Buletin Alara
Not a member yet
    45 research outputs found

    MENANGANI KANKER DENGAN RADIOPEPTIDA

    Get PDF
    PENDAHULUANPeptida adalah rangkaian asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida. Zat ini memainkan berbagai peran penting yang spesifik di dalam tubuh seperti chemical messenger, neurotransmiter serta pemacu dan penghambat metabolisme tertentu. Zat ini mendapat perhatian besar para peneliti dari berbagai disiplin ilmu karena potensi yang disimpannya dalam menyelesaikan masalah kesehatan. [1] Istilah peptida biasanya digunakan untuk rangkaian asam amino dengan jumlah kurang dari 100 buah. Peptida berikatan secara spesifik dengan protein tertentu yang merupakan reseptornya. Di dunia penanganan kanker, peptida telah dikembangkan untuk diagnosis dan terapi dengan mengadopsi konsep magic bullet yang dikemukakan oleh Paul Ehrlich, penerima hadiah nobel kedokteran pada tahun 1908.[2] Konsep magic bullet, yang sering dinamakan pula targeted terapy adalah konsep penanganan sebuah penyakit dengan mengirimkan bahan aktif secara spesifik ke sumber penyakit, tidak menyebar ke seluruh tubuh. Jadi pembawa (carrier) bahan aktif seperti sebuah peluru kendali yang dapat dipandu untuk menuju sasaran [1]

    AKREDITASI LAB. KALIBRASI P3KRBiN : TANTANGAN MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

    Get PDF
    Beberapa waktu yang lalu Direktur Jenderal BATAN membentuk Tim Persiapan Akreditasi untuk mempersiapkan rencana akreditasi beberapa laboratorium yang berada di Pusat Standardisasi dan Penelitian Keselamatan Radiasi, BADAN TENAGA ATOM NASIONAL (Sekarang Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional) [1]. Hal ini berkaitan dengan pengaturan Dewan Riset Nasional Pedoman 011991 (ISO/IEC GUIDE 25) mengenai perlunya pembentukan sistem mutu di laboratorium kalibrasi/pengujian dan untuk pengakuan kemampuannya melalui akreditasi [2]

    OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT RADIOTERAPI

    Get PDF
    Radioterapi merupakan suatu metode pengobatan penyakit kanker atau tumor yang menggunakan teknik penyinaran dari zat radioaktif maupun radiasi pengion lainnya. Tujuan radioterapi adalah untuk mendapatkan tingkatan sitotoksik radiasi terhadap planning target volume pasien, dengan seminimal mungkin pajanan (exposure) radiasi terhadap jaringan sehat dan di sekitarnya. Pesawat radioterapi adalah pesawat yang digunakan untuk melakukan terapi yang didalamnya terdapat sumber radiasi baik sumber 60Co maupun 137Cs. Dengan keberadaan sumber radiasi tersebut, maka keselamatan baik pekerja maupun pasien memerlukan perhatian yang sangat penting agar tujuan dari penggunaan radioterapi tersebut terwujud tanpa menimbulkan masalah baru. Dewasa ini, lebih dari 18 rumah sakit di Indonesia dengan sekitar 19 pesawat radioterapi 60 Co maupun 137Cs memanfaatkan radioterapi sebagai metode pengobatan penyakit kanker atau tumor. Berdasar pada peraturan yang berlaku di Indonesia, yakni PP Nomor 63 tahun 2000 (Bab V pasal 30)[1], SK Dirjen BATAN No.84/DJ/VI/1991[2] dan SK Ka. Bapeten No.21/Ka. BAPETEN/XII-02 tentang Program Jaminan Kualitas Instalasi Radioterapi[3], mengatakan bahwa keluaran sumber radiasi terapi harus dikalibrasi sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun oleh Fasilitas Kalibrasi Tingkat Nasional (FKTN). Untuk itu Laboratorium Metrologi Radiasi (LMR) selaku Fasilitas Kalibrasi Tingkat Nasional agar dapat memberikan pelayanan yang prima menyangkut masalah kualitas serta aspek keselamatan dari penggunaan dan pemanfaatan metode radioterapi. Aspek keselamatan yang menyangkut penggunaan dan pemanfaatan pesawat radioterapi meliputi keselamatan saat penyinaran terhadap pasien dan pemeliharaannya, serta pada saat pesawat tersebut dikalibrasi oleh FKTN. Aturan keselamatan terhadap fasilitas radioterapi yang menyangkut pasien, pekerja, peralatan dan lingkungan telah tercantum dalam SK Ka. Bapeten No.21/Ka.BAPETEN/XII -02 tentang Program Jaminan Kualitas Instalasi Radioterapi[3] dan rekomendasi Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency, IAEA) melalui Basic Safety Standards [4]. Pada tulisan ini akan dipaparkan aspek keselamatan pada saat melakukan kalibrasi terhadap pesawat radioterapi 60Co ataupun 137Cs. Hal ini diperlukan mengingat pekerjaan kalibrasi sangat membutuhkan konsentrasi tinggi dengan rentang waktu yang cukup lama agar tidak menimbulkan masalah terhadap pesawat, pekerja maupun keselamatan lingkungannya. Tujuan dari penulisan ini untuk mendapatkan prosedur baku keselamatan dalam melakukan kalibrasi terhadap pesawat radioterapi 60 Co atau 137Cs sehingga didapatkan optimasi antara aspek keselamatan dan faktor non teknis yang timbul saat melakukan kalibrasi

