132 research outputs found

    Feasibility Study Pembangunan Rumah Kost di Kota Manado

    Get PDF
    Banyaknya pekerja yang datang ke Kota Manado mengakibatkan tingginya kebutuhan akan hunian. Ini dikarenakan pekerja yang datang bekerja di Kota Manado ada yang berasal dari luar Manado seperti dari Minahasa, Minahasa Selatan, Bitung, dan dari Kabupaten dan Kota lainnya. Permukiman dan atau hunian khusus untuk pekerja masih kurang keberadaannya di Kota Manado. Disamping itu setiap tempat kerja kadang tidak menyiapkan mess khusus untuk karyawannya. Melihat fenomena tersebut kebutuhan akan rumah kost ini amat dibutuhkan pada saat sekarang ini. Tujuan penelitian ini untuk menemukan layak tidaknya pembangunan rumah kost dari sisi ekonomis dan finansial. Penelitian dilaksanakan di kota Manado tepatnya di Kelurahan Ranotana Weru, dengan menggunakan quantitative methods lewat rumus NPV, IRR, B/C dan Payback Period, untuk mendapatkan kelayakan rumah kost ini. Hasil penelitian menemukan NPV > 0, IRR > tingkat bunga yang berlaku (10%), B/C ratio lebih dari satu dan sepuluh tahun adalah Payback Period rumah kost ini. Kata Kunci : hunian; rumah kost; kelayakan

    Pengaruh Eksistensi UNSRAT dan Perkembangan Kota Manado Terhadap Permukiman di Sekitar Kampus

    Get PDF
    The capital of the province of North Sulawesi, Manado City is classified as a middle city, in terms of population. The city of Manado has become a destination city for the inhabitants of the surrounding area in fulfilling the necessities of life, both work, education, and health. Sam Ratulangi University (UNSRAT) Manado, is the largest campus in the city of Manado. Related to this problem, there are two problems identified as follows: The existence of the UNSRAT Campus brings benefits to the surrounding community, this causes the development of the environment around the campus to be out of control. Furthermore, due to the development of the campus, population growth and surrounding settlements are growing rapidly, this condition causes the environment to become less beautiful. The method used is a qualitative descriptive method. The data used in this study are primary and secondary data. Primary data collection is carried out through: Direct observation /observation, interviews with research resource persons, mapping the area and running a questionnaire. Secondary data obtained through agencies include sub-district and kelurahan maps, and micro maps (map of research locations and maps of existing buildings and areas). The research area is divided into four sections namely North, East, South and West Site. There are several aspects that become the focus of this research, those aspects are the Housing Settlement Aspect; Generally, the surrounding population is affected by the existence of the UNSRAT campus itself, but there are also those who have reasons: close to the workplace, close to children's education facilities, a comfortable environment. For the residential aspect, boarding houses thrive with additional patterns: rooms, new buildings, and dormitory construction. Infrastructure Aspects and Environmental Infrastructure; has complete infrastructure such as electricity networks, clean water, roads, sidewalks, landfills. Having supporting facilities, both on campus and outside campus such as health facilities, worship facilities, primary and secondary education facilities, sports facilities and other facilities. Legal Aspects and Area Management; The average land ownership is already certified, although it has not yet taken into account the building boundary factors. Socio-Economic Aspects; In the study site has 1116 boarding houses with a pattern of growing houses, and dozens of Student Dorms. Citizenship Services Business is a positive thing felt by the people around the existence of the UNSRAT Campus. The existence of the UNSRAT Campus brings benefits to the surrounding community, this has caused the development of the environment around the campus to be out of control. This can be seen by the mushrooming of boarding houses and businesses around the residents. Residents of boarding rooms are no longer dominated by students, but also has been inhabited by various groups. The mushrooming of boarding houses and student dormitories, responded by residents of the settlement as a business opportunity. Criminal cases that occur in the campus environment are a bad influence of the residential environment on the UNSRAT campus, and try to be overcome by the UNSRAT by building a parapet around the campus. Keywords: Manado City, UNSRAT, Settlements Around the Campu

    Analisis Nilai Lahan Berdasarkan Fungsi Kawasan Perdagangan dan Industri di Kecamatan Maesa Kota Bitung

