JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
KONDISI PADANG LAMUN DI SEKITAR PERAIRAN DESA BOWONGKALI KECAMATAN TABUKAN TENGAH KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Seagrass is a flowering plant (Angiospermae) that can live in the sea. Seagrass ecosystems have a very important role both ecologically and biologically in coastal and estuary areas. These plants provide food for many marine animals include herbivorous invertebrates, and herbivorous fish. This study aims to determine the condition of seagrass beds in the waters of Bowongkali Village, Central Tabukan District, Sangihe Islands Regency based on the percentage cover. Data collection method in this study uses the quadratic transect method with three transect lines with a length of 100m each and a distance between each transect is 50m. Data was collected by determining the percentage of seagrass cover and seagrass species composition in each small box in the quadrat frame on each transect. The results of this study obtained the total average percentage has a percentage value of seagrass cover of 48.67% and categorized as "medium". The types of seagrasses found are Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis. Envoronmental parameters recorded temperature range 31.5-32 ° C, salinity range 26-28‰ and pH 8.02-8.07.
Keywords: Seagrass beds, Condition, Waters of Bowongkali Village.
ABSTRAK
Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang dapat hidup di laut. Ekosistem padang lamun memiliki peran sangat penting baik secara ekologi maupun biologi di kawasan pesisir dan estuari. Tumbuhan ini berperan sebagai produsen dan menyediakan makanan bagi invertebrata herbivora, dan ikan herbivora. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis lamun dan kondisi padang lamun di Perairan Desa Bowongkali, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pengambilan Data pada penelitian ini mengunakan metode transek kuadrat dengan tiga line transek yang memiliki panjang masing-masing 100m dengan jarak antar tiap transek adalah 50m (100 x 100 m²). Pengambilan data dilakukan dengan cara mentukan nilai persentase tutupan lamun dan komposisi jenis lamun pada setiap kotak kecil dalam frame kuadrat pada masing-masing transek. Hasil penelitian ini didapatkan, nilai persentase tutupan padang lamun sebesar 48,67% termasuk dalam kategori “sedang”. Jenis-jenis lamun yang ditemukan yaitu, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis. Parameter di Perairan Desa Bowongkali yaitu suhu, salinitas, pH, nilai suhu 31,5-32°C, nilai salinitas 26-28‰ dan nilai pH 8,02-8,07.
Kata Kunci: Padang lamun, Kondisi, Perairan Desa Bowongkal
PREDIKSI PASANG SURUT PERAIRAN SEKITAR KOTA BITUNG DENGAN PENAMBAHAN KONSTANTA HARMONIK PERAIRAN DANGKAL
Bitung is a city with the most intensive marine space utilization activities in North Sulawesi Province. Therefore, information regarding oceanographic conditions is very important in relation to development in this city. One of the important information regarding oceanographic conditions is tides. This study was conducted with the aim of assessing the accuracy of tidal prediction with the addition of shallow water harmonic constituents and examining the amplitude fluctuations of the main harmonic component due to the addition of the shallow water constituents. The least squares method was used to calculate the amplitude and phase of tidal harmonic constituents, followed by data prediction. The data used is the measurement data of BMKG Bitung City tidal station in January, February and March 2024. The results obtained are the addition of shallow water harmonic constituents to the tidal analysis around Bitung City increases the accuracy of the prediction data. The best RMSE value for January data is 3.8323 cm; February 4.1902 cm; and March 4.2558 cm. The correlation coefficient increases and the percentage of predicted data with differences < 3 cm and < 6 cm with the observation data becomes larger. It is also found that when processing with few harmonic constituents, the amplitudes of constants M2, S2, K1, and O1 fluctuate. The addition of harmonic constituents in the analysis results in more constant amplitudes of constituents M2, S2, K1, and O1
SEBARAN OYSTER Saccostrea cuccullata DI TIANG DERMAGA LABORATORIUM BASAH LIKUPANG
Kerang Saccostrea cuccullata merupakan spesies penting dalam ekosistem pesisir. Keberadaanya pada struktur buatan manusia seperti dermaga dapat memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan perairan dan potensi pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi tentang sebaran S. cuccullata di tiang dermaga Likupang serta menganalisis hubungan antara ukuran cangkang S. cuccullata dengan posisi vertical pada tiang dermaga Laboratorium Basah, Likupang. Prosedur pengambilan sampel dilakukan dengan cara mengobservasi kehadiran oyster di dinding tiang dermaga pada beberapa sisi; sisi depan, sisi belakang, dan sisi luar kemudian mendeskripsikan sebaran ukuran oyster terhadap posisi vertical dengan mencatat ketinggian oyster dan mengambil oyster untuk dilakukan pengukuran Panjang cangkang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88,75% tiang dihuni Saccostrea cuccullata. Pengukuran Panjang cangkang S. cuccullata menunjukkan bahwa oyster yang menempati level atas dengan Panjang rata-rata 3,50 cm; level tengah berukuran 6, 35 cm; dan level bawah 8, 33 cm. Dengan demikian, posisi vertical sangat berpengaruh pada periode makan dan secara langsung berdampak pada pertumbuhan dan ukuran tubuh oyster.
