132 research outputs found

    GAYA BANGUNAN ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN UMUM BERSEJARAH DI KOTA MANADO

    Get PDF
    Kota Manado adalah salah satu kota yang dibangun oleh kolonial Belanda. Pusat kegiatan VOC berada di kawasan kota lama, yang mestinya bangunan-bangunan bergaya arsitektur kolonial Belanda masih terbangun di kawasan ini. Saat ini, kota Manado kehilang makna bangunan-bangunan kolonial bersejarah yang mampu memberikan arti bagi generasi sekarang agar mampu membedakan antara kesejarahan kekuasaan-kekuasaan dan kesejarahan karya rancang-bangunnya.. Perlahan, kawasan kota lama Manado mulai kehilangan bangunan-bangunan berwajah kolonial, seiring dengan hilangnya eksistensi bangunan bersejarah berwajah kolonial yang mampu membentuk nilai-nilai lokalitas dalam wujud arsitektural bagi kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipologi wajah arsitektur kolonial Belanda pada 5 bangunan umum bersejarah yang ada di kawasan kota lama Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-eksploratif, analisa deskriptif-kualitatif dengan pendekatan tipologi wajah arsitektur kolonial Belanda pada lima bangunan di kawasan kota lama Manado. Disimpulkan bahwa: (a) Tipologi  bangunan Kapel Biara Santo Yosep Keuskupan Manado  adalah: 23% mendekati Indische Empire (Abad 18-19),  43% mendekati tipologi gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915), dan 34% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (b) Tipologi bangunan Gereja Santu Ignatius (Kompleks Persekolahan Don Bosco Manado) 7% mendekati  Indische Empire (Abad 18-19); 25% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 45% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (c) tipologi Bangunan Bank Indonesia (dahulu Javasche Bank) 28% mendekati Indische Empire Style (Abad 18-19); 29% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 28% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (d) tipologi Bangunan Ex Bioskop Benteng 17% mendekati  Indische Empire Style (Abad 18-19); 25% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 31% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); dan (e) tipologi Bangunan Minahasa Raad diperoleh bahwa Bangunan Minahasa Raad 31% mendekati  Indische Empire Style (Abad 18-19); 43% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 30% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940)

    STUDI DATA BASE DAERAH RAWAN BENCANA BERBASIS GIS UNTUK KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO PROVINSI SULAWESI UTARA

    Get PDF
    Bencana alam adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro merupakan Kabupaten Otonom yang baru dimekarkan dari Kabupaten induknya yaitu Kabupaten Kepualauan Sangihe, yang secara resmi dibentuk berdasarkan UU No. 5 Tahun 2007, tanggal 2 Januari 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Keadaan tanah sangat subur dan cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis tanaman terutama tanaman pertanian dan perkebunan. Hal ini terkait dengan jalur Sirkum Pasifik yang melintasi wilayah ini yang ditandai dengan keberadaan sejumlah gunung berapi yaitu Gunung Api Karangetang di Pulau Siau dan Gunung Api Ruang di Pulau Ruang yang hingga saat ini masih aktif menyemburkan material perut bumi sebagai pupuk alami. Secara geologi dan geografis Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terletak pada jalur gunung berapi dan merupakan daerah kapulauan dengan rawan bencana Tsunami dan bencana lainnya

