SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1608 research outputs found
Sort by
PengaruhGaya BelajarterhadapHasilBelarSistem Pengapian Sepeda Motor Siswa Kelas XI di SMK PGRI Singosari
Hasil belajar merupakan tolak ukur siswa guna untuk mengetahui sampai sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami suatu materi.Dimana hasil belajar di pengaruhi beberapa faktor, yaitu internal (kepribadian, gayabelajar) dan eksternal (lingkungan, media pendidikan dan sarana).Diantaranya menjadi fenomena baru dikalangan akedemisi terkait faktor internal, yang mempengaruhi pemahaman materi mata pelajaran siswa diantaranya gaya belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Deskripsi Perbedaan gaya belajar dan hasil belajar; (2) Pengaruh Perbedaangaya belajar terhadap hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Deskriptif.Populasi yang dipilih adalah siswa kelas XI SMK PGRI Singosari sebanyak 99 siswa dan sampelnya sebesar 66 siswa.Pengambilan sampel dilakukan dengan metod eproportional random sampling.Skalapengukuranmenggunakan skala Likert dengan lima pilihan jawaban. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan 66 item pertanyaan dinyatakan valid dan reliabel.Berdasarkan hasil uji asumsi klasik, model regresi memenuhi asumsi normalitas dan layak untuk dipakai, tidak terjadi mutikolineritas,tidak terjadi heteroskedastisitas dan ketiga gaya belajar tersebut berdasarkan hasil belajarnya mempunyai varian yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara keragaman gaya belajar terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran pelajaran sistem pengapian sepeda motor di SMK PGRI Singosari. . Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan (1) Perlu adanya kemauan untuk berinteraksi antara teman maupun guru, serta dapat menyadari perbedaan kecenderungan gaya belajar yang terdiri dari gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik, sehingga dapat membantu cara belajar sasaran belajar yang efektif dan efisien, (2) Sebagai sumbangan pemikiran bagi guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa.Dengan mengetahui bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka guru lebih memberikan motivasi seperti memberitahu cara belajar dan gaya belajar yang sesuai dengan siswa, perhatian ke pada siswa yaitu dengan cara memperhatikan siswa yang aktif dan pasif, dan memberikan saran-saran kepadasiswa yang pasif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, (3) Bagi peneliti yang berminat untuk melakukan penelitian sejenis disarankan untuk memperhatikan hasil belajar yang digunakan dalam penelitan yaitu menggunakan nilai murni sebelum adanya remidian, perhatikan keseriusan dan ketepatan siswa dalam pengisian angket serta memperhatikan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi hasil belajar seperti factor eksternal dan internal.
Pengembangan Flipbook untuk Mata Pelajaran Pemeliharaan Sasis dan Pemindahan Tenaga
Pengaruh perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dewasa ini menuntut para pendidik untuk memanfaatkan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Sebagaimana diketahui bahwa media pembelajaran mempunyai kekuatan dalam mentransfer informasi, Flipbook dirasa baik dalam meningkatkan minat belajar dan membaca para siswa di SMKN 11 Malang. Dalam pengembangan model latihan ini peneliti menggunakan pengembangan Borg dan Gall. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Instrumen yang digunakan dalam pengembangan Flipbook pada mata pelajaran sasis dan pemindahan tenaga SMK N 11 Malang ini menggunakan kuisioner yang diberikan kepada para ahli dan siswa SMK N 11 Malang.Data hasil pengembangan media pada tahap uji kelayakan yang diperoleh dari ahli media (1 orang), ahli materi (1 orang), responden 3 orang untuk uji perorangan, dan 30 orang untuk uji lapangan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh empat simpulan hasil sebagai berikut. Pertama, validasi ahli media persentase kevalidanya mencapai 76%. Kedua, validasi ahli materi persentase kevalidanya mencapai 75%. Ketiga, hasil uji perorangan persentase kevalidanya mencapai 83%. Keempat, hasil uji lapangan persentase kevalidanya mencapai 90%. Menurut tabel kriteria penilaian penelitian yang dilakukan valid atau layak
