SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1608 research outputs found
Sort by
PENGARUH VARIASI ARUS LISTRIK PADA LAS SMAW SAMBUNGAN V SUDUT 60O DENGAN ELEKTRODA STAINLESS STEEL E308 TERHADAP KEKUATAN TARIK, KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO
ABSTRACT Basuki, Moh. Astono. 2016. Pengaruh Variasi Arus Listrik pada Las SMAW Sambungan V Sudut 60o dengan Elektroda Stainless Steel E308 Terhadap Kekuatan Tarik, Kekerasan dan Struktur Mikro. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sukarni, S.T., M.T, (II) Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd.Kata Kunci: SMAW, kekuatan tarik, kekerasan, variasi arus listrik, austenitic stainless steel 304.Shielded Metal Arc Welding (SMAW) atau las busur nyala listrik adalah proses pengelasan dengan busur nyala listrik dimana panas diperoleh dari busur nyala yang memancar antara elektroda (dengan selubung flux) dan benda kerja. SMAW merupakan las yang banyak digunakan industri, di bengkel-bengkel besar maupun kecil. Selain digunakan untuk pengelasan logam besi baja, las SMAW juga dapat digunakan untuk pengelasan baja tahan karat atau stainless steel. Dari beberapa jenis stainless steel, austenitic stainless steel merupakan jenis yang mempunyai sifat mampu las lebih baik dibanding dengan jenis yang lainnya. Dalam pengelasan SMAW terdapat parameter diantaranya arus listrik pengelasan yang dapat mempengaruhi sifat mekanik dari hasil lasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan tarik dan kekerasan sambungan las stainless steel pengelasan SMAW dengan variasi arus listrik pengelasan 60, 80, dan 100 Ampere.Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental. Sedangkan desain penelitiannya adalah penelitian eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis one way annova. Objek penelitian ini adalah austenitic stainless stell 304 yang diberikan perlakuan yakni pengelasan SMAW dengan variasi arus listrik pengelasan 60, 80, dan 100 Ampere kemudian di uji kekuatan tarik dan uji kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan rerata kekuatan tarik sambungan las dengan arus listrik 60 Ampere adalah 59,578 kg/mm2, dengan arus listrik 80 Ampere adalah 61,849 kg/mm2, dan dengan arus listrik 100 Ampere adalah 63,031 kg/mm2. Rerata kekerasan sambungan las dengan arus listrik 60 Ampere pada daerah parent metal 90,83 HRB, HAZ 91,5 HRB, weld metal 91,83 HRB, dengan arus listrik 80 Ampere pada daerah parent metal 90,16 HRB, HAZ 90,83 HRB, weld metal 92 HRB, dan dengan arus listrik 100 Ampere pada daerah parent metal 90,33 HRB, HAZ 86,83 HRB, weld metal 89,23 HRB. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kekuatan tarik dan kekerasan sambungan las dari proses pengelasan SMAW akibat variasi arus listrik pengelasan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dari variasi arus listrik pengelasan pada proses pengelasan SMAW terhadap nilai kekuatan tarik dan kekerasan pada austenitic stainless steel 304
Perbedaan Emploiabilitas Antara Tamatan Yang Pernah Mengikuti Dengan Yang Tidak Pernah Mengikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Di Kota Probolinggo
ABSTRACT PERBEDAAN EMPLOIABILITAS ANTARA TAMATAN YANG PERNAHMENGIKUTI DENGAN YANG TIDAK PERNAH MENGIKUTI LOMBAKOMPETENSI SISWA (LKS) SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)NEGERI DI KOTA PROBOLINGGOSofyan SauriDr. H. Syamsul Hadi, M.Pd., M.EdDrs. H. Sumarli, M.Pd MTUniversitas Negeri MalangEmail: [email protected] era globalisasi dunia kerja akan memprioritaskantamatan SMK yang menguasai aspek soft skill dan hard skill terlebihlagi tamatan yang memiliki prestasi di sekolah. