SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    1608 research outputs found

    Sintesis dan Karakterisasi Manganese Ferrite dengan Variasi Waktu Sintering.

    No full text
    ABSTRAK   Karakterisasi fasa dan morfologi serbuk manganese ferrite (MnFe2O4) bertujuan untuk memperkecil ukuran butir MnO dan Fe2O3 dari ukuran mikro menjadi ukuran nano menggunakan metode Co-precipitiondengan variasi waktu sintering. Co-precipition merupakan metode sintesis yang sederhana dan sudah teruji dalam mensintesiskan berbagai macam material oksida berukuran mikro menjadi nano. Sintering time merupakan teknik yang dilakukan dalam proses sintesis untuk memperbaiki susunanpartikel material dengan suhu diatas suhu normal. Suhu yang digunakan dalam proses sintering 1000 ºC. Material uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah manganese oxide (MnO) dan Iron oxideFe2O3. MnO dan Fe2O3 yang dipilih berbentuk serbuk berukuran mikro, merupakan inovasi baru untuk menghasilkan material oksida berukuran nano, dimana proses yang lazim digunakan dalam proses Co-precipitionmenggunakan solvent dengan material oksida campuran untuk menghasilkan material oksida. Pelaksanaan penelitian dilakukan di laboratorium Nano Reaearch and Advaced Meterials Universitas Negeri Malang dan laboratorium Bersama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data berupa data tabel, grafik dan morfologi. Temperatur sintering yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 1000 ºC dengan variasi waktu 120 menit, 180 menit dan 240 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan waktu sintering berpengaruh terhadap fasa dan morfologi dari manganese Ferrite. Pengaruh variasi waktu dalam proses sintering menunjukkan perkembangan fasa dan morfologi dari MnFe2O4 dengan variasi waktu 240 menit. Perubahan fasa MnFe2O4 120 menit, 180 menit dan 240 menit menunjukkan perubahan ukuran butir kristal sebesar 84.187nm, 60.113 nm, dan 60.093 nm Perubahan tersebut sangat signifikan, karenaMnFe2O4 setelah mengalami sintesis dengan variasi waktu sintering morfologi butirannya berubah menjadi bulat dengan terdapat aglomerasi partikel yang diendapkan pada membran butirMnFe2O4, serta ditunjukkan ukuran butirannya yang berbeda. Perubahan fasa dan morfologi dari MnO dan Fe2O3berukuran mikro menjadi nano telah berhasil. Hasil dari perubahan tersebut dipengaruhi oleh sintesis dengan metodeCo-precipition, proses crushing, dan variasi sintering time. Berdasarkan keadaan ini disarankan bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang sama dengan menggunakan metode Co-precipition, untuk melakukan variasi waktu sintering dan variasi waktu stirring

    Kesiapan Sarana Prasarana dalam Menuju Sekolah Rujukan Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 (Study Kasus di SMK Negeri 3 Boyolangu)