    Get PDF
    AbstrakKecamatan Maesa terdiri dari 8 kelurahan yang berada di kota Bitung dan merupakan salah satu kawasan yang menjadi kegiatan perdagangan dan industri, sehingga kondisi lahan yang cukup strategis akan berpengaruh dengan nilai lahan yang ada. Lahan yang sifatnya berpotensi otomatis nilai lahannya tinggi sebaliknya lahan yg bisa dikatakan kurang berpotensi akan memiliki nilai lahan yang rendah. Maka tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh nilai lahan terhadap fungsi kawasan perdagangan dan industri serta membandingkan nilai lahan factual dan NJOP pada 2 kawasan tersebut di Kecamatan Maesa Kota Bitung. Dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan analisis korelasi sederhana dan regresi linear sederhana. Dari hasil korelasi dapat dilihat bahwa ada hubungan dan nilainya signifikan. Dari hasil analisis regresi menunjukkan adanya hubungan meskipun tidak terlalu kuat. Dari penelitian ini terdapat dua kesimpulan, pertama nilai lahan mempunyai hubungan meskipun tidak terlalu kuat terhadap fungsi kawasan perdagangan dan industri dan menunjukan nilai signifikan sebab nilai signifikansinya adalah 0.000 dan 0.005. Kedua, nilai lahan factual di Kecamatan Maesa lebih mahal terhadap nilai lahan atas dasar NJOP Kata kunci: Nilai lahan; Harga Transaksional ; NJOP ; Fungsi Kawasan Perdagangan dan industri.AbstractMaesa Sub-disctrict consists of 8 sub-districts located in the city of Bitung and is one of the areas that become trade and industrial activities, so that the strategic land conditions will affect the existing land value. Land that has high potential for automatic land value, whereas land that can be said to be less potential will have a low land value. So the purpose of this study is to determine the effect of land value on the function of trade and industrial areas and to compare the factual land value and NJOP in the 2 areas in Maesa district, Bitung City, In this study using quantitative methods using simple correlation analysis and simple linear regression. Form the result of the correlation, it can be seen that there is a realitionship and the value is significant. Form the result of the regression analysis,it show that there is a realitionship, although not too strong. Form this study, there are two conclusions, first, the land value has a realitionship, although it is not too strong to the function of traden and industrial areas and shows a significant value are 0.000 and 0.005. Second, the factual land value in Maesa District is more expensive than the land value based on the NJOP. Keyword: Land value; Transactional prices; NJOP; Trade and Industrial area function

    Sistem Persampahan di Kecamatan Maesa dan Kecamatan Madidir, Kota Bitung

    Get PDF
    AbstrakDi Indonesia bahkan di dunia, permasalahan dan produksi sampah saat ini tidak dapat dihindari karena saling berkaitan dengan pertumbuhan penduduk, pola hidup serta aktivitas masyarakat yang setiap hari terus menghasilkan sampah, baik itu sampah rumah tangga, sampah kantor, sampah medis, sampah industri dan lain-lain. Sistem pengolahan sampah di setiap Kota berbeda-beda dan sangat diperlukan agar sampah tidak menumpuk dan menjadi sumber penyakit untuk masyarakat sekitar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui serta menganalisis Sistem Pengolahan Sampah di Kecamatan Maesa dan Kecamatan Madidir dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Sistem persampahan di Kecamatan Maesa dan Kecamatan Madidir bisa dikatakan baik karena mengikuti peraturan yang telah dibuat oleh Pemerintah Kota Bitung yang tercantum dalam Peraturan Daerah (PERDA) no 17 tahun 2013 tentang Pengolahan Sampah Kota Bitung mulai dari pengumpulan, pengangkutan hingga pemusnahan, namun hal itu hanya berlaku bagi masyarakat yang tinggal di tepi jalan. Kata kunci: Sistem Persampahan, Kecamatan Maesa, Kecamatan Madidir.AbstractIn Indonesia and even in the world, problems and current waste production cannot be avoided because they are interrelated with population growth, lifestyle and community activities that continue to produce waste every day, be it household waste, office waste, medical waste, industrial waste and others. The waste processing system in each city is different and it is very necessary so that waste does not accumulate and become a source of disease for the surrounding community. The purpose of this study was to determine and analyze the waste processing system in Maesa and Madidir districts using qualitative analysis techniques with descriptive methods. The results of this study indicate that the solid waste system in Maesa and Madidir Districts can be said to be good because it follows the regulations that have been made by the Bitung City Government which are listed in Regional Regulation (PERDA) no 17 of 2013 concerning Bitung City Waste Management from collection, transportation to extermination, but that only applies to people living on the side of the road. Keyword: Solid Waste System, Maesa District, Madidir Distric

    Kajian Penempatan Titik-Titik Terminal Tipe A, B, Dan C di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur

    Get PDF
    Terminal merupakan suatu sarana fasilitas yang sangat di butuhkan masyarakat berkaitan dengan transportasi darat. Ibu kota Kabupaten Bolaang Mongondow Timur berada di Kecamatan Tutuyan. Luas daerah keseluruhan adalah 910,176 Km2 atau kira-kira 6,04 persen dari wilayah Sulawesi Utara. Sebagian besar wilayah Kecamatan berada di wilayah pesisir pantai, kecuali Kecamatan Modayag dan Modayag Barat jauh dari pesisir pantai. Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian untuk mengetahui apakah titik-titik terminal yang sudah di rencanakan dalam RTRW sudah sesuai dengan Kriteria Standar Lokasi yang sudah ditentukan atau tidak. Tujuan dari penelitian ini mengidentifikasi penempatan titik-titik terminal tipe A, B,dan C dikabupaten Boltim bedasarkan standar kriteria lokasi. Metode yang di gunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan mensurvey titik-titik terminal yang ada dikabupeten dan melihat jika sudah sesuai dengan RTRW Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Berdasarkan hasil penelitian penempatan titik-titik terminal tipe A,B,dan C di Kabupaten Bolaang Mongondow, Ada 4 titik yang sudah ditentukan dalam RTRW Bolaang Mongondow Timur, Ada 2 titik yang sudah sesuai dengan standar kriteria lokasi terminal, yaitu terminal tipe A yang ada di Kecamatan Kotabunan dan yang satu lagi terminal tipe B yang ada di Kecamatan Modayag, dan 2 titik terminal yang tidak sesuai dengan standar kriteria adalah terminal tipe B yang ada diKecamatan Nuangan dan terminal tipe C yang ada di Kecamatan Modayag Barat Kata kunci: Kriteria Standar Lokasi Termina

    Analisis Tipologi Wilayah Peri-Urban Di Kecamatan Mandolang

    Get PDF
    Kecamatan Mandolang merupakan salah satu wilayah peri-urban Kota Manado yang mengalami banyak perubahan fisik oleh karena pengaruh perkotaan yang sangat kuat. Penelitian tentang tipologi wilayah peri-urban bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik, sosial dan ekonomi dari Kecamatan Mandolang. Untuk menentukan klasifikasi tipologi wilayah peri-urban dilakukan dengan analisis skoring yang dilanjutkan dengan overlay peta untuk mendapatkan sebaran tipologi kedesaan – kekotaan pada Kecamata Mandolang. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kecamatan Mandolang memiliki karakteristik peri-urban sekunder dan rural peri-urban. Terdapat 11 desa di Kecamatan Mandolang yang termasuk dalam klasifikasi peri-urban sekunder yaitu Kalasey Satu, Kalasey Dua, Tateli Satu, Tateli Dua, Tateli Tiga, Tateli, Tateli Weru, Koha, Koha Barat, Koha Selatan, Agotey. Sementara karakteristik rural periurban hanya ditemukan pada desa Koha Timur. Kata kunci: Tipologi; peri urban;karakteristik;Kecamatan Mandolang

