JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Morfologi Sargassum sp dI kepulauan RAJA AMPAT, PAPUA BARAT
Sargassum sp. merupakan salah satu sumberdaya alam pesisir yang memiliki fungsi ekologis dan ekonomis bagi masyarakat pesisir. Di Kepulauan Raja Ampat ini belum banyak alga Sargassum yang di eksplorasi. Alga Sargassum memiliki berbagai macam bentuk morfologi tallus, misalnya ada yang berbentuk seperti benang yang halus, bercabang banyak, berbentuk gelembung, daun yang lebar, bergerigi pada bagian daun dan bertalus lebar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan mendeskripsikan morfologi Sargassum yang ditemukan di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Dari hasil penelitian ditemukan ada 4 spesies di Pulau Yeftip Yefnawam (S. paniculatum, S. grevillei, S. cristaefolium), dan yang ditemukan di Pulau Salawati (S. polycystum)
Kondisi terumbu karang di pulau Salawati kabupaten Raja Ampat Papua Barat
Terumbu karang adalah suatu ekosistem di laut dangkal tropis, di mana unsur penyusun utamanya karang batu, dengan berbagai biota lainnya yang hidup berasosiasi di dalamnya. Fenomena alam dan berbagai kegiatan antropogenik mengancam kesehatan maupun keberadaan terumbu karang. Pengambilan data dilakukan dengan metode UPT (Underwater Photo Transect) atau Transek Foto Bawah Air dilakukan dengan pemotretan bawah air menggunakan kamera digital yang diberi pelindung (housing). Analisis gambar dengan menggunakan piranti software CPCe (Coral Point Count with Excel extensions). Hasil penilaian kondisi kesehatan terumbu karang ditiga  Stasiun di Pulau Salawati, tutupan terumbu karang di setiap Stasiun adalah sebagai berikut, Stasiun 1 55,13% termasuk dalam kategori baik, Stasiun 2 15,80% termasuk dalam kategori buruk, dan Stasiun 3 18,20% termasuk dalam kategoti buruk
Morfometri lereng gisik di pantai Tumpaan kecamatan Tumpaan kabupaten Minahasa Selatan
Gisik adalah salah satu bentuklahan yang dicirikan oleh material sedimen berupa pasir atau kerikil, gisik juga dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat penambatan perahu para nelayan, industri perikanan, pariwisata, dan bangunan pemukiman di sekitar lahan gisik. Penelitian ini, dilakukan di pantai Tumpaan Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara, kawasannya tepat di teluk Amurang. Serangkaian penelitian ini dengan tujuan mengobservasi perubahan kemiringan lereng gisik terhadap sebaran kemiringan lereng serta deposisi dan erosi. Data diperoleh dengan menggunakan data primer atau diamati secara langsung, selanjutnya untuk mendapatkan data hasil penelitian dilakukan pengukuran kemiringan lereng gisik dengan menggunakan alat rakitan maupun alat portabel yang berupa water pas, tali, meteran. Sehubungan dengan pengukuran tersebut metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian yaitu menerapkan metode deskriptif yang dilakukan berdasarkan tujuan, untuk menelaah perubahan morfometri lereng gisik pantai Tumpaan dalam dua waktu yang berbeda yaitu 19 Februari 2015 dan 12 September 2015. Data hasil pengukuran morfometri gisik, selanjutnya data diolah menggunakan komputer dengan perangkat lunak surfer 8 serta perangkat lunak Arc-Gis. Dengan Arc-Gis dapat dibaca nilai-nilai sebaran kemiringan lereng serta sebaran deposisi dan erosi pada lahan gisik yang di telaah. Berdasarkan data hasil pengolahan sebaran kemiringan lereng pada 19 Februari 2015 terkriteria lereng landai yaitu 26,96 % dan pada 12 September 2015 terkriteria lereng sangat miring yaitu 30,18 %. Sedangkan sebaran erosi 9053553,11 m3 dan deposisi 13440584,39 m3
PENENTUAN KANDUNGAN PIGMEN KAROTENOID PADA KEPITING Grapsus albolineatus (Lamarck) BETINA DARI PERAIRAN PESISIR PANTAI DESA TANAWANGKO
