JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Not a member yet
    324 research outputs found

    KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI GRANULOMETRI SEDIMEN DI PADANG LAMUN DESA MOKUPA KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA

    Get PDF
    Informasi menyangkut kondisi substrat di padang lamun merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam pengelolaan ekosistem lamun. Pantai Desa Mokupa memiliki kawasan padang lamun yang infomasi menyangkut ukuran butir sedimennya belum pernah dihadirkan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan komposisi dan menganalisis distribusi granulometri sedimen di padang lamun Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Pengambilan sedimen dilakukan menggunakan metode sistematis di mana sedimen yang diambil pada kawasan padang lamun adalah pada area berkategori tutupan lamun jarang, sedang, padat dan sangat padat. Hasil yang diperoleh adalah komposisi sedimen   padang lamun sekitar Desa Mokupa terdiri dari sedimen berukuran debu sampai kerakal.  Pada kawasan dengan kategori tutupan lamun padat dan sangat padat, sedimen pasir halus berada pada proporsi yang terbesar. Sebaliknya sedimen kerakal proporsinya mengecil dibandingkan dengan yang terdapat pada kawasan dengan kategori tutupan sedang dan jarang. Berdasarkan nilai rataan empirik, granulometri sedimen pada kawasan berkategori tutupan sangat padat adalah yang paling halus.  Nilai penyortiran menunjukkan hampir keseluruhan sampel sedimen kawasan padang lamun berada pada kriteria buruk sampai buruk sekali.  Kemencengan umumnya berada pada kriteria asimetris kuat ke ukuran besar.  Kriteria peruncingan pada kawasan berkategori tutupan padat adalah leptokurtik, sedangkan pada kategori tutupan sangat padat adalah sangat leptokurtik. Kata kunci: Padang lamun, Komposisi sedimen, Distribusi granulometri, Mokup

    INDEKS DIMENSI DAN INDEKS NILAI PENTING LAMUN DI PERAIRAN DARUNU, KECAMATAN WORI, SULAWESI UTARA

    Get PDF
    Ekosistem pesisir yang mampu menyerap dan menyimpan karbon yang baik adalah salah satunya ekosistem padang lamun. Perairan Darunu, Kecamatan Wori, Sulawesi Utara merupakan salah satu daya tarik wisata dan memiliki ekosistem lamun yang baik. Namun sampai saat ini belum ada informasi atau laporan mengenai padang lamun yang ada di Perairan Darunu, oleh karena itu tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis lamun, mengetahui nilai indeks dimensi lamun (IDLn) dan indeks nilai penting (INP) lamun di Perairan Darunu. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pegambilan data dilakukan secara langsung menggunakan metode garis transek. Lamun yang ditemukan di Perairan Darunu sebanyak 6 jenis yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, Halodule phinifolia, dan Syringodium isoetifolium. Nilai indeks dimensi lamun (IDLn) sebesar 0,5m² dipengaruhi oleh jarak ekosistem lamun dari pemukiman penduduk. INP dipengaruhi oleh kerapatan jenis dan kerapatan relatif, frekuensi jenis dan frekuensi relatif, penutupan jenis dan penutupan relatif. INP tertinggi di Stasiun 1 pada jenis T. hemprichii dengan nilai 124.680% dan INP terendah pada jenis H. phinifolia di Stasiun 3 dengan nilai 5,968%. Kata Kunci: Indeks Dimensi Lamun, Indeks Nilai Penting, Ekosistem Lamun, Perairan Darunu,                    Sulawesi Utar