    No full text
    ABSTRAK   Aminulloh, Ulfian, Asifa’. 2017. Kesiapan Sarana Prasarana dalam Menuju Sekolah Rujukan Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 (Study Kasus di SMK Negeri 3 Boyolangu). Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yoto, S.T, M.M, M.Pd., (II) Drs. Partono, M.Pd.   Kata Kunci:  Sarana Prasarana, Permendiknas No. 40 Tahun 2008, SMK Rujukan   SMK Rujukan dibentuk dengan tujuan pemerataan pendidikan dan peningkatan mutu lulusan SMK secara keseluruhan. SMK Rujukan ini nantinya akan menjadi sekolah induk (aliansi) bagi 3 atau 4 SMK sejenis yang skalanya lebih kecil yang lokasinya tidak berjauhan di suatu daerah. SMK aliansi tersebut dapat memanfaatkan fasilitas maupun sumberdaya yang terdapat di SMK rujukannya. Salah satu persyaratan SMK agar dapat ditunjuk sebagai SMK rujukan adalah adanya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang memadai tersebut harus memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan dalam standar sarana dan prasarana. Standar sarana dan prasarana ini mencakup: (1) kriteria minimum sarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan komunikasi, serta perlengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah, dan (2) kriteria minimum prasarana yang terdiri dari lahan, bangunan, ruang-ruang, dan instalasi daya dan jasa yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah. Untuk mendukung hal tersebut tentu SMK Rujukan membutuhkan bengkel kerja produktif standar, bengkel kerja yang smart (cerdas), tempat uji kompetensi, fasilitas kegiatan bersama bagi siswa dan guru pada bidang seni, olahraga dan sebagainya serta memiliki teaching factory (pabrik) dan sumber belajar (perpustakaan). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan empat hal yang terkait dengan ketersediaan sarana prasarana yang ada di jurusan Teknik Permesinan dan Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri 3 Boyolangu serta kendala dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kesiapan adalah suatu kondisi atau keadaan yang ada pada seseorang atau suatu lembaga untuk mempersiapkan diri baik secara mental, maupun fisik untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sarana pendidikan adalah semua kelengkapan atau fasilitas di sekolah yang secara  langsung digunakan dalam proses belajar mengajar di sekolah, seperti: meja, kursi, buku, dan papan tulis. Prasarana pendidikan adalah semua kelengkapan atau fasilitas pendukung di sekolah yang secara tidak langsung menunjang proses belajar mengajar di sekolah, seperti: ruang perpustakaan, kantin, koperasi, kamar mandi, gudang, lapangan olahraga dan tempat parkir kendaraan. SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menye-lenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah. Sekolah rujukan adalah satuan pendidikan yang telah terakreditasi A, mengembangkan ekosistem pendidikan, budaya mutu, penumpuhan budi pekerti yang dapat dirujuk sebagai contoh bagi sekolah-sekolah lain. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Subjek penelitian dipilih berdasarkan purposif sampling, yaitu (1) Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana prasarana, (2) Kepala Paket Keahlian Teknik Permesinan, (3) Kepala Paket Keahlian Teknik Kendaraan Ringan, (4) Kepala Bengkel Teknik Permesinan (5) Juru Bengkel Teknik Kendaraan Ringan. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi (triangulation) dari segi sumber data dan metode pengambilan data. Hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Kondisi ketersediaan sarana prasarana pada teknik permesinan SMK Negeri 3 Boyolangu sudah sesuai dengan standar yang ditentukan Permendiknas No. 40 Tahun 2008; (2) Kondisi ketersediaan sarana prasarana pada teknik kendaraan ringan SMK Negeri 3 Boyolangu sudah sesuai dengan standar yang ditentukan Permendiknas No. 40 Tahun 2008; (3) Kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam melengkapi sarana dan prasarana pada bengkel teknik pemesinan dan teknik kendaraan ringan  di SMK Negeri 3 Boyolangu. Kendala yang paling mencolok yaitu sarana yang berupa mesin-mesin pada teknik permesinan yang harus ditambah lagi jumlahnya agar dalam kegiatan praktik tersebut siswa maupun guru bisa maksimal. Kendala yang ada dibengkel Teknik Kendaraan yang paling utama dari segi anggaran yang terbatas sehingga untuk Teknik Kendaraan Ringan tersebut harus bekerjasama dengan perusahaan atau industri-industri otomotif supaya me­leng­kapi ketersediaan sarana pra­sarana di Teknik Kendaraan Ringan; (4) Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan sarana prasarana dalam menuju sekolah rujukan meliputi faktor pendukung seperti kualitas SDM yang dimiliki ituy sendiri dan bantuan dari industri. Kemudian faktor penghambat seperti sering terlambatnya anggaran sehingga mempengaruhi proses perbaikan maupun perawatan mesin-mesin yang digunakan untuk praktik, yang kedua masalah pengadaan mesin ataupun trainer yang mesih perlu ditambah, dan yang selanjutnya yaitu masalah luas lahan untuk menampung siswa siswi yang ingin belajar di SMK Negeri 3 Boyolangu sebagai sekolah rujukan. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti melalui observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap keberadaan atau ketersediaan kondisi sarana dan prasarana praktik pada bengkel teknik pemesinan dan teknik kendaraan ringan sudah cukup sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh meteri pendidikan nasional nomor 40 tahun 2008. Sebagai sekolah rujukan SMK Negeri 3 Boyolangu sebaiknya melakukan pembangunan guna me­nam­bah luas ruang bengkel teknik peme­sinan, serta memberikan pemba­tas untuk ruang bengkel teknik ken­daraan ringan sehingga area kerja kendaraan ringan dapat disendirikan, juga menambah sarana berupa mesin praktik di teknik permesinan serta memperbarui trainer atau mesin praktik di teknik kerndaraan ringan karena teknologi otomotif akan semakin berkembang dari yang sebelumnya konvesional menjadi lebih modern.   