Grapsus albolineatus (Lamarck) is one of the species of blackish-green crab found above or below the coastal rocks. At has long legs and no swimming legs and has a small claw. Purple capitals, is characteristic of this type of crab., the G. albolineatus crab has an attractive color on the carapace organ that indicates the presence of pigment content. This study was aimed to determined the content and it’s pigment type of the organs of the carapace, epidermal layer, hepatopancreas, blood and gonads in the female G. albolineatus (Lamarck) crab. The method of this research in order to separated and determinated of pigment content by using thin layer chromatography (TLC) method. The results obtained in this study were the total pigment content of G. albolineatus crab showed the highest value in gonad organ with value 34,41 μg, followed by epidermal layer organ 12,19 μg, hepatopancreas 9,61 μg, blood 1,06 μg and carapace 0.42 μg. the pigment content of the gonads organ has the highest value compared with other organs, it is presumed that the female G. albolineatus crab is at the mature stage of the gonad, so that the carotenoid pigment is still accumulated on the gonad organ used for the gonadal maturation process. The types of pigment identified in the extract of the carapace organ, epidermal layer, hepatopancreas, gonads and blood from female G. albolineatus crabs with semipolar solution of Petroleum Eter and Acetone are: β-carotene, echinone, kantaksantin, adonirubin type, astaxanthine and astacene .Keywords: Grapsus albolineatus, TLC, pigmentGrapsus albolineatus (Lamarck) merupakan salah satu spesies kepiting yang berwarna hitam kehijauan yang ditemukan di atas atau di bawah batu pantai. Memiliki kaki jalan yang panjang dan tidak memiliki kaki renang serta memiliki capit yang berukuran kecil. Capit berwarna ungu, merupakan ciri khas kepiting jenis ini. Kepiting G. albolineatus memiliki warna yang menarik pada organ karapas yang mengindikasikan adanya kandungan pigmen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan dan jenis pigmen pada organ karapas, lapisan epidermis, hepatopankreas, darah dan gonad pada kepiting G. albolineatus (Lamarck) betina. Pemisahan yang umum digunakan dalam penentuan jenis pigmen karotenoid adalah menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis. Pemisahan ini dikenal karena proses pemisahannya mudah, sederhana dan membutuhkan waktu yang relatif singkat serta dapat menghasilkan data yang akurat. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah kandungan pigmen total dari kepiting G. albolineatus menunjukkan nilai tertinggi pada organ gonad dengan nilai 34,41 ïg, diikuti organ lapisan epidermis 12,19 ïg, hepatopankreas 9,61 ïg, darah 1,06 ïg dan karapas 0,42 ïg. kandungan pigmen pada organ gonad memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan organ lainnya, diduga kepiting G. albolineatus betina ini berada pada tahap matang gonad, sehingga pigmen karotenoid masih tertumpuk pada organ gonad yang digunakan untuk proses pematangan gonad. Jenis-jenis pigmen yang teridentifikasi pada ekstrak organ karapas, lapisan epidermis, hepatopankreas, gonad dan darah dari kepiting G. albolineatus betina dengan larutan pengembang PE dan Aseton (80:20) yang bersifat semipolar yaitu: β-karoten, ekinenon, kantaksantin, tipe adonirubin, astaksantin dan astasen.Kata kunci : Grapsus albolineatus, KLT, pigme
Identifikasi molekuler rotifer Brachionus sp. asal perairan Tumpaan, Minahasa Selatan