    KESESUAIAN EKOWISATA MANGROVE DI WILAYAH PESISIR DESA SONSILO KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA

    Get PDF
    Mangrove adalah pepohonan atau komunitas tumbuhan tingkat tinggi yang tumbuh di garis pantai yang mempengaruhi pasang surut air laut. Kawasan mangrove menjadi sumber daya alam dan dapat dikembangkan dengan kegiatan ekowisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam dan memberikan manfaat ekonomi serta kebutuhan budaya bagi masyarakat dalam menjaga kelestarian mangrove. Tujuan Penelitian ini mengetahui nilai indeks kesesuaian parameter di Desa Sonsilo. Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer dan sekunder diperoleh di lapangan, meliputi kerapatan mangrove, ketebalan mangrove, jenis mangrove, objek biota, dan data sekunder pengambilan data pasang surut. Teknik pengumpulan kerapatan mangrove menggunakan line transect pada setiap transek yang diamati tarik terlebih dahulu garis transek dengan panjang 100 m dan setiap transek akan diberikan jarak 50 m, pada setiap garis diberikan sebanyak 5 plot, kemudian dalam setiap plot diberikan ukuran 10x10 m. Hasil nilai rata-rata paramaeter kesesuaian ekowisata pada ketebalan mangrove rata-rata di Desa Sonsilo 535,25 m. jumlah pada individu mangrove yaitu 8 spesies Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Nypa fruticans, Rhizopora apiculata, Rhizopora sp., Sonneratia alba, Xylocarpus sp. pada objek biota asosiasi terdapat ikan, udang, kepiting, moluska dan burung, dan nilai rata-rata pasang surut 0 - 1 m. Kata Kunci: Desa Sonsilo, Ekowisata, Mangrove, Kepadatan, Ketebala

    ANALISIS PERTUMBUHAN DAUN Thalassia hemprichii DI PERAIRAN SEKITAR DESA TULUSAN KECAMATAN TAGULANDANG KABUPATEN SIAU TAGULANDANG BIARO

    Get PDF
    Seagrass is a flowering plant that can grow well in shallow marine environments. All seagrasses are one-seed plants that have roots, rhizomes, leaves, flowers and fruit just like plants on land. This research was carried out from August to September 2023 in the nearby waters of Tulusan Village, Tagulandang District, Sitaro Islands Regency. This research aims was to determine the growth rate of Thalassia hemprichii leaves on two different substrate types. Analysis of seagrass growth rate was measured using the seagrass leaf growth rate test, normality test and independent T-test. The results of this research showed that the average growth rate of young leaves was 0.29 cm/day and old leaves 0.15 cm/day on the sandy substrate, while on the mixed sand substrate and dead coral fragments, young leaves were 0.24 cm/day and old leaves 0.09 cm/day with a measurement interval of 7 days. The results of the normality test using the Liliefors formula for seagrass data show that it has a normal distribution. The results of the independent T-test on mixed sandy substrate and coral fragments showed that there were significant differences in seagrass leaf growth. The results of parameter measurements on sandy substrates ranged in temperature from 30˚C - 37˚C, salinity 30 ppt - 31 ppt, pH 8 and on coral rubble sand substrates ranged from 30˚C - 35 ˚C salinity 30 - 32 ppt, pH 8. Keywords: Seagrass, Substrate, Growth   ABSTRAK Lamun adalah tumbuhan berbunga yang dapat tumbuh dengan baik dalam lingkungan laut dangkal. Semua lamun adalah tumbuhan berbiji satu yang mempunyai akar, rimpang, daun, bunga dan buah seperti halnya dengan tumbuhan yang ada didarat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - September 2023 di perairan sekitar Desa Tulusan Kecamatan Tagulandang Kabupaten Kepulauan Sitaro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan daun lamun Thalassia hemprichii pada dua tipe substrat berbeda. Analisis laju pertumbuhan lamun diukur menggunakan uji laju pertumbuhan daun lamun, uji normalitas dan uji T independen. Hasil penelitian ini diperoleh rata-rata laju pertumbuhan daun muda yaitu 0,29 cm/hari dan daun tua 0,15 cm/hari pada tipe substrat berpasir, sedangkan pada tipe substrat pasir pecahan karang mati, daun muda 0,24 cm/hari dan daun tua 0,09 cm/hari dengan interval pengukuran 7 hari. Hasil uji normalitas dengan menggunakan rumus liliefors data lamun menunjukan mempunyai sebaran normal. Hasil uji t independen pada tipe substrat berpasir dan pecahan karang menunjukan ada perbedaan nyata pertumbuhan daun lamun. Hasil pengukuran parameter pada substrat berpasir berkisar suhu 30˚C - 37˚C, salinitas 30 ppt – 31 ppt, pH 8 dan pada substrat pasir pecahan karang berkisar suhu 30˚C -35 ˚C salinitas 30 – 32 ppt, pH 8.. Kata Kunci: Lamun, Substrat, Pertumbuha

