SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1608 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN METROLOGIINTERAKTIF BERBASIS FLASH DI SMK MUHAMMADIYAH 1 KEPANJEN UNTUK TEKNIK PEMESINAN
ABSTRAK Annajihin, Ahmad Kamal. 2018.Pengembangan media pembelajaran metrologi interaktif berbasis flash di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen untuk teknik pemesinan. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sunomo, Dr., H, M.Pd. (II) Basuki, Drs., M.Pd. Kata kunci: Pengembangan, Metrologi, JangkaSorong, Mikrometer Pada awal semester pendidikan di SMK, peserta didik akan dikenalkan pada alat jangka sorong dan mikrometer. Dengan berkembangnya teknologi dalam dunia aplikasi multimedia, terlebih ada aplikasi yang menyajikan multimadia yang ringan dan interaktif yaitu Adobe Flash Player, peneliti bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif yang berfokus pada metrologi khususnya alat ukur jangka sorong dan mikrometer. Pengembangan dilakukan di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen guna menunjang sarana pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran metrologi ini mengadopsi model pengembangan ADDIE. Tahapan model ADDIE diantaranya adalah; 1) analisis, 2) desain, 3) pengembangan, 4) implementasi, 5) evaluasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket (kuisioner) yang diberikan kepada ahli media, ahli materi, dan ujicoba kelompok kecil dengan 20 responden (peserta didik). Data yang diperoleh dari hasil observasi berupa data kualitatif yang dianggap sebagai data awal dan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil penskoran, data analisis kebutuhan menunjukkan perlu adanya pengembangan media pembelajaran metrologi, data hasil validasi berupa kuantitatif kemudian diterjemahkan kevalidannya. Hasil validasi isi terhadap kelayakan dan kemudahan penggunaan media pembelajaran ini, menunjukkan hasil yang valid. Hasil validasi ahli media 83,6%, hasil validasi ahli materi 98,9%, dan hasil ujicoba kelompok kecil 90,5%. Media pembelajaran metrologi ini terdiri dari tiga menu, diantaranya; materi, latihan, dan test. Materi berisi tentang pengetahuan dasar alat ukur jangka sorong dan mikrometer, latihan berisi tentang uji coba cara membaca skala dengan jawaban, test berisi tentanguji coba cara membaca skala tanpa jawaban. Pengoptimalan penggunaan media pembelajaran metrologi ini difasilitasi komputer atau laptop sepesifikasi minimal intel pentium IV, RAM 512 MB, Hardisk 40 GB, dan Monitor SVGA 1024x768 pixel.Pendidik dapat bertindak sebagai pembimbing jika pembelajaran teori dilakukan didalam kelas dengan media laptop/komputer dan LCD Proyektor.Penggunaan produk media sebagai praktisi pendidikan dikalangan SMK atau SMA, khususnya SMK jurusan pemesinan untuk mempermudah mempelajari dan memahami alat ukur khususnya jangka sorong dan mikrometer guna menyambut persaingan industri global
Studi Kesesuaian Peralatan Laboratorium TBSM Honda Dengan Standar Honda di SMKN 9Malang
ABSTRAK Peralatan praktikum di sekolah memiliki peranan penting untuk melatih siswa. Sebagai contoh, SMKN 9 Malang memiliki kelas otomotif yang bekerjasama dengan pihak honda. Namun peralatan yang ada belum pernah di evaluasi mengenai standar peralatan, sehingga di teliti oleh peneliti. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah peralatan praktikum di SMKN 9 Malang sesuai dengan standar Honda di SMK. Selain itu, penelitian ini membahas bagaimana standar peralatan untuk sepeda motor honda dan untuk mengetahui kondisi peralatan praktikum di SMKN 9 malang. Peneliti ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode survey deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah 2 guru dan staff bengkel. Pengumpulan datanya menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa peralatan yang ada di honda SMKN 9 Malang sudah sesuai dengan standar honda. Hanya saja 2 alat yang kurang yaitu gear holder M1.5 dan gear holder M2.5
MANAJEMEN PENGELOLAAN TEACHING FACTORY BIDANG TEKNIK PEMESINAN DI SMK ISLAM 1 BLITAR
