SABUA
Not a member yet
132 research outputs found
Sort by
Analisis Pengembangan Ekowisata Bahari di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan
AbstrakEkowisata bahari merupakan konsep yang mengkombinasikan 2 kepentingan yaitu kepentingan industri pariwisata dengan pelestarian lingkungan di wilayah pesisir. Meningkatnya kunjungan wisatawan di provinsi Sulawesi utara dan kabupaten Minahasa selatan berpengaruh pada pengembangan industri pariwisata di daerah termasuk kecamatan Tatapaan yang wilayah pesisirnya masuk wilayah penyangga taman nasional Bunaken bagian selatan dan zona perlindungan bahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kondisi ekowisata bahari di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kecamatan Tatapaan, menganalisis faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan ekowisata bahari di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di kecamatan Tatapaan, dan menganalisis arah pengembangan ekowisata bahari wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di kecamatan Tatapaan. Sumber data didapat melalui observasi, dokumentasi dan kuesioner kepada responden. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis daya dukung, analisis, dan analisis SWOT. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ekowisata bahari di kecamatan Tatapaan memiliki 3 karakteristik fisik lingkungan yaitu pantai, hutan mangrove, dan pulau-pulau kecil. Faktor internal kekuatan dan faktor eksternal peluang lebih dominan daripada faktor internal kelemahan dan faktor eksternal ancaman sedangkan untuk arah pengembangan menunjuk pada hasil positif atau pada kuadran progressif atau berkembang. Kata kunci: Ekowisata Bahari, Wilayah Pesisir, Pelestarian Lingkungan.AbstractMarine ecotourism is a concept that combines 2 interests, namely the interests of the tourism industry with environmental conservation in coastal areas. The increase in tourist visits in the province of North Sulawesi and South Minahasa district has an impact on the development of the tourism industry in the area including Tatapaan sub-district, whose coastal area is part of the buffer zone of the southern part of Bunaken National Park and the marine protection zone. This study aims to determine the characteristics and conditions of marine ecotourism in the coastal areas and small islands of the Tatapaan district, to analyze internal and external factors that affect the development of marine ecotourism in coastal areas and small islands in the Tatapaan district, and analyzing the direction of marine ecotourism development in coastal areas and small islands in the Tatapaan district. Sources of data obtained through observation, documentation and questionnaires to respondents. The analysis used is descriptive analysis, carrying capacity analysis, spatial analysis, and SWOT analysis. From the research results it is known that marine ecotourism in Tatapaan sub-district has 3 physical environmental characteristics, namely beaches, mangrove forests, and small islands. Internal factors of strength and external factors of opportunity are more dominant than internal factors of weakness and external factors of threats, while the direction of development points to positive results or in the progressive or developing quadrant.Key words: Marine Ecotourism, Coastal Areas, Environmental Preservation
Analisis Lahan Kritis di Kota Kotamobagu
Abstrak Kotamobagu merupakan kota otonom yang terdapat di Provinsi Sulawesi Utara Juga mengalami kemajuan yang cukup Pesat. Kota Kotamobagu tahun 2000-2013 secara keruangan yang ditekankan pada perubahan bentuk pemanfaatan lahan, Serta perkembangan sosial dan kultur masyarakat, hal ini juga menyebabkan perubahan fungsi lahan. Peralihan fungsi lahan yang terdapat disebagian besar wilayahnya, yakni dari hutan menjadi lahan pertanian dan dari pertanian menjadi pemukiman berpengaruh pada menurunnya kualitas dari lingkungan dan hal tersebut akan menyebabkan kritisnya lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Pemanfaatan dan persebaran