    MORFOMETRIK DAN MERISTIK LAMUN DI PANTAI BORGO KECAMATAN BELANG DAN PANTAI BASAAN I KECAMATAN RATATOTOK KABUPATEN MINAHASA TENGGARA

    Get PDF
    Seagrasses are flowering plants (Angiosperms) that are fully adapted to aquatic environments. Seagrasses are capable of living in salt water; even though it is immersed in salty water, it still functionsnormally. The function and role of seagrasses depend on the number of leaf blades, leaf length, leafwidth, and total biomass, all of which are highly determined by local conditions. This research wasconducted in Southeast Minahasa Regency in Pantai Borgo Village, Belang District and Beach Villageof Basaan I, Ratatotok District. This study aims to measure the morphometrics and meristics of seagrassspecies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii and Syringodium isoetifolium. Sampling of seagrasswas carried out using the cruising survey method, as many as 10 individuals for each species at eachstudy location, samples were taken using a knife and washed and put into plastic samples. Thenmeasured using a caliper ruler. The results obtained from the three seagrass species Enhalusacoroides, Thalassia hemprichii and Syringodium isoetifolium are different in morphometric and meristicsizes of the three seagrasses which are larger in Basaan I Beach compared to those in Borgo Beach.This is because in Borgo Beach there are many human activities that greatly affect the activity ofmorphometric and meristic sizes which in turn also affect the growth of seagrass. This difference isthought to be due to the high activity of the people who live around Borgo beach in the form of householdwaste disposal and fishing activities, namely the intensity of boat traffic and boat moorings, while onPasir Panjang Beach, Basan I Village is far from residential areas and is a tourist area that is not yetvery touristy. Stout is known by many people so it is still in good condition and maintained. Measurementof environmental parameters of the waters of Borgo Village Beach and Basaan I Village Beach are stillin optimum conditions for seagrass plants and development. Keywords: Seagrass, Morphometrics, Meristic, Borgo Village, Basaan I VillageABSTRAK Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang secara penuh beradaptasi pada lingkungan perairan. Lamun mampu hidup di air asin; meski terbenam dalam air asin lamun tetapberfungsi normal. Fungsi dan peranan lamun, bergantung pada jumlah helaian daun, panjang daun,lebar daun, serta biomassa total, yang kesemuanya itu sangat ditentukan kondisi setempat. Penelitianini dilakukan di Kabupaten Minahasa Tenggara di Pantai Desa Borgo Kecamatan Belang dan PantaiDesa Basaan I Kecamatan Ratatotok. Penelitin ini bertujuan untuk mengukur morfometrik dan meristiklamun jenis Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifolium. Pengambilansampel lamun dilakukan dengan menggunakan metode survei jelajah, sebanyak 10 individu untukmasing-masing jenis di setiap lokasi penelitian, sampel diambil dengan mengunakan pisau dicuci dandimasukkan kedalam plastik sampel. Kemudian diukur dengan menggunakan mistar kaliper. Hasil yangdiperoleh dari ketiga lamun jenis Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifoliumadalah berbeda ukuran morfomertik dan meristik dari ketiga lamun tersebut lebih besar yang berada diPantai Basaan I dibandingkan dengan yang ada di Pantai Borgo. Hal ini di karenakan di Pantai Borgobanyak terjadi aktivitas manusia yang sangat mempegaruhi aktivitas ukuran morfometrik dan meristik yang akhirnya juga berpengaruh pada pertumbuhan lamun. Perbedaan ini diduga karena tingginyaaktifitas penduduk yang bermukim disekitar pantai Borgo berupa pembuangan limbah rumah tanggaserta aktivitas kegiatan perikanan yaitu intensitas lalu lalang perahu serta tempat tambatan perahu,sedangkan di Pantai pasir panjang Desa Basan I jauh dari pemukiman warga dan merupakan daerahwisata yang belum terlalu bayak diketahui oleh banyak orang sehingga masih memiliki kondisi yangbaik dan terjaga. Pengukuran parameter lingkungan perairan Pantai Desa Borgo dan Pantai DesaBasaan I masih dalam kondisi yang optimum bagi tumbuhan dan perkembangan lamun. Kata Kunci: Lamun, Morfometrik, Meristik, Desa Borgo, Desa Basaan

