SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1608 research outputs found
Sort by
pengaruh penggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe team games tournament (tgt) terhadap hasil belajar teknik listrik dasar otomotif pada kelas x teknik kendaraan ringan otomotif di smkn 1 singosari
ABSTRAK Matulandi, Andreas. 2017. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Team Games Tournament (TGT) terhadap Hasil Belajar Teknik Listrik Dasar Otomotif pada Kelas X Teknik Kendaraan Ringan Otomotif di SMKN 1 Singosari. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Partono, M.Pd., (II) Dr. H. Agus Sholah, M.Pd. Kata Kunci: model pembelajaran, Cooperative Learning tipe Team Games Tournament, hasil belajar, Teknik Listrik Dasar Otomotif, SMK Salah satu solusi penggunaan kurikulum 2013 yang diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar yaitu dengan mengubah cara belajarnya dan menggunakan model pembelajaran yang dapat merangsang keaktifan siswa dalam belajar.Berdasarkan hasil observasi, model pembelajaran yang diterapkan di SMKN 1 Singosari sebagai tuntutan kurikulum 2013 adalah Problem Based Learning, Akan tetapi pembelajaran seperti ini menuntut semua siswa harus aktif dan menyamakan siswa yang kurang aktif sehingga tidak memberi ruang siswa yang paham untuk membantu siswa yang kurang paham. Oleh karena itu perlu adanya pembelajaran lain sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu Cooperative Learning tipe Team Games Tournament (TGT). Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh hasil belajar siswa yang signifikan antara siswa kelas X teknik kendaraan ringan otomotif yang menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Team Games Tournament (TGT) dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SMKN 1 Singosari. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasy experiment) dengan tipe pre test-post test control group design. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Teknik Kendaraan Ringan Otomotif yaitu Kelas X TKRO 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X TKRO 1 sebagai kelas kontrol di SMKN 1 Singosari. Instrumen tes diuji coba dan hasilnya di analisis menggunakan uji-t menggunakan bantuan program SPSS 24.0 for Windows. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antara hasil belajar siswa pada kelas eksperimendengan hasil belajar siswa pada kelas kontrol. Hal ini terlihat pada rata-rata nilai post test pada kelas eksperimen 81,45 dan kelas kontrol 71,75. Selain itu jika dilihat dari indikator ketuntasan yang dicapai siswa, kelas eksperimen 100% (33 siswa) dibandingkan kelas kontrol 30% (10 siswa) yang sudah mencapai nilai KKM sebesar 75. Maka peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Team Games Tournament memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibanding penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan (1) Bagi sekolah sebaiknya menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Team Games Tournament sebagai alternatif pembelajaran, (2) Bagi penelitian selanjutnya sebaiknya menelitipadamata pelajaran lainnya dengan sekolah berbeda serta di barengi dengan meneliti motivasi siswa agar hasil penelitian lebih berkembang
Kesiapan Soft Skills Siswa SMKN 10 Malang Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan untuk Memasuki Dunia Kerja
ABSTRAK Wibowo, Aji Setio. 2017. Kesiapan Soft Skills Siswa SMKN 10 Malang Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan untuk Memasuki Dunia Kerja. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Widiyanti, M.Pd., (II) Drs. Ir. Eko Edi Poerwanto, S.E., M.Pd., M.M. Kata Kunci: soft skill, teknik kendaraan ringan, dunia kerja, SMK Indonesia dalam menghadapi era globalisasi dituntut harus bisa meningkatkan kompetensinya dalam berbagai bidang dan sektor pembangunan, terlebih lagi dilingkup dunia pendidikan yang lulusannya harus mampu bersaing dengan bangsa lain. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai sekolah yang berorientasi pada lulusan yang siap kerja, harus bisa mencetak sumber daya manusia yang unggul memiliki kemampuan hard skill sekaligus soft skill yang memadai yang dibutuhkan oleh dunia kerja saat ini. Melihat kenyataan bahwa pendidikan SMK saat ini masih cenderung berorientasi pada hard skill tentu saja sudah tidak relevan dengan tuntutan dunia usaha/dunia industri. Lulusan yang menguasai kemampuan soft skill akan lebih mudah memenangkan persaingan dunia kerja, lebih cepat beradaptasi dan akhirnya sukses dalam karier. Lebih lanjut dikatakan bahwa kemampuan soft skill meliputi kemampuan bekerja kelompok, kemampuan bekerja dibawah tekanan, kemampuan memimpin, percaya diri, kemampuan berkomunikasi, dan sebagainya. Kesiapan merupakan suatu kondisi yang menunjukkan adanya keserasian antara kematangan fisik, mental, serta pengalaman sehingga seseorang mempunyai kemampuan untuk melaksanakan suatu kegiatan tertentu. Soft skill digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan yang tidak terlihat dari seseorang untuk berkembang dalam pekerjaan. Pendidikan menengah merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau perguruan tinggi. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pendekatan deskriptif adalah penelitian yang memberikan gambaran lebih detail mengenai suatu gejala berdasarkan data yang ada, menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasi. Untuk memperoleh data yang dimaksud dalam penelitian ini digunakan kuesioner dengan skala Likert. Kesiapan soft skill siswa yang didapatkan dari rata-rata nilai indikator, bahwa sebanyak 84% memberikan persepsi rata – rata sangat tinggi terhadap aspek komunikatif (indikator pertama), sebanyak 84% responden memberikan persepsi rata- rata sangat tinggi terhadap aspek jujur (indikator kedua), sebanyak 83% responden memberikan persepsi rata-rata sangat tinggi tentang aspek tanggung jawab (indikator ketiga), sebanyak 86% responden memberikan persepsi rata-rata sangat tinggi tentang aspek sopan (indikator keempat), dan sebanyak 80% responden memberikan persepsi rata-rata yang sangat tinggi tentang indikator disiplin (indikator kelima). Berdasarkan hasil analisis tiap aspek soft skill disimpulkan bahwa kesiapan soft skill siswa SMKN 10 Malang keahlian Teknik Kendaraan Ringan berada pada kategori sangat tinggi. Proses pembelajaran dalam kegiatan pendidikan karakter/ soft skill sudah disisipkan dalam KBM menggunakan berbagai macam metode disesuaikan dengan kondisi dan mata pelajaran yang ada, contoh pembelajaran soft skill dalam mata pelajaran agama parasiswa diajarkan untuk bersikap sopan baik itu kepada guru maupun kepada sesama teman, dalam mata pelajaran pendidikan kewarga negaraan, para siswa diajarkan tentang pendidikan karakter salah satunya dengan metode kontekstual yaitu menghubungkan antara materi yang disampaikan dengan keadaan di dunia nyata. Berdasarkan hasil pengolahan dan anlisis terhadap data hasil penelitian yang dilakukan di SMKN 10 Malang mengenai Kesiapan Soft Skill Siswa Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan untuk Memasuki Dunia Kerja, diperoleh kesimpulan bahwa aspek sopan merupakan aspek yang paling tinggi diantara aspek lainnya di SMKN 10 Malang. Sedangkan disiplin merupakan aspek dengan persentase paling rendah diantara aspek lain. Wibowo, Aji Setio. 2017. The Students Soft Skills Readiness of Light Vehicle Engineering Program as SMKN 10 Malang to Enter the Employement World. Sarjana’s Thesis, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Malang. Advisors (I) Dr. Hj. Widiyanti, M.Pd., (II) Drs. Ir. Eko Edi Poerwanto, S.E., M.Pd., M.M. Keywords: soft skill, light vehicle engineering, employement world, SMK Indonesia in facing the era of globalization is required to be able to improve its competence in various fields and sectors of development, especially in the scope of education that graduates must be able to compete with other nations. Vocational High School as a school oriented to graduates who are ready to work, should be able to print excellent human resources have the ability of hard skills as well as adequate soft skills needed by the employement world today. Given the fact that current vocational education still tends to be oriented to hard skills, of course, it is not relevant to the demands of the business world / industrial world. Graduates who master the skills of soft skills will be easier to win the competition