Aminulloh, Ulfian Asifa'. 2017. The Infrastructure Readiness on Preparing School as Referencel Based on Minister of Education No. 40 Year 2008 (Case Study at SMK Negeri 3 Boyolangu). Sarjana’s Thesis, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisor: (i) Dr.Yoto, ST, MM, M.Pd., (II) Drs.Partono, M.Pd.   Keywords: Infrastructure, Permendiknas No. 40 of 2008, SMK Referral   SMK Reference is established with the aim of equity education and quality improvement of vocational graduates as a whole. This Referral Vocational School will be the main school (alliance) for 3 or 4 SMK of a smaller scale whose location is not far apart in an area. The vocational alliance can utilize the facilities and resources contained in its reference vocational school. One of the requirements of SMK to be appointed as a referral SMK is the existence of adequate facilities and infrastructure. Sufficient facilities and infrastructure must meet the minimum requirements set out in the standard of facilities and infrastructure. The standard of facilities and infrastructure includes: (1) minimum criteria of facilities consisting of furniture, educational equipment, educational media, books and other learning resources, information and communication technology, and other equipment required by each school/madrasah, and (2) minimum infrastructure criteria consisting of land, buildings, spaces, and power and service installations required by each school/madrasah. To support it, of course, SMK Reference needs standard productive workshop, smart workshop, competency test facility, joint activity facility for students and teacher in art, sport and so on and has teaching factory and learning resource library). This study aimed to describe four issues related to the availability of existing infrastructure in the Department of Mechanical Machinery and Mechanical Light Vehicle SMK Negeri 3 Boyolangu as well as constraints and the factors that influence it. Readiness is a condition or circumstances that exist in a person or an institution to prepare themselves both mentally, and physically to achieve the desired goals. Educational facilities are all the completeness or facilities in schools that are directly used in teaching and learning in schools, such as desks, chairs, books, and whiteboards. Educational infrastructure is all the completeness or support facilities in schools that indirectly support the teaching and learning process in schools, such as library space, canteen, cooperatives, bathrooms, warehouses, sports fields and vehicle parking. SMK is one form of a formal education unit that provides vocational education at secondary education level. The referral school is an accredited educational unit A, develops an educational ecosystem, a culture of quality, character cultivation that can be referred to as an example for other schools. This research was conducted using qualitative approach with case study design. Subjects selected by purposive sampling, namely (1) Vice Principal of facilities and infrastructure, (2) Head Package Technical Expertise Machinery, (3) Head Package Skills Light Vehicle Engineering, (4) Head Repair Engineering Machinery (5) Interpreter Repair Techniques Light Vehicles. Techniques of data collection using interviews, documentation and observation.Data analysis techniques in this study using triangulation in terms of data sources and data collection methods. The survey results revealed that: (1) The condition of the availability of infrastructure in machining techniques SMK Negeri 3 Boyolangu is in conformity with the standards that determined by Permendiknas No. 40 of 2008; (2) The condition of the availability of infrastructure in light vehicle engineering SMK Negeri 3 Boyolangu are in accordance with the specified standards Ministerial Regulation No. 40 of 2008; (3) Constraints faced by schools in equipping the facilities and infrastructure in the workshop machining techniques and techniques of light vehicles in SMK Negeri 3 Boyolangu. The most striking obstacle is the means in the form of machines on the engineering machinery that must be added again in order for the activity of these students and teachers can be maximized. The existing constraints are banned in Vehicle Engineering which is most important in terms of limited budget so that for the Light Vehicle Engineering must cooperate with automotive companies or industries in order to­leng­kapi availability of pre means­means in Lightweight Vehicle Engineering; (4) Factors that affect the readiness of infrastructure in schools towards supporting references include factors such as the quality of its human resources themselves and help from industry. Then the inhibiting factors such as frequent delays in budget so influence the process by feeling better and care machines used for practice, the second issue of procurement machines or trainer who mesih need to be added, and the next is the problem of the land area to accommodate students who wish to study in SMK Negeri 3 Boyolangu as a reference school. Based on the observation and research conducted by the researcher through observation, interview and documentation on the existence or availability of the condition of facilities and infrastructure of practice at the workshop of machining techniques and light vehicle engineering is sufficient in accordance with the standard set by the national education meteri number 40 year 2008. As a reference school SMK Negeri 3 Boyolangu should do the development in order to increase the workshop area of engineering workshops, as well as to provide limits for the workshop of light vehicle engineering so that the work area of light vehicles can be isolated, also add the means of machining practice in engineering machinery and renew the trainer or machine practice in lightweight kerndaraan techniques because automotive technology will progress from the conventional to the more modern