    Mitigasi Risiko Bencana Banjir di Kota Makassar

    Get PDF
    Indonesia merupakan negara yang sering terjadi bencana di mana salah satunya bencana banjir dan salah satu wilayah yang rawan bencana banjir adalah Kota Makassar (BNPB, 2016). Berdasarkan BMKG Kota Makassar kriteria curah hujan Kota Makassar dikategorikan sangat lebat. Secara geomorfologi Makassar merupakan daerah resapan dengan kerucut gunung api yang mengelilingi dan memanjang di sepanjang jalur utara-selatan melewati puncak Gunung Lompobatang, sehingga daerah Makassar mempunyai potensi air tanah yang besar. Kota Makassar tidak lepas dari permasalahan banjir. Kurangnya area penghijauan serta area rawa yang sebagai tempat penampungan air hujan sudah berubah ahli fungsi lahan menjadi area perumahan, perdagangan dan jasa. Terkadang pembangunan yang dilakukan memberikan dampak yang merugikan, salah satunya menimbulkan dampak banjir. Mitigasi yang dilakukan di Kota Makassar belum cukup tanggap terhadap bencana banjir karena masih cukup banyak kerugian akibat bencana tersebut, maka dari itu diperlukan mitigasi terkait kebijakan agar dapat mengurangi risiko (kerugian) pada saat terjadi bencana. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat risiko bencana banjir berdasarkan 3 aspek (ancaman, kerentanan, kapasitas) dan merumuskan kebijakan mitigasi risiko bencana banjir berdasarkan aspek tingkat risiko. Penelitian ini menggunakan analisis dengan metode penelitian kuantitaif dengan pendekatan deskriptif. Analisis dilakukan berdasarkan PERKA BNPB No. 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Hasil penelitian ini yaitu didapatkan 133 kelurahan tingkat risiko tinggi, 4 kelurahan tingkat risiko sedang dan 2 kelurahan tingkat risiko rendah. Perumusan kebijakan dilakukan berdasarkan tingkat risiko dengan memeprhatikan kontributor utamanya (kerentanan) yang di bagi pada masing-masing kelurahan.KATA KUNCI: Mitigasi, Bencana Banjir, Tingkat RisikoIndonesia is a country with frequent disasters, one of which is flood disaster and one of the areas prone to flooding is Makassar City (BNPB, 2016). Based on the BMKG Makassar City, the rainfall criteria for Makassar City are categorized as very heavy. Geomorphologically, Makassar is a catchment area with volcanic cones that surround and extend along the north-south route past the summit of Mount Lompobatang, so that the Makassar area has great groundwater potential. Makassar City cannot be separated from flood problems. The lack of greening areas and swamp areas that serve as rainwater reservoirs have turned land function experts into housing, trade and service areas. Sometimes the construction carried out has an adverse impact, one of which is the impact of flooding. Mitigation carried out in Makassar City is not sufficiently responsive to flood disasters because there are still quite a lot of losses due to the disaster, therefore mitigation is needed related to policies in order to reduce risks (losses) when a disaster occurs. The purpose of this research is to analyze the level of flood risk based on 3 aspects (threat, vulnerability, capacity) and formulate a flood disaster risk mitigation policy based on the risk level aspect. This research uses analysis with quantitative research methods with a descriptive approach. The analysis was carried out based on PERKA BNPB No. 02 of 2012 concerning General Guidelines for Disaster Risk Assessment. The results of this study were 133 high-risk sub-districts, 4 medium-risk sub-districts and 2 low-risk sub-districts. The formulation of policies is carried out based on the level of risk by taking into account the main contributor (vulnerability) which is divided into each sub-district.Keyword: Mitigation, Flood Disaster, Risk Leve

    Kajian Kondisi Lanskap Pegunungan

    Get PDF
    Lanskap alam berupa gunung dan pegunungan adalah kenampakan alam yang indah, oleh sebab itu akan menjadi tujuan wisata dan tempat yang dicari oleh masyarakat untuk dijadikan kawasan wisata, tempat tinggal, dan aktifitas lainnya oleh sebab itu tak heran masyarakat semakin meningkatkan intensitas pembangunan di lereng gunung dan di punggung gunung, dari citra satelit google earth terlihat bahwa kenampakan hutan alamiah di sejumlah gunung dan perbukitan sudah mulai rusak, hanya berkisar 15% yang masih alamiah, ditambah pembangunan dilakukan hanya menyisakan sedikit resapan, sehingga air tidak dapat meresap ke dalam tanah, hal ini yang menimbulkan banjir, tanah longsor, air bah, susahnya air tanah, intrusi air laut dan kenaikan suhu kawasan, oleh sebab itu berdasarkan rumus debit sangat jelas bahwa luas lahan dan coeefisien limpasan adalah indikator yang harus diperhatikan, dari pembahasan dapat dilihat bahwa lanskap pegunungan dengan hutan alamiahnya harus dipertahankan dan tidak boleh ada lagi pengrusakan atau perambahan, ataupun alih fungsi kawasan hutan, sedangkan untuk kawasan punggung dan keliling punggung gunung pembangunan dan penutupan lahan tidak boleh melebihi 20%, dan sisanya adalah hutan buatan ataupun hutan tanaman industri sedangkan untuk kawasan penyangga, kawasan terbangun dan penutupan lahan maksimal 60% dan 40% adalah murni berupa tanah dan tumbuhan untuk resapan air sebagai ruang terbuka hijau. Kata Kunci: lanskap pegunungan, hutan alamiah, kawasan terbangun, penutupan laha

    Strategi Pengembangan Objek Wisata Bahari di Kecamatan Lirung Kabupaten Kepulauan Talaud