Rotifer yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Tumpaan, Minahasa Selatan dan telah dikultur massal selama beberapa generasi. DNA genom rotifer diekstraksi mengikuti prosedur qiagen DNeasy Blood & Tissue kit; amplifikasi gen COI (Cytochrome oxidase sub unit 1) dilakukan dengan bantuan mesin PCR (Polymerase chain reaction) menggunakan primer universal (LCO1490 (forward) dan HCO2198 (reverse));dan dilanjutkan dengan pengurutan nukleotida produk PCR. Pengolahan data hasil sekuens dilakukan dengan menggunakan program ABsequens dan MEGA (Molecular Evolutionary Genetics Analysis) Identifikasi spesies dilakukan dengan menggunakan teknik BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) di situs Genbank. Hasil amplifikasi gen COI menggunakan DNA template ekstrak DNA genom rotifer terobservasi adanya pita DNA pada posisi sekitar 700 bp.Kualitas hasil pengurutan nukeotida menggunakan produk PCR menunjukan nilai CRL (contignous read length) dan QV20+(quality value lebih besar dari 20) yang tinggi (>600 nukleotida).Hasil BLAST menunjukkan bahwa rotifer dalam penelitian ini merujuk pada rotifer Brachionus plicatilis complex spesies.Maximum dan total score, prosentase query cover dan prosentase identity masing-masing pada nilai1003-1116, 87-96% dan 96-97%
Pendugaan dampak pencemaran tributyltin menggunakan gejala imposeks pada gastropoda di perairan Bitung, Sulawesi Utara
Perairan Bitung, Sulawesi Utara, memiliki aktifitas perkapalan yang memungkinkan perairan tersebut terkontaminasi dengan polutan senyawa tributyltin. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui gejala imposeks dan mendeteksi kandungan TBT dalam tubuh gastropoda. Jenis gastropoda yang diambil sebagai bahan uji adalah gastropoda jenis Thais aculeata, Monodonta labio, dan Nerita exuvia. Pengamatan imposeks pada gastropoda umumnya dilakukan dengan pembedahan untuk melihat organ kelamin yang terjadi. Determinasi seksual dilakukan dengan mengamati keberadaan sperm-ingesting gland atau kelenjar prostat yang hanya ada pada individu jantan serta pewarnaan pada gonad. Gejala imposeks pada gastropoda T. aculeata, M. labio, N. exuvia yang diambil dari Perairan Bitung memiliki tingkat imposeks cukup tinggi. Dari hasil penelitian menunjukkan gejala imposeks tertinggi terjadi pada gastropoda jenis T. aculeata, dimana gastropoda ini juga mudah ditemukan di area lokasi penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fenomena imposeks menyebar cukup tinggi di wilayah studi dengan nilai rerata RPLI berkisar 58.5 % - 80.67 %
Identifikasi jenis alga Koralin di pulau Salawati, Waigeo Barat kepulauan Raja Ampat dan pantai Malalayang kota Manado
Alga koralin merupakan kelompok alga laut (seaweed) yang diklasifikasikan kedalam Divisi Rhodophyta, Kelas Florideophyceae, Ordo Cryptonemiales, Famili Corallinaceae. Secara morfologi (external appearance) kelompok famili ini terbagi atas 2 bagian, yaitu: alga koralin bersegmen (articulated/geniculated Coralline Algae) dan alga koralin tidak bersegmen (non-articulated/nongeniculated Coralline Algae). Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis alga koralin dan mendeskripsikan morfologi alga koralin. Pengambilan sampel dilakukan di Pulau Salawati, Waigeo Barat Kepulauan Raja Ampat dan Pantai Malalayang Kota Manado. Pengambilan sampel dilakukan dengan bantuan peralatan SCUBA dan diambil pada kedalaman 1-5 meter dengan menggunakan metode survey jelajah. Setiap alga koralin yang di ambil dimasukan ke dalam plastik sampel. Sampel alga koralin di bawah ke Laboratorium Biologi Kelautan FPIK UNSRAT. Selanjutnya, setiap alga diidentifikasi, dicatat dan didokumentasi menggunakan kamera. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi berjumlah 4 spesies alga koralin. Keempat spesies tersebut yaitu 1 Mastophora rosea dari Waigeo Barat, 2 dari Pulau Salawati Amphiroa rigida dan Galaxaura rugosa, dan 1 dari Pantai Malalayang Peyssonnelia caulifera