of the employement world, more quickly adapt and eventually succeed in the career. Furthermore, it is said that soft skill ability includes group work ability, ability to work under pressure, leadership ability, confidence, communication ability, and so on. Readiness is a condition that indicates the existence of harmony between physical maturity, mental, and experience so that a person has the ability to perform a particular activity. Soft skills are used to describe the invisible ability of a person to develop in a job. Secondary education is an education that is held to continue and expand the basic education and prepare students to become members of the community who have the ability to conduct mutual relationships with the social, cultural and natural environment and can develop further skills in the employement world or college. This research was conducted using quantitative descriptive approach. A descriptive approach is a study that provides a more detailed description of a symptom based on existing data, presenting data, analyzing and interpreting. To obtain the data referred to in this study used questionnaires with Likert scale. The readiness of students' soft skills obtained from the average indicator score, that 84% gave very high average perception to communicative aspect (first indicator), 84% of respondents gave very high average perception on honest aspect (second indicator) , 83% of respondents gave very high average perceptions about aspects of responsibility (third indicator), 86% of respondents gave very high average perceptions about polite aspects (fourth indicator), and as many as 80% of respondents gave average perceptions very high on disciplinary indicators (fifth indicator). Based on the analysis of each aspect of soft skill it is concluded that the readiness of soft skill of students of SMKN 10 Malang of Light Vehicle Engineering expertise is in very high category. The learning process in the character education activity / soft skill has been inserted in teaching and learning activities using various methods adapted to the existing conditions and subjects, the example of soft skill learning in the religious subjects of the students are taught to be polite both to the teacher and to the friends, in the eyes civic education lessons, students are taught about character education one of them with the contextual method of connecting between the material delivered to the real-world situation. Based on the results of processing and analysis of the results of research data conducted at SMKN 10 Malang on the readiness of Soft Skill Student Program of Light Vehicle Engineering Program to Enter the Employement World, obtained the conclusion that polite aspect is the highest aspect among other aspects in SMKN 10 Malang. While the discipline is the aspect with the lowest percentage among other aspects
Pengaruh Diameter Exhaut Pipe terhadapDayadanEmisi Gas Buangpada Motor 4 Tak HondaSupra X 125 CC
ABSTRAK Perkembanganindustriotomotifsangatlahpesatdengandisertaijumlahkendaraanbermotor yang meningkat.Disampingdenganperkembanganindustriotomotiftentunyamodifikasikendaraanrodadua pun cukupbanyakdiminati.Salah satunyadenganmenggantiukuran diameter exhaust pipedengantujuan agar menghasilkanperformamesin yang optimal padakendaraanbermotor. Penelitianinibertujuan: (1) Untukmengetahuipengaruh diameter Exhaust Pipe knalpotterhadapdayapada motor 4 tak Honda Supra X 125 cc, (2) Untukmengetahuipengaruh diameter Exhaust Pipe knalpotterhadapemisi gas buangpada motor 4 tak Honda Supra X 125 cc. Exhaust pipemerupakankomponen yang berfungsiuntukmengalirkan gas buang. Diameter dari exhaust pipe merupakanfactor pentingmeningkatkanperformamesin.Kendaraandijalanumumnyamenggunakanukuran diameter yang kecilsedangkankendaraanbalapmenggunakan diameter exhaust pipebesar.Tentunyakonstruksidariexhaustjugaakanmempengaruhidariemisi gas buang CO dan HC. CO dan HC merupakansenyawasisahasilpembakaran yang berbahayabagitubuhmanusia. Penelitianinimenggunakanjeniseksperimen.Dimanavariabelbebasnyaadalahvariasi diameter exhaust pipe, yaitu: diameter 20 mm (standart), diameter 23 mm dan diameter 25 mm. Sedangkanvariabelterikatnyaadalahdayamesindankadaremisi