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui adakah perbedaan emploiabilitas antaratamatan yang pernah mengikuti dengan yang tidak pernah mengikutiLomba Kompetensi Siswa (LKS) Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) Negeri Di Kota Probolinggo. Rancangan penelitian yangdigunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan teknikanalisis Uji t Independent. Bertujuan untuk mengetahui perbedaanemploiabilitas antara tamatan yang pernah mengikuti dengan yangtidak pernah mengikuti LKS. Variabel emploiabilitas dibagi menjadi3 sub variabel yaitu gaji pertama, masa tunggu mendapatkanpekerjaan, dan kesesuaian bidang keahlian. Hasil penelitianmenunjukkan terdapat adanya perbedaan emploiabilitas antaratamatan yang pernah mengikuti dengan yang tidak pernah mengikutiantara lain: (1) Perbedaan gaji pertama yang diperoleh padapekerjaan pertama tamatan yang pernah mengikuti dengan yangtidak pernah mengikuti LKS SMK Negeri di kota Probolinggodengan nilai signifikasi Sig. (2-tailed) .001, (2) Perbedaan masatunggu mendapatkan pekerjaan pertama tamatan yang pernahmengikuti dengan yang tidak pernah mengikuti LKS SMK Negeri dikota Probolinggo dengan nilai signifikasi Sig. (2-tailed) .012, dan (3)Perbedaan kesesuaian bidang keahlian dengan pekerjaan pertamatamatan yang pernah mengikuti dengan yang tidak pernah mengikutiLKS SMK Negeri di kota Probolinggo nilai signifikasi Sig. (2-tailed).014. Saran untuk sekolah yaitu: (1) Agar selalu menyertakan siswasiswinyapada ajang lomba apapun (LKS dan lain-lain), dan (2)Berusaha semaksimal mungkin dalam membangun tamatan yangberprofesional guna untuk mampu bersaing dengan tamatan laindalam memperoleh pekerjaan yang layak. Kata kunci: Emploiabilitas, Lomba Kompetensi Siswa (LKS
IDENTIFIKASI TINGKAT KEKERASAN PADUAN Al-Si YANG DI-QUENCHING DENGAN VARIASI MEDIA PENDINGIN DAN WAKTU PENCELUPAN
ABSTRAK IDENTIFIKASI TINGKAT KEKERASAN PADUAN Al-Si YANG DI-QUENCHING DENGAN VARIASI MEDIA PENDINGIN DAN WAKTU PENCELUPANPamungkas, Yuli Cahyo. 2016. Identifikasi Tingkat Kekerasan Paduan Al-Si yang Di-Quenching dengan Variasi Media Pendingin dan Waktu Pencelupan. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Wahono, S.ST., M.Pd., (II) Prihanto Trihutomo, S.T., M.T.Kata Kunci: paduan Al-Si, quenching, media pendingin, waktu pencelupanPaduan non-ferro Al-Si merupakan material non ferro yang sangat lazim digunakan di bidang manufaktur. Paduan ini memiliki beberapa keunggulan, yakni kekerasannya memadai, dan untuk persentase paduan tertentu dapat dikeraskan. Penelitian ini akan mengkaji tentang pengaruh berbagai media pendingin pendinginan terhadap tingkat kekerasan paduan Al-Si.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kekerasan paduan Al-Si yang di-quench menggunakan media pendingin variasi campuran air-oli Mesran SAE 40, air-oli Mesran SAE 50, dan Oli Mesran SAE 40-SAE 50 dengan variasi waktu pencelupan.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan jenis kuatitatif yang datanya dianalisis dengan statistik deskriptif dan divisualisasikan dengan grafik.Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Tingkat kekerasan Al-Si pada proses quenching menggunakan media pendingin campuran 90% oli Mesran SAE 40 dan perbandingan 10% air dengan lama pencelupan 5 menit, 10 menit, dan 15 menit, masing-masing 57,54 V, 58,01 HV, dan 58,15 HV, (2) tingkat kekerasan Al-Si pada proses quenching menggunakan media penggunakan pendingin campuran 10% oli Mesran SAE 50 dan perbandingan 90% air dengan lama pencelupan 5 menit, 10 menit, dan 15 menit, masing-masing 57,61 HV, 58,03 HV, dan 58,25 HV, dan (3) tingkat kekerasan Al-Si pada proses quenching menggunakan media penggunakan pendingin campuran 50% oli Mesran SAE 50 dan perbandingan 50% oli Mesran SAE 40 dengan lama pencelupan 5 menit, 10 menit, dan 15 menit, masing-masing 57,71 HV, 58,18 HV, dan 58,28 HV. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan sebagai berikut;(1) Perlu adanya tindak lanjut untuk penelitian berikutnya dengan berbagai variasi waktu pencelupan yang penulis belum lakukan, misalnya variasi dengan waktu yang lebih lama, (2) perlu adanya tindak lanjut untuk penelitian berikutnya dengan lebih menambah kadar garam, untuk mengetahui perubahan sifat mekanisnya, (3) perlu dilakukan pengujian lain selain pengujian kekerasan dengan menggunakan Mikro Vickers, dan (4) perlu dilakukan pengujian lain dengan berbagai bahan yang lebih bervariasi. Misalnya dilakukan uji tarik dan uji struktur mikro
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan pada Mata Pelajaran Teknologi Dasar Otomotif I Semester Genap di SMK Negeri 1 Singos