    Studi Kelayakan Bengkel Program Keahlian Teknik Mesin di SMK Islam 1 Blitar

    No full text
    ABSTRAK   Tanggung jawab sekolah SMK saat ini adalah mempersiapkan siswa menghadapi kompetisi yang sangat ketat dalam dunia industri. Dalam hal ini siswa dituntut untuk memiliki kompetensi yang tinggi untuk menjawab tantangan tersebut. Sebaliknya, pihak sekolah juga dituntut untuk menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Tanpa sarana dan prasarana yang sesuai siswa SMK akan kesulitan mengembangkan kemampuannya dan pada akhirnya akan menjadi salah satu penyebab pengangguran meningkat.Dalam program keahlian teknik pemesinan, salah satu sarana yang tak kalah penting adalah bengkel. Bengkel merupakan tempat untuk mempraktikan pekerjaan yang umum dilakukan di dunia teknik mesin.  Bengkel ini meliputi bengkel bubut, bengkel pengelasan, bengkel kerja bangku, dan bengkel CNC. Sebuah bengkel dikatakan layak jika sudah sesuai dengan standar pemerintah serta mengikuti perkembangan industri saat ini. Sekolah dengan fasilitas bengkel yang memadai, akan menghasilkan sebuah lulusan yang siap berkompetisi di dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tiga hal yang terkait dengan kelayakan sarana dan prasarana bengkel pemesinan yang meliputi standar kelayakan sarana dan sarana, faktor-faktor yang mempengaruhi kelayakan, serta upaya yang dilakukan untuk memperbaiki dan mengatasi kekurangan sarana bengkel program keahlian teknik pemesinan SMK Islam 1 Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berkaitan dengan kelayakan sarana dan prasarana ini diperoleh menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan sumber data Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana, Ketua Program Keahlian Teknik Pemesinan, dan Ketua Bengkel Teknik Pemesinan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan berdasarkan ketekunan peneliti, pengamatan ulang, dan triangulasi teknik dan sumber data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi dan reduksi data, serta tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data yang telah diperoleh, didapatkan tiga temuan hasil penelitian sebagai berikut: (1) Bengkel Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK Islam 1 Blitar sudah memenuhi kelayakan menurut Permendiknas Nomor 40 Tahun 2008 ditinjau dari jumlah peralatan praktik yang digunakan. Namun jika ditinjau dari prasarana, luas ruangan praktik belum memenuhi standar dari Permendiknas. Proses pembelajaran yang diterapkan di bengkel pemesinan SMK Islam 1 Blitar yaitu teaching factory merupakan konsep pembelajaran yang baik untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK; (2) Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam memenuhi kelayakan sarana dan prasarana bengkel program keahlian teknik pemesinan SMK Islam 1 Blitar meliputi faktor internal dan eksternal. Faktor pendukung internal dalam memenuhi kelayakan sarana dan prasarana bengkel pemesinan adalah dengan membuat benda kerja hasil praktik siswa dapat bermanfaat dan bernilai jual serta mendapat dukungan dari sekolah sehingga permintaan bantuan alat atau bahan untuk praktik dapat dipenuhi dengan mudah. Sedangkan pendukung faktor eksternalnya adalah pemerintah memberikan bantuan melalui dana BOS untuk memperbaiki dan melengkapi sarana dan prasarana khususnya bengkel pemesinan.Faktor penghambat internal dalam memenuhi kelayakan sarana dan prasarana bengkel pemesinan di SMK Islam 1 Blitar  adalah kurangnya kepedulian tentang budaya kerja industri pada siswa sehingga penggunaan alat dan bahan praktik tidak sesuai dengan peruntukannya. Sedangkan penghambat eksternalnya yaitu dana BOS dari pemerintah sering terlambat dalam proses pencairannya, selain itu pihak sekolah juga harus mengawal dana tersebut mulai dari pemerintah pusat sampai pada pemerintah provinsi; dan (3) Upaya-upaya yang dilakukan SMK Islam 1 Blitar dalam memperbaiki dan mengatasi kekurangan sarana dan prasarana dimulai dengan membuat rencana jangka pendek, jangka menengah, serta jangka panjang. Dalam hal proses pembelajaran, setiap kelas diberikan jadwal praktik yang berbeda untuk menyesuaikan kondisi bengkel. Pihak-pihak yang terlibat dalam perencanaan di atas adalah Wakasarpras, Ketua Program Keahlian, Kepala Bengkel, guru produktif, serta toolman

    Pengaruh Penambahan Azolla pinnata Terhadap Pertambahan Bobot Itik Mojosari Jantan dan Analisis Usaha

    No full text
    ABSTRAK   PENGARUH PENAMBAHAN Azolla pinnata PADA RANSUM TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT ITIK MOJOSARI JANTAN DAN ANALISIS USAHA   Ridho Aka Qomarizzaman1, Mohamad Amin1, Abdul Gofur1 1Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5, Malang 65145, Jawa Timur Email: [email protected] ABSTRAK : Kata Kunci: Azolla pinnata, bobot, itik Mojosari jantan, analisis usaha   Daging merupakan sumber protein hewani yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Itik adalah komoditas ternak unggas yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan daging. Budidaya itik mengeluarkan biaya paling banyak pada pakan. Peternak harus memberikan pakan alternatif agar bisa menekan biaya produksi. Sejumlah bahan pakan alternatif yang dapat diberikan pada itik salah satunya Azolla pinnata. Azolla pinnata adalah gulma yang tumbuh pada daerah perairan contohnya danau, rawa dan kolam budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) beda perlakuan penambahan Azolla pinnata terhadap pertambahan bobot itik Mojosari jantan, dan 2) penambahan Azolla pinnata yang efektif. Penelitian ini merupakan penelitian ekperimen dengan menggunakan 5 perlakuan dengan ulangan 5 kali tiap ulangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menghitung pertambahan bobot badan, nilai Feed Consumption Rate (FCR) dan analisis usaha. Hasil penelitian ini penambahan Azolla pinnata pada ransum berpengaruh terhadap pertambahan bobot itik Mojosari jantan dan penambahan Azolla pinnata 20% paling efektif serta bisa diaplikasikan untuk budidaya itik Mojosari jantan

    Hubungan Sarana dan Prasarana Bengkel Otomotif dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas XII pada mata pelajaran Produktif Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri Bandung Tulungagung.