RINGKASAN Perkembangan dunia industri dinegara ini tidak dapat dipungkiri banyak sekali membutuhkan tenaga kerja profesional yang siap kerja di dunia industri, banyak sekali perkembangan yang sangat pesat dibidang apapun, contohnya pada bidang pemesinan yang sekarang banyak sekali perkembangan. Oleh karena perkembangan yang ada, pihak industri selalu membutuhkan tenaga kerja yang produktif dan mampu memberikan kontribusi tinggi untuk dunia industri ataupun tempat industrinya. Dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu badan institusi pendidikan yang bertujuan mencetak tenaga kerja yang diharapkan tersebut. Salah satu langkah SMK untuk mempersiapkannya yaitu dengan dilaksanakannya teaching factory. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan manajemen pengelolaan teaching factory bidang teknik pemesinan di SMK Islam 1 Blitar yang meliputi pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan teaching factory. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian studi kasus.Subjek penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Ketua Teaching Factory, dan Ketua Program Keahlian Teknik Pemesinan. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, pengamatan (observasi), dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, display data, serta pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pengorganisasian teaching factory meliputi Kepala sekolah sebagai penanggung jawab utama, wakil sarana dan prasaran sebagai ketua teaching factory dan masing-masing kepala program keahlian sebagai penanggung jawab di setiap jurusan. Siswa sebagai pelaksana langsung dalam pembuatan benda kerja yang di awasi dan dibantu oleh guru. Pelaksanaan teaching factory dilakukan bersamaan dengan proses belajar mengajar di bengkel dengan menggunakan sistem blok. Pengawasan dilakukan oleh pihak sekolah dan industri, dimana dalam hal ini guru sebagai pengawas langsung saat pelaksanaan teaching factory di sekolah. Bagi SMK Islam 1 Blitar, sarana dan prasarana yang sudah tersedia untuk dimanfaatkan dengan maksimal, mesin yang kepresisiannya melenceng jauh diharapkan untuk dapat diadakan pengadaan alat baru karena untuk menjaga kualitas dari hasil yang telah dikerjakan. Diharapkan dapat meningkatkan kepedulian terhadap proses produksi serta pelaksanaan teaching factory di sekolah. Serta kerjasama yang ada baik di sekolah maupun dengan DU/DI untuk peningkatan pelaksanaan teaching factory
Pengaruh Variasi Konsentrasi Magnesium Stearate Terhadap Sifat Mekanis Biofoam Berbasis Pati Singkong Berpenguat Bacterial Cellulose
RINGKASAN Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduknya adalah 262 juta jiwa pada tahun 2017. Namun dengan banyaknya penduduk, maka semakin banyak permasalahan yang ditimbulkan. Sampah masih menjadi salah satu permasalahan klasik yang timbul di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan penghasil sampah plastik terbanyak kedua didunia, diantaranya adalah sampah styrofoam. Diantara banyak pilihan untuk menaggulangi sampah, salah satunya adalah menggantti styrofoam dengan bahan ramah lingkungan yaitu biofoam. Banyak penelitian yang mencoba mengembangkan pati sebagai bahan dasar pembuatan biofoam, tetapi masih terdapat kekurangan pada biofoam. Pati singkong memiliki potensi sebagai bahan baku biofoam. Singkong merupakan tanaman jenis umbi-umbian yang mudah tumbuh di Indonesia, selain itu singkong juga dijual di berbagai tempat dan bukan merupakan tanaman musiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan magnesium stearate 4%, 5%, 6% dan 7% w/w terhadap karakteristik biofoam, dengan melakukan beberapa pengujian meliputi (1) pengujian tarik untuk mengetahui kekuatan tarik biofoam pati singkong, (2) uji SEM untuk mengetahui morfologi biofoam pati singkong, (3) uji XRD untuk mengidentifikasi kristalinitas dan (4) uji FTIR untuk mengetahui gugus fungsi biofoam pati singkong. Bahan pembuatan biofoam yaitu, (1) pati singkong, (2) bacterial cellulose, (3) magnesium stearate, (4) guar gum dan (5) gliserol. Hasil dari penelitian ini yakni, penambahan magnesium sterate menurunkan kekuatan tarik dan meningkatkan elongitas biofoam berbasis pati singkong. Biofoam berbasis pati singkong variasi magnesium stearate 4% memiliki nilai kuat tarik rata-rata 690,8 kPa. Nilai elongasi tertinggi didapat pada penambahan magnesium stearate 7% dengan pertambahan panjang sebesar 13,13%. Pada gambar SEM penambahan magnesium stearate 5% didapat hasil gambar yang bagus, dan area cross section terlihat homogen. Puncak difraksi XRD tertinggi dicapai pada biofoam berbasis pati singkong variasi magnesium stearate 4% menghasilkan puncak difraksi pada 2q sudut 21,65o dengan intensitas nilai puncak intensitas 88. Pengujian FTIR dengan menambahkan magnesium stearate menyebabkan munculnya puncak baru yaitu disekitar puncak gugus 1410 – 1560, yang dapat disimpulkan sebagai area sidik jari magnesium stearate
