas Pemecahan Masalah Generalisasi Pola (TPMGP) dan wawancara. Pada tahap pertama, siswa menyelesaikan TPMGP sambil think alouds, peneliti fokus mengamati kegiatan siswa melalui komputer sambil menulis catatan penting yang akan dikonfirmasi pada saat wawancara. Pada tahap kedua, wawancara berbasis tugas untuk mendalami dan mengklarifikasi proses conjecturing yang dilakukan siswa serta menjaring data yang belum diperoleh melalui think alouds. Data yang telah diperoleh tersebut di analisis dengan tahapan mentranskrip data, mereduksi data, kategorisasi data, menggambar struktur berpikir, dan membuat kesimpulan.Hasil penelitian tentang proses conjecturing siswa dalam pemecahan masalah generalisasi pola terdiri dari proses global conjecturing dan proses local conjecturing. Proses global conjecturing dalam pemecahan masalah generalisasi pola, terjadi pada tahap aksi, dimana siswa mengamati dan mengorganisir kasus secara utuh sebagai dasar untuk membangun konjektur. Pada tahap proses, siswa melakukan interiorization aksi untuk mencari dan memprediksi pola yang  dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya. Pada tahap objek, siswa melakukan encapsulation proses atau de-encapsulation untuk merumuskan konjektur secara simbolik dan selanjutnya melakukan validasi konjektur untuk mengetahui kebenaran dari konjektur yang dihasilkan tetapi tidak secara umum. Pada tahap skema, siswa menggeneralisasi konjektur dan selanjutnya membentuk skema baru, yaitu rumus atau aturan umum pola.  Proses local conjecturing dalam pemecahan masalah generalisasi pola terjadi pada tahap aksi, dimana siswa mengamati dan mengorganisir kasus secara terpisah sebagai dasar untuk membangun konjektur. Pada tahap proses, siswa melakukan interiorization aksi untuk mencari dan memprediksi pola yang  dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya. Pada tahap objek, siswa melakukan encapsulation proses atau de-encapsulation untuk merumuskan konjektur secara simbolik dan selanjutnya melakukan validasi konjektur untuk mengetahui kebenaran dari konjektur yang dihasilkan tetapi tidak secara umum. Pada tahap skema, siswa menggeneralisasi konjektur dan selanjutnya membentuk skema baru, yaitu rumus atau aturan umum pola. Proses local conjecturing dikelompokkan menjadi dua, yaitu proses local conjecturing berdasarkan proximity dan local conjecturing berdasarkan contrast. Proses local conjecturing berdasarkan proximity adalah proses membangun konjektur berdasarkan faktor kedekatan, sedangkan proses local conjecturing berdasarkan contrast adalah proses membangun konjektur berdasarkan faktor perbeda

    Uji Kinerja Instalasi AnodizingDitinjau dari Pengaruh Variasi Voltase terhadap Warna dan Ketebalan Lapisan

    No full text
    ABSTRACT Akbar, Faesal Cahya.2016. Uji Kinerja Instalasi Anodizing Ditinjau dari Pengaruh Variasi Voltase terhadap Warna dan Ketebalan Lapisan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Wahono, S.ST., M.Pd, (II) Prof. Dr. Waras, M.Pd Kata kunci: Anodizing, Oksida, Voltase.Anodizing aluminium merupakan pembentukan lapisan oksida pada permukaan aluminium yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan korosi, meningkatkan adhesi cat, meningkatkan ketahanan abrasi pada aluminium, dan memperbesar emisivitas. Pada penelitian ini akan diteliti pengaruh variasi voltase terhadap warna dan ketebalan lapisan hasil anodizing, untuk itu diperlukan suatu instalasi yang digunakan untuk proses anodizing. Instalasi anodizing yang dibuat harus mengacu pada instalasi anodizing yang terdapat pada Industri dan teori-teori yang berhubungan dengan anodizing, maka dari itu diperlukan uji kinerja instalasi anodizing terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan proses penelitian pengaruh voltase terhadap warna dan ketebalan lapisan. Uji kinerja instalasi anodizing bertujuan untuk memastikan bahwa instalasi anodizing yang dibuat sesuai dengan standar. Standar yang diperhatikan dalam uji kinerja instalasi anodizing adalah ketebalan lapisan dan warna yang dihasilkan. Berdasarkan hasil uji coba, instalasi tersebut dapat memenuhi standar ketebalan lapisan sesuai dengan ketebalan lapisan standar EAA karena instalasi tersebut dapat menghasilkan ketebalan lapisan >5 µm, dan warna yang dihasilkan sesuai dengan standar industri karena menghasilkan warna yang relatif sama dengan hasil anodizing pada industri. Pada penelitian ini yang variabel bebasnya adalah variasi voltase yang digunakan pada proses anodizing, masing-masing sebesar 3 volt, 6 volt, 9 volt, dan 12 volt.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan voltase, maka semakin tinggi pula ketebalan lapisan yang dihasilkan. Ketebalan lapisan yang paling tinggi dihasilkan pada anodizing dengan penggunaan voltase 12 volt sebesar 8,67 µm. Dalam pengujian warna yang dilakukan didapatkan hasil  bahwa penggunaan voltase yang semakin tinggi akan menghasilkan warna pada permukaan lapisan oksida yang semakin gelap. Warna yang paling gelap dihasilkan pada  hasil anodizing dengan penggunaan voltase 12 volt  dengan presentase warna key sebesar 54 %.ABSTRACT Akbar, Faesal Cahya.2016. Performance Test of Anodizing Installation in Terms of The Effect of Voltage Towards Color and Layer Thickness, Faculty of Engineering, State University of Malang. Supervisors: (I) Drs. Wahono, S.ST., M.Pd, (II) Prof. Dr. Waras, M.Pd Key word: Anodizing, oxide, voltage Aluminium anodizing is an oxide layer estabilishment on aluminium surface which intend to improve corrosion resistance, improve the adhesion of paint, increase abrasion resistance on aluminium and enlarge emissivity.Aluminum Anodizing is an oxide layer estabilishment on the aluminum surface which aims to improve the corrosion resistance, improves the adhesion of paint, increases abrasion resistance on aluminum, and increase the emissivity. This research investigate the influence of voltage variations on result of color and anodizing coating thickness, it is necessary for an installation that used for the anodizing process. Anodizing Installation that made should refer to the anodizing installation that contained in Industrial and related theories to anodizing, then it is necessary anodizing instalation performance test first and then proceed with the research of the influence of voltage variation on the color and coating thickness. Anodizing instalation performance test aims to ensure that the anodizing installation that made is accordance with the standards. Standards that considered in the performance test installation is anodizing coating thickness and color result. Based on the result of test, the instalation can be reached the standard coating thickness that appropiate with the EAA standard of coating thickness because the installation can produce a layer thickness > 5 μm, and the colors which produced was appropiate with industrial standard for produce colors that was relatively similar to the results of anodizing on the industry. In this research, the independent variables are voltage variations that used in the anodizing process, each at 3 volt, 6 volt, 9 volt and 12 volt. Results of research showed that the higher voltage use, resulting the higher coating thickness. The highest layer thickness generated in anodizing voltage of 12 volts which resulting 8,67 µm coating thickness. In the testing of color showed result that the use of higher voltage produce darken color on the surface of oxide layer. The darkest color on the result generated by the use of anodizing voltage at 12 volts with the key color percentage of 54%