gas buang CO dan HC. Data yang diambilmulaidari 3500 rpm hingga 8000 rpm dengankenaikkan 500 rpm, kemudianstatisik parametric denganmenggunakanmetodeone way anovadigunakanuntukmenganalisis data yang dibantuoleh SPSS 18 untukwindows. Berdasarkan data pengujiandayadayaterbesarterdapatpada diameter exhaust pipe ukuran 25 mm dengandayamaksimum 12,663 Hpdandaya minimum 4,159 Hp.Peningkatankadaremisi gas CO terbesarterjadipadadiemeterexhaust pipe 25 mm denganpeningkatansebesar 0.475%.Di sisilain, kadaremisi gas HC terbesarterjadipada diameter exhaust pipe 25 denganpeningkatansebesar 78 ppm. Berdasarkanpenelitianinidapatdisimpulkanbahwatidakadaperbedaandaya yang signifikandenganpenggunaanvariasi diameter exhaust pipe 20 mm dengan 23 mm 25 mm. Sedangkanpadapengujianemisi CO dan HC terdapatperbedaan yang signifikanantara diameter 20 mm dengan 23 mm dan 25 mm
Sehudin, Muhamad. 2017. Hubungan Persepsi Siswa tentang Ketersediaan Sarana Prasarana Ruang Praktik Otomotif dengan Prestasi Belajar Siswa Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK Negeri 1 Singosari. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik,
Peningkatan mutu pendidikan meliputi banyak hal, diantaranya adalah mengenai sarana dan prasarana. Fakta di lapangan menunjukan bahwa masih banyak sekolah yang minim dengan sarana dan prasarananya sehingga mutu pendidikan menjadi rendah. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada ruang praktik otomotif di SMK Negeri 1 Singosari. Peneliti menemukan fakta bahwa sarana prasarana yang tersedia banyak yang terbilang sudah lengkap dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dalam Permendiknas No. 40 Tahun 2008 tentang standar sarana prasarana untuk SMK/MAK. Namun tidak semua sarana yang tersedia bisa digunakan untuk pembelajaran karena mengalami kerusakan sehingga spesifikasi sarana tersebut semakin rendah dari standar yang telah ditetapkan. Penelitian ini merupakan penelitiandeskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, yakni mendeskripsikan mengenai hubungan persepsi siswa tentang ketersediaan sarana prasarana sebagai variabel bebas (X) dengan prestasi belajar siswa sebagai variabel terikat (Y). Populasi dan sampel dalam penelitian ini yaitu kelas XI Teknik Kendaraan Ringan 1, 2, dan 3 di SMK Negeri 1 Singosari. Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan korelasi Product Moment Pearson untuk menguji hipotesis. Berdasarakan hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut:(1) Persepsi siswa tentang ketersedian sarana prasarana ruang praktik otomotif di SMK Negeri 1 Singosari dinyatakan sangat baik. (2) Prestasi belajar siswa kelas XI program keahlian Teknik Kendaraan Ringan 1, 2, dan 3di SMK Negeri1 Singosarimemiliki prestasi belajardalamklasifikasibaik. (3) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa tentang ketersediaan sarana prasarana ruang praktik otomotif dengan prestasi belajar siswa kelas XI Teknik Kendaraan Ringan 1, 2, dan 3 pada mata diklat sistem starter dimana didapatkannilai Pearson Correlation sebesar 0.745. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan (1) Bagi Sekolah: a) Melengkapi peralatan yang masih belum tersedia b) Melengkapi peralatan yang masih belum memenuhi standar c) Memperbaiki atau mengganti peralatan yang sudah tidak layak pakai. (2) Bagi Guru diharapkan berperan aktifdalam membantu SMK untuk mengembangkan sarana prasarana ruang praktik otomotif. Bagi Siswa dengan persepsi yang baik dan didukung dengan ketersediaan sarana prasarana yang memadai diharapkan mampumemicusiswa untukmemiliki prestasi belajar yang bai
PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DAN KONDISI LABORATORIUM OTOMOTIF TERHADAP KENYAMANAN PRAKTIKUM PEMELIHARAAN MESIN KENDARAAN RINGAN DI LABORATORIUM SMK NEGERI 1 SINGOSARI