ABSTRAK Saputra, Agus. 2016. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan pada Mata Pelajaran Teknologi Dasar Otomotif I Semester Genap di SMK Negeri 1 Singosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd (II) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T Kata Kunci: Model Pembelajaran Berbasis Kooperatif Tipe Numbered Heads Together dan Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi pada kelas X TKR di SMK Negeri 1 Singosari yang dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2016 diperoleh informasi bahwa dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Teknologi Dasar Otomotif 1 menggunakan model pembelajaran langsung dengan metode ceramah, sehingga siswa kurang tertarik dalam mengikuti pelajaran dan akhirnya menyebabkan siswa melakukan aktifitas di luar konteks pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran sangat menentukan kualitas pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran Teknologi Dasar Otomotif 1 dan karakteristik siswa kelas X TKR di SMK Negeri 1 Singosari adalah model pembelajaran berbasis kooperatif tipe Numbered Heads Together. Model pembelajaran Numbered Heads Together merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siwa kelas X program keahlian Teknik Kendaraan Ringan pada mata pelajaran Teknologi Dasar Otomotif I semester genap di SMK Negeri 1 Singosari antara diajar menggunakan model pembelajaran berbasis kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan diajar menggunakan model pembelajaran langsung dengan metode ceramah. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasy eksperiment atau eksperimen semu. Subyek pada penelitian ini adalah kelas X TKR 4 sebanyak 33 siswa sebagai kelas eksperimen dan X TKR 1 sebanyak 33 siswa sebagai kelas kontrol. Subyek penelitian ini memiliki kemampuan awal yang sama berdasarkan pada data nilai UTS sebelum penelitian ini dilakukan. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran langsung dengan metode ceramah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas eksperimen yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together memperoleh rata-rata nilai hasil belajar sebesar 67,42, nilai tertinggi sebesar 95 dan nilai terendah sebesar 40. Sedangkan siswa kelas kontrol yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran langsung dengan metode ceramah memperoleh rata-rata nilai hasil belajar sebesar 50,76, nilai tertinggi sebesar 75 dan nilai terendah sebesar 25.
Analisis Pengaruh Variasi Temperatur Pengecoran HPDC Terhadap Tingkat Ketangguhan Al-Si Cu.
ABSTRAK Assaat, Muhammad Ilham Aryakusuma. 2016. Analisis Pengaruh Variasi Temperatur Pengecoran HPDC Terhadap Tingkat Ketangguhan Al-Si Cu. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T. Ph.D. (II) Drs. H. Putut Murdanto, S.T., M.T., Kata kunci: Pengecoran HPDC (High Pressure Die Casting), temperatur tuang, ketangguhan bahan Pengecoran merupakan proses pembentukan dari bahan logam. Ada beberapa proses yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Seiring perkembangan zaman yang semakin moderen, jenis pengecoran yang dikembangkan juga semakin bervariasi. Salah satu jenis pengecoran yang banyak digunakan pada pabrik-pabrik pengecoran logam dan besi ialah jenis pengecoran High Pressure Die Casting (HPDC). Alasan pemakaian cetakan logam sebagai pengganti cetakan pasir ialah karena kebutuhan dunia industri terhadap logam dan besi begitu banyak sehingga estimasi waktu dan kualitascoran menjadi keunggulan tersendiri pada pengecoran HPDC ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur tuang dengan bahan paduan aluminium-tembaga pada pengecoran HPDC terhadap tingkat ketangguhan hasil coran. Selain itu juga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan yang ada pada hasil coran dan melihat bentuk patahan dari pengujian ketangguhan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental yang melihat hasil dari sebuah perlakuan terhadap suatu kelompok spesimen. Setelah diberikan perlakuan, spesimen akan dianalisa dimulai dari pelepasan hasil coran dari cetakan logam, pengujian ketangguhan (impact test) pada setiap