Kata kunci: Saccostrea cuccullata, sebaran, ukuran cangkan
KANDUNGAN KARBON PADA SERASAH DAUN MANGROVE DI PERAIRAN SEKITAR DESA BULO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA SULAWESI UTARA
Hutan mangrove memiliki peran penting dalam hal mengurangi dampak dari perubahan iklim Mangrove menyerap CO2 dari atmosfer dan mengubahnya menjadi karbon organik yang tersimpan dalam bentuk biomassa biomasa bagian atas dan biomasa bagian bawah. Menyadari pentingnya peran ekosistem mangrove maka penelitian mengenai kandungan karbon pada serasah mangrove sangat penting dilakukan untuk menentukan kapasitas hutan mangrove dalam menyerap CO2. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan mangrove yang berada di perairan sekitar Desa Bulo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah kandungan karbon pada serasah daun mangrove. Pengambilan data serasah daun pada penelitian ini menggunakan metode litter-trap (jaring penangkap serasah). Pengambilan serasah mangrove menggunakan 10 buah litter-trap berukuran 1×1 m2 dan sampel diambil setiap 7 hari sekali selama 28 hari. Serasah yang terperangkap di dalam litter-trap ditimbang berat basah dan berat keringnya untuk mengetahui kandungan biomassanya, kemudian dianalisis dengan metode loss on ignition (LOI) untuk mengetahui jumlah persentase kandungan karbon. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh estimasi rata-rata kandungan karbon sebesar 43,03 ton/ha/tahun dan nilai rata-rata persentase kandungan karbon sebesar 12,48% C/hari.
Keywords: Mangrove, Serasah, Kandungan Karbon, Bulo Villag
KONDISI TERUMBU KARANG dI PERAIRAN DESA WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA, SULAWESI UTARA
Coral reefs are a unique ecosystem of tropical regions that are highly complex, productive, and possess a high biodiversity, serving as habitats for organisms. Essentially, coral reefs are massive deposits of calcium carbonate (CaCO3) produced by reef-building coral organisms (hermatypic corals) from the phylum Cnidaria, class Anthozoa, order Scleractinia. This study aims to assess the condition of coral reefs in the waters of Wori Village to accurately understand the status and dynamics that will determine the direction and policies regarding coral reefs in Wori Village waters. The results of the Coral Reef Condition Study in the Waters of Wori Village using the Underwater Photo Transect method revealed that at Station I, the percentage of live coral cover was 53.47% out of 12 forms of coral growth, while at Station II, the percentage of live coral cover was 47.73% out of 10 forms of coral growth, with the genus Porites being the most dominant at both observation stations. The average coral cover value in the waters of Wori Village was 50.60% based on the Standard Criteria for Coral Damage Assessment in Ministerial Regulation No. 4 of 2001. The condition of the reefs in Wori Village Beach falls under the Good category
Keywords: Wori Waters, Coral Reefs, UPT, CPCE
ABSTRAK
Terumbu karang adalah suatu ekosistem khas daerah tropis yang sangat kompleks produktif serta memiliki keanekaragman biota yang sangat tinggi dan juga merupakan habitat bagi organisme. Pada dasarnya terumbu karang merupakan endapan masif kalsium karbonat (CaCo3) yang dihasilkan oleh organsime karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) dari filum Cnidaria, kelas anthozoa ordo Scleractinia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kondisi terumbu karang yang ada di Perairan Desa Wori guna mengetahui kondisi terumbu karang di Desa Wori secara akurat dan detail mengenai status dan dinamika yang akan menentuhkan arah dan kebijakan terumbu karang di Perairan Desa Wori. Hasil Penelitian Kondisi Terumbu Karang di Perairan Desa Wori dengan Mengunakan metode Underwater Photo Transek di Ketahui pada Stasiun I Persentase tutupan karang hidup 53,47% dari 12 bentuk pertumbuhan karang sedangkan pada Stasiun II persentase karang hidup 47,73% dari 10 bentuk Pertumbuhan karang dengan genus karang Porites yang paling dominan di dua Stasiun Pengamatan dengan nilai rata-rata nilai tutupan karang di Perairan Desa Wori 50,60% berdasarkan Kriteria Baku Penilaian kerusakan terumbu dalam KepMen. 2001 No.4. kondisi terumbu di Pantai Desa Wori Masuk dalam Kategori Baik.