Persepsi Guru Tentang Pengelolaan Kelas Industri di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen
RINGKASAN Belajar merupakan keharusan bagi setiap manusia agar kehidupan yang dijalankan menjadi mudah. Dengan belajar, manusia akan memperoleh ilmu baik formal atau non formal sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan mereka. SMK merupakan pendidikan formal yang proses pembelajarannya lebih meningkatkan kepada skill.SMK memiliki berbagai jurusan dengan fokus dan kelebihannya masing-masing sesuai jurusan tersebut. Banyaknya jurusan yang ada diharapkan dapat menyalurkan serta mengembangkan bakat dan minat peserta didik sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan mereka,salah satu contohnya adalah program kerjasama antara sekolah dengan pihak industri atau biasa disebut kelas industri.SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen merupakan sekolah kejuruan terakreditasi A dan merupakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang menerapkan system menejemen mutu ISO 9001 : 2008. Segenap unsur pendidikan yang ada di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen selalu berusaha menjadikan kelas-kelas yang ada di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang sebagai kelas industri dengan harapan lulusannya bisa terserap sebanyak-banyaknya di industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru tentang pengelolaan kelas industri di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Populasi dan sampel penelitian ini adalah guru mata pelajaran teknik kendaraan ringan dan teknik sepeda motor. Pengumpulan data menggunakan angket pernyataan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan melihat persentase kepuasan dari guru tentang pengelolaan kelas industri di SMK muhammadiyah 1 Kepanjen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) persepsi guru tentang perencanaan kelas industri dalam kategori sangat baik, (2) persepsi guru tentang pelaksanaan kelas industri dalam kategori baik, (3) persepsi guru tentang penilaian kelas industri dalam kategori baik, dan (4) persepsi guru terhadap faktor pendukung dan faktor penghambat selama pengelolaan kelasindustri dapat teratasi dengan kategori baik. Kesimpulan penelitian, persepsi guru tentang pengelolaan kelas industri di SMK Muha-mmadiyah 1 Kepanjen dalam kategori baik, meskipun begitu perlu ditingkatkan lagi kerjasama antara sekolah dan industri agar kerjasama yang terjalin akan lebih baik kedepannya. Banyak keuntungan dan manfaat yang didapat oleh sekolah dan industri melalui kerjasama ini. Adanya kelas industri juga diharapkan mengatasi permasalahan pengangguran yang tinggi di Indonesia karena dengan kerjasama kelas indutri mampu meningkatkan kualitas lulusan dan mudah dalam bekerja melalui perekrutan kerja oleh industri yang bekerja sama
Sintesis dan Karakterisasi Manganese Ferrite (MnFe2O4) Menggunakan Metode Co-Precipitation Dengan Variasi pH
RINGKASAN Peran serta dalam pengembangan dan peningkatan teknologi sudah menjadi tuntutan bagi setiap peneliti di seluruh dunia. Termasuk penelitian tentang nanoteknologi dan material magnetik yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Sehingga, penelitian tentang nanomaterial magnetik memiliki peluang yang sangat besar terhadap pengembangan dan peningkatan teknologi saat ini. Pada artikel ini membahas bagaimana pengaruh pH manganese ferrite pada proses sintesis dengan metode co-precipitation terhadap fasa, morfologi dan sifat magnetiknya. Nilai pH yang ditentukan yaitu 8, 10, dan 12 dan akan dipisahkan pada setiap pH dilakukan proses sintering pada suhu 1000oC dengan holding 3 jam dan yang tidak dilakukan proses sintering. Nanopowder manganese ferrite yang telah disintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD, SEM, dan VSM. Hasil XRD menunjukkan bahwa sampel tanpa proses sintering pada semua pH bersifat amorf. Sedangkan pada sampel dengan proses sintering pada semua pH terjadi single phase yang menjadikan dalam satu lattice dengan ukuran 59.48; 41.60; dan 29.72 nm untuk pH 8, 10, dan 12. Pengujian SEM menunjukkan bahwa semua material bersifat homogen. Walaupun ukuran bulk pada sampel tanpa proses sintering lebih kecil dan lebih bersifat homogen dibanding sampel dengan proses sintering. Seringing Meningkatnya pH, sampel menjadi lebih homogen. Sehingga terjadi hubungan bahwa semakin tinggi tingkat pH akan menghasilkan ukuran kristalit yang semakin kecil. Ketahanan magnetik dari sampel dengan proses sintering akan semakin kecil seiring semakin meningkatnya pH pada sampel