lahan kritis di kota kotamobagu dan Menganalisis tingkat kekritisan lahan di kota kotamobagu. Metodenya menggunakan analisa spasial berbantuan software ArcGis. Melalui overplay, metode tersebut sangat baik dipakai dalam pembahasan keruangan. Data erosi, kelerengan, penutupan tajuk dan menajemen lahan dipakai guna melihat sebaran lahan yang kritis Tahapanya ada tiga cara yaitu Overlay, editing atribut data dan analisis tabular. Hasilnya adalah persebaran lahan kritis 4 kecamatan di Kota Kotamobagu dengan kategori Sangat Kritis, Kritis, Agak Kristis, Potensial Kritis dan Tidak kritis. Pemanfaatan ruang pada lahan kritis ini berupa Hutan, Perkebunan, Sawah, permukiman dan lainnya masuk dalam kriteria lahan kritis yang artinya dapat beresiko terjadinya bencana dan pemanfaatan ruang tegalan , semak belukar, ruang lahan yang dikategorikan sebagai lahan kritis terbagi dalam permanfaatan lahan kritis dan tidak kritis, yang artinya lahannya masih bisa dipertahankan agar meminimalisir bencana-bencana kedepannya. Kata kunci: Analisis Lahan, Lahan Kristis, Kota Kotamobag
Analisis Kebijakan Transportasi Kota Tomohon Berdasarkan Pola Pergerakan Masyarakat Sebagai Indikator Struktur Ruang Kota
Melalui penelitian tahun 2017, Norlyvia Jaya Toding P1 , Octavianus H.A. Rogi², & Raymond Ch Tarore3, “Komparasi Struktur Ruang Kota Tomohon dan Kota Kotamobagu Berdasarkan Distribusi dan Profil Densitas†peneliti telah mencoba mengidentifikasikan tipe struktur spasial kota Tomohon yang ditelusuri melalui pendekatan densitas statis dengan indikator distribusi dan profil densitas yang menunjukan tendensi struktur spasial yang polisentris. Hal ini masih perlu diverifikasi atau validasi lagi melalui penelusuran berdasarkan densitas dinamis, Dari pernyataan ini lah peneliti ingin meneliti tentang densitas “dinamis†pada Kota Tomohon melalui indikator pola pergerakan harian. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi pola struktur spasial kota Tomohon berdasarkan parameter pola pergerakan harian masyarakat serta Mengelaborasi opsi tipe kebijakan sistem trasnportasi yang kompatibel dengan pola struktur spasial kota yang teridentifikasi. Metode yang digunakan secara khusus ialah teknik kuantifikasi dan tabulasi untuk pengembangan “matriks asal-tujuan (Origin Destination Survey) dengan format kuesioner atau wawancara terstruktur, serta visualisasi matriks asal- tujuan tersebut dalam wujud peta pola perjalanan harian yang juga sering disebut dengan peta “desire lineâ€. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu; (1) Berdasarkan hasil analisa pola pergerakan masyarakat sebagai indikator struktur ruang kota, yang terepresentasikan pada desire line map struktur spasial Kota Tomohon dapat dikategorikan sebagai struktur polisentris. (2) berdasarkan Struktur Ruang Kota Tomohon yang berciri Polisentris, kebijakan yang perlu dipertimbangkan mencakup :Penyiapan jalur transportasi publik yang menghubungkan pusat-pusat pelayanan sekunder / lokal dengan titik-titik terminal transit pada segmen pusat- pusat pelayanan primer kota,Penguatan daya dukung pusat-pusat pelayanan lokal yang dapat menjadi alternative tujuan perjalanan selain pusat pelayanan primer, Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur jaringan jalan yang memfasilitasi pergerakan mobiltas interkoneksi serta pergerakan antar zona peri urban atau antar pusat- pusat pelayanan lokal / sekunder secara langsung melalui peningkatan kapasitas dan kualitas jalur-jalur jalan lingkar kota. Kata kunci: Struktur Spasial,Transportasi, Pola Pergerakan Harian, Origin Destination Surve
Pemodelan Harga Lahan di Kecamatan Girian dan Kecamatan Maesa Kota Bitung