Kata kunci: Perairan Wori, Terumbu Karang, UPT, CPC
INTERPRETASI PEUBAH UKURAN BUTIR SEDIMEN
Sediment characteristics are described through grain size variables so that an understanding of sediment is built based on the interpretation of these variables. The distribution of sediment grain sizes reflects the viscosity and strength of factors acting on the depositional environment. That is why, knowledge of the grain size characteristics of sediments in certain depositional environments is very necessary in relation to the management of that area. This research was conducted to determine the extent to which sediment grain size variables describe sediment character. To reveal this, sediment samples were taken from two visually different depositional environments on the beach. The sediment collection location is in the beach around the Unsrat Marine Field Station in Likupang. Sediment collection was carried out at Station 1 and Station 2, where the two stations were separated by a pier. The two sediment samples were then processed according to sediment handling procedures starting from washing to obtaining the sediment weight according to the sieve diameter. Through graphic procedures, sediment weight data is used to produce a number of values used in calculating sediment granulometric variables. The parameters of sediment granulometric variables that are calculated are mean, sorting, skewness and kurtosis. Based on the studies carried out, it was concluded that the characteristics of sediment taken from different depositional environments on the beach can be clearly differentiated through the classification values of grain size variables..
Keywords: sediment grain-size, sorting, skewness, kurtosis
ABSTRAK
Karakteristik sedimen dideskripsikan melalui peubah ukuran butirnya sehingga pemahaman tentang sedimen dibangun berdasarkan interpretasi terhadap peubah tersebut. Sebaran ukuran butir sedimen merefleksikan ketidakstabilan dan kekuatan faktor-faktor yang bekerja pada lingkungan deposisional. Itulah sebabnya, pengetahuan terhadap karakteristik ukuran butir sedimen pada lingkungan pengendapan tertentu, sangat dibutuhkan dalam kaitannya dengan pengelolaan ruang tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peubah ukuran butir sedimen menggambarkan karakter sedimen. Untuk mengungkap hal tersebut, sampel sedimen diambil dari dua lingkungan pengendapan yang secara visual berbeda pada lahan gisik. Lokasi pengambilan sedimen berada di kawasan gisik sekitar Marine Field Station Unsrat di Likupang. Pengambilan sedimen dilakukan pada Stasiun 1 dan Stasiun 2, di mana kedua stasiun ini dipisahkan oleh adanya struktur bangunan berupa dermaga. Kedua sampel sedimen selanjutnya diproses sesuai prosedur penanganan sedimen mulai dari pencucian sampai memperoleh berat sedimen menurut ukuran diameter ayakan. Melalui prosedur grafik, data berat sedimen digunakan untuk menghasilkan sejumlah nilai yang digunakan dalam perhitungan peubah granulometri sedimen. Parameter-parameter peubah granulometri sedimen yang dihitung adalah rataan empirik, penyortiran, kemencengan, dan peruncingannya. Berdasarkan kajian yang dilakukan, disimpulkan bahwa karakteristik sedimen yang diambil dari lingkungan pengendapan yang berbeda pada lahan gisik dapat dibedakan secara jelas melalui nilai klasifikasi peubah ukuran butir.