    No full text
    ABSTRAK   Setyawan, Diecky Candra, 2017. Hubungan Sarana dan Prasarana Bengkel Otomotif dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas XII pada mata pelajaran Produktif Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri Bandung Tulungagung. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Paryono,S.T,M.T., (2) Drs. Partono,M.Pd. Kata Kunci: sarana prasarana bengkel otomotif, motivasi belajar siswa, SMK Negeri Bandung Pencapaian hasil belajar (prestasi) siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah sarana prasarana dan motivasi belajar. Aktivitas belajar seorang siswa membutuhkan suatu dorongan atau motivasi sehingga sesuatu yang diinginkan dapat tercapai. Motivasi berperan penting dalam proses pembelajaran karena belajar adalah suatu kegiatan yang aktif, menuntut usaha yang sengaja, dan dilakukan dengan penuh kesadaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kelengkapan sarana prasarana bengkel, dan untuk mengetahui hubungan kelengkapan sarana prasarana (X), dengan motivasi belajar (Y) pada siswa kelas XII di SMK Negeri Bandung. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Teknik Kendaraan Ringan di SMK Negeri Bandung yang berjumlah 37 siswa, sementara sampel yang diambil berjumlah 34 siswa dari populasi tersebut. Data yang diperoleh kemudian di uji dengan uji prasyarat analisis, uji linieritas dan uji hipotesis untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis korelasi product moment. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan dipeoleh data sebagai berikut: Kelengkapan sarana prasarana bengkel otomotif dalam kategori cukup lengkap sebesar 71%. Motivasi Belajar dalam kategori baik sebesar 67,05%. Pengujian Hipotesis hubungan antara sarana prasarana dengan motovasi belajar adalah signifikan dan cukup kuat adalah signifikan dan cukup kuat yaitu sebesar 0,443%. Saran penelitian ini adalah pihak sekolah hendaknya lebih menunjang sarana prasarana, serta secara berkala mengecek dan memantau peralatan dan bahan praktikum yang ada pada bengkel otomotif. Bagi pengguna bengkel otomotif disarankan untuk membantu memelihara peralatan yang digunakan dan menjaga dan merawat tempat praktikum agar dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan aman dan nyaman

    pengaruh penerapan knalpot power valve system pada sepeda motor supra gtr 150cc pgm-fi terhadap daya mesin

    No full text
    Power valve system adalah teknologi sepeda motor Yamah pada tahun 1987 yang mana system tersebut diletakkan pada knalpot berupa katup kupu-kupu, prinsip kerja power valve system berdasarkan putaran mesin dimana saat putaran rendah katup terbuka sedikit hingga terbuka penuh pada putaran mesin 6000rpm, fungsi power valve system itu sendiri sebagai menurunkan kebisingan dan koreksi daya pada putaran rendah hingga menengah serta meningkatkan efesiensi bahan bakar dan menurunkan kadar CO dan HC gas buang kendaraan.             Pada siklus aktual motor bakar terjadi peristiwa dimana katup intake dan exhaust terbuka bersamaan hal ini dinamakan proses overlapping katup. Peristiwa tersebut dimanfaat untuk meningkatkan daya pada mesin menggunakan knalpot Power Valve System.             Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan daya yang dapat di peroleh dari penerapan knalpot power valve system pada sepeda motor Honda Supra 150cc PGM-Fi terhadap knalpot standar.             Penelitian ini menggunakan jenis true experiment dan mesin di uji dalam keadaan tidak berpindah tempat dengan menggunakan dua variabel penelitian. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah knalpot power valve system pegas tunggal (standar), knalpot power valve system pegas ganda dan knalpot standar sedangkan Variabel terikat penelitian ini  adalah daya mesin. Penelitian dilakukan dengan alat Dynotest. Data yang diambil mulai dari rpm  2.500 hingga rpm 10.000 dengan kenaikan 500 rpm. Teknik analisis data menggunakan statistik parametrik dengan metode one way anova.             Berdasarkan analisis data pada penelitian tersebut, penggantian knalpot memberikan pengaruh yang berbeda pada daya namun perbedaannya tidak signifikan, daya pada knalpot power valve system pegas tunggal memiliki hasil yang relative stabil dalam meningkatkan daya. Dari data yang di dapat daya tertinggi pada knalpot power valve system pegas tunggal dengan hasil 16,67hp sedangkan pada knalpo standar memiliki daya 14,89hp untuk knalpot power valve system pegas ganda memiliki hasil yang relative sama dengan knalpot power valve system pegas tunggal namun terjadi penurunan daya pada putaran mesin 4000rpm sebesar 4,91hp sehingga daya maksimal menjadi 15,74hp.             Dari hasil pengujian knalpot Power Valve System terdapat peningkatan daya sebesar 1% sehingga data tidak signifikan. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan pengujian alat pada konsumsi bahan bakar, torsi, tingkat kebisingan dan emisi gas buang