Pengembangan Buku Ajar Instalasi Motor Listrik Pengendali Elektromagnetik Dengan Pendekatan Saintifik Untuk siswa kelas XI Semester 4 di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi
ABSTRACT Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya.Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya. Salah satucara yang efektif untuk membantu siswa dalam mempermudah proses belajar yaitu dengan pemanfaatan bahan ajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan guru / instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud dapat berupabahan tertulis maupun tidak tertulis (Abdul Majid, 2007:174). Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah maka tujuan dari penelitian pengembangan buku ajar ini adalah untuk Merancang, Membuat dan Menguji tingkat kelayakan Buku Ajar Instalasi Motor Listrik Pengendali Elektromagnetik dengan Pendekatan Saintifik untuk Siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Malang. Penulis mengambil pendekatan pengembangan Sadiman karena lebih sesuai dengan penelitian pengembangan yang dilakukan oleh peneliti. Adapun langkah - langkah pengembangan Sadiman meliputi: a) menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa; b) merumuskan tujuan instruksional dengan operasional dan khas; c) merumuskan butir - butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan; d) mengembangkan alat ukur keberhasilan; e) menulis naskah media; f) mengadakan tes dan revisi. Data Kuantitatif hasil validasi ahli adalah114 untuk buku ajar dan jobshet. Sedangkan skor maksimal yang diharapkan (TSh) adalah132 untuk buku ajar dan jobsheet. Hasil pak Dwi Prihanto 86.39% untuk buku ajar dan 87.31 % untuk jobshee, sedangkan buYuni Rahmawati memberiskor 90.80% untuk buku ajar dan 88.61 % untuk jobsheet.Dari hasil uji coba kelompok kecil adalah 1180 untukbuku ajar dan 1189 untuk jobsheet.Sedangkan skor maksimal yang diharapkan (TSh) adalah 1289 untuk buku dan jobsheet. Hasil 89,49untuk buku ajar dan 90,10 untuk jobsheet. Hasil uji lapangan adalah 3591 untuk buku ajar dan 3576 untuk jobsheet.Sedangkan skor maksimal yang diharapkan (TSh) adalah 4122 untuk buku ajar dan jobsheet. Hasil 87,70untuk buku ajar dan 86,19 untuk jobsheet
PETA ISI KOMPETENSI DASAR BAHASA INDONESIA KELAS X KURIKULUM 2013 REVISI 2016
ABSTRACT Sofiani, Ismi. 2017. Peta Isi Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum 2013 Revisi 2016. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Kusubakti Andajani, M.Pd Kata Kunci: kompetensi dasar, bahasa Indonesia, Kurikulum 2013 revisi 2016. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA/MA/SMK/MAK memiliki empat tujuan utama yang tertuang dalam kompetensi inti dandijabarkan dalam kompetensi dasar. Kompetensi dasar memiliki peran yang penting dalam kurikulum. Pencapaian tujuan pembelajaran dan standar kompetensi lulusan sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap kompetensi dasar. Pentingnya fungsi kompetensi dasar menjadi alasan peneliti memilih penelitian berupa Peta Isi Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum 2013 Revisi 2016. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif menelusuri/mengeksplor isi kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 yang telah direvisi pada tahun 2016i. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X kurikulum 2013 revisi 2016. Data dalam penelitian ini berupa pernyataan-pernyataan kompetensi dasar pengetahuan dan kompetensi dasar keterampilan kelas X. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) memetakan isi kompetensi dasar pengetahuan dalam kompetensi dasar Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum 2013 revisi 2016, dan (2) memetakan isi kompetensi dasar pengetahuan dalam kompetensi dasar Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum 2013 revisi 2016. Berdasarkan analisis data diperoleh dua simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X kurikulum 2013 revisi 2016 berisi (a) kemampuan berpikir tingkat rendah yang dipetakan oleh kata kerja operasional menghubungkan, dan (b) kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dipetakan oleh kata kerja operasional mengidentifikasi, membandingkan, menganalisis, dan mengevaluasi. Kedua, kompetensi dasar keterampilan Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum 2013 revisi 2016 berisi (a) kemampuan