ABSTRAK Anggraeni, Tara Yunita, 2016. PengaruhPenggunaanAlatPelindungDiri (APD) danKondisiLaboratoriumOtomotifTerhadapKenyamananPraktikumPemeliharaanMesinKendaraanRingan di Laboratorium SMK Negeri 1 Singosari.Skripsi, JurusanTeknikMesin, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Mardji, M.Kes., (II) Drs.Partono, M.Pd. Kata kunci: alatpelindungdiri, laboratoriumotomotif, kenyamananpraktikum Ditengahpersaingan era globalisasitidakdapatdipungkiribahwasetiaptahuntercatatberbagaikasuskecelakaankerja di industri.Kecelakaankerjasecaraumumdisebabkanolehtindakantidakamandarimanusiadankondisitidakaman.Padawaktumelaksanakankegiatanmanusiaseringmengabaikanperaturan K3.Selainitukondisikerja yang tidakaman di lingkungankerjayang menyangkutketidaklayakanalatpelindungdiri (APD) yang tersediadankondisilingkungankerja yang tidaksehatsertabanyakkemungkinanterjadinyakecelakaankerja.Penelitianinibertujuanuntukmengetahuipengaruhvariabelpenggunaanalatpelindungdiridankondisilaboratoriumotomotifterhadapkenyamananpraktikumpemeliharaanmesinkendaraanringan di laboratorium SMK Negeri 1 Singosari, baiksecaraparsialmaupunsimultan. Penelitianinimenggunakanmetodeobservasional cross sectional untukpendekatankuantitatif.Populasipadapenelitianiniadalahsiswakelas XI jurusanTeknikKendaraanRingan di SMKN 1 Singosari yang secarakeseluruhanberjumlah 125 siswa.Sementarasampelpenelitianinimenggunakanteknikproportional random sampling, denganpengambilansampelmenggunakanrumusslovinsehinggadidapatkan total sampeldenganjumlah 95siswa. Pengumpulan data padapenelitianinimenggunakanangketdanobservasi.Data yang diperolehdarihasilpenelitiankemudiandianalisisdenganmenggunakanteknikanalisisstatistikdeskriptifdananalisisstatistikinferensial.Teknikanalisisstatistikinferensial yang digunakanuntukmengujihipotesismenggunakanteknikanalisisregresi, denganujiasumsiklasik, yaituujinormalitas, ujilinieritas, ujimultikolinieritas, ujiautokorelasi, danujiheterokedastisitas. Hasilpenelitianmengungkapkanbahwatidakadapengaruh yang signifikanbaiksecaraparsialmaupunsimultanpenggunaanalatpelindungdiridankondisilaboratoriumotomotifterhadapkenyamananpraktikumpemeliharaanmesinkendaraanringan di laboratorium SMK Negeri 1 Singosari.Nilaisebagianbesarsiswapadatesvariabelpenggunaanalatpelindungdiri (X1) masukpadakategoricukup (38,65%). Sebagianbesarrespondenberpendapatbahwakondisilaboratoriumotomotif (X2) masukpadakategoribaik (65,51%). Dan nilaisebagianbesarsiswatentangkenyamananpraktikum (Y) masukpadakategoricukup (33,44%). Pengujianhipotesisdidapatkanhasilsebagaiberikut: (1) secaraparsialtidakpengaruh yang signifikanantarapenggunaan APD terhadapkenyamananpraktikumpemeliharaanmesinkendaraanringan; (2) secaraparsialtidakpengaruh yang signifikanantarakondisilaboratoriumotomotifterhadapkenyamananpraktikumpemeliharaanmesinkendaraanringan; dan (3) secarasimultantidakpengaruh yang signifikanantarapenggunaan APD dankondisilaboratoriumotomotifterhadapkenyamananpraktikumpemeliharaanmesinkendaraanringan. Kesimpulandaripenelitiantersebutmenyatakanbahwatidakterdapatpengaruhsignifikansecaraparsialdansecarasimultan. Tidakadanyapengaruhsignifikaninidapatterjadikarenakurangnyakesadaransiswadalammenggunakan APD dankurangnyapemahamansiswaterhadapkondisilaboratorium.Sehinggadisarankanuntukselalumenghimbaupentingnyapenggunaan APD danpemeliharaanlaboratoriumotomotif agar dapatdiperolehpengaruh yang signifikansecaraparsialmaupunsimultan
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Aplikasi Autoplay Media Studio 8 pada Materi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMKN 6 Malang
Penelitian bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbasis aplikasi AutoplayMedia Studio 8 materi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Negeri 6 Malang. Penelitian juga bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan dan kualitas media pembelajaran berbasis aplikasi AutoplayMedia Studio 8 materi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Negeri 6 Malang. Jenis penelitian merupakan penelitian dan pengembangan (reseach and development). Model pengembangan produk diadaptasi dari model pengembangan ADDIE dengan lima tahap yang diantaranya adalah: analisis (analysis), perancangan (design), pengembangan (development), penerapan (implementation) dan evaluasi (evaluation).Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket, proses yang dilakukan pertama adalah uji kelayakan yang melibatkan ahli materi dan media. Proses uji kelayakan melibatkan Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang sebagai ahli materi dan media. Selanjutnya media pembelajaran yang sudah diuji kelayakan dan mendapat masukan dari ahli, kemudian dilakukan proses revisi produk. Setelah media dinyatakan layak dilakukan uji coba pertama kepada Guru Program Studi Pemesinan SMK Negeri 6 Malang untuk mengetahui kualitas media pembelajaran sebelum digunakan untuk proses pembelajaran. Setelah melakukan uji coba guru dilanjutkan uji coba kelompok kecil dengan melibatkan 10 peserta didik SMK Negeri 6 Malang.Terakhir dilakukan uji kelompok besar yang melibatkan 32 peserta didik SMK Negeri 6 Malang. Hasil penelitian berupa aplikasi media pembelajaran, Dari hasil uji kelayakan ditinjau dari:(1) materi menunjukkan bahwa media pembelajaran mendapat skor 79,9% memenuhi kriteria layak; (2) media menunjukkan bahwa media pembelajaran mendapat skor 77,5% memenuhi kriteria layak; (3) uji kelompok kecil memperoleh skor 88,5% memenuhi kriteria baik; (4) uji kelompok besar memperoleh skor 87,3% memenuhi kriteria baik. Dari hasil uji kelayakan dan uji coba, media pembelajaran dinyatakan layak dan baik untuk digunakan dalam proses belajar mengajar
Perbandingan Kinerja Unsur-Unsur Kimia pada Filler Fly ash dan Tailing dalam Campuran Asphalt Concrete Binder Course terhadap Parameter Marshall
ABSTRAK Pranata,Rizky, Kurnia, Sandy. 2018.Perbandingan Kinerja Unsur-Unsur Kimia pada Filler Fly ash dan Tailing dalam Campuran Asphalt Concrete Binder Course terhadap Parameter Marshall. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Bambang Supriyanto, S.T, M.T., (II) Dr. Nazriati, M. Si. Kata Kunci:fly ash, tailing, parameter Marshall Pertumbuhan volume lalu lintas dari tahun ke tahun terus meningkat sampai sekarang. Penggunaan jalan yang berlebihan dapat menyebabkan menurunnya kualitas konstruksi perkerasan jalan tersebut, oleh karena itu dengan meningkatnya volume pertumbuhan lalu lintas sesuai yang dijelaskan sebelumnya maka dibutuhkan prasarana jalan yang memadai diantaranya adalah jenis konstruksi jalan baik geometrik maupun struktur perkerasan (pavement).Infrastruktur jalan dapat dikatakan baik juga jika penggunaan jalan sesuai dengan yang direncanakan. Kualitas jalan dipengaruhi oleh komponen penyusun yang terdiri dari aspal, agregat, dan bahan pengisi (filler).Filler yang biasa digunakan adalah semen portland, namun dalam produksinya semen PC mengeluarkan karbon dioksida sehingga berdampak pada lingukungan, selain itu harganya juga mahal. Dalam penelitian ini peneliti mencoba membandingkan fillerfly ashdan tailing sebagai usaha untuk membuat konstruksi jalan yang selain tahan lama, ramah lingkungan, juga lebih ekonomis. Tujuan penelitian ini yaitu: 1). Untuk mengetahui hasil uji Marshall antara fly ashdan tailing terhadap kinerja campuran AC-BC, 2). Untuk mengetahui peranan unsur-unsur kimia fillerfly ashdan tailing pada campuran AC-BC terhadap hasil uji parameter Marshall. Penelitian ini menggunakan jenis campuran AC-BC dengan jumlah benda uji sebanyak 24 buah benda uji, 15 buah benda uji untuk menentukan nilai KAO dengan rencana kadar aspal 4%, 4,5%, 4%, 5,5%, 6%, dan 9 buah benda uji untuk menentukan perbandingan parameter Marshallfiller. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan PC didapatkan nilai KAO sebesar 5,75%. Perbandingan parameter Marshall terhadap filler PC, tailing, dan tly ashdari nilai KAO menggunakan kadar filler masing-masing 5,75% Berdasarkan hasil Penelitian yaitu: 1). Dengan menggunakan KAO 5,75% didapat uji parameter Marshallnilai stabilitas fillertailingsebesar 923,1 kg, nilai flow sebesar 3,30 mm, nilai VIM sebesar 3,44%, VMA sebesar 16,24%, VFA sebesar 78,8% dan nilai MQ sebesar 281,5 kg/mm, dan untuk fillerFly ashdidapatkan nilai stabilitas sebesar 835,6 kg, nilai flow 3,32 mm, nilai VIM sebesar 3,62%, nilai VMA sebesar 16,36%, nilai VFA sebesar 77,87%, dan nilai MQ sebesar 252,3 kg/mm, 2). Peran unsur kimia pada fillertailing dan fly ashmemberikan daya ikat (pozzolanic) dan penyerapan (absorpsi) pada campuran, hal itu disebabkan adanya unsur Ca dan Si. Morfologi filler mempengaruhi karakteristik dari campuran AC-BC hasil pengujian SEM dapat melihat morfologi filler untuk bisa menunjukkan stabilitas setiap filler. Kandungan kimia pada filler tailing dan fly ashyang dominan sama juga terdapat pada filler portland cement (PC)