    ANALISIS PERUBAHAN LUAS KAWASAN RESAPAN AIR DI KOTA MANADO

    Get PDF
    Pembangunan Kota Manado diarahkan ke lahan-lahan bertopografi berbukit yang berfungsi lindung sehingga banyak kawasan yang berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman. Oleh sebab itu dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui sebaran kawasan resapan air dan kelas kesesuaiannya di Kota Manado serta untuk mengetahui luas perubahan kawasan resapan air periode tahun 2000-2012. Metode yang digunakan yaitu skoring dan overlay menggunakan sistem Informasi Geografi (SIG). Data-data yang digunakan yakni peta curah hujan, peta kemiringan lahan, peta eksisting penggunaan tahun 2000 dan tahun 2012, dan peta tekstur tanah. Hasil penelitian memperlihatkan Kota Manado pada tahun 2000 tidak ada kawasan yang memiliki  sebaran kawasan  resapan air dengan kelas sesuai. Kelas kesesuaian yang ada hanyalah kelas cukup sesuai, kelas kurang sesuai dan kelas tidak sesuai. Kelas kesesuaian kawasan resapan air tersebar di seluruh wilayah penelitian. Perubahan  luas kawasan resapan air di Kota Manado adalah sebagai berikut: (a) Kelas kesesuaian kurang sesuai mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 967,45 Ha atau 22,87 % dari kawasan-kawasan yang terjadi alih fungsi lahan  atau sebesar 16,14 % dari seluruh luas kelas kurang sesuai; (b) Kelas kesesuaian cukup sesuai mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 764,9 Ha atau 23,12% dari seluruh kelas cukup sesuai. Secara keseluruhan perubahan luas penggunaan lahan di kawasan resapan air Kota Manado periode tahun 2000-2012 baik kelas kesesuaian kurang sesuai maupun kelas kesesuaian cukup sesuai yakni sebesar 18,61% dari luas kawasan resapan air yakni seluas 9.307,87 Ha

    KAJIAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PADA PERMUKIMAN DI KAWASAN SEKITAR DANAU TONDANO ( STUDI KASUS : KECAMATAN REMBOKEN KABUPATEN MINAHASA)

    Get PDF
    Permukiman akan selalu berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan lahan akibat meningkatnya jumlah penduduk. Pada akhirnya kawasan yang seharusnya dilindungi dimanfaatkan sebagai tempat bermukim. Pemanfaatan lahan sebagai permukiman  di kawasan sekitar Danau Tondano bisa saja dilakukan namun harus memperhatikan aspek penataan lingkungan permukiman. Ada begitu banyak aspek dalam permukiman,diantaranya yang sering terabaikan adalah masalah pengelolaan air limbah. Pengelolaan air limbah perlu diperhatikan dalam menata suatu permukiman,apalagi permukiman yang menjadi objek penelitian ini adalah permukiman yang berkembang di kawasan sekitar danau Tondano ,karena memungkinkan timbulnya pencemaran di danau Tondano. Kecamatan Remboken merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Minahasa yang permukimannya banyak berkembang di kawasan sekitar Danau Tondano. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif,dimana data dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui kondisi pembuangan air limbah serta menghitung kebutuhan sarana pengelolaan air limbah di Kecamatan Remboken lewat perencanaan Instalasi Pengelolaan Air Limbah. Hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar sarana dan prasarana pembuangan air limbah baik grey water maupun black water diantaranya ketersediaan WC, serta septik tank kurang memadai. Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagian besar limbah dari permukiman Kecamatan Remboken  masuk ke badan air Danau Tondano. Oleh karena itu berdasarkan hasil penelitian tersebut maka direkomendasikan perencanaan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL),dimana air limbah yang dihasilkan akan diolah untuk meminimalisir bahan- bahan pencemar untuk selanjutnya air limbah yang telah diolah dapat dimanfaatkan kembali atau dikembalikan ke badan air Danau Tondan

    ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KAWASAN SEKITAR KORIDOR RINGROAD I MANADO

    Get PDF
    Kondisi bentang alam pada jalan arteri Ringroad I ini sangat beragam aspek biofisiknya antara lain topografis, jenis tanah dan kelerengan. Keragaman aspek tersebut menyebabkan perlunya analisis kesesuaian lahan permukiman untuk mengetahui kelayakan lahan yang hendak di bangun guna perwujudan ruang ekologis yang berkelanjutan. Penelitian ini mengkaji mengenai kesesuaian lahan untuk permukiman di kawasan sekitar koridor Ringroad I Sulawesi Utara berdasarkan atribut fisik lahan dan evaluasi kesesuaian penggunaan lahan permukiman dengan kesesuaian lahan serta evaluasi kesesauaian peruntukan lahan permukiman dengan kesesuaian lahan permukiman. Metode analisis pada penelitian ini antara lain skoring dan overlay dengan GIS seperti analisis fungsi kawasan dan analisis kesesuaian lahan permukiman berdasarkan kondisi fisik lahan, metode analisis spasial seperti, analisis peruntukan lahan (rencana). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tingkatan kesesuaian lahan untuk permukiman dikawasan sekitar koridor Ringroad I Sulawesi utara adalah kesesuaian lahan untuk permukiman pada kawasan budidaya di kawasan sekitar koridor Ringroad I, Lahan yang sesuai untuk permukiman yang sesuai sebesar 2071.89 Ha atau 82.10% dari luas kawasan budidaya dan yang tidak sesaui sebesar 451.82 Ha.atau 17.90% dari luas kawasan budidaya. Untuk evaluasi peruntukan lahan permukiman dengan kesesuaian lahan permukiman yang sesuai sebesar 312.14 Ha atau 12.37% dan peruntukan lahan yang tidak sesuai dengan kesesuaian lahan sebesar 29.13 Ha atau 1.15%