    PEMANFAATAN RADIOISOTOP UNTUK MENCEGAH RESTENOSIS PADA JANTUNG

    Get PDF
    PENDAHULUANJumlah penderita penyakit jantung terus meningkat dari hari ke hari, diikuti dengan angka kematian yang menunjukkan kenaikan. Salah satu bentuk serangan jantung adalah terjadinya penyempitan pembuluh darah jantung yang mengakibatkan pasokan oksigen dan zat lainnya ke organ tersebut tidak lancar. Penderita penyempitan pembuluh darah ini dapat ditangani menggunakan metode angioplasty, yaitu metode penanganan dengan melebarkan pembuluh darah yang menyempit. Pembuluh darah dilebarkan dengan cara memasukkan balon yang dapat digelembungkan ke daerah penyempitan menggunakan catheter melalui pembuluh darah. Untuk mencegah terjadi- nya penyempitan kembali (restenosis), dipasang “penyangga” pembuluh darah (coronary stent) yang sering disebut dengan stent. Di Amerika Serikat, pemasangan stent dapat menurunkan terjadinya restenosis dari 50% menjadi 20%. Sedangkan di Jepang dilaporkan bahwa metode ini berhasil menurunkan terjadinya restenosis menjadi 30%. Penggunaan stent telah direkomendasikan oleh badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA) pada tahun 1994 [1,2]. Pemasangan stent ternyata belum mampu menuntaskan terjadinya restenosis. Penyempitan kembali setelah pemasangan stent dapat terjadi karena pertumbuhan sel secara tidak normal di daerah bekas penyempitan. Oleh sebab itu, terjadinya resteno- sis dapat dicegah dengan cara menekan pertumbuhan sel ini. Beberapa upaya telah dilakukan untuk menekan terjadinya pertumbuhan sel ini, diantaranya pemanfaatan radiasi pengion. Radiasi pengion telah terbukti efektif untuk menekan pertumbuhan sel dan diharapkan dapat menjadi solusi untuk tantangan ini [1,3]

    PERKEMBANGAN TENAGA NUKLIR DI DUNIA

    Get PDF
    Percobaan senjata nuklir buatan manusia telah menambah radioaktivitas yang telah ada secara alami dalam skala dunia. Walaupun percobaan senjata nuklir dikurangi secara besarbesaran sejak tahun 1962, ketakutan akan perang nuklir tetap ada. Pembangunan tenaga nuklir untuk maksud damai berjalan terus dan harus dipercepat, karena persediaan bahan bakar fosil (seperti bensin, minyak tanah dan lain-lain) sudah menipis. Hal ini berarti dengan bertambahnya tenaga nuklir, kekurangan energi listrik dapat diatasi. Akan tetapi volume limbah radioaktif harus diantisipasi, dipantau dan dikendalikan, seperti yang harus dilakukan terhadap bahan berbahaya dan beracun (B3) [1]. Letusan gunung St. Helens lebih berbahaya dibandingkan dengan bencana nuklir di Three Mile Island (TMI) pada tahun 1979, karena gunung tersebut mengeluarkan jauh lebih banyak zat dan sinar radioaktif ke atmosfer [2]. Jika dioperasikan secara layak, reaktor nuklir tidak memberikan resiko kesehatan yang berarti. Kecelakaan nuklir terhitung sebagai kecelakaan berdampak besar, namun berpeluang kecil untuk terjadinya kecelakaan. Hal ini terjadi dalam bencana Chernobyl pada tahun 1986, yakni melelehnya inti sebuah reaktor nuklir yang menyebabkan lolosnya radioaktif. Tetapi di Amerika Serikat dan beberapa negara tidak ada reaktor yang desainnya serupa dengan reaktor Chernobyl. Resiko dan pengelolaan limbah tenaga nuklir (titik awal dan akhir daur bahan bakar) juga merupakan persoalan yang umum diperdebatkan. Akan tetapi hal ini sudah banyak diantisipasi dengan salah satu metode pengelolaan limbah puluhan bahkan ratusan km di bawah tanah yang dikungkung beton di sekelilingnya atau juga disebut penyimpanan limbah lestari. Pada makalah ini akan dikemukakan tentang perkembangan tenaga nuklir di dunia, sekaligus pokok-pokok permasalahannya serta pengelolaan limbah nuklir ke lingkungan, dan pemecahan untuk menganalisa permasalahan yang ada. Hal ini perlu diketahui sebagai bahan pertimbangan untuk dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan mungkin terjadi, mengingat pemerintah Indonesia berencana akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di masa yang akan datang