Analisis Kekuatan Tarik dan Struktur Mikro Sambungan Las Baja ST 37 dengan Variasi Waktu Post Treatment Pengelasan SMAW
Proses penyambungan logam dengan pengelasan sudah sering diaplikasikan dalam industri fabrikasi. Salah satu jenis pengelasan yang banyak dipakai adalah Shielded Metal Arc Welding (SMAW). Namun harus diakui bahwa sambungan las juga memiliki kelemahan diantaranya adalah timbulnya lonjakan tegangan yang besar disebabkan oleh perubahan struktur mikro pada daerah sekitar las. Oleh karena itu diperlukan aplikasi post treatment untuk mengurangi tegangan sisa yang terkunci didalam suatu struktur sebagai akibat proses fabrikasi. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui berapa kekuatan tarik baja ST 37 hasil pengelasan SMAW akibat variasi waktu post treatment; (2) untuk mengetahui bagaimana struktur mikro baja ST 37 hasil pengelasan SMAW akibat variasi waktu post treatment; dan (3) untuk mengetahui keterkaitan kekuatan tarik, struktur mikro, dan jenis patahan baja ST 37 hasil pengelasan SMAW akibat variasi waktu post treatment. Spesimen uji yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil lasan baja ST 37 mengunanakan las SMAW. Proses post treatment pasca pengelasan menggunakan temperatur tinggi 6500C dengan variasi waktu (holding time) 60, 120, dan 180 menit. Analisis penelitian berupa hasil kekuatan tarik dan struktur mikro yang dijelaskan dalam bentuk deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa: (1) nilai kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh kelompok spesimen pengelasan baja ST 37 tanpa perlakuan sebesar 46.95 kg/ ; (2) nilai kekuatan tarik terendah dimiliki kelompok spesimen pengelasan baja ST 37 yang mengalami post treatment 180 menit sebesar 41.85 kg/ dengan persentase penurunan sebesar 12.1%; dan (3) pada kelompok spesimen pengelasan baja ST 37 yang mengalami post treatment 180 menit memiliki nilai regangan tertinggi sebesar 22.29% dengan persentase kenaikan 147,9%, hal ini terjadi karena dengan post treatment 180 menit struktur mikro bentuk dan ukuran butir ferrit pada baja ST 37 semakin membesar dan diikuti juga dengan perubahan ferrit widmanstatten menjadi accicular ferrit pada daerah HAZ (Heat Affected Zone) yang menandakan material tersebut ulet. Penemuan yang penting dalam penelitian adalah semakin lama waktu post treatment yang diberikan membuat material tersebut semakin ulet. Hal ini berkaitan dengan jenis patahan nampak kasar berwarna kelabu berserabut (fibrous), nilai regangan yang tinggi dan struktur mikro ferrit yang semakin besar diikuti juga dengan perubahan ferrit widmanstatten menjadi accicular ferrit pada daerah HAZ
PENGARUH PERUBAHAN SUDUT CAMSHAFT (LSA) TERHADAP DAYA DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA MOTOR 4 TAK 110 CC
ABSTRAKAmin, Wahyu Rofiul. 2016. Pengaruh Perubahan Sudut Camshaft (LSA) Terhadap Daya dan Konsumsi Bahan Bakar pada Motor 4 tak 110 CC. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Partono M.Pd., (2) Dr. Hj. Widiyanti, M.Pd.Kata Kunci: sudut camshaft (LSA), daya motor, konsumsi bahan bakarDari data AISI terbaru diperoleh data sebanyak 5,790,096 unit sepeda motor terjual pada Januari-September 2013, dan pada Januari-September 2014 sebanyak 6,046,344 unit. Dari total penjualan tahun 2014 kalau dirinci lagi berdasarkan area atau wilayah maka didapatkan 5 area penyumbang terbanyak periode Januari-September 2014 yaitu: Jawa Timur sebanyak 1,033,925 unit (17.1%), Jawa Barat sebanyak 1,009,945 unit (16.7%), DKI Jakarta sebanyak 858,581 unit (14.2%), Jawa Tengah 646,959 unit (10.7%), Sumatra Utara 344,641 (5.7%).Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, bentuk rancangan yang digunakan dalam penelitian eksperimental ini adalah post test only design. Penelitian ini menggunakan tiga buah camshaft, yaitu camshaft standart, Sudut camshaft dengan LSA 105°, dan camshaft dengan LSA 106°. Camshaft diuji menggunakan dynotest untuk mengetahui daya yang dihasilkan masing-masing camshaft dan diukur seberapa besar konsumsi bahan bakar dari masing-masing camshaft.Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan bahwa semakin besar sudut camshaft maka semakin besar pula daya yang dihasilkan dan konsumsi bahan bakar juga semakin banyak. Dapat dilihat untuk sudut chamshaf standart menghasilkan daya 8.132 HP di 7,000 Rpm, camshaft dengan LSA 105° menghasilkan daya sebesar 8.297 HP di 8,250 Rpm, dan camshaft dengan LSA 106° menghasilkan daya sebesar 9.009 HP di 8,000 Rpm. Konsumsi bahan bakar dari ketiga camshaft berbeda tetapi tidak signifikan, dapat dilihat untuk camshaft standart untuk menghabiskan 10 ml bahan bakar memerlukan waktu 19.39 detik di 1,500 Rpm dan 5.35 detik di 5,000 Rpm, camshaft LSA 105° memerlukan waktu 17.67 detik di 1,500 Rpm dan 5.10 detik di 5,000 Rpm, camshaft LSA 106° memerlukan waktu 18.18 detik di 1,500 Rpm dan 4.78 detik di 5,000 Rpm.Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa atau pihak lain yang akan melakukan penelitian lebih dalam mengenai perubahan sudut camshaft (LSA) . Untuk peneliti selanjutnya, bisa melakukan pengujian emisi gas buang, agar dapat diketahui apakah hasil pembakaran dalam kategori bagus apa kurang bagus dan dapat menambahkan perubahan pada tinggi lift camshaft sehingga dapat diketahui apakah ada kesamaan antara sudut camshaft dan tinggi lift.
Pengaruh Kecepatan Putaran Spindle, Kedalaman Pemotongan, dan Gerak Makan (Feed Rate) terhadap Keausan Pahat Insert Karbida pada Proses Pembubutan Baja AISI 304.
ABSTRAK Yazid, Miftahul Arif. 2017. Pengaruh Kecepatan Putaran Spindle, Kedalaman Pemotongan, dan Gerak Makan (Feed Rate) terhadap Keausan Pahat Insert Karbida pada Proses Pembubutan Baja AISI 304. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Imam Sudjono, M.T., (II) Drs. Yuni Sunarto, M.Pd. Kata Kunci: kecepatan putaran spindle, kedalaman pemotongan, gerak makan (feed rate), keausan pahat karbida Pembubutan merupakan suatu proses pemesinan yang bertujuan untuk membentuk material khususnya yang berbentuk silindris. Dalam pembubutan terdapat sejumlah masalah yang timbul dan dapat mengganggu berlangsungnya proses produksi, salah satunya adalah keausan pahat. Keausan pahat dapat mempengaruhi berlangsungnya proses produksi, sebab disamping memperlambat waktu produksi juga akan menambah biaya produksi apabila pahat yang digunakan terlalu cepat mengalami keausan. Keausan pahat dapat dipicu oleh bermacam-macam faktor, salah satunya adalah parameter pemotongan. Sehingga, untuk memaksimalkan proses produksi maka diperlukan penelitian terhadap keausan pahat berkaitan dengan penerapan parameter pemotongan. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode eksperimental. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kecepatan putaran spindle sebesar 370 rpm, 630 rpm, dan 920 rpm, kedalaman pemotongan sebesar .3 mm, .5 mm, 1 mm, dan gerak makan (feed rate) sebesar .050 mm/rev, .100 mm/rev, dan .200 mm/rev. Variabel terikat pada penelitian ini adalah keausan pada tepi pahat (flank wear). Variabel terkontrol dari penelitian ini adalah jumlah penyayatan sebanyak 4 dan 8 kali pada pembubutan material baja stainless AISI 304. Pahat yang digunakan adalah pahat insert karbida Tungaloy dengan seri WNMG080412-TM. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecepatan putaran spindle berpengaruh signifikan terhadap keausan pahat hasil pembubutan baja stainless AISI 304, sedangkan kedalaman pemotongan dan gerak makan (feed rate) tidak berpengaruh signifikan. Namun secara simultan, ketiga parameter tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap keausan pahat. Keausan minimal terjadi pada kedalaman pemotongan sebesar .3 mm dengan kecepatan putaran spindle sebesar 370 rpm dan gerak makan .050 mm/rev. Pada kedalaman pemotongan sebesar 1 mm keausan pahat pun masih minimum. Direkomendasikan pada langkah roughing dapat digunakan kecepatan putaran spindle yaitu 370 rpm, kedalaman pemotongan sebesar 1 mm dan gerak makan (feed rate) sebesar .200 mm/rev. Sementara pada putaran tinggi yaitu 920 rpm, kedalaman pemotongan sebesar .3 mm, dan gerak makan (feed rate) sebesar .050 mm/rev sehingga dapat direkomendasikan sebagai parameter pada pengerjaan finishing baja stainless AISI 304
Pengaruh Keaktifan Mahasiswa Berorganisasi dan Kualitas Praktik Industri terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Putra, Prisma Rian. 2017. Pengaruh Keaktifan Mahasiswa Berorganisasi dan Kualitas Praktik Industri terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang . Skripsi, Jurusan Teknik, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Sunomo, M.Pd., (2) Drs. Basuki, M.Pd. Kata Kunci: Keaktifan Berorganisasi, Praktik Industri, Kesiapan Kerja Kegiatan organisasi merupakan aktifitas mahasiswa yang dapat mengembangkan karakter, bakat, dan minat mahasiswa. Untuk membekali mahasiswa menghadapi dunia kerja, mahasiswa Program studi S1 Pendidikan Teknik Mesin wajib menempuh mata kuliah praktik industri karena tergolong kompetensi utama. Mahasiswa yang mempunyai karakter yang baik dan telah mendapatkan pengalaman praktik industri diharapkan mempunyai kesiapan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dua faktor tersebut yaitu pengaruh keaktifan mahasiswa berorganisasi dan kualitas praktik industri terhadap kesiapan kerja mahasiswa program studi S1 Pendidikan Teknik Mesin di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Variabel penelitian yang digunakan adalah keaktifan berorganisasi, kualitas praktik industri, dan kesiapan kerja. Populasi penelitian adalah mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang angkatan 2013 yang berjumlah 85 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel adalah teknik purposive sampling. Setelah diberikan angket didapatkan 67 mahasiswa yang mengikuti organisasi dan telah menyelesaikan praktik industri, kemudian digunakan sebagai sampel. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Penelitian ini memiliki keterbatasan berupa (a) penelitian ini hanya dilakukan pada mahasiswa program studi S1 Pendidikan Teknik Mesin sehingga hasilnya akan berbeda jika dilakukan pada program studi yang berbeda (b) butir pernyataan yang digunakan peneliti jumlahnya terbatas dan belum secara penuh mewakili indikator variabel terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keaktifan berorganisasi dan kualitas praktik industri berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan mahasiswa. Disarankan bagi mahasiswa untuk selalu meningkatkan karakter dengan aktif dalam kegiatan berorganisasi dan mempunyai kualitas praktik industri yang baik sehingga akan berdampak baik terhadap kesiapan kerja dan bagi peneliti selanjutnya untuk menambah variabel lain yang berpengaruh terhadap kesiapan kerja, serta dapat menambahkan teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara agar hasil penelitian lebih akurat
Perbedaan Hasil Belajar Siswa Jurusan TKR (Teknik Kendaraan Ringan) jika Menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Student Team Achievment Division (STAD) dan Cooperative Jigsaw pada Kompetensi Dasar Sistem Starter di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen
ABSTRAK Putra, Agus Dwi. 2017. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Jurusan TKR (Teknik Kendaraan Ringan) jika Menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Student Team Achievment Division (STAD) dan Cooperative Jigsaw pada Kompetensi Dasar Sistem Starter di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd., (II) Drs. Paryono, S.T., M.T. Kata Kunci: model pembelajaran cooperative student team achievment division (STAD), cooperative jigsaw, hasil belajar SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen adalah salah satu SMK rujukan di kabupaten Malang dimana SMK ini sudah menerapkan Kurikulum 2013 (K13). Model pembelajaran yang diterapkan di SMK ini berupa model pembelajaran Discovery Learning namun, dalam prakteknya tidak terkondisikan seperti model pembelajaran Discovery Learning dimana pembelajaran cenderung berpusat kepada guru dan siswa kurang aktif. Dari observasi didapati bahwa banyak siswa yang hasil belajarnya rendah terutama pada pelajaran kelistrikan otomotif. Oleh karena itu penulis ingin menerapkan model pembelajaran Kooperatif STAD dan Kooperatif Jigsaw pada Kompetensi Dasar Sistem Starter agar pembelajaran timbul interaksi 2 arah, siswa lebih aktif, dan diharapkan mampu memperbaiki hasil belajar siswa. Tujuan penelitian: (1) untuk mengetahui hasil belajar sistem starter siswa kelas XI di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen jika menggunakan model pembelajaran Kooperatif Jigsaw, (2) untuk mengetahui hasil belajar sistem starter siswa kelas XI di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen jika menggunakan model pembelajaran Kooperatif STAD, (3) untuk mengetahui hasil belajar sistem starter siswa kelas XI di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen jika menggunakan model pembelajaran Discovery Learning, (4) untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Jigsaw, Kooperatif STAD dan Discovery Learning pada pelajaran sistem starter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, eksperimental semu, quasi eksperimental dengan posttest only control design. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI TKR yang terdiri dari 3 kelas, yaitu kelas XI TKR 1, XI TKR 2, dan XI TKR 3. Subyek penelitian ini dipilih dengan metode simple random sampling yaitu dengan cara masing-masing kelas ditulis dalam kertas, kemudian digulung dan diundi. Analisis data untuk uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk, uji homogenitas menggunakan levene’s test, dan uji hipotesis menggunakan One Way Anova dengan taraf (Sig α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan hasil belajar dari ketiga model pembelajaran ini namun, perbedaannya tidak signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil probabilitas uji hipotesis yang didapat sebesar 0,073>0,05 sehingga hipotesis ditolak. Namun, nilai rata-rata tertinggi diraih pada kelas Kooperatif jigsaw yaitu sebesar 81,25 dan pada kelas Kooperatif STAD nilai rata-rata sebesar 76 serta, pada kelas Discovery Learning nilai rata-rata sebesar 79,625. Saran: (1) Untuk Kepala SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, sebaiknya menjadikan ketiga model pembelajaran ini sebagai referensi dan opsi untuk diterapkan kedepannya karena hasil belajar dari ketiga model pembelajaran ini sama-sama baik, (2) bagi guru produktif, sebaiknya guru menjadikan ketiga model pembelajaran ini sebagai referensi dan opsi untuk diterapkan kedepannya karena hasil belajar yang dihasilkan dari ketiga model pembelajaran ini juga sama-sama baik, (3) Untuk SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, sebaiknya lebih memperhatikan pembagian atau pengaturan jadwal masuk siswa terutama pada mata pelajaran produktif karena jadwal masuk juga sangat mempengaruhi proses belajar mengajar di kelas, (4) Bagi peneliti selanjutnya, jika tema penelitiannya sama gunakan sampel dan kompetensi yang berbeda, (5) Bagi peneliti selanjutnya jika tema penelitiannya sama hendaknya, penelitian dilakukan sebelum kegiatan LSP, Try Out, dan pilih kelas dengan jadwal masuk yang sama-sama masuk pagi atau siang serta, pilih guru yang berbeda dari masing-masing kelas agar variabel kontrol lebih terkontrol, (6) Bagi peneliti selanjutnya jika tema penelitiannya sama hendaknya, pilihlah sampel dengan memperhatikan nilai awal masuk siswa ketika diterima di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen agar sampel yang dipilih lebih homogen lagi