spesimen, dan juga foto mikro untuk melihat struktur yang terkandung pada hasil coran. Selain itu dilakukan pula analisa bentuk patahan yang terjadi setelah pengujian ketangguhan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari uji ketangguhan bahan paduan aluminium-tembaga menunjukan spesimen temperatur tuang 900˚C pada pengecoran HPDC memiliki nilai ketangguhan tertinggi yaitu sebesar 0,079 Joule/mm2, hasil ini diperkuat juga oleh bentuk patahan saat uji ketangguhan dimana bentuk patahan yang terjadi pada spesimen ini merupakan bentuk patahan yang sangat getas. Adapun data yang hasil kualitas yang dang diperoleh saat foto mikro menunjukan bahwa spesimen temperatur tuang 900˚C memiliki kandungan aluminum dan tembaga yang terlihat lebih solid dan lebih menyatu dengan struktur yang lainnya
Manajemen Perawatan Laboratorium Pemesinan Pada Program Keahlian Teknik Mesin di SMK se-Kota Madya Malang
ABSTRAK Rozabiyadi, Virly Vebrian. 2016. Manajemen Perawatan Laboratorium Pemesinan Pada Program Keahlian Teknik Mesin di SMK se-Kota Madya Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Widiyanti, M.Pd., (II) Dr. H. Yoto, S.T., M.Pd., M.M. Kata Kunci : manajemen perawatan, perawatan laboratorium, laboratorium pemesinan, teknik mesin Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya fasilitas mesin bubut konvensional di beberapa Laboratorium Pemesinan SMK Kota Madya Malang yang tidak digunakan dalam pembelajaran praktikum. Mesin bubut konvensional yang rusak tersebut menjadi penghambat kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik tidak dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal dan berpengaruh pada keterampilan peserta didik dalam mengoperasikan mesin bubut konvensional. Perawatan pada mesin bubut sangatlah penting agar dapat digunakan dengan jangka waktu yang panjang, menjaga kondisi dan kualitas mesin, dan menghindari kerugian ketika mesin tiba-tiba mengalami kerusakan secara mendadak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perencanaan perawatan, pengorganisasian perawatan, penggerakkan pera-watan dan pengendalian perawatan terhadap mesin bubut konvensional di Laboratorium Pemesinan SMK Se-Kota Madya Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantatif dengan teknik pengambilan populasi atau sampel tertentu yaitu berdasarkan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang telah terakreditasi di Kota Madya Malang. Sampel penelitian terdiri dari 33 guru Program Keahlian Teknik Mesin dan laboran Pemesinan dari SMK se-Kota Madya Malang, diantaranya ialah 12 orang dari SMK Negeri 6 Malang, 6 orang dari SMK PGRI 3 Malang, 5 orang dari SMK Nasional Malang, 2 orang dari SMK Muhammadiyah 1 Malang, 4 orang dari SMK YP 17-1 Malang, dan 4 orang dari SMK Pekerjaan Umum Malang. Teknik pengumpulan data dilakukan oleh peneliti secara langsung menggunakan angket dengan skala pengukuran selalu (skor 4), sering (skor 3), terkadang (skor 2) dan tidak pernah (skor 1). Hasil penelitian yang telah didapat dianalisis secara statistik deskriptif dan hasil pengolahan tersebut selanjutnya dipaparkan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, manajemen perawatan mesin bubut konvensional telah dilakukan di masing-masing Laboratorium Pemesinan SMK se-Kota Madya Malang. Dari 33 jumlah sampel yang terdiri dari guru produktif Program Keahlian Teknik Mesin dan laboran Pemesinan SMK se-Kota Madya Malang yang selalu melakukan manajemen perawatan mesin bubut konvensional sebanyak 38,28% atau 13 orang, yang sering melakukan sebanyak 29,4% atau 10 orang, yang terkadang melakukan sebanyak 26% atau 8 orang, dan yang tidak pernah melakukan sebanyak 6,32% atau 2 orang. Dengan adanya manajemen perawatan terhadap mesin bubut konvensional diharapkan kepada siswa untuk dapat meng-embangkan keterampilan dalam mengoperasikan dan ikut serta dalam merawat mesin bubut konvensional, kepada guru diharapkan lebih memperhatikan dan membantu pengembangan keterampilan siswa dalam mengoperasikan mesin bubut konvensional, kepada kepala bengkel perlu mengembangkan manajemen perawatan mesin bubut konvensional agar mesin dapat digunakan dengan baik dalam jangka waktu yang panjang, dan kepada Kepala Sekolah perlu memperhatikan sarana pembelajaran yang ada agar tidak menghambat kegiatan belajar mengajar terutama di Laboratorium Pemesinan pada Program Keahlian Teknik Mesin di masing-masing SMK se-Kota Madya Malang