Deskripsi SWOT, KAFI dan KAFE terhadap Hasil Penelitian di Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT
Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT), serta kesimpulan analisis faktor internal (KAFI) dan kesimpulan analisis faktor eksternal (KAFE) terhadaphasil penelitian di Program Studi Ilmu Kelautan FPIK Unsrat periode tahun 2012-2014. Metode penelitian adalahsurvey dan deskriptif. Data diperoleh melalui: A. Pengkajian hasil-hasil penelitian dari Paruntu dan Kumaat (2015a,b); B.Wawancara dengan para keterwakilan dari peneliti dan mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan serta pimpinan FPIK; C. Studi pustaka dan penelusuran dokumen kebijakan pada Program Studi Ilmu Kelautan. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT.Hasil deskripsi SWOT melalui KAFI dan KAFE diperoleh: A.Dua kekuatan utama, yaitu adanya 10 profesor dan 33 doktor yang relatif masih panjang dalam usia kerja dan adanya visi, misi, tujuan dan sasaran yang terukur tentang penelitian; B.Dua kelemahan utama, yaitu jumlah luaran penelitian di bidang kelautan masih kurang dan kurangnya mahasiswa dilibatkan dalam penelitian dosen; C.Dua peluang utama, yaitu banyaknya skema penelitian yang ditawarkan oleh pemerintah pusat untuk perguruan tinggi dan adanya visi Pemerintah RI Jokowi-JK menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia memberi peluang untuk melaksanakan banyaknya penelitian; D.Dua ancaman utama, yaitu tingkat persaingan di bidang penelitian yang semakin meningkat dan adanya dosen di luar Program Studi Ilmu Kelautan yang memenangkan kompetisi penelitian nasional atau perguruan tinggi di bidang kelautan. Rekomendasi untuk penelitian lanjutan adalah FPIK Unsrat perlu menetapkan strategi penelitian di bidang ilmu kelautan menggunakan analisis SWOT
Konstanta pasut perairan laut di sekitar kepulauan Sangihe
Konstanta pasut merupakan dua parameter yang dianggap konstan, yakni amplitudo beberapa komponen pasut dan keterlambatan fase dari pasang sebenarnya dalam pasut setimbang. Penelitian ini difokuskan pada pertanyaan bagaimana keberadaan amplitudo konstanta pasut yang merambat di perairan laut sekitar Kepulauan Sangihe dan keakuratan data prediksi yang diperoleh dari sejumlah konstanta hasil perhitungan. Tujuan penelitian yang akan dicapai yaitu mendeskripsikan besaran nilai amplitudo konstanta pasut dan menentukan keakuratan data prediksi pasut. Nilai konstanta pasut yang diperoleh dengan perhitungan kuadrat terkecil menunjukkan amplitudo dan fase pada masing-masing bulan (Juni, Juli, Agustus) memiliki kisaran antara 0,5-1 cm. Berdasarkan nilai konstanta tersebut, diketahui bahwa hasil prediksi yang baik digunakan sebagai keakuratan data prediksi adalah konstanta hasil pengukuran pasut dalam kurun waktu satu bula
Persentase tutupan dan struktur komunitas mangrove di sepanjang pesisir Taman Nasional Bunaken bagian utara
Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung persentase tutupan mangrove dan mengetahui struktur komunitas mangrove. Penelitian ini dilakukan di sepanjang pesisir Taman Nasional Bunaken bagian Utara. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu metode line transect dan metode hemisperichal photography. Data hasil penelitian ditemukan 6 jenis mangrove yaitu Sonneratia alba, Avicennia officinalis, Avecennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata dan Bruguiera gymnorrhiza yang termasuk dalam 4 famili Sonneratiaceae, Avicenniaceae, Rhizophoraceae dan juga Bruguieraceae. Nilai tutupan kanopi mangrove yang tertinggi pada stasiun 2 (Meras) di transek 2 mencapai nilai 82,78% dan yang terendah pada stasiun 1 (Molas) di transek 1 yaitu 61,24%