Implementasi Pelaksanaan Kurikulum Kelas Industri di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Kabupaten Malang
ABSTRAK Wicaksono, Daru Eko. 2017.Implementasi Pelaksanaan Kurikulum Kelas Industri di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Kabupaten Malang.Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Yoto, S.T., M.Pd., M.M., (II) Drs. Basuki, M.Pd. Kata Kunci: Sekolah Menengah Kejuruan, kurikulum industri, kelas industriPendidikan kejuruan merupakan program yang strategis dalam hal menyediakan tenaga kerja tingkat menengah.Program ini kurang memberikan daya tarik untuk siswa maupun orang tua siswa secara keseluruhan. Untuk menarik minat sekolah kejuruan perlu membuat kerja sama dengan pihak industri agar lebih memberikan jaminan kerja bagi lulusan SMK. Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh SMK adalah dengan melakukan kerjasama dengan industri untuk membuat kurikulum khusus sekolah indstri.Pada penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena dalam penelitian ini peneliti ingin memahami fenomena dari sudut pandang partisipan. Data-data dalam penelitian ini adalah berasal dari semua sumber data yang dapat memberikan informasi tentang obyek yang diteliti yaitu berkenaan dengan implementasi pelaksanaan kurikulum di kelas industri. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan pengumpulan data melalui dokumentasiKurikulum yang dipilih oleh sekolah dalam proses penyusunan kurikulum kelas industri yakni kurikulum 2013 (K.13) dan kurikulum yang dipilih oleh industri yakni Kurikulum Astra toyota, keduanya sudah mengacu pada standar nasional. Sehingga dapat dikatakan bahwa persiapan penyusunan kurikulum kelas industri pada program keahlian TKR (Teknik Kendaraan Ringan) Astra Toyota menyiapkan kurikulum untuk proses sinkronisasi kurikulum sudah memenuhi peraturan yang berlaku sesuai Permendikbud Nomor 61 Tahun 2014 tentang kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah.Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan kurikulum industri yang memakai pembelajaran paruh waktu dan bergantian antara kelas XI dan XII karena masih ada kewajiban melaksanakan ujian baik dari pihak sekolah maupun secara nasional.Tahap selanjutnya dari kurikulum industri adalah mengevaluasi pelaksanaan dari kurikulum dikelas industri. Proses evaluasi kurikulum industri ini tentunya melibatkan beberapa pihak yang memang terkait dengan penyusunan dari kurikulum serta pihak yang berwenang dalam pelaksanaan kurikulum industri. Proses evaluasi ini dimaksudkan agar kualitas peserta didik bisa lebih baik dan bermutu.Faktor pendukung dari kurikulum dikelas industri ini meliputi pihak sekolah dan pihak DU/DI (Dunia Usaha/Dunia Industri). Faktor pendukung lain adalah prasarana. Hal ini dikarenakan preasarana sarana-prasarana salah satunya berkaitan dengan peralatan praktik. Sedangkan faktor pendukung dari guru juga penting. Peran guru dalam kelas industry ini adalah kemampuan dan pengetahuan guru yang diatas rata-rata karena sering dilakukan pelatihan untuk peningkatan mutu guru. Selain itu faktor pendukung lain adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih lama di industri yang rencananya selama enam bulan. Selain faktor pendukung tentu pelaksanaan kurikulum kelas industri memiliki penghambat yang bisa memberikan dampak kurang baik dalam proses implementasi pelaksanaan kurikulum dikelas industri. Faktor penghambat tersebut salah satunya adalah masih ada miskomunikasi antara guru dalam menjalankan kelas industri. Komunikasi merupakan syarat wajib yang harus dimiliki oleh guru agar apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh siswa
Pengembangan Modul Sistem Pendingin Untuk Siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan di SMK Nurul Huda Multimedia Poncokusumo Kabupaten Malang.