PENGARUH VARIASI KADAR TULANG SAPI SEBAGAI KATALISATOR ALTERNATIF PADA METODE PACK CARBURIZING DAN TEMPERING TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA ST 42
Baja St 42 tergolong dalam baja karbon rendah, proses heat treatment yang cocok untuk meningkatkan kekerasannya adalah carburizing. Carburizing memiliki tiga metode yaitu pack, liquid, dan gas. Pada penelitian ini menggunakan pack carburizing dengan arang batok sebagai sumber karbon. Agar proses difusi karbon dapat maksimal maka perlu penambahan katalis. Katalisator yang digunakan adalah tulang sapi yang sudah dihaluskan menjadi serbuk. Tulang sapi berperan sebagai katalisator alternative pengganti senyawa kimia barium karbonat, natriumkar bonat, dan kalium karbonat. Untuk mendapatkan nilai kekerasan yang paling tinggi, maka dengan waktu pemanasan, penahanan, dan media pendingin yang sama, dalam penelitian ini kadar tulang sapi yang ditambahkan dibuat berbeda-beda yaitu 10%, 20%, dan 30%. Hal itu juga dilakukan untuk mengetahui penyebaran karbon yang terjadi setelah diberi perlakuan. Pack carburizing dilakukan pada temperature 900°C selama 90 menit dengan air sebagai media pendinginan. Untuk mencegah timbulnya korosi akibat proses pack carburizing maka dilakukan pemanasan kembali (tempering) pada temperature 200°C selama30 menit dan didinginkan di udara. Tujuan dalam penelitian ini adalah; (1) Mengetahui nilai kekerasan baja St 42 setelah pack carburizing, (2) Mengetahui nilai kekerasan baja St 42 setelah tempering, (3) Mengetahui pengaruh tulang sapi terhadap kekerasan baja St 42 setelah pack carburizing
pengaruh pemakaian bahan bakar premium dan pertamak terhadap daya mesin dan kadar emisi gas buang pada sepeda motor supra x 125 cc
ABSTRACT Iwantaka, Bayu. 2016. Pengaruh Pemakaian Bahan Bakar Premium DanPertamax Terhadap Daya Mesin Dan Kadar Emisi Gas Buang Pada SepedaMotor Supra X 125 Cc. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Fakultas TeknikUniversitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Paryono, S.T.,M.T.(II) Drs. Partono, M.Pd.Keyword: Premium, Pertamax, Daya Mesin, Emisi Gas BuangTujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Mengetahuiadanya perbedaan yang signifikan pada kadar emisi gas buang sepeda motorhonda supra x 125cc saat menggunakan bahan bakar premium dan pertamax. (2)Mengetahui adanya perbedaan yang signifikan pada daya mesin sepeda motorhonda supra x 125 cc saat menggunakan bahan bakar premium dan pertamax.Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitianpre experimental yang termasuk dalam kategori one shot case study. Penelitihanya mengadakan treatment satu kali yang diperkirakan sudah mempunyaipengaruh (Arikunto, 2013: 124). Pengujian pada penelitian ini dilaksanakan diPPPTK VEDC, JL. Teluk Mandar Arjosari, Malang. Di PPTK VEDC, penelitimengadakan uji daya mesin dan uji kadar emisi gas buang menggunakanpremium - pertamax.Hasil analisis dayamesin dapat diperoleh nilai probabilitas signifikan tsebesar 0.459 lebih kecil dari 0,5. Nilai thitung sebesar -0.748. Memiliki signifikasinegatif yang berarti bahwa dengan penggunaan premium –pertamax nilai dayamesin bertambah maka nilai kadar emisi gas buang CO dan HC akan berkurang.Begitu pula sebaliknya, jika kadar emisi gas buang CO dan HC bertambah makadaya mesin akan berkurang. Hasil analisis emisi gas buang CO, diperoleh nilaiprobabilitas signifikan t sebesar 0000 lebih kecil dari 0,5. Nilai thitung sebesar6.900 dengan nilat t tabel sebesar 2,021 yang berarti premium- pertamaxmemiliki pengaruh yang signifikan pada emisi gas buang CO. Hasil analisis emisigas buang HC, diperoleh nilai probabilitas signifikan t sebesar 0000 lebih kecildari 0,5. Nilai thitung sebesar 5.354 dengan nilat t tabel sebesar 2,021 yang berartipremium- pertamax memiliki pengaruh yang signifikan pada emisi gas buang HCBerdasarkan hasil