Kata Kunci: ukuran butir sedimen, pemilahan, kemencengan, peruncinga
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK IDENTIFIKASI WILAYAH BERISIKO BENCANA TSUNAMI DI KAWASAN PESISIR PANTAI SINE, TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR, INDONESIA
Perkembangan pemanfaatan inovasi sistem informasi geografis di Indonesia semaik baik, yang sekaligus membantu memudahkan Pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan. Pemanfaatan aplikasi sistem informasi geografi (SIG) dapat digunakan dalam bidang pemetaan batas wilayah, kebencanaan, perencanaan tata ruang, maupun pemodelan. Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki tingkat risiko bencana alam tinggi, seperti banjir, tanah longsor, kebakaran, gunung meletus, Tsunami, dll. Faktor kondisi geologis yang sebagai penyebabnya. mulai dari letak Negara Indonesia yang berada diantara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia serta lempeng pasifik. Kondisi ini seringkali menyebabkan adanya aktifitas lempeng yang aktif dan mengkibatkan adanya gempa bumi tektonik. Dampak gempak gempa bumi di Indonesia pada kawasan pesisir sering mengakibatkan timbulnya bencana gelombang tinggi Tsunami. Tujuan penelitian, (1) mengidentifikasi bentuk tipologi kepesisiran, (2) menganalisis tingkat bahaya dan keterpaparan pemukiman di kawasan pesisir. Metode penelitian ini melakukan pengamatan observasi lapangan dan pemodelan data spasial sistem informai geografis dan analisa data menggunakan analisa data spasial dan pembobotan penskoran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipologi kawasan wilayah pesisir didominasi tipologi pesisir yang berbentuk teluk. Pemukiman dan sangat dekat dengan garis pantai serta topografi wilayah yang datar menjadikan wilayah pemukiman di pesisir Pantai Sine memiliki tingkat bahaya risiko bencana Tsunami yang tinggi. Selain itu, jenis pemukiman serta kepadatan pemukiman juga menjadi faktor kerentanan yang tinggi.
Kata kunci: Tipologi Pesisir, Bahaya, Risiko, Bencana Tsunami, Pesisir Sin
PROFIL PERTUMBUHAN MIKROALGA Chlorella vulgaris PADA MEDIA KW21
Microalgae are microscopic organisms found in both freshwater and seawater. These organisms lack roots, stems, and leaves but are capable of performing photosynthesis to produce their own food. One type of microalga is Chlorella vulgaris, which belongs to the class Chlorophyceae. Chlorella Vulgaris can be cultivated as a natural feed for fish, clams, and shrimp. The aim of this research is to analyze the growth profile of Chlorella vulgaris cultivated in Kw21 media. Observations were conducted by counting the cell density of C. vulgaris from the adaptation phase to the death phase in three identical sample containers. This observation process was carried out daily at the same time and repeated three times. The cell density of Chlorella vulgaris in the exponential phase on the 11th day for sample A was 114.6 x 10⁴cells/ml, for sample B on the 10th day was 118.6 x 10⁴ cells/ml, and for sample C on the 7th day was 116.3 x 10⁴ cells/ml.
Keywords: Growth, Chlorella vulgaris, Microalgae, KW21 Media
ABSTRAK
Mikroalga adalah organisme mikroskopis yang ditemukan di air tawar maupun air laut. Mikroalga ini tidak memiliki akar, batang dan daun. Namun mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan sendiri. Salah satu jenis mikroalga adalah Chlorella vulgaris yang tergolong dalam kelas Chlorophyceae. Mikroalga ini, dapat dibudidayakan sebagai pakan alami pada ikan, kerang dan udang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis profil pertumbuhan mikroalga Chlorella vulgaris yang dikultivasi dalam media Kw21. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah kepadatan sel mikroalga C. vulgaris mulai dari fase adaptasi sampai fase kematian dari 3 wadah sampel yang sama. Proses pengamatan ini dilakukan setiap hari di jam yang sama dan dengan tiga kali pengulangan. Jumlah kepadatan sel mikroalga C. vulgaris pada fase eksponensial di hari ke-11 pada sampel A yaitu 114,6 x10⁴sel/ml pada sampel B di hari ke-10 yaitu 118,6 x10⁴sel/ml, dan pada sampel C di hari ke-7 yaitu 116,3 x10⁴sel/ml.