    ASOSIASI ECHINODERMATA DENGAN KOMUNITAS PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA MANGON KECAMATAN SANANA KABUPATEN KEPULAUAN SULA

    Get PDF
    The purpose of this study was to determine the association between the phylum Echinodermataand the seagrass community in the waters of Mangon Village. This research was conducted in thewaters of Mangon Village, Sanana District, Sula Islands Regency in October 2022. The researchmethod used was the quadratic transect method. This method consists of 2 research stations which areabout 500m apart. The transect line is drawn straight from the beach to the sea for 100m then aquadratic plot is placed in a zig-zag manner to the left and right of the transect line. There were 10 plotsthat were observed and spaced 10m each and 3 repetitions were carried out with a distance of 50m pertransect. From this method the results obtained in the waters of Mangon Village showed that at stationone, the species found at two stations in Mangon Village waters were 7 species of Echinodermata and6 species of seagrass. Based on the person product moment correlation value, there is a correlation inthe form of a positive association between seagrasses and echinoderms at the study site. Theenvironmental parameters owned by the waters of Mangon Village, Sula Islands Regency, namely,temperature has a range of 24-28˚C, salinity has a range of 28 – 340/00, and pH has a range of 7,08-8,08. The substrate obtained is sand and sand mixed with coral fragments.Keywords: Association of Echinodermata with Seagrass Community, Mangon Village Waters ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui asosiasi antara filum Echinodermata denganKomunitas padang lamun di perairan Desa Mangon. Penelitian ini dilakukan di perairan Desa MangonKecamatan Sanana Kabupaten Kepulauan Sula pada bulan Oktober 2022. Metode penelitian yangdigunakan adalah metode transek kuadrat, Dalam metode ini terdiri dari 2 stasiun penelitian yangmemiliki jarak sekitar 500m. Garis transek ditarik lurus dari pantai menuju laut sepanjang 100mkemudian diletakkan plot kuadrat secara zig-zag disamping kiri-kanan pada garis transek. Terdapat 10buah plot yang diamati dan diberi jarak masing-masing 10m dan dilakukan sebanyak 3 kalipengulangan dengan jarak 50m per transek. Dari Metode tersbut hasil yang didapatkan di perairanDesa Mangon menunjukan bahwa pada stasiun satu, Spesies yang ditemukan pada dua stasiun diPerairan Desa Mangon adalah 7 spesies Echinodermata dan 6 spesies lamun. Berdasarkan nilaikorelasi person product moment, terdapat korelasi dalam bentuk asosisasi positif antara lamun danEchinodermata di lokasi penelitian. Parameter lingkungan yang dimiliki oleh perairan Desa MangonKabupaten Kepulauan Sula yaitu, suhu memiliki kisaran 24-28˚C, salinitas memiliki kisaran 28 - 340/00,dan pH memiliki kisaran 7,08-8,08. Substrat yang di dapat yaitu pasir dan pasir bercampur pecahankarang. Kata Kunci: Asosiasi Echinodermata, Komunitas Padang Lamun, Perariran Desa Mango

    TOKSISITAS EKSTRAK FUNGI YANG BERASOSIASI DENGAN SPONGE Acanthostrongylophora ingens ASAL PERAIRAN PULAU BANTONG KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti

    Get PDF
    The aim of this study is to isolate fungal symbionts from the sponge Acanthostrongylophoraingens that grow in Bantong Island Waters to test their larvicidal activity towards A. aegypti larvae. Apiece of sponge A. ingens were cut and then planted on PDA media until the fungal mycelium starts togrow. The pure isolates are inoculated into a rise medium in the Erlenmeyer flasks for static incubationin room temperature for 14 days. Furthermore, the isolates were soaked with ethyl acetate 3 times,followed by evaporation using a Rotary Vacuum evaporator. The extracts of each fungal isolates weretested on A. aegypti larvae. The results showed that the five fungal isolate extracts have anti-larvalactivity with LC50 values in isolates ranging from 1 to 6 ppm, namely, 1.2 (5.094 ppm), isolates 1.3(3.388 ppm), isolates 2.2 (1.614 ppm), isolates 2.1B (5.918 ppm), isolates 1.1.2 (6.220 ppm). From theLC50 results of this study, the extracts of the five isolates of the associated mushroom with the spongeA. ingens from the waters of Bantong Island, East Bolaang Mongondow Regency were categorized asvery toxic according to the Tanamayat and Clarkson categories, so that they could be developed asanti-larval towards A. aegypti mosquito.Keywords: Toxicity, Larvicidal, sponge Acanthostrongylophora ingens, fungal symbionts ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur simbion dari spons Acanthostrongylophoraingens yang tumbuh di Perairan Pulau Bantong dan selanjutnya menguji aktivitas larvasida terhadaplarva A. aegypti. Spons A. ingens dipotong dan kemudian ditanam pada media PDA hingga miseliumjamur mulai tumbuh. Isolat murni diinokulasikan ke dalam media agar dalam labu Erlenmeyer dandiinkubasi secara statis pada suhu ruang selama 14 hari. Selanjutnya isolat direndam dengan etilasetat sebanyak 3 kali, kemudian diuapkan dengan menggunakan rotary vacuum evaporator. Ekstrakmasing-masing isolat jamur diujikan pada larva A. aegypti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimaekstrak isolat jamur tersebut memiliki aktivitas anti larva dengan nilai LC50 pada isolat berkisar antara1 hingga 6 ppm yaitu, 1.2 (5,094 ppm), isolat 1.3 (3,388 ppm), isolat 2.2 (1,614 ppm), isolat 2.1B (5,918ppm), isolat 1.1.2 (6,220 ppm). Dari hasil LC50 penelitian ini, ekstrak kelima isolat jamur berasosiasidengan spons A. ingens dari perairan Pulau Bantong, Kabupaten Bolaang Mongondow Timurdikategorikan sangat toksik menurut kategori Tanamayat dan Clarkson, sehingga dapat dikembangkansebagai anti nyamuk A. aegypti. Kata Kunci: Toksisitas, Larvasida, spons Acanthostrongylophora ingens, simbion jamu

    UJI TOKSISITAS ANTI KANKER EKSTRAK ALGA COKLAT Padina sp. TERHADAP LARVA UDANG Artemia salina LEACH., DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST

    Get PDF
    Brown Algae Padina sp are marine biota that have secondary metabolites that are useful in the pharmaceutical field, especially raw materials for anti-cancer drugs. Bioactive compounds suspected of having anti-cancer activity were tested for activity by means of a toxicity test. Brine Shrimp Lethality Test Method. The purpose of this study was to test the anticancer activity of the crude extracts of Padina sp against Artemia salina L shrimp larvae using the Brine Shrimp Lethality Test method. Algae samples were taken in the waters of Makupa Village. The activity test was carried out at the Laboratory of Marine Biotechnology and Pharmacy, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Unsrat. The test concentrations used of 10, 50, 100, 250 and 500 ppm, by first making 1000 ppm mother liquor. Data analysis used probit analysis to determine the toxicity value of LC50. The results obtained showed that the increase in concentration was followed by an increase in the number of mortality of the test animals where Padina sp 65%. The results of probit analysis obtained LC50 Padina sp 12.45 mg/l. Based on these data, bioactive compounds from Padina are more toxic, so it can be concluded that the content of bioactive compounds from Padina sp has the potential to be developed as raw materials for anticancer drugs. Keywords: Anticancer, Padina, Lethtality Test   ABSTRAK   Alga Coklat Padina sp merupakan biota laut yang memiliki metabolit sekunder yang bermanfaat dalam bidang farmasi terutama bahan baku obat anti kanker. Senyawa bioaktif yang diduga memiliki aktivitas anti kanker terlebih dahulu dilakukan pengujian aktivitas dengan cara uji toksisitas. Metode Brine Shrimp Lethality Test. Tujuan penelitian ini yaitu uji aktivitas antikanker dari ekstrak   Padina sp terhadap larva udang Artemia salina L dengan menggunakan metode Metode Brine Shrimp Lethality Test. Sampel alga di ambil di Perairan Desa Makupa. Uji aktivitas dilakukan di Laboratorium Bioteknologi dan Farmasetika Laut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat. Konsentrasi uji menggunakan 10, 50, 100, 250 dan 500, ppm, dengan terlebih dahulu membuat larutan induk 1000 ppm. Analisis data menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai toksisitas LC50. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa kenaikan konsentrasi diikuti dengan kenaikan jumlah mortalitas hewan uji dimana Padina sp 65%. Hasil analisis probit diperoleh nilai Lethal consentrasi adalah 12.45 mg/l. Berdasarkan data tersebut senyawa bioaktif dari Padina lebih toksik dibandingkan dengan Halimeda sp, sehingga dapat disimpulkan kandungan senyawa bioaktif dari Padina sp berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat antikanker. Kata kunci: Antikanker, Padina, Lethality Tes

    IDENTIFIKASI JENIS DAN KEANEKARAGAMAN ECHINODERMATA DI RATAAN PERAIRAN SEKITAR DESA TAMBALA KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA

    Get PDF
    Echinoderms are very important in marine ecosystems and are useful as a component in the food chain. Echinoderms can be detritus eaters, herbivores, carnivores and omnivores. This research was conducted for 2 weeks. The methods used are the cruise method and the quadrat transect method. The roaming method is carried out at 2 stations with data collection that is 100 m long. Next, data collection using the quadratic transect method was carried out by drawing a 10 m long transect line and placing a quadratic plot in a zig-zag manner next to the transect line. There were 5 plots observed measuring 1m x 1m with a plot distance of 2 m. Determining the distance of each station is 50 m from the first transect line and other transect lines. The results of research on the waters of Tambala Village that were obtained as a whole included four classes, namely Asteroidea, Holothuroidea, Echinoidea, and Ophiuroidea with a total of 8 types. Based on data analysis using the quadratic transect method, it was obtained: at station I H' = 1.067, the highest species density of Echinometra mathaei was 6.4 ind/m2 and the relative density was 55.49%, while at station II it was obtained H'= 0.831, the density the highest species Ophiocoma erinaceus was 15.53 ind/m2 and the relative density was 54.56%.Keywords: Echinoderms, Diversity, Abundance of species ABSTRAKEchinodermata sangat penting di dalam ekosistem laut dan bermanfaat sebagai salah satukomponen dalam rantai makanan. Echinodermata dapat bersifat sebagai pemakan detritus, herbivora, carnivora dan omnivora. Penelitian ini dilakukan selama 2 minggu. Metode yang digunakan adalah metode jelajah (cruise method) dan metode transek kuadrat. Metode jelajah dilakukan pada 2 stasiun dengan pengambilan data yaitu sepanjang 100 m. Selanjutnya pengambilan data menggunakan metode transek kuadrat dilakukan dengan menarik garis transek sepanjang 10mdan diletakkan plot kuadrat secara zig-zag di samping garis transek. Plot yang diamati sebanyak 5 buah yang berukuran 1m x 1m dengan jarak plot 2 m.Penentuan jarak tiap stasiun yaitu berjarak 50 m dari garis transek pertama dan garis transek lainnya.Hasil penelitian pada perairan Desa Tambala yang diperoleh secara keseluruhan meliputi empat kelas yaitu Asteroidea, Holothuroidea, Echinoidea, dan Ophiuroidea debngan total 8 jenis. Berdasarkan analisis data menggunakan metode transek kuadrat, maka diperoleh: pada stasiun I H’ = 1,067, kepadatan spesies tertinggi Echinometra mathaei sebesar 6,4 ind/m2 dan kepadatan relative sebesar 55,49% sedangkan pada stasiun II diperoleh H’= 0,831, kepadatan spesies tertinggi Ophiocoma erinaceus sebesar 15,53 ind/m2 dan kepadatan relatif sebesar 54,56%.Kata Kunci: Echinodermata, Keanekaragaman, Kelimpahan jeni