penelitian maka, tidak ada pengaruh yang signifikanpenggunaan bahan bakar premium dan pertamax terhadap daya mesin MotorSupra X 125 cc. Dan ada pengaruh yang signifikan premium dan pertamaxterhadap kadar emisi gas buang Motor Supra X 125 ccvHal ini sejalan dengan hasil penelitian Sururi (2013) yang menyatakan dayatertinggi yang dihasilkan oleh premium dan pertamax besarnya sama dan jugapada putaran mesin yang sama. Hal ini juga berarti bahwa penggunaan bahanbakar pertamax dengan mesin standart tidak memberikan peningkatan daya yangsignifikan. Hasil penelitian yang relevan dengan pendapat Sururi adalah hasilpenelitian Surono (2013) yang menyatakan penggunaan bahan bakar pertamaxmaupun premium menghasilkan daya yang hampir sama. viABSTRACT Iwantaka, Bayu. 2016. Effect of Fuel Premium and Pertamax to Power MachineryAnd Exhaust Emission Levels In Motorcycles Supra X 125 Cc. Thesis,Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, StateUniversity of Malang. Supervisor: (i) Drs. H. Paryono, S.T., M.T. (II)Drs. Faiz, M.Pd.Keyword: Premium, Pertamax, Power Machines, Exhaust EmissionsThe objectives of this research were: (1) Knowing there were significantdifferences in the levels of exhaust emissions of motorcycles honda supra x 125ccwhen using premium fuel and pertamax. (2) Knowing there were significantdifferences in engine power of motorcycles honda supra x 125 cc use premiumfuel and pertamax.The research design in this research was pre experimental research. Thereseach included in the category of one-shot case study. Researchers only holdone treatment is estimated to have an influence (Arikunto, 2013: 124). A test forthe research was conducted in PPPTK VEDC, JL. Mandar Bay Arjosari, Malang.In PPTK VEDC, researchers holding power test and test engine exhaust emissionlevels using premium - pertamax.The results of the analysis of the engine power can be obtained by value tby 0459 a significant probability of less than 0.5. Value t -0748. From the result, itknown that engine power has a negative significance, which means that whenengine power value increases, the value of exhaust emission levels of CO and HCwill be reduced. Vice versa, if the levels of exhaust emissions of CO and HCincrease the engine power will be diminish.The results of the analysis of exhaust emissions of CO, obtained asignificant probability value t was smaller than 0.5. T value was 6900 with gradesof t table 2.021, which means premium - pertamax have a significant effect onexhaust emissions CO. The results of the analysis of HC exhaust emissions, asignificant probability values obtained t for 0000 was smaller than 0.5. T value of5354 with grades of t table 2.021 which means premium- pertamax have asignificant influence on the exhaust emissions of HCBased on the research results, there was no significant effect of the usepremium-pertamax fuel to engine power for Motor Supra X 125 cc. And there wasa significant influence on the premium and pertamax exhaust emission levels forMotor Supra X 125 ccThis result was in line with the results of research by Sururi (2013) whichstates the highest power generated by the premium and pertamax equal and as the viisame level at engine speed. It also means that the use of fuel pertamax withstandard machines do not provide a significant increase to power. The results ofSururi opinions relevant to the result of research by Surono (2013) which statesthat the use of fuel as well as premium pertamax produce nearly the same power
Perbandingan Hasil Belajar Siklus Mesin Konversi Energi Otto Pada Siswa Yang Diajar Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Picture And Picture Dan Model pembelajaran Direct Learning Siswa Kelas X SMK Negeri 12 Malang