AbstrakKecamatan Girian dan Maesa adalah dua kecamatan yang berkembang pesat di Kota Bitung, dimana terjadi perubahan guna lahan dari lahan kurang produktif menjadi produktif sehingga bertambah nilai ekonominya. Lahan yang semakin bertambah harganya ini tidak diketahui batasan minimal dan maksimalnya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi harga lahan eksisting dan membuat model harga lahan di dua kecamatan tersebut agar diketahui batasan harga yang seharusnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan uji asumsi klasik dan metode analisis regresi linear berganda menggunakan software SPSS, dan ArcGIS untuk pemetaan. Hasil menunjukan bahwa harga lahan eksisting di Kecamatan Girian dan Maesa tidak memiliki patokan harga, karena masyarakat sendiri yang menentukannya. Dari hasil pengujian asumsi klasik dan regresi linear berganda, diketahui terdapat beberapa variabel yang tidak lolos dalam pengujian dan tidak dapat digunakan dalam model. Model Kecamatan Girian adalah Y(harga lahan)= -59.918,271+118.257,269 (status kepemilikan)–1,695(jarak jalan arteri) + 57,057(jarak jalan kolektor) -51,945(jarak jalan lokal) dan model Kecamatan Maesa yaitu Y(harga lahan)= 85.643,030 + 532.901,515(status kepemilikan) –1.118,029 (jarak jalan arteri) –660,805(jarak jalan lokal) + 25,755(jarak pusat kota). Berdasarkan hasil analisis, juga diketahui pada kedua model terdapat masing-masing satu variabel yang bersifat anti thesis sehingga menunjukan perbedaan yang besar antara Kecamatan Girian dan Maesa, disebabkan oleh karakteristik lokasi yang berbeda. Namun, kedua model tersebut dapat digunakan untuk perhitungan harga lahan pada masing-masing kecamatan. Kata kunci: Pemodelan; Harga Lahan; Regresi Linear Berganda; Girian; MaesaAbstractGirian and Maesa sub-districts are two districts that are growing rapidly in Bitung City, where there is a change in land use from less productive land to productive so that its economic value increases. The minimum and maximum limits for this land which is increasing in price are unknown. The purpose of this research is to identify the existing land price and to make a land price model in the two subdistricts so that the price limit should be known. This research used quantitative descriptive method, using classical assumption test and multiple linear regression analysis method using SPSS software, and ArcGIS for mapping. The results show that the existing land prices in Girian and Maesa Districts do not have a benchmark price, because the people themselves determine it. From the test results of classical assumptions and multiple linear regression, it is known that there are several variables that do not pass the test and cannot be used in the model. The Girian District model is Y (land price) = - 59,918,271 + 118,257,269 (ownership status) –1,695 (arterial road distance) +57,057 (collector road distance) -51,945 (local road distance) and Maesa District model Y ( land price) = 85,643,030 + 532,901,515 (ownership status) –1,118,029 (arterial road distance –660,805 (local road distance) +25,755 (city center distance). Based on the analysis, it is also known that both models have each one is an anti-thesis variable that shows a big difference between Girian and Maesa Districts, due to the different location characteristics, however, both models can be used to calculate land prices in each district.Keyword: Modeling; Land Prices; Multiple Linear Regression; Girian; Maes
Pengembangan Kawasan Pariwisata Alam di Kecamatan Motoling dan Motoling Barat
AbstrakObjek wisata di Kecamatan Motoling dan Motoling Barat memiliki daya tarik tersendiri seperti objek wisata air mujizat Lalumpe, air terjun Lalumpe, dan air terjun Toyopon. Objek-objek tersebut tidak dikembangkan sehingga tampil apa adanya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kurang berkembangnya objek wisata dan mengetahui strategi pengembangan apa yang perlu dilakukan pengelola dalam pengembangan di objek wisata tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, untuk mengukur ifas dan efas menggunakan metode pengukuran analisis SWOT dan analisis distribusi frekuensi dengan bantuan software SPSS, dan ArcGIS dalam pemetaan. Hasil menunjukkan bahwa fasilitas umum yang masih kurang dan perlu adanya lahan parkir memadai yang membuat ketiga objek wisata tidak berkembang juga rencana jalan sepanjang 294m untuk air mujizat, 1029m untuk air terjun Lalumpe, 511m untuk air