Pelaksanaan Keahlian Ganda Bagi Guru SMKN 6 Malang
ABSTRAK Niargo, Amang. A. 2018. Pelaksanaan Keahlian Ganda Bagi Guru SMKN 6 Malang. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dr. Yoto, S.T., M.M., M.Pd., (II) Dr. Widiyanti M.Pd Kata Kunci: Proses pelaksanaan, Kegiatan Keahlian Ganda Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah pada jenjang pendidikan menengah yang memiliki fokus untuk mempersiapkan lulusannya sebagai tenaga yang terampil dan siap untuk memasuki dunia industri. Pertumbuhan dunia industri harus terus diiringi dengan pemenuhan tenaga kerja terampil yang berkompeten dan sesuai perkembangan jaman. Oleh sebab itu penambahan SMK mencapai 60% dari sekolah menengah yang ada. Peningkatan jumlah SMK menyebabkan perubahan kebutuhan tenaga pendidik atau guru. Hasil analisis dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menyatakan perhitungan kebutuhan guru SMK menunjukkan bahwa pada tahun 2016 diperlukan 335.821 guru produktif. Guru produktif di SMK berjumlah 100.552 yang terdiri dari adalah 40.098 orang guru berstatus PNS dan 60.482 orang guru bukan PNS, sehingga terjadi kekurangan guru produktif di SMK sejumlah 235.269. Progam Keahlian Ganda merupakan terobosan yang diharapkan dapat mengatasi masalah kekurangan guru produktif pada SMK. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui proses pelaksanaan keahlian ganda seperti apa agar kebutuhan guru produktif dapat teratasi. Dimulai dari persiapan pelaksanaan keahlian ganda, pelaksanaan keahlian ganda, penilaian pelaksanaan keahlian ganda, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat keahlian ganda di SMKN 6 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan rancangan penelitian yang akan digunakan adalah studi kasus. Sumber data diambil dari narasumber yang sesuai dengan kasus yang ada. Narasumber dalam penelitian ini meliputi Waka kurikulum, guru instruktur SMKN 6 Malang, guru pendamping SMKN 6 Malang, dan peserta keahlian ganda SMKN 6 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Langkah-langkah dalam analisis data kualitatif yaitu: (1) Reduksi data, (2) Display data, dan (3) Kesimpulan. Untuk meminimalisir penyimpangan terhadap hasil temuan di lapangan saat penelitian menggunakan keabsahan data metode triangulasi dan member check. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, langkah awal dalam persiapan keahlian ganda di SMKN 6 Malang adalah memperhatikan syarat/kriteria, pemilihan guru pendamping dan intruktur oleh kepalah sekolah serta persiapan peralatan praktek yang ada di SMKN 6 Malang. Kedua, pelaksanaan keahlian ganda yaitu dengan memperhatikan struktur progam keahlian ganda di SMKN 6 Malang yang mengacu pusat yaitu dengan menjalani tahap ON-1, IN-1, ON-2 dan IN-2. Ketiga, penilaian pelaksanaan keahlian ganda di SMKN 6 Malang yaitu dengan penilaian secara online sesuai modul yang diajarkan dan ada juga penilaian sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Keempat, faktor pendukung dan penghambat progam keahlian ganda di SMKN 6 Malang. Faktor pendukungnya yaitu persetujuan dari kepala sekolah, fasilitas yang memadai dan minat belajar. Faktor penghambatnya yaitu alat untuk pelaksanaan kadang kurang, masalah komunikasi dan hambatan dari diri sendiri. Cara mengatasi faktor penghambat diantaranya kurangnya alat bisa dibuat bergantian, dibuatkan suatu forum untuk memudahkan komunikasi dan berfikir bahwa pelatihan merupakan ilmu baru bukan beban tugas. Berdasarkan hasil penelitian ini, kepada guru SMKN 6 Malang perlu lebih semangat dalam mengajar karena adanya tantangan untuk selalu belajar ilmu yang baru. Kepada SMKN 6 Malang disarankan untuk peralatan praktek diusahakan selalu yang baru mengikuti perkembangan IPTEK. Kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan disarankan untuk guru yang dibekali keahlian ganda guru yang belum menjelang pensiun. Kepada Jurusan Teknik Mesin FT UM disarankan untuk mencarikan terobosan kerjasama agar lulusannya dengan cepat mendapatkan pekerjaan sesuai prodi masing-masing terutama untuk S1 PTM. Kepada peneliti selanjutnya untuk mengaji lebih dalam mengenai pelaksanaan progam keahlian ganda, karena masih minimnya referensi dari penelitian ini.