    PENGARUH PENGGUNAAN BUSI STANDART, PLATINUM, DAN IRIDIUM TERHADAP KADAR EMISI GAS BUANG (CO dan HC) PADA MOTOR HONDA BEAT FUEL INJECTION (FI)

    No full text
    ABSTRAK Advenda, S. Y. 2014. Pengaruh PenggunaanBusiStandar, Platinum, dan Iridium TerhadapEmisi Gas Buang (CO dan HC) Pada Motor Honda Beat Fuel Injection. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Paryono, S.T.,M.T.,(II) Dra. Hj. WidiyantiM.Pd Kata kunci : Pengaruh busi standar, platinum, dan iridium, emisi gas buang.Busiatau sparg plug merupakan salah satu bagian dalam system pengapian mesin. Busi berfungsi sebagai pemercik bunga api di ruang bakar untuk membakar campuran bahan bakar dengan udara dalam silinder. Besarnya percikan bunga api dan bagusnya campuran udara dan bahan bakar dapat mempengaruhi kadar emisi gas buang suatu kendaraan. Busi iridium memiliki 3 keunggulan yang tidakdimiliki oleh busi standard dan busi platinum yaitu ultra-fine electrode, U-Groovetechnology, dan tapered cut. Ketiga teknologi pada busi iridium tersebut mempengaruhi dalam proses pembakaran, sehingga dalam kinerjanya busi iridium dapat mempertahankan kualitas pembakaran dalam segala kondisi mesin. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh penggunaan busi standar, platinum, dan iridium yang signifikan pada mesin 4 tak dalam menghasilkan kadar emisi gas buang CO dan HC dengan variasi putaran mesin 1500, 2500, 3500, dan 4500 rpm. (2) Mengetahui besarnya signifikansi interaksi antara busi standar, platinum, dan iridium dengan variasi putaran mesin 1500, 2500, 3500, dan 4500 rpm terhadap kadar emisi gas buang CO dan HC pada mesin 4 tak.Dalam penelitian ini, busi yang digunakan adalah busi standar CPR9EA-9, busi platinum CPR8EAGP-9, dan busi iridium IU27 untuk mesin 4 tak tipe Honda Beat FI 110cc. Perbedaan yang utama dari ketiganya adalah inti elektroda tengah dan bentuk elektroda netral, sedangkan putaran mesin yang digunakan adalah putaran rendah yaitu dikisaran 1500-2500 rpm, untuk putaran menengah yaitu dikisaran 3500 rpm, dan untuk putaran tinggi yaitu dikisaran 4500 rpm.Penilitian kadar emisi gas buang dilaksanakan di laboratorium PPPPTK VEDC Malang, Jl. Teluk Mandar Arjosari Tromol Pos 5 Malang, pada tanggal 2 Desember 2014. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah Anava dua jalur.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh penggunaan busi standar, platinum, dan iridium yang signifikan pada mesin 4 tak dalam menghasilkan kadar emisi gas buang CO dan HC dengan variasi putaran mesin 1500, 2500, 3500, dan 4500 rpm. (2) Tidak terdapat interaksi yang signifikan antara busi standar, platinum, dan iridium dengan putaran mesin 1500, 2500, 3500, dan 4500 rpm terhadap produksi gas buang CO dan HC pada mesin 4 tak. Pada penggunaannya, di semua putaran mesin busi iridium menghasilkan kadar emisi gas buang CO dan HC yang lebih rendah dibandingkan dengan busi standardan busi platinum. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan cc mesin yang berbeda dan bahan elektroda busi yang lebih berfariasi untukmengetahui perbedaan emisi gas buang yang dihasilkan

    ANALISIS SIFAT MEKANIK DAN FISIK ALUMINIUM SILIKON (AlSi) HASIL PROSES PENGECORAN DENGAN VARIASI TAMBAHAN ZINC OXIDE (ZnO)