terjun Toyopon dan rencana jalan penghubung sepanjang 7303m atau 7km. Dari hasil analisis SWOT ketiga objek wisata masuk di kuadran I, kuadran ini menempatkan posisi usaha sangat menguntungkan. Strategi yang dapat dilakukan adalah strategi agresif atau strategi pertumbuhan (Growth Strategy). Dari hasil perhitungan kategorisasi Ifas dan efas program prioritas utama ketiga objek wisata berpusat pada pengembangan spot-spot tempat berfoto serta tambahan jaringan listrik di objek wisata. Kata kunci: Pengembangan, Pariwisata Alam, SWOT, Motoling, Motoling BaratAbstractTourist attractions in Motoling and Motoling Barat Districts have their own specialties such as the Lalumpe miracle water tourist attraction, Lalumpe waterfall, and Toyopon waterfall. These objects are not developed so that they appear as they are. The research objective is to identify the factors that cause the underdevelopment of tourist objects and to find out what development strategies the manager needs to do in developing these attractions. This research used quantitative descriptive method, to measure ifas and efas using SWOT analysis measurement method and frequency distribution analysis with the help of SPSS software, and ArcGIS in mapping. The results show that public facilities are still lacking and there is a need for adequate parking which makes the three tourist objects not developing as well as a 294m long road plan for miracle water, 1029m for Lalumpe waterfall, 511m for Toyopon waterfall and a connecting road plan of 7303m or 7km. From the results of the SWOT analysis, the three tourist objects are included in quadrant I, this quadrant puts a very profitable business position. Strategies that can be used are aggressive strategies or growth strategies. From the calculation results of Ifas categorization and efas, the three main priority programs are centered on developing photo spots as well as additional electricity networks at tourist attractions. Keyword: Development, Nature Tourism, SWOT, Motoling, Motoling Bara
Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Terhadap Kualitas Permukiman di Kecamatan Tomohon Timur
AbstrakPermasalahan kualitas hunian seseorang sering terhalang dengan adanya permasalahan ekonomi, masyarakat yang memiliki penghasilan tinggi membuat kualitas hunian menjadi lebih baik dibandingkan dengan masyarakat yang berpenghasilan rendah, sehingga ini akan mempengaruhi kualitas permukiman yang ada pada suatu Kawasan. Terdapat dua kawasan yang mendominasi di kecamatan Tomohon Timur yaitu sebagian sebagai pusat perdagangan dan jasa dan yang satu sebagai pusat agrowisata, inilah yang akan memunculkan perbedaan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang nantinya akan mempengaruhi kualitas permukiman di kecamatan Tomohon Timur. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi masyarakat di kecamatan Tomohon Timur, untuk mengidentifikasi kualitas permukiman di kecamatan Tomohon Timur dan untuk menganalisis pengaruh kondisi sosial ekonomi masyarakat terhadap kualitas permumkiman di kecamatan Tomohon Timur. Metode yang digunakan ialah metode analisis jalur (Path analysis) dengan melihat data melalui kuesioner. Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan yang erat antara kondisi sosial masyarakat dan kondisi ekonomi masyarakat terhadap kualitas permukiman dan hasil uji regresi menunjukan apabila terdapat kenaikan terhadap kondisi sosial dan/atau kondisi ekonomi masyarakat maka hal inipun akan mempengaruhi nilai kualitas permukima secara positif. Kata kunci: Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat; Kualitas Permukiman; Analisis JalurAbstractThe problem of the quality of a person's occupancy is often hindered by economic problems, people with high incomes make the quality of housing better than those with low income, so this will affect the quality of settlements in an area. There are two areas that dominate in East Tomohon sub-district, namely partly as a center for trade and services and one as a center for agro-tourism, this is what will lead