Kata Kunci: Pertumbuhan, Chlorella vulgaris, Mikroalga, Media KW2
KESESUAIAN SUMBER DAYA PANTAI PULISAN UNTUK WISATA REKREASI PANTAI BERKELANJUTAN
Pantai Pulisan terletak di region paling ujung utara semenanjung Minahasa dan telah lama dikenal memiliki sumber daya alam yang dikelola untuk sektor perikanan, jasa lingkungan, terutama pariwisata. Namun dalam beberapa dekade terakhir telah berubah menjadi objek wisata masal. Termasuk dalam kawasan destinasi pariwisata super prioritas dan menjadi objek wisata rekreasi pantai yang ramai dikunjungi. Penelitian ini bertujuan mengukur indeks kesesuaian sumber daya pesisir di pantai Pulisan dalam peruntukannya sebagai objek wisata rekreasi pantai berdasarkan penilaian terhadap beberapa parameter sumber daya. Pengukuran indeks kesesuaian sumber daya pantai Pulisan bermanfaat untuk menilai apakah sumber daya yang ada sekarang masih sesuai bagi peruntukan pantai Pulisan sebagai objek wisata rekreasi pantai. Apalagi pantai Pulisan telah menjadi objek yang ramai dikunjungi sehingga diasumsikan mengalami banyak tekanan dan berpengaruh terhadap keberlanjutan. Indeks kesesuaian wisata diukur dengan cara melakukan penilaian terhadap sepuluh parameter kesesuaian (Yulianda, 2019). Hasil penelitian menunjukkan indeks kesesuaian wisata (IKW) sumber daya pantai Pulisan berada pada nilai 2,395 dan dikategorikan ‘sesuai’. Tipe pantai, kecepatan arus, keberadaan biota berbahaya, ketersediaan air tawar, terutama penutupan lahan pantai, merupakan komponen-komponen yang menurunkan indeks kesesuaian pantai Pulisan sebagai objek wisata rekreasi pantai, sehingga perlu penanganan untuk keberlanjutan.
Kata kunci: pantai pulisan, indeks kesesuaian wisata, rekreasi, panta
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA PONTO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA
Hutan mangrove sangat penting untuk kehidupan biota dan lingkungan sekitarnya. Ekosistem mangrove terletak di seluruh kepulauan Indonesia. Desa Ponto merupakan daerah yang juga memiliki keanekaragaman mangrove yang cukup tinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Ponto Jaga Tiga Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara dengan titik koordinat transek 1(1o39’45.54”U, 124o55’18.79”T), 2(1o39’26.96”U, 124o55’9.74”T),3(1o38’53.’93”U, 124o55’3.39”T), tujuan penelitian untuk mengetahui Struktur Komunitas Mangrove di Desa Ponto Jaga Tiga Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Setiap lokasi ditarik (line transect) sepanjang 100m dan diletakan 5 kuadran dari darat ke laut. Kuadran berukuran 10m x 10m, jarak antar kuadran 10m. Studi menemukan 6 spesies mangrove yaitu Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Brugueira gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Rhizophora mucronata, dan Avicennia alba. Nilai kerapatan tertinggi ditemukan jenis R.apiculata dan nilai kerapatan terendah yaitu X.granatum. Nilai frekuensi jenis tertinggi R.mucronata dan R.apiculata, frekuensi jenis terendah yaitu X.granatum. Nilai penutupan jenis tertinggi yaitu R.mucronata dan terendah jenis X.granatum. Indeks nilai penting tertinggi jenis R.mucronata. Indeks keanekaragaman rata-rata dengan nilai 1,02 termasuk kategori sedang. Nilai keseragaman sebesar 0,62 dengan indeks dominasi yaitu 0,81.
Kata Kunci: Mangrove, Struktur Komunitas, Desa Pont