ABSTRACT Perbandingan Hasil Belajar Siklus Mesin Konversi Energi Otto Pada Siswa Yang Diajar DenganMenggunakan Model Pembelajaran Picture And Picture Dan Model pembelajaran DirectLearning Siswa Kelas X SMK Negeri 12 MalangKata kunci : model pembelajaran picture and picture,model pembelajaran direct learning,hasilbelajarDapat dipahami bawasannya pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengajadirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untukmeningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal tersebut perlu ditingkatkan kualitas sumberdaya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah. Pengkajian proses pembelajaranmenuju kearah yang lebih efektif dan efisien tidak terlepas dari peranan guru sebagai ujungtombak pembelajaran di sekolah. (UU No.20 tahun 2003). Maka demi mewujudkan pendidikanyang sesuai tujuan tersebut peneliti membandingkan dua model pembelajaran yang paling efektifModel pembelajaran picture and picture, model pembelajaran ini mengandalkan gambarsebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalamproses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambaryang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar.Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT dalam menggunakan Power Point atau softwareyang lainModel pembelajaran direct learning adalah model pembelajaran yang menekankan padapenguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif,dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1)Transformasi dan ketrampilan secara langsung.(2)Pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu. (3)Materi pembelajaran yang telah terstuktur.(4)Lingkungan belajar yang telah terstruktur.(5)Distruktur oleh guru.Penelitian ini menggunakan metode eksperiment semu (Quasy Eksperimental Design)dengan post test only control group design. Rancangan ini digunakan karena pada prosesnyatidak dilakukan randomisasi sampel secara sesungguhnya. Pada penelitian ini diambil dua kelasdengan cara cluster random sampling. Satu kelas sebagai kelas eksperimen dikenai perlakuandengan menggunakan model pembelajaran picture and picture, sedangkan satu kelas lagi sebagaikelas kontrol dikenai dengan menggunakan model pembelajaran langsung (direct learning).Hasil belajar pada hakikatnya yaitu berubahnya perilaku siswa meliputi kognitif, afektif,serta psikomotoriknya. Sehingga setiap guru pastinya akan mengharapkan agar hasil belajarpeserta didiknya itu meningkat setelah melakukan proses pembelajaran. Dengan adanyaperbandingan hasil belajar tersebut maka akan terlihat mana yang lebih baik diantara keduanyaditinjau kedua kelompok homogeny (sama), proses, guru, dan waktu keduanya sama. Maka hasilbelajar siswa dengan kompetensi mesin konversi energi kelas X TKR dapat disimpulkan yangdilakukan perlakuan model pembelajaran picture and picture lebih baik dari pada yang dilakukan perlakuan model pembelajaran direct learning
AnalisisPengaruhVariasiPreheating CetakanCorTerhadapCacatCorandanKekuatanTarik padaPaduanAluminium-Tembaga (Al-Cu)
ABSTRAK Saputra, Syahrul. 2016. AnalisisPengaruhVariasiPreheating CetakanCorTerhadapCacatCorandanKekuatanTarik padaPaduanAluminium-Tembaga (Al-Cu). Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Putut Murdanto, S.T., M.T. (II) Drs. Imam Sudjono, M.T. Kata Kunci : Al-Cu, Preheating CetakanCor, Cacat Makro, Struktur Mikro, AlumuniumTembaga(Al-Cu) merupakanpaduan aluminum yang digunakanuntukmeningkatkankekuatandankekerasan. Al-Cumemilikisifatpengisian yang lambatsaat proses feeding, sehinggamenyebabkanterjadinyacacatpenyusutan, sertamenurunkanfluiditascoran. PaduanAl-Cu mudahmenyerap gas hydrogen dariudaradisekitarnyayang dapatmenyebabkancacatporositas gas sehinngamenurunkankekuatanmekanisnya.Beberapafaktortersebutdapatdiantisipasidenganmempengaruhilajupendinginanataupembekuanmenggunakanpemanasancetakan. Sehinggadalampenelitianiniakandilakukanpreheatingcetakandengantemperatur135OC, 155OC dan 175OC.Pengujianyang dilakukanmeliputipemeriksaancacatpermukaan, pengamatanstrukturmikrodankekuatantarikdaricoran Al-Cu. Pengujiandilakukangunamengetahuipengaruhlajupendinginandanpembekuanakibat proses preheating terhadapkualitascoran Al-Cu. PenelitiandilakukandenganmeleburAlumuniumdantembagapadadapurcrusibelsecarabersamaan.Kemudiandilakukanpemanasanpadacetakanpasir diatastungkupemanassebagaitindakanpreheatingcetakanpasir. Selanjutnyalogamcairdituangpadamasing-masingcetakan yang dipanaskan. Variabelbebasdaripenelitianiniadalahvariasipreheatingyakni temperature 135OC, 155OC dan 