berpikir tingkat rendah yang dipetakan oleh kata kerja operasional menginterpretasi, menciptakan kembali, menceritakan kembali, menyususn, mengungkapkan kembali, mendemonstrasikan, dan mereplikasi, dan (b) kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dipetakan oleh kata kerja operasional mengkonstruksikan. Saran dari peneliti adalah (1) guru sebaiknya lebih cermat dalam memahami isi kompetensi dasar agar tidak terjadi kesalahan penafsiran kompetensi dasar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, (2) kepala sekolah perlu memberi perhatian terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dengan cara menyediakan fasilitas yang dapat membantu terlaksananya pembelajaran bahasa Indonesia dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan (3) peneliti yang mengabdikan diri untuk meneliti masalah pendidikan sebaiknya melakukan penelitian yang berkaitan dengan kompetensi dasar Bahasa Indonesia kurikulum 2013 revisi 2016 untuk melengkapi dan menyempurnakan penelitian ini
KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA KEDIRI DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PRODAMAS DI KELURAHAN SETONOPANDE, KECAMATAN KOTA, KOTA KEDIRI
ABSTRACT Laksana Aka, Depril. 2017. Kebijakan Pemerintah Kota Kediri Dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat melalui Prodamas di Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Prodi PPKn, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum (2) Yuniastuti, S.H, M.Pd Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah, Pemberdayaan Masyarakat, Prodamas Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui beberapa kegiatan antara lain peningkatan prakarsa dan swadaya masyarakat, perbaikan lingkungan, pengembangan usaha ekonomi masyarakat, serta kegiatan-kegiatan masyarakat yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menaikan hasil produksinya. Dalam memberdayakan masyarakat di Kota Kediri, Pemerintah Kota Kediri membuat kebijakan tentang Program Pemberdayaan Masyarakat (Prodamas) yang terdapat pada Peraturan Walikota Kediri Nomor 40 Tahun 2014 jis Peraturan Walikota Kediri Nomor 53 Tahun 2014 jis Peraturan Walikota Kediri Nomor 2 Tahun 2016 jis Peraturan Walikota Kediri Nomor 21 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Fasilitasi Pemberdayaan Masyarakat. Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota, Kota Kediri merupakan tempat yang di pilih oleh peneliti untuk diadakannya penelitian tentang Kebijakan Pemerintah Kota Kediri dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui Prodamas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan (1) pemberdayaan masyarakat sebelum adanya Prodamas; (2) Prodamas dalam memberdayakan masyarakat; (3) dampak adanya Prodamas bagi masyarakat; dan (4) faktor-faktor yang menjadi penghambat dan pendukung adanya Prodamas bagi pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Didalam penelitian ini pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif.Sumber data diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Model analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah model analisis data Miles dan Huberman, yang terdiri dari pengumpulan data, kondensi data, penyajian data,dan penarikan kesimpulan. Untuk memastikan keabsahan data yang diperoleh dari hasil penelitian, peneliti menggunakan Perluasan partisipasi, Ketekunan observasi dan Triangulasi. Hasil dari penelitian ini (1) Pemberdayaan masyarakat sebelum adanya Prodamas di Kelurahan Setonopande ada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dengan program di dalamnya dinamakan Program Pengentasan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP); (2) Prodamas dalam memberdayakan masyarakat meliputi 3 bidang pemberdayaan, yang pertama pemberdayaan di bidang infrastruktur, yang kedua di bidang ekonomi dan yang ketiga di bidang sosial. Dimana program pemberdayaan berawal dari usulan masyarakat lewat forum rembug warga; (3) Dampak adanya Prodamas bagi masyarakat bisa dirasakan langsung dan tidak langsung oleh masyarakat. Beberapa program pemberdayaan di bidang ekonomi tidak bisa dirasakan langsung dampaknya oleh masyrakat. Dengan adanya Prodamas masyarakat menjadi sangat terbantu dalam menjalani kehidupan sehari-hari; dan (4) Faktor-faktor yang menjadi penghambat Prodamas bagi pemberdayaan masyarakat meliputi perbedaan pendapat antar warga pada saat diselenggarakannya rembug warga, partisipasi warga dalam menghadiri rembug