    No full text
    ABSTRAK   Pengecoran logam adalah proses pembentukan logam dengan cara mencairkan logam dan menuangnya ke dalam rongga cetakan dan dibiarkan mendingin dan membeku. Paduan pengecoran dengan aluminium silikon banyak digunakan di otomotif dan pesawat terbang karena sifatnya unggul seperti kepadatan rendah, rasio kekuatan tinggi terhadap berat, korosi tinggi resistensi, ketahanan benturan yang baik, konduktivitas termal yang baik, dan ketahanan aus yang tinggi. Zinc Oxide (ZnO) adalah bubuk putih yang tidak larut dalam air. Pemanfaatan zinc oxide hingga saat ini masih banyak digunakan sebagai aditif dalam berbagai bahan dan produk termasuk karet, plastik, keramik, kaca, semen, pelumas, cat, salep, perekat, pigmen, makanan, baterai, penghambat api, dan belum diminati sebagai bahan pengecoran. Zinc Oxide (ZnO) adalah bahan unik yang menunjukkan sifat semikonduktor, piezoelektrik, dan piroelektrik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Zinc Oxide sebagai penambahan pengecoran Aluminium Silikon. Aluminium silikon dipanaskan dalam tungku hingga suhu 900° C, setelah AlSi lebur Zinc Oxide ditambahkan dengan variasi 0,05%, 0,1% dan 0,2% dan diaduk dalam tungku dengan menggunakan waktu pengadukan konstan satu menit dan di cetak dengan cetakan permanen. Penelitian ini menghadirkan konsep baru untuk menyempurnakan dan meningkatkan sifat paduan aluminium silikon (AlSi) dengan menambahkan serbuk penguat Zinc Oxide. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pra-eksperimental dengan menggunakan model one-shot case study, dimana suatu kelompok sampel diberi sebuah perlakuan dan selanjutnya diobservasi hasilnya. Hasil penelitian uji tarik dari aluminium silikon dengan penguat Zinc Oxide (ZnO) 0,05% yaitu 14,052 kg/mm2, penguat Zinc Oxide (ZnO) 0,1% yaitu 19,25 kg/mm2, dan penguat Zinc Oxide (ZnO) 0,2% yaitu 23,9 kg/mm2. Uji kekerasan dari aluminium silikon dengan penguat Zinc Oxide (ZnO) 0,05% yaitu 126,3 HV, penguat Zinc Oxide (ZnO) 0,1% yaitu 129,7 HV, dan penguat Zinc Oxide (ZnO) 0,2% yaitu 134,4 HV. Dari kesimpulan di atas dapat disimpulkan bahwa paduan AlSi dengan variasi penguat Zinc Oxide 0,2%, memiliki kekuatan tarik dan kekerasan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dari foto struktur makro dengan butir yang rapat dan foto mikro dengan patahan yang datar dan tidak ada deformasi

    STUDI PENGELOLAAN TRANSFORMER CLASSPROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PENGELASAN SMK PGRI 3 MALANG DENGAN PT. BAMBANG DJAJA SURABAYA