175OCsertatemperaturkamarsebagaipembandingdalamkeadaan normal tanpaperlakuan. Sedangkanuntukvariabelkontrolmeliputikomposisipasircetak (pasirsilika80%, air 10% danbentonit 5%),temperaturpenuangan 700OC,sertapaduanlogamterdiridaricampuranAl 95%danCu 5%. Variabelterikatpenelitianiniadalahkualitaslogamcoranakibatpreheatingcetakan, yaitua) cacatcoran (cacatpermukaan), b) strukturmikro, danc) kekuatantarik.Instrumenpengujian yang digunakanadalahmikroskopoptikdanUniversal Test Machine(UTM). Hasilpenelitianmenunjukanbahwacacatpermukaan yang seringmunculadalahlubangjarumdanrontokpasir. Cacattersebutmunculdisetiapvariasi preheating cetakan. Temperaturcetakan155OCmemilikijumlahcacat paling sedikit.Kekuatantarikpadahasilcoranmengalamikenaikanpadatemperaturkamar(34.64 Kg/mm2) hinggatemperatur 155OC (38.95Kg/mm2). Selanjutnyamenurunpadatempeartur175OC (35.18 Kg/mm2). Sehinggadapatdikatakankekuatantarikmengalamifluktuasiseiringmeningkatnyatemperaturcetakan.Puncakkekuatantarikterjadipadacetakantemperatur 155OC. Kemudianuntukbutirmikroterlihatukuranfinnerpadacetakantemperaturkamardan 155OC kemudianberukurancoarsepadacetakantemperatur 135OC dan 175OC. ABSTRACT Saputra, Syahrul. 2016. Analysis of Effect Variation of Preheating of Casting Mold towards Casting Defects and Tensile Strength on Aluminum-Copper Alloy (Al-Cu). Thesis, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering,UniversitasNegeri Malang. Advisors: (I) Drs. H. PututMurdanto, S.T., M.T. (II) Drs. Imam Sudjono, M.T. Keywords: Al-Cu, Preheating of Casting Mold, Macro Defect, Microstructure Copper aluminum (Al-Cu) is an aluminum alloy that is used to increase the strength and hardness. Al-Cu has a characteristic that is slow charging when the process of feeding, thus causing the shrinkage defects, as well as lowering the fluidity of castings. Al-Cu alloy easily absorbs hydrogen gas from the surrounding air which can cause gas porosity defects so that it decreases the mechanical strength. Some of these factors can be anticipated to affect the rate of cooling or freezing using heating the mold. Thus, this study will be conducted with the mold preheating temperature of 135o C, 155o C and 175o C. The testing was conducted on the surface defect inspection, observation of microstructure, and tensile strength of Al-Cu casting. The testing was conducted to determine the effect of the rate of cooling and freezing due to the preheating of the quality of Al-Cu casting. The study was conducted by melting aluminum and copper in the crucible furnace simultaneously. Then, the mold of sand was heated on top of the boiler as a sand mold preheating action. Furthermore, the molten metal was poured in each heated mold. The independent variable of this research is a variation of the preheating temperature 135o C, 155o C, 175o C and room temperature as the comparison in normal circumstances without any treatment. For the control variables, it included the composition of molding sand (80% silica sand, 10% water and 5% bentonite), pouring temperature of 700o C, as well as metal alloy composed of a mixture of 95% Al and 5% Cu. The dependent variablef this study was the quality of the metal casting as a result of preheating the mold, namely a) the casting defects (surface defects), b) microstructure, and c) the tensile strength. The testing instruments used were optical microscopy and Universal Test Machine (UTM). The results showed that the surface defects that often raised were the pinhole and the loss of sand. The flaw appeared in every variation of preheating molds. Mold temperature of 155o C had the fewest number of defects. The tensile strength of the casting product raised at room temperature (34.64 Kg / mm 2) to a temperature of 155o C (38.95 Kg / mm2). Furthermore, it was declined at temperature of 175o C (35.18 Kg / mm2). So it can be said tensile strength fluctuated with the increasing of mold temperature. The top tensile strength occurred at mold temperature of 155o C. Then, for micro-grained was visible on finer mold size at room temperature and 155o C, then at coarse-grained was on the mold temperature of 135o C and 175o C.