ABSTRAK Khariri, Achmad Isomuddin. 2017. Pengembangan Modul Sistem Pendingin Untuk Siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan di SMK Nurul Huda Multimedia Poncokusumo Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd., (II) Drs. Partono, M.Pd. Kata kunci: bahan ajar, modul sistem pendingin, teknik kendaraan ringan Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan tambahan refrensi bahan ajar beupa modul untuk siswa kelas X Teknik Kendaraan Ringan di SMK Nurul Huda Multimedia Poncokusumo Kabupaten Malang, serta mengetahui kualitas produk bahan ajar modul yang dihasilkan sehingga layak digunakan dalam pembelajaran sistem pendingin. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan Dick dan Carey yang terdiri dari 10 langkah yaitu: (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, (2) melakukan analisis instruksional, (3) menganalisis karakteristik siswa dan konteks pembelajaran, (4) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, (5) mengembangkan instrumen penelitian, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih bahan ajar, (8)merancang dan melaksanakan evaluasi, dan (10)merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif, namun dalam penelitian ini untuk langkah ke-10 tidak dilakukan karena keterbatasan waktu untuk melakukan seluruh kegiatan belajar dalam satu semester. Instrumen pengumpul data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa angket yang diberikan kepada ahli media, ahli materi, uji coba kelompok kecil berupa hasil tanggapan media pembelajaran terhadap enam siswa dan uji coba lapangan berupa nilai evaluasi siswa. Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif untuk menilai kevalidan produk media yang dihasilkan dan data kualitatif yaitu hasil saran dan tanggapan dari para validator secara lisan oleh pengembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul sistem pendingin yang telah dikembangkan berdasarkan penilaian ahli media memperoleh prosentase 95.83% yang termasuk kriteria valid, data dari ahli materi memperoleh prosentase 80.83% yang termasuk kriteria valid, hasil uji coba kelompok kecil menunjukkan modul sistem pendingin yang dikembangkan memiliki kualitas sangat baik (91.7%) dan uji coba lapangan memperoleh nilai pre-test dengan rata-rata 65 dan nilai post-test memperoleh nilai terendah yang didapat siswa adalah 75. Berdasarkan hasil perolehan data menunjukkan bahwa media pembelajaran yang telah dikembangkan pada penelitian pengembangan ini dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran
Pengembangan Bahan Ajar Hidrolisis Garam untuk Siswa SMA/MA Program IPA dengan Menggunakan Pendekatan Saintifik
ABSTRAK Andriani, Ninda Astri. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Hidrolisis Garam untuk Siswa SMA/MA Program IPA dengan Menggunakan Pendekatan Saintifik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si, (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata-kata kunci: bahan ajar, Hidrolisis Garam, pendekatan saintifik, kurikulum 2013Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang disarankan oleh Kurikulum 2013. Proses pembelajaran dalam pendekatan saintifik melibatkan keterampilan proses sains yang bertujuan agar siswa dapat menemukan sendiri konsep-konsep dengan bantuan yang seminimal mungkin dari guru. Faktanya menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik cenderung belum terlaksana dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah belum tersedianya bahan ajar yang memenuhi. Hal ini dibuktikan dengan analisis beberapa bahan ajar di SMA yang menunjukkan bahwa bahan ajar yang beredar belum sesuai dengan langkah-langkah pada pembelajaran saintifik dan keterampilan proses sains. Salah satu materi kimia SMA yang tercantum dalam Kurikulum 2013 adalah Hidrolisis Garam. Materi Hidrolisis Garam mencakup representasi makroskopik, mikroskopik, dan simbolik. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar dengan menggunakan pendekatan saintifik yang mengintegrasikan 3 representasi kimia pada materi Hidrolisis Garam dan mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar yang dikembangkan.Pengembangan bahan ajar Hidrolisis Garam dilakukan dengan menggunakan model 4D (four D model) yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk. (1974) dengan langkah-langkah sesuai sintaks pada pendekatan saintifik. Bahan ajar yang dikembangkan berupa Buku Kerja Siswa dan Buku Pedoman Guru.Uji kelayakan bahan ajar mencakup aspek kelayakan penyajian, isi, kebahasaan, dan kegrafisan. Uji kelayakan dilakukan berdasarkan instrumen yang dikembangkan oleh BSNP yang telah dimodifikasi menyesuaikan bahan ajar yang dikembangkan. Uji kelayakan dilakukan melalui validasi oleh validator ahli yaitu dosen Jurusan Kimia dan guru kimia SMA dan uji keterbacaan oleh sekelompok kecil siswa. Hasil validasi menunjukkan bahwa Buku Kerja Siswa memiliki kelayakan penyajian sebesar 95,0%, kelayakan isi 86,7%, kebahasaan 90,8%, dan kegrafisan 86,7%. Secara umum, didapatkan persentase rata-rata kelayakan Buku Kerja Siswa sebesar 89,8%. Buku Pedoman Guru memiliki kelayakan petunjuk umum sebesar 96,7%, kelayakan untuk RPP dan pedoman penilaian 92,4%, dan kelayakan urutan dalam membimbing siswa untuk mengkonstruk konsep 89,5%. Secara umum, didapatkan persentase rata-rata kelayakan Buku Pedoman Guru sebesar 92,9%. Pada uji keterbacaan didapatkan hasil sebesar 77,1%. Dengan demikian bahan ajar Hidrolisis Garam dengan menggunakan pendekatan saintifik hasil pengembangan dapat dianggap layak digunakan dalam proses pembelajaran di kelas