    No full text
    ABSTRAK   SMK adalah lembaga pendidikan yang dituntut untuk menyiapkan lulusan yang langsung terserap di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI). Dalam sekolah menengah kejuruan memiliki peran sangat penting dalam menyediakan dan mengembangkan kompetensi dan skill, pasalnya pendidikan tersebut dilakukan dengan harapanya memperoleh tamatan yang terampil, mandiri, dan produktif. Guna memperoleh tamatan yang lebih terampil mandiri, dan produktif sekolah kejuruan melakukan berbagai upaya, salah satu upaya tersebut adalah kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI). Namun usaha tersebut masih dibilang sangat kurang untuk menyalurkan lulusan ke Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI). Faktanya, berdasarkan data pengangguran yang diperoleh dari Badan Statistik Republik Indonesia (2017) tingkat pengangguran pada tingkat lulusan SLTA Kejuruan/SMU masih menujukan 1,383 juta orang. Besarnya angka tingkat pengangguran di atas, salah satu faktornya disebapkan ketatnya pesaingan dalam lowongan pekerjaan dengan jumlah pencarian kerja. Salah satu solusi dalam mengurangi angka pengangguran adalah penyelengaraan kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), dalam program kelas industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan dalam pelaksanaan kerjasama antara Sekolah Menengah Kejuruan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), dalam program kelas industri. Penelitian ini akan membahasan beberapa fokusan penelitian antara lain: persiapan kerjasama, penyusunan dan model kurikulum, kualifikasi tenaga pendidik, pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan Prakerin, dan Pelaksanaan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) di Transformer Class SMK PGRI 3 Malang. Dalam penelitian ini menggunakan metode dengan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus. Informan dalam penelitian ini meliputi Staf Bidang Kerjasama Industri, Kepala Bidang Teknik Pengelasan, Kepala Bengkel Teknik Pengelasan, Guru Produktif, Siswa SMK PGRI 3 Malang, dan HRD PT. Bambang Djaja Surabaya. Adapun dalam prosedur pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan meliputi penyajian data, reduksi , dan diakhiri penarikan kesimpulan. Kemudian untuk menjaga keabsahan data, maka dilakukan teknik triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh enam simpulan hasil penelitian sebagai berikut: (1) pada persiapan kerjasama Transformer Class Program Keahlian Teknik Pengelasan di SMK PGRI 3 Malang, berlandaskan pada strategi yang dilakukan oleh sekolah untuk menyalurkan lulusan SMK PGRI 3 Malang terserap di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), kemudian untuk tujuan secara khusus terbentuknya Transformer Class, menyiapkan siswa teknik. pengelasan untuk langsung kerja di PT. Bambang Djaja Surabaya; (2) Kurikulum yang dipakai dalam program kerjasama Transformer Class dan disepakati oleh SMK PGRI 3 Malang dengan PT. Bambang Djaja Surabaya, adalah kurikulum Implementatif atau kurikulum singkronisasi; (3) Guru yang ada di Transformer Class SMK PGRI 3 Malang adalah guru yang sudah mempunyai kompetensi pengelasan yang sesuai dengan kompetensi industri, dan diterangkan identitas kompetensi dalam bentuk sertifikat; (4) Pelaksanaan pembelajaran Transformer Class lebih ditekankan pada materi pendalam pengelasan SMAW dan GMAW, yang sesuai dengan kebutuhan industri; (5) Pelaksanaan Prakerin Transformer Class adalah 1 tahun di tempat Prakerin, dan dilakukan pada saat siswa kelas 11, dengan harapan siswa bisa merasakan menjadi seorang tenaga kerja di perusahaan; dan (6) Pelaksanaan Uji Kompetensi Keahlian dilakukan pada kelas 12 dan bertempat di SMK PGRI 3 Malang, Uji kompetensi keahlian Transformer Class ini menggunkaan 2 metode yakni dengan uji praktikum terdapat uji wawancara. Berdasarkan hasil simpulan, untuk implikasi dalam kerjasama Transformer Class ini sudah cukup bagus, adapun dalam tindak lanjut diharapkan pihak sekolah dan pihak industri selalu menjaga komunikasi yang baik. Saran yang diberikan dari hasil penelitian yaitu: (1) Kepala sekolah SMK PGRI 3 Malang disarankan untuk menambah dan meningkatkan link kerjasama dalam program kelas industri pada program keahlian teknik pengelasan; (2) Selaku guru program keahlian teknik pengelasan perlunya menjaga dan meningkatkan kualitas pembelajaran pada program kelas industri; (3) PT. Bambang Djaja Surabaya selaku industri mitra, alangkah baiknya lebih ditingkatkan lagi dari segi pengawasan baik program yang sudah berjalan maupun yang belum berjalan; dan (4) bagi mahasiswa lain, disarankan untuk mengembangkan dan mengkaji lebih dalam dari penelitian ini dengan melakukan perbandingan penelitian yang selaras dengan konteks permasalahan

    PENGARUH STANDAR PROSES DAN SARPRAS PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN (SPT) SISTEM PEMINDAH TENAGA PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK KENDARAAN RINGAN DI SMK KOTA PROBOLINGGO

    No full text
    ABSTRAK   Setiawan, Bambang. 2018. Pengaruh Standar Proses dan Standar Sarana PrasaranaPembelajaran Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran (SPT) SistemPemindah Tenaga di SMK Kota Probolinggo. Skripsi, Program StudiPendidikan Teknik Otomotif. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Amat Nyoto, M.Pd. (2)Dr. Partono, M.Pd.   Kata Kunci: Standar Proses, Standar Sarana Prasarana Pembelajaran, HasilBelajar Siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh standar proses danstandar sarana prasarana pembelajaran terhadap hasil belajar mata pelajaran (SPT)sistem pemindah tenaga di SMK Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakanmetode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif kolerasional. Jumlah populasipenelitian ini sebanyak 9 SMK di Kota Probolinggo dengan jumlah samelsebanyak 30 siswa di dua SMK Kota Probolinggo. Pemilihan sampelmenggunakan teknik probability sampling jenis simple random sampling. Datadikumpulkan dengan menggunakan metode angket dengan skala likert dandokumentasi. Uji persyaratan analisis menggunakan uji normalitas, ujimultikolinieritas, uji autokolerasi, dan uji heteroskedastisitas. Metode analisisyang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh standar proses terhadap hasil belajarsiswa pada mata pelajaran sistem pemindah tenaga (SPT), (2) terdapat pengaruhstandar sarana prasarana pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada matapelajaran sistem pemindah tenaga (SPT)

    0

    full texts

    1,608

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