    Pemahaman Tenaga Kerja Las Terhadap Bahaya Asap pada saat Proses Pengelasan di Bengkel Las Kota Malang

    No full text
    ABSTRACT Setiawan, Agung. 2016. Pemahaman Tenaga Kerja Las Terhadap Bahaya Asap pada saat Proses Pengelasan di Bengkel Las Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Yoto, S.T., M.Pd., M.M. (II) Drs. Yuni Sunarto, M.Pd.  Kata Kunci: Tenaga kerja, Las, Asap. Adanya Asap las merupakan salah satu bahaya yang ditimbulkan pada saat proses pengelasan untuk mencegah timbulnya penyakit dari asap tersebut tenaga kerja haruslah mempedulikan perlindungan diri, terutama perlindungan pernafasan. Pemahaman tenaga kerja las tentang dampak yang ditimbulkan dari bahaya asap sangat perlu ditingkatkan, hal ini karena tenaga kerja las bersentuhan langsung dengan aktifitas pengelasan. Pemahaman tenaga kerja las terhadap bahaya asap las dapat diketahui secara umum, berdasarakan tingkat pengetahuan  tenaga kerja itu sendiri tentang bahaya asap, pemahaman tenaga kerja terhadap berbagai dampak asap las pada kesehtan, dan cara tenaga kerja las dalam mengatasi bahaya asap las.Dalam pelaksanaan penelitian ini terdapat beberapa tujuan untuk mendeskripsikan tentang keadaan yang terjadi dilapangan, diantaranya adalah: (1) Pemahaman tenaga kerja las terhadap bahaya pada saat proses pengelasan, khususnya bahaya asap las, (2) Untuk mengetahui bagaimanakah pemahaman tenaga kerja las terhadap berbagai dampak bahaya asap las pada kesehatan, (3) Untuk mengetahui pemahaman tenga kerja las dalam mengatasi bahaya asap pengelasan dibengkel las kota Malang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan  rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis menurut model statistik, maka penelitian ini termasuk penelitian deskriptif karena bertujuan menggambarkan keadaan dari suatu variabel. Teknik penggalian informasi dalam penelitian ini menggunakan angket yang disebar kepada setiap responden yang telah ditentukan. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 143 tenaga kerja las dari 12 bengkel las yang berada di Kota Malang. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 43 tenaga kerja las.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tenaga kerja las di Kota Malang adalah pria dan tergolong dalam batasan usia 19-54 tahun. Selain itu kondisi fisik tenaga kerja berada  dalam keadaan normal atau tidak cacat, dengan gaji rata-rata sebesar Rp. 1.500.000 – Rp. 2.000.000 per bulan. Sedangkan ditinjau dari tingkat pendidikan persentase tertinggi adalah SMP sebesar 44,2%. Jadi dapat disimpulkan pendidikan yang di tempuh tenaga kerja las di Kota Malang masih cukup rendah.Selain itu, berdasarkan analisis diketahui bahwa (1) Secara umum sebagian besar dari tenaga kerja las sudah paham akan bahaya dari asap las, hal ini ditunjukkan dari persentase jawaban yang mencapai hingga 100%,(2) Tenaga kerja las masih kurang paham tentang dampak bahaya asap, persentase jawaban tersebut 81,4%, sedangkan jawaban yang menyatakan paham sebesar 16,3%, dan persentase jawaban tidak paham hanya 2,3%, (3) Tenaga kerja las di Kota Malang telah memahami cara mengatasi bahaya asap las. Pemilik dari bengkel las seharusnya perlu memberikan arahan sebelum bekerja terhadap pentingnya bahaya yang ditimbulkan dari proses pengelasan. Pemilik bengkel las harus bisa meningkatkan kesadaran para tenaga kerja akan pentingnya menggunakan alat keselamatan dan kesehatan. Selain itu, pemilik bengkel juga bisa mengikutsertakan tenaga kerja dalam pelatihan tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Peran pemerintah juga sangat penting, pemerintah bisa memberikan pemeriksaan secara rutin terhadap kesehatan tenaga kerja

    0

    full texts

    1,608

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