    Get PDF
    AbstrakObjek wisata bahari di Kecamatan Lirung masuk dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud dan ditetapkan menjadi pariwisata unggulan serta ikon pariwisata daerah. Daya Tarik objek wisata bahari ini terletak pada keindahan dan keaslian alam serta hamparan pantai dengan pasir putih yang halus sehingga menjadi pembeda dengan yang lainnya namun lokasi yang berada jauh dari Ibukota Provinsi membuat mayoritas wisatawan yang datang hanya berasal dari dalam daerah hal tersebut membuat pemerintah kesulitan untuk menjalin kerjasama stakeholders. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi setiap potensi dan masalah yang menjadi faktor penunjang dan penghambat pengembangan sehingga dapat disusun suatu strategi yang tepat untuk dapat mempercepat pengembangan objek wisata bahari di Kecamatan Lirung ini. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan mendapatkan data primer melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara yang ditambah dengan pembagian kuesioner kepada masyarakat dan wisatawan. Analisis data untuk mengetahui klasifikasi dari setiap faktor penunjang objek wisata yang ada menggunakan analisis ODTWA dan untuk menentukan strategi yang tepat maka digunakan analisis SWOT berdasarkan penilaian IFAS (+) 48 dan EFAS (+) 54 hasil penilaian yaitu positif maka ditemukan bahwa strategi yang tepat untuk pengembangan objek wisata bahari di Kecamatan Lirung adalah Growth Oriented Strategy yaitu mendukung setiap kebijakan pengembangan. Kata kunci: Wisata Bahari, Strategi, Pengembangan.AbstractMarine tourism objects in Lirung District is included in the Regional Tourism Development Master Plan for the Talaud Islands Regency and is designated as the leading tourism and regional tourism icons. The attraction of this marine tourism object lies in the beauty and authenticity of nature and a stretch of beach with fine white sand so that it becomes a differentiator from the others, but the location which is far from the provincial capital makes the majority of tourists who come only from within the area, making it difficult for the government to collaborating with stakeholders. The purpose of this research is to identify any potentials and problems that become supporting and inhibiting factors of development so that an appropriate strategy can be formulated to accelerate the development of marine tourism objects in Lirung District. This research uses a descriptive quantitative approach by obtaining primary data through observation, documentation, and interviews plus distributing questionnaires to the public and tourists. Data analysis to determine the classification of each supporting factor for existing tourist objects uses ODTWA analysis and to determine the right strategy, a SWOT analysis is used based on the assessment of IFAS (+) 48 and EFAS (+) 54, the results of the assessment are positive, it is found that the right strategy for The development of marine tourism objects in Lirung District is a Growth Oriented Strategy, which isto support every development policy. Keyword: Marine Tourism, Strategy, Developmen

    Ketersediaan dan Kebutuhan Sarana pada Perumahan dan Kawasan Permukiman di Cluster Mapanget – Talawaan Kabupaten Minahasa Utara

    Get PDF
    AbstrakPembangunan perumahan dan kawasan permukiman (PKP) yang ada di Provinsi Sulawesi Utara berkembang dengan pesat, hal ini sejalan dengan adanya Kawasan Metropolitan Bimindo sebagai pusat pertumbuhan wilayah di Sulawesi (RPJMN 2015-2019). Perkembangan perumahan dan kawasan permukiman ini tentunya tak lepas dari kelengkapan dasar lingkungan yaitu Penyediaan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU). Kelengkapan dasar yang ada di Cluster Mapanget-Talawaan merupakan bagian terpenting dalam pembangunan, karena akan berpengaruhnya jika diantaranya tidak memiliki PSU yang memadai. Tujuan penelitian ini untuk melihat ketersediaan serta kebutuhan Sarana pada 10 hingga 20 tahun mendatang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis spasial dengan aplikasi ArcGIS. Analisis spasial seperti ploting, buffer dan Overlay. Berdasarkan hasil analisis, ketersediaan Sarana pada umumnya telah memadai namun membutuhkan penambahan pada semua sarana baik pendidikan, kesehatan, peribadatan, perdagangan dan ruang terbuka hijau agar sesuai dengan standar yang berlaku. Kata kunci: Perumahan; Kawasan Permukiman; SaranaAbstractHousing development and settlement areas (PKP) in North Sulawesi Province are growing rapidly, this is in line with the presence of the Bimindo Metropolitan Area as the regional growth center in Sulawesi (RPJMN 2015-2019). The development of housing and residential areas cannot be separated from the basic completeness of the environment, namely the Provision of Infrastructure, Facilities and Utilities (PSU). The basic equipment in the Mapanget-Talawaan Cluster is the most important part of development, because it will affect if one of them does not have an adequate PSU. The purpose of this research is to see the availability and need for facilities in the next 10 to 20 years. This research was conducted using a qualitative descriptive research method with the analysis used is descriptive analysis and spatial analysis with the ArcGIS application. Spatial analysis such as plotting, buffers and overlays. Based on the results of the analysis, the availability of facilities is generally adequate but requires the addition of all facilities including education, health, worship, trade and green open spaces to comply with the applicable standards. Keyword: Housing; Residential Area; Social Facilitie

    129

    full texts

    132

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SABUA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