    IDENTIFIKASI MOLEKULER SPESIES MIKROBA FOTOSINTETIK YANG BERASOSIASI DENGAN ASCIDIACEA DI TELUK MANADO

    Get PDF
    The objective of this study was to molecularly determine the microbial species. The isolation of microbes from their hosts was conducted by squeezing the tissues that contain green suspension. The suspension was then kept in a freezer until DNA isolation. DNA isolation was performed with standard procedur, following with PCR amplification using universal primer pair for 16S rRNA gene. PCR products were then sequenced, and the results was aligned with the relevant data in NCBI (National Center for Biotechnological Information) web using BLAST (Basic Local Alignment Search Tool). Among the five ascidian species, only one species, Diplosoma virens that its microbial suspension with sample identity, E1 was molecularly identified. PCR product of its 16S rRNA gene was 1150 bp in length. Alignment of this sequence with the relevant sequences in NCBI using BLAST resulted in the range of similarity of 99.40 – 100% with the 16S rRNA sequences of 17 samples described as Prochloron sp., where their hosts were of different species and from different locations, except for sample with accession number of MT 254065. This sample was described as Prochloron didemni IMFR-1 in NCBI was originated from Lissoclinum patella in Manado Bay. However, the 16S rRNA sequence of E1 sample of this study was 100% similarity with the Uncultured Prochloron sp. clone E11-016 that was from different species of host and location. Therefore, Prochloron didemni was non obligate symbiont microbe that could associate with different ascidian species. Keywords: Ascidian, Microbe, 16S rRNA, Prochloron sp. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis mikroba secara molekuler. Isolasi mikroba dari inang ascidia dilakukan dengan cara memencet jaringan inang yang berisi suspensi warna hijau. Suspensi yang diperoleh, disimpan beku sampai saatnya isolasi DNA. Isolasi DNA dengan prosedur standar, kemudian diamplifikasi menggunakan primer gen 16S rRNA. Produk PCR kemudian disekuens, dan hasil sekuensnya diselaraskan menggunakan BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) yang ada di di laman NCBI (National Center for Biotechnological Information). Dari 5 jenis ascidia yang diisolasi mikrobanya, ternyata hanya suspensi dari Diplosoma virens dengan identitas sampel E1 yang teridentifikasi secara molekuler. Produk PCR ini berukuran 1150 bp yang hasil sekuensnya ketika dicocokkan menggunakan BLAST pada data sejenis di NCBI, mempunyai kemiripan 99,40 – 100% dengan sekuens gen yang sama pada 17 sampel yang terdeskripsikan sebagai Prochloron sp. di NCBI dengan inang dan lokasi yang berbeda dengan penelitian ini, kecuali sampel dengan aksesi MT 254065. Sampel ini terdeskripsi sebagai Prochloron didemni IMFR-1 yang sampelnya diisolasi dari ascidia Lissoclinum patella dari lokasi yang sama dengan penelitian ini. Namun sampel E1 justru mirip 100% dengan Uncultured Prochloron sp. clone E11-016 yang diisolasi dari inang dan lokasi berbeda. Jadi Prochloron didemni merupakan mikroba simbion non obligate yang dapat berasosiasi dengan jenis-jenis inang yang berbeda. Kata Kunci: Ascidia, Mikroba,16S rRNA, Prochloron sp

    321

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