warga, harga barang yang di RAB-kan tidak sesuai dengan harga yang di lapangan dan wilayah yang digunakan untuk menajalankan Prodamas berstatus bukan hak milik. Dan untuk faktor pendukungnya yaitu partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan di bidang infrastruktur terutama di pembangun fisiknya. Partisipasi masyarakat berupa bantuan tenaga kerja dan konsumsi dalam proses pembangunan. Saran dari peneliti untuk Pemerintah Kota Kediri pagu dana yang dipergunakan untuk Prodamas lebih baik jangan ada batasan untuk pemberdayaan di bidang tertentu harus sekian persen dari pagu dana, sehingga masyarakat lebih bisa mengoptimalkan pagu dana dari prodamas untuk pemberdayaan masyarakat. Untuk Lurah Setonopande seharusnya memonitoring kelanjutan program yang disusulkan oleh masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat khususnya di bidang ekonomi dan sosial. Untuk Ketua RT di Kelurahan Setonopande hendaknya lebih mensosialisasikan inventarisasi RT yang didapat dari usulan Prodamas di papan pengumuman, bertujuan agar semua warga mengetahui inventarisasi RT apa saja yang dipunyai oleh RT. Dan untuk masyarakat Kelurahan Setonopande harus lebih meningkatkan partisipasi dalam menghadiri acara rembug warga, dan usulan-usulan yang diusulkan dalam rembug warga jangan mementingkan kepentingan pribadi, melainkan harus mementingkan kepentingan bersama. Sehingga semua masyarakat bisa merasakan bersama
Proses Pembelajaran Sejarah (Persiapan, Pelaksanaan, Dan Evaluasi) Di Sma Negeri 1 Sukapura Kabupaten Probolinggo
ABSTRAK RINGKASAN Ningsih, Soleha Hoirul. 2017. Proses Pembelajaran Sejarah (Persiapan, Pelaksanaan, dan Evaluasi) di SMA Negeri 1 Sukapura Kabupaten Probolinggo. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Mashuri, M.Hum. Kata Kunci: proses, pembelajaran sejarah, Kabupaten Probolinggo. Berdasarkan observasi yang dilaukan di sekolah SMAN 1 Sukapura Kabupaten Probolinggo, diketahui bahwa guru matapelajaran sejarah hanya ada satu dan mengajar semua kelas dari kelas X-XII, guru mempunyai beban mengajar 38 jam. Kurikulum yang digunakan di sekolah ini menggunakan Kurikulum 2013 dan KTSP. Kurangnya tenaga pendidik menyebabkan jumlah beban mengajar yang sangat tinggi pada guru matapelajaran sejarah berimbas pada rendahnya efektifitas guru dalam merancang proses pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik siswa. Permasalahan yang ada pada penelitian ini adalah dengan beban mengajar yang sangat tinggi dan penggunaan kurikulum yang berbeda. Bagaimana cara guru memaksimalkan persiapan dalam merancang proses pembelajaran, melakukan pelaksanaan pembelajaran, dan melakukan evaluasi pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Tehnik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini berupa observasi, wawancara dan dokumntasi. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti melakukan pengecekan temuan data menggunakan uji kredibilitas data dengan melakukan kegiatan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan pembelajaran yang dilakukan guru dengan membuat perangkat pembelajaran silabus sesuai dengan Permendikbud dan RPP kelas X-XII. Rancangan persiapan pembelajaran yang dibuat guru sudah lengkap, namun dalam penggunaan metode yang rancang guru kurang bervariasi, kurang maksimal, dan cakupan materi yang disusun guru terlalu luas, sehingga dalam hal ini persiapan yang dilakukan termasuk dalam kategori sedang. Pelaksanaan pembelajaran kategori sedang, guru telah melakukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran sesuai dengan yang disusun dalam RPP, namun kurang efektif dalam metode dan model yang digunakan karena dalam pelaksanaan pembelajaran metode ceramah dianggap kurang efektif dan kurang bervariasi untuk membuat peserta didik aktif dalam pembelajaran. Evaluasi yang dilakukan guru termasuk dalam kategori sedang, karena hasil penilaian yang sudah guru rancang tidak digunakan sebagai pedoman alat untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran kerah yang lebik baik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, disarankan dalam melakukan pembelajaran di sekolah hendaknya terlebih dahulu merancang persiapan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik, dan peraturan yang telah ditetapkan dalam pendidikan. Dalam pembelajaran guru hendaknya melakukan evaluasi terhadap bembelajaran yang sudah dilaksanakan, agar pembelajaran berjalan efektif dan efisien sesuai dengan apa yang diharapkan