to differences in the socio-economic conditions of the community which will affect the quality of settlements in the East Tomohon sub-district. The purpose of this study is to identify the socio-economic conditions of the community in East Tomohon sub-district, to identify the quality of settlements in East Tomohon subdistrict and to analyze the influence of the community's socio-economic conditions on the quality of the settlements in East Tomohon sub-district. The method used is the path analysis method by looking at the data through a questionnaire. The results of the correlation test show that there is a close relationship between the social conditions of the community and the economic conditions of the community on the quality of the settlements and the results of the regression test show that if there is an increase in the social and / or economic conditions of the community then this will positively affect the value of the quality of the settlements. Keyword: Community’s socio-economic conditions, quality of settlement, path analysi
OPTIMALISASI KOMPOSISI PRODUKSI TIPE RUMAH UNTUK MENCAPAI KONSEP HUNIAN BERIMBANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIMPLEK (Studi Kasus: Perumahan “X†Di Jatimulia, Bekasi)
Konsep hunian berimbang merupakan konsep dalam ilmu perencanaan kota sebagai upaya mencapai keseimbangan sosial antar masyarakat. Keberagaman kondisi masyarakat seperti status sosial, profesi, maupun tingkat ekonomi dalam satu lingkungan hunian akan mewujudkan keharmonisan antar masyarakat. Selain itu, konsep hunian berimbang dimaksudkan sebagai strategi menyediakan rumah bagi masyarakat berpendapat rendah. Dalam pelaksanaannya, konsep ini perlu mempertimbangkan komposisi tiap tipe rumah yang akan diproduksi agar layak diterapkan oleh pengembang. Dalam menentukan komposisi ini pengembang perlu mempertimbangkan batasan yang ada antara lain daya beli dan minat beli masyarakat, luas lahan, biaya produksi serta komposisi berimbang 1:2:3 (1 rumah mewah : 2 rumah menengah : rumah sederhana) serta komposisi berimbang 1:1 (1 rumah menengah : 1 rumah sederhana ) sesuai denganPermenpera Nomor 10 Tahun 2012, yang salah satu tujuannya adalah mewujudkan subsidi silang bagi tipe rumah sederhana. Kajian ini berupaya memperoleh komposisi produksi tipe rumah yang paling optimal, yang dapat memberikan keuntungan yang maksimum. Studi kasus yang digunakan dalam kajian ini adalah Perumahan yang terletak di Jatimulia, Bekasi. Pencarian komposisi optimasi diperoleh melalui Metode Simplek. Dari hasil optimasi diperoleh komposisi masing-masing tiap tipe rumah untuk komposisi 1:2:3 adalah tipe mewah 200/400 sebanyak 80 unit, tipe menengah 132/112 159unit, tipe sederhana 36/72 sebanyak 239 unit dengan keuntungan maksimal Rp. 338.923.800.000,- sedangkan untuk komposisi 1:1 adalah tipe komersil (132/112) 372 unit, tipe sederhana (36/72) 372 unit dengan keuntungan Rp. 301.901.400.000,-. Temuan dari kajian ini dapat dijadikan pertimbangan pemerintah dalam menetapkan komposisi produksi untuk mencapai hunian yang berimbang bagi pengembang serta tercapainya subsidi silang bagi rumah tipe sederhana.Â
PENGARUH PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT TERHADAP PENGURANGAN DAMPAK KERENTANAN BENCANA ALAM DAN EKONOMI DI PEDESAAN (Studi Kasus: Pembangunan Gubug Guyub, Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Paroki Boro, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, D.I Yogyakarta)
Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Paroki Boro merupakan salah satu gereja Katolik yang berada di dalam wilayah administratif Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. Wilayah pelayanan Paroki Boro berada pada kawasan pedesaan dengan masyarakat yang bergantung dengan keadaan alamnya. Tanah dan air digunakan sebagai salah satu alat produksi untuk menyukupi kebutuhan hidup. Sementara itu pada kawasan pedesaan ini terjadi kerentanan terhadap bencana alam dan kemiskinan. Pembangunan berbasis masyarakat melalui proses serial workshop pembangunan balai komunitas diselenggarakan oleh Paroki Boro dan difasilitatori oleh lembaga swadaya masyarakat Arkom Jogja yang bekerja sama dengan Bambu Bos untuk mengurangi dampak kerantanan bencana alam dan ekonomi umat. Oleh karena itu akan dilihat pengaruh pembangunan berbasis masyarakat terhadap pengurangan dampak kerentanan bencana alam dan kekeringan serta kemiskinan di pedesan. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara mendalam untuk melihat fakta yang terjadi di lapangan. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk cross check data dan melengkapi jika ada kekurangan. Penelitian ini menemukan pengaruh kegiatan pembangunan berbasis masyarakat dapat meningkatkan kesadaran potensi dan masalah masyarakat, muncul kemauan untuk berpartisipasi, dan terbentuk lembaga untuk melakukan usaha demi perbaikan kualitas hidup.Â
REKAYASA LANSEKAP UNTUK PENANGANAN BANJIR (Studi Kasus: Bukit Duri, Kampung Pulo, Kampung Melayu dan Kali Bata Jakarta)
Banjir merupakan permasalahan yang rutin untuk DKI Jakarta, salah satu penyebabnya adalah meluapnya air Sungai Ciliwung. Pada kondisi normal tinggi muka air 0.5-2 m, dengan debit 5-60 m3/detik. Pada waktu tertentu di musim penghujan di hulu, aliran yang dibawanya ≥250 m3/detik, ditambah dengan intensitas hujan >100 mm dan berdurasi >1 jam di wilayah Jakarta, menyebabkan muka air sungai naik menjadi ±3-4 m, yang merendam bantaran sungai di Kali Bata, Kampung Melayu, Kampung Pulo, dan Bukit Duri. Bantaran sungai menjadi tempat perdagangan, permukiman, bengkel funitur, dsb, kurangnya vegetasi dan Ruang Terbuka Hijau, KDB rata-rata 95% dan menyempitnya sungai menjadi ±16-20 m, dengan kedalaman ±1 meter. Berdasarkan hal tersebut dilakukan kajian analisis dimensi sungai untuk mengalirkan debit sungai dari hulu dan debit larian, dengan asumsi lebar sungai 16-70 m, kedalaman 2-3 m, tinggi tanggul 1 m. Hasil analisis lebar sungai 50-70 m, pada debit 600 m3/detik dan RTH 50% dari wilayah tangkapan, terjadi kondisi muka air -0.50 m dari tanggul, untuk itu konsep Rekayasa Lanskap sungai dibuat lebar 50-70 m, kedalaman 3 m, tinggi tanggul 1 m, dengan sempadan ±10-25 m untuk wilayah perkotaan, dan ≥50 m untuk wilayah hulu. Vegetasi peneduh, pelindung dan penutup tanah, dipilih untuk mengurangi erosi, longsor, dan menurunkan aliran permukaan, dan material dibuat dari batu kali sebagai penjaga ekosistem sungai.Â
PENGARUH FAKTOR PEMBENTUK RUANG PADA TIPOLOGI RUANG LUAR DI KAMPUNG NOTOYUDAN RW 25 DAN KAMPUNG PAKUNCEN RW 8, KOTA YOGYAKARTA
Kampung Notoyudan RW 25 dan kampung Pakuncen RW 8 adalah Kampung padat penduduk yang terletak di pusat kota Yogyakarta. Kedua Kampung ini saling berhadapan di sepanjang tepi sungai Winongo. Banyak warga dari kedua Kampung memanfaatkan ruang luar sebagai ruang alternatif untuk kegiatan keluarga dan pekerjaan. Makalah ini membahas hasil penelitian tentang tipologi ruang terbuka dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Kampong Notoyudan di RW 25 dan Kampong Pakuncen di RW 8. Diskusi tentang kampung terkait dengan tipologi ruang terbuka dan permukiman perkotaan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif untuk mendapatkan gambaran atau gambaran faktor - faktor yang mempengaruhi pembentukan ruang luar. Pendekatan kuantitatif juga dilakukan dengan mengukur ruang terbuka agar bisa tipologi ruang terbuka di kedua Kampung. Dalam mengidentifikasi penduduk pemukiman Kampung faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain: faktor sosial dan ekonomi masyarakat. Sedangkan faktor yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi karakteristik fisik hunian adalah masalah hunian, ruang terbuka yang ada, bangunan dan kepemilikan rumah dan fasilitas di dalam Kampung. Hasil diskusi menunjukkan bahwa tipologi dasar ruang terbuka di Notoyudan RW 25 dan desa Pakuncen RW 8 memiliki pola linier. Dari bentuk dasarnya ada beberapa bentuk / pola yang berbeda yang ditemukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan ruang terbuka di kedua desa adalah faktor hunian, topografi dan aktivitas penghuni.Â