    SISTEM AKTIVITAS DAN POLA RUANG PEMUKIMAN NELAYAN DI KELURAHAN MAASING MANADO

    No full text
    Reklamasi kawasan pesisir pantai  yang dilakukan pemerintah selain membuka akses secara umum kepada masyarakat pesisir yang sekaligus meningkatkan nilai kawasan secara ekonomis, akan tetapi disisi lain juga menyebabkan masalah bagi permukiman nelayan yang telah lama ada, dimana perubahan yang terjadi di wilayah pesisir perkotaan lebih banyak diakibatkan oleh terjadinya peningkatan pembangunan yang tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan esensial masyarakat pesisir terutama nelayan yang menjadi penghuni pada umumnya di wilayah tersebut. Kelurahan Maasing merupakan salah satu kelurahan yang dilalui oleh  garis pantai pengembangan kota Manado yang dilakukan reklamasi pantai. Manado yang merupakan salah satu kota pesisir pantai yang sedang berkembang di Sulawesi Utara, memiliki garis pantai kota terpanjang didaerah ini. Wilayah pengembangan ekonomi pesisir pantai di wilayah ini, memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Sebagaimana yang terjadi pada pembangunan Jalan Boulevard Part one (dibagian selatan Manado yang membentang dari pusat kota hingga daerah Bahu) dampak dari desakan pengembangan wilayah kota Manado dan pembangunan diatas wilayahnya memiliki ekses baik positif maupun negatif  kepada lingkungan sekitarnya. Perubahan fisik wilayah pesisir kelurahan Maasing akibat reklamasi dan pembangunannya. Pada kaitan ini  peneliti berasumsi bahwa sudah pasti reklamasi dan pembangunan yang dilakukan diatasnya akan berpengaruh terhadap pola aktivitas ekonomi-sosial nelayan, termasuk juga kepada pola ruang secara arsitektural atau dengan kata lain bahwa perubahan aktivitas masyarakat yang ada akan berpengaruh terhadap perubahan ruang yang ada

    ANALISIS KETERSEDIAAN SARANA PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK (Studi Kasus: Kelurahan Mongkonai Kecamatan Kotamobagu Barat)

    Get PDF
    Permasalahan sanitasi lingkungan terhadap sistem pengelolaan air limbah domestik masih kurang memadai pada wilayah–wilayah yang termasuk dalam lingkup wilayah pusat kota dan hal ini terjadi pula pada wilayah Kelurahan Mongkonai sebagai bagian dari pusat Kota. Dengan bertambahnya volume air limbah yang dihasilkan masyarakat maka diperlukan proses pengelolaan air limbah yang tepat agar tidak berdampak buruk bagi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Airlimbah domestik khususnya black water di Kelurahan Mongkonai hingga saat ini masih dibuang pada saluran terbuka dan ke badan air sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisiscara pengelolaan air limbahdomestik di KelurahanMongkonai. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Data diperoleh melalui observasi lapangan serta wawancara/kuesioner. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pengelolaan air limbah domestik khususnya black water di Kelurahan Mongkonai hanya mencapai 35% atau belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal

    ANALISIS TINGKAT KEKUMUHAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DI KELURAHAN TANJUNG MERAH KOTA BITUNG

    Get PDF
    Permukiman kumuh merupakan suatu kawasan permukiman yang seharusnya tidak dapat dihuni maupun ditinggali karena dapat membahayakan kehidupan masyarakat yang tinggal dan bermukim di dalamnya, baik dari segi keamanan terlebih lagi dari segi kesehatan. Ketidaklayakan permukiman ini bisa dilihat dari keadaan dan kenyamanan yang tidak memadai dan memprihatinkan, kepadatan bangunan yang sangat tinggi, kualitas bangunan yang sangat rendah, beserta dengan prasarana dan sarana yang tidak memenuhi syarat. Berdasarkan observasi yang dilakukan, permukiman di Kelurahan Tanjung Merah di Kota Bitung memiliki permasalahan-permasalahan yang harusnya tidak dimiliki oleh sebuah permukiman, seperti adanya kepadatan bangunan, kondisi permukiman ini yang tidak teratur, juga kurangnya sarana pendukung atau fasilitasnya yang kurang memadai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kekumuhan di daerah permukiman yang terletak di Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan scoring atau pembobotan. Hasil dari data primer yang telah dikumpulkan berupa data kuantitatif yang disajikan berupa angka-angka, akan diolah dan selanjutnya dianalisa yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk analisis deskriptif. Kesimpulan yang diperoleh bahwa daerah Kelurahan Tanjung Merah memiliki tingkat kekumuhan sedang, dengan aspek drainase dan sampah memperoleh bobot yang tinggi

    PERSEPSI PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP AREA BERJUALAN SEPANJANG JALAN PASAR PINASUNGKULAN KAROMBASAN MANADO

    Get PDF
    Penelitian ini dilatar-belakangi oleh keberadaan PKL (Pedagang Kaki Lima) yang seringkali dianggap menghambat ruang gerak masyarakat di pusat kota, dimana lokasi pasar  tampak kotor karena sampah, sering terjadi kerawanan sosial serta tata ruang kota menjadi tidak teratur. Disisi lain PKL juga memberikan kontribusi yang besar dalam pendapatan daerah. Namun keberadaan PKL  dalam hal ini (bidang sektor informal) sangat menyulitkan pemerintah untuk melakukan penataan dilokasi Pasar Pinasungkulan Kota manado. Berdasarkan pengamatan dilapangan terdapat masalah terkait dengan persepsi pedagang kaki lima pada area tempat berjualan disepanjang jalan pasar pinasungkulan karombasan kota manado. Persepsi PKL pada area tempat berjualan di sepanjang jalan pasar pinasungkulan  menghasilkan interprestasi yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik dan untuk mengetahui persepsi  pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan Pasar Pinasungkulan Karombasan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel Random Sampling

    ANALISIS PENGELOLAAN LUMPUR TINJA DI KECAMATAN SARIO KOTA MANADO

    Get PDF
    Pengelolaan lumpur tinja dimaksudkan sebagai upaya untuk mencapai salah satu tujuan penataan ruang, yakni mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan melalui perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negative terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang (Pasal 3 Undang-undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang). Oleh sebab itu,pengelolaan lumpur tinja yang memadai dan terpadu secara menyeluruh sangat diperlukan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan peningkatan timbulan lumpur tinja akibat tingginya jumlah dan kepadatan penduduk di kawasan perkotaan. Dalam hal ini, khususnya untuk kawasan padat penduduk memerlukan komunalisasi pengelolaan lumpur tinja, dan penyediaan fasilitas pengolah yang bersifat lanjutan dari tangki septic. Maka dari itu peneliti bermaksud melakukan penelitian tentang analisis pengelolaan lumpur tinja di Kecamatan Sario Kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui cara mengelola lumpur tinja pada pemukiman padat penduduk di Kecamatan Sario dan Menentukan kebutuhan pengelolaan dan lokasi sarana pengelolaan lumpur tinja pada pemukiman padat penduduk di Kecamatan Sario. Tahapan analisis untuk mencapai tujuan penelitian terdiri atas 4 tahap yakni : identifikasi permukiman padat padat penduduk di Kecamatan Sario atau penentuan lokasi penelitian; deskripsi kondisi eksisting pengelolaan lumpur tinja pada lokasi penelitian; proyeksi jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan timbulan lumpur tinja tahun 2014-2034; dan penentuan kebutuhan dan lokasi sarana pengelolaan lumpur tinja tahun 2014-2034. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : Pengelolaan lumpur tinja yang  saat ini diterapkan masyarakat pada permukiman padat penduduk di Kecamatan Sario adalah system setempat dan Kebutuhan pengelolaan lumpur tinja yang cocok untuk diterapkan pada permukiman padat penduduk di Kecamatan Sario hingga tahun 2034 adalah system setempat dilengkapi dengan pengolahan tambahan berupa anaerobic baffled reactor sebanyak 23 unit

    129

    full texts

    132

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SABUA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