ANALISIS THERMOGRAVIMETRIK DEKOMPOSISI PYROLYSIS ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES) DENGAN VARIASI HEATING RATE
ABSTRAK Widiono, Aloon Eko. 2018. Analisis Thermogravimetrik Dekomposisi Pyrolysis Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes) Dengan Variasi Heating Rate. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sukarni, S.T., M.T (II) Drs. H. Imam Muda Nauri, S.T., M.T. Kata Kunci: Pirolisis, Eceng Gondok, Energi Aktivasi. Pertumbuhan penduduk manusia di Indonesia semakin meningkat setiap tahun. Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia mempengaruhi peningkatan jumlah konsumsi energi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika ini dibiarkan, maka ini akan mengakibatkan berkurangnya energi. Oleh karena itu, perlu adanya energi alternatif, misalnya eceng gondok. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui potensi eceng gondok sebagai energi alternatif terbarukan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan. Tujuanya adalah untuk mengetauhi dekomposisi pirolisis, energi aktivasi dari eceng gondok. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental eksploratif. Bahan penelitian eceng gondok diperoleh dari dua tempat yaitu Waduk Selorejo Kecamatan Ngantang dan Waduk Bendungan Sengguruh Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan pengujian dekomposisi pirolisis menggunakan alat thermal analyzer dengan massa 10 mg dengan udara nitrogen 100 ml/menit serta rentang temperatur 25 – 1000°C pada heating rate 10, 20, 30, dan 40°C/menit. Hasil penelitian menunjukkan dekomposisi pirolisis eceng gondok terjadi di empat tahap: (1) pelepasan kandungan air dan volatil ringan, (2) pelepasan volatil, (3) pembentukan arang dengan kehilangan massa yang konstan, (3) dekomposisi mineral anorganik. Nilai energi aktivasi telah dianalisis menggunakan tiga metode yaitu Flynn Wall Ozawa (FWO), Vyazovkin, dan Starink. Niilai energi aktivasi dengan metode Flynn Wall Ozawa (FWO) sebesar 166,023 kJ/mol. Nilai energi aktivasi dengan metode Vyazovkin sebesar 194,049 kJ/mol. Nilai energi aktivasi dengan metode Starink sebesar 192,397 kJ/mol. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa dekomposisi pirolisis eceng gondok terjadi di empat tahap: Pelepasan kandungan air, pelepasan volatil, pembentukan arang, dan dekomposisi mineral anorganik. Sementara energi aktivasi semakin rendah mengakibatkan eceng gondok menjadi mudah bereaksi
HUBUNGAN PEMAHAMAN TENTANG KEWIRAUSAHAAN TERHADAP MINAT MENJADI WIRAUSAHAWAN PADA MAHASISWA PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF ANGKATAN 2015 UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAK: Di era globalisasi saat ini, persaingan di dunia kerja semakin ketat sehingga sangat sulit mendapatkan sebuah pekerjaan. Banyak lulusan dari perguruan tinggi masih kesulitan mendapatkan pekerjaan sehingga mereka menjadi seorang penganguran terdidik, hal ini dipengaruhi oleh ketidaksesuaian kompetensi yang dimiliki, dan ketersediaan lapangan pekerjaan. Dengan sulitnya mencari pekerjaan mereka memiliki peluang lain yang dapat ditingkatkan yaitu adalah menjadi seorang wirausaha. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pemahaman tentang kewirausahaan dan mengetahui hubungan antara pemahaman tentang kewirausahaan dengan minat menjadi wirausaha mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang angkatan 2015. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian menggunakan pendekatan deskriptif korelasional untuk mengetahui hubungan dari dua variable. Instrument dalam penelitian ini ada dua yaitu tes dan non tes, soal tes untuk mengukur pemahaman tentang kewirausahaan. Sedangkan non tes digunakan untuk mengukur minat menjadi menjadi wirausahawan akan diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Untuk analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dan analisis inferensial. Berdasarkan hasil analisis data, temuan-temuan penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah 17% mahasiswa menyatakan memiliki pemahaman yang tinggi tentang wirausaha dan 18,2% mahasiswa menyatakan memiliki minat yang tinggi tentang wirauaha. Kesimpulan dari temuan-temuan penelitian yaitu: (1) pemahaman siswa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat mahasiswa untuk menjadi wirausaha. (2) hanya 17% mahasiswa yang memahami tentang wirausaha, sehingga banyak siswa yang tidak tidak berorientasi menjadi wirausaha tetapi mereka lebih berorientasi mencari pekerjaan. Mayoritas mahasiswa belum siap untuk membuat usaha untuk dirinya sendiri dan lebih memilih untuk bekerja pada orang lain