    PENGARUH KOMPOSISI VOLUME LARUTAN SINTILATOR PADA PENGUKURAN AKTIVITAS 90 Sr

    Get PDF
    Pemanfaatan teknologi nuklir dalam berbagai bidang baik penelitian maupun industri telah berkembang dengan pesat. Seiring dengan perkembangan pemanfatan teknologi ini menuntut beberapa aspek antara lain aspek pengawasan, aspek hukum, aspek teknis, aspek manajerial/koordinasi dan aspek kelayakan. Pengawasan diperlukan guna melindungi baik pekerja maupun lingkungannya terhadap bahaya yang ditimbulkan. Aspek hukum diperlukan guna memberikan perlindungan ataupun sangsi hukum baik oleh pengusaha/pemanfaat, pekerja, masyarakat sekitar maupun lingkungannya. Aspek koordinasi diperlukan guna melakukan koordinasi dalam masalah administrasi, kerjasama, prosedur, tata tertib, pendidikan dan pelatihan dan lain-lain. Aspek kelayakan diperlukan guna membahas dan mempertimbangan perihal keuntungan dan kerugian dari suatu penggunaan teknologi nuklir tersebut. Aspek teknis diperlukan guna mempersiapkan segi sumber daya manusia, peralatan yang memadai, teknik proses/pengukuran yang diperlukan serta masalah teknis yang diperlukan dalam rangka pengawasan, pengawasan mutu, jaminan kualitas, pengendalian terhadap hal-hal yang dapat timbul, serta penanganan dalam keadaan darurat

    PENGKAJIAN KASUS SINDROMA RADIASI AKUT

    Get PDF
    Radiasi pengion adalah radiasi yang dapat menimbulkan terjadinya ionisasi atau pengionan sebagai proses pelepasan satu atau lebih elektron dari suatu atom/molekul, baik dalam bentuk gelombang elektromagnetik (radiasi gamma dan sinar-X) atau partikel (alpa, beta atau elektron, dan neutron). Kedua jenis radiasi di atas mempunyai daya rusak yang berbeda terhadap materi biologis karena mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menimbulkan tingkat pengionan dan dalam jarak lintasan yang dapat ditempuh. Radiasi partikel mempunyai tingkat pengionan yang jauh lebih tinggi dan jarak lintasan yang jauh lebih pendek dari radiasi elektromagnetik. Dengan demikian partikel alpa dan beta (elektron) mempunyai daya rusak per satuan jarak lintasan yang besar tetapi daya tembusnya rendah. Sedangkan radiasi gamma dan sinar-X meskipun mempunyai daya rusak yang rendah tetapi mempunyai jarak tempuh yang jauh

    LAYANAN PEMANTAUAN DOSIS TARA PERORANGAN EKSTERNAL DI LABORATORIUM KESELAMATAN, KESEHATAN, DAN LINGKUNGAN PTKMR – BATAN *)

    Get PDF
    PENDAHULUANPada saat ini perkembangan pemanfaatan radiasi pengion di berbagai bidang terutama industri dan kesehatan semakin meningkat seiring dengan laju perkembangan pemanfaatan iptek nuklir di berbagai bidang. Pemanfaatan radiasi pengion disamping memberikan manfaat, juga dapat memberikan dampak radiologis atau resiko terkena pajanan radiasi bagi para pekerja selama melaksanakan pekerjaannya. Dalam pemanfaatan radiasi pengion, faktor keselamatan terhadap para pekerjanya harus mendapat prioritas utama. Hal tersebut didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) RI No.63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan terhadap Radiasi Pengion (α,β,γ,x,n), yang umum disebut keselamatan radiasi. Dalam pasal 10 disebutkan bahwa “Pengusaha instalasi harus mewajibkan setiap pekerja radiasi untuk memakai peralatan pemantau dosis perorangan, sesuai dengan jenis instalasi dan sumber radiasi yang digunakan (ayat 1)”. Untuk itu, para pekerja radiasi perlu memakai peralatan pemantau dosis perorangan untuk mendapatkan layanan pemantauan dosis tara perorangan secara rutin terutama dari sumber radiasi eksternal, sehingga dosis yang diterima oleh para pekerja radiasi selama menjalankan pekerjaannya dapat diketahui. Sedangkan pada ayat 2 disebutkan bahwa “Peralatan pemantau dosis perorangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diolah dan dibaca oleh instansi atau badan yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh Badan Pengawas”. Laboratorium Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan (LKKL) – Unit Keselamatan, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – Badan Tenaga Nuklir Nasional merupakan laboratorium penguji yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (LP-206-IDN) dan ditunjuk oleh Badan Pengawas (BAPETEN)

    SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN RADIASI

    Get PDF
    PENDAHULUANPemanfaatan tenaga nuklir pada saat sekarang ini sudah sangat luas, mencakup hampir semua sendi kehidupan manusia, misalnya bidang kesehatan, industri, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pembangkitan energi dan lain sebagainya. Data bulan Juni 2005 yang ada pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) tercatat 3162 izin pemanfaatan di bidang industri dan 2958 izin pemanfaatan di bidang kesehatan. Izin pemanfaatan tersebut tidak termasuk izin pemanfaatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya (misalnya pesawat sinar-X dan mesin berkas elektron atau dikenal dengan nama MBE) untuk keperluan penelitian, pendidikan dan pelatihan yang umumnya dimiliki oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan institusi pendidikan tinggi yang memiliki laboratorium pengguna zat/radioaktif dan/atau sumber radiasi, misalnya Program Studi Teknik Nuklir, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun sebagaimana teknologi lainnya, teknologi nuklir juga memiliki dampak negatif apabila tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan (manajemen) yang tepat dalam hal pemanfaatan tenaga nuklir khususnya pemanfatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya. Sistem manajemen yang digunakan di dalam pengelolaan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya dikenal dengan sebutan sistem manajemen keselamatan radiasi atau disingkat SMKR

    UJI KONTAMINASI RADIONUKLIDA DAN SERTIFIKASI KOMODITI EKSPOR – IMPOR

    Get PDF
    Pelayanan uji kontaminasi radionuklida dalam bahan makanan, bahan bangunan dan komponen lingkungan beserta sertifikasi komoditi ekspor-impor adalah bagian dari tugas dan fungsi Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir (P3KRBiN), Badan Tenaga Nuklir Nasional. Untuk menunjang pelaksanaan tugas ini, P3KRBiN mempunyai fasilitas laboratorium penguji yang diberi nama Laboratorium Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan atau disingkat “Lab. KKL”. Lab. KKL bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi. Lab. KKL telah terakreditasi sebagai laboratorium penguji dengan No. LP-206-IDN pada tanggal 19 Maret 2004. Lab. KKL memberikan pelayanan pengujian dalam lingkup keselamatan daerah kerja, keselamatan pekerja radiasi, bungkusan zat radioaktif, kesehatan pekerja dan keselamatan lingkungan. Khusus untuk pelayanan uji kontaminasi radionuklida dan sertifikasi komoditi ekspor – impor dilaksanakan oleh Lab. KKL-unit Lingkungan. Lab. KKL-unit lingkungan merupakan laboratorium acuan nasional dalam bidang uji kontaminasi radionuklida dan pengkajian keselamatan radiasi lingkungan sekaligus diberi wewenang untuk mengeluarkan sertifikat bebas bahan radioaktif (Non Radioactivity Certificate) untuk komoditi ekspor dan impor. Lab. KKL-unit lingkungan mempunyai peralatan yang mutakhir, terpelihara dengan baik dan didukung personil yang berpengalaman baik dalam maupun luar negeri. Untuk menjaga kualitas hasil pengujian, Lab. KKL-unit lingkungan menjalankan program quality assurance dan quality control yang terdiri dari accuracy check menggunakan certified reference materials, precision check dengan cara melakukan analisis secara duplo, cross-check dengan metode analitik lain dan laboratorium lain baik dalam maupun luar negeri. Dari tahun 1997 sampai sekarang, setiap tahun dilakukan program interkomparasi dengan laboratorium Japan Chemical Analysis Center (JCAC). Lab. KKL unit lingkungan juga mengikuti program interkomparasi dengan laboratorium lingkungan negara-negara lain yang dikoordinir oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA, International Atomic Energy Agency)